- Beranda
- Stories from the Heart
JANJI? (MINI SERIES)
...
TS
beavermoon
JANJI? (MINI SERIES)

Pernahkah kalian jatuh cinta? Pernahkah kalian menyembunyikan perasaan kepada orang yang kalian suka? Kenapa kalian menyembunyikan hal itu? Bukankah lebih baik untuk mengutarakannya?
Fika dan Rama akan menemani perjalanan kalian dalam mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersyukurlah jika kalian dapat menemukan jawabannya, namun jika tidak?
Spoiler for Episode:
Diubah oleh beavermoon 16-06-2022 19:03
ndoro_mant0 dan 7 lainnya memberi reputasi
4
3.3K
Kutip
40
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#21
Episode 18
Spoiler for Episode 18:
Mobil pun berhenti, Fika ke luar dari dalam mobil untuk membuka pintu gerbang dan juga pintu garasi. Mobil bergerak mundur lalu parkir di dalam garasi dengan teratur. Rama ke luar dari dalam mobil kemudian berjalan menuju Fika.
“Aku baru tau kalau harus ganti suku cadang sesuai kilometer, aku kira nunggu rusak dulu baru diganti.” Ucap Fika.
“Gimana cara kamu bawa ke bengkel kalau udah rusak? Mau diderek pake mobil?” Tanya Rama.
“Bener juga ya, untung ada kamu.” Ucap Fika.
Rama menutup pintu garasi sementara Fika menutup pintu gerbang. Mereka kembali bertemu di halaman depan lalu duduk bersampingan.
“Kamu mau ikut aku ngga?” Tanya Rama.
“Mau ke mana Ram?” Tanya Fika.
“Orang nanya kok malah nanya balik, di jawab dulu Fik.” Ucap Rama.
“Ih...” Fika memukul lengan Rama pelan, “yaudah aku mau ikut.”
Rama mengusap lengannya, “Sekarang kamu naik ke atas, bawa beberapa baju dan perlengkapan yang kamu bener-bener butuhin, abis itu turun lagi ke sini.”
“Emang kita mau ke mana sih?” Tanya Fika penasaran.
“Kebanyakan nanya kamu, kalau ngga ya aku pergi sendiri aja.” Sahut Rama.
Fika memukul lengan Rama sekali lagi, kemudian ia bangun dari duduk lalu masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setibanya di kamar, Fika membuka lemari miliknya. Rama pun tiba di pintu kamar Fika sambil tersenyum.
“Ram, kita mau ke mana sih? Aku jadi bingung. Misalkan nih, aku bawa baju tebel-tebel taunya kita ke pantai...”
Rama mendekat ke arah Fika.
“...nanti giliran aku bawa baju kayak di rumah, taunya kita malah ke gunung. Jadi aku harus bawa baju yang mana?” Ucap Fika.
Rama mengusap rambut Fika, kemudian ia merebahkan diri di atas tempat tidur menatap ke arah dinding.
“Aku mau ajak kamu berkemah.” Jawabnya.
“Serius Ram?” Tanya Fika tertarik.
Rama mengangguk dengan pasti, Fika pun kembali memilih barang-barang yang akan ia bawa nanti. Mulai dari pakaian hingga beberapa barang lain, akhirnya semuanya masuk ke dalam tas yang dimiliki Fika.
“Selesai...” Rama menatap Fika, “Ngomong-ngomong kita mau kemah di mana Ram?”
Siang menjelang dengan terik matahari yang menyinari, mobil yang dikendarai Rama melaju melewati jalanan yang mulai menanjak. Fika yang duduk di samping bangku kemudi nampak senang dengan pemandangan dari barisan-barisan bukit yang ada di sampingnya.
“Keren banget Ram.” Ucapnya.
Rama menata Fika, “Setelah tanjakan ini baru kamu bisa bilang kayak gitu Fik.”
Jalan yang semula menanjak pun mulai berubah menjadi datar, mata Fika semakin terpaku pada pemandangan yang ada di hadapannya. Bukan hanya sekedar barisan-barisan bukit, melainkan deretan pepohonan beserta bunga-bunga yang bermekaran menjadi sambutan bagi mereka.
“Ram, ayo berhenti dulu.” Pinta Fika.
Rama menghentikan mobilnya di tepi jalan, dengan cepat Fika melepas sabuk pengaman lalu ke luar dari dalam mobil. Ia benar-benar terkesima dengan apa yang ada di hadapannya. Rama pun ikut ke luar dari dalam mobil.
“Ram, ini bagus banget.” Ucap Fika.
Rama hanya bisa tersenyum melihat Fika yang nampak senang. Ia mengeluarkan handphonedari dalam saku celana, kemudian ia mengambil foto Fika yang sedang melihat bunga-bunga yang bermekaran.
“Kamu foto aku?...”
Rama mendekat lalu memberikan handphonenya, Fika melihat hasil foto tersebut.
“...bagus banget Ram, nanti kirim ke aku ya.” Ucap Fika.
Rama mengangguk, “Ayo masuk lagi ke mobil, sebentar lagi kita sampai ke tempat kemah.”
Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan Rama mengendarai mobil tersebut menuju lokasi kemah yang tidak jauh dari tempat mereka menepi. Benar saja, hanya membutuhkan beberapa menit untuk membuat mobil masuk ke sebuah pekarangan luas dengan sebuah Rumah yang besar. Ada seorang lelaki yang sedang menyirami bunga-bunga, Rama pun membuka kaca jendela.
“Siang Pak.” Sapa Rama.
“Siang Mas Rama, langsung aja ya nomor 8.” Ucap lelaki tersebut.
Mobil bergerak menuju parkiran yang tersedia di balik Rumah besar ini. Hanya mobil Rama yang parkir pada hari ini, mereka pun ke luar dari dalam mobil.
“Kok sepi Ram?” Tanya Fika.
Rama membuka bagasi mobil, “Ya menurut kamu ada ngga yang bakalan kemah di hari Rabu yang bukan akhir pekan? Kalau menurut aku sih ngga ada Fik, kecuali orang-orang kayak kita.”
“Iya juga ya, sini aku bantuin.” Ucap Fika.
Rama mengeluarkan barang-barang yang sudah mereka persiapkan dari rumah. Rama memberikan tas milik Fika dan juga alat untuk mereka makan, sementara ia membawa tenda dan perlengkapan lain yang ukurannya lebih besar.
“Kita turun lewat anak tangga kayu di sana.” Ucap Rama.
Mereka berjalan bersampingan melewati lahan parkir berpagar, ada sebuah jalan yang lebih kecil menurun dengan anak tangga kayu yang dibuat agar mereka mudah berjalan. Pepohonan yang rindang berhasil menyejukkan suasana pada siang ini, dengan santai mereka berjalan sambil sesekali melihat sekeliling.
“Kok kamu bisa tau tempat kayak gini Ram?” Tanya Fika.
“Dulu ngga sengaja waktu iseng jalan-jalan sama Lea, akhirnya ini jadi tempat pelarianlah dari rutinitas. Dari dulu aku mau ajak kamu ke sini, cuma baru sempet sekarang.” Jawabnya.
Mereka belok ke kiri di mana ada papan bertuliskan angka 7-9. Jalanan yang sudah dilapisi oleh kayu-kayu membuat mereka mudah untuk berjalan sampai ke nomor yang sudah ditetapkan.
“Ini nomor 8 Ram?...”
Fika dapat melihat dengan jelas ada sebuah air terjun kecil di belakang lokasi mereka akan mendirikan tenda, ia berlari kecil untuk melihat air terjun lebih dekat.
“...wah, keren banget Ram.” Ucapnya.
“Itu alasannya aku selalu mau di nomor 8...” Rama meletakkan barang-barang, “kamu nikmatin aja, aku mau bangun tenda dulu.”
Rama membuka tas berisi tenda yang akan segera ia dirikan, satu per satu alat mulai disatukan hingga tenda tersebut mulai berupa sebuah bentuk. Fika yang melihat Rama pun berjalan mendekat ke arahnya.
“Ajarin aku dong Ram.” Pintanya.
“Kamu pegang pipa yang ada huruf A, terus sambungin ke...”
Fika dengan mudah mengikuti instruksi yang diberikan Rama, secara perlahan ia mulai membantu Rama membangun tenda yang akan menjadi pelindung tidur mereka pada malam nanti.
“...terus tarik deh kainnya, selesai.” Ucap Rama.
Satu tenda besar dengan bentuk kubah behasil berdiri dengan kokoh, Fika bertepuk tangan dengan senangnya setelah ia berhasil membangun tenda untuk pertama kalinya.
“Akhirnya aku bisa juga bikin tenda.” Ucapnya senang.
“Dulu kan pas kita SMP ada kemah pramuka, siapa yang bikin tenda regu kalian ya?” Tanya Rama.
“Ya kamu lah, masa kamu lupa.” Jawab Fika.
Rama bersama anggota pramuka regunya sudah selesai mendirikan tenda mereka, sebuah tenda kokoh yang dapat menampung hingga 8 orang. Mereka mulai masuk ke dalam tenda untuk menyusun barang-barang dan juga tempat untuk mereka tidur.
“Oke, jadi enaknya gimana nih?” Tanya salah satu dari mereka.
“Biar adil, barang-barang di atas kepala masing-masing matras aja. sisanya bisa kita isi sama peralatan masak dan kegiatan-kegiatan nanti.” Jawab Rama.
Mereka pun setuju dengan usul Rama dan mulai menyusun barang-barang masing-masing. Penutup tenda terbuka dari luar, semua orang yang ada di dalam menatap ke arah tersebut.
“Eh kalian...” Fika dan satu temannya masuk, “Ram, boleh minta tolong ngga? Ini dadakan banget.”
Rama pun ke luar dari dalam tenda mengikuti Fika dan temannya dari belakang. Sampailah mereka di tempat regu Fika seharusnya mendirikan tenda, namun apa yang dilihat Rama adalah sebuah kekacauan.
“Tenda kalian belum selesai?” Tanya Rama.
“Nah ini Ram yang dadakan banget, bantuin ya.” Pinta Fika.
Rama memandang malas ke arah Fika, karena ia sudah tiba jadi ia harus membantu mereka mendirikan tenda. Rama mulai menginstruksikan masing-masing dari tiap anggota regu Fika.
“Yang itu disambung sama yang satu lagi, baru abis itu pasang kainnya.” Ucap Rama.
Satu demi satu rangkaian mulai disatukan, bentuk pun sudah nampak.
“Fik, tarik talinya sekuat yang kamu bisa.” Ucap Rama.
FIka menarik tali sekuat tenaga, Rama pun mengaitkan tali tersebut ke paku tenda kemudian menancapkannya ke dalam tanah dengan kuat. Satu tali, dua tali, hingga akhirnya tali terakhir pun selesai dipasang dan tenda dapat berdiri dengan kokoh.
“Udah selesai ya.” Ucap Rama.
“Makasih ya Rama.” Ucap mereka.
Rama pun meninggalkan lokasi tenda mereka, langkahnya terhenti ketika Fika menggenggam tangannya dari belakang hingga membuatnya kembali menatap ke arah belakang.
“Makasih ya Ram, untung ada kamu. Kalau ngga pasti kita udah dimarahin sama pembina gara-gara masang tenda aja ngga bisa.” Ucap Fika.
Rama menyentil dahi Fika pelan, “Makanya waktu aku ajarin tuh diinget, jangan malah males-malesan.”
“Ih Rama...” Fika memukul lengan Rama pelan, “aku kan emang ngga bisa, masa iya harus dipaksa supaya bisa. Kan itu namanya ngga adil.”
Aksi balas membalas antara sentilan di dahi dan pukulan di lengan pun silih berganti dengan argumen-argumen yang masih saja mereka lontarkan.
“Oh iya ya, aku yang bantuin kalian sampai malemnya kamu ngasih aku mi instan sebagai wujud terima kasih.” Ucap Rama.
“Nah itu kamu inget.” Sahut Fika.
“Sekarang kita beresin bagian dalem tenda, abis itu baru kita mau ngapain aja bebas.” Ajak Rama.
Mereka berdua masuk ke dalam tenda lalu mengatur barang-barang bawaan mereka. Rama mulai memasang matras untuk mereka tidur sementara Fika sedang memilih barang mana yang akan ia bawa masuk.
Sore pun datang, Fika ke luar dari dalam tenda setelah membereskan barang-barang bawaanya. Ia melihat Rama yang sedang mengumpukan kayu-kayu kering di depan tenda.
“Buat apa Ram?” Tanya Fika.
“Yang kecil-kecil buat kita masak nanti, terus...”
Rama menunjuk ke kumpulan kayu-kayu besar.
“...yang itu buat api unggun.” Jawabnya.
“Kita bisa ke air terjun sekarang ngga?” Tanya Fika.
“Lima menit lagi adalah waktu yang tepat untuk main ke air terjun. Kenapa? Nanti kamu liat aja sendiri biar ngga penasaran.” Jawabnya.
Sesuai dengan waktu yang disebutkan Rama, mereka pun berjalan ke arah belakang di mana air terjun kecil berada. Mereka pun tiba sambil berdiri di tepian air.
“Itu jawabannya Fik.” Ucap Rama.
FIka melihat ke arah jari Rama menunjuk, ia dibuat terdiam setelah melihat matahari sore dengan pemandangan pepohonan yang sangat indah. Entah sudah berapa lama Fika tak mengedipkan matanya, tepukan pelan di pundak dari Rama berhasil membuatnya berkedip.
“Kamu kenapa Fik?” Tanya Rama.
“Bagus banget Ram.” Jawabnya.
Rama hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Fika. Rama mulai melepas sepatu beserta kaus kaki yang ia kenakan. Ia mengeluarkan handphone dari saku celana dan sempat mengambil foto Fika secara diam-diam.
“Kamu mau ngeliatin itu aja atau mau ikut berenang Fik?” Tanya Rama.
Fika menoleh ke arah Rama lalu berjalan mendekat. Ia pun mengeluarkan barang-barang yang harus ia simpan agar tidak terendam oleh air nanti. Rama masuk ke dalam air terlebih dahulu.
“Dalem ngga Ram?” Tanya Fika.
“Cuma segini aja Fik, aman kok.” Jawabnya.
Fika masuk ke dalam air secara perlahan, ia cukup dikejutkan dengan suhu air yang dingin. Rama menyirami Fika agar ia lebih cepat terbiasa dengan suhu air.
“Rama!” Protes Fika.
“Ayo cepetan, jangan jalan pelan-pelan kayak gitu.” Ucap Rama.
Fika mendekat ke arah Rama, ia pun membalas menyirami Rama dengan air. Mereka pun mulai menikmati suasana hening yang ada di daerah ini. Rama mengajak Fika mendekat ke arah air terjun.
“Bahaya ngga Ram?” Tanya Fika.
Rama mengulurkan tangannya, Fika menyambut dengan genggaman yang cukup kuat. Setelah berjalan pelan, mereka pun berada tepat di bawah aliran air itu turun.
“Kok bisa enak gini ya Ram? Aku kira bakalan sakit atau gimana.” Ucap Fika.
“Ini air terjunnya kecil Fik, jangan sekali-kali kamu coba ini di air terjun yang besar. Yang ada nanti kamu malah kebawa sama airnya.” Jawabnya.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya mereka ke luar dari dalam air. Mereka membawa barang-barang mereka untuk kembali ke tenda. Setibanya di sana, Rama segera menyalakan api unggun untuk mereka berdua.
“Kamu ganti baju duluan Fik, aku mau nyalain ini dulu.” Ucap Rama.
Fika pun membuka penutup tenda untuk mengambil tas miliknya, ia mengambil baju dan juga handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan ke belakang tenda untuk mengganti bajunya.
“Jangan ngintip ya Ram.” Ucap Fika.
“Mana pernah sih aku ngintip perempuan.” Sahut Rama.
“Ya mana aku tau...” Fika membuka bajunya, “siapa tau kamu tiba-tiba iseng mumpung ada kesempatan kayak gini.”
Rama menggelengkan kepalanya. Beberapa saat berlalu, Fika kembali dengan pakaian yang kering. Handuknya masih berada di kepala karena rambut yang masih basah.
“Kamu duduk di sini biar ngga kedinginan.” Ucap Rama.
Fika pun duduk di bangku yang sudah Rama bawa. Tangan Rama masih menggenggam kayu yang sudah ada api, ia mulai menyambar kayu-kayu yang belum terbakar.
“Kamu keren banget Ram bisa semuanya.” Ucap Fika.
“Keren apanya? Kayaknya semua laki-laki harus bisa begini deh.” Jawabnya.
Api sudah menyambar ke semua kayu. Suasana hangat mulai terasa, Rama pun membuka bajunya yang sudah basah. Ia mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya lalu menyalakannya.
“Ngomong-ngomong, malam ini kita makan apa ya Ram?” Tanya Fika.
“Permisi...”
Rama dan Fika menatap ke arah suara berasal, seorang lelaki yang merupakan penjaga tempat ini berjalan mendekat ke arah mereka.
“...Mas Rama, saya ada ikan nih buat kalian. Hitung-hitung karena Mas Rama udah sering banget ke sini tapi saya ngga pernah kasih apa-apa.” Ucapnya.
“Wah Pak, saya yang jadi ngga enak nih.” Ucap Rama.
“Nggapapa Mas, mohon diterima supaya bisa dimakan bersama pacarnya.” Ucapnya.
Rama sempat menatap ke belakang, Fika terlihat tersenyum setelah mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki itu.
“Aku baru tau kalau harus ganti suku cadang sesuai kilometer, aku kira nunggu rusak dulu baru diganti.” Ucap Fika.
“Gimana cara kamu bawa ke bengkel kalau udah rusak? Mau diderek pake mobil?” Tanya Rama.
“Bener juga ya, untung ada kamu.” Ucap Fika.
Rama menutup pintu garasi sementara Fika menutup pintu gerbang. Mereka kembali bertemu di halaman depan lalu duduk bersampingan.
“Kamu mau ikut aku ngga?” Tanya Rama.
“Mau ke mana Ram?” Tanya Fika.
“Orang nanya kok malah nanya balik, di jawab dulu Fik.” Ucap Rama.
“Ih...” Fika memukul lengan Rama pelan, “yaudah aku mau ikut.”
Rama mengusap lengannya, “Sekarang kamu naik ke atas, bawa beberapa baju dan perlengkapan yang kamu bener-bener butuhin, abis itu turun lagi ke sini.”
“Emang kita mau ke mana sih?” Tanya Fika penasaran.
“Kebanyakan nanya kamu, kalau ngga ya aku pergi sendiri aja.” Sahut Rama.
Fika memukul lengan Rama sekali lagi, kemudian ia bangun dari duduk lalu masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setibanya di kamar, Fika membuka lemari miliknya. Rama pun tiba di pintu kamar Fika sambil tersenyum.
“Ram, kita mau ke mana sih? Aku jadi bingung. Misalkan nih, aku bawa baju tebel-tebel taunya kita ke pantai...”
Rama mendekat ke arah Fika.
“...nanti giliran aku bawa baju kayak di rumah, taunya kita malah ke gunung. Jadi aku harus bawa baju yang mana?” Ucap Fika.
Rama mengusap rambut Fika, kemudian ia merebahkan diri di atas tempat tidur menatap ke arah dinding.
“Aku mau ajak kamu berkemah.” Jawabnya.
“Serius Ram?” Tanya Fika tertarik.
Rama mengangguk dengan pasti, Fika pun kembali memilih barang-barang yang akan ia bawa nanti. Mulai dari pakaian hingga beberapa barang lain, akhirnya semuanya masuk ke dalam tas yang dimiliki Fika.
“Selesai...” Rama menatap Fika, “Ngomong-ngomong kita mau kemah di mana Ram?”
Siang menjelang dengan terik matahari yang menyinari, mobil yang dikendarai Rama melaju melewati jalanan yang mulai menanjak. Fika yang duduk di samping bangku kemudi nampak senang dengan pemandangan dari barisan-barisan bukit yang ada di sampingnya.
“Keren banget Ram.” Ucapnya.
Rama menata Fika, “Setelah tanjakan ini baru kamu bisa bilang kayak gitu Fik.”
Jalan yang semula menanjak pun mulai berubah menjadi datar, mata Fika semakin terpaku pada pemandangan yang ada di hadapannya. Bukan hanya sekedar barisan-barisan bukit, melainkan deretan pepohonan beserta bunga-bunga yang bermekaran menjadi sambutan bagi mereka.
“Ram, ayo berhenti dulu.” Pinta Fika.
Rama menghentikan mobilnya di tepi jalan, dengan cepat Fika melepas sabuk pengaman lalu ke luar dari dalam mobil. Ia benar-benar terkesima dengan apa yang ada di hadapannya. Rama pun ikut ke luar dari dalam mobil.
“Ram, ini bagus banget.” Ucap Fika.
Rama hanya bisa tersenyum melihat Fika yang nampak senang. Ia mengeluarkan handphonedari dalam saku celana, kemudian ia mengambil foto Fika yang sedang melihat bunga-bunga yang bermekaran.
“Kamu foto aku?...”
Rama mendekat lalu memberikan handphonenya, Fika melihat hasil foto tersebut.
“...bagus banget Ram, nanti kirim ke aku ya.” Ucap Fika.
Rama mengangguk, “Ayo masuk lagi ke mobil, sebentar lagi kita sampai ke tempat kemah.”
Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan Rama mengendarai mobil tersebut menuju lokasi kemah yang tidak jauh dari tempat mereka menepi. Benar saja, hanya membutuhkan beberapa menit untuk membuat mobil masuk ke sebuah pekarangan luas dengan sebuah Rumah yang besar. Ada seorang lelaki yang sedang menyirami bunga-bunga, Rama pun membuka kaca jendela.
“Siang Pak.” Sapa Rama.
“Siang Mas Rama, langsung aja ya nomor 8.” Ucap lelaki tersebut.
Mobil bergerak menuju parkiran yang tersedia di balik Rumah besar ini. Hanya mobil Rama yang parkir pada hari ini, mereka pun ke luar dari dalam mobil.
“Kok sepi Ram?” Tanya Fika.
Rama membuka bagasi mobil, “Ya menurut kamu ada ngga yang bakalan kemah di hari Rabu yang bukan akhir pekan? Kalau menurut aku sih ngga ada Fik, kecuali orang-orang kayak kita.”
“Iya juga ya, sini aku bantuin.” Ucap Fika.
Rama mengeluarkan barang-barang yang sudah mereka persiapkan dari rumah. Rama memberikan tas milik Fika dan juga alat untuk mereka makan, sementara ia membawa tenda dan perlengkapan lain yang ukurannya lebih besar.
“Kita turun lewat anak tangga kayu di sana.” Ucap Rama.
Mereka berjalan bersampingan melewati lahan parkir berpagar, ada sebuah jalan yang lebih kecil menurun dengan anak tangga kayu yang dibuat agar mereka mudah berjalan. Pepohonan yang rindang berhasil menyejukkan suasana pada siang ini, dengan santai mereka berjalan sambil sesekali melihat sekeliling.
“Kok kamu bisa tau tempat kayak gini Ram?” Tanya Fika.
“Dulu ngga sengaja waktu iseng jalan-jalan sama Lea, akhirnya ini jadi tempat pelarianlah dari rutinitas. Dari dulu aku mau ajak kamu ke sini, cuma baru sempet sekarang.” Jawabnya.
Mereka belok ke kiri di mana ada papan bertuliskan angka 7-9. Jalanan yang sudah dilapisi oleh kayu-kayu membuat mereka mudah untuk berjalan sampai ke nomor yang sudah ditetapkan.
“Ini nomor 8 Ram?...”
Fika dapat melihat dengan jelas ada sebuah air terjun kecil di belakang lokasi mereka akan mendirikan tenda, ia berlari kecil untuk melihat air terjun lebih dekat.
“...wah, keren banget Ram.” Ucapnya.
“Itu alasannya aku selalu mau di nomor 8...” Rama meletakkan barang-barang, “kamu nikmatin aja, aku mau bangun tenda dulu.”
Rama membuka tas berisi tenda yang akan segera ia dirikan, satu per satu alat mulai disatukan hingga tenda tersebut mulai berupa sebuah bentuk. Fika yang melihat Rama pun berjalan mendekat ke arahnya.
“Ajarin aku dong Ram.” Pintanya.
“Kamu pegang pipa yang ada huruf A, terus sambungin ke...”
Fika dengan mudah mengikuti instruksi yang diberikan Rama, secara perlahan ia mulai membantu Rama membangun tenda yang akan menjadi pelindung tidur mereka pada malam nanti.
“...terus tarik deh kainnya, selesai.” Ucap Rama.
Satu tenda besar dengan bentuk kubah behasil berdiri dengan kokoh, Fika bertepuk tangan dengan senangnya setelah ia berhasil membangun tenda untuk pertama kalinya.
“Akhirnya aku bisa juga bikin tenda.” Ucapnya senang.
“Dulu kan pas kita SMP ada kemah pramuka, siapa yang bikin tenda regu kalian ya?” Tanya Rama.
“Ya kamu lah, masa kamu lupa.” Jawab Fika.
Rama bersama anggota pramuka regunya sudah selesai mendirikan tenda mereka, sebuah tenda kokoh yang dapat menampung hingga 8 orang. Mereka mulai masuk ke dalam tenda untuk menyusun barang-barang dan juga tempat untuk mereka tidur.
“Oke, jadi enaknya gimana nih?” Tanya salah satu dari mereka.
“Biar adil, barang-barang di atas kepala masing-masing matras aja. sisanya bisa kita isi sama peralatan masak dan kegiatan-kegiatan nanti.” Jawab Rama.
Mereka pun setuju dengan usul Rama dan mulai menyusun barang-barang masing-masing. Penutup tenda terbuka dari luar, semua orang yang ada di dalam menatap ke arah tersebut.
“Eh kalian...” Fika dan satu temannya masuk, “Ram, boleh minta tolong ngga? Ini dadakan banget.”
Rama pun ke luar dari dalam tenda mengikuti Fika dan temannya dari belakang. Sampailah mereka di tempat regu Fika seharusnya mendirikan tenda, namun apa yang dilihat Rama adalah sebuah kekacauan.
“Tenda kalian belum selesai?” Tanya Rama.
“Nah ini Ram yang dadakan banget, bantuin ya.” Pinta Fika.
Rama memandang malas ke arah Fika, karena ia sudah tiba jadi ia harus membantu mereka mendirikan tenda. Rama mulai menginstruksikan masing-masing dari tiap anggota regu Fika.
“Yang itu disambung sama yang satu lagi, baru abis itu pasang kainnya.” Ucap Rama.
Satu demi satu rangkaian mulai disatukan, bentuk pun sudah nampak.
“Fik, tarik talinya sekuat yang kamu bisa.” Ucap Rama.
FIka menarik tali sekuat tenaga, Rama pun mengaitkan tali tersebut ke paku tenda kemudian menancapkannya ke dalam tanah dengan kuat. Satu tali, dua tali, hingga akhirnya tali terakhir pun selesai dipasang dan tenda dapat berdiri dengan kokoh.
“Udah selesai ya.” Ucap Rama.
“Makasih ya Rama.” Ucap mereka.
Rama pun meninggalkan lokasi tenda mereka, langkahnya terhenti ketika Fika menggenggam tangannya dari belakang hingga membuatnya kembali menatap ke arah belakang.
“Makasih ya Ram, untung ada kamu. Kalau ngga pasti kita udah dimarahin sama pembina gara-gara masang tenda aja ngga bisa.” Ucap Fika.
Rama menyentil dahi Fika pelan, “Makanya waktu aku ajarin tuh diinget, jangan malah males-malesan.”
“Ih Rama...” Fika memukul lengan Rama pelan, “aku kan emang ngga bisa, masa iya harus dipaksa supaya bisa. Kan itu namanya ngga adil.”
Aksi balas membalas antara sentilan di dahi dan pukulan di lengan pun silih berganti dengan argumen-argumen yang masih saja mereka lontarkan.
“Oh iya ya, aku yang bantuin kalian sampai malemnya kamu ngasih aku mi instan sebagai wujud terima kasih.” Ucap Rama.
“Nah itu kamu inget.” Sahut Fika.
“Sekarang kita beresin bagian dalem tenda, abis itu baru kita mau ngapain aja bebas.” Ajak Rama.
Mereka berdua masuk ke dalam tenda lalu mengatur barang-barang bawaan mereka. Rama mulai memasang matras untuk mereka tidur sementara Fika sedang memilih barang mana yang akan ia bawa masuk.
Sore pun datang, Fika ke luar dari dalam tenda setelah membereskan barang-barang bawaanya. Ia melihat Rama yang sedang mengumpukan kayu-kayu kering di depan tenda.
“Buat apa Ram?” Tanya Fika.
“Yang kecil-kecil buat kita masak nanti, terus...”
Rama menunjuk ke kumpulan kayu-kayu besar.
“...yang itu buat api unggun.” Jawabnya.
“Kita bisa ke air terjun sekarang ngga?” Tanya Fika.
“Lima menit lagi adalah waktu yang tepat untuk main ke air terjun. Kenapa? Nanti kamu liat aja sendiri biar ngga penasaran.” Jawabnya.
Sesuai dengan waktu yang disebutkan Rama, mereka pun berjalan ke arah belakang di mana air terjun kecil berada. Mereka pun tiba sambil berdiri di tepian air.
“Itu jawabannya Fik.” Ucap Rama.
FIka melihat ke arah jari Rama menunjuk, ia dibuat terdiam setelah melihat matahari sore dengan pemandangan pepohonan yang sangat indah. Entah sudah berapa lama Fika tak mengedipkan matanya, tepukan pelan di pundak dari Rama berhasil membuatnya berkedip.
“Kamu kenapa Fik?” Tanya Rama.
“Bagus banget Ram.” Jawabnya.
Rama hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Fika. Rama mulai melepas sepatu beserta kaus kaki yang ia kenakan. Ia mengeluarkan handphone dari saku celana dan sempat mengambil foto Fika secara diam-diam.
“Kamu mau ngeliatin itu aja atau mau ikut berenang Fik?” Tanya Rama.
Fika menoleh ke arah Rama lalu berjalan mendekat. Ia pun mengeluarkan barang-barang yang harus ia simpan agar tidak terendam oleh air nanti. Rama masuk ke dalam air terlebih dahulu.
“Dalem ngga Ram?” Tanya Fika.
“Cuma segini aja Fik, aman kok.” Jawabnya.
Fika masuk ke dalam air secara perlahan, ia cukup dikejutkan dengan suhu air yang dingin. Rama menyirami Fika agar ia lebih cepat terbiasa dengan suhu air.
“Rama!” Protes Fika.
“Ayo cepetan, jangan jalan pelan-pelan kayak gitu.” Ucap Rama.
Fika mendekat ke arah Rama, ia pun membalas menyirami Rama dengan air. Mereka pun mulai menikmati suasana hening yang ada di daerah ini. Rama mengajak Fika mendekat ke arah air terjun.
“Bahaya ngga Ram?” Tanya Fika.
Rama mengulurkan tangannya, Fika menyambut dengan genggaman yang cukup kuat. Setelah berjalan pelan, mereka pun berada tepat di bawah aliran air itu turun.
“Kok bisa enak gini ya Ram? Aku kira bakalan sakit atau gimana.” Ucap Fika.
“Ini air terjunnya kecil Fik, jangan sekali-kali kamu coba ini di air terjun yang besar. Yang ada nanti kamu malah kebawa sama airnya.” Jawabnya.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya mereka ke luar dari dalam air. Mereka membawa barang-barang mereka untuk kembali ke tenda. Setibanya di sana, Rama segera menyalakan api unggun untuk mereka berdua.
“Kamu ganti baju duluan Fik, aku mau nyalain ini dulu.” Ucap Rama.
Fika pun membuka penutup tenda untuk mengambil tas miliknya, ia mengambil baju dan juga handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan ke belakang tenda untuk mengganti bajunya.
“Jangan ngintip ya Ram.” Ucap Fika.
“Mana pernah sih aku ngintip perempuan.” Sahut Rama.
“Ya mana aku tau...” Fika membuka bajunya, “siapa tau kamu tiba-tiba iseng mumpung ada kesempatan kayak gini.”
Rama menggelengkan kepalanya. Beberapa saat berlalu, Fika kembali dengan pakaian yang kering. Handuknya masih berada di kepala karena rambut yang masih basah.
“Kamu duduk di sini biar ngga kedinginan.” Ucap Rama.
Fika pun duduk di bangku yang sudah Rama bawa. Tangan Rama masih menggenggam kayu yang sudah ada api, ia mulai menyambar kayu-kayu yang belum terbakar.
“Kamu keren banget Ram bisa semuanya.” Ucap Fika.
“Keren apanya? Kayaknya semua laki-laki harus bisa begini deh.” Jawabnya.
Api sudah menyambar ke semua kayu. Suasana hangat mulai terasa, Rama pun membuka bajunya yang sudah basah. Ia mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya lalu menyalakannya.
“Ngomong-ngomong, malam ini kita makan apa ya Ram?” Tanya Fika.
“Permisi...”
Rama dan Fika menatap ke arah suara berasal, seorang lelaki yang merupakan penjaga tempat ini berjalan mendekat ke arah mereka.
“...Mas Rama, saya ada ikan nih buat kalian. Hitung-hitung karena Mas Rama udah sering banget ke sini tapi saya ngga pernah kasih apa-apa.” Ucapnya.
“Wah Pak, saya yang jadi ngga enak nih.” Ucap Rama.
“Nggapapa Mas, mohon diterima supaya bisa dimakan bersama pacarnya.” Ucapnya.
Rama sempat menatap ke belakang, Fika terlihat tersenyum setelah mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki itu.
ippeh22 memberi reputasi
1
Kutip
Balas