- Beranda
- Stories from the Heart
Mencintai Duda Kampungan (18+)
...
TS
adnanami
Mencintai Duda Kampungan (18+)
Mencintai Duda Kampungan
Dulu aku selalu berpikir bahwa pria berstatus duda bukanlah seseorang yang pantas untuk dijadikan pendamping. Namun sayang, kenyataan hidup membawaku pada kisah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Tuhan mempertemukan aku dengan Reza Yoga, teman lamaku yang sudah empat tahun terakhir menghilang entah kemana. Kita bertemu di kereta tujuan Bandung - Jakarta di gerbong nomor 4.
Pagi itu, aku duduk di bangku 4 A dengan memakai setelan jas warna abu - abu aku duduk seorang diri. Di stasiun selanjutnya, kereta ini berhenti. Naiklah seorang pria muda bermasker dan duduk tepat di depan seatyang kutempati.
Pria ini memakai sepatu panthofel hitam, senada dengan celananya dan juga jas outer warna cokelat muda. Kutatap wajahnya yang hanya terlihat area mata yang ditutupi kacamata bening. Aku seperti tidak asing dengan bentuk matanya yang sipit itu.
Aku mengabaikannya, "sepertinya hanya mirip, " pikirku.
Tak disangka telepon genggam pria itu berdering. Dia mengangkatnya dan berbicara dengan seseorang yang sepertinya adalah bosnya. Kudengar suara itu. Sepertinya aku mengenalinya.
Aku menampik batinku yang seolah - olah mengenal pria di depanku. Tiba - tiba perutku berbunyi.
Kruuuuk....
Ah, aku lapar. Memang, tadi belum sempat sarapan karena harus mengejar jadwal keberangkatan kereta ini pada pukul 6 pagi. Untungnya aku membawa roti di dalam tas jinjingku yang berwarna cokelat ini.
Kukeluarkan roti demi mengganjal perutku yang sudah keroncongan. Kusobek bungkusnya dan kubuka maskerku. Belum sempat aku melahapnya, pria di depanku sudah memanggil namaku dengan benar.
"Nindy?" tanya pria bermasker itu.
Aku ternganga, tak jadi menggigit roti itu. Melihat ke arah pria di depanku dan bertanya, "Siapa ya?".
Pria ini membuka maskernya. Di balik masker itu tersungging senyum lebar yang tulus. "Aku Reza, masih ingat kan?" tanyanya padaku.
Aku tak percaya, ternyata dia teman lamaku semasa sekolah. Wajahnya kini telah berubah banyak. Pipinya yang dulu mulus kini telah ditumbuhi jambang, kumis dan brewok yang cukup tebal.
"Hai? Ya ampun, aku nggak tau lho kalau ini tadi kamu. Aku masih inget lah! Dulu kan kita pernah duduk satu bangku," ucapku sambil kemudian menggigit roti yang sudah dari tadi aku ingin lahap.
Reza banyak bercerita dan bernostalgia soal masa lalu kita saat masih duduk sebangku. Lalu tibalah pada satu percakapan mengenai statusku.
"Kamu sudah nikah?" tanya dia penasaran.
"Belum, kamu?" kataku balik bertanya.
"Aku baru saja menikah bulan Maret tahun lalu... tapi sekarang sudah duda," kata Reza.
"Whattt duda?" kataku dalam hati.
Obrolan kita lalu terhenti ketika Reza akan turun di stasiun selanjutnya, kita sudah saling bertukar nomor Whatsapp. Sejak hari itu, kita kian dekat dan aku tak bisa mengontrol hatiku.
Hati yang konon kata pria yang telah mendekatiku sangat kolot dan susah untuk dimasuki... Hati yang sudah diukir oleh luka karena ulah para lelaki. Tapi kini, aku tak kuasa mengendalikan jalannya hati ini.
Mulanya biasa saja tapi intensitas komunikasi yang sering diiringi dengan lelucon recehnya yang sangat menghibur, membuatku tak berhenti memikirkan dia, Reza Yoga.
Bersambung...
Bab 2: Permintaan Random pada Tuhan
Bab 3: Bahas Nikah dengan Duda
Bab 4: Flash Back
Bab 5: Istikharah Cinta
Bab 6: Kepastian yang Ditunggu
Bab 7: Ajakan Tidur Sekamar
Bab 8: Rayuan Maut Buaya Darat
Bab 9: Test Drive
Bab 10: Pendapat Ibu
Bab 11: Alergi Masuk Mall
Bab 12: Backstreet
Bab 13: Mencari Alamat dan Kebenaran
Bab 14: Balas Budi Orang yang Didoakan
Bab 15: Tes Kejujuran
Bab 16: Restu Ibu
Bab 17: Antara Aku, Adit dan Reza
Bab 18: Teman Adit yang Kepo
Bab 19: Pacar Adit
Bab 20: Double Date
Bab 21: Klarifikasi Nindy
Bab 22: Rahasia Sovia Terbongkar
Bab 23: Perasaan Adit
Bab 24: Kisah Nindy dan Reza yang Ingin Diketahui Bobby
Bab 25: Video Bobby Viral di Mess TNI
Bab 26: Ucapan Selamat dari Adit
Bab 27: Kemesraan di kolam renang
Bab 28: Titip Rindu buat Ayah
Bab 29: Ciuman Perpisahan
Bab 30: Siapa Temennya Adit?
Bab 31: Bahas Mantan dengan Gebetan, Ketahuan Pacar
Bab 32: Pacar Ngambek... Eh Malah Ketemu Mantan
Bab 33: Sisa Rasa untuk Mantan
Bab 34: Ketika Mantan, Kekasih dan Gebetan Tinggal di Satu Atap yang Sama
Bab 35: Kencan dengan Bobby Naik Motor Mantan Pacar
Bab 36: Cinta Segitiga di Bandara
Bab 37: Ketahuan Pelukan
Bab 38: Meluluhkan Hati Mama Demi Restu
Bab 39: Tawaran Perjodohan
Bab 40: Kecelakaan Tak Terduga
Bab 41: Malaikat Penolong
Bab 42: Kedok Sang Mantan
Bab 43: Kebohongan Reza yang Tercium Oleh Budenya
Bab 44: Peringatan Calon Mertua
Bab 45: Nama Gadis yang Sama di Dalam Hati Dua Pria
Bab 46: Ditolak Calon Mertua, Diterima Ortu Gebetan
Bab 47: Mempertaruhkan Nasib di Bandung
Bab 48: Patah Hati Terhebat
Bab 49: Pulang dengan Air Mata
Bab 50: Hubungan Kandas
Bab 51: Pria Berseragam TNI di Depan Rumahku
Bab 52: Pak Darmo Pengen Punya Menantu
Bab 53: Reza Disidang Bapaknya
Bab 54: Respon Adit
Bab 55: Pak Darmo Cari Istri Apa Calon Mantu?
Bab 56 : Rahasia Duda Kampungan
Bab 57 : Jodoh untuk Adit
Bab 58 : Yang Lama Terpendam Akhirnya Diungkapkan
Bab 59: Gara - Gara Bubur Ketan Hitam
Bab 60 : SIKAT!!!
Bab 61: Sandiwara Adit
Bab 62 : Peningset Nindy
Bab 63 : Malam Mingguan dengan Duda Kampungan
Bab 64 : Godaan Menjelang Pertunangan
Bab 65: Diculik Duda Kampungan
Bab 66: Nindy Dibawa Kemana?
Bab 67 : Diajak Sewa Kamar Lagi
Bab 68 : Adit dan Firasat Cintanya
Bab 69 : Musuh dalam Selimut
Bab 70 : Tukar Jodoh si Adik Kakak
Bab 71 : Teka - Teki Dekorasi Lamaran
Bab 72 : Obrolan Renatta dan Anang
Bab 73 : Pacar Baru Duda Kampungan
Bab 74 : Jodoh untuk Masing - Masing Kita
Bab 75 : Who is Mr.S?
Bab 76 : Menyusul Calon Suami dan Diawasi Seseorang
Bab 77 : Mencuri Start Sebelum Malam Pertama?
Bab 78 : Ada Hati yang Teriris di Balik Wajah Kawan yang Meringis
Bab 79 : Teka - Teki Cinta
Bab 80 : Keraguan yang Datang tanpa Permisi
Bab 81 : Kehidupan Pria yang Mengintai Nindy
Bab 82 : Antara Sop Buah, Jodoh Seiman dan Adik Tirinya
Bab 83: Alhamdulillah SAH
Bab 84 : Teriakan di Malam Pertama
Bab 85 : Nikmatnya Malam Kedua
Bab 86 : Nasib 2 Wanita yang Menjalani Hubungan dengan Duda Kampungan
Bab 87 : Pamit ke Mantan dan Kenangannya
Bab 88 : Sisa Rasa di dalam Hati Mantan Pacar
Bab 89 : Terpikat Tutur Si Duda Kampungan
Bab 90 : Tidak Ada Fuckboy yang Bisa Dipercaya
Bab 91 : Kehamilan Halal dan Haram
Bab 92: April Ketahuan Hamil, Adrian Tak Tinggal Diam
Bab 93: Gara - Gara Tespack Garis Dua
Bab 94: Karma untuk Duda Kampungan
Bab 95 : Pembalasan Dendam April
Bab 96 : Tangisan Hati sang Duda Kampungan
Bab 97 : Neraka untuk Reza
Bab 98 : Vonis Hakim yang Dinantikan April
Bab 99: Sang Duda Insecure
Bab terakhir : Sang Dewa (TAMAT)
Follow instagram TS @_adnanami untuk mendapatkan update terbaru thread SFTH ini
Diubah oleh adnanami 13-09-2022 10:42
pintokowindardi dan 70 lainnya memberi reputasi
67
78.9K
1.7K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adnanami
#127
Ciuman Perpisahan
Hari berganti, kepulanganku ke Semarang semakin dekat. Sedih rasanya harus meninggalkan Bobby di sini. Entah kapan kita akan bertemu lagi. Aku ingin membuat banyak kenangan bersamanya.
"Gimana kalo besok ke sini? Ajakin Anang sama Bobby," usul Renatta sambil menunjukkan foto tempat wisata di Palembang.
"Bentar, gue nanya dia dulu, bisa nggak mereka barengan? Kan jadwal kerjanya nggak sama," kataku.
"Kita jangan sampe lupa ke pusat oleh - oleh Palembang ya! Kurang dua hari lagi nih... gue juga udah cek jadwal pesawat, adanya siang yang tanggal 9 besok," ucap Renatta.
"Iya, nggak bakal lupa," kataku.
Aku whatsapp Bobby:
"Sayang, besok kamu sama Anang jadwal kosongnya barengan nggak? Ini si Rena ngajakin main berempat," tanyaku.
Bobby membalas, "Kebetulan besok Anang kosong pagi, kalo aku libur seharian".
"Pas banget...," balasku.
***
Anang dan Bobby menjemput kita di kos pukul 8 pagi. Anang tak bisa lama - lama karena dia harus dinas pukul 1 siang. Otomatis nanti dia dan Renatta akan balik duluan.
Kita berempat berkencan seperti biasa, mengunjungi tempat wisata, berfoto, makan bersama dan ngobrol sambil bercanda. Semua momen ini begitu menggembirakan. Aku tidak pernah bisa melupakan kenangan itu.
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. Anang was - was, berulangkali dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gue kayaknya nggak bisa lama - lama nih, jam 1 masuk soalnya. Gimana kalo gue anterin lo dulu, Ren?" tanya Anang ke Renatta.
"Iya, ayuk!" kata Renatta sambil menenteng tas dan beberapa oleh - oleh khas Palembang.
Anang dan Renatta kembali terlebih dahulu ke kos dan asrama TNI. Sedangkan aku dan Bobby masih menikmati suasana Palembang di sini.
Tak lama kemudian, Bobby membahas film terbaru yang seru dan sedang tayang di bioskop. Dia mengajakku nonton supaya bisa pulang sore.
"Gabut banget di mess kalo balik jam segini, gimana kalo kita nonton, yang?" tanya Bobby.
"Boleh, liat dulu jadwal tayangnya jam berapa!" usulku.
"Bentar lagi nih, ya udah langsung ke sana aja yuk!" ajak Bobby.
Aku kemudian dibonceng Bobby ke gedung bioskop Palembang yang belum pernah aku kunjungi. Dengan gentle, dia menggandengku kemanapun aku pergi.
Senyum Bobby tak pernah lepas dari wajah tampannya. Dia ke loket untuk beli tiket. Setelah itu kita langsung masuk ke bioskop dan duduk dengan tenang berdua sambil menunggu film diputar.
Tak selang berapa lama, lampu bioskop dimatikan. Suasananya gelap dan hening, hanya sinar dari layar bioskop yang menerangi ruangan ini. Bobby tiba - tiba menggenggam tanganku.
Aku menatap wajahnya di dalam ruangan yang remang - remang ini. Lagi - lagi dia tersenyum dengan senyuman termanisnya.
Film mulai diputar, aku menikmati film ini. Sebuah drama romantis yang memperlihatkan tentang perjuangan dua orang yang tak direstui.
Bobby tiba - tiba berbisik, dekat sekali di telingaku: "Nah... itu baru namanya hubungan yang sehat, dua - duanya saling berjuang, bukan salah satu aja!"
Aku menatap Bobby sambil tersenyum, dia memandangku begitu dalam. Wajahnya kian mendekat ke wajahku. Dan mataku terpejam tatkala bibir Bobby menempel ke bibirku dengan begitu cepatnya. Kita berciuman di tengah gelapnya ruangan yang berisi banyak orang ini.
Kurasakan detak jantungku yang mulai memacu lebih cepat. Lembut dan basah terasa di bibir... parfum yang dipakai Bobby sangat terekam dalam memoriku. Baunya menjadi lebih nyata saat ini.
Tanpa sadar, tanganku memegang rambut Bobby. Kita menikmati ciuman itu cukup lama. Bibir kita saling berpagutan, awalnya pelan... tapi lama - lama menjadi semakin panas dan cepat.
Tak kusangka jika Bobby adalah seorang pencium yang hebat. Aku dibuat terkesan dengan kemampuannya. Meski bagiku ini semua terlalu cepat untuk dilakukan.
Handphone Bobby bergetar... dia pun tersadar dari kenikmatan terlarang yang membuat kita berdua khilaf. Dia melepaskan pelukannya dan menghentikan ciumannya.
Dia melihat handphonenya, seperti ada sesuatu yang penting. Bobby diam, melanjutkan menonton film hingga selesai. Hari itu, adalah hari dimana perasaanku pada Bobby mulai tumbuh. Hanya karena ciumannya yang hebat, aku bisa dibuat segila ini!
Aku pulang dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirku. Di atas motor, aku memeluk dia erat sekali, rasanya ingin selalu seperti ini, tidak ingin kembali.
Sepulang kencan, aku bercerita pada Renatta betapa romantisnya Bobby. Renatta yang sirik dengan apa yang baru saja kualami, dia hanya meledekku dengan candaan recehnya.
***
Waktu berlalu begitu cepat, siang ini, aku akan kembali ke Semarang. Paginya, Adit menghubungiku lagi untuk menitipkan barang yang akan diberikan pada Bapaknya.
"Mbak, ini enaknya gimana? aku kalo ke kosan sana nggak enak sama Bobby," kata Adit.
"Ya kamu ke sini aja sama Bobby sekalian Dit, Anang sibuk kayaknya. Bilang aja mau nitip sesuatu buat keluargamu yang di Semarang, santai aja, Bobby bakalan ngerti kok!" balasku.
"Oh... gitu, ya udah," balas Adit.
Pukul 11, Adit dan Bobby datang untuk mengantarkan kami ke bandara. Aku sangat sedih meninggalkan pacarku di sini. Aku memeluknya begitu erat di depan Adit dan Renatta. Mataku berkaca - kaca seolah - olah ini adalah terakhir kalinya aku bisa melihat kekasihku.
"Salam buat Anang ya... Bob... Dit!" ucap Renatta sambil salaman dengan dua cowok itu.
"Iya, nanti kita sampaikan, hati - hati ya!" kata Adit pada kami berdua.
Bobby mencium keningku, melihatku dengan wajah sedih dan penuh rasa kehilangan.
Aku dan Renatta langsung check in di bandara. Enam puluh menit kemudian pesawat yang kami tumpangi akan segera lepas landas meninggalkan Palembang.
Dua minggu di Palembang sangat berkesan bagiku. Banyak cerita yang jadi kenangan selama di sini. Akhirnya semua ini harus berakhir secepat itu.
Beberapa jam kemudian, aku dan Renatta sudah sampai di Semarang. We are back to the reality!
Kubawa semua barang bawaan beserta oleh - oleh dari Palembang, termasuk titipan Adit. Aku dan Renatta berpisah di bandara. Dia memesan taksi untuk pulang ke rumahnya yang agak jauh dari tempat tinggalku.
Aku pulang naik taksi online, kuhempaskan semua rasa lelahku begitu sampai di rumah. Saat melihat barang titipan Adit, aku berpikir untuk memberikan pada Bapaknya besok pagi saja, menunggu jam kerja agar tak bertemu dengan Reza Yoga.
***
Keesokan harinya
Aku menuju alamat rumah Reza Yoga pukul 9 pagi. Aku yakin dia tidak akan ada di rumahnya karena dia masuk kantor jam 7. Begitu sampai di gang, aku memarkir motorku di luar. Aku berjalan menuju gang dimana dulu aku melihat Bapaknya Reza masuk.
Dari kejauhan, aku melihat Bu Ida. Langkahku terhenti sejenak... menunggu dia masuk rumah dan berharap agar dia tak melihatku. Kurapatkan masker yang kupakai untuk menutupi wajahku agar beliau tak mengenaliku.
Kemudian...
Bersambung ke Bab 30
"Gimana kalo besok ke sini? Ajakin Anang sama Bobby," usul Renatta sambil menunjukkan foto tempat wisata di Palembang.
"Bentar, gue nanya dia dulu, bisa nggak mereka barengan? Kan jadwal kerjanya nggak sama," kataku.
"Kita jangan sampe lupa ke pusat oleh - oleh Palembang ya! Kurang dua hari lagi nih... gue juga udah cek jadwal pesawat, adanya siang yang tanggal 9 besok," ucap Renatta.
"Iya, nggak bakal lupa," kataku.
Aku whatsapp Bobby:
"Sayang, besok kamu sama Anang jadwal kosongnya barengan nggak? Ini si Rena ngajakin main berempat," tanyaku.
Bobby membalas, "Kebetulan besok Anang kosong pagi, kalo aku libur seharian".
"Pas banget...," balasku.
***
Anang dan Bobby menjemput kita di kos pukul 8 pagi. Anang tak bisa lama - lama karena dia harus dinas pukul 1 siang. Otomatis nanti dia dan Renatta akan balik duluan.
Kita berempat berkencan seperti biasa, mengunjungi tempat wisata, berfoto, makan bersama dan ngobrol sambil bercanda. Semua momen ini begitu menggembirakan. Aku tidak pernah bisa melupakan kenangan itu.
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. Anang was - was, berulangkali dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gue kayaknya nggak bisa lama - lama nih, jam 1 masuk soalnya. Gimana kalo gue anterin lo dulu, Ren?" tanya Anang ke Renatta.
"Iya, ayuk!" kata Renatta sambil menenteng tas dan beberapa oleh - oleh khas Palembang.
Anang dan Renatta kembali terlebih dahulu ke kos dan asrama TNI. Sedangkan aku dan Bobby masih menikmati suasana Palembang di sini.
Tak lama kemudian, Bobby membahas film terbaru yang seru dan sedang tayang di bioskop. Dia mengajakku nonton supaya bisa pulang sore.
"Gabut banget di mess kalo balik jam segini, gimana kalo kita nonton, yang?" tanya Bobby.
"Boleh, liat dulu jadwal tayangnya jam berapa!" usulku.
"Bentar lagi nih, ya udah langsung ke sana aja yuk!" ajak Bobby.
Aku kemudian dibonceng Bobby ke gedung bioskop Palembang yang belum pernah aku kunjungi. Dengan gentle, dia menggandengku kemanapun aku pergi.
Senyum Bobby tak pernah lepas dari wajah tampannya. Dia ke loket untuk beli tiket. Setelah itu kita langsung masuk ke bioskop dan duduk dengan tenang berdua sambil menunggu film diputar.
Tak selang berapa lama, lampu bioskop dimatikan. Suasananya gelap dan hening, hanya sinar dari layar bioskop yang menerangi ruangan ini. Bobby tiba - tiba menggenggam tanganku.
Aku menatap wajahnya di dalam ruangan yang remang - remang ini. Lagi - lagi dia tersenyum dengan senyuman termanisnya.
Film mulai diputar, aku menikmati film ini. Sebuah drama romantis yang memperlihatkan tentang perjuangan dua orang yang tak direstui.
Bobby tiba - tiba berbisik, dekat sekali di telingaku: "Nah... itu baru namanya hubungan yang sehat, dua - duanya saling berjuang, bukan salah satu aja!"
Aku menatap Bobby sambil tersenyum, dia memandangku begitu dalam. Wajahnya kian mendekat ke wajahku. Dan mataku terpejam tatkala bibir Bobby menempel ke bibirku dengan begitu cepatnya. Kita berciuman di tengah gelapnya ruangan yang berisi banyak orang ini.
Kurasakan detak jantungku yang mulai memacu lebih cepat. Lembut dan basah terasa di bibir... parfum yang dipakai Bobby sangat terekam dalam memoriku. Baunya menjadi lebih nyata saat ini.
Tanpa sadar, tanganku memegang rambut Bobby. Kita menikmati ciuman itu cukup lama. Bibir kita saling berpagutan, awalnya pelan... tapi lama - lama menjadi semakin panas dan cepat.
Tak kusangka jika Bobby adalah seorang pencium yang hebat. Aku dibuat terkesan dengan kemampuannya. Meski bagiku ini semua terlalu cepat untuk dilakukan.
Handphone Bobby bergetar... dia pun tersadar dari kenikmatan terlarang yang membuat kita berdua khilaf. Dia melepaskan pelukannya dan menghentikan ciumannya.
Dia melihat handphonenya, seperti ada sesuatu yang penting. Bobby diam, melanjutkan menonton film hingga selesai. Hari itu, adalah hari dimana perasaanku pada Bobby mulai tumbuh. Hanya karena ciumannya yang hebat, aku bisa dibuat segila ini!
Aku pulang dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirku. Di atas motor, aku memeluk dia erat sekali, rasanya ingin selalu seperti ini, tidak ingin kembali.
Sepulang kencan, aku bercerita pada Renatta betapa romantisnya Bobby. Renatta yang sirik dengan apa yang baru saja kualami, dia hanya meledekku dengan candaan recehnya.
***
Waktu berlalu begitu cepat, siang ini, aku akan kembali ke Semarang. Paginya, Adit menghubungiku lagi untuk menitipkan barang yang akan diberikan pada Bapaknya.
"Mbak, ini enaknya gimana? aku kalo ke kosan sana nggak enak sama Bobby," kata Adit.
"Ya kamu ke sini aja sama Bobby sekalian Dit, Anang sibuk kayaknya. Bilang aja mau nitip sesuatu buat keluargamu yang di Semarang, santai aja, Bobby bakalan ngerti kok!" balasku.
"Oh... gitu, ya udah," balas Adit.
Pukul 11, Adit dan Bobby datang untuk mengantarkan kami ke bandara. Aku sangat sedih meninggalkan pacarku di sini. Aku memeluknya begitu erat di depan Adit dan Renatta. Mataku berkaca - kaca seolah - olah ini adalah terakhir kalinya aku bisa melihat kekasihku.
"Salam buat Anang ya... Bob... Dit!" ucap Renatta sambil salaman dengan dua cowok itu.
"Iya, nanti kita sampaikan, hati - hati ya!" kata Adit pada kami berdua.
Bobby mencium keningku, melihatku dengan wajah sedih dan penuh rasa kehilangan.
Aku dan Renatta langsung check in di bandara. Enam puluh menit kemudian pesawat yang kami tumpangi akan segera lepas landas meninggalkan Palembang.
Dua minggu di Palembang sangat berkesan bagiku. Banyak cerita yang jadi kenangan selama di sini. Akhirnya semua ini harus berakhir secepat itu.
Beberapa jam kemudian, aku dan Renatta sudah sampai di Semarang. We are back to the reality!
Kubawa semua barang bawaan beserta oleh - oleh dari Palembang, termasuk titipan Adit. Aku dan Renatta berpisah di bandara. Dia memesan taksi untuk pulang ke rumahnya yang agak jauh dari tempat tinggalku.
Aku pulang naik taksi online, kuhempaskan semua rasa lelahku begitu sampai di rumah. Saat melihat barang titipan Adit, aku berpikir untuk memberikan pada Bapaknya besok pagi saja, menunggu jam kerja agar tak bertemu dengan Reza Yoga.
***
Keesokan harinya
Aku menuju alamat rumah Reza Yoga pukul 9 pagi. Aku yakin dia tidak akan ada di rumahnya karena dia masuk kantor jam 7. Begitu sampai di gang, aku memarkir motorku di luar. Aku berjalan menuju gang dimana dulu aku melihat Bapaknya Reza masuk.
Dari kejauhan, aku melihat Bu Ida. Langkahku terhenti sejenak... menunggu dia masuk rumah dan berharap agar dia tak melihatku. Kurapatkan masker yang kupakai untuk menutupi wajahku agar beliau tak mengenaliku.
Kemudian...
Bersambung ke Bab 30
Diubah oleh adnanami 03-05-2022 02:06
omen34 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup
