- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
Diubah oleh breaking182 30-12-2022 23:12
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.8K
Kutip
622
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#241
gatra 17
Quote:
“Kau orang yang mencegatku di randu growong?! Sebenarnya apa yang kau inginkan dari ku?! Bahkan, aku sangat yakin kau yang membuat bibi ku menjadi ketakutan!”
Seringai menggurat di balik kedok wajah lelaki itu. Dari mulutnya meledak suara tertawa yang menggetarkan dan menggidikkan serta membuat liang telinga seperti ditusuk-tusuk! Arya Gading menyeringai sambil menutupi telinga dengan kedua tangannya.
“ Hentikan suara itu! Mari kita mengadu nyawa layaknya lelaki sejati!”
Suara tertawa itu berhenti, “Ah, rupanya kau lupa perkataanku tempo hari dan tadi sewaktu di pinggiran hutan itu. Kalau aku mau membunuhmu itu sangat mudah. Walaupun kau peras ilmu dan tenagamu. Kau tidak akan mampu menyentuhku. Bahkan, Mahesa Branjangan pun harus berlajar lagi puluhan tahun untuk dapat menandingiku. Apalagi kau Arya Gading..”
Lelaki itu rangkapkan tangan di muka dada kemudian tertawa bergelak-gelak. Matanya yang menyipit hampir terpejam karena tertawa itu.
“Anak muda, aku datang ke sini untuk mengetahui apakah pesan yang aku titipkan kepadamu sudah kau katakan kepada Mahesa Branjangan? “
Berubahlah air muka Arya Gading. Tiba –tiba pemuda ini merasa dadanya seperti disulut dengan bara api.
“ Apa perlunya pesan itu kisanak. Apakah sudah aku sampaikan atau belum itu menjadi hak ku. Mengapa kisanak tidak mengatakannya sendiri kepada kakang Mahesa Branjangan? Apakah kisanak takut karena kakang Mahesa Branjangan akan mengenali jatidiri kisanak yang sebenarnya? “
“Setan alas! Kau anak muda yang sombong dan tidak tahu diri. Sepertinya malam ini aku memang harus membunuh mu. Agar dilain hari tidak menimbulkan duri di dalam daging “
Sebagai jawaban, Arya Gading melompat langsung menerjang lelaki itu. Meskipun ia tahu tidak akan mampu menandingi ilmu laki-laki berkedok ini. Akan tetapi, amarahnya telah memberikan tambahan tenaga dan keberanian yang lebih. Gerakannya melompat dan menyerang gesit dan enteng.
Namun lelaki berkedok itu menyaksikan gerakan itu dengan sikap sinis dan air muka mengejek.Matanya yang tajam dan pengalamannya yang dalam sekilas saja sudah melihat dan mengetahui bahwa Arya Gading masih seorang anak muda yang jauh dari digdaya.
Arya Gading berkelebat mengirimkan serangan. Meski ilmu silatnya ilmu silat yang tak memiliki tenaga dalam, namun serangan yang dilancarkannya menimbulkan angin deras.
“Kau masih saja belum tahu dalamnya lautan luasnya cakrawala anak muda!” ejek lelaki misterius ini.
“Lihat sikutku ini, Arya Gading!”
Lelaki ini kelihatan menggeserkan kaki kirinya sedikit dan tahu-tahu tubuh Arya Gading terpelanting jatuh terjerembab menimpa semak belukar yang tumbuh di sekitar pekarangan. Begitu terhampar di tanah Arya Gading segera bangun lagi sembari menahan nyeri yang menyengat di dadanya. Di tangan kanannya kini tergenggam sebuah batang kayu sebesar lengan orang dewasa. Batang kayu itu dipungutnya pada saat berdiri tadi.
Arya Gading dengan mempergunakan batang kayu itu menyerbu ke depan . Orang yang diserang rundukkan kepala. Begitu batang kayu berdesing di atasnya, cepat sekali tangan kirinya meluncur ke depan. Arya Gading yang melihat serangannya lewat serta menyaksikan serangan balasan lawan dengan sigap memiringkan tubuh ke kiri.
Serentak dengan itu batang kayu di tangan kanannya dihantamkan menyongsong pukulan lawan! Secara ilmu luar, memang walau bagaimanapun kepalan tak akan menang melawan batang kayus ebesar lenagn orang dewasa itu. Dan adalah sangat berbahaya bagi seorang yang menyerang dengan tinju bila dia meneruskan niatnya menyongsong batang kayu yang keras dengan tinjunya! Namun lelaki berkedok hitam itu sama sekali tidak menarik pulang serangannya!
“Braakkk...!”
Arya Gading terkejut! Batang kayu yang diayunkan dengan sekuat tenaga patah jadi dua. Sementara jemari tangannya yang memegang batang kayu tadi menjadi kesemutan. Tapi sayang, karena itu Arya Gading menjadi lengah. Lelaki yang memakai kedok itu menjejakkan kaki kanannya ke arah ulu hati Arya Gading. Setengah kejapan lagi pasti Arya Gading akan terluka parah. Bibi Arya Gading yang terbangun karena mendengar suara keributan di halaman segera keluar. Perempuan paruh baya itu menjerit untuk kemudian jatuh pingsan sebelum sanggup menyaksikan apa yang bakal dialami oleh keponakannya!
Seringai menggurat di balik kedok wajah lelaki itu. Dari mulutnya meledak suara tertawa yang menggetarkan dan menggidikkan serta membuat liang telinga seperti ditusuk-tusuk! Arya Gading menyeringai sambil menutupi telinga dengan kedua tangannya.
“ Hentikan suara itu! Mari kita mengadu nyawa layaknya lelaki sejati!”
Suara tertawa itu berhenti, “Ah, rupanya kau lupa perkataanku tempo hari dan tadi sewaktu di pinggiran hutan itu. Kalau aku mau membunuhmu itu sangat mudah. Walaupun kau peras ilmu dan tenagamu. Kau tidak akan mampu menyentuhku. Bahkan, Mahesa Branjangan pun harus berlajar lagi puluhan tahun untuk dapat menandingiku. Apalagi kau Arya Gading..”
Lelaki itu rangkapkan tangan di muka dada kemudian tertawa bergelak-gelak. Matanya yang menyipit hampir terpejam karena tertawa itu.
“Anak muda, aku datang ke sini untuk mengetahui apakah pesan yang aku titipkan kepadamu sudah kau katakan kepada Mahesa Branjangan? “
Berubahlah air muka Arya Gading. Tiba –tiba pemuda ini merasa dadanya seperti disulut dengan bara api.
“ Apa perlunya pesan itu kisanak. Apakah sudah aku sampaikan atau belum itu menjadi hak ku. Mengapa kisanak tidak mengatakannya sendiri kepada kakang Mahesa Branjangan? Apakah kisanak takut karena kakang Mahesa Branjangan akan mengenali jatidiri kisanak yang sebenarnya? “
“Setan alas! Kau anak muda yang sombong dan tidak tahu diri. Sepertinya malam ini aku memang harus membunuh mu. Agar dilain hari tidak menimbulkan duri di dalam daging “
Sebagai jawaban, Arya Gading melompat langsung menerjang lelaki itu. Meskipun ia tahu tidak akan mampu menandingi ilmu laki-laki berkedok ini. Akan tetapi, amarahnya telah memberikan tambahan tenaga dan keberanian yang lebih. Gerakannya melompat dan menyerang gesit dan enteng.
Namun lelaki berkedok itu menyaksikan gerakan itu dengan sikap sinis dan air muka mengejek.Matanya yang tajam dan pengalamannya yang dalam sekilas saja sudah melihat dan mengetahui bahwa Arya Gading masih seorang anak muda yang jauh dari digdaya.
Arya Gading berkelebat mengirimkan serangan. Meski ilmu silatnya ilmu silat yang tak memiliki tenaga dalam, namun serangan yang dilancarkannya menimbulkan angin deras.
“Kau masih saja belum tahu dalamnya lautan luasnya cakrawala anak muda!” ejek lelaki misterius ini.
“Lihat sikutku ini, Arya Gading!”
Lelaki ini kelihatan menggeserkan kaki kirinya sedikit dan tahu-tahu tubuh Arya Gading terpelanting jatuh terjerembab menimpa semak belukar yang tumbuh di sekitar pekarangan. Begitu terhampar di tanah Arya Gading segera bangun lagi sembari menahan nyeri yang menyengat di dadanya. Di tangan kanannya kini tergenggam sebuah batang kayu sebesar lengan orang dewasa. Batang kayu itu dipungutnya pada saat berdiri tadi.
Arya Gading dengan mempergunakan batang kayu itu menyerbu ke depan . Orang yang diserang rundukkan kepala. Begitu batang kayu berdesing di atasnya, cepat sekali tangan kirinya meluncur ke depan. Arya Gading yang melihat serangannya lewat serta menyaksikan serangan balasan lawan dengan sigap memiringkan tubuh ke kiri.
Serentak dengan itu batang kayu di tangan kanannya dihantamkan menyongsong pukulan lawan! Secara ilmu luar, memang walau bagaimanapun kepalan tak akan menang melawan batang kayus ebesar lenagn orang dewasa itu. Dan adalah sangat berbahaya bagi seorang yang menyerang dengan tinju bila dia meneruskan niatnya menyongsong batang kayu yang keras dengan tinjunya! Namun lelaki berkedok hitam itu sama sekali tidak menarik pulang serangannya!
“Braakkk...!”
Arya Gading terkejut! Batang kayu yang diayunkan dengan sekuat tenaga patah jadi dua. Sementara jemari tangannya yang memegang batang kayu tadi menjadi kesemutan. Tapi sayang, karena itu Arya Gading menjadi lengah. Lelaki yang memakai kedok itu menjejakkan kaki kanannya ke arah ulu hati Arya Gading. Setengah kejapan lagi pasti Arya Gading akan terluka parah. Bibi Arya Gading yang terbangun karena mendengar suara keributan di halaman segera keluar. Perempuan paruh baya itu menjerit untuk kemudian jatuh pingsan sebelum sanggup menyaksikan apa yang bakal dialami oleh keponakannya!
Quote:
AGAKNYA SUDAH nasib Arya Gading bakal menemui kematiannya pada dini hari itu! Tapi... Di saat ajal sudah di depan mata, disaat maut hendak merenggut maka tiada terduga, disaat itu pula dari kegelapan melesat sebuah benda berwarna putih. Benda ini melesat ke arah kaki kanan lelaki berkedok yang mencari maut di ulu hati Arya Gading.
Tentu saja lelaki berkedok hitam itu menjadi terkejut dan terpaksa menarik pulang serangannya. Benda yang berwarna putih itu lewat dan menancap pada tiang pondokan. Benda yang berwarna putih tadi ternyata sehelai bulu ayam.
“Pembokong licik! Cepat unjukkan diri,” teriak lelaki itu marah sekali. Sepasang matanya yang buas menyapu ke arah datangnya bulu ayam itu.
Di balik kegelapan. Mata lelaki ini yang tajam tidak berhasil menemukan seseorang yang telah melemparkan senjata rahasia berupa sehelai bulu ayam tadi.
Dengan marah lelaki itu mengangkat tangan kanannya ke udara dan berteriak, “Kalau tidak ada yang memperlihatkan diri, aku akan mencarimu sampai ke lubang semut sekalipun!”
Seorang laki-laki berbadan tinggi muncul dari bayangan pepohonan yang rimbun. Dia mengangkat tangannya lalu tersenyum. Lantas lelaki itu berhenti sejarak dua tombak dari lelaki yang memakai kedok hitam di wajahnya.
“ Mahesa Branjangan, rupanya kau! Apakah kau ingin menemani anak itu untuk pergi ke neraka?!” bentak lelaki berkedok hitam itu.
“Aku yang punya rumah disini kisanak. Aku tuan rumah disini. Harusnya kisanak sebagai tamu harus tahu unggah –ungguh tata krama. Bukan malah membuat kericuhan disini. Rupanya kisanak yang tempo hari menyelinap masuk dan mengambil kitab Lawang Pitu “
“Hem... kitab itu hanya sebagian kecil yang seharusnya menjadi hak ku. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Apa itu salah Mahesa Branjangan?! Kalau kau ingin kitab itu kembali, rebutlah dari tangan ku. Apakah kanuraganmu mampu menandingi ku? “
Mahesa Branjangan menyeringai, “ Kalau hanya membuat mu memar dan patah tulang mungkin aku mampu kisanak “
Katanya lagi, “Aku juga tuan rumah disini. Melihat salah satu keluarga ku hendak celaka sungguh tidak enak sekali kalau harus berpangku tangan tanpa bersedia turun tangan!”
“Oh begitu? Bagus!” ujar lelaki berkedok hitam itu pula. “ Mari kita buktikan sanggupkah kau menerima pukulan tangan kananku?!”
Mahesa Branjangan tertawa dingin. “ Kisanak, nyalimu memang besar sekali. Mari kita lanjutkan pertarungan kita tempo hari...”
“Branjangan kau tidak tahu bahwa ada yang lebih tinggi dari gunung Merapi di depan hidung! Terima pukulan Sigar Jagat ini!”
Mahesa Branjangan dengan cepat menyingkir ke samping waktu lelaki misterius itu menghantamkan telapak tangan kanannya ke depan. Arya Gading yang tidak jauh dari tempat itu terkejutnya bukan olah-olah sewaktu melihat bagaimana tanah bekas tempat Mahesa Branjangan tadi menjadi berlubang besar dilanda ilmu pukulan 'Sigar Jagat’ lelaki yang memakai kedok hitam. Tanah dan pasir berterbangan, sedang bumi bergetar!
Kalau saja Mahesa Branjangan tidak cepat menyingkir tak dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan dirinya! Namun disaat itu Arya Gading dan lelaki misterius itu sendiri sama memaklumi bahwa Mahesa Branjangan bukanlah orang sembarangan. Tidak sembarang orang yang sanggup mengelak dari pukulan 'Sigar Jagat,' itu!
Mahesa Branjangan berteriak nyaring dan melompat tiga tombak. Dari atas cepat berkelebat mencari posisi baru dan balas mengirimkan dua pukulan yang tak kalah hebatnya. Dalam sekejapan saja kedua orang itu sudah terlibat dalam pertempuran seru. Lima jurus berlalu cepat!Lelaki berkedok itu penasaran sekali melihat ketangguhan lawan. Didahului dengan bentakan nyaring dia mempercepat permainan jurus -jurusnya. Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini dan dua jurus dia sudah berhasil mendesak lawannya.
“Terima jurus kematianmu, Mahesa Branjangan!” seru lelaki berkedok. Dan kejapan itu pula pukulannya yang menyilang aneh membabat ke pinggang Mahesa Branjangan.
Mahesa Branjangan cepat menyingkir sewaktu melihat serangan ganas itu dan dengan cepat ia menyambar ke muka, ke arah secarik kain yang menutupi wajah lawannya. Lelaki itu terkejut dan tidak menyangka akan serangan itu. Sekarang secarik kain hitam itu telah berpindah tangan di genggaman Mahesa Branjangan.
Lelaki itu tampak khawatir. Gerakan yang cepat lelaki itu melompat dan berkelebat meninggalkan halaman rumah Arya Gading. Mahesa Branjangan yang melihat hal ini. Sontak berkelebat mengejar.
“ Jangan lari kisanak. Jangan jadi seorang pengecut! “
Arya Gading yang tadinya hanya terpaku. Akhirnya, beranjak dan ikut mengejar bayangan orang itu yang semakin menjauh. Dan sesekali tampak melompat –lompat di atas wuwungan atap.
Tentu saja lelaki berkedok hitam itu menjadi terkejut dan terpaksa menarik pulang serangannya. Benda yang berwarna putih itu lewat dan menancap pada tiang pondokan. Benda yang berwarna putih tadi ternyata sehelai bulu ayam.
“Pembokong licik! Cepat unjukkan diri,” teriak lelaki itu marah sekali. Sepasang matanya yang buas menyapu ke arah datangnya bulu ayam itu.
Di balik kegelapan. Mata lelaki ini yang tajam tidak berhasil menemukan seseorang yang telah melemparkan senjata rahasia berupa sehelai bulu ayam tadi.
Dengan marah lelaki itu mengangkat tangan kanannya ke udara dan berteriak, “Kalau tidak ada yang memperlihatkan diri, aku akan mencarimu sampai ke lubang semut sekalipun!”
Seorang laki-laki berbadan tinggi muncul dari bayangan pepohonan yang rimbun. Dia mengangkat tangannya lalu tersenyum. Lantas lelaki itu berhenti sejarak dua tombak dari lelaki yang memakai kedok hitam di wajahnya.
“ Mahesa Branjangan, rupanya kau! Apakah kau ingin menemani anak itu untuk pergi ke neraka?!” bentak lelaki berkedok hitam itu.
“Aku yang punya rumah disini kisanak. Aku tuan rumah disini. Harusnya kisanak sebagai tamu harus tahu unggah –ungguh tata krama. Bukan malah membuat kericuhan disini. Rupanya kisanak yang tempo hari menyelinap masuk dan mengambil kitab Lawang Pitu “
“Hem... kitab itu hanya sebagian kecil yang seharusnya menjadi hak ku. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Apa itu salah Mahesa Branjangan?! Kalau kau ingin kitab itu kembali, rebutlah dari tangan ku. Apakah kanuraganmu mampu menandingi ku? “
Mahesa Branjangan menyeringai, “ Kalau hanya membuat mu memar dan patah tulang mungkin aku mampu kisanak “
Katanya lagi, “Aku juga tuan rumah disini. Melihat salah satu keluarga ku hendak celaka sungguh tidak enak sekali kalau harus berpangku tangan tanpa bersedia turun tangan!”
“Oh begitu? Bagus!” ujar lelaki berkedok hitam itu pula. “ Mari kita buktikan sanggupkah kau menerima pukulan tangan kananku?!”
Mahesa Branjangan tertawa dingin. “ Kisanak, nyalimu memang besar sekali. Mari kita lanjutkan pertarungan kita tempo hari...”
“Branjangan kau tidak tahu bahwa ada yang lebih tinggi dari gunung Merapi di depan hidung! Terima pukulan Sigar Jagat ini!”
Mahesa Branjangan dengan cepat menyingkir ke samping waktu lelaki misterius itu menghantamkan telapak tangan kanannya ke depan. Arya Gading yang tidak jauh dari tempat itu terkejutnya bukan olah-olah sewaktu melihat bagaimana tanah bekas tempat Mahesa Branjangan tadi menjadi berlubang besar dilanda ilmu pukulan 'Sigar Jagat’ lelaki yang memakai kedok hitam. Tanah dan pasir berterbangan, sedang bumi bergetar!
Kalau saja Mahesa Branjangan tidak cepat menyingkir tak dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan dirinya! Namun disaat itu Arya Gading dan lelaki misterius itu sendiri sama memaklumi bahwa Mahesa Branjangan bukanlah orang sembarangan. Tidak sembarang orang yang sanggup mengelak dari pukulan 'Sigar Jagat,' itu!
Mahesa Branjangan berteriak nyaring dan melompat tiga tombak. Dari atas cepat berkelebat mencari posisi baru dan balas mengirimkan dua pukulan yang tak kalah hebatnya. Dalam sekejapan saja kedua orang itu sudah terlibat dalam pertempuran seru. Lima jurus berlalu cepat!Lelaki berkedok itu penasaran sekali melihat ketangguhan lawan. Didahului dengan bentakan nyaring dia mempercepat permainan jurus -jurusnya. Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini dan dua jurus dia sudah berhasil mendesak lawannya.
“Terima jurus kematianmu, Mahesa Branjangan!” seru lelaki berkedok. Dan kejapan itu pula pukulannya yang menyilang aneh membabat ke pinggang Mahesa Branjangan.
Mahesa Branjangan cepat menyingkir sewaktu melihat serangan ganas itu dan dengan cepat ia menyambar ke muka, ke arah secarik kain yang menutupi wajah lawannya. Lelaki itu terkejut dan tidak menyangka akan serangan itu. Sekarang secarik kain hitam itu telah berpindah tangan di genggaman Mahesa Branjangan.
Lelaki itu tampak khawatir. Gerakan yang cepat lelaki itu melompat dan berkelebat meninggalkan halaman rumah Arya Gading. Mahesa Branjangan yang melihat hal ini. Sontak berkelebat mengejar.
“ Jangan lari kisanak. Jangan jadi seorang pengecut! “
Arya Gading yang tadinya hanya terpaku. Akhirnya, beranjak dan ikut mengejar bayangan orang itu yang semakin menjauh. Dan sesekali tampak melompat –lompat di atas wuwungan atap.
Quote:
“Kakang Damar Tahun. Apakah kakang merasa tadi ada getaran seperti lindu? Apakah gunung Merapi akan meletus?! “, kata seorang cantrik di sela-sela nafasnya yang mengalir cepat karena ketegangan yang mencengkeram jantungnya.
Damar Tahun yang memang merasa ada getaran sebentar tadi tampak mengerutkan kening. Apa iya gunung Merapi akan meletus. Tapi getaran itu terlalu kecil untuk tanda –tanda Merapi akan meletus.
“ Sepertinya bukan Wuranta, itu terlalu kecil untuk tanda-tanda gunung meletus “
“ Lalu apa itu kakang?”, Tanya Wuranta dengan muka pucat.
“ Entahlah, mari kita coba cari tahu. Apa yang sebenarnya terjadi “
Pada saat itulah tiga orang cantrik tampak berlarian mendekati Damar Tahun dan Wuranta yang masih duduk di tepian pendopo.
“Kakang Damar…,” kata salah seorang cantrik dengan nafas terangah -engah, “Suruhlah cantrik -cantrik membunyikan tanda bahaya,kentongan titir “
“ Atur nafas mu dahulu Dampit, apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan dengan gamblang “
Lantas cantrik yang bernama Dampit itu dengan cepat menceritakan apa yang dilihatnya di halaman pondokan Arya Gading. Bahwa, sedang berlangsung pertempuran hebat antara Mahesa Branjangan dan seseorang yang memakai kain penutup wajah.
“ Orang yang berkedok itu hebat sekali. Pukulan jarak jauhnya membuat bumi bergetar”
“ Jadi, getaran tadi karena pertempuran kakang Mahesa Branjangan “
Tidak membuang waktu lagi Damar Tahun segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda bahaya. Dan sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh padepokan Pandan Arum, bunyi titir yang bersahut-sahutan. Orang-orang yang duduk di pendapa wajahnya menjadi bertambah tegang dan beberapa baru saja terlelap itu. Serta merta bangun sambil menggenggam senjata yang sengaja mereka letakkan di sampingnya.
Damar Tahun yang memang merasa ada getaran sebentar tadi tampak mengerutkan kening. Apa iya gunung Merapi akan meletus. Tapi getaran itu terlalu kecil untuk tanda –tanda Merapi akan meletus.
“ Sepertinya bukan Wuranta, itu terlalu kecil untuk tanda-tanda gunung meletus “
“ Lalu apa itu kakang?”, Tanya Wuranta dengan muka pucat.
“ Entahlah, mari kita coba cari tahu. Apa yang sebenarnya terjadi “
Pada saat itulah tiga orang cantrik tampak berlarian mendekati Damar Tahun dan Wuranta yang masih duduk di tepian pendopo.
“Kakang Damar…,” kata salah seorang cantrik dengan nafas terangah -engah, “Suruhlah cantrik -cantrik membunyikan tanda bahaya,kentongan titir “
“ Atur nafas mu dahulu Dampit, apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan dengan gamblang “
Lantas cantrik yang bernama Dampit itu dengan cepat menceritakan apa yang dilihatnya di halaman pondokan Arya Gading. Bahwa, sedang berlangsung pertempuran hebat antara Mahesa Branjangan dan seseorang yang memakai kain penutup wajah.
“ Orang yang berkedok itu hebat sekali. Pukulan jarak jauhnya membuat bumi bergetar”
“ Jadi, getaran tadi karena pertempuran kakang Mahesa Branjangan “
Tidak membuang waktu lagi Damar Tahun segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda bahaya. Dan sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh padepokan Pandan Arum, bunyi titir yang bersahut-sahutan. Orang-orang yang duduk di pendapa wajahnya menjadi bertambah tegang dan beberapa baru saja terlelap itu. Serta merta bangun sambil menggenggam senjata yang sengaja mereka letakkan di sampingnya.
Diubah oleh breaking182 10-05-2022 01:45
MFriza85 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas