- Beranda
- Stories from the Heart
CHAPT 18 - AKSES MASUK KERAJAAN DAN BERTEMU GARIS LELUHUR. ABAH MENANGIS HARU.
...
TS
aksadaru
CHAPT 18 - AKSES MASUK KERAJAAN DAN BERTEMU GARIS LELUHUR. ABAH MENANGIS HARU.
CHAPT 18 - AKSES MASUK KERAJAAN DAN BERTEMU GARIS LELUHUR. ABAH MENANGIS HARU.
" TAK ADA YANG KU IJINKAN MASUK SELAIN PARA BIKSU SUCI DAN KERABAT KERAJAAN"
Abah sudah berada di depanku dan menjagaku dari depan, aku masih kaku kebingungan kemudian...
------------------------------------------------------------------------
Kemudian dari aura tubuh penjaga tersebut semakin memancar kemerahan, matanya bersinar tajam seperti mengintimidasi setiap orang yang datang. Aneh abah tidak bergerak sama sekali, padahal biasanya bila ada hal yang mengancam energi abah akan memancar juga dan langsung mengambil kuda-kuda siap perang. Abah menengok kepadaku dan memintaku merapal mantram Gayatri, sontak aku mengingat ingat mantranya dan perlahan membacanya dalam hati.
OM
BHUR BHUVA SVAHA
TAT SAVITUR VARENYAM
BHARGO DEVASYA DHIIMAHI
DHI YO YONAH PRACHODAYAT
semakin dalam ku baca semakin ada perasaan naman dan tenang, kemduian aku merasa ada aura hangat yang datang dari arah belakang dan menjagaku. Energi ini milik Eyang Dharmawangsa.
Eyang hadir dan berdiri di belakangku, tersenyum dan mengucap salam kepadaku, kemudian memintaku untuk memfokuskan energi di dadaku agar kalacakra mewujud menjadi sebuah simbol, Aku masih bingung tapi tetap kulakukan. Sembari aku fokus, terlihat 2 penjaga sudah berlutut di depanku, Eyang memberi salam kepada mereka dan tanpa aba-aba energi yang tadinya mengintimidasi sudah hilang.
Eyang Dharmawangsa : Om Swastiaastu. Salam para penjaga. Kedua pendatang ini adalah keturunanku, aku yang memintanya untuk masuk dan bertemu sang Raja.
Penjaga : Om Swastiastu. Salam pertapa Suci. Kami tidak menau akan kedatangan mereka, ampun atas kelancangan kami. Sudikah kiranya kami meminta tanda pengenal sebagai wujud tugas kami menjaga pintu masuk?
Abah : Nak Aksa, biarkan kalacakramu keluar dan biarkan mewujud.
Aksa : (Aku masih juga kebingungan, kalau kalacakraku keluar apa tidak jadi masalah? Eh, ,tetap tadi di awal sepertinya kalacakraku mewujud suatu simbol, apa. itu yang di maksud ya? )
Eyang Dharmawangsa : Ikutilah apa yang Dhamar Sasmita katakan cucuku.
Kemudian perlahan cahaya keluar dari dadaku dan mewujud seperti logam persegi enam yang bercahaya. Logam tersebut segera ku gapai dan Eyang membantuku dengan mewujudkannya lebih jelas.
Eyang Dharmawangsa : Apa ini sudah cukup sebagai tanda pengenal bahwa mereka berdua bersamaku sekaligus sebagai utusanku?
Penjaga : Ini lebih dari cukup, justru simbol ini adalah akses khusus untuk masuk lebih jauh bertemu Sang Raja. Silahkan masuk.
Eyang Dharmawangsa : Kalian masuklah, tugasku hanya mengantar sampai pintu masuk saja, selebihnya adalah tugas kalian. Dhamar sasmita, jagalah cucuku dengan baik, biarkan ia mewarisi sejarah nusantara mulai dari tempat ini. Sampaikan salamku dengan Sang Raja.
Abah : Dengan senang hati eyang, sudah jadi takdirku mendampinginya. Baiklah, akan kusampaikan salam kepada Sang Raja.
Eyang Dharmawangsa : Cucuku, berbahagialah karena mulai dari sini lau akan mewarisi sejarah Nusantara.
Aksa : Baik eyang, terima kasih telah membuka jalan takdirku.
Perlahan sinar eyang memudar dan menghilang, kami masuk ke area candi. Setelah masuk pemandangan yang disuguhkan luar biasa indah, yang kuliah adalah hamparan sawah nan hijau, Candi utama ada di bukit tengah sawah. Banyak orang berlalu lalang dan berkegiatan sebagai mana mestinya, di sudut lain ada beberapa prajurit yang berkeliling. Semua orang terlihat ramah ketika berpapasan dengan kami. Kemudian kami sampai di depan sebuah istana di dekat Candi Utama.
Disini ada beberapa orang yang memakai ageman atau baju seperti Eyang Dharmawangsa, ada juga yang memakai jubah kebesaran layaknya pejabat kerajaan. Di sepan istana ada sebuah lapangan yang cukup besar, kulihat disana ada seorang yang gagah sedang berlatih panahan. Hanya saja ada hal yang janggal , entah ini terlihat orang lain atau tidak.
Saat beliau menarik panah serasa udara seperti berhenti, lalu ada semacam energi berkumpul di mata panah, samar-samar terlihat ada energi membentuk burung raksasa di belakang beliau. Ku taksir burung tersebut adalah penjaga ghaibnya. Setelah panah dilepaskan sang anak panah seperti melesat membelah udara, yang bikin takjub adalah satu anak panah meluncur tetapi 3 target terkena, karena disaat melesat ada seperti anak panah bayangan yang ikut melesat juga. Aku sempat berfikir, mungkin panah tersebut bukan panah biasa, seperti pusaka andalan dari beliau.

Abah : Nak Aksa, beliau adalah Sang Raja. Kita lanjutkan menuju istana karena kita sudah dipersilahkan masuk untuk bertemu Sang Raja.
Aksa : Baik abah, aku sampai bengong sendiri melihat kejadian barusan. Hehe
Kami masuk ke dalam istana dan menuju suatu ruangan berhiasakan cahaya dari berbagai sudut, cahaya tersebut berasal dari penerangan di setiap sudut ruangan dan terpancar dari batu mulia. Jadi penerangan bukan dari api, melainkan batu mulia yang bersinar.
Kami dipersilahkan duduk di sebuah kursi yang sangat nyaman dengan suguhan yang hampir mirip di alam manusia. Tak lama kudengar langkah kaki yang sangat halus, bersamaan dengan aroma harum dan energi yang luar biasa besar, hanya saja begitu berwibawa dan tenang. Sang Raja telah hadir.
Abah memintaku berdiri untuk menyambut.
Abah : Salam Sang Rajasa Sri Narendra. Maaf atas kelancangan kami hadir tanpa kabar resmi terlebih dahulu. Semata-mata karena kami hanya mengikuti alur takdir atas tugas yang telah diberikan kepada kami. Ada titipan salam dari Eyang Kami Dharmawangsa untuk Sang Raja.
Sri Narendra : Salam Dhamar Sasmita beserta cucu Pertapa Suci Dharmawangsa. Aku sudah tau akan kabar kedatangan kalian dari para pertapa, karena tujuan kalian yang mulia dan patut untuk dihargai. Duduklah.
Jarang ada manusia yang sanggup masuk kedalam dimensi masa lalu ini, akan tetapi kalian memiliki akses khusus yang hanya di miliki para pertapa suci, aku mengerti akan hal itu, terlebih kalian memiliki tugas yang luar biasa sulit walaupun secara lisanmudah diucapkan.
Siapa namamu anak muda, cucu Pertapa Suci Dharmawangsa?
Aksa : Salam Raja Sri Narendra. Namaku Aksadaru. Terima kasih telah berkenan menemui kami demi pencarian jawaban atas segala takdir yang di hadiahkan untuk kami.
Sri Narendra : Sudah waktunya takdir terpenuhi berkat tuntunan sang Hyang Tunggal beserta para utusannya di Bumi ini. Setelah ini akan ku ajak kalian berkeliling dan menuju Candi Utama sebagai langkah awal perjalanan mewarisi Sejarah Nusantara ini.
Abah : Dengan Senang hati Sang Raja.
Setelah itu Sang Raja mengajak kami berkeliling Istana, desa dan menuju Candi.
Dalam perjalanan Raja Sri Narendra menjelaskan tentang seluk beluk desa beserta kegiatan yang mereka lakukan. AKu baru tau Raja SrI Narendra sangatlah cakap dalam hal pengembangan dan sistem kesejahteraan untuk rakyatnya. Beliau dengan jeli menjelaskan tiap tugas dan kewenangannya, merinci setiap maksud dan tujuan berkehidupan masa itu.
Sri Narendra : Perlu kalian ketahui bahwa setiap era atau jaman memiliki tokoh dan peristiwanya masing-masing. Setaip peran dan tugas telah di tetapkan dari Sang Hyang Tunggal. Bumi Nusantara ini sungguh menakjubkan, Bumi Nusantara ini seperti sudah di dibentuk sedemikian rupa untuk nantinya ditempat para pejuang dan tokoh besar di dalamnya. Seperti wilayah yang kalian pijak ini, walaupun secara teritori adalah wilayah keuasaanku, namun ini hanyalah sementara. Setelah ini masih harus dilanjutkan oleh generasiku berikutnya. Entah akan terjadi kemajuan atau kemunduran sudah jadi ketentuannya. Namun aku merasa lega karena dibalik takdir yang tak terjamah ada sekilas cahaya harapan yang datang dari masa depan, kalian adalah pecahan cahaya harapan yang nantinya menjadi bagian peristiwa penting dalam menjaga dan mewarisi Nusantara ini.
Abah : Kami hanya melaksanakan segala yang sudah di gariskan, apapun itu asalkan demi kebaikan bersama maka sudha menjadi kewajiban kami. Rajaku, apa yang sebenarnya harus kami laukan, terlebih tugas awal kami adalah masuk ke dimensi sekarang ini?
Sri Narendra : Sepertinya kalian cukup berambisi ya, sebelumnya ada seseorang yang harus kau temui dahulu Dhamar Sasmita. Lihatlah ke arah pondok disana, ada sesorang yang menunggumu.
Aku dan abah serentak menoleh ke arah pondok, tanpa diduga abah segera melesat ke depan pondok dan segera bersimpuh, kulihat abah meneteskan air mata. Aku tak begitu paham situasinya sampai akhirnya sang Raja meraih tanganku dan membawaku melesat ke arah pondok tersebut.
Sri Narendra : Pertemuan yang telah digariskan. Dari awal kedatanganmu aku sudah menduga bahwa kau adalah keturuna dari Penasihat Perangku, Narashima.

Abah : Eyang Narashima, cucumu bersimpuh di hadapmu.
Eyang Narashima lantas menggerakkan sesuatu di tangannya dan meminta Abah berdiri.
LANJUT CHAPTER 19.
MASUK KEDALAM CANDI, RAHASIA YANG BERKENAN DISAMPAIKAN.
" TAK ADA YANG KU IJINKAN MASUK SELAIN PARA BIKSU SUCI DAN KERABAT KERAJAAN"
Abah sudah berada di depanku dan menjagaku dari depan, aku masih kaku kebingungan kemudian...
------------------------------------------------------------------------
Kemudian dari aura tubuh penjaga tersebut semakin memancar kemerahan, matanya bersinar tajam seperti mengintimidasi setiap orang yang datang. Aneh abah tidak bergerak sama sekali, padahal biasanya bila ada hal yang mengancam energi abah akan memancar juga dan langsung mengambil kuda-kuda siap perang. Abah menengok kepadaku dan memintaku merapal mantram Gayatri, sontak aku mengingat ingat mantranya dan perlahan membacanya dalam hati.
OM
BHUR BHUVA SVAHA
TAT SAVITUR VARENYAM
BHARGO DEVASYA DHIIMAHI
DHI YO YONAH PRACHODAYAT
semakin dalam ku baca semakin ada perasaan naman dan tenang, kemduian aku merasa ada aura hangat yang datang dari arah belakang dan menjagaku. Energi ini milik Eyang Dharmawangsa.
Eyang hadir dan berdiri di belakangku, tersenyum dan mengucap salam kepadaku, kemudian memintaku untuk memfokuskan energi di dadaku agar kalacakra mewujud menjadi sebuah simbol, Aku masih bingung tapi tetap kulakukan. Sembari aku fokus, terlihat 2 penjaga sudah berlutut di depanku, Eyang memberi salam kepada mereka dan tanpa aba-aba energi yang tadinya mengintimidasi sudah hilang.
Eyang Dharmawangsa : Om Swastiaastu. Salam para penjaga. Kedua pendatang ini adalah keturunanku, aku yang memintanya untuk masuk dan bertemu sang Raja.
Penjaga : Om Swastiastu. Salam pertapa Suci. Kami tidak menau akan kedatangan mereka, ampun atas kelancangan kami. Sudikah kiranya kami meminta tanda pengenal sebagai wujud tugas kami menjaga pintu masuk?
Abah : Nak Aksa, biarkan kalacakramu keluar dan biarkan mewujud.
Aksa : (Aku masih juga kebingungan, kalau kalacakraku keluar apa tidak jadi masalah? Eh, ,tetap tadi di awal sepertinya kalacakraku mewujud suatu simbol, apa. itu yang di maksud ya? )
Eyang Dharmawangsa : Ikutilah apa yang Dhamar Sasmita katakan cucuku.
Kemudian perlahan cahaya keluar dari dadaku dan mewujud seperti logam persegi enam yang bercahaya. Logam tersebut segera ku gapai dan Eyang membantuku dengan mewujudkannya lebih jelas.
Eyang Dharmawangsa : Apa ini sudah cukup sebagai tanda pengenal bahwa mereka berdua bersamaku sekaligus sebagai utusanku?
Penjaga : Ini lebih dari cukup, justru simbol ini adalah akses khusus untuk masuk lebih jauh bertemu Sang Raja. Silahkan masuk.
Eyang Dharmawangsa : Kalian masuklah, tugasku hanya mengantar sampai pintu masuk saja, selebihnya adalah tugas kalian. Dhamar sasmita, jagalah cucuku dengan baik, biarkan ia mewarisi sejarah nusantara mulai dari tempat ini. Sampaikan salamku dengan Sang Raja.
Abah : Dengan senang hati eyang, sudah jadi takdirku mendampinginya. Baiklah, akan kusampaikan salam kepada Sang Raja.
Eyang Dharmawangsa : Cucuku, berbahagialah karena mulai dari sini lau akan mewarisi sejarah Nusantara.
Aksa : Baik eyang, terima kasih telah membuka jalan takdirku.
Perlahan sinar eyang memudar dan menghilang, kami masuk ke area candi. Setelah masuk pemandangan yang disuguhkan luar biasa indah, yang kuliah adalah hamparan sawah nan hijau, Candi utama ada di bukit tengah sawah. Banyak orang berlalu lalang dan berkegiatan sebagai mana mestinya, di sudut lain ada beberapa prajurit yang berkeliling. Semua orang terlihat ramah ketika berpapasan dengan kami. Kemudian kami sampai di depan sebuah istana di dekat Candi Utama.
Disini ada beberapa orang yang memakai ageman atau baju seperti Eyang Dharmawangsa, ada juga yang memakai jubah kebesaran layaknya pejabat kerajaan. Di sepan istana ada sebuah lapangan yang cukup besar, kulihat disana ada seorang yang gagah sedang berlatih panahan. Hanya saja ada hal yang janggal , entah ini terlihat orang lain atau tidak.
Saat beliau menarik panah serasa udara seperti berhenti, lalu ada semacam energi berkumpul di mata panah, samar-samar terlihat ada energi membentuk burung raksasa di belakang beliau. Ku taksir burung tersebut adalah penjaga ghaibnya. Setelah panah dilepaskan sang anak panah seperti melesat membelah udara, yang bikin takjub adalah satu anak panah meluncur tetapi 3 target terkena, karena disaat melesat ada seperti anak panah bayangan yang ikut melesat juga. Aku sempat berfikir, mungkin panah tersebut bukan panah biasa, seperti pusaka andalan dari beliau.

Abah : Nak Aksa, beliau adalah Sang Raja. Kita lanjutkan menuju istana karena kita sudah dipersilahkan masuk untuk bertemu Sang Raja.
Aksa : Baik abah, aku sampai bengong sendiri melihat kejadian barusan. Hehe
Kami masuk ke dalam istana dan menuju suatu ruangan berhiasakan cahaya dari berbagai sudut, cahaya tersebut berasal dari penerangan di setiap sudut ruangan dan terpancar dari batu mulia. Jadi penerangan bukan dari api, melainkan batu mulia yang bersinar.
Kami dipersilahkan duduk di sebuah kursi yang sangat nyaman dengan suguhan yang hampir mirip di alam manusia. Tak lama kudengar langkah kaki yang sangat halus, bersamaan dengan aroma harum dan energi yang luar biasa besar, hanya saja begitu berwibawa dan tenang. Sang Raja telah hadir.
Abah memintaku berdiri untuk menyambut.
Abah : Salam Sang Rajasa Sri Narendra. Maaf atas kelancangan kami hadir tanpa kabar resmi terlebih dahulu. Semata-mata karena kami hanya mengikuti alur takdir atas tugas yang telah diberikan kepada kami. Ada titipan salam dari Eyang Kami Dharmawangsa untuk Sang Raja.
Sri Narendra : Salam Dhamar Sasmita beserta cucu Pertapa Suci Dharmawangsa. Aku sudah tau akan kabar kedatangan kalian dari para pertapa, karena tujuan kalian yang mulia dan patut untuk dihargai. Duduklah.
Jarang ada manusia yang sanggup masuk kedalam dimensi masa lalu ini, akan tetapi kalian memiliki akses khusus yang hanya di miliki para pertapa suci, aku mengerti akan hal itu, terlebih kalian memiliki tugas yang luar biasa sulit walaupun secara lisanmudah diucapkan.
Siapa namamu anak muda, cucu Pertapa Suci Dharmawangsa?
Aksa : Salam Raja Sri Narendra. Namaku Aksadaru. Terima kasih telah berkenan menemui kami demi pencarian jawaban atas segala takdir yang di hadiahkan untuk kami.
Sri Narendra : Sudah waktunya takdir terpenuhi berkat tuntunan sang Hyang Tunggal beserta para utusannya di Bumi ini. Setelah ini akan ku ajak kalian berkeliling dan menuju Candi Utama sebagai langkah awal perjalanan mewarisi Sejarah Nusantara ini.
Abah : Dengan Senang hati Sang Raja.
Setelah itu Sang Raja mengajak kami berkeliling Istana, desa dan menuju Candi.
Dalam perjalanan Raja Sri Narendra menjelaskan tentang seluk beluk desa beserta kegiatan yang mereka lakukan. AKu baru tau Raja SrI Narendra sangatlah cakap dalam hal pengembangan dan sistem kesejahteraan untuk rakyatnya. Beliau dengan jeli menjelaskan tiap tugas dan kewenangannya, merinci setiap maksud dan tujuan berkehidupan masa itu.
Sri Narendra : Perlu kalian ketahui bahwa setiap era atau jaman memiliki tokoh dan peristiwanya masing-masing. Setaip peran dan tugas telah di tetapkan dari Sang Hyang Tunggal. Bumi Nusantara ini sungguh menakjubkan, Bumi Nusantara ini seperti sudah di dibentuk sedemikian rupa untuk nantinya ditempat para pejuang dan tokoh besar di dalamnya. Seperti wilayah yang kalian pijak ini, walaupun secara teritori adalah wilayah keuasaanku, namun ini hanyalah sementara. Setelah ini masih harus dilanjutkan oleh generasiku berikutnya. Entah akan terjadi kemajuan atau kemunduran sudah jadi ketentuannya. Namun aku merasa lega karena dibalik takdir yang tak terjamah ada sekilas cahaya harapan yang datang dari masa depan, kalian adalah pecahan cahaya harapan yang nantinya menjadi bagian peristiwa penting dalam menjaga dan mewarisi Nusantara ini.
Abah : Kami hanya melaksanakan segala yang sudah di gariskan, apapun itu asalkan demi kebaikan bersama maka sudha menjadi kewajiban kami. Rajaku, apa yang sebenarnya harus kami laukan, terlebih tugas awal kami adalah masuk ke dimensi sekarang ini?
Sri Narendra : Sepertinya kalian cukup berambisi ya, sebelumnya ada seseorang yang harus kau temui dahulu Dhamar Sasmita. Lihatlah ke arah pondok disana, ada sesorang yang menunggumu.
Aku dan abah serentak menoleh ke arah pondok, tanpa diduga abah segera melesat ke depan pondok dan segera bersimpuh, kulihat abah meneteskan air mata. Aku tak begitu paham situasinya sampai akhirnya sang Raja meraih tanganku dan membawaku melesat ke arah pondok tersebut.
Sri Narendra : Pertemuan yang telah digariskan. Dari awal kedatanganmu aku sudah menduga bahwa kau adalah keturuna dari Penasihat Perangku, Narashima.

Abah : Eyang Narashima, cucumu bersimpuh di hadapmu.
Eyang Narashima lantas menggerakkan sesuatu di tangannya dan meminta Abah berdiri.
LANJUT CHAPTER 19.
MASUK KEDALAM CANDI, RAHASIA YANG BERKENAN DISAMPAIKAN.
Diubah oleh aksadaru 12-05-2022 00:27
sihamulgiozii dan 13 lainnya memberi reputasi
14
4.1K
23
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aksadaru
#3
CHAPTER 19 - MASUK KEDALAM CANDI, RAHASIA YANG BERKENAN DISAMPAIKAN.
CHAPTER 19 - MASUK KEDALAM CANDI, RAHASIA YANG BERKENAN DISAMPAIKAN.
Eyang Narashima lantas menggerakkan sesuatu di tangannya dan meminta Abah berdiri.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Eyang Narashima : Berdirilah cucuku Damar Sasmita. Pada akhirnya sang takdir telah mempertemukanmu denganku. Dimensi ini cukup jauh kau tempuh, sudah pasti kau memiliki tugas khusus bersama anak itu. Siapa namanya, aku melihat jalur silsilah pertapa suci di aura tubuhnya.
Abah : Sembah Puji cucumu ini haturkan kepada Eyang Narashima, rasa rindu yang berkecamuk karena sebelumnya hanya bisa mendengar suara dan sekilas gambaran mengenai Eyang. Akhirnya waktu ini datang, betapa welas asih dan teduh saat ini. Benar sekali eyang, kami masuk ke dimensi masa lalu ini memang karena ada tugas khusus dari Pertapa Suci Dharmawangsa dan anak ini adalah keturunannya yang nantinya akan melanjutkan tugas dalam mewarisi sejarah nusantara. Aksadaru nama anak ini.
Aksa : Salam Eyang Narashima.
Eyang Narashima : Aku sudha menduga dan melihat dari auramu, terlebih kalacakra di dalam tubuhmu itu memang asli dari Pertapa Suci Dharmawangsa. Rajaku, sudilah engkau merestui perjalanan mereka untuk mewarisi sejarah nusantara mulai dari masa ini?
Sri Narendra : Sudah bukan lagi restu, tetapi lebih darinya. Kalian berdua ku anggap sebagai bagian dari keluargaku, karena memang Narashima dan Dharmawangsa sudah menjadi bagian dari kerajaanku. Sepertinya kau ingin lebih lama bersama cucumu, kalau begitu akan ku bawa anak ini berkeliling dahulu.
Eyang Narashima : Baik Rajaku. Aku ingin memberikan nasihat dan pengetahuan khusus untuk cucuku ini.
Abah : Terima kasih Raja Sri Narendra, kiranya anak ini akan lebih intim bersama sang Raja dalam menerima segala pengetahuan. Aksa, manfaatkan waktu bersama Raja Sri Narendra dengan baik.
Aksa : Baik Abah, aku paham.
Kemudian Sang Raja mengajakku berjalan-jalan kembali. Abah bersama Eyang Narashima menunggu di gubuk kecil yang lebih mirip singgasana.
Sembari aku berjalan bersama Raja Sri Narendra, aku melihat orang-orang sangatlah ramah, walaupun yang berjalan bersamaku adalah Raja, mereka tak sungkan untuk bertukar senyum. Begitu juga Raja Sri Narendra, beliau seperti bukan gambaran raja yang gila hormat, beliau masih mengutamakan welas asih dan menganggap rakyatnya sebagai bagian dari keluarga kerajaan.
Aksa : Maaf bila aku lancang bertanya Raja, mengapa rakyat disini sangatlah dekat denganmu, sedangkan gambaranku mengenai seorang Raja adalah kehormatan dan kewibawaan?
Sri Narendra : Pertanyaanmu itu tak perlu kujawab panjang lebar. Yang pasti aku lebih megutamakan rakyatku ketimbang kehormatanku. Mereka adalah aset kerajaan yang tiak ternilai. Lihatlah kedepan, kita akan masuk arean Candi Utama.
Aksa : Baik Rajaku.
Kami telah sampai di area candi utama. Di depan Candi aku melihat sosok yang sedikit aneh. Seperti campuran manusia dan Macan. Lebih tepatnta sosok manusia berkepala macan, mungkin sosok ini adalah penjaga Candi.

Sri Narendra : Haidar. Anak ini bersamaku. Buka Pintu utama.
Haidar : Sembah saya Haturkan Rajaku. Silahkan masuk.
Nama penjaga itu adalah Haidar. Kelak Haidar akan membantuku di kisah selanjutnya.
Setelah masuk Candi Utama aku di kagetkan dengan ornamen di dalamnya yang serba bersinar, sinarnya berasal dari bebetuan yang memancarkan sinar berbeda warna.
Sri Narendra : Aksa kan namamu. Aksa, ruang dalam candi ini kami gunakan untuk berbagai keperluan kerjaan yang berhubungan dengan Sembah Puji kepada Sang Hyang Tunggal, keperluan meditasi dan upacara hari-hari tertentu. Perlu kau ketahui, Kakek buyutmu Pertpa Suci Dharmawangsa yang memeberiku saran membangun tempat ini, agar kami lebih bisa fokus dengan Sang Hyang Tunggal. Candi ini dibangun oleh beberapa ahli di bidannya masing-masing. Pembangunannya sangatlah memperhatikan faktor alam. Batu-batu candi ini direkatkan dengan tekhnik khusus, sisi-sisinya dibuat dengan memperhatikan kesamaan dan ketelitian.
Setelah kuperhatikan lebih detail memang dari segi ukuran sangtlah presisi, lantas orang jaman dulu kok bisa punya ilmu arsitek sedetail ini ya? hmmm, kau berkutat dengan pikiranku sendiri. Kemudian aku baru sadar di dalam Candi utama ini ada 4 ruangan yang di dalamnya ada patung yang berbeda.
Aksa : Raja. Mengapa ada 4 ruangan dengan patung-patung yang berbeda. Maaf apa patung-patung ini perwujudan dari Sang Hyang Tunggal?
Sri Narendra : Aksa, ruangan ini dibangun terpisah dan menghadap ke 4 arah mata angin utama.
Di mulai dari ruangan yang menghadap ke timur sekaligus ruang utama dari candi ini, yaitu ruang Dewa Siwa. Dewa Siwa merupakan Dewa Penghancur sekaligus sebagai dewa yang paling tinggi dan paling ditakuti. Penghancur di sini sebenarnya adalah penghancur kejahatan. Namun karena Siwa menggunakan kekuatan bencana alam untuk menghancurkan kejahatan, manusia yang baik pun ikut menerima akibatnya. Akhirnya semua manusia punya “rasa ketakutan” pada Dewa Siwa dan berharap ia tidak datang ketika banyak kejahatan terjadi. Jadi jangan heran kalau di jamanmu sering menganggap kalau bencana alam itu merupakan hukuman dari Tuhan atau Tuhan sedang marah. Mungkin pemahaman itu berawal dari konsep Dewa Siwa sebagai dewa penghancur ini.
Lalu yang menghadap Ke Selatan, ia adalah Agastya yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa. Jadi sebelum datang sebagai Dewa Penghancur, Siwa pernah datang sebagai seorang mahaguru yang mengajarkan tentang kebenaran (Dharma). Jadi Dewa itu sebenarnya sudah mengajarkan tentang yang benar dan yang salah dan para dewa itu berharap agar setiap manusia dapat melakukan kebenaran. Ketika manusia tidak melakukan kebenaran, maka Dewa Siwa akan datang untuk memberikan hukuman.
Selanjutnya yang menghadap ke Barat, patung manusia berkepala gajah adalah Sang Ganesha Dewa Ilmu Pengetahuan. Tangan kiri Ganesha selalu memegang mangkok yang isinya adalah ilmu pengetahuan. Belalainya selalu masuk ke dalam mangkok tersebut yang artinya ia menyerap ilmu pengetahuan yang ada. Tangan kanannya memegang patahan gading kanannya sendiri yang memang sengaja ia patahkan. Kenapa ia patahkan gadingnya? Karena ketika datang ke dunia, ia menggunakan patahan gadingnya untuk menulis (di batu atau kayu) demi mengajarkan manusia ilmu pengetahuan. Ganesha dijadikan dewa yang sangat penting keberadaannya untuk manusia di dunia. Kami percaya doa-doa yang mereka ucapkan kepada para dewa tidak akan pernah diterima kalau tidak melalui Ganesha. Jadi bisa dikatakan kalau Ganesha-lah yang menjadi pintu masuk menuju para dewa.
Ruangan yang menghadap ke utara adalah ruangan yang berisikan sebuah patung wanita yang sedang memegang raksasa Asyura. Nama wanita itu adalah Durga. Ia memiliki 8 tangan salah satu tangannya memegang Cakra. Sebenarnya Cakra ini kepunyaan Dewa Wisnu. Tapi kenapa Durga juga bisa punya? Sebab Durga itu tercipta dari kekuatan Brahma, Siwa, Wisnu yang menjadi satu dan semua dewa memberikan senjatanya untuk membunuh raksasa Asyura. Raksasa Asyura ini hanya bisa dikalahkan oleh seorang dewi dan dewi itu adalah Durga.
Raksasa Asyura ini adalah lambang dari egoisme manusia. Jadi musuh terbesar dari hidup manusia adalah egonya sendiri. Lalu bagaimana untuk bisa membunuh ego itu? Ya manusia perlu senjata dan salah satu senjata yang Tuhan sematkan adalah Cakra. Semua manusia memiliki 7 cakra dan tinggal bagaimana manusia itu mengoperasikan cakra tersebut.
Salah satu cara untuk mengoperasikan cakra adalah dengan melakukan yoga. Ketika Yoga itu dilakukan, manusia akan mampu membuka cakranya sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk melihat kebenaran sejati. Mata yang mampu melihat kebenaran adalah mata ketiga, dimana Dewi Durga, Dewa Siwa dan juga Dewa Ganesha memilikii mata itu di dahinya.
Apa kau merasa terlalu banyak yang ku ajarkan? sampaikanlah agar ilmu pengetahuan yang kuberikan ini tak jadi sia-sia.
Aksa : Aku menyerapnya dengan baik rajaku. Ini pertama kalinya aku mengetahui arti dari setiap patung yang ada di dalam candi. Untuk perlambangan 4 dewa tersebut apakah Dewa Siwa sebagai perwujudan Sang HYANG TUNGGAL?
Sri Narendra : Jangan terjebak oleh nama. Kalau kau bertanya kepadaku maka ku jawab benar, karena memang di masa ini kami menyembah mereka sabagai perwujudan Sang Hyang Tunggal. Hanya saja patung-patung tersebut berfungsu sebagai simbol saja, doa dan sembah kami berikan lebih dalam dan jauh menembus alam vertikal yang tak pernah di ketahui manusia.
Saat Kami sedang asik berdialog, tiba-tiba muncul kilatan cahaya dari arah pintu utama. Tanpa diduga Haidar sudah berdiri di depan kami dan memasang kuda-kuda seperti siap berperang. Kilatan cahaya tersebut memancar terang dan perlahan mewujud.
LANJUT CHAPTER 20.
PERTEMPURAN HAIDAR DAN LIVIYA - PEREBUTAN TAHTA PANGLIMA PERANG SANG RAJA.
Eyang Narashima lantas menggerakkan sesuatu di tangannya dan meminta Abah berdiri.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Eyang Narashima : Berdirilah cucuku Damar Sasmita. Pada akhirnya sang takdir telah mempertemukanmu denganku. Dimensi ini cukup jauh kau tempuh, sudah pasti kau memiliki tugas khusus bersama anak itu. Siapa namanya, aku melihat jalur silsilah pertapa suci di aura tubuhnya.
Abah : Sembah Puji cucumu ini haturkan kepada Eyang Narashima, rasa rindu yang berkecamuk karena sebelumnya hanya bisa mendengar suara dan sekilas gambaran mengenai Eyang. Akhirnya waktu ini datang, betapa welas asih dan teduh saat ini. Benar sekali eyang, kami masuk ke dimensi masa lalu ini memang karena ada tugas khusus dari Pertapa Suci Dharmawangsa dan anak ini adalah keturunannya yang nantinya akan melanjutkan tugas dalam mewarisi sejarah nusantara. Aksadaru nama anak ini.
Aksa : Salam Eyang Narashima.
Eyang Narashima : Aku sudha menduga dan melihat dari auramu, terlebih kalacakra di dalam tubuhmu itu memang asli dari Pertapa Suci Dharmawangsa. Rajaku, sudilah engkau merestui perjalanan mereka untuk mewarisi sejarah nusantara mulai dari masa ini?
Sri Narendra : Sudah bukan lagi restu, tetapi lebih darinya. Kalian berdua ku anggap sebagai bagian dari keluargaku, karena memang Narashima dan Dharmawangsa sudah menjadi bagian dari kerajaanku. Sepertinya kau ingin lebih lama bersama cucumu, kalau begitu akan ku bawa anak ini berkeliling dahulu.
Eyang Narashima : Baik Rajaku. Aku ingin memberikan nasihat dan pengetahuan khusus untuk cucuku ini.
Abah : Terima kasih Raja Sri Narendra, kiranya anak ini akan lebih intim bersama sang Raja dalam menerima segala pengetahuan. Aksa, manfaatkan waktu bersama Raja Sri Narendra dengan baik.
Aksa : Baik Abah, aku paham.
Kemudian Sang Raja mengajakku berjalan-jalan kembali. Abah bersama Eyang Narashima menunggu di gubuk kecil yang lebih mirip singgasana.
Sembari aku berjalan bersama Raja Sri Narendra, aku melihat orang-orang sangatlah ramah, walaupun yang berjalan bersamaku adalah Raja, mereka tak sungkan untuk bertukar senyum. Begitu juga Raja Sri Narendra, beliau seperti bukan gambaran raja yang gila hormat, beliau masih mengutamakan welas asih dan menganggap rakyatnya sebagai bagian dari keluarga kerajaan.
Aksa : Maaf bila aku lancang bertanya Raja, mengapa rakyat disini sangatlah dekat denganmu, sedangkan gambaranku mengenai seorang Raja adalah kehormatan dan kewibawaan?
Sri Narendra : Pertanyaanmu itu tak perlu kujawab panjang lebar. Yang pasti aku lebih megutamakan rakyatku ketimbang kehormatanku. Mereka adalah aset kerajaan yang tiak ternilai. Lihatlah kedepan, kita akan masuk arean Candi Utama.
Aksa : Baik Rajaku.
Kami telah sampai di area candi utama. Di depan Candi aku melihat sosok yang sedikit aneh. Seperti campuran manusia dan Macan. Lebih tepatnta sosok manusia berkepala macan, mungkin sosok ini adalah penjaga Candi.

Sri Narendra : Haidar. Anak ini bersamaku. Buka Pintu utama.
Haidar : Sembah saya Haturkan Rajaku. Silahkan masuk.
Nama penjaga itu adalah Haidar. Kelak Haidar akan membantuku di kisah selanjutnya.
Setelah masuk Candi Utama aku di kagetkan dengan ornamen di dalamnya yang serba bersinar, sinarnya berasal dari bebetuan yang memancarkan sinar berbeda warna.
Sri Narendra : Aksa kan namamu. Aksa, ruang dalam candi ini kami gunakan untuk berbagai keperluan kerjaan yang berhubungan dengan Sembah Puji kepada Sang Hyang Tunggal, keperluan meditasi dan upacara hari-hari tertentu. Perlu kau ketahui, Kakek buyutmu Pertpa Suci Dharmawangsa yang memeberiku saran membangun tempat ini, agar kami lebih bisa fokus dengan Sang Hyang Tunggal. Candi ini dibangun oleh beberapa ahli di bidannya masing-masing. Pembangunannya sangatlah memperhatikan faktor alam. Batu-batu candi ini direkatkan dengan tekhnik khusus, sisi-sisinya dibuat dengan memperhatikan kesamaan dan ketelitian.
Setelah kuperhatikan lebih detail memang dari segi ukuran sangtlah presisi, lantas orang jaman dulu kok bisa punya ilmu arsitek sedetail ini ya? hmmm, kau berkutat dengan pikiranku sendiri. Kemudian aku baru sadar di dalam Candi utama ini ada 4 ruangan yang di dalamnya ada patung yang berbeda.
Aksa : Raja. Mengapa ada 4 ruangan dengan patung-patung yang berbeda. Maaf apa patung-patung ini perwujudan dari Sang Hyang Tunggal?
Sri Narendra : Aksa, ruangan ini dibangun terpisah dan menghadap ke 4 arah mata angin utama.
Di mulai dari ruangan yang menghadap ke timur sekaligus ruang utama dari candi ini, yaitu ruang Dewa Siwa. Dewa Siwa merupakan Dewa Penghancur sekaligus sebagai dewa yang paling tinggi dan paling ditakuti. Penghancur di sini sebenarnya adalah penghancur kejahatan. Namun karena Siwa menggunakan kekuatan bencana alam untuk menghancurkan kejahatan, manusia yang baik pun ikut menerima akibatnya. Akhirnya semua manusia punya “rasa ketakutan” pada Dewa Siwa dan berharap ia tidak datang ketika banyak kejahatan terjadi. Jadi jangan heran kalau di jamanmu sering menganggap kalau bencana alam itu merupakan hukuman dari Tuhan atau Tuhan sedang marah. Mungkin pemahaman itu berawal dari konsep Dewa Siwa sebagai dewa penghancur ini.
Lalu yang menghadap Ke Selatan, ia adalah Agastya yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa. Jadi sebelum datang sebagai Dewa Penghancur, Siwa pernah datang sebagai seorang mahaguru yang mengajarkan tentang kebenaran (Dharma). Jadi Dewa itu sebenarnya sudah mengajarkan tentang yang benar dan yang salah dan para dewa itu berharap agar setiap manusia dapat melakukan kebenaran. Ketika manusia tidak melakukan kebenaran, maka Dewa Siwa akan datang untuk memberikan hukuman.
Selanjutnya yang menghadap ke Barat, patung manusia berkepala gajah adalah Sang Ganesha Dewa Ilmu Pengetahuan. Tangan kiri Ganesha selalu memegang mangkok yang isinya adalah ilmu pengetahuan. Belalainya selalu masuk ke dalam mangkok tersebut yang artinya ia menyerap ilmu pengetahuan yang ada. Tangan kanannya memegang patahan gading kanannya sendiri yang memang sengaja ia patahkan. Kenapa ia patahkan gadingnya? Karena ketika datang ke dunia, ia menggunakan patahan gadingnya untuk menulis (di batu atau kayu) demi mengajarkan manusia ilmu pengetahuan. Ganesha dijadikan dewa yang sangat penting keberadaannya untuk manusia di dunia. Kami percaya doa-doa yang mereka ucapkan kepada para dewa tidak akan pernah diterima kalau tidak melalui Ganesha. Jadi bisa dikatakan kalau Ganesha-lah yang menjadi pintu masuk menuju para dewa.
Ruangan yang menghadap ke utara adalah ruangan yang berisikan sebuah patung wanita yang sedang memegang raksasa Asyura. Nama wanita itu adalah Durga. Ia memiliki 8 tangan salah satu tangannya memegang Cakra. Sebenarnya Cakra ini kepunyaan Dewa Wisnu. Tapi kenapa Durga juga bisa punya? Sebab Durga itu tercipta dari kekuatan Brahma, Siwa, Wisnu yang menjadi satu dan semua dewa memberikan senjatanya untuk membunuh raksasa Asyura. Raksasa Asyura ini hanya bisa dikalahkan oleh seorang dewi dan dewi itu adalah Durga.
Raksasa Asyura ini adalah lambang dari egoisme manusia. Jadi musuh terbesar dari hidup manusia adalah egonya sendiri. Lalu bagaimana untuk bisa membunuh ego itu? Ya manusia perlu senjata dan salah satu senjata yang Tuhan sematkan adalah Cakra. Semua manusia memiliki 7 cakra dan tinggal bagaimana manusia itu mengoperasikan cakra tersebut.
Salah satu cara untuk mengoperasikan cakra adalah dengan melakukan yoga. Ketika Yoga itu dilakukan, manusia akan mampu membuka cakranya sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk melihat kebenaran sejati. Mata yang mampu melihat kebenaran adalah mata ketiga, dimana Dewi Durga, Dewa Siwa dan juga Dewa Ganesha memilikii mata itu di dahinya.
Apa kau merasa terlalu banyak yang ku ajarkan? sampaikanlah agar ilmu pengetahuan yang kuberikan ini tak jadi sia-sia.
Aksa : Aku menyerapnya dengan baik rajaku. Ini pertama kalinya aku mengetahui arti dari setiap patung yang ada di dalam candi. Untuk perlambangan 4 dewa tersebut apakah Dewa Siwa sebagai perwujudan Sang HYANG TUNGGAL?
Sri Narendra : Jangan terjebak oleh nama. Kalau kau bertanya kepadaku maka ku jawab benar, karena memang di masa ini kami menyembah mereka sabagai perwujudan Sang Hyang Tunggal. Hanya saja patung-patung tersebut berfungsu sebagai simbol saja, doa dan sembah kami berikan lebih dalam dan jauh menembus alam vertikal yang tak pernah di ketahui manusia.
Saat Kami sedang asik berdialog, tiba-tiba muncul kilatan cahaya dari arah pintu utama. Tanpa diduga Haidar sudah berdiri di depan kami dan memasang kuda-kuda seperti siap berperang. Kilatan cahaya tersebut memancar terang dan perlahan mewujud.
LANJUT CHAPTER 20.
PERTEMPURAN HAIDAR DAN LIVIYA - PEREBUTAN TAHTA PANGLIMA PERANG SANG RAJA.
Diubah oleh aksadaru 18-05-2022 00:13
halloha dan 14 lainnya memberi reputasi
15