- Beranda
- Stories from the Heart
Mencintai Duda Kampungan (18+)
...
TS
adnanami
Mencintai Duda Kampungan (18+)
Mencintai Duda Kampungan
Dulu aku selalu berpikir bahwa pria berstatus duda bukanlah seseorang yang pantas untuk dijadikan pendamping. Namun sayang, kenyataan hidup membawaku pada kisah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Tuhan mempertemukan aku dengan Reza Yoga, teman lamaku yang sudah empat tahun terakhir menghilang entah kemana. Kita bertemu di kereta tujuan Bandung - Jakarta di gerbong nomor 4.
Pagi itu, aku duduk di bangku 4 A dengan memakai setelan jas warna abu - abu aku duduk seorang diri. Di stasiun selanjutnya, kereta ini berhenti. Naiklah seorang pria muda bermasker dan duduk tepat di depan seatyang kutempati.
Pria ini memakai sepatu panthofel hitam, senada dengan celananya dan juga jas outer warna cokelat muda. Kutatap wajahnya yang hanya terlihat area mata yang ditutupi kacamata bening. Aku seperti tidak asing dengan bentuk matanya yang sipit itu.
Aku mengabaikannya, "sepertinya hanya mirip, " pikirku.
Tak disangka telepon genggam pria itu berdering. Dia mengangkatnya dan berbicara dengan seseorang yang sepertinya adalah bosnya. Kudengar suara itu. Sepertinya aku mengenalinya.
Aku menampik batinku yang seolah - olah mengenal pria di depanku. Tiba - tiba perutku berbunyi.
Kruuuuk....
Ah, aku lapar. Memang, tadi belum sempat sarapan karena harus mengejar jadwal keberangkatan kereta ini pada pukul 6 pagi. Untungnya aku membawa roti di dalam tas jinjingku yang berwarna cokelat ini.
Kukeluarkan roti demi mengganjal perutku yang sudah keroncongan. Kusobek bungkusnya dan kubuka maskerku. Belum sempat aku melahapnya, pria di depanku sudah memanggil namaku dengan benar.
"Nindy?" tanya pria bermasker itu.
Aku ternganga, tak jadi menggigit roti itu. Melihat ke arah pria di depanku dan bertanya, "Siapa ya?".
Pria ini membuka maskernya. Di balik masker itu tersungging senyum lebar yang tulus. "Aku Reza, masih ingat kan?" tanyanya padaku.
Aku tak percaya, ternyata dia teman lamaku semasa sekolah. Wajahnya kini telah berubah banyak. Pipinya yang dulu mulus kini telah ditumbuhi jambang, kumis dan brewok yang cukup tebal.
"Hai? Ya ampun, aku nggak tau lho kalau ini tadi kamu. Aku masih inget lah! Dulu kan kita pernah duduk satu bangku," ucapku sambil kemudian menggigit roti yang sudah dari tadi aku ingin lahap.
Reza banyak bercerita dan bernostalgia soal masa lalu kita saat masih duduk sebangku. Lalu tibalah pada satu percakapan mengenai statusku.
"Kamu sudah nikah?" tanya dia penasaran.
"Belum, kamu?" kataku balik bertanya.
"Aku baru saja menikah bulan Maret tahun lalu... tapi sekarang sudah duda," kata Reza.
"Whattt duda?" kataku dalam hati.
Obrolan kita lalu terhenti ketika Reza akan turun di stasiun selanjutnya, kita sudah saling bertukar nomor Whatsapp. Sejak hari itu, kita kian dekat dan aku tak bisa mengontrol hatiku.
Hati yang konon kata pria yang telah mendekatiku sangat kolot dan susah untuk dimasuki... Hati yang sudah diukir oleh luka karena ulah para lelaki. Tapi kini, aku tak kuasa mengendalikan jalannya hati ini.
Mulanya biasa saja tapi intensitas komunikasi yang sering diiringi dengan lelucon recehnya yang sangat menghibur, membuatku tak berhenti memikirkan dia, Reza Yoga.
Bersambung...
Bab 2: Permintaan Random pada Tuhan
Bab 3: Bahas Nikah dengan Duda
Bab 4: Flash Back
Bab 5: Istikharah Cinta
Bab 6: Kepastian yang Ditunggu
Bab 7: Ajakan Tidur Sekamar
Bab 8: Rayuan Maut Buaya Darat
Bab 9: Test Drive
Bab 10: Pendapat Ibu
Bab 11: Alergi Masuk Mall
Bab 12: Backstreet
Bab 13: Mencari Alamat dan Kebenaran
Bab 14: Balas Budi Orang yang Didoakan
Bab 15: Tes Kejujuran
Bab 16: Restu Ibu
Bab 17: Antara Aku, Adit dan Reza
Bab 18: Teman Adit yang Kepo
Bab 19: Pacar Adit
Bab 20: Double Date
Bab 21: Klarifikasi Nindy
Bab 22: Rahasia Sovia Terbongkar
Bab 23: Perasaan Adit
Bab 24: Kisah Nindy dan Reza yang Ingin Diketahui Bobby
Bab 25: Video Bobby Viral di Mess TNI
Bab 26: Ucapan Selamat dari Adit
Bab 27: Kemesraan di kolam renang
Bab 28: Titip Rindu buat Ayah
Bab 29: Ciuman Perpisahan
Bab 30: Siapa Temennya Adit?
Bab 31: Bahas Mantan dengan Gebetan, Ketahuan Pacar
Bab 32: Pacar Ngambek... Eh Malah Ketemu Mantan
Bab 33: Sisa Rasa untuk Mantan
Bab 34: Ketika Mantan, Kekasih dan Gebetan Tinggal di Satu Atap yang Sama
Bab 35: Kencan dengan Bobby Naik Motor Mantan Pacar
Bab 36: Cinta Segitiga di Bandara
Bab 37: Ketahuan Pelukan
Bab 38: Meluluhkan Hati Mama Demi Restu
Bab 39: Tawaran Perjodohan
Bab 40: Kecelakaan Tak Terduga
Bab 41: Malaikat Penolong
Bab 42: Kedok Sang Mantan
Bab 43: Kebohongan Reza yang Tercium Oleh Budenya
Bab 44: Peringatan Calon Mertua
Bab 45: Nama Gadis yang Sama di Dalam Hati Dua Pria
Bab 46: Ditolak Calon Mertua, Diterima Ortu Gebetan
Bab 47: Mempertaruhkan Nasib di Bandung
Bab 48: Patah Hati Terhebat
Bab 49: Pulang dengan Air Mata
Bab 50: Hubungan Kandas
Bab 51: Pria Berseragam TNI di Depan Rumahku
Bab 52: Pak Darmo Pengen Punya Menantu
Bab 53: Reza Disidang Bapaknya
Bab 54: Respon Adit
Bab 55: Pak Darmo Cari Istri Apa Calon Mantu?
Bab 56 : Rahasia Duda Kampungan
Bab 57 : Jodoh untuk Adit
Bab 58 : Yang Lama Terpendam Akhirnya Diungkapkan
Bab 59: Gara - Gara Bubur Ketan Hitam
Bab 60 : SIKAT!!!
Bab 61: Sandiwara Adit
Bab 62 : Peningset Nindy
Bab 63 : Malam Mingguan dengan Duda Kampungan
Bab 64 : Godaan Menjelang Pertunangan
Bab 65: Diculik Duda Kampungan
Bab 66: Nindy Dibawa Kemana?
Bab 67 : Diajak Sewa Kamar Lagi
Bab 68 : Adit dan Firasat Cintanya
Bab 69 : Musuh dalam Selimut
Bab 70 : Tukar Jodoh si Adik Kakak
Bab 71 : Teka - Teki Dekorasi Lamaran
Bab 72 : Obrolan Renatta dan Anang
Bab 73 : Pacar Baru Duda Kampungan
Bab 74 : Jodoh untuk Masing - Masing Kita
Bab 75 : Who is Mr.S?
Bab 76 : Menyusul Calon Suami dan Diawasi Seseorang
Bab 77 : Mencuri Start Sebelum Malam Pertama?
Bab 78 : Ada Hati yang Teriris di Balik Wajah Kawan yang Meringis
Bab 79 : Teka - Teki Cinta
Bab 80 : Keraguan yang Datang tanpa Permisi
Bab 81 : Kehidupan Pria yang Mengintai Nindy
Bab 82 : Antara Sop Buah, Jodoh Seiman dan Adik Tirinya
Bab 83: Alhamdulillah SAH
Bab 84 : Teriakan di Malam Pertama
Bab 85 : Nikmatnya Malam Kedua
Bab 86 : Nasib 2 Wanita yang Menjalani Hubungan dengan Duda Kampungan
Bab 87 : Pamit ke Mantan dan Kenangannya
Bab 88 : Sisa Rasa di dalam Hati Mantan Pacar
Bab 89 : Terpikat Tutur Si Duda Kampungan
Bab 90 : Tidak Ada Fuckboy yang Bisa Dipercaya
Bab 91 : Kehamilan Halal dan Haram
Bab 92: April Ketahuan Hamil, Adrian Tak Tinggal Diam
Bab 93: Gara - Gara Tespack Garis Dua
Bab 94: Karma untuk Duda Kampungan
Bab 95 : Pembalasan Dendam April
Bab 96 : Tangisan Hati sang Duda Kampungan
Bab 97 : Neraka untuk Reza
Bab 98 : Vonis Hakim yang Dinantikan April
Bab 99: Sang Duda Insecure
Bab terakhir : Sang Dewa (TAMAT)
Follow instagram TS @_adnanami untuk mendapatkan update terbaru thread SFTH ini
Diubah oleh adnanami 13-09-2022 10:42
pintokowindardi dan 70 lainnya memberi reputasi
67
79K
1.7K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adnanami
#138
Pacar Ngambek... Eh Malah Ketemu Mantan
Dicobanya sekali lagi dia menelponku, tapi aku masih berada di panggilan lain. Bobby menunggu Adit di kamar, dia mau membuktikan apakah benar jika barusan dia menelpon kekasihnya.
Adit selesai menelponku, dia kembali ke kamarnya, di sana hanya ada Bobby karena Anang sedang jaga malam.
"Bro... gue boleh pinjam HP lo nggak? Punya gue habis nih kuotanya ternyata, bentar doang buat chat orang rumah," pinta Bobby sambil beralasan.
"Boleh... ini," kata Adit tanpa pikir panjang.
Setelah kunci layar dibuka oleh Adit, Bobby mengambil alih ponsel itu. Dia segera melihat riwayat panggilan telepon terakhir. Ternyata benar dugaan Bobby, ada nama "Nindy" di bagian paling atas riwayat panggilan.
Hati Bobby tiba - tiba diselimuti kecemburuan. Dia kemudian menelponku menggunakan ponsel milik Adit namun dia keluar dari kamar terlebih dahulu.
"Bro, gue pake telepon di luar bentar boleh ya?" izin Bobby ke Adit.
"Iya silahkan!" kata Adit mengizinkan.
Saat Bobby sudah jauh dari tempat Adit bersantai, dia langsung menghubungiku:
"Halo, ada apa lagi, Dit?" kataku langsung menyapa Adit.
"Kamu habis teleponan sama Adit?" tanya Bobby sinis.
"Lhoh... sayang? Kok kamu pake handphone-nya Adit?" tanyaku kaget.
"Maksud kamu apa diem - diem telponan sama dia? Aku telepon kamu nggak diangkat," kata Bobby marah.
"Sayang... kita cuma bahas titipan yang dia kasih ke Ayahnya kok, kamu kapan telepon aku?" tanyaku sambil memberikan penjelasan.
"Aku telepon kamu pas kamu teleponan sama dia. Kamu sering kayak gini di belakang aku?" tanya Bobby mengintimidasi.
"Kamu nuduh aku main serong sama Adit? Aku sama dia jarang teleponan kalau bukan soal urusan penting," penjelasanku pada Bobby.
Bobby langsung menutup panggilan. Dia marah dan sepertinya tidak percaya dengan penjelasan yang aku sampaikan. Sebegitu tidak percayanya dia terhadapku.
Bobby menelusuri chat ku di HP Adit, dia membaca semua percakapanku tadi pagi soal Reza. Dia semakin marah padaku karena aku dinilai tidak jujur. Aku tak hanya membahas soal titipan oleh - oleh Adit, melainkan juga membahas mantan.
Hati Bobby panas, dia segera mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Dia berjalan ke kamar, dengan wajah tegang, Bobby menyodorkan HP itu ke Adit sambil mengucapkan terimakasih.
"Ini bro, makasih," ucap Bobby dingin.
Melihat wajah temannya yang mendadak berubah jadi kaku, Adit bertanya pada Bobby, "Lagi ada masalah, Bro? Kok tiba - tiba raut mukanya kayak gitu?".
"Enggak, bro. Aman!," ucap Bobby menutupi kecemburuannya.
Aku kemudian menelpon ke nomor Bobby, aku ingin menjelaskan kesalahpahaman ini. Aku tak memiliki hubungan spesial dengan Adit, meskipun hatiku mungkin tergoda oleh pesonanya. Tapi, saat aku sudah memiliki kekasih, aku akan mencoba untuk setia dan bertahan pada satu pria.
Kucoba menghubungi Bobby, sayangnya teleponku tidak digubris. Dia mengabaikan panggilan teleponku. Aku mencoba memberikan waktu pada pacarku untuk menenangkan diri agar bisa berpikir jernih.
Ada perasaan lelah menjalani hubungan percintaan. Kenapa banyak sekali drama percintaan di dalam hidupku? Memacari pria yang mengaku duda namun masih suami orang, naksir adiknya mantan pacar hingga menjadi kekasih temannya orang yang aku taksir.
Ada rasa tidak puas dengan realita yang aku jalani. Kenapa bukan Adit yang memperlakukanku dan menyatakan cintanya padaku? Kenapa harus Bobby? Hingga detik ini aku masih tak mengerti apa maksud Tuhan menitipkan semua cerita ini kepadaku.
Di setiap malam, aku berdoa memohon petunjuk agar dimudahkan menemukan jodoh sejatiku. Aku tidak mau salah orang. Aku tidak ingin menikah berulang kali dan merasakan perceraian. Aku mau satu pria saja yang menemaniku untuk seumur hidup.
"Ya Allah, jauhkanlah aku dari pria - pria yang bukan jodohku. Dekatkanlah aku dengan jodoh sejatiku, yang mampu menemaniku hingga akhir hayat nanti, yang terbaik untukku... Hamba tidak meminta aneh - aneh dan banyak kriteria. Hamba pasrahkan kepadamu yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi makhluk-Mu," ucapku sambil menengadahkan tangan di setiap malam.
Aku selalu percaya bahwa Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Kadang apa yang kita pikir baik dan membuat kita senang adalah yang terbaik, namun ternyata mengandung keburukan untuk masa depan. Aku tidak ingin menuruti hawa nafsuku sendiri, karena aku punya keterbatasan ilmu dan pengetahuan tentang masa depan.
Hanya bisa berdoa dan berpegang teguh pada Tuhan agar tak salah jalan. Jika memang Bobby bukan jodohku, pasti Tuhan akan gantikan dengan yang lebih baik. Entah siapa...
***
Pagi hari, Renatta menelponku membahas liputan dadakan yang harus dikerjakan hari itu. Lokasinya ada di Dinas Pariwisata kota Semarang.
"Astaga... itu kan kantornya Reza! Duh semoga nggak ketemu dia deh," harapanku yang kuceritakan pada Renatta.
"Hahaha gue jadi penasaran yang mana sih yang namanya Reza, gue yakin ntar pasti ketemu!" kata Renatta malah meledekku.
"Ah... nggak soulmate lo ama gue! Malah berharap ketemu dia, dih...," kataku sebal.
"Udah cepetan siap - siap, gue tunggu di depan lokasinya!" suruh Renatta.
Aku menutup telepon dan segera mengambil handuk yang kutaruh di jemuran. Kuguyur tubuhku dengan air dingin dari gayung. Kubersihkan seluruh kotoran dari permukaan kulitku. Hari ini aku harus dandan lebih cantik daripada biasanya, agar Reza sadar jika dia sudah salah mempermainkan dan membuang perempuan cantik, hebat dan berkualitas seperti aku.
Kupoles wajahku dengan polesan makeup natural, tak ketinggalan kupakai softlense untuk membuat mataku semakin indah. Tak lupa kusemprotkan parfum ke seluruh tubuhku.
Aku sudah siap! Aku pun melaju dari rumah ke arah kantor Reza. Sesampainya di lokasi, aku bertemu Renatta yang sedang sibuk mengunyah makanan sambil berdiri di samping motornya.
"Ngemil mulu!" kataku saat melihat Renatta.
"Eh tunggu ... tunggu... kayak ada yang beda deh sama penampilan lo hari ini. Kok lo keliatan beda sih? Kayak lebih seger dan cantik gitu lho," puji Renatta sambil merasa keheranan.
"Dari dulu kan gue emang cantik, lo aja yang nggak pernah nyadar," kataku.
Kita memarkir kendaraan kami di depan kantor Reza. Semua peralatan wawancara pun telah disiapkan, tinggal masuk saja dan mencari seseorang yang akan kami mintai informasi.
Saat kakiku melangkah ke dalam kantor ini, kulihat dari kejauhan ada Reza Yoga sedang berbincang dengan temannya. Teman yang kemarin sempat bertemu denganku di pujasera.
Aku menarik Renatta untuk belok dan pergi ke ruangan lain agar tak terlihat oleh Reza.
"Aduh... apaan sih Ndy? kok narik - narik gue?" tanya Renatta heran.
"Duduk bentar lah di sini, lagian ini masih pagi, itu orang belum dateng juga. Motor di parkiran aja masih dikit," kataku membujuk Renatta.
Tak kusangka, Reza Yoga dan temannya berjalan ke arah ruangan tempat kami berdua duduk menunggu. Aku benar - benar kaget saat sorot mata Reza Yoga melihat ke arahku. Ekspresinya terkejut, begitupun denganku.
Dia kemudian...
Bersambung ke Bab 33
Adit selesai menelponku, dia kembali ke kamarnya, di sana hanya ada Bobby karena Anang sedang jaga malam.
"Bro... gue boleh pinjam HP lo nggak? Punya gue habis nih kuotanya ternyata, bentar doang buat chat orang rumah," pinta Bobby sambil beralasan.
"Boleh... ini," kata Adit tanpa pikir panjang.
Setelah kunci layar dibuka oleh Adit, Bobby mengambil alih ponsel itu. Dia segera melihat riwayat panggilan telepon terakhir. Ternyata benar dugaan Bobby, ada nama "Nindy" di bagian paling atas riwayat panggilan.
Hati Bobby tiba - tiba diselimuti kecemburuan. Dia kemudian menelponku menggunakan ponsel milik Adit namun dia keluar dari kamar terlebih dahulu.
"Bro, gue pake telepon di luar bentar boleh ya?" izin Bobby ke Adit.
"Iya silahkan!" kata Adit mengizinkan.
Saat Bobby sudah jauh dari tempat Adit bersantai, dia langsung menghubungiku:
"Halo, ada apa lagi, Dit?" kataku langsung menyapa Adit.
"Kamu habis teleponan sama Adit?" tanya Bobby sinis.
"Lhoh... sayang? Kok kamu pake handphone-nya Adit?" tanyaku kaget.
"Maksud kamu apa diem - diem telponan sama dia? Aku telepon kamu nggak diangkat," kata Bobby marah.
"Sayang... kita cuma bahas titipan yang dia kasih ke Ayahnya kok, kamu kapan telepon aku?" tanyaku sambil memberikan penjelasan.
"Aku telepon kamu pas kamu teleponan sama dia. Kamu sering kayak gini di belakang aku?" tanya Bobby mengintimidasi.
"Kamu nuduh aku main serong sama Adit? Aku sama dia jarang teleponan kalau bukan soal urusan penting," penjelasanku pada Bobby.
Bobby langsung menutup panggilan. Dia marah dan sepertinya tidak percaya dengan penjelasan yang aku sampaikan. Sebegitu tidak percayanya dia terhadapku.
Bobby menelusuri chat ku di HP Adit, dia membaca semua percakapanku tadi pagi soal Reza. Dia semakin marah padaku karena aku dinilai tidak jujur. Aku tak hanya membahas soal titipan oleh - oleh Adit, melainkan juga membahas mantan.
Hati Bobby panas, dia segera mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Dia berjalan ke kamar, dengan wajah tegang, Bobby menyodorkan HP itu ke Adit sambil mengucapkan terimakasih.
"Ini bro, makasih," ucap Bobby dingin.
Melihat wajah temannya yang mendadak berubah jadi kaku, Adit bertanya pada Bobby, "Lagi ada masalah, Bro? Kok tiba - tiba raut mukanya kayak gitu?".
"Enggak, bro. Aman!," ucap Bobby menutupi kecemburuannya.
Aku kemudian menelpon ke nomor Bobby, aku ingin menjelaskan kesalahpahaman ini. Aku tak memiliki hubungan spesial dengan Adit, meskipun hatiku mungkin tergoda oleh pesonanya. Tapi, saat aku sudah memiliki kekasih, aku akan mencoba untuk setia dan bertahan pada satu pria.
Kucoba menghubungi Bobby, sayangnya teleponku tidak digubris. Dia mengabaikan panggilan teleponku. Aku mencoba memberikan waktu pada pacarku untuk menenangkan diri agar bisa berpikir jernih.
Ada perasaan lelah menjalani hubungan percintaan. Kenapa banyak sekali drama percintaan di dalam hidupku? Memacari pria yang mengaku duda namun masih suami orang, naksir adiknya mantan pacar hingga menjadi kekasih temannya orang yang aku taksir.
Ada rasa tidak puas dengan realita yang aku jalani. Kenapa bukan Adit yang memperlakukanku dan menyatakan cintanya padaku? Kenapa harus Bobby? Hingga detik ini aku masih tak mengerti apa maksud Tuhan menitipkan semua cerita ini kepadaku.
Di setiap malam, aku berdoa memohon petunjuk agar dimudahkan menemukan jodoh sejatiku. Aku tidak mau salah orang. Aku tidak ingin menikah berulang kali dan merasakan perceraian. Aku mau satu pria saja yang menemaniku untuk seumur hidup.
"Ya Allah, jauhkanlah aku dari pria - pria yang bukan jodohku. Dekatkanlah aku dengan jodoh sejatiku, yang mampu menemaniku hingga akhir hayat nanti, yang terbaik untukku... Hamba tidak meminta aneh - aneh dan banyak kriteria. Hamba pasrahkan kepadamu yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi makhluk-Mu," ucapku sambil menengadahkan tangan di setiap malam.
Aku selalu percaya bahwa Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Kadang apa yang kita pikir baik dan membuat kita senang adalah yang terbaik, namun ternyata mengandung keburukan untuk masa depan. Aku tidak ingin menuruti hawa nafsuku sendiri, karena aku punya keterbatasan ilmu dan pengetahuan tentang masa depan.
Hanya bisa berdoa dan berpegang teguh pada Tuhan agar tak salah jalan. Jika memang Bobby bukan jodohku, pasti Tuhan akan gantikan dengan yang lebih baik. Entah siapa...
***
Pagi hari, Renatta menelponku membahas liputan dadakan yang harus dikerjakan hari itu. Lokasinya ada di Dinas Pariwisata kota Semarang.
"Astaga... itu kan kantornya Reza! Duh semoga nggak ketemu dia deh," harapanku yang kuceritakan pada Renatta.
"Hahaha gue jadi penasaran yang mana sih yang namanya Reza, gue yakin ntar pasti ketemu!" kata Renatta malah meledekku.
"Ah... nggak soulmate lo ama gue! Malah berharap ketemu dia, dih...," kataku sebal.
"Udah cepetan siap - siap, gue tunggu di depan lokasinya!" suruh Renatta.
Aku menutup telepon dan segera mengambil handuk yang kutaruh di jemuran. Kuguyur tubuhku dengan air dingin dari gayung. Kubersihkan seluruh kotoran dari permukaan kulitku. Hari ini aku harus dandan lebih cantik daripada biasanya, agar Reza sadar jika dia sudah salah mempermainkan dan membuang perempuan cantik, hebat dan berkualitas seperti aku.
Kupoles wajahku dengan polesan makeup natural, tak ketinggalan kupakai softlense untuk membuat mataku semakin indah. Tak lupa kusemprotkan parfum ke seluruh tubuhku.
Aku sudah siap! Aku pun melaju dari rumah ke arah kantor Reza. Sesampainya di lokasi, aku bertemu Renatta yang sedang sibuk mengunyah makanan sambil berdiri di samping motornya.
"Ngemil mulu!" kataku saat melihat Renatta.
"Eh tunggu ... tunggu... kayak ada yang beda deh sama penampilan lo hari ini. Kok lo keliatan beda sih? Kayak lebih seger dan cantik gitu lho," puji Renatta sambil merasa keheranan.
"Dari dulu kan gue emang cantik, lo aja yang nggak pernah nyadar," kataku.
Kita memarkir kendaraan kami di depan kantor Reza. Semua peralatan wawancara pun telah disiapkan, tinggal masuk saja dan mencari seseorang yang akan kami mintai informasi.
Saat kakiku melangkah ke dalam kantor ini, kulihat dari kejauhan ada Reza Yoga sedang berbincang dengan temannya. Teman yang kemarin sempat bertemu denganku di pujasera.
Aku menarik Renatta untuk belok dan pergi ke ruangan lain agar tak terlihat oleh Reza.
"Aduh... apaan sih Ndy? kok narik - narik gue?" tanya Renatta heran.
"Duduk bentar lah di sini, lagian ini masih pagi, itu orang belum dateng juga. Motor di parkiran aja masih dikit," kataku membujuk Renatta.
Tak kusangka, Reza Yoga dan temannya berjalan ke arah ruangan tempat kami berdua duduk menunggu. Aku benar - benar kaget saat sorot mata Reza Yoga melihat ke arahku. Ekspresinya terkejut, begitupun denganku.
Dia kemudian...
Bersambung ke Bab 33
Diubah oleh adnanami 07-05-2022 05:52
omen34 dan 16 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
