- Beranda
- Stories from the Heart
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
...
TS
gitartua24
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
"....and after all, we just have to move on."

"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."
Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Prolog
Tahun Pertama
Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
Part 15 - All Night Long
Part 16 - Hangover Girl
Part 17 - Morning Talk
Part 18 - A Book That Change
Part 19 - Where Are We Going
Part 20 - A Story About Past
Part 21 - Don't Cross The Line
Part 22 - Some Kind A Favor
Part 23 - Mission Almost Impossible
Part 24 - The Game We Play
Part 25 - Game Of Heart
Diubah oleh gitartua24 03-04-2024 07:12
ismetbakri49508 dan 40 lainnya memberi reputasi
39
25.3K
163
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#30
Part 9
Request
Gue merapikan peralatan tulis yang sebelumnya gue gunakan untuk mencatat. Kebanyakan berisi catatan-catatan mengenai proyek mata kuliah ini untuk mengajar paud. Untuk mata kuliah character building sendiri gue rasa nggak perlu ada sesuatu yang harus dicatat. Gue bahkan nggak tahu apakah mata kuliah ini akan masuk ke dalam ujian atau enggak.
Di sebelah gue, Kirana masih sibuk membereskan alat tulisnya. Sebenanrya dia juga menggunakan alat tulis yang sama dengan gue atau kebanyakan mahasiswa lainnya, pulpen dan binder. Hanya saja tas yang ia bawa terlalu kecil bahkan untuk memasukkan binder. Belum lagi Kirana harus merapikan benda-benda seperti alat make up dan hal lainnya yang ada di dalam tas. Sebenarnya nggak harus juga sih, tepi mungkin sudah jadi kebiasaan dia.
“Gue duluan ya, Ran.” Ucap gue ke Kirana, lalu segera meninggalkan kelas. Sementara itu, terdengar suara dari arah meja Kirana kalau dia sedang mempercepat apa yang sedang dia lakukan.
Saat melewati kursi-kursi di dalam kelas, mahasiswa kelas ini masih berkumpul dalam beberapa kelompok. Dari selentingan percakapan mereka yang bisa gue dengar, mereka sedang membicarakan mau ke mana setelah ini. Seandainya gue berada di kelas dimana isinya teman-teman gue, mungkin gue akan melakukan hal yang sama.
Di sepanjang koridor terlihat banyak mahasiswa yang satu persatu keluar dari kelas mereka. Ada yang langsung pergi entah kemana, ada juga yang sekedar duduk-duduk dan bersandar di tepi koridor depan kelas. Gue berjalan di tengah-tengah koridor supaya nggak mengganggu mahasiswa lainnya. Tetapi belum jauh gue meninggalkan kelas, ada yang memanggil nama gue.
“Treya!” Gue berbalik badan dan mendapatkan Kirana sedang memanggil nama gue sambil melambaikan tangan. Suara Kirana saat memanggil nama gue cukup keras sampai-sampai beberapa mahasiswa lain di sekitar gue ikut menengok ke arah asal suara.
Gue menunggu Kirana selama beberapa saat. Tepat di depan pintu kelas Kirana sedang berbicara dengan salah satu anggota kelompok gue yang sebelumnya duduk di sebelahnya. Mereka membicarakan sesuatu yang nggak bisa gue dengan. Kemudian Kirana menunjuk ke arah gue dan ngebuat gue bertatapan dengan cowok yang sedang berbicara dengan kirana. Buru-buru gue memalingkan muka dan kembali memperhatikan ke arah Kirana. Setelahnya Kirana meningglkan cowok tersebut.
“Kenapa?” Tanya gue ketika Kirana tergopoh-gopoh menghampiri.
“Tungguin.” Gue mengkrenyitkan dahi saat Kirana mengambil napas, masih belum mengerti maksud Kirana kenapa harus repot-repot berlari menghampiri gue. “Yuk.”
Gue pun kembali berjalan. Kali ini bersama dengan Kirana yang tepat berada di sebelah gue. Belum ada satu kata pun terucap di antara kami berdua semenjak meninggalkan kelas hingga turun ke lantai dasar menggunakan eskalator.
“Lo mau kemana Tre?”
Akhirnya Kirana membuka pertanyaan saat kita berdua berdiri di depan perpustkaan kampus. Sayangnya gue juga nggak tau mau kemana, atau lebih tepatnya gue belum sempat memikirkan hal tersebut.
Gue lupa kalau sebelumnya gue mau menghampiri Dewa yang berada di kelasnya bersama teman-teman jurusan yang lain untuk merokok di bawah. Entah kenapa ketika Kirana memanggil nama gue dan ikut berjalan di sebelah gue, mendadak gue melupakan hal tersebut.
“Lo sendiri mau kemana?” Gue balik bertanya.
“Abis ini lo ada kelas lagi?”
Gue mencoba mengingat-ingat jadwal perkuliahan gue yang tertera pada website kampus. “Ada, tapi kelasnya jam satu.”
“Makan dulu yuk.” Ajak Kirana. Mendengar ajakan Kirana untuk makan langsung membuat perut gue terasa lapar. Gue baru ingat kalau pagi ini belum sarapan.
“Boleh, di lorong aja kali ya, biar deket.”
“Lorong yang di seberang sini?” Kirana bertanya sambil menunjuk lokasi tempat makan yang gue tunjukkan.
“Iya.”
“Yauda, yuk.”
Saat masuk ke dalam lorong, gue langsung memesan satu porsi nasi goreng gila ekstra pedas. Sementara itu Kirana memesan satu porsi nasi goreng ayam. Setelah memesan makanan gue dan kirana langsung mencari tempat duduk yang tersedia.
Kondisi lorong saat kami masuk sangat penuh oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai jurusan berbagai angkatan. Memang tempat ini bukan satu-satunya tempat makan yang ada di sekitar sini, tetapi mengingat kalau sekarang waktunya jam makan siang nggak mengherankan kalau tempat ini sangat ramai oleh pengunjung. Gue dan Kirana bahkan harus menunggu beberapa saat sampai rombongan berisikan lima mahasiswa berdiri dari tempat duduk mereka. Tanpa menunggu waktu lama gue langsung menempati tempat tersebut.
“Lo mau minum apa, Kiran?”
“Samain kaya lo aja deh.”
Kemudian gue memesan teh dalam kemasa botol untuk dua orang. Handphone gue bergetar tanda menunjukkan pesan masuk saat minuman gue diantarkan. Dewa menanyakan posisi gue sekarang yang langsung gue balas. Nggak lama berselang ia kembali bertanya dengan siapa gue sekarang, gue menjawab dengan seorang teman tanpa memberi tahu siapa. Lalu Dewa mengabarkan akan segera menyusul dengan anak-anak yang lain. Kemudian gue kembali memasukkan handphone ke dalam kantung celana.
“Hai, Kiran!” Tiba-tiba terdengar sapaan dari arah belakang Kirana, tempat masuk lorong. Seseorang yang terlihat lebih tua dibandingkan gue berjalan mendekati meja kami, sementara ketiga orang temannya langsung mencari tempat duduk.
“Hai kak!” Balas Kirana menyapa. Terlihat ekspresi terkejut dari gestur Kirana. Saat ia repot-repot berbalik arah, gue dapat melihat rona merah dari pipi Kirana tanda tersipu malu. Gue memperhatikan sekilas seseorang yang menyapa Kirana. Laki-laki berbadan tegap dengan rambut klimis dan kemeja yang lengannya di gulung. Sepertinya kakak tingkat di jurusannya.
“Abis kelas ya?” Sapa si kakak tingkat berbasa-basi.
“Iya nih, kakak juga?”
“Iya. Kamu sama siapa?” Si kakak tingkat memelankan suaranya saat menanyakan ‘kehadiran’ gue. Sayagnya jarak antara meja dan posisi ia berdiri terlalu dekat sampai gue nggak perlu repot-repot menguping untuk mendengarnya
“Sama temen aku dari jurusan lain, kenalin.” Kirana memberikan gestur agar gue memperkenalkan diri. Gue bangkit dari tempat duduk dan berjabat tangan dengan si kakak tingkat.
Gue menyebutkan nama gue, begitu juga dengan lawan bicara gue. Sayangnya gue buruk dalam menghafal nama. Gue bahkan bisa langsung lupa nama seseorang yang baru aja berkenalan dengan gue, ditambah lagi dengan kondisi tempat yang bising. Lebih tepatnya gue nggak terlalu peduli dengan orang tersebut, apalagi juga ‘orang lain’ juga yang memperkenalkannya.
Awalnya gue kira sifat gue yang gampang lupa akan nama seseorang terjadi pada orang-orang tentu saja. Tapi lama kelamaan gue menyadari kalau gue memang buruk dalam mengingat nama.
Selesai berkenalan gue kembali duduk di tempat gue, sementara Kirana dan si kakak tingkat sempat berbicang sebelum ia menyusul teman-temannya. Gue memperhatikan Kirana, ada sesuatu yang nggak biasa dari raut wajahnya. Sayangnya gue nggak mengerti ‘sesuatu yang nggak biasa’ tersebut.
“By the way, nanti lo nyari paudnya gimana, Tre?” Tanya Kirana saat gue rasa ia sudah bisa mengendalikan dirinya.
“Bareng-bareng sama yang lain kan?”
“Maksud gue, nanti lo naik apa?”
Gue berpikir sejenak. Awalnya gue berpikiran untuk jalan kaki untuk mencari paud di sekitar sini karena takut kesulitan mencari parkir motor. Tapi gue bukan orang sini. Gue nggak tau seberapa jauh untuk mencapai suatu tempat dari tempat lain. “Mau nggak mau naik motor sih.”
“Gue bareng sama lo dong.” Pinta Kirana.
“Boleh, nanti lo tunggu di depan perpus aja. Gue lusa besok di gedung ini soalnya.”
“Maksudnya, jemput di kosan gue.”
“Hah?” Gue masih berusaha mencerna kata-kata yang baru aja diucapkan oleh Kirana. Kenapa gue harus menjemput Kirana di kosannya, kenapa nggak langsung di area deket kampus aja.
“Gue lusa nggak ada kelas, jadi jemputnya di kosan aja. Gue males kalau harus jalan dulu ke kampus, hehe.” Oke, alasan yang diberikan memang cukup masuk akal. Tapi entah mengapa gue merasa masih ada sesuatu yang mengganjal.
“Okay.” Akhirnya gue pun mengiyakan tanpa bertanya lebih jauh lagi.
Pesanan gue dan Kirana akhirnya datang. Terlihat asap yang mengepul dan aroma gurih yang berasal dari piring kami berdua. Tanpa berlama-lama gue pun menyantap hidangan yang sudah tersaji di hadapan gue.
“Nggak panas apa Tre?” Gue melihat ke arah Kirana yang sedang meniup-niup sendok yang berisikan nasi gorengnya.
“Panas sih, tapi gue nggak terlalu suka kalo makannya ke lamaan. Takut jadi dingin.” Ucap gue.
Mulut Kirana membentuk huruf O tanda mengerti, kemudian segera menyuap sendok pertama nasi goreng miliknya.
Request
Gue merapikan peralatan tulis yang sebelumnya gue gunakan untuk mencatat. Kebanyakan berisi catatan-catatan mengenai proyek mata kuliah ini untuk mengajar paud. Untuk mata kuliah character building sendiri gue rasa nggak perlu ada sesuatu yang harus dicatat. Gue bahkan nggak tahu apakah mata kuliah ini akan masuk ke dalam ujian atau enggak.
Di sebelah gue, Kirana masih sibuk membereskan alat tulisnya. Sebenanrya dia juga menggunakan alat tulis yang sama dengan gue atau kebanyakan mahasiswa lainnya, pulpen dan binder. Hanya saja tas yang ia bawa terlalu kecil bahkan untuk memasukkan binder. Belum lagi Kirana harus merapikan benda-benda seperti alat make up dan hal lainnya yang ada di dalam tas. Sebenarnya nggak harus juga sih, tepi mungkin sudah jadi kebiasaan dia.
“Gue duluan ya, Ran.” Ucap gue ke Kirana, lalu segera meninggalkan kelas. Sementara itu, terdengar suara dari arah meja Kirana kalau dia sedang mempercepat apa yang sedang dia lakukan.
Saat melewati kursi-kursi di dalam kelas, mahasiswa kelas ini masih berkumpul dalam beberapa kelompok. Dari selentingan percakapan mereka yang bisa gue dengar, mereka sedang membicarakan mau ke mana setelah ini. Seandainya gue berada di kelas dimana isinya teman-teman gue, mungkin gue akan melakukan hal yang sama.
Di sepanjang koridor terlihat banyak mahasiswa yang satu persatu keluar dari kelas mereka. Ada yang langsung pergi entah kemana, ada juga yang sekedar duduk-duduk dan bersandar di tepi koridor depan kelas. Gue berjalan di tengah-tengah koridor supaya nggak mengganggu mahasiswa lainnya. Tetapi belum jauh gue meninggalkan kelas, ada yang memanggil nama gue.
“Treya!” Gue berbalik badan dan mendapatkan Kirana sedang memanggil nama gue sambil melambaikan tangan. Suara Kirana saat memanggil nama gue cukup keras sampai-sampai beberapa mahasiswa lain di sekitar gue ikut menengok ke arah asal suara.
Gue menunggu Kirana selama beberapa saat. Tepat di depan pintu kelas Kirana sedang berbicara dengan salah satu anggota kelompok gue yang sebelumnya duduk di sebelahnya. Mereka membicarakan sesuatu yang nggak bisa gue dengan. Kemudian Kirana menunjuk ke arah gue dan ngebuat gue bertatapan dengan cowok yang sedang berbicara dengan kirana. Buru-buru gue memalingkan muka dan kembali memperhatikan ke arah Kirana. Setelahnya Kirana meningglkan cowok tersebut.
“Kenapa?” Tanya gue ketika Kirana tergopoh-gopoh menghampiri.
“Tungguin.” Gue mengkrenyitkan dahi saat Kirana mengambil napas, masih belum mengerti maksud Kirana kenapa harus repot-repot berlari menghampiri gue. “Yuk.”
Gue pun kembali berjalan. Kali ini bersama dengan Kirana yang tepat berada di sebelah gue. Belum ada satu kata pun terucap di antara kami berdua semenjak meninggalkan kelas hingga turun ke lantai dasar menggunakan eskalator.
“Lo mau kemana Tre?”
Akhirnya Kirana membuka pertanyaan saat kita berdua berdiri di depan perpustkaan kampus. Sayangnya gue juga nggak tau mau kemana, atau lebih tepatnya gue belum sempat memikirkan hal tersebut.
Gue lupa kalau sebelumnya gue mau menghampiri Dewa yang berada di kelasnya bersama teman-teman jurusan yang lain untuk merokok di bawah. Entah kenapa ketika Kirana memanggil nama gue dan ikut berjalan di sebelah gue, mendadak gue melupakan hal tersebut.
“Lo sendiri mau kemana?” Gue balik bertanya.
“Abis ini lo ada kelas lagi?”
Gue mencoba mengingat-ingat jadwal perkuliahan gue yang tertera pada website kampus. “Ada, tapi kelasnya jam satu.”
“Makan dulu yuk.” Ajak Kirana. Mendengar ajakan Kirana untuk makan langsung membuat perut gue terasa lapar. Gue baru ingat kalau pagi ini belum sarapan.
“Boleh, di lorong aja kali ya, biar deket.”
“Lorong yang di seberang sini?” Kirana bertanya sambil menunjuk lokasi tempat makan yang gue tunjukkan.
“Iya.”
“Yauda, yuk.”
Saat masuk ke dalam lorong, gue langsung memesan satu porsi nasi goreng gila ekstra pedas. Sementara itu Kirana memesan satu porsi nasi goreng ayam. Setelah memesan makanan gue dan kirana langsung mencari tempat duduk yang tersedia.
Kondisi lorong saat kami masuk sangat penuh oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai jurusan berbagai angkatan. Memang tempat ini bukan satu-satunya tempat makan yang ada di sekitar sini, tetapi mengingat kalau sekarang waktunya jam makan siang nggak mengherankan kalau tempat ini sangat ramai oleh pengunjung. Gue dan Kirana bahkan harus menunggu beberapa saat sampai rombongan berisikan lima mahasiswa berdiri dari tempat duduk mereka. Tanpa menunggu waktu lama gue langsung menempati tempat tersebut.
“Lo mau minum apa, Kiran?”
“Samain kaya lo aja deh.”
Kemudian gue memesan teh dalam kemasa botol untuk dua orang. Handphone gue bergetar tanda menunjukkan pesan masuk saat minuman gue diantarkan. Dewa menanyakan posisi gue sekarang yang langsung gue balas. Nggak lama berselang ia kembali bertanya dengan siapa gue sekarang, gue menjawab dengan seorang teman tanpa memberi tahu siapa. Lalu Dewa mengabarkan akan segera menyusul dengan anak-anak yang lain. Kemudian gue kembali memasukkan handphone ke dalam kantung celana.
“Hai, Kiran!” Tiba-tiba terdengar sapaan dari arah belakang Kirana, tempat masuk lorong. Seseorang yang terlihat lebih tua dibandingkan gue berjalan mendekati meja kami, sementara ketiga orang temannya langsung mencari tempat duduk.
“Hai kak!” Balas Kirana menyapa. Terlihat ekspresi terkejut dari gestur Kirana. Saat ia repot-repot berbalik arah, gue dapat melihat rona merah dari pipi Kirana tanda tersipu malu. Gue memperhatikan sekilas seseorang yang menyapa Kirana. Laki-laki berbadan tegap dengan rambut klimis dan kemeja yang lengannya di gulung. Sepertinya kakak tingkat di jurusannya.
“Abis kelas ya?” Sapa si kakak tingkat berbasa-basi.
“Iya nih, kakak juga?”
“Iya. Kamu sama siapa?” Si kakak tingkat memelankan suaranya saat menanyakan ‘kehadiran’ gue. Sayagnya jarak antara meja dan posisi ia berdiri terlalu dekat sampai gue nggak perlu repot-repot menguping untuk mendengarnya
“Sama temen aku dari jurusan lain, kenalin.” Kirana memberikan gestur agar gue memperkenalkan diri. Gue bangkit dari tempat duduk dan berjabat tangan dengan si kakak tingkat.
Gue menyebutkan nama gue, begitu juga dengan lawan bicara gue. Sayangnya gue buruk dalam menghafal nama. Gue bahkan bisa langsung lupa nama seseorang yang baru aja berkenalan dengan gue, ditambah lagi dengan kondisi tempat yang bising. Lebih tepatnya gue nggak terlalu peduli dengan orang tersebut, apalagi juga ‘orang lain’ juga yang memperkenalkannya.
Awalnya gue kira sifat gue yang gampang lupa akan nama seseorang terjadi pada orang-orang tentu saja. Tapi lama kelamaan gue menyadari kalau gue memang buruk dalam mengingat nama.
Selesai berkenalan gue kembali duduk di tempat gue, sementara Kirana dan si kakak tingkat sempat berbicang sebelum ia menyusul teman-temannya. Gue memperhatikan Kirana, ada sesuatu yang nggak biasa dari raut wajahnya. Sayangnya gue nggak mengerti ‘sesuatu yang nggak biasa’ tersebut.
“By the way, nanti lo nyari paudnya gimana, Tre?” Tanya Kirana saat gue rasa ia sudah bisa mengendalikan dirinya.
“Bareng-bareng sama yang lain kan?”
“Maksud gue, nanti lo naik apa?”
Gue berpikir sejenak. Awalnya gue berpikiran untuk jalan kaki untuk mencari paud di sekitar sini karena takut kesulitan mencari parkir motor. Tapi gue bukan orang sini. Gue nggak tau seberapa jauh untuk mencapai suatu tempat dari tempat lain. “Mau nggak mau naik motor sih.”
“Gue bareng sama lo dong.” Pinta Kirana.
“Boleh, nanti lo tunggu di depan perpus aja. Gue lusa besok di gedung ini soalnya.”
“Maksudnya, jemput di kosan gue.”
“Hah?” Gue masih berusaha mencerna kata-kata yang baru aja diucapkan oleh Kirana. Kenapa gue harus menjemput Kirana di kosannya, kenapa nggak langsung di area deket kampus aja.
“Gue lusa nggak ada kelas, jadi jemputnya di kosan aja. Gue males kalau harus jalan dulu ke kampus, hehe.” Oke, alasan yang diberikan memang cukup masuk akal. Tapi entah mengapa gue merasa masih ada sesuatu yang mengganjal.
“Okay.” Akhirnya gue pun mengiyakan tanpa bertanya lebih jauh lagi.
Pesanan gue dan Kirana akhirnya datang. Terlihat asap yang mengepul dan aroma gurih yang berasal dari piring kami berdua. Tanpa berlama-lama gue pun menyantap hidangan yang sudah tersaji di hadapan gue.
“Nggak panas apa Tre?” Gue melihat ke arah Kirana yang sedang meniup-niup sendok yang berisikan nasi gorengnya.
“Panas sih, tapi gue nggak terlalu suka kalo makannya ke lamaan. Takut jadi dingin.” Ucap gue.
Mulut Kirana membentuk huruf O tanda mengerti, kemudian segera menyuap sendok pertama nasi goreng miliknya.
unhappynes dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup
