- Beranda
- Stories from the Heart
A Failure [Based on True Story]
...
TS
book12345
A Failure [Based on True Story]
Quote:
Hi semua, 9 Tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk menyelesaikan cerita 34 part ini. Saya juga sadar, sudah tidak ada yang baca cerita ini di SFTH, karena terlalu tua
. Alasan kenapa butuh waktu yang terlalu lama untuk menyelesaikan cerita ini adalah karena cerita yang saya tulis disini, dimulai di hari yang sama setelah ending cerita ini (part 33) - untuk mengobati rasa sakit berlebih yang saya rasakan waktu itu.Namun seiring berjalannya waktu, semakin menyakitkan untuk melanjutkan cerita ini. Itu kenapa saya berhenti menulis di tahun 2013, melanjutkan di 2014 , berhenti lagi. melanjutkan lagi di 2020, berhenti lagi. dan saya selesaikan seluruhnya hari ini di bulan Mei 2022.
Kenapa baru sekarang? Karena saya baru sadar bahwa memori saya tentang Risty mulai hilang secara perlahan.Keluarga saya punya keturunan genetik Alzheimer, dan saya mulai takut untuk kehilangan memori yang berharga ini. Saya bahkan tidak bisa ingat satu pun event yang saya tulis di tahun 2013, padahal saya yakin seluruh cerita ini adalah true story, dan ini terbukti dari foto2 lama yang saya simpan. (bahkan saya merasa tulisan saya di 2013 super cringe dari pelafalan, tata bahasa , hingga alur cerita yang ngalor ngidul
)Saya cuma berharap, suatu saat nanti thread ini bisa menjadi diary yang bisa saya baca ketika memori tentang Risty sudah hilang dari kalbu - Yan.
Introduction
Quote:
Index:
Quote:
Hanya sebuah diary yang saya harap bisa saya baca ketika memori tentang dia sudah hilang dari kalbu
Diubah oleh book12345 14-05-2022 02:53
Arsana277 dan anasabila memberi reputasi
2
17.1K
130
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
book12345
#119
Part 26
Gue kembali ke rumah dengan wajah masih memerah, tanpa menyapa siapapun, gue langsung bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu. Gue melihat di sudut kiri ruangan, bekas-bekas cat minyak dan kuas dengan berbagai ukuran masih berserakan di lantai.
Gue berusaha menenangkan diri dan duduk di bangku yang menghadap langsung ke stand lukisan tersebut. Dengan tatapan kosong gue memandang kuas yang berada diatas stand , masih berbalut cat warna ungu yang gue gunakan untuk lukisan lavender itu.
Sudah 3 Jam sejak Risty membawa lukisan itu pulang
Gue mulai deg-deg an, tidak ada teks dari Risty sama sekali,
"Dia udah buka belom ya?"
"Apa jangan-jangan kado nya terlalu cringe sampe dia nggak bisa berkata-kata?"
"Atau jangan-jangan dia nggak suka sama sekali??"
"Dia bakal mengartikan apa ya soal lukisan ini??"
Overthinking yang jadi kebiasaan gue terus bermunculan, sampai tiba-tiba kantung celana gue bergetar. Gue meraih handphone dari kantung celana tersebut, Tertulis teks dari Risty:
"Thanks Yan! Bagus bangettttt, gue suka. kok lu tau gue suka lavender??"
"Siapa yang nggak tau kalau lu suka lavender?
"
"Ya nggak ada yang tau kecuali lu karena gue nggak pernah ngomong ke siapapun! Thanks a Lot yaa!"
"Sama-sama! glad you like it
"
Perasaan lega mengisi dada gue, sekujur tubuh merasa lemas, tapi gue merasa bibir gue tersenyum dari telinga ke telinga, dan gue terlalu lelah untuk menahan rasa bahagia itu.
Yang cuma berlangsung 2 menit.
Tiba-tiba ketika gue sedang memandangi teks dari Risty, profile picture Risty berubah. Terlihat sekilas, dia dengan seorang lain sedang memegang kue berdua.
Gue belum bisa melihat jelas gambar tersebut karena layar yang kecil, tangan gue gemetar dan hati kecil gue bilang untuk tidak klik dan memperbesar gambar profile picture itu, tapi gue beranikan diri untuk akhirnya menyentuh layar.
*Klik*
Foto Alvin dan Risty - berdua, memegang sebuah kue. Tersenyum, memandang satu sama lain.
Seketika, perasaaan bahagia di dada gue berubah menjadi rasa sakit. Bukan seakan-akan sakit, tapi sungguh merasakan sakit secara fisik di dada. Kuas yang gue gunakan saat itu untuk menuangkan seluruh perasaan gue itu gue genggam erat, TERLALU erat sampai akhirnya patah menjadi 2.
Setetes air mata pun turun. membasahi pipi kanan gue, hingga jatuh ke lantai.
dan gue berpikir pada diri gue sendiri:
"Jadi ini rasanya patah hati."
Gue berusaha menenangkan diri dan duduk di bangku yang menghadap langsung ke stand lukisan tersebut. Dengan tatapan kosong gue memandang kuas yang berada diatas stand , masih berbalut cat warna ungu yang gue gunakan untuk lukisan lavender itu.
Sudah 3 Jam sejak Risty membawa lukisan itu pulang
Gue mulai deg-deg an, tidak ada teks dari Risty sama sekali,
"Dia udah buka belom ya?"
"Apa jangan-jangan kado nya terlalu cringe sampe dia nggak bisa berkata-kata?"
"Atau jangan-jangan dia nggak suka sama sekali??"
"Dia bakal mengartikan apa ya soal lukisan ini??"
Overthinking yang jadi kebiasaan gue terus bermunculan, sampai tiba-tiba kantung celana gue bergetar. Gue meraih handphone dari kantung celana tersebut, Tertulis teks dari Risty:
"Thanks Yan! Bagus bangettttt, gue suka. kok lu tau gue suka lavender??"
"Siapa yang nggak tau kalau lu suka lavender?
" "Ya nggak ada yang tau kecuali lu karena gue nggak pernah ngomong ke siapapun! Thanks a Lot yaa!"
"Sama-sama! glad you like it
"Perasaan lega mengisi dada gue, sekujur tubuh merasa lemas, tapi gue merasa bibir gue tersenyum dari telinga ke telinga, dan gue terlalu lelah untuk menahan rasa bahagia itu.
Yang cuma berlangsung 2 menit.
Tiba-tiba ketika gue sedang memandangi teks dari Risty, profile picture Risty berubah. Terlihat sekilas, dia dengan seorang lain sedang memegang kue berdua.
Gue belum bisa melihat jelas gambar tersebut karena layar yang kecil, tangan gue gemetar dan hati kecil gue bilang untuk tidak klik dan memperbesar gambar profile picture itu, tapi gue beranikan diri untuk akhirnya menyentuh layar.
*Klik*
Foto Alvin dan Risty - berdua, memegang sebuah kue. Tersenyum, memandang satu sama lain.
Seketika, perasaaan bahagia di dada gue berubah menjadi rasa sakit. Bukan seakan-akan sakit, tapi sungguh merasakan sakit secara fisik di dada. Kuas yang gue gunakan saat itu untuk menuangkan seluruh perasaan gue itu gue genggam erat, TERLALU erat sampai akhirnya patah menjadi 2.
Setetes air mata pun turun. membasahi pipi kanan gue, hingga jatuh ke lantai.
dan gue berpikir pada diri gue sendiri:
"Jadi ini rasanya patah hati."
Arsana277 memberi reputasi
1
Tutup