- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#238
gatra 16
Quote:
SELAGI ARYA GADING terdiam, dilihatnya seseorang berjalan ke regol halaman itu. Dan terdengarlah orang itu berkata, “Apa yang terjadi?”
“Oh” orang yang berada dihalaman itu menoleh, dan kemudian membungkukkan kepalanya, “Selamat malam paman Kuda Merta. Ini ada dua orang cantrik yang baru datang dan tiba –tiba ingin bertemu Kakang Mahesa Branjangan sekarang juga. Aku ingin menundanya sampai besok”
“ Jadi paman ini yang bernama Kuda Merta? Nama yang disebut oleh lelaki misterius tadi di tepi hutan sana “, kata Arya Gading dalam hati.
Orang paruh baya yang bernama Kuda Merta itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya Arya Gading dan Doran dengan seksama. Dan kemudian terdengar orang itu bertanya, “Kabar apakah yang kau bawa?”
Arya Gading menjadi ragu-ragu. Benarkah seandainya berita itu dikatakannya tidak langsung kepada Mahesa Branjangan? Tiba-tiba ketika Arya Gading teringat kepada masalah kitab Lawang Pitu, maka dengan serta merta ia berkata untuk membuktikan kebenarannya dan mudah-mudahan dengan demikian, dirinya pun akan dikenal oleh orang-orang itu, katanya, “Aku membawa berita dari seseorang yang menghadang kami di dekat randu growong”
Lantas Arya Gading bercerita tentang peristiwa dicegatnya dirinya dan Doran. Arya Gading juga menceritakan tentang dugaan ada hubungan antara orang itu dengan hilangnya kitab Lawang Pitu.
“Kitab Lawang Pitu…” Kuda Merta itu mengulang, dan hampir setiap mulut yang mendengar nama itu pun mengulang pula meskipun hanya di dalam hati.
“Marilah ngger” ajak Kuda Merta. “Biarlah Mahesa Branjangan dibangunkan apabila kabar itu memang penting”
Arya Gading dan Doran pun kemudian berjalan mengikuti Kuda Merta. Mereka berjalan melintas halaman yang luas menuju ke pendapa. Demikian mereka naik kependapa, dada Arya Gadingpun berdesir tajam. Dilihatnya dipendapa itu, terbaring beberapa orang cantrik yang sedang nyenyak tidur. Beberapa diantaranya ia mengenalinya. Namun, beberapa diantaranya Arya Gading belum pernah melihatnya di padepokan. Pemandangan yang sangat asing dilihatnya.
Sedang disudut pendapa Arya Gading melihat beberapa tangkai tombak dan didinding-dinding tersangkut pedang perisai dan keris. Pemandangan yang bagi Arya Gading benar-benar tidak seperti biasanya. Dengan tidak berkata-kata lagi mereka menyeberangi pendapa, menuju kepringgitan. Dipringgitan dilihatnya sebuah warana yang memisahkan sebuah ruangan kecil. Diruangan kecil itulah Mahesa Branjangan sedang tidur pula.
“Disitulah Mahesa Branjangan sedang beristirahat” berkata Kuda Merta itu.
Dan tiba-tiba saja dada Arya Gading menjadi berdebar-debar. Apakah kata kakang Mahesa Branjangan itu, kalau dilihatnya ia datang disaat-saat yang begini.
Kuda Merta itupun berbisik pula “Duduklah ngger. Biarlah aku sendiri yang akan membangunkannya”
Namun Mahesa Branjangan adalah seorang linuwih yang terlatih. Karena itu meskipun ia tertidur nyenyak, namun telinganya dapat bekerja dengan baiknya. Sehingga Kuda Merta itu sebenarnya tidak perlu membangunkannya. Sejenak mereka berdua masuk, dan pintu pringgitan itu bergerit meskipun perlahan-lahan, Mahesa Branjangan telah terbangun karenanya. Namun ia tidak segera bangkit. Ia ingin tahu, siapakah yang datang kepringgitan itu.
Tetapi ketika didengarnya suara Kuda Merta, maka hampir-hampir saja ia tidur kembali kalau tidak segera disadarinya, bahwa kecuali Kuda Merta ada orang lain lagi. Bukan dari orang dalam padepokan. Ketika Kuda Merta itu berjalan perlahan-lahan dan hati-hati supaya tidak mengejutkan orang yang dibangunkannya, dan menjengukkan kepalanya dari sisi warana, Kuda Merta tersenyum asam.
“Hem” desisnya, “Ternyata aku tidak perlu membangunkan mu Branjangan”
Mahesa Branjangan sudah duduk disisi ranjangnya ketika Kuda Merta menjenguknya “ Paman apakah ada seorang tamu yang ingin menemui aku?” bertanya Mahesa Branjangan.
“Ya”, jawab Kuda Merta “Demikian pentingnya sehingga tak sabar lagi menunggu esok”
“Siapa?” bertanya Mahesa Branjangan.
“Angger Arya Gading dan Doran” jawab Kuda Merta.
“Arya Gading?” Mahesa Branjangan terkejut, dan segera ia bangun dari pembaringannya, sebuah bale-bale bambu.
Dengan tergesa-gesa ia melangkah keluar. Ketika dilihatnya Arya Gading duduk terkantuk-kantuk. Sedangkan Doran sudah setengah lelap tidur bersandarkan tiang bangunan.
Desisnya, “Kau akhirnya pulang Arya Gading”
Arya Gading mengangguk. Jawabnya, “Ya kakang”
“Oh” orang yang berada dihalaman itu menoleh, dan kemudian membungkukkan kepalanya, “Selamat malam paman Kuda Merta. Ini ada dua orang cantrik yang baru datang dan tiba –tiba ingin bertemu Kakang Mahesa Branjangan sekarang juga. Aku ingin menundanya sampai besok”
“ Jadi paman ini yang bernama Kuda Merta? Nama yang disebut oleh lelaki misterius tadi di tepi hutan sana “, kata Arya Gading dalam hati.
Orang paruh baya yang bernama Kuda Merta itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya Arya Gading dan Doran dengan seksama. Dan kemudian terdengar orang itu bertanya, “Kabar apakah yang kau bawa?”
Arya Gading menjadi ragu-ragu. Benarkah seandainya berita itu dikatakannya tidak langsung kepada Mahesa Branjangan? Tiba-tiba ketika Arya Gading teringat kepada masalah kitab Lawang Pitu, maka dengan serta merta ia berkata untuk membuktikan kebenarannya dan mudah-mudahan dengan demikian, dirinya pun akan dikenal oleh orang-orang itu, katanya, “Aku membawa berita dari seseorang yang menghadang kami di dekat randu growong”
Lantas Arya Gading bercerita tentang peristiwa dicegatnya dirinya dan Doran. Arya Gading juga menceritakan tentang dugaan ada hubungan antara orang itu dengan hilangnya kitab Lawang Pitu.
“Kitab Lawang Pitu…” Kuda Merta itu mengulang, dan hampir setiap mulut yang mendengar nama itu pun mengulang pula meskipun hanya di dalam hati.
“Marilah ngger” ajak Kuda Merta. “Biarlah Mahesa Branjangan dibangunkan apabila kabar itu memang penting”
Arya Gading dan Doran pun kemudian berjalan mengikuti Kuda Merta. Mereka berjalan melintas halaman yang luas menuju ke pendapa. Demikian mereka naik kependapa, dada Arya Gadingpun berdesir tajam. Dilihatnya dipendapa itu, terbaring beberapa orang cantrik yang sedang nyenyak tidur. Beberapa diantaranya ia mengenalinya. Namun, beberapa diantaranya Arya Gading belum pernah melihatnya di padepokan. Pemandangan yang sangat asing dilihatnya.
Sedang disudut pendapa Arya Gading melihat beberapa tangkai tombak dan didinding-dinding tersangkut pedang perisai dan keris. Pemandangan yang bagi Arya Gading benar-benar tidak seperti biasanya. Dengan tidak berkata-kata lagi mereka menyeberangi pendapa, menuju kepringgitan. Dipringgitan dilihatnya sebuah warana yang memisahkan sebuah ruangan kecil. Diruangan kecil itulah Mahesa Branjangan sedang tidur pula.
“Disitulah Mahesa Branjangan sedang beristirahat” berkata Kuda Merta itu.
Dan tiba-tiba saja dada Arya Gading menjadi berdebar-debar. Apakah kata kakang Mahesa Branjangan itu, kalau dilihatnya ia datang disaat-saat yang begini.
Kuda Merta itupun berbisik pula “Duduklah ngger. Biarlah aku sendiri yang akan membangunkannya”
Namun Mahesa Branjangan adalah seorang linuwih yang terlatih. Karena itu meskipun ia tertidur nyenyak, namun telinganya dapat bekerja dengan baiknya. Sehingga Kuda Merta itu sebenarnya tidak perlu membangunkannya. Sejenak mereka berdua masuk, dan pintu pringgitan itu bergerit meskipun perlahan-lahan, Mahesa Branjangan telah terbangun karenanya. Namun ia tidak segera bangkit. Ia ingin tahu, siapakah yang datang kepringgitan itu.
Tetapi ketika didengarnya suara Kuda Merta, maka hampir-hampir saja ia tidur kembali kalau tidak segera disadarinya, bahwa kecuali Kuda Merta ada orang lain lagi. Bukan dari orang dalam padepokan. Ketika Kuda Merta itu berjalan perlahan-lahan dan hati-hati supaya tidak mengejutkan orang yang dibangunkannya, dan menjengukkan kepalanya dari sisi warana, Kuda Merta tersenyum asam.
“Hem” desisnya, “Ternyata aku tidak perlu membangunkan mu Branjangan”
Mahesa Branjangan sudah duduk disisi ranjangnya ketika Kuda Merta menjenguknya “ Paman apakah ada seorang tamu yang ingin menemui aku?” bertanya Mahesa Branjangan.
“Ya”, jawab Kuda Merta “Demikian pentingnya sehingga tak sabar lagi menunggu esok”
“Siapa?” bertanya Mahesa Branjangan.
“Angger Arya Gading dan Doran” jawab Kuda Merta.
“Arya Gading?” Mahesa Branjangan terkejut, dan segera ia bangun dari pembaringannya, sebuah bale-bale bambu.
Dengan tergesa-gesa ia melangkah keluar. Ketika dilihatnya Arya Gading duduk terkantuk-kantuk. Sedangkan Doran sudah setengah lelap tidur bersandarkan tiang bangunan.
Desisnya, “Kau akhirnya pulang Arya Gading”
Arya Gading mengangguk. Jawabnya, “Ya kakang”
Quote:
MAHESA BRANJANGANPUN segera duduk dihadapan anak itu dengan penuh pertanyaan didalam dadanya. Dan Arya Gadingpun tidak menunggu kakak seperguruannya itu bertanya kepadanya. Katanya, “ Sewaktu aku pulang di tengah jalan di dekat randu growong ada seseorang mencegat kami kakang. Orang itu menyuruh aku untuk menyampaikan sebuah pesan untuk kakang”
“Siapa dia Gading? Kau dapat mengenali oang itu? ” bertanya Mahesa Branjangan dengan kening yang terangkat.
Maka Arya Gading menyampaikan berita yang pernah didengarnya dari mulut orang aneh yang mencegatnya bahkan sempat terjadi bentrokan yang mengakibatkan Doran pingsan dan dirinya babak belur. Meskipun ia sama sekali belum menceriterakan apa-apa tentang orang misterius itu. Mahesa Branjangan mendengarkan berita itu dengan penuh minat. Diperhatikannya kata demi kata yang keluar dari mulut Arya Gading.
Dan tiba-tiba ia bertanya “Pesan apa yang disampaikan orang itu?”
Arya Gading menarik nafas panjang. Ujarnya, “ Orang itu mengatakakan bahwa pengganti Ki Ageng Pandan Arum dalam memimpin padepokan ini di kedepannya haruslah berasal dari garis keturunan orang aneh itu kakang. Bukan kakang Branjangan, Kiai Kuda Merta, Jalak Kuning ataupun Anjam Kayuwangi. Jika hal itu dilanggar orang itu mengancam akan membuat karang abang padepokan ini kakang”
Mahesa Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sempat juga ia berkata, “ Aku semakin curiga dan kalau ini berkaitan dengan hilangnya kitab Lawang Pitu. Aku juga sangat yakin orang yang mencegatmu di randu growong adalah orang yang sama dengan orang yang telah memecundangi aku dengan ilmu Gelap Ngampar yang sangat hebat. Mungkin hanya bapa Pandan Arum yang bisa menandingi kesaktian orang itu. Dan satu lagi dia pasti ada salah satu diantara kita “
“ Kau dan Doran bertempur berpasangan?”
Arya Gading menganggukkan kepalanya. Tanpa disengaja ia menoleh, memandangi wajah Kuda Merta yang tegang itu.
“ Oh ya Gading, di padepokan ini ada beberapa tetua sahabat –sahabat bapa Pandan Arum yang sengaja aku undang kemari. Orang yang bersamamu ini bernama Paman Kuda Merta. Dan tiga orang lainnya benama adi Paksi Jalak Kuning, paman Anjam Kayuwangi dan paman Paraji Gading. Mungkin kau belum pernah bertemu dengan paman –paman mu itu. Namun, mereka telah mengenali namamu dari bapa Pandan Arum. Karena bapa merasa engkau seorang murid yang cerdas Gading “
Arya Gading menunduk, kata –kata Mahesa Branjangan membuatnya malu dipuji di hadapan Kuda Merta.
“Baiklah” berkata Mahesa Branjangan itu kemudian “Kami sangat berterima kasih kepadamu dan kepada Doran. Waktu kita tinggal sedikit. Lain kali kau dapat berceritera tentang perjalananmu itu lebih panjang lagi. Kami pasti akan sangat senang mendengarkannya. Tetapi sekarang aku menghadapi pekerjaan yang berat. Beberapa hari lagi akan ada pemilihan calon pengganti bapa untuk memimpin perguruan ini. Aku juga sangat yakin orang itu telah mengawasi kita dari kejauhan. Dan menyelinap atau bahkan membuat kekacauan di dalam pemilihan itu ”
“ Maaf kakang….” , Arya Gading tiba –tiba menyela.
“ Ada apa Gading? Ada yang masih ingin kau katakan? “
“ Maaf kakang, kalau ritual itu dan pemilihan calon pemimpin di padepokan ini berarti ayam cemani yang menjadi salah satu syarat dan ubo rampe harus sudah terpenuhi? Sekali lagi maafkan kami kakang, kami tidak berhasil membawa ayam cemani barang seekorpun. Katili kebetulan tidak punya ayam cemani. Kalau diijinkan aku ingin mencarinya lagi kakang “
Mahesa Branjangan tersenyum, “ Sudahlah Gading tidak perlu kau risaukan. Beberapa hari yang lalu Katili datang kesini menyerahkan lima ekor ayam cemani. Bahkan, dua diantaranya ayam betina dan sedang bertelur. Aku menyuruh beberapa cantrik untuk mencoba memelihara ayam itu. mudah -mudahan saja ayam cemani itu akan berkembang biak. Sehingga pada saatnya kita butuh tidak akan mengalami kesulitan lagi “
Lalu kepada Kuda Merta Mahesa Branjangan berkata “Paman Kuda Merta. Persoalannya pasti akan menyangkut padepokan ini pula. Padepokan kita ini harus kita selamatkan. Padepokan ini didirikan dengan tetesan keringat, darah dan air mata. Jangan sampai ada orang yang mengacak –acak paugeran dan tata karma yang sudah puluhan tahun dijaga oleh bapa Pandan Arum. Karena itu, paman Kuda Merta bersedia menyerahkan para cantriknya kepada kami untuk bersama-sama mempertahankan padepokan itu?”
“Tentu Branjangan ” jawab Kuda Merta itu “Sebab padepokan ini juga merupakan tanggung jawabku. Dahulu kami berempat yang membesarkan nama perguruan ini. Jadi sangat tidak mungkin perguruan ini diacak –acak oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan aku hanya berpangku tangan”
“Terima kasih paman”, sahut Mahesa Branjangan
“ Dan kau Gading pulanglah ke pondokan mu. Bibi mu sangat mencemaskan mu, berkali –kali beliau datang kesini dan menanyakan kabar tentang mu “
Arya Gading menganggukkan kepalanya, “ Baiklah kakang, saya mohon diri “
“Siapa dia Gading? Kau dapat mengenali oang itu? ” bertanya Mahesa Branjangan dengan kening yang terangkat.
Maka Arya Gading menyampaikan berita yang pernah didengarnya dari mulut orang aneh yang mencegatnya bahkan sempat terjadi bentrokan yang mengakibatkan Doran pingsan dan dirinya babak belur. Meskipun ia sama sekali belum menceriterakan apa-apa tentang orang misterius itu. Mahesa Branjangan mendengarkan berita itu dengan penuh minat. Diperhatikannya kata demi kata yang keluar dari mulut Arya Gading.
Dan tiba-tiba ia bertanya “Pesan apa yang disampaikan orang itu?”
Arya Gading menarik nafas panjang. Ujarnya, “ Orang itu mengatakakan bahwa pengganti Ki Ageng Pandan Arum dalam memimpin padepokan ini di kedepannya haruslah berasal dari garis keturunan orang aneh itu kakang. Bukan kakang Branjangan, Kiai Kuda Merta, Jalak Kuning ataupun Anjam Kayuwangi. Jika hal itu dilanggar orang itu mengancam akan membuat karang abang padepokan ini kakang”
Mahesa Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sempat juga ia berkata, “ Aku semakin curiga dan kalau ini berkaitan dengan hilangnya kitab Lawang Pitu. Aku juga sangat yakin orang yang mencegatmu di randu growong adalah orang yang sama dengan orang yang telah memecundangi aku dengan ilmu Gelap Ngampar yang sangat hebat. Mungkin hanya bapa Pandan Arum yang bisa menandingi kesaktian orang itu. Dan satu lagi dia pasti ada salah satu diantara kita “
“ Kau dan Doran bertempur berpasangan?”
Arya Gading menganggukkan kepalanya. Tanpa disengaja ia menoleh, memandangi wajah Kuda Merta yang tegang itu.
“ Oh ya Gading, di padepokan ini ada beberapa tetua sahabat –sahabat bapa Pandan Arum yang sengaja aku undang kemari. Orang yang bersamamu ini bernama Paman Kuda Merta. Dan tiga orang lainnya benama adi Paksi Jalak Kuning, paman Anjam Kayuwangi dan paman Paraji Gading. Mungkin kau belum pernah bertemu dengan paman –paman mu itu. Namun, mereka telah mengenali namamu dari bapa Pandan Arum. Karena bapa merasa engkau seorang murid yang cerdas Gading “
Arya Gading menunduk, kata –kata Mahesa Branjangan membuatnya malu dipuji di hadapan Kuda Merta.
“Baiklah” berkata Mahesa Branjangan itu kemudian “Kami sangat berterima kasih kepadamu dan kepada Doran. Waktu kita tinggal sedikit. Lain kali kau dapat berceritera tentang perjalananmu itu lebih panjang lagi. Kami pasti akan sangat senang mendengarkannya. Tetapi sekarang aku menghadapi pekerjaan yang berat. Beberapa hari lagi akan ada pemilihan calon pengganti bapa untuk memimpin perguruan ini. Aku juga sangat yakin orang itu telah mengawasi kita dari kejauhan. Dan menyelinap atau bahkan membuat kekacauan di dalam pemilihan itu ”
“ Maaf kakang….” , Arya Gading tiba –tiba menyela.
“ Ada apa Gading? Ada yang masih ingin kau katakan? “
“ Maaf kakang, kalau ritual itu dan pemilihan calon pemimpin di padepokan ini berarti ayam cemani yang menjadi salah satu syarat dan ubo rampe harus sudah terpenuhi? Sekali lagi maafkan kami kakang, kami tidak berhasil membawa ayam cemani barang seekorpun. Katili kebetulan tidak punya ayam cemani. Kalau diijinkan aku ingin mencarinya lagi kakang “
Mahesa Branjangan tersenyum, “ Sudahlah Gading tidak perlu kau risaukan. Beberapa hari yang lalu Katili datang kesini menyerahkan lima ekor ayam cemani. Bahkan, dua diantaranya ayam betina dan sedang bertelur. Aku menyuruh beberapa cantrik untuk mencoba memelihara ayam itu. mudah -mudahan saja ayam cemani itu akan berkembang biak. Sehingga pada saatnya kita butuh tidak akan mengalami kesulitan lagi “
Lalu kepada Kuda Merta Mahesa Branjangan berkata “Paman Kuda Merta. Persoalannya pasti akan menyangkut padepokan ini pula. Padepokan kita ini harus kita selamatkan. Padepokan ini didirikan dengan tetesan keringat, darah dan air mata. Jangan sampai ada orang yang mengacak –acak paugeran dan tata karma yang sudah puluhan tahun dijaga oleh bapa Pandan Arum. Karena itu, paman Kuda Merta bersedia menyerahkan para cantriknya kepada kami untuk bersama-sama mempertahankan padepokan itu?”
“Tentu Branjangan ” jawab Kuda Merta itu “Sebab padepokan ini juga merupakan tanggung jawabku. Dahulu kami berempat yang membesarkan nama perguruan ini. Jadi sangat tidak mungkin perguruan ini diacak –acak oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan aku hanya berpangku tangan”
“Terima kasih paman”, sahut Mahesa Branjangan
“ Dan kau Gading pulanglah ke pondokan mu. Bibi mu sangat mencemaskan mu, berkali –kali beliau datang kesini dan menanyakan kabar tentang mu “
Arya Gading menganggukkan kepalanya, “ Baiklah kakang, saya mohon diri “
Quote:
ARYA GADING LANTAS pergi meninggalkan tempat itu, ia berhenti sebentar manakala sampai dihadapan Doran yang sudah mendengkur sembari memeluk tiang. Meski bajunya masih basah dan belepotan lumpur. Namun, Doran masih juga bisa tertidur dengan nyenyak. Arya Gading mengurungkan niatnya untuk membangunkan kawannya itu. Perlahan –lahan Arya Gading berjalan ke arah pondokannya yang terletak di belakang padepokan.
Angin malam berhembus menyapu lereng Merapi. Terasa digin mulai menyusup tulang. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan. Seolah-olah mereka telah melihat sosok-sosok mahkluk ghaib yang sedang mengalir di padepokan Pandan Arum. Lamat-lamat suara burung hantu mengetuk hati. Sayu, seperti rintihan mereka yang sedang dirajam di dasar neraka. Akhirnya Arya Gading pun sampai ke depan sebuah pondok dengan halaman yang luas. Tetapi halaman yang luas itu tampak hanya remang –remang saja. Hanya ada satu pelita tersangkut di halaman, bahkan sorotnya pun tidak mampu menerobos dari sela-sela dinding rumah itu.
Dengan langkah yang tetap ia berjalan lewat sisi pondok langsung ke belakang, ketempat bilik bibi nya yang memang terpisah dari pondok utama.
“Mudah-mudahan bibi masih terjaga di sana,” desisnya.
Dan ternyata di sebuah bilik kecil di belakang rumah itu masih terlihat sebuah pelita yang menyala. Arya Gading pun menarik nafas bergumam, “Sepertinya bibi masih terjaga”
Perlahan-lahan Arya Gading mengetuk pintu bilik itu. Dan dari dalam rumah itu pun terdengar suara menyapa, “Siapa?”
“Aku. Arya Gading.”
“Oh, kau Ngger? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi padamu Ngger?”
“Tidak, Bibi. Aku baik –baik saja.”
Yang terdengar kemudian adalah langkah kaki perempuan itu perlahan-lahan. Terdengar sebuah gerit kecil dan pintu itu pun terbuka.
“Arya Gading….,” desis perempuan itu.
“Ya, Bibi.”
Perempuan yang terlihat tua dibanding dengan umur yang sebenarnya itu lantas memeluk Arya Gading sambil menangis. Arya Gading membiarkan bibinya itu menangis di dalam dekapannya. Setelah beberapa saat kemudian.
“ Kau kemana saja Ngger? Bibi sangat cemas, takut kalau- kalau orang –orang jahat di Kedungtuban telah melakukan sesuatu yang jahat terhadap mu. Bahkan, setiap hari bibi selalu bertanya pada setiap cantrik dan Tuan Mahesa Branjangan tentang keadaan mu Ngger”
“ Mafkan aku bibi karena telah membuat bibi cemas. Karena aku dan Doran tidak pernah turun gunung. Malam itu kami tersesat bibi “
Arya Gading lantas menceritakan apa yang dialaminya. Namun, anak itu tidak memceritakan tentang kejadian perampokan yang berkedok keranda terbang. Maupun ada orang yang mencegatnya di randu growong. Semua itu dilakukan agar bibinya tidak menjadi khawatir.
“Marilah. Marilah masuk. Aku akan menyiapkan minuman jahe hangat dengan gula aren,” berkata perempuan itu terbata-bata.
Arya Gading telah mengganti pakaiannya dan membersihkan diri. Di atas sebuah tikar pandan pemuda itu duduk ditemani bibinya. Di depannya diatas baki yang terbuat dari rajutan bambu telah tersaji beberapa potong jenang alot, ubi rebus dan satu bumbung jahe panas dengan gula aren.
Tetapi ketika mata Arya Gading memandang bibinya. Pemuda itu merasa ada yang aneh dan lain. Bibinya wajahnya terlihat tegang dan tidak tenang.
“ Bibi, kenapa bibi seperti itu? Apakah bibi kurang sehat? Silahkan beristirahatlah, biar besok pagi tandon air di pekiwan aku yang akan penuhi. Pelataran biarlah aku juga yang akan menyapunya”
Bibir bergetar perempuan tua itu menjawab, “ Aku tidak apa-apa Ngger. Jangan kau cemaskan bibi. Itu jahe nya diminum dulu. Tidak enak kalau nanti menjadi dingin “
Bilik itu pun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas-nafas mereka, dan suara jangkrik dan bintang malam yang bersahut-sahutan.Wajah perempuan itu tiba-tiba menjadi tegang. Manakala di kejauhan terdengar suara lolongan anjing liar yang ngelangut.
Bahkan kemudian ia bertanya, “Angger, apakah Angger mendengar lolongan asu ajag itu?”
“Ya, Bibi. Aku mendengarnya. Bukankah itu bukan sesuatu hal yang perlu dirisaukan? “
“Angger,” bisik perempuan tua itu seakan-akan takut didengar oleh dedaunan di luar dinding biliknya, “sudah hampir tiga mala mini saat suara lolongan asu ajag itu terdengar tiba –tiba seperti ada orang yang berjalan di atap rumah. Bibi jelas sekali mendengarnya. Suara langkah –langkah kaki. Hanya saja anehnya atap yang berasal dari ijuk itu tidak tampak seperti terinjak orang”
“Benarkah itu bibi? Apakah bibi tidak sedang bermimpi di malam itu? ” Arya Gading menjadi berdebar -debar.
Perempuan tua itu memandangi Arya Gading dengan sorot mata yang diwarnai oleh kebimbangan hatinya. Namun sekali lagi Arya Gading meyakinkannya, “Bibi, jangan takut. Katakan apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari ini?”
Perempuan itu akhirnya dapat meyakini kata-kata Arya Gading. Wajah Arya Gading yang bersungguh -sungguh itu dapat melenyapkan keragu-raguannya, sehingga perlahan sekali ia berkata, “Angger Arya Gading. Pondok ini sekarang terlalu sering didatangi oleh orang aneh berbadan tinggi besar dan memakai penutup wajah. Bibi pernah memberanikan diri untuk keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di atas atap pondok ini. Ternyata di atas atap ada orang aneh itu. Orang itu tidak melakukan apa –apa hanya berdiri tegak dan memandang ku dari atas. Itu hanya berlangsung sebentar. Lantas orang itu meloncat layaknya bajing dari satu ke satu pohon yang lain”
Dada Arya Gading menggelegak mendengar kata-kata perempuan tua itu. Pikirannya lalu tertuju pada satu orang. Yaitu, orang misterius yang telah mencegatnya tadi di dekat randu growong.
Dengan gemetar Arya Gading kemudian bertanya, “Bibi apakah selama ini orang itu berani masuk ke dalam pondokan?”
“Tidak Ngger. Orang itu seperti sengaja untuk membuat aku menjadi ketakutan dan cemas “
“ Sudahlah, bibi tidak perlu cemas. Ada Gading yang akan melindungi bibi jika orang itu datang lagi. Hari sudah sangat larut dan hampir pagi. Sebaiknya bibi istirahat dulu “
Lalu perempuan tua itu mengangguk dan masuk ke dalam biliknya. Pada menjelang dinihari di mana udara dinginnya mencucuk tulang-tulang sampai ke sungsum, Arya Gading masih belum dapat memejamkan matanya. Pikirannya kalut bercampur aduk. Siapakah sebenarnya lelaki misterius itu?
Arya Gading hendak beranjak dari tempat duduknya manakala telinganya yang tajam mendengar desi langkah di luar pondok. Penuh kewaspadaan Arya Gading membuka pintu belakang. Setengah berjingkat –jingkat pemuda itu mencoba keluar ke halaman. Namun, belum lagi Arya Gading sampai di halaman, dari atas atap mendadak berkelebat satu sosok tubuh manusia, melompat ke bawah dan berdiri di tengah halaman! kedua tangan berkacak pinggang.
Jarak atap rumah dan halaman demikian tingginya tapi manusia tadi melompat ke bawah tanpa menimbulkan cidera pada kakinya sedikitpun. Orang ini berbadan tinggi besar. Rambutnya panjang sampai ke bahu. Pada wajahnya itu tertutup sebuah kain berwarna hitam.
Angin malam berhembus menyapu lereng Merapi. Terasa digin mulai menyusup tulang. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan. Seolah-olah mereka telah melihat sosok-sosok mahkluk ghaib yang sedang mengalir di padepokan Pandan Arum. Lamat-lamat suara burung hantu mengetuk hati. Sayu, seperti rintihan mereka yang sedang dirajam di dasar neraka. Akhirnya Arya Gading pun sampai ke depan sebuah pondok dengan halaman yang luas. Tetapi halaman yang luas itu tampak hanya remang –remang saja. Hanya ada satu pelita tersangkut di halaman, bahkan sorotnya pun tidak mampu menerobos dari sela-sela dinding rumah itu.
Dengan langkah yang tetap ia berjalan lewat sisi pondok langsung ke belakang, ketempat bilik bibi nya yang memang terpisah dari pondok utama.
“Mudah-mudahan bibi masih terjaga di sana,” desisnya.
Dan ternyata di sebuah bilik kecil di belakang rumah itu masih terlihat sebuah pelita yang menyala. Arya Gading pun menarik nafas bergumam, “Sepertinya bibi masih terjaga”
Perlahan-lahan Arya Gading mengetuk pintu bilik itu. Dan dari dalam rumah itu pun terdengar suara menyapa, “Siapa?”
“Aku. Arya Gading.”
“Oh, kau Ngger? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi padamu Ngger?”
“Tidak, Bibi. Aku baik –baik saja.”
Yang terdengar kemudian adalah langkah kaki perempuan itu perlahan-lahan. Terdengar sebuah gerit kecil dan pintu itu pun terbuka.
“Arya Gading….,” desis perempuan itu.
“Ya, Bibi.”
Perempuan yang terlihat tua dibanding dengan umur yang sebenarnya itu lantas memeluk Arya Gading sambil menangis. Arya Gading membiarkan bibinya itu menangis di dalam dekapannya. Setelah beberapa saat kemudian.
“ Kau kemana saja Ngger? Bibi sangat cemas, takut kalau- kalau orang –orang jahat di Kedungtuban telah melakukan sesuatu yang jahat terhadap mu. Bahkan, setiap hari bibi selalu bertanya pada setiap cantrik dan Tuan Mahesa Branjangan tentang keadaan mu Ngger”
“ Mafkan aku bibi karena telah membuat bibi cemas. Karena aku dan Doran tidak pernah turun gunung. Malam itu kami tersesat bibi “
Arya Gading lantas menceritakan apa yang dialaminya. Namun, anak itu tidak memceritakan tentang kejadian perampokan yang berkedok keranda terbang. Maupun ada orang yang mencegatnya di randu growong. Semua itu dilakukan agar bibinya tidak menjadi khawatir.
“Marilah. Marilah masuk. Aku akan menyiapkan minuman jahe hangat dengan gula aren,” berkata perempuan itu terbata-bata.
Arya Gading telah mengganti pakaiannya dan membersihkan diri. Di atas sebuah tikar pandan pemuda itu duduk ditemani bibinya. Di depannya diatas baki yang terbuat dari rajutan bambu telah tersaji beberapa potong jenang alot, ubi rebus dan satu bumbung jahe panas dengan gula aren.
Tetapi ketika mata Arya Gading memandang bibinya. Pemuda itu merasa ada yang aneh dan lain. Bibinya wajahnya terlihat tegang dan tidak tenang.
“ Bibi, kenapa bibi seperti itu? Apakah bibi kurang sehat? Silahkan beristirahatlah, biar besok pagi tandon air di pekiwan aku yang akan penuhi. Pelataran biarlah aku juga yang akan menyapunya”
Bibir bergetar perempuan tua itu menjawab, “ Aku tidak apa-apa Ngger. Jangan kau cemaskan bibi. Itu jahe nya diminum dulu. Tidak enak kalau nanti menjadi dingin “
Bilik itu pun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas-nafas mereka, dan suara jangkrik dan bintang malam yang bersahut-sahutan.Wajah perempuan itu tiba-tiba menjadi tegang. Manakala di kejauhan terdengar suara lolongan anjing liar yang ngelangut.
Bahkan kemudian ia bertanya, “Angger, apakah Angger mendengar lolongan asu ajag itu?”
“Ya, Bibi. Aku mendengarnya. Bukankah itu bukan sesuatu hal yang perlu dirisaukan? “
“Angger,” bisik perempuan tua itu seakan-akan takut didengar oleh dedaunan di luar dinding biliknya, “sudah hampir tiga mala mini saat suara lolongan asu ajag itu terdengar tiba –tiba seperti ada orang yang berjalan di atap rumah. Bibi jelas sekali mendengarnya. Suara langkah –langkah kaki. Hanya saja anehnya atap yang berasal dari ijuk itu tidak tampak seperti terinjak orang”
“Benarkah itu bibi? Apakah bibi tidak sedang bermimpi di malam itu? ” Arya Gading menjadi berdebar -debar.
Perempuan tua itu memandangi Arya Gading dengan sorot mata yang diwarnai oleh kebimbangan hatinya. Namun sekali lagi Arya Gading meyakinkannya, “Bibi, jangan takut. Katakan apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari ini?”
Perempuan itu akhirnya dapat meyakini kata-kata Arya Gading. Wajah Arya Gading yang bersungguh -sungguh itu dapat melenyapkan keragu-raguannya, sehingga perlahan sekali ia berkata, “Angger Arya Gading. Pondok ini sekarang terlalu sering didatangi oleh orang aneh berbadan tinggi besar dan memakai penutup wajah. Bibi pernah memberanikan diri untuk keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di atas atap pondok ini. Ternyata di atas atap ada orang aneh itu. Orang itu tidak melakukan apa –apa hanya berdiri tegak dan memandang ku dari atas. Itu hanya berlangsung sebentar. Lantas orang itu meloncat layaknya bajing dari satu ke satu pohon yang lain”
Dada Arya Gading menggelegak mendengar kata-kata perempuan tua itu. Pikirannya lalu tertuju pada satu orang. Yaitu, orang misterius yang telah mencegatnya tadi di dekat randu growong.
Dengan gemetar Arya Gading kemudian bertanya, “Bibi apakah selama ini orang itu berani masuk ke dalam pondokan?”
“Tidak Ngger. Orang itu seperti sengaja untuk membuat aku menjadi ketakutan dan cemas “
“ Sudahlah, bibi tidak perlu cemas. Ada Gading yang akan melindungi bibi jika orang itu datang lagi. Hari sudah sangat larut dan hampir pagi. Sebaiknya bibi istirahat dulu “
Lalu perempuan tua itu mengangguk dan masuk ke dalam biliknya. Pada menjelang dinihari di mana udara dinginnya mencucuk tulang-tulang sampai ke sungsum, Arya Gading masih belum dapat memejamkan matanya. Pikirannya kalut bercampur aduk. Siapakah sebenarnya lelaki misterius itu?
Arya Gading hendak beranjak dari tempat duduknya manakala telinganya yang tajam mendengar desi langkah di luar pondok. Penuh kewaspadaan Arya Gading membuka pintu belakang. Setengah berjingkat –jingkat pemuda itu mencoba keluar ke halaman. Namun, belum lagi Arya Gading sampai di halaman, dari atas atap mendadak berkelebat satu sosok tubuh manusia, melompat ke bawah dan berdiri di tengah halaman! kedua tangan berkacak pinggang.
Jarak atap rumah dan halaman demikian tingginya tapi manusia tadi melompat ke bawah tanpa menimbulkan cidera pada kakinya sedikitpun. Orang ini berbadan tinggi besar. Rambutnya panjang sampai ke bahu. Pada wajahnya itu tertutup sebuah kain berwarna hitam.
Diubah oleh breaking182 09-05-2022 23:35
MFriza85 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas