- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.8K
Kutip
623
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#254
gatra 23
Quote:
PAGI BELUM sepenuhnya terang. Cahaya kemerahan masih menggelayuti cakrawala di bagian timur. Arya Gading yengah berjalan ke arah padasan, untuk sekedar mencuci muka. Dan kesempatan-kesempatan yang demikian itulah yang dipergunakan Ratri Hening untuk menemuinya.
“Gading” panggil gadis itu ketika Arya Gading berjalan menyusur dinding-dinding di belakang padepokan
“Dari manakah Gading?”
“Dari sumur Ratri”
“Ah” jawab gadis itu “Kau sangat rajin dan tekun. Ini masih terlalu pagi untuk seorang pemuda untuk bangun ”
“Ini sudah menjadi kebiasaan Ratri. Aku disini sama sekali bukan seorang pemimpin. Aku disini seorang cantrik”
Ratri Hening tertawa. Katanya, “ Tidakkah kau sekali-sekali ingin berjalan-jalan ke pasar kembali?” bertanya Ratri Hening.
Arya Gading menggeleng. “Lain kali Ratri”
“Oh. Tetapi tidakkah kau ingin ingin melihat belumbang padepokan ini? Gurame yang dipelihara oleh Doran dan beberapa cantrik kini telah sebesar bantal. Barangkali kau ingin menangkapnya?”
Arya Gading menggeleng kembali. “Lain kali saja Ratri”
Ratri Hening menarik nafas dalam-dalam.
Memang ia pun merasakan bahwa sikap Arya Gading pada saat-saat terakhir menjadi semakin jauh daripadanya. Karena itu Ratri Hening menjadi cemas, apakah sikapnya terlalu menjemukan? Tetapi pertemuan itu dikejutkan oleh sebuah langkah tergesa-gesa mendekati mereka. Ketika mereka menoleh betapa dada Arya Gading berguncang. Tanpa diketahuinya sendiri, terasa lututnya menjadi gemetar. Ternyata yang datang adalah Bagus Abangan.
Lain halnya dengan Arya Gading. Ratri Hening sama sekali tidak menjadi cemas. Disapanya anak muda itu sambil tersenyum “Marilah kakang Bagus Abangan”
Namun wajah Bagus Abangan itu menjadi semakin tegang. Beberapa langkah dari Arya Gading ia berhenti. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya.
Kemudian kepada Ratri Hening ia berkata “Ratri, sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Jangan bergaul terlalu rapat dengan anak muda itu. Aku sama sekali tidak senang melihatnya”
Ratri Hening mengerutkan keningnya. Kini ia berdiri tegang menghadap Bagus Abangan. Katanya lantang “Sudah berapa kali, aku menjawab apakah hakmu?”
Bagus Abangan tidak senang mendengar jawaban itu. Maka matanya yang bulat itu seakan-akan memancarkan bara kemarahan. Kepada Arya Gading ia berkata “Apakah kepadamu aku harus memberi peringatan?”
Kata-katanya itu tergores di dada Arya Gading seperti goresan pisau yang setajam welat. Namun gelora di dadanya yang bergemuruh tidak juga mau berhenti, apalagi ketika dilihatnya mata Bagus Abangan yang menyala itu. Hatinya menjadi semakin kecut. Namun dicobanya juga berjuang sekuat tenaga melawan perasaannya. Dicobanya untuk bersikap tenang walau dadanya hampir pecah oleh kecemasan dan kekhawatiran.
“Jangan lekas marah kakang Bagus Abangan” suara Arya Gading terdengar bergetar. Namun ia berhasil mengucapkannya.
“Hem” Bagus Abangan menarik nafas untuk mencoba mengendalikan perasaannya. “Ingat, aku tidak senang melihat pergaulan kalian”
Arya Gading tidak segera menjawab. ia masih berjuang untuk tetap menyadari keadaannya. Tetapi Ratri Heninglah yang menjawab lantang “Kau tidak berhak berkata demikian kakang. Aku bebas berbuat apapun dihalaman rumahku sendiri. Apa keberatanmu?”
Bagus Abangan menggigit bibirnya. Nyala dimatanya menjadi semakin menyala. Dan ketakutan Arya Gadingpun menjadi semakin mencengkram hatinya.
Dengan ketenangan yang dibuat-buatnya ia berkata “Sudahlah Ratri, biarlah ia mengatakan apa yang akan dikatakannya” Ratri Hening memandang wajah Arya Gading dengan heran. Arya Gading sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya, meskipun Bagus Abangan itu bersikap demikian.
Karena itu katanya “Jangan Gading. Jangan biarkan Bagus Abangan berbuat sesuka hatinya. Padepokan ini rumah kakek ku. Halaman ini halaman kakek ku juga. Itu berarti ini rumah dan halaman ku juga!”
Bagus Abangan kini terdengar menggeram. Kemarahannya telah sampai diubun-ubunnya. Namun ia masih berusaha untuk tidak menyakiti hati gadis itu berlebih-lebihan. Maka karena itulah kemarahannya ditumpahkannya ke Arya Gading.
Katanya “Arya Gading. Aku dengar kau adalah seorang anak muda yang sakti. Karena itu marilah kita bersikap jantan”
“Gading” panggil gadis itu ketika Arya Gading berjalan menyusur dinding-dinding di belakang padepokan
“Dari manakah Gading?”
“Dari sumur Ratri”
“Ah” jawab gadis itu “Kau sangat rajin dan tekun. Ini masih terlalu pagi untuk seorang pemuda untuk bangun ”
“Ini sudah menjadi kebiasaan Ratri. Aku disini sama sekali bukan seorang pemimpin. Aku disini seorang cantrik”
Ratri Hening tertawa. Katanya, “ Tidakkah kau sekali-sekali ingin berjalan-jalan ke pasar kembali?” bertanya Ratri Hening.
Arya Gading menggeleng. “Lain kali Ratri”
“Oh. Tetapi tidakkah kau ingin ingin melihat belumbang padepokan ini? Gurame yang dipelihara oleh Doran dan beberapa cantrik kini telah sebesar bantal. Barangkali kau ingin menangkapnya?”
Arya Gading menggeleng kembali. “Lain kali saja Ratri”
Ratri Hening menarik nafas dalam-dalam.
Memang ia pun merasakan bahwa sikap Arya Gading pada saat-saat terakhir menjadi semakin jauh daripadanya. Karena itu Ratri Hening menjadi cemas, apakah sikapnya terlalu menjemukan? Tetapi pertemuan itu dikejutkan oleh sebuah langkah tergesa-gesa mendekati mereka. Ketika mereka menoleh betapa dada Arya Gading berguncang. Tanpa diketahuinya sendiri, terasa lututnya menjadi gemetar. Ternyata yang datang adalah Bagus Abangan.
Lain halnya dengan Arya Gading. Ratri Hening sama sekali tidak menjadi cemas. Disapanya anak muda itu sambil tersenyum “Marilah kakang Bagus Abangan”
Namun wajah Bagus Abangan itu menjadi semakin tegang. Beberapa langkah dari Arya Gading ia berhenti. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya.
Kemudian kepada Ratri Hening ia berkata “Ratri, sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Jangan bergaul terlalu rapat dengan anak muda itu. Aku sama sekali tidak senang melihatnya”
Ratri Hening mengerutkan keningnya. Kini ia berdiri tegang menghadap Bagus Abangan. Katanya lantang “Sudah berapa kali, aku menjawab apakah hakmu?”
Bagus Abangan tidak senang mendengar jawaban itu. Maka matanya yang bulat itu seakan-akan memancarkan bara kemarahan. Kepada Arya Gading ia berkata “Apakah kepadamu aku harus memberi peringatan?”
Kata-katanya itu tergores di dada Arya Gading seperti goresan pisau yang setajam welat. Namun gelora di dadanya yang bergemuruh tidak juga mau berhenti, apalagi ketika dilihatnya mata Bagus Abangan yang menyala itu. Hatinya menjadi semakin kecut. Namun dicobanya juga berjuang sekuat tenaga melawan perasaannya. Dicobanya untuk bersikap tenang walau dadanya hampir pecah oleh kecemasan dan kekhawatiran.
“Jangan lekas marah kakang Bagus Abangan” suara Arya Gading terdengar bergetar. Namun ia berhasil mengucapkannya.
“Hem” Bagus Abangan menarik nafas untuk mencoba mengendalikan perasaannya. “Ingat, aku tidak senang melihat pergaulan kalian”
Arya Gading tidak segera menjawab. ia masih berjuang untuk tetap menyadari keadaannya. Tetapi Ratri Heninglah yang menjawab lantang “Kau tidak berhak berkata demikian kakang. Aku bebas berbuat apapun dihalaman rumahku sendiri. Apa keberatanmu?”
Bagus Abangan menggigit bibirnya. Nyala dimatanya menjadi semakin menyala. Dan ketakutan Arya Gadingpun menjadi semakin mencengkram hatinya.
Dengan ketenangan yang dibuat-buatnya ia berkata “Sudahlah Ratri, biarlah ia mengatakan apa yang akan dikatakannya” Ratri Hening memandang wajah Arya Gading dengan heran. Arya Gading sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya, meskipun Bagus Abangan itu bersikap demikian.
Karena itu katanya “Jangan Gading. Jangan biarkan Bagus Abangan berbuat sesuka hatinya. Padepokan ini rumah kakek ku. Halaman ini halaman kakek ku juga. Itu berarti ini rumah dan halaman ku juga!”
Bagus Abangan kini terdengar menggeram. Kemarahannya telah sampai diubun-ubunnya. Namun ia masih berusaha untuk tidak menyakiti hati gadis itu berlebih-lebihan. Maka karena itulah kemarahannya ditumpahkannya ke Arya Gading.
Katanya “Arya Gading. Aku dengar kau adalah seorang anak muda yang sakti. Karena itu marilah kita bersikap jantan”
Quote:
HATI ARYA GADING benar-benar telah berkeriput sekecil hati anak ayam melihat elang. Bukan takut untuk bertarung menghadapi Bagus Abangan. Pemuda itu hanya bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Haruskah diladeninya Bagus Abangan? Tetapi dihadapan Ratri Hening ia masih mencoba menjaga nilai-nilainya, nilai-nilai yang pernah dikatakannya kepada gadis itu.
Karena itu masih dengan ketenangan yang dibuat-buat ia menjawab “Bagus Abangan. Apakah keuntungan kita berbuat demikian?”
“Jangan bicara tentang untung dan rugi” teriak Bagus Abangan. Arya Gading menjadi bingung. Ia tidak tahu apalagi yang akan dilakukan.
Sedang Ratri Hening pun menjadi semakin heran melihat sikap Arya Gading. Kenapa Bagus Abangan itu tidak saja dipukulnya sampai setengah mati? Seperti saat mengalahkan Kebo Peteng?
Suasana kemudian tenggelam dalam ketegangan. Bagus Abangan berdiri dengan kaki renggang, siap untuk mlancarkan serangan atau bertahan terhadap setiap kemungkinan. Namun Arya Gading masih saja berdiri dalam sikapnya. Tenang. Ketenangan yang gelisah. Karena itu Ratri Hening menjadi semakin tidak mengerti. Betapapun orang bersabar hati, namun bagi Ratri Hening sikap Bagus Abangan itu sudah berlebih-lebihan.
Apalagi ketika kemudian Arya Gading berkata terputus-putus “Kakang Bagus Abangan. Jangan kita memberi contoh kurang baik terhadap para cantrik disini. Pagi masih juga belum begitu terang. Pertentangan kita sama sekali tidak menguntungkan siapapun juga, malahan akan mencoreng arang di muka kita sendiri”
Bagus Abangan kembali menggigit bibirnya. Ia merasakan kebenaran kata-katannya Arya Gading. Karena itu maka ia berdiam diri untuk beberapa saat. Dan kembali suasana yang tegang itu menjadi diam. Suasana itu tidak terlalu lama karena pecah oleh bentakan Bagus Abangan. Pemuda yang tengah dibakar amarah dan api cemburu itu dengan ganas menyerang ke arah Arya Gading.
Tidak mau menjadi endog pangamun –amun. Arya Gading yang sedari tadi bimbang dan ragu. Mau tidak mau menyambut serangan itu. Meskipun demikian, niat untuk melakukannya kini telah semakin besar mengetuk dadanya. Karena itu, iapun bertarung semakin keras. Ia tidak mau dipecundangi oleh Bagus Abangan di depan Ratri Hening. Dikerahkannya segenap tenaganya dan kemampuan-kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Sehingga dengan demikian Bagus Abangan menjadi keteteran karenanya. Ia melihat anak muda itu seakan-akan lain dari Arya Gading yang dikenalnya sehari-hari. Lincah, tangkas dan kuat, bahkan kadang-kadang berhasil membingungkan lawannya karena kecepatannya.
Ratri Hening sekejap terkejut dengan perubahan yang terjadi. Hanya sekejap saja, setelah itu ia tersenyum. Sesungguhnya Ratri Hening ingin tahu sampai dimana ketangguhan Arya Gading dalam menghadapi Bagus Abangan yang dikenal memiliki ilmu yang sangat tinggi dibandingkan dengan para cantrik di padepokan. Meskipun demikian, maka Bagus Abangan itu bekerja sekeras-kerasnya. Diusahakannya untuk segera dapat membekuk Arya Gading itu.
“Hari ini kau akan kubuat menyesal telah dilahirkan Arya Gading” katanya didalam hati “ Kau tidak kubiarkan untuk berlama –lama di padepokan ini”
Demikianlah, pertempuran itu berjalan dengan cepatnya. Semakin lama semakin cepat. Bagus Abangan berusaha untuk memeras tenaga lawannya, sedang Arya Gadingpun berusaha untuk mengimbanginya.
Karena itu masih dengan ketenangan yang dibuat-buat ia menjawab “Bagus Abangan. Apakah keuntungan kita berbuat demikian?”
“Jangan bicara tentang untung dan rugi” teriak Bagus Abangan. Arya Gading menjadi bingung. Ia tidak tahu apalagi yang akan dilakukan.
Sedang Ratri Hening pun menjadi semakin heran melihat sikap Arya Gading. Kenapa Bagus Abangan itu tidak saja dipukulnya sampai setengah mati? Seperti saat mengalahkan Kebo Peteng?
Suasana kemudian tenggelam dalam ketegangan. Bagus Abangan berdiri dengan kaki renggang, siap untuk mlancarkan serangan atau bertahan terhadap setiap kemungkinan. Namun Arya Gading masih saja berdiri dalam sikapnya. Tenang. Ketenangan yang gelisah. Karena itu Ratri Hening menjadi semakin tidak mengerti. Betapapun orang bersabar hati, namun bagi Ratri Hening sikap Bagus Abangan itu sudah berlebih-lebihan.
Apalagi ketika kemudian Arya Gading berkata terputus-putus “Kakang Bagus Abangan. Jangan kita memberi contoh kurang baik terhadap para cantrik disini. Pagi masih juga belum begitu terang. Pertentangan kita sama sekali tidak menguntungkan siapapun juga, malahan akan mencoreng arang di muka kita sendiri”
Bagus Abangan kembali menggigit bibirnya. Ia merasakan kebenaran kata-katannya Arya Gading. Karena itu maka ia berdiam diri untuk beberapa saat. Dan kembali suasana yang tegang itu menjadi diam. Suasana itu tidak terlalu lama karena pecah oleh bentakan Bagus Abangan. Pemuda yang tengah dibakar amarah dan api cemburu itu dengan ganas menyerang ke arah Arya Gading.
Tidak mau menjadi endog pangamun –amun. Arya Gading yang sedari tadi bimbang dan ragu. Mau tidak mau menyambut serangan itu. Meskipun demikian, niat untuk melakukannya kini telah semakin besar mengetuk dadanya. Karena itu, iapun bertarung semakin keras. Ia tidak mau dipecundangi oleh Bagus Abangan di depan Ratri Hening. Dikerahkannya segenap tenaganya dan kemampuan-kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Sehingga dengan demikian Bagus Abangan menjadi keteteran karenanya. Ia melihat anak muda itu seakan-akan lain dari Arya Gading yang dikenalnya sehari-hari. Lincah, tangkas dan kuat, bahkan kadang-kadang berhasil membingungkan lawannya karena kecepatannya.
Ratri Hening sekejap terkejut dengan perubahan yang terjadi. Hanya sekejap saja, setelah itu ia tersenyum. Sesungguhnya Ratri Hening ingin tahu sampai dimana ketangguhan Arya Gading dalam menghadapi Bagus Abangan yang dikenal memiliki ilmu yang sangat tinggi dibandingkan dengan para cantrik di padepokan. Meskipun demikian, maka Bagus Abangan itu bekerja sekeras-kerasnya. Diusahakannya untuk segera dapat membekuk Arya Gading itu.
“Hari ini kau akan kubuat menyesal telah dilahirkan Arya Gading” katanya didalam hati “ Kau tidak kubiarkan untuk berlama –lama di padepokan ini”
Demikianlah, pertempuran itu berjalan dengan cepatnya. Semakin lama semakin cepat. Bagus Abangan berusaha untuk memeras tenaga lawannya, sedang Arya Gadingpun berusaha untuk mengimbanginya.
Quote:
BAGUS ABANGAN sendiri, yang ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi, terpaksa bekerja keras untuk dapat mengatasi lawannya itu. Sekali-sekali Arya Gading dapat bergerak secepat bayangan. Namun sekali-sekali mencoba juga untuk bertahan beradu kekuatan. Ternyata kekuatan Arya Gading pun mengherankan pula. Ketika serangan Bagus Abangan seperti membentur dinding pertahanan, ia terkejut. Terasa ia bergetar surut, meskipun Arya Gading terdorong beberapa langkah pula.
“Luar biasa” desis Bagus Abangan. “Kekuatanmu pun luar biasa”
Bagus Abangan adalah anak muda yang masih berdarah panas. Digembleng oleh gurunya Paraji Gading dengan kuat. Sehingga kanuragan dan pengalaman bertarungnya tentu setingkat lebih tinggi dari Arya Gading. Tiba -tiba saja ia meloncat dengan sangat cepat dan pukulannya mengenai mulut Arya Gading . Arya Gading terkejut, namun ia tidak mampu untuk menghindar. Terasa sebuah sengatan yang dahsyat di pipinya sehingga ia tersentak mundur. Namun Arya Gading itu tidak berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sehingga ia terbanting jatuh, bersamaan dengan pekik Ratri Hening. “
“Arya Gading!” teriaknya.
Arya Gading berguling beberapa kali. Kemudian dengan susah payah ia duduk. Dirasakannya kepalanya pening dan ketika ia mengusap mulutnya, tampaklah tangannya menjadi merah. Darah. Ratri Hening memandang Bagus Abangan seperti memandang hantu. Betapa gadis itu menjadi marah sehingga mulutnya bergetar.
Namun yang dapat diucapkannya hanyalah “Kau setan, Bagus Abangan”
Pekik Ratri Hening ternyata didengar oleh beberapa orang cantrik yang sedang terkantuk-kantuk di pendapa membersihkan lantai. Beberapa orang berlari-larian ke belakang padepokan. Mereka tertegun ketika melihat Arya Gading masih duduk di tanah dan dari sela bibirnya mengalir darah, diantara mereka berdiri dengan dada yang bergolak pemimpin sementara di padepokan itu. Mahesa Branjangan. Dengan tajam Mahesa Branjangan memandang satu demi satu setiap orang yang berdiri di belakang rumah itu.
Bagus Abangan dan Arya Gading. Bagus Abangan masih berdiri seperti tonggak. Kaki-kainya yang kokoh seakan-akan jauh menghunjam kedalam bumi. Dengan wajah yang tegang ia berdiri menunggu apapun yang akan terjadi. Namun ia sudah terlanjur mengayunkan tangannya. Dengan demikian segala akibat yang akan imbul pasti akan dihadapinya.
Dalam ketegangan itu terdengarlah Mahesa Branjangan menggeram “Apakah yang terjadi disini Bagus Abangan?”
Bagus Abangan tidak segera menjawab. Sesaat matanya menyambar Arya Gading dan kemudian Ratri Hening. Beberapa orang yang berdiri memagari merekapun segera dapat menebak, apa yang sudah terjadi. Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menyipitkan matanya, sedang Paksi Jalak Kuning dengan penuh perhatian menatap wajah Bagus Abangan.
Ketika beberapa saat Bagus Abangan tidak menjawab, maka kembali Mahesa Branjangan bertanya, kali ini kepada Arya Gading “Apa yang terjadi Gading?”
Arya Gading menundukkan wajahnya, mulutnyapun seperti terkunci. Karena itu Arya Gading juga tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Mahesa Branjangan kembali berpaling kearah Arya Gading yang masih terduduk ditanah “Berdirilah Arya Gading” berkata Mahesa Branjangan.
Dengan susah- payah anak muda itu berdiri. Beberapa orang berusaha untuk menolongnya dan menghapus darah yang masih juga meleleh dari mulutnya. Ketika Arya Gading telah berdiri meskipun belum tegak benar, ia mencoba memandang setiap wajah yang ada disekitarnya. Mahesa Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ditatapnya mata Bagus Abangan, sehingga dengan nanar Bagus Abangan terpaksa melemparkan pandangan matanya jauh-jauh.
“Kenapa kau sakiti dia Bagus Abangan?”
“Anak itu mendahului kakang” sahut Bagus Abangan
“Ah” Mahesa Branjangan berdesah “Benarkah demikian?” katanya kepada Arya Gading.
“Hem” Arya Gading menarik nafas.
Bagus Abangan menelan ludahnya. Terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Dan didengarnya kembali Mahesa Branjangan bertanya “Bagus Abangan, apakah sebenarnya yang terjadi?”
Bagus Abangan kini tidak ingin bersembunyi dibalakang berbagai alasan yang berbelit-belit. Maka jawabnya dengan dada tengadah “Yang terjadi adalah persoalan antara aku dan adi Arya Gading. Persoalan antara anak-anak muda ”
Jawaban itu benar-benar tak diduga oleh Mahesa Branjangan dan oleh siapapun. Bagus Abangan mencoba meletakkan persoalan ini diluar campur tangan pihak-pihak lain. Karena itu maka Mahesa Branjanganpun menjadi berdebar-debar pula.
Katanya “Aku adalah pemimpin sementara di padepokan ini. Aku akan bertanggung jawab terhadap setiap peristiwa yang terjadi disini. Apalagi diantara anak – anak murid ku sendiri”
“Tetapi apabila persoalan itu menyangkut persoalan padepokan” bantah Bagus Abangan.
“Persoalanku adalah persoalan seorang dengan seorang tanpa ada sangkut pautnya dengan kepemimpinan kakang disini”
Dahi Mahesa Branjanganpun menjadi berkerut karenanya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia adalah seorang pemimpin. Karena itu ia harus tetap memiliki wibawa atas anak murid -muridnya.
Sehingga kemudian ia bertanya “Lalu apakah kehendakmu?”
“Biarlah kami menyelesaikan persoalan kami sebagai laki-laki jantan” jawabnya.
Jawaban itu sangat mendebarkan hati. Apalagi Arya Gading. Dengan sudut matanya ia memandang wajah Mahesa Branjangan. Namun kemudian wajahnya itupun ditundukkannya kembali.
“Luar biasa” desis Bagus Abangan. “Kekuatanmu pun luar biasa”
Bagus Abangan adalah anak muda yang masih berdarah panas. Digembleng oleh gurunya Paraji Gading dengan kuat. Sehingga kanuragan dan pengalaman bertarungnya tentu setingkat lebih tinggi dari Arya Gading. Tiba -tiba saja ia meloncat dengan sangat cepat dan pukulannya mengenai mulut Arya Gading . Arya Gading terkejut, namun ia tidak mampu untuk menghindar. Terasa sebuah sengatan yang dahsyat di pipinya sehingga ia tersentak mundur. Namun Arya Gading itu tidak berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sehingga ia terbanting jatuh, bersamaan dengan pekik Ratri Hening. “
“Arya Gading!” teriaknya.
Arya Gading berguling beberapa kali. Kemudian dengan susah payah ia duduk. Dirasakannya kepalanya pening dan ketika ia mengusap mulutnya, tampaklah tangannya menjadi merah. Darah. Ratri Hening memandang Bagus Abangan seperti memandang hantu. Betapa gadis itu menjadi marah sehingga mulutnya bergetar.
Namun yang dapat diucapkannya hanyalah “Kau setan, Bagus Abangan”
Pekik Ratri Hening ternyata didengar oleh beberapa orang cantrik yang sedang terkantuk-kantuk di pendapa membersihkan lantai. Beberapa orang berlari-larian ke belakang padepokan. Mereka tertegun ketika melihat Arya Gading masih duduk di tanah dan dari sela bibirnya mengalir darah, diantara mereka berdiri dengan dada yang bergolak pemimpin sementara di padepokan itu. Mahesa Branjangan. Dengan tajam Mahesa Branjangan memandang satu demi satu setiap orang yang berdiri di belakang rumah itu.
Bagus Abangan dan Arya Gading. Bagus Abangan masih berdiri seperti tonggak. Kaki-kainya yang kokoh seakan-akan jauh menghunjam kedalam bumi. Dengan wajah yang tegang ia berdiri menunggu apapun yang akan terjadi. Namun ia sudah terlanjur mengayunkan tangannya. Dengan demikian segala akibat yang akan imbul pasti akan dihadapinya.
Dalam ketegangan itu terdengarlah Mahesa Branjangan menggeram “Apakah yang terjadi disini Bagus Abangan?”
Bagus Abangan tidak segera menjawab. Sesaat matanya menyambar Arya Gading dan kemudian Ratri Hening. Beberapa orang yang berdiri memagari merekapun segera dapat menebak, apa yang sudah terjadi. Kuda Merta mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menyipitkan matanya, sedang Paksi Jalak Kuning dengan penuh perhatian menatap wajah Bagus Abangan.
Ketika beberapa saat Bagus Abangan tidak menjawab, maka kembali Mahesa Branjangan bertanya, kali ini kepada Arya Gading “Apa yang terjadi Gading?”
Arya Gading menundukkan wajahnya, mulutnyapun seperti terkunci. Karena itu Arya Gading juga tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Mahesa Branjangan kembali berpaling kearah Arya Gading yang masih terduduk ditanah “Berdirilah Arya Gading” berkata Mahesa Branjangan.
Dengan susah- payah anak muda itu berdiri. Beberapa orang berusaha untuk menolongnya dan menghapus darah yang masih juga meleleh dari mulutnya. Ketika Arya Gading telah berdiri meskipun belum tegak benar, ia mencoba memandang setiap wajah yang ada disekitarnya. Mahesa Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ditatapnya mata Bagus Abangan, sehingga dengan nanar Bagus Abangan terpaksa melemparkan pandangan matanya jauh-jauh.
“Kenapa kau sakiti dia Bagus Abangan?”
“Anak itu mendahului kakang” sahut Bagus Abangan
“Ah” Mahesa Branjangan berdesah “Benarkah demikian?” katanya kepada Arya Gading.
“Hem” Arya Gading menarik nafas.
Bagus Abangan menelan ludahnya. Terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Dan didengarnya kembali Mahesa Branjangan bertanya “Bagus Abangan, apakah sebenarnya yang terjadi?”
Bagus Abangan kini tidak ingin bersembunyi dibalakang berbagai alasan yang berbelit-belit. Maka jawabnya dengan dada tengadah “Yang terjadi adalah persoalan antara aku dan adi Arya Gading. Persoalan antara anak-anak muda ”
Jawaban itu benar-benar tak diduga oleh Mahesa Branjangan dan oleh siapapun. Bagus Abangan mencoba meletakkan persoalan ini diluar campur tangan pihak-pihak lain. Karena itu maka Mahesa Branjanganpun menjadi berdebar-debar pula.
Katanya “Aku adalah pemimpin sementara di padepokan ini. Aku akan bertanggung jawab terhadap setiap peristiwa yang terjadi disini. Apalagi diantara anak – anak murid ku sendiri”
“Tetapi apabila persoalan itu menyangkut persoalan padepokan” bantah Bagus Abangan.
“Persoalanku adalah persoalan seorang dengan seorang tanpa ada sangkut pautnya dengan kepemimpinan kakang disini”
Dahi Mahesa Branjanganpun menjadi berkerut karenanya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia adalah seorang pemimpin. Karena itu ia harus tetap memiliki wibawa atas anak murid -muridnya.
Sehingga kemudian ia bertanya “Lalu apakah kehendakmu?”
“Biarlah kami menyelesaikan persoalan kami sebagai laki-laki jantan” jawabnya.
Jawaban itu sangat mendebarkan hati. Apalagi Arya Gading. Dengan sudut matanya ia memandang wajah Mahesa Branjangan. Namun kemudian wajahnya itupun ditundukkannya kembali.
Quote:
MAHESA BRANJANGAN menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata “Ada hakku untuk berbuat atas kalian. Terutama atas Arya Gading. Dia cantrik baru yang dibawa Ki Ageng disini. Aku melarang dia membuat keonaran disini”
Terasa sesuatu berdesir didada Arya Gading. Ia sadar bahwa Mahesa Branjangan berusaha membebaskannya dari pertentangan ini. Karena itu tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, namun hanya sesaat, dan wajah itu menunduk kembali. Beberapa orang menjadi kecewa karenanya. Terutama Ratri Hening sendiri.
Paksi Jalak Kuning yang berdiri disamping Kuda Merta berbisik “Ah, Mahesa Branjangan terlalu memanjakan para cantriknya. Aku ingin melihat sekali-sekali pertempuran yang sesungguhnya. Syukur –syukur Bagus Abangan itu dihajar orang. Bukankah ini suatu kesempatan yang baik”
Mulut Paksi Jalak Kuning berkomat-kamit. Dari matanya memancarlah perasaan muaknya melihat kesombongan Bagus Abangan, sehingga dengan Mahesa Branjangan pun ia telah berani membantah.
Sesaat kemudian mereka dicengkam oleh ketegangan. Bukan saja orang-orang disekitar Bagus Abangan menjadi kecewa, namun Bagus Abangan sendiri tidak kalah kecewanya. Sebagai seorang anak muda yang merasa dirinya mumpuni, Bagus Abangan benar-benar ingin memperlihatkan kemampuannya. Ia yakin, bahwa betapapun kuatnya Arya Gading namun ia pasti akan dapat bertahan.
Lantas Mahesa Branjangan berkata “Aku perintahkan kalian kembali kependapa”
Bagus Abangan memandang Mahesa Branjangan dengan mata yang gelisah. Katanya “Biarlah aku disini”
“Kau dengar perintahku” ulang Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan masih berdiri ditempatnya. Beberapa orang yang sudah mulai bergerakpun tiba-tiba berhenti dan memandang anak muda itu dengan hati yang tegang.
Ketika Bagus Abangan tidak beranjak dari tempatnya, terdengar kembali Mahesa Branjangan berkata “Bagus Abangan, aku perintahkan kau kembali kependapa”
“Aku disini” jawabnya.
Mahesa Branjangan pun menjadi marah karenanya. Ia sadar bahwa Bagus Abangan merasa bahwa kesaktiannya telah bertambah-tambah karena kehadiran gurunya yang menempanya. Namun Mahesa Branjangan adalah pemimpin yang sadar akan kedudukannya.
Karena itu, selangkah ia maju sambil berkata lantang “Bagus Abangan, untuk terakhir kalinya aku memberikan peringatanku. Kalau tidak, maka aku akan melakukan kekuasaan yang ada padaku. Tinggalkan tempat ini, dan pergi kependapa!”
Tubuh Bagus Abanganpun bergetar karena marah. Ia tahu benar bahwa Mahesa Branjangan tidak lebih dari padanya, sehingga apabila Mahesa Branjangan itu menyerangnya, maka ia tidak yakin bahwa ia tidak akan melawannya. “Setidak-tidaknya aku akan dapat menyamainya. Bahkan mungkin melampauinya” katanya didalam hatinya.
Namun ketika ia melihat beberapa wajah yang berdiri disekitarnya, Kuda Merta, Paksi Jalak Kuning, Damar Tahun dan beberapa orang lagi. Meskipun Bagus Abangan tidak gentar berhadapan dengan setiap orang yang berdiri disitu, namun kalau mereka maju bersama-sama dengan Mahesa Branjangan untuk menangkapnya, maka ia pasti akan mengalami kesulitan. Karena itu ketika terpandang sekali lagi mata Mahesa Branjangan yang menyala, Bagus Abanganpun kemudian perlahan-lahan menggerakkan kakinya. Selangkah demi selangkah, namun perlahan sekali, ia meninggalkan tempat itu pergi ke pendapa. Keteganganpun kemudian mereda. Sekali lagi Mahesa Branjangan memandang setiap wajah yang ada disekitarnya.
Kemudian terdengar kembali perintahnya “Kembali kependapa”
Setiap orang yang berada ditempat itupun kemudian berangsur-angsur pergi. Terdengarlah gumam yang simpang siur diantara mereka. Sedang yang tinggal kemudian adalah Ratri Hening dan Arya Gading. Perlahan-lahan Mahesa Branjangan meraba pipi Arya Gading, diamat-amatinya noda yang merah kebiru-biruan dipipi itu.
“ Ratri kau masuklah, bantu biyung mu dan para mentrik untuk memasak di dapur “
Ratri Hening hanya menganggukkan kepala. Sesaat pandangannya membentur ke arah Arya Gading yang masih setengah menunduk. Ratri Heningpun kemudian masuk ke padepokan lewat pintu belakang dengan hati kecewa.
Arya Gadingpun kemudian mengikuti Mahesa Branjangan ke pringgitan. Di pringgitan ia duduk saja sambil menekurkan kepalanya. ketika Mahesa Branjangan kemudian duduk dihadapannya, hatinya menjadi berdebar-debar.
“Gading” berkata Mahesa Branjangan “Nah, peristiwa itu sekarang sudah terjadi. Apa katamu?”
Agung Arya Gading hanya dapat menundukkan wajahnya. Apalagi ketika Mahesa Branjangan itu berkata pula “Bukankah aku pernah memberimu nasihat?”
“Aku sudah mencoba melakukannya paman” sahut Arya Gading perlahan-lahan.
“Tetapi Bagus Abangan menyerang ku terlebih dahulu. Kalau aku diam saja mungkin sekarang aku terkapar nyaris mati kakang”
“Aku tidak keberatan apapun yang kau lakukan Gading, asalkan kau dapat mempertanggung-jawabkannya. Aku berbesar hati melihat ketekunanmu berlatih. Aku berbesar hati melihat kemajuan-kemajuan yang kau capai. Namun hatimu yang kerdil itu masih sekerdil itu pula. Apalagi berhadapan dengan Bagus Abangan. Dia seorang pemuda yang berangasan. Berdarah panas. Karena itu Gading, kali ini adalah kali terakhir aku mencampuri persoalanmu. Seterusnya, kau sudah cukup besar untuk menjaga dirimu sendiri”
Wajah Arya Gading menjadi semakin tunduk. Hampir ia menangis mendengar kata-kata Mahesa Branjangan.
Di pendapa Bagus Abangan masih duduk disudut diatas tikar pembaringannya. Hatinya menyala oleh kemarahan yang memuncak. Tanpa disadarinya, dibelainya senjatanya yang mengerikan. Beberapa orang yang melihatnya menjadi berdebar-debar karenanya, dan tanpa sadar pula, mereka duduk-duduk di samping senjata masing-masing.
Tiba-tiba ketika Bagus Abangan itu melihat Mahesa Branjangan melangkah keluar, ia berdiri pula. diletakkannya senjatanya, dan dengan tergesa-gesa ia menyusulnya.
“Kakang” panggil Bagus Abangan.
Mahesa Branjangan terkejut, karena itu iapun segera berhenti. Tampaklah dahi Mahesa Branjangan itu berkerut, ketika dilihatnya Bagus Abangan dengan tergesa-gesa pergi mendapatkannya. Bukan saja Mahesa Branjangan yang menjadi tegang, namun beberapa orang yang melihatnyapun tanpa sesadar mereka, serentak berdiri tegak di tempat masing-masing.
Terasa sesuatu berdesir didada Arya Gading. Ia sadar bahwa Mahesa Branjangan berusaha membebaskannya dari pertentangan ini. Karena itu tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, namun hanya sesaat, dan wajah itu menunduk kembali. Beberapa orang menjadi kecewa karenanya. Terutama Ratri Hening sendiri.
Paksi Jalak Kuning yang berdiri disamping Kuda Merta berbisik “Ah, Mahesa Branjangan terlalu memanjakan para cantriknya. Aku ingin melihat sekali-sekali pertempuran yang sesungguhnya. Syukur –syukur Bagus Abangan itu dihajar orang. Bukankah ini suatu kesempatan yang baik”
Mulut Paksi Jalak Kuning berkomat-kamit. Dari matanya memancarlah perasaan muaknya melihat kesombongan Bagus Abangan, sehingga dengan Mahesa Branjangan pun ia telah berani membantah.
Sesaat kemudian mereka dicengkam oleh ketegangan. Bukan saja orang-orang disekitar Bagus Abangan menjadi kecewa, namun Bagus Abangan sendiri tidak kalah kecewanya. Sebagai seorang anak muda yang merasa dirinya mumpuni, Bagus Abangan benar-benar ingin memperlihatkan kemampuannya. Ia yakin, bahwa betapapun kuatnya Arya Gading namun ia pasti akan dapat bertahan.
Lantas Mahesa Branjangan berkata “Aku perintahkan kalian kembali kependapa”
Bagus Abangan memandang Mahesa Branjangan dengan mata yang gelisah. Katanya “Biarlah aku disini”
“Kau dengar perintahku” ulang Mahesa Branjangan.
Bagus Abangan masih berdiri ditempatnya. Beberapa orang yang sudah mulai bergerakpun tiba-tiba berhenti dan memandang anak muda itu dengan hati yang tegang.
Ketika Bagus Abangan tidak beranjak dari tempatnya, terdengar kembali Mahesa Branjangan berkata “Bagus Abangan, aku perintahkan kau kembali kependapa”
“Aku disini” jawabnya.
Mahesa Branjangan pun menjadi marah karenanya. Ia sadar bahwa Bagus Abangan merasa bahwa kesaktiannya telah bertambah-tambah karena kehadiran gurunya yang menempanya. Namun Mahesa Branjangan adalah pemimpin yang sadar akan kedudukannya.
Karena itu, selangkah ia maju sambil berkata lantang “Bagus Abangan, untuk terakhir kalinya aku memberikan peringatanku. Kalau tidak, maka aku akan melakukan kekuasaan yang ada padaku. Tinggalkan tempat ini, dan pergi kependapa!”
Tubuh Bagus Abanganpun bergetar karena marah. Ia tahu benar bahwa Mahesa Branjangan tidak lebih dari padanya, sehingga apabila Mahesa Branjangan itu menyerangnya, maka ia tidak yakin bahwa ia tidak akan melawannya. “Setidak-tidaknya aku akan dapat menyamainya. Bahkan mungkin melampauinya” katanya didalam hatinya.
Namun ketika ia melihat beberapa wajah yang berdiri disekitarnya, Kuda Merta, Paksi Jalak Kuning, Damar Tahun dan beberapa orang lagi. Meskipun Bagus Abangan tidak gentar berhadapan dengan setiap orang yang berdiri disitu, namun kalau mereka maju bersama-sama dengan Mahesa Branjangan untuk menangkapnya, maka ia pasti akan mengalami kesulitan. Karena itu ketika terpandang sekali lagi mata Mahesa Branjangan yang menyala, Bagus Abanganpun kemudian perlahan-lahan menggerakkan kakinya. Selangkah demi selangkah, namun perlahan sekali, ia meninggalkan tempat itu pergi ke pendapa. Keteganganpun kemudian mereda. Sekali lagi Mahesa Branjangan memandang setiap wajah yang ada disekitarnya.
Kemudian terdengar kembali perintahnya “Kembali kependapa”
Setiap orang yang berada ditempat itupun kemudian berangsur-angsur pergi. Terdengarlah gumam yang simpang siur diantara mereka. Sedang yang tinggal kemudian adalah Ratri Hening dan Arya Gading. Perlahan-lahan Mahesa Branjangan meraba pipi Arya Gading, diamat-amatinya noda yang merah kebiru-biruan dipipi itu.
“ Ratri kau masuklah, bantu biyung mu dan para mentrik untuk memasak di dapur “
Ratri Hening hanya menganggukkan kepala. Sesaat pandangannya membentur ke arah Arya Gading yang masih setengah menunduk. Ratri Heningpun kemudian masuk ke padepokan lewat pintu belakang dengan hati kecewa.
Arya Gadingpun kemudian mengikuti Mahesa Branjangan ke pringgitan. Di pringgitan ia duduk saja sambil menekurkan kepalanya. ketika Mahesa Branjangan kemudian duduk dihadapannya, hatinya menjadi berdebar-debar.
“Gading” berkata Mahesa Branjangan “Nah, peristiwa itu sekarang sudah terjadi. Apa katamu?”
Agung Arya Gading hanya dapat menundukkan wajahnya. Apalagi ketika Mahesa Branjangan itu berkata pula “Bukankah aku pernah memberimu nasihat?”
“Aku sudah mencoba melakukannya paman” sahut Arya Gading perlahan-lahan.
“Tetapi Bagus Abangan menyerang ku terlebih dahulu. Kalau aku diam saja mungkin sekarang aku terkapar nyaris mati kakang”
“Aku tidak keberatan apapun yang kau lakukan Gading, asalkan kau dapat mempertanggung-jawabkannya. Aku berbesar hati melihat ketekunanmu berlatih. Aku berbesar hati melihat kemajuan-kemajuan yang kau capai. Namun hatimu yang kerdil itu masih sekerdil itu pula. Apalagi berhadapan dengan Bagus Abangan. Dia seorang pemuda yang berangasan. Berdarah panas. Karena itu Gading, kali ini adalah kali terakhir aku mencampuri persoalanmu. Seterusnya, kau sudah cukup besar untuk menjaga dirimu sendiri”
Wajah Arya Gading menjadi semakin tunduk. Hampir ia menangis mendengar kata-kata Mahesa Branjangan.
Di pendapa Bagus Abangan masih duduk disudut diatas tikar pembaringannya. Hatinya menyala oleh kemarahan yang memuncak. Tanpa disadarinya, dibelainya senjatanya yang mengerikan. Beberapa orang yang melihatnya menjadi berdebar-debar karenanya, dan tanpa sadar pula, mereka duduk-duduk di samping senjata masing-masing.
Tiba-tiba ketika Bagus Abangan itu melihat Mahesa Branjangan melangkah keluar, ia berdiri pula. diletakkannya senjatanya, dan dengan tergesa-gesa ia menyusulnya.
“Kakang” panggil Bagus Abangan.
Mahesa Branjangan terkejut, karena itu iapun segera berhenti. Tampaklah dahi Mahesa Branjangan itu berkerut, ketika dilihatnya Bagus Abangan dengan tergesa-gesa pergi mendapatkannya. Bukan saja Mahesa Branjangan yang menjadi tegang, namun beberapa orang yang melihatnyapun tanpa sesadar mereka, serentak berdiri tegak di tempat masing-masing.
Diubah oleh breaking182 31-05-2022 00:33
ashrose dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas