- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#219
Chapter 139
Quote:
Pancaran sinar matahari menyapanya dengan lembut, mengelus kulit wajahnya yang sudah tua berkeriput. Angin yang berhembus pelan membuat tubuh orang tua ini semakin nyaman berbaring dikasurnya yang empuk tak berukuran besar. Selimut putih sukses menjaga tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk di waktu malam. Dan pada akhirnya sengatan matahari pagi jugalah yang membangunkannya, tempat yang disinggahinya begitu asing, dengan gelas berisi air putih berdiri tegak disampingnya.
“Di mana?” tanyanya pada hamparan kosong, tidak ada satu pun orang diruangan ini.
Badannya coba digerakan, untuk bersandar pada besi yang menjadi badan kasur yang digunakannya. Segelas air yang tadinya penuh kini tersisa sedikit. Dahaga yang luar biasa membuat air bergerak cepat layaknya air terjun yang jatuh dari ketinggian. Pemandangan serba hijau dari luar membuat hatinya menjadi tenang sedikit, masih belum tahu akan keberadaan dirinya sendiri.
“Agh!” satu kakinya berhasil turun dari kasur, langsung mengenakan sepatu tipis berwarna putih berbahan kain lembut. Diikuti oleh kaki satunya beberapa saat kemudian.
Satu langkah rasanya seperti mematahkan satu tulangnya, begitu berat hanya untuk meraih gagang pintu yang terbuat dari kayu tersebut. Kepalanya lengkap dengan rambut beruban mengintip dari celah, hanya lorong panjang yang kosong. Satu dua pintu terlihat didepannya, nampaknya untuk penghuni rumah tua ini. Badannya yang renta tidak meruntuhkan semangatnya untuk mencapai tangga yang bisa membawanya ke lantai bawah, berharap ada seseorang yang bisa ditanyai.
Lantai kayu yang berdecit setiap kali langkah yang diambil membuat penghuni di bawah mendengarnya, lalu bergegas naik melalui tangga.
“Prof? anda sudah sadar?” sapa seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi orang tua ini, ia adalah Dr. George, salah satu ilmuwan yang bertarung bersama melawan monster kumbang besar nan jahat.
“Dr. George? Bagaimana bisa?” pikirannya belum menyala sepenuhnya, dibantu oleh Dr. George, Dr. Geere dipapah untuk turun dan duduk di sofa yang cukup nyaman bagi orang tua.
Satu gelas teh hangat disajikan, Dr. George berpakaian sangat rapih, tidak sesuai dengan kondisi tempat tinggal yang kelihatan tua yang lantai atasnya berdecit.
“Silahkan,” Dr. George mempersilahkan Dr. Geere untuk meneguk teh nya selagi hangat, ketika dirinya sudah nyaman barulah cerita sebenarnya akan disampaikan.
Setelah satu dua teguk, pikirannya pun tenang, kenangan kelam yang terjadi belakangan kembali muncul dan menimbulkan kembali pertanyaan yang belum terjawab.
“Kenapa kita masih ada di sini? Berarti semua yang kita lakukan sia-sia? Komandan busuk itu masih berkeliaran di luar sana?” pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Dr. George bingung untuk menjawab dari mana.
“Um…prof, anda baru saja terbangun dari tidur panjang ini, tepatnya selama tiga bulan anda tertidur, jadi bersantailah sedikit,” ucap Dr. George lalu melanjutkan. “pertarungan yang mengerikan itu berhasil kita menangkan…,” berhenti sejenak sambil menundukan kepalanya.
“karena kita masih hidup, ada kemungkinan komandan juga tidak jadi mati waktu itu,” ucapan terakhirnya membuat mata Dr. Geere membelalak seperti ingin keluar.
Momen terakhir yang dingatnya adalah ketika sebuah pedang panjang berwarna emas yang menyala di kegelapan malam membelah tubuh komandan menjadi dua, lalu sebuah ledakan besar terjadi. Di saat itu Dr. Geere sudah pasrah dan siap menemani komandan ke alam baka. Namun kenyataan yang ada dimatanya sekarang adalah, kemungkinan komandan masih hidup dan akan memulai terornya lagi dalam jangka waktu yang dekat.
“Tidak bisa, kita harus…,” badannya tidak kuat menopang, sehingga Dr. Geere kembali ke tempat duduknya saat mencoba untuk bangkit.
“Tenanglah sedikit, anda baru saja---,” teriakan Dr. Geere menghentikannya.
“TENANG! APA KAU SUDAH GILA?! IA AKAN BANGKIT CEPAT ATAU LAMBAT!” suara Dr. Geere meninggi, membentak keras koleganya di laboratorium.
“Marco dan Ferdinand sudah mencari keberadaanya selama tiga bulan terakhir ini, kami sudah berusaha, tetapi hasilnya nihil…,” mengetahui rekannya yang lain sudah bergerak, emosi Dr. Geere mulai mereda.
“Maafkan aku…,” kali ini Dr. Geere berhasil bangkit dari tempat duduknya, “teh buatanmu sungguh enak, aku tidak bohong,” memulai langkahnya tuk naik ke atas menuju kamarnya. “oh iya, bagaimana dengan Wayne?” tanya Dr. Geere menghentikan langkahnya.
Sementara itu Wayne telah kembali ke negara asalnya, setelah perang selesai dan kondisi dunia jauh lebih damai dibanding sebelumnya. Tidak ada satupun data maupun informasi mengenai hasil percobaan laboratorium yang dibawa olehnya, meskipun ia sendiri merupakan mata-mata yang sengaja diutus untuk mencuri informasi berharga dari negara yang ditempatinya. Namun Wayne memilih untuk tidak membocorkannya dan menyimpannya rapat-rapat agar eksperimen mengerikan itu tidak terjadi pada generasi selanjutnya.
Alasan yang dibawanya tentang bagaimana dirinya masih bisa bertahan hidup sangatlah sederhana, yaitu dijadikan tahanan perang karena identitasnya sudah terbongkar, dan keberuntungan yang menyelimuti karena tidak dibunuh oleh musuh meskipun tidak membocorkan sekecil pun detil tentang negaranya.
Mengetahui rekan seperjuangannya dalam keadaan yang baik-baik saja membuat perasaan Dr. Geere lega, namun tuk sekarang ia lebih memilih membaringkan tubuhnya kembali untuk mencerna ini semua dan kedepannya bisa berpikir jernih untuk menyusun langkah apa yang harus dilakukannya bersama rekannya yang lain. Dr. George membantunya untuk sampai ke kamar, tidak ada kata-kata yang terucap lagi, ia sangat paham apa yang dibutuhkan sekarang oleh seniornya itu.
Informasi mengenai Dr. Geere yang sudah tersadar dari tidurnya sampai juga ke telinga rekan-rekannya, bahkan sampai ke tempat Wayne berada yaitu di luar negeri. Hingga beberapa minggu kemudian melalui Dr. George, sebuah informasi diberitahukan kepada yang lainnya bahwa Dr. Geere ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu hal yang penting, mengenai kondisi saat ini dan kemungkinan komandan masih hidup.
Marco dan Ferdinand datang bersamaan, perasaan yang begitu senang mereka keluarkan tanpa rasa malu mengetahui Dr. Geere benar-benar sudah terlihat sehat seperti sedia kala. Baru kemudian datang Wayne yang terbang dari pagi buta untuk datang ke sebuah rumah tua milik Dr. George. Bertempat di lantai satu rumahnya, pertemuannya pun dimulai. Dibuka dengan kekecewaan dan permintaan maaf Dr. Geere karena tidak mampu menuntaskan apa yang harusnya ia selesaikan di malam itu. Semuanya pun setuju bahwa Dr. Geere tidak harus meminta maaf dan menerima bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahan semuanya karena tidak cukup kuat untuk membunuh komandan.
“Seperti yang diketahui, komandan membawa monster kumbang indukan dalam tubuhnya karena menjadi orang pertama yang berhasil menciptakan monster dari serum yang dikembangkan di lab,” ucap Dr. Geere menjelaskan. “jika indukan itu berhasil dimusnahkan, maka kutukan ini tuntas saat ini juga. Karena di dalam tubuh kita masih membawa sel-sel yang dihasilkan dari tubuhnya.”
“Dengan keberadaan kita di sini pun sudah menjadi bukti bahwa komandan masih hidup,” tambah Dr. George. “entah bagaimana caranya bisa selamat dari ledakan yang hampir membunuh professor dan juga Wayne.”
“Aku dan juga Ferdinand sudah mencoba melacaknya, bagian-bagian terpencil hutan pun sudah kami jelajahi, hasilnya tetap saja nihil,” keluh Marco.
“Jadi bagaimana prof? nampaknya kami dikumpulkan di sini untuk mendengar ide yang kau pikirkan beberapa minggu ini bukan?” seperti biasa, karena merupakan anggota termuda, maka Wayne memiliki kepekaan yang tajam dibanding lainnya.
“Aku ingin menyatukan kita semua,” perkataan Dr. Geere berhasil membuat semuanya terdiam.
“Di mana?” tanyanya pada hamparan kosong, tidak ada satu pun orang diruangan ini.
Badannya coba digerakan, untuk bersandar pada besi yang menjadi badan kasur yang digunakannya. Segelas air yang tadinya penuh kini tersisa sedikit. Dahaga yang luar biasa membuat air bergerak cepat layaknya air terjun yang jatuh dari ketinggian. Pemandangan serba hijau dari luar membuat hatinya menjadi tenang sedikit, masih belum tahu akan keberadaan dirinya sendiri.
“Agh!” satu kakinya berhasil turun dari kasur, langsung mengenakan sepatu tipis berwarna putih berbahan kain lembut. Diikuti oleh kaki satunya beberapa saat kemudian.
Satu langkah rasanya seperti mematahkan satu tulangnya, begitu berat hanya untuk meraih gagang pintu yang terbuat dari kayu tersebut. Kepalanya lengkap dengan rambut beruban mengintip dari celah, hanya lorong panjang yang kosong. Satu dua pintu terlihat didepannya, nampaknya untuk penghuni rumah tua ini. Badannya yang renta tidak meruntuhkan semangatnya untuk mencapai tangga yang bisa membawanya ke lantai bawah, berharap ada seseorang yang bisa ditanyai.
Lantai kayu yang berdecit setiap kali langkah yang diambil membuat penghuni di bawah mendengarnya, lalu bergegas naik melalui tangga.
“Prof? anda sudah sadar?” sapa seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi orang tua ini, ia adalah Dr. George, salah satu ilmuwan yang bertarung bersama melawan monster kumbang besar nan jahat.
“Dr. George? Bagaimana bisa?” pikirannya belum menyala sepenuhnya, dibantu oleh Dr. George, Dr. Geere dipapah untuk turun dan duduk di sofa yang cukup nyaman bagi orang tua.
Satu gelas teh hangat disajikan, Dr. George berpakaian sangat rapih, tidak sesuai dengan kondisi tempat tinggal yang kelihatan tua yang lantai atasnya berdecit.
“Silahkan,” Dr. George mempersilahkan Dr. Geere untuk meneguk teh nya selagi hangat, ketika dirinya sudah nyaman barulah cerita sebenarnya akan disampaikan.
Setelah satu dua teguk, pikirannya pun tenang, kenangan kelam yang terjadi belakangan kembali muncul dan menimbulkan kembali pertanyaan yang belum terjawab.
“Kenapa kita masih ada di sini? Berarti semua yang kita lakukan sia-sia? Komandan busuk itu masih berkeliaran di luar sana?” pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Dr. George bingung untuk menjawab dari mana.
“Um…prof, anda baru saja terbangun dari tidur panjang ini, tepatnya selama tiga bulan anda tertidur, jadi bersantailah sedikit,” ucap Dr. George lalu melanjutkan. “pertarungan yang mengerikan itu berhasil kita menangkan…,” berhenti sejenak sambil menundukan kepalanya.
“karena kita masih hidup, ada kemungkinan komandan juga tidak jadi mati waktu itu,” ucapan terakhirnya membuat mata Dr. Geere membelalak seperti ingin keluar.
Momen terakhir yang dingatnya adalah ketika sebuah pedang panjang berwarna emas yang menyala di kegelapan malam membelah tubuh komandan menjadi dua, lalu sebuah ledakan besar terjadi. Di saat itu Dr. Geere sudah pasrah dan siap menemani komandan ke alam baka. Namun kenyataan yang ada dimatanya sekarang adalah, kemungkinan komandan masih hidup dan akan memulai terornya lagi dalam jangka waktu yang dekat.
“Tidak bisa, kita harus…,” badannya tidak kuat menopang, sehingga Dr. Geere kembali ke tempat duduknya saat mencoba untuk bangkit.
“Tenanglah sedikit, anda baru saja---,” teriakan Dr. Geere menghentikannya.
“TENANG! APA KAU SUDAH GILA?! IA AKAN BANGKIT CEPAT ATAU LAMBAT!” suara Dr. Geere meninggi, membentak keras koleganya di laboratorium.
“Marco dan Ferdinand sudah mencari keberadaanya selama tiga bulan terakhir ini, kami sudah berusaha, tetapi hasilnya nihil…,” mengetahui rekannya yang lain sudah bergerak, emosi Dr. Geere mulai mereda.
“Maafkan aku…,” kali ini Dr. Geere berhasil bangkit dari tempat duduknya, “teh buatanmu sungguh enak, aku tidak bohong,” memulai langkahnya tuk naik ke atas menuju kamarnya. “oh iya, bagaimana dengan Wayne?” tanya Dr. Geere menghentikan langkahnya.
Sementara itu Wayne telah kembali ke negara asalnya, setelah perang selesai dan kondisi dunia jauh lebih damai dibanding sebelumnya. Tidak ada satupun data maupun informasi mengenai hasil percobaan laboratorium yang dibawa olehnya, meskipun ia sendiri merupakan mata-mata yang sengaja diutus untuk mencuri informasi berharga dari negara yang ditempatinya. Namun Wayne memilih untuk tidak membocorkannya dan menyimpannya rapat-rapat agar eksperimen mengerikan itu tidak terjadi pada generasi selanjutnya.
Alasan yang dibawanya tentang bagaimana dirinya masih bisa bertahan hidup sangatlah sederhana, yaitu dijadikan tahanan perang karena identitasnya sudah terbongkar, dan keberuntungan yang menyelimuti karena tidak dibunuh oleh musuh meskipun tidak membocorkan sekecil pun detil tentang negaranya.
Mengetahui rekan seperjuangannya dalam keadaan yang baik-baik saja membuat perasaan Dr. Geere lega, namun tuk sekarang ia lebih memilih membaringkan tubuhnya kembali untuk mencerna ini semua dan kedepannya bisa berpikir jernih untuk menyusun langkah apa yang harus dilakukannya bersama rekannya yang lain. Dr. George membantunya untuk sampai ke kamar, tidak ada kata-kata yang terucap lagi, ia sangat paham apa yang dibutuhkan sekarang oleh seniornya itu.
Informasi mengenai Dr. Geere yang sudah tersadar dari tidurnya sampai juga ke telinga rekan-rekannya, bahkan sampai ke tempat Wayne berada yaitu di luar negeri. Hingga beberapa minggu kemudian melalui Dr. George, sebuah informasi diberitahukan kepada yang lainnya bahwa Dr. Geere ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu hal yang penting, mengenai kondisi saat ini dan kemungkinan komandan masih hidup.
Marco dan Ferdinand datang bersamaan, perasaan yang begitu senang mereka keluarkan tanpa rasa malu mengetahui Dr. Geere benar-benar sudah terlihat sehat seperti sedia kala. Baru kemudian datang Wayne yang terbang dari pagi buta untuk datang ke sebuah rumah tua milik Dr. George. Bertempat di lantai satu rumahnya, pertemuannya pun dimulai. Dibuka dengan kekecewaan dan permintaan maaf Dr. Geere karena tidak mampu menuntaskan apa yang harusnya ia selesaikan di malam itu. Semuanya pun setuju bahwa Dr. Geere tidak harus meminta maaf dan menerima bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahan semuanya karena tidak cukup kuat untuk membunuh komandan.
“Seperti yang diketahui, komandan membawa monster kumbang indukan dalam tubuhnya karena menjadi orang pertama yang berhasil menciptakan monster dari serum yang dikembangkan di lab,” ucap Dr. Geere menjelaskan. “jika indukan itu berhasil dimusnahkan, maka kutukan ini tuntas saat ini juga. Karena di dalam tubuh kita masih membawa sel-sel yang dihasilkan dari tubuhnya.”
“Dengan keberadaan kita di sini pun sudah menjadi bukti bahwa komandan masih hidup,” tambah Dr. George. “entah bagaimana caranya bisa selamat dari ledakan yang hampir membunuh professor dan juga Wayne.”
“Aku dan juga Ferdinand sudah mencoba melacaknya, bagian-bagian terpencil hutan pun sudah kami jelajahi, hasilnya tetap saja nihil,” keluh Marco.
“Jadi bagaimana prof? nampaknya kami dikumpulkan di sini untuk mendengar ide yang kau pikirkan beberapa minggu ini bukan?” seperti biasa, karena merupakan anggota termuda, maka Wayne memiliki kepekaan yang tajam dibanding lainnya.
“Aku ingin menyatukan kita semua,” perkataan Dr. Geere berhasil membuat semuanya terdiam.
69banditos dan gabrielllllllll memberi reputasi
3
Kutip
Balas