- Beranda
- Stories from the Heart
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
...
TS
gitartua24
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
"....and after all, we just have to move on."

"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."
Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Prolog
Tahun Pertama
Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
Part 15 - All Night Long
Part 16 - Hangover Girl
Part 17 - Morning Talk
Part 18 - A Book That Change
Part 19 - Where Are We Going
Part 20 - A Story About Past
Part 21 - Don't Cross The Line
Part 22 - Some Kind A Favor
Part 23 - Mission Almost Impossible
Part 24 - The Game We Play
Part 25 - Game Of Heart
Diubah oleh gitartua24 03-04-2024 07:12
teguhjepang9932 dan 41 lainnya memberi reputasi
40
25.4K
163
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#14
Part 4
Her name is…
Acara baru selesai pukul setengah dua siang ketika matahari sedang terik-teriknya. Acara yang awalnya gue perkirakan hanya berupa perbekalan awal sebelum masa orientasi sebenanrya ternyata lebih lama dari yang gue duga. Untuk perekenalan saja butuh waktu lebih dari satu jam sampai semuanya memperkenalkan diri. Setelah itu dilanjutkan dengan hal ini dan itu sebagai tetek bengeknya.
Saat senior yang memandu acara mengatakan acara hari itu selesai dan sampai bejumpa di hari senin gue menunggu selama beberapa saat untuk keluar dari kelas. Sengaja karena gue yakin calon mahasiswa baru lainnya ingin buru-buru untuk keluar kelas. Ketika suasana terasa lebih kondusif gue berdiri dari tempat duduk dan menyelempangkan tas di pundak.
Udara di luar sangat terasa pengap dan lembab. Sangat kontras terasa jika dibandingkan dengan udara kering dan dingin yang ada di dalam kelas. Langit terlihat bersih dari awan. Sementara itu angin silir berganti menerjang tubuh gue yang sedang berusaha menyesuaikan perubahan suhu. Bukan angin yang membawa suasana sejuk, melainkan suhu panas yang terasa sampai ke tulang.
Seperti yang gue duga, suasana di luar kelas dan di lorong - lorong gedung sudah nggak terlalu ramai. Memang nggak bisa disebut sepi juga, setidaknya nggak sampai tersendat ketika turun tangga seperti saat gue baru datang. Beberapa mahasiswa baru seperti gue memilih untuk bersantai sambil bersenda gurau dengan kenalan baru mereka di sepanjang lorong. Nggak dapat gue pastikan apa yang sedang mereka perbincangkan tetapi sepertinya cukup menarik untuk mereka semua. Seandainya ada satu atau dua orang yang gue kenal pasti akan lebih mudah untuk bergabung bersama mereka. Seandainya.
Gue berjalan menuruni anak tangga sambil memasukkan kedua pergelangan tangan ke dalam saku hoodie. Di setiap lantai yang gue lewati juga masih banyak mahasiswa-mahasiswa baru seperti gue yang masih berkumpul dengan teman baru mereka. Sepertinya ini adalah pemandangan yang wajar nantinya ketika perkuliahan yang sebenarnya dimulai. Sejujurnya gue merasa iri dengan mereka yang mudah bergaul dengan orang lain. Bagaimana cara mereka berinteraksi dengan orang lain tanpa membuat canggung. Tentang perbincangan yang mereka lakukan dan bisa dinikmati oleh semua.
Gue sendiri mengakui kalau gue sedikit selektif dalam memilih teman. adakalanya ketika gue terlalu memikirkan tentang anggapan orang lain tentang kelompok pertemanan yang gue masuki dan akan berimbas pada bayangan orang lain tentang diri gue. seperti ada sensor tersendiri ketika gue benar-benang nggak menginginkan dikelilingi oleh orang-orang yang gue inginkan. Tapi jika sudut pandang dirubah kepada lingkaran orang-orang yang gue inginkan, apakah kehadiran gue mereka inginkan. Bisa jadi gue adalah definisi yang mereka anggap sebagai orang aneh. Pemikiran seperti itu terus berkecamuk dalam kepala gue setiap kali berada di sekitar orang asing.
Tiba di lantai dasar gue terus berjalan menuju plaza di dekat gerbang, tiba-tiba awan mendung datang. Awan mendung yang belum terlalu kelabu tetapi cukup untuk menghalangi sinar matahari. Meskipun belum ada tanda-tanda hujan akan segera turun, namun yang namanya perubahan yang mendadak tetap terasa mengejutkan. Padahal beberapa saat lalu teriknya sinar matahari masih bisa terasa jelas. Belum lagi angin kencang yang membawa udara pengap yang menandakan hujan akan turun. Setidaknya sore nanti. Mungkin.
Telepon genggam gue berbunyi tanda pesan masuk. Gue segera mengeluarkannya dari saku celana dan melihat siapa yang mengirim pesan melalui layar sentuh telepon genggam. Nama Cindy terlihat sebagai si pengirim pesan, kemudian ia menanyakan apakah gue membawa kendaraan atau enggak. Buru-buru gue membalas pesannya kalau gue lagi nggak membawa kendaraan dan pulang menggunakan angkutan umum. Setelah itu nggak ada pesan balasan.
Sekilas tentang Cindy, ia adalah teman gue dari sekolah menengah atas. Kami sempat berada di kelas yang sama saat kelas sebelas, kemudian ditempatkan di kelas yang berbeda pada tahun ajaran berikutnya. Sekarang kami memasuki kampus yang sama meskipun beda jurusan.
Gue segera menuju mini market tempat gue menunggu tadi pagi alih-alih langsung pulang. Di sisi depan masih ada tempat kosong yang setidaknya bisa diisi oleh dua orang yang berdiri. Gue langsung mengeluarkan satu batang rokok lalu mengeluarkannya lalu menghisapnya.
Seketika ada seorang perempuan yang mengisi tempat kosong di sebelah gue tanpa permisi maupun izin. Memang nggak diperlukan juga karena ini tempat umum. Tapi setidaknya kalau mengikuti adab yang berlaku di negara ini ia harus mengucapkan permisi. Namun ketika mengetahui siapa perempuan yang berada di sebelah gue, gue nggak terlalu memperdulikan hal tersebut lagi.
“Hey!” Sapanya saat berada di sebelah gue. Perempuan tersebut adalah perempuan yang meminjam korek dari gue pagi ini. Perempuan dengan tahi lalat di sudut bawah matanya.
“Hey.”
“Dari tadi gue panggil tapi lo nggak dengar kayaknya.”
Gue mencoba mengingat suara yang berusaha memanggil gue sebelumnya, namun banyaknya kerumunan orang membuat gue nggak mendengarnya. “Sorry, gue nggak denger tadi. Mungkin gue kira orang lain yang dipanggil.”
“Iya juga, sih. Emang rame banget dimana-mana.”
“Kenapa nggak panggil nama gue aja?” Tanya gue sambil mengeluarkan asap rokok. Namun yang terjadi setelahnya adalah ketenangan di antara kita berdua.
Gue berusaha mencari alasan kenapa membuat ia terdiam. Dalam kurun waktu yang singkat otak gue bekerja keras untuk berpikir kesalahan apa yang mungkin gue perbuat. Apakah intonasi nada yang gue ucapkan terdengar terlalu kasar sehingga ia merasa nggak nyaman. Atau mungkin gue sudah melontarkan pertanyaan yang seharusnya nggak gue tanyakan.
Kemudian seolah mengingat sesuatu yang penting, senyum di bibir gue mulai mengembang. Bagaimana mungkin gue bisa melupakan hal dasar yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang baru saling mengenal. Gue berusaha menahan tawa akibat kebodohan gue, namun ketika melihat senyum yang juga mengembang di wajah perempuan yang berada di hadapan gue, tawa kami berdua pecah sampai-sampai menarik perhatian orang di sekitar. Sadar sudah mengganggu kenyamanan sekitar, gue dan perempuan itu berusaha menjaga sikap.
“Kita belum kenalan, ya?” Tanyanya dengan senyuman yang nggak bisa disembunyikan.
“Iya, gue sampe lupa. Padahal tadi pagi kita sempet ngobrol.”
Dengan sigap ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tangan yang kecil dan ditumbuhi rambut-rambut haus. Di ruas jari tengahnya terdapat cincin perak yang mengkilap. Kemudian gue menyambut uluran tangannya dengan sigap namun selembut mungkin. Di tengah pengapnya udara, cincin perak yang ia kenakan terasa dingin di kulit gue.
“Nama gue Kirana. Temen-temen gue sih biasa manggil Kiran.”
“Gue Treya, biasa dipanggil nengok.”
Mendengar lelucon yang gue lontarkan, Kirana kembali tertawa. Kali ini ia berusaha menutup tawanya dengan tangan kiri selagi kita berjabat tangan. “Tapi tadi lo gue panggil nggak nengok tuh.”
“Bener juga sih.” Kini giliran gue yang tertawa mendengar ucapannya seraya melepaskan jabat tangan yang kita lakukan. “By the way, tadi ada apa sampe manggil gue?”
“Gapapa, sih. Biar ada barengan aja.”
Kemudian kesunyian kembali hadir di antara gue dan Kirana, sosok perempuan yang namanya baru gue ketahui beberapa saat yang lalu. Jujur saja, gue nggak punya banyak pengalaman ketika dihadapkan dengan seorang perempuan. Jangankan perempuan yang belum gue kenal, dengan yang bisa dibilang sebagai teman pun gue nggak tahu harus berbicara dan bersikap seperti apa. Gue ingat kalau Kirana nggak memiliki korek api untuk merokok. Jadi gue mengeluarkan korek api dari dalam saku celana lalu menawarkan kepadanya untuk memecahkan kesunyian.
“Boleh.” Ucapnya seraya mengeluarkan bungkus rokok dari tasnya diiringi dengan senyum yang nggak gue mengerti arti di baliknya.
Kirana nggak langsung mengambil korek dari tangan gue, melainkan lantas menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya. Mengerti apa yang diinginkan, gue menyalakan korek untuk membakar rokok yang kini sudah terselip di bibirnya.
“Gimana tadi pengarahan ospeknya?” Tanya gue ke Kirana. Lalu mengikuti jejaknya untuk merokok.
“Nggak seru seniornya.”
Gue merasa terkejut dengan jawaban dari Kirana barusan. Biasanya orang yang baru saling mengenal dan diajukan pertanyaan basa-basi akan menjawabnya dengan jawaban normatif. Tapi kelihatannya Kirana bukan orang yang suka menjawab dengan jawaban normatif. Terlebih lagi dengan intonasi suara yang terkesan kesal.
“Kenapa emangnya?”
“Sok asik gitu deh seniornya.” Ucapnya gemas sambil membenarkan posisi rambutnya yang terjatuh di wajah. “Baru sehari tapi udah keganjenan sama anak baru.”
“Emang lo sampe diajak kenalan gitu?”
“Mending kalau cuman diajak kenalan, orang sampe minta nomer hp, instagram. Bahkan ada yang langsung ngajak jalan juga loh.”
“Masa sih, gerak cepet banget orang-orang.”
“Mangkanya, gue juga nggak ngerti.” Seolah merasa dirinya terbawa suasana, buru-buru ia mengambil nafas dan kembali menghisap rokok yang tersisa setengah. “Sorry ya, gue jadi heboh sendiri.”
Gue tertawa terkikir melihat perubahan sikapnya secara drastis. “Gapapa kok.”
“Gue pasti keliatan bacot banget, ya?” Tanyanya dengan nada memelas.
“Gue malah senang dibacotin.”
“Terus,” Kirana Mengambil jeda. “Lo sendiri gimana tadi? Ada kejadian apa di kelas?”
“Nggak ada apa-apa kok, kayaknya normal aja.”
“Masa, sih?”
Gue mencoba megingat-ingat apa saja yang terjadi selama di kelas. “Oh, ada,” sahut gue bersemangat seolah melupakan sesuatu yang penting. “Tadi di kelas gue ada orang yang pakai bajunya aneh banget.”
“Aneh gimana?”
“Gimana, ya, pokoknya semua warna yang dia pakai nggak ada yang nyambung deh.”
“Maksudnya?”
Lalu tiba-tiba seseorang yang gue maksud lewat di hadapan kami dengan sepeda motornya. Gue nggak begitu yakin mengapa orang tersebut masih ada di sekitar sini. Padahal gue yakin dia adalah salah satu orang yang keluar kelas terlebih dahulu. Mungkin dia berkumpul dengan orang-orang kelas lainnya sesaat setelah keluar kelas.
“Itu! Lo liat orang yang tadi naik motor, kan?” Secepat kilat gue menunjuk seseorang yang gue maksud.
“Yang pakai jaket merah, celana hijau tosca, sepatu kuning, eh, bener nggak sih urutannya?”
“Pokoknya yang tadi itu, deh. Gue juga nggak bisa inget saking banyak warnanya.”
Kirana terdiam selama beberapa saat, sedetik kemudian meledak lah tawanya yang membuat orang di sekitar melirik ke arah kami. Tawanya bahkan membuat kebisingan menjadi terdiam. Tetapi Kirana sepertinya nggak terlalu mempedulikan sekitarnya. Gue nggak yakin apakah cara penyampaian gue yang membuatnya tertawa, atau cara berpenampilan orang tersebut yang membuat Kirana tertawa.
“Terus, terus?” Tanyanya lagi sambil berusaha menahan tawa.
“Dia duduk di sebelah gue. Sesekali ngajak gue ngobrol, sih. Ya gue tanggepin sekenanya aja.” Jawab gue yang sebenarnya terjadi.
“Secara nggak langsung berarti dia temen pertama lo dong, ya.”
“Nggak. Nggak kayak gitu. Gue cuman nanggepin apa yang dia omongin.” Ucap gue gelagapan dan malah membuat Kirana kembali tertawa.
Her name is…
Acara baru selesai pukul setengah dua siang ketika matahari sedang terik-teriknya. Acara yang awalnya gue perkirakan hanya berupa perbekalan awal sebelum masa orientasi sebenanrya ternyata lebih lama dari yang gue duga. Untuk perekenalan saja butuh waktu lebih dari satu jam sampai semuanya memperkenalkan diri. Setelah itu dilanjutkan dengan hal ini dan itu sebagai tetek bengeknya.
Saat senior yang memandu acara mengatakan acara hari itu selesai dan sampai bejumpa di hari senin gue menunggu selama beberapa saat untuk keluar dari kelas. Sengaja karena gue yakin calon mahasiswa baru lainnya ingin buru-buru untuk keluar kelas. Ketika suasana terasa lebih kondusif gue berdiri dari tempat duduk dan menyelempangkan tas di pundak.
Udara di luar sangat terasa pengap dan lembab. Sangat kontras terasa jika dibandingkan dengan udara kering dan dingin yang ada di dalam kelas. Langit terlihat bersih dari awan. Sementara itu angin silir berganti menerjang tubuh gue yang sedang berusaha menyesuaikan perubahan suhu. Bukan angin yang membawa suasana sejuk, melainkan suhu panas yang terasa sampai ke tulang.
Seperti yang gue duga, suasana di luar kelas dan di lorong - lorong gedung sudah nggak terlalu ramai. Memang nggak bisa disebut sepi juga, setidaknya nggak sampai tersendat ketika turun tangga seperti saat gue baru datang. Beberapa mahasiswa baru seperti gue memilih untuk bersantai sambil bersenda gurau dengan kenalan baru mereka di sepanjang lorong. Nggak dapat gue pastikan apa yang sedang mereka perbincangkan tetapi sepertinya cukup menarik untuk mereka semua. Seandainya ada satu atau dua orang yang gue kenal pasti akan lebih mudah untuk bergabung bersama mereka. Seandainya.
Gue berjalan menuruni anak tangga sambil memasukkan kedua pergelangan tangan ke dalam saku hoodie. Di setiap lantai yang gue lewati juga masih banyak mahasiswa-mahasiswa baru seperti gue yang masih berkumpul dengan teman baru mereka. Sepertinya ini adalah pemandangan yang wajar nantinya ketika perkuliahan yang sebenarnya dimulai. Sejujurnya gue merasa iri dengan mereka yang mudah bergaul dengan orang lain. Bagaimana cara mereka berinteraksi dengan orang lain tanpa membuat canggung. Tentang perbincangan yang mereka lakukan dan bisa dinikmati oleh semua.
Gue sendiri mengakui kalau gue sedikit selektif dalam memilih teman. adakalanya ketika gue terlalu memikirkan tentang anggapan orang lain tentang kelompok pertemanan yang gue masuki dan akan berimbas pada bayangan orang lain tentang diri gue. seperti ada sensor tersendiri ketika gue benar-benang nggak menginginkan dikelilingi oleh orang-orang yang gue inginkan. Tapi jika sudut pandang dirubah kepada lingkaran orang-orang yang gue inginkan, apakah kehadiran gue mereka inginkan. Bisa jadi gue adalah definisi yang mereka anggap sebagai orang aneh. Pemikiran seperti itu terus berkecamuk dalam kepala gue setiap kali berada di sekitar orang asing.
Tiba di lantai dasar gue terus berjalan menuju plaza di dekat gerbang, tiba-tiba awan mendung datang. Awan mendung yang belum terlalu kelabu tetapi cukup untuk menghalangi sinar matahari. Meskipun belum ada tanda-tanda hujan akan segera turun, namun yang namanya perubahan yang mendadak tetap terasa mengejutkan. Padahal beberapa saat lalu teriknya sinar matahari masih bisa terasa jelas. Belum lagi angin kencang yang membawa udara pengap yang menandakan hujan akan turun. Setidaknya sore nanti. Mungkin.
Telepon genggam gue berbunyi tanda pesan masuk. Gue segera mengeluarkannya dari saku celana dan melihat siapa yang mengirim pesan melalui layar sentuh telepon genggam. Nama Cindy terlihat sebagai si pengirim pesan, kemudian ia menanyakan apakah gue membawa kendaraan atau enggak. Buru-buru gue membalas pesannya kalau gue lagi nggak membawa kendaraan dan pulang menggunakan angkutan umum. Setelah itu nggak ada pesan balasan.
Sekilas tentang Cindy, ia adalah teman gue dari sekolah menengah atas. Kami sempat berada di kelas yang sama saat kelas sebelas, kemudian ditempatkan di kelas yang berbeda pada tahun ajaran berikutnya. Sekarang kami memasuki kampus yang sama meskipun beda jurusan.
Gue segera menuju mini market tempat gue menunggu tadi pagi alih-alih langsung pulang. Di sisi depan masih ada tempat kosong yang setidaknya bisa diisi oleh dua orang yang berdiri. Gue langsung mengeluarkan satu batang rokok lalu mengeluarkannya lalu menghisapnya.
Seketika ada seorang perempuan yang mengisi tempat kosong di sebelah gue tanpa permisi maupun izin. Memang nggak diperlukan juga karena ini tempat umum. Tapi setidaknya kalau mengikuti adab yang berlaku di negara ini ia harus mengucapkan permisi. Namun ketika mengetahui siapa perempuan yang berada di sebelah gue, gue nggak terlalu memperdulikan hal tersebut lagi.
“Hey!” Sapanya saat berada di sebelah gue. Perempuan tersebut adalah perempuan yang meminjam korek dari gue pagi ini. Perempuan dengan tahi lalat di sudut bawah matanya.
“Hey.”
“Dari tadi gue panggil tapi lo nggak dengar kayaknya.”
Gue mencoba mengingat suara yang berusaha memanggil gue sebelumnya, namun banyaknya kerumunan orang membuat gue nggak mendengarnya. “Sorry, gue nggak denger tadi. Mungkin gue kira orang lain yang dipanggil.”
“Iya juga, sih. Emang rame banget dimana-mana.”
“Kenapa nggak panggil nama gue aja?” Tanya gue sambil mengeluarkan asap rokok. Namun yang terjadi setelahnya adalah ketenangan di antara kita berdua.
Gue berusaha mencari alasan kenapa membuat ia terdiam. Dalam kurun waktu yang singkat otak gue bekerja keras untuk berpikir kesalahan apa yang mungkin gue perbuat. Apakah intonasi nada yang gue ucapkan terdengar terlalu kasar sehingga ia merasa nggak nyaman. Atau mungkin gue sudah melontarkan pertanyaan yang seharusnya nggak gue tanyakan.
Kemudian seolah mengingat sesuatu yang penting, senyum di bibir gue mulai mengembang. Bagaimana mungkin gue bisa melupakan hal dasar yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang baru saling mengenal. Gue berusaha menahan tawa akibat kebodohan gue, namun ketika melihat senyum yang juga mengembang di wajah perempuan yang berada di hadapan gue, tawa kami berdua pecah sampai-sampai menarik perhatian orang di sekitar. Sadar sudah mengganggu kenyamanan sekitar, gue dan perempuan itu berusaha menjaga sikap.
“Kita belum kenalan, ya?” Tanyanya dengan senyuman yang nggak bisa disembunyikan.
“Iya, gue sampe lupa. Padahal tadi pagi kita sempet ngobrol.”
Dengan sigap ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tangan yang kecil dan ditumbuhi rambut-rambut haus. Di ruas jari tengahnya terdapat cincin perak yang mengkilap. Kemudian gue menyambut uluran tangannya dengan sigap namun selembut mungkin. Di tengah pengapnya udara, cincin perak yang ia kenakan terasa dingin di kulit gue.
“Nama gue Kirana. Temen-temen gue sih biasa manggil Kiran.”
“Gue Treya, biasa dipanggil nengok.”
Mendengar lelucon yang gue lontarkan, Kirana kembali tertawa. Kali ini ia berusaha menutup tawanya dengan tangan kiri selagi kita berjabat tangan. “Tapi tadi lo gue panggil nggak nengok tuh.”
“Bener juga sih.” Kini giliran gue yang tertawa mendengar ucapannya seraya melepaskan jabat tangan yang kita lakukan. “By the way, tadi ada apa sampe manggil gue?”
“Gapapa, sih. Biar ada barengan aja.”
Kemudian kesunyian kembali hadir di antara gue dan Kirana, sosok perempuan yang namanya baru gue ketahui beberapa saat yang lalu. Jujur saja, gue nggak punya banyak pengalaman ketika dihadapkan dengan seorang perempuan. Jangankan perempuan yang belum gue kenal, dengan yang bisa dibilang sebagai teman pun gue nggak tahu harus berbicara dan bersikap seperti apa. Gue ingat kalau Kirana nggak memiliki korek api untuk merokok. Jadi gue mengeluarkan korek api dari dalam saku celana lalu menawarkan kepadanya untuk memecahkan kesunyian.
“Boleh.” Ucapnya seraya mengeluarkan bungkus rokok dari tasnya diiringi dengan senyum yang nggak gue mengerti arti di baliknya.
Kirana nggak langsung mengambil korek dari tangan gue, melainkan lantas menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya. Mengerti apa yang diinginkan, gue menyalakan korek untuk membakar rokok yang kini sudah terselip di bibirnya.
“Gimana tadi pengarahan ospeknya?” Tanya gue ke Kirana. Lalu mengikuti jejaknya untuk merokok.
“Nggak seru seniornya.”
Gue merasa terkejut dengan jawaban dari Kirana barusan. Biasanya orang yang baru saling mengenal dan diajukan pertanyaan basa-basi akan menjawabnya dengan jawaban normatif. Tapi kelihatannya Kirana bukan orang yang suka menjawab dengan jawaban normatif. Terlebih lagi dengan intonasi suara yang terkesan kesal.
“Kenapa emangnya?”
“Sok asik gitu deh seniornya.” Ucapnya gemas sambil membenarkan posisi rambutnya yang terjatuh di wajah. “Baru sehari tapi udah keganjenan sama anak baru.”
“Emang lo sampe diajak kenalan gitu?”
“Mending kalau cuman diajak kenalan, orang sampe minta nomer hp, instagram. Bahkan ada yang langsung ngajak jalan juga loh.”
“Masa sih, gerak cepet banget orang-orang.”
“Mangkanya, gue juga nggak ngerti.” Seolah merasa dirinya terbawa suasana, buru-buru ia mengambil nafas dan kembali menghisap rokok yang tersisa setengah. “Sorry ya, gue jadi heboh sendiri.”
Gue tertawa terkikir melihat perubahan sikapnya secara drastis. “Gapapa kok.”
“Gue pasti keliatan bacot banget, ya?” Tanyanya dengan nada memelas.
“Gue malah senang dibacotin.”
“Terus,” Kirana Mengambil jeda. “Lo sendiri gimana tadi? Ada kejadian apa di kelas?”
“Nggak ada apa-apa kok, kayaknya normal aja.”
“Masa, sih?”
Gue mencoba megingat-ingat apa saja yang terjadi selama di kelas. “Oh, ada,” sahut gue bersemangat seolah melupakan sesuatu yang penting. “Tadi di kelas gue ada orang yang pakai bajunya aneh banget.”
“Aneh gimana?”
“Gimana, ya, pokoknya semua warna yang dia pakai nggak ada yang nyambung deh.”
“Maksudnya?”
Lalu tiba-tiba seseorang yang gue maksud lewat di hadapan kami dengan sepeda motornya. Gue nggak begitu yakin mengapa orang tersebut masih ada di sekitar sini. Padahal gue yakin dia adalah salah satu orang yang keluar kelas terlebih dahulu. Mungkin dia berkumpul dengan orang-orang kelas lainnya sesaat setelah keluar kelas.
“Itu! Lo liat orang yang tadi naik motor, kan?” Secepat kilat gue menunjuk seseorang yang gue maksud.
“Yang pakai jaket merah, celana hijau tosca, sepatu kuning, eh, bener nggak sih urutannya?”
“Pokoknya yang tadi itu, deh. Gue juga nggak bisa inget saking banyak warnanya.”
Kirana terdiam selama beberapa saat, sedetik kemudian meledak lah tawanya yang membuat orang di sekitar melirik ke arah kami. Tawanya bahkan membuat kebisingan menjadi terdiam. Tetapi Kirana sepertinya nggak terlalu mempedulikan sekitarnya. Gue nggak yakin apakah cara penyampaian gue yang membuatnya tertawa, atau cara berpenampilan orang tersebut yang membuat Kirana tertawa.
“Terus, terus?” Tanyanya lagi sambil berusaha menahan tawa.
“Dia duduk di sebelah gue. Sesekali ngajak gue ngobrol, sih. Ya gue tanggepin sekenanya aja.” Jawab gue yang sebenarnya terjadi.
“Secara nggak langsung berarti dia temen pertama lo dong, ya.”
“Nggak. Nggak kayak gitu. Gue cuman nanggepin apa yang dia omongin.” Ucap gue gelagapan dan malah membuat Kirana kembali tertawa.
unhappynes dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup
