- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.7K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#232
gatra 15
Quote:
SEKALI-SEKALI terdengar petir bersabung di udara. Setiap kali suaranya menggelegar memenuhi lereng Gunung Merapi. Hujan diluar seakan-akan tercurah dari langit. Pada saat malam sudah mulai merambat dan hujan yang tiba –tiba turun dengan deras. Arya Gading dan Doran justru berjalan menyusup memasuki sebuah hutan yang lebat. Keduanya tanpa ragu-ragu menerobos kegelapan, di antara pohon-pohon raksasa yang tumbuh di antara semak-semak yang pepat. Sesekali Doran mengumpat manakala ia nyaris jatuh karena tanah yang dipijaknya menjadi licin dan becek.
“ Gading tidakkah kita beristirahat dulu barang sebentar? “
Arya Gading menjawab sambil tetap terus berjalan, “ Lereng Merapi tinggal sedikit lagi Doran. Percuma kita beristirahat. Pakaian dan badan sudah basah kuyup. Aku ingin buru –buru sampai padepokan “
“ Sebenarnya apa yang terjadi Gading. Sejak kemarin aku perhatikan kau selalu gelisah dan ingin segera pulang. Apakah ada kejadian yang buruk yang sudah terjadi? “
“ Sudahlah Doran, nanti setelah sampai di padepokan kita akan tahu semuanya. Marilah, percepat langkah mu. Di depan kalau aku tidak salah ingat ada sepasang pohon randu alas yang sangat besar dan growong pada batangnya. Kata orang tempat itu ada banaspatinya”
“ Tutup mulutmu Gading. Ini di hutan rimba. Jangan bicara sembarangan “
Arya Gading tertawa, “ Percepat langkah mu atau banaspati itu menjilat kepala mu “
Sesaat kemudian mereka akan keluar dari hutan lebat itu menuju ke arah timur. Di depan mereka berdua berdiri tegak gunung Merapi yang berselimut kepekatan malam dan kepadatan butir-butir air hujan yang berjatuhan dari langit. Ketika guruh menggelegar diudara dan kilat menyambar di atas kepala mereka sekilas tampaklah jalan yang menjalur di bawah kaki-kaki mereka. Becek dan merah, diwarnai oleh tanah liat yang telah bertahun-tahun sedikit demi sedikit meluncur dari lereng-lereng bukit.
“ Tahan langkah mu Doran “
Doran terkejut serta merta ia menghentikan langkahnya. Pandangan matanya mengarah tajam kepada Arya Gading. Sebelum pemuda kurus ini membuka mulutnya. Arya Gading dengan sigap menutup mulut Doran menggunakan jari telunjuknya.
“ Kau lihat di depan sana “
Diantara dua batang pohon randu growong yang tumbuh hampir di tepi hutan itu. Arya Gading melihat sesuatu yang bergerak.
“ Banaspati…”, kata Doran tertahan.
“ Bukan, perhatikan lagi baik -baik“
Bahkan kemudian menjadi semakin jelas bagi keduanya, bahwa yang bergerak itu adalah seseorang yang sedang berdiri tegak di antara dua batang pohon randu growong itu. Orang itu sepertinya tidak lagi menghiraukan air hujan yang masih saja turun dengan derasnya. Arya Gading dan Doran melangkah surut. Sementara orang yang berdiri tegak di antara dua batang pohon randu growong itu berjalan mendekatinya. Gelap malam dan hujab lebat telah mengaburkan wajah orang itu, sehingga Arya Gading tidak dapat melihat dengan jelas. Tetapi yang nampak di matanya dalam keremangan malam adalah tubuhnya yang gagah, tinggi dan besar.
“ Siapa orang itu Gading? Sepertinya orang itu sengaja menghadang kita “
“ Sudah lupakan orang itu, jangan hiraukan kehadirannya. Kita harus secepatnya sampai di padepokan “
Arya Gading memang tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, maka Arya Gading menarik tangan Doran untuk cepat – cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Namun ketika ia melangkah menjauh, terdengar orang itu berkata, “Kau kira begitu saja kau dapat pergi orang –orang Pandan Arum?”
Arya Gading dan Doran berhenti. Sambil menghadap kearah orang itu, Arya Gading bertanya, “Apakah maksud Ki Sanak?”
“ Ternyata orang –orang padepokan Pandan Arum hanya sekumpulan pengecut “
“ Tutup mulut mu kisanak”, kali ini Doran yang menjawab.
“ Kau menghina padepokan kami. Rupanya kisanak perlu diajari bagaimana caranya menghargai orang lain “
Orang misterius itu tertawa. Tetapi, suara tertawa lelaki misterius yang tidak begitu keras itu mengandung tenaga kesaktian. Karena itu, baik Arya Gading maupun Doran pada saat itu harus mengerahkan segenap daya kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara itu. Namun demikian kesaktian orang itu yang tersalur lewat bunyi tertawa itu bagaikan jarum yang menusuk-nusuk ulu hati. Alangkah nyerinya, bahkan panas pula seperti dijilat lidah api.
“ Tutup telinga mu Doran. Orang itu memiliki Gelap Ngampar yang sempurna. Mungkin kita akan mati di tepi hutan ini “
“ Gading tidakkah kita beristirahat dulu barang sebentar? “
Arya Gading menjawab sambil tetap terus berjalan, “ Lereng Merapi tinggal sedikit lagi Doran. Percuma kita beristirahat. Pakaian dan badan sudah basah kuyup. Aku ingin buru –buru sampai padepokan “
“ Sebenarnya apa yang terjadi Gading. Sejak kemarin aku perhatikan kau selalu gelisah dan ingin segera pulang. Apakah ada kejadian yang buruk yang sudah terjadi? “
“ Sudahlah Doran, nanti setelah sampai di padepokan kita akan tahu semuanya. Marilah, percepat langkah mu. Di depan kalau aku tidak salah ingat ada sepasang pohon randu alas yang sangat besar dan growong pada batangnya. Kata orang tempat itu ada banaspatinya”
“ Tutup mulutmu Gading. Ini di hutan rimba. Jangan bicara sembarangan “
Arya Gading tertawa, “ Percepat langkah mu atau banaspati itu menjilat kepala mu “
Sesaat kemudian mereka akan keluar dari hutan lebat itu menuju ke arah timur. Di depan mereka berdua berdiri tegak gunung Merapi yang berselimut kepekatan malam dan kepadatan butir-butir air hujan yang berjatuhan dari langit. Ketika guruh menggelegar diudara dan kilat menyambar di atas kepala mereka sekilas tampaklah jalan yang menjalur di bawah kaki-kaki mereka. Becek dan merah, diwarnai oleh tanah liat yang telah bertahun-tahun sedikit demi sedikit meluncur dari lereng-lereng bukit.
“ Tahan langkah mu Doran “
Doran terkejut serta merta ia menghentikan langkahnya. Pandangan matanya mengarah tajam kepada Arya Gading. Sebelum pemuda kurus ini membuka mulutnya. Arya Gading dengan sigap menutup mulut Doran menggunakan jari telunjuknya.
“ Kau lihat di depan sana “
Diantara dua batang pohon randu growong yang tumbuh hampir di tepi hutan itu. Arya Gading melihat sesuatu yang bergerak.
“ Banaspati…”, kata Doran tertahan.
“ Bukan, perhatikan lagi baik -baik“
Bahkan kemudian menjadi semakin jelas bagi keduanya, bahwa yang bergerak itu adalah seseorang yang sedang berdiri tegak di antara dua batang pohon randu growong itu. Orang itu sepertinya tidak lagi menghiraukan air hujan yang masih saja turun dengan derasnya. Arya Gading dan Doran melangkah surut. Sementara orang yang berdiri tegak di antara dua batang pohon randu growong itu berjalan mendekatinya. Gelap malam dan hujab lebat telah mengaburkan wajah orang itu, sehingga Arya Gading tidak dapat melihat dengan jelas. Tetapi yang nampak di matanya dalam keremangan malam adalah tubuhnya yang gagah, tinggi dan besar.
“ Siapa orang itu Gading? Sepertinya orang itu sengaja menghadang kita “
“ Sudah lupakan orang itu, jangan hiraukan kehadirannya. Kita harus secepatnya sampai di padepokan “
Arya Gading memang tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, maka Arya Gading menarik tangan Doran untuk cepat – cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Namun ketika ia melangkah menjauh, terdengar orang itu berkata, “Kau kira begitu saja kau dapat pergi orang –orang Pandan Arum?”
Arya Gading dan Doran berhenti. Sambil menghadap kearah orang itu, Arya Gading bertanya, “Apakah maksud Ki Sanak?”
“ Ternyata orang –orang padepokan Pandan Arum hanya sekumpulan pengecut “
“ Tutup mulut mu kisanak”, kali ini Doran yang menjawab.
“ Kau menghina padepokan kami. Rupanya kisanak perlu diajari bagaimana caranya menghargai orang lain “
Orang misterius itu tertawa. Tetapi, suara tertawa lelaki misterius yang tidak begitu keras itu mengandung tenaga kesaktian. Karena itu, baik Arya Gading maupun Doran pada saat itu harus mengerahkan segenap daya kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara itu. Namun demikian kesaktian orang itu yang tersalur lewat bunyi tertawa itu bagaikan jarum yang menusuk-nusuk ulu hati. Alangkah nyerinya, bahkan panas pula seperti dijilat lidah api.
“ Tutup telinga mu Doran. Orang itu memiliki Gelap Ngampar yang sempurna. Mungkin kita akan mati di tepi hutan ini “
Quote:
MESKIPUN PADA saat itu Arya Gading dan Doran telah mengerahkan segala kekuatannya dan menutup telinga dengan mendekapkan telapak tangan, namun terasa tubuhnya menggigil dan semakin lama semakin kehilangan kesadaran. Tetapi, ketika Doran dan Arya Gading sudah hampir benar-benar jatuh ke dalam pengaruh suara itu, tiba-tiba orang itu hentikan tawanya.
“ Kalian pemuda –pemuda lemah. Apa yang diajarkan oleh Pandan Arum sehingga kalian betah berguru disana. Kalau aku mau mudah saja membunuh kalian berdua. Semudah membalik telapak tangan. Tapi itu tidak akan menguntungkan untukku. Kalian harus menyampaikan pesan ku ini kepada Pandan Arum atau Mahesa Branjangan. Tetapi sebelum itu aku ingin bermain –main dengan kalian barang satu sampai dua jurus”
Arya Gading yang tanggap akan keadaan tiba –tiba berpikir. Apakah orang tinggi besar yang menghadang perjalanannya ini ada sangkut pautnya dengan hilangnya kitab Lawang Pitu? Arya Gading tidak lagi berpikir terlalu jauh. Orang di depannya itu telah memasang kuda –kuda.
Arya Gading dan Doran pun segera mempersiapkan diri. Meskipun mereka masih terhitung sangat muda di umurnya yang belum juga genap tujuhbelas itu, namun Arya Gading dan Doran telah menyadap ilmu dari seorang guru yang berilmu tinggi yaitu Ki Ageng Pandan Arum. Demikianlah, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarinya lagi. Orang misterius itu bertarung melawan Arya Gading dan Doran.
Dengan garangnya orang itupun mulai menyerangnya. Serangannya mengalir tiada henti –hentinya.Tetapi Arya Gading dan Doran pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka Arya Gading dan Doran pun dengan tangkasnya telah mengelak. Bahkan dengan cepat, Arya Gading dan Doran telah membalas menyerangnya.
Tetapi orang itu pun mampu bergerak cepat pula. Serangan Arya Gading dan Doran pun sama sekali tidak menyentuhnya. Ketika Arya Gading memburunya dengan serangan berikutnya, maka orang itu justru telah membenturnya. Serangan kaki Arya Gading yang terjulur mengarah ke dada, telah ditangkis lawannya dengan kedua tangannnya yang bersilang didadanya.
Arya Gading yang belum mengetahui seberapa besar kekuatan dan tenaga lawannya telah terdorong selangkah surut. Kakinya terasa nyeri dan kesemutan. Doran pun tidak mau kalah tubuhnya dengan lincah melompat dan menerjang ke arah lelaki misterius itu. Tetapi diluar dugaan. Lawannya mampu meloncat dengan cepat. Ternyata Doran terkejut. Tetapi ia terlambat menghindar. Tangan orang itu dengan cepat menghantam perutnya.
Doran terbungkuk dan terhuyung –huyung. Pukulan orang itu keras. Isi perutnya serasa diremas -remas. Namun dengan cepat pula lawannya memegang kepalanya. Dengan kerasnya kepala Doran telah membentur lutut orang itu. Mata Doran menjadi gelap. Kepalanya serasa berputar –putar. Lantas pemuda kurus itu jatuh terkapar di tanah yang becek dan tidak ingat apa –apa lagi. Pingsan.
Arya Gading ternyata juga tergetar dan surut selangkah pula.Melihat Doran tergeletak tidak sadarkan diri.
“Kau menjadi ketakutan anak muda?” bertanya orang itu.
“Sama sekali tidak” jawab Arya Gading.
Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau benar-benar anak yang sombong. Tetapi kau akan segera menyesali kesombonganmu itu. Kau akan menyusul teman mu ini”
“Aku sudah siap apapun yang terjadi. Aku tidak peduli. Tetapi aku akan mempertahankan hidupku”, jawab Arya Gading.
“ Kalian pemuda –pemuda lemah. Apa yang diajarkan oleh Pandan Arum sehingga kalian betah berguru disana. Kalau aku mau mudah saja membunuh kalian berdua. Semudah membalik telapak tangan. Tapi itu tidak akan menguntungkan untukku. Kalian harus menyampaikan pesan ku ini kepada Pandan Arum atau Mahesa Branjangan. Tetapi sebelum itu aku ingin bermain –main dengan kalian barang satu sampai dua jurus”
Arya Gading yang tanggap akan keadaan tiba –tiba berpikir. Apakah orang tinggi besar yang menghadang perjalanannya ini ada sangkut pautnya dengan hilangnya kitab Lawang Pitu? Arya Gading tidak lagi berpikir terlalu jauh. Orang di depannya itu telah memasang kuda –kuda.
Arya Gading dan Doran pun segera mempersiapkan diri. Meskipun mereka masih terhitung sangat muda di umurnya yang belum juga genap tujuhbelas itu, namun Arya Gading dan Doran telah menyadap ilmu dari seorang guru yang berilmu tinggi yaitu Ki Ageng Pandan Arum. Demikianlah, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarinya lagi. Orang misterius itu bertarung melawan Arya Gading dan Doran.
Dengan garangnya orang itupun mulai menyerangnya. Serangannya mengalir tiada henti –hentinya.Tetapi Arya Gading dan Doran pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka Arya Gading dan Doran pun dengan tangkasnya telah mengelak. Bahkan dengan cepat, Arya Gading dan Doran telah membalas menyerangnya.
Tetapi orang itu pun mampu bergerak cepat pula. Serangan Arya Gading dan Doran pun sama sekali tidak menyentuhnya. Ketika Arya Gading memburunya dengan serangan berikutnya, maka orang itu justru telah membenturnya. Serangan kaki Arya Gading yang terjulur mengarah ke dada, telah ditangkis lawannya dengan kedua tangannnya yang bersilang didadanya.
Arya Gading yang belum mengetahui seberapa besar kekuatan dan tenaga lawannya telah terdorong selangkah surut. Kakinya terasa nyeri dan kesemutan. Doran pun tidak mau kalah tubuhnya dengan lincah melompat dan menerjang ke arah lelaki misterius itu. Tetapi diluar dugaan. Lawannya mampu meloncat dengan cepat. Ternyata Doran terkejut. Tetapi ia terlambat menghindar. Tangan orang itu dengan cepat menghantam perutnya.
Doran terbungkuk dan terhuyung –huyung. Pukulan orang itu keras. Isi perutnya serasa diremas -remas. Namun dengan cepat pula lawannya memegang kepalanya. Dengan kerasnya kepala Doran telah membentur lutut orang itu. Mata Doran menjadi gelap. Kepalanya serasa berputar –putar. Lantas pemuda kurus itu jatuh terkapar di tanah yang becek dan tidak ingat apa –apa lagi. Pingsan.
Arya Gading ternyata juga tergetar dan surut selangkah pula.Melihat Doran tergeletak tidak sadarkan diri.
“Kau menjadi ketakutan anak muda?” bertanya orang itu.
“Sama sekali tidak” jawab Arya Gading.
Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau benar-benar anak yang sombong. Tetapi kau akan segera menyesali kesombonganmu itu. Kau akan menyusul teman mu ini”
“Aku sudah siap apapun yang terjadi. Aku tidak peduli. Tetapi aku akan mempertahankan hidupku”, jawab Arya Gading.
Quote:
ORANG ITUPUN mulai melangkah mendekat lagi. Dengan cepat orang itu telah menyerang pula. Demikianlah, keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya saling menyerang, bertahan dan menghindar. Dalam pertempuran yang semakin cepat itu, Arya Gading berusaha untuk dapat mengenali lawannya. Pertempuran pun telah menyala kembali. Keduanya bergerak semakin cepat. Serangan demi serangan telah dilakukan oleh kedua belah pihak.
Orang yang berbadan tegap dan besar itu ternyata semakin lama menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras. Tetapi kemampuan kanuragan orang itu memang jauh di atas Arya Gading. Karena itu, maka setiap kali serangan orang itu mengejutkan Arya Gading. Bahkan, tidak jarang menyentuh tubuhnya.
Namun betapapun Arya Gading mengerahkan kemampuannya, orang itu ternyata mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangannya sekali-sekali telah menyentuh tubuhnya. Seiring dengan berjalannya waktu. Maka, serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda itu. Ketika Arya Gading menjulurkan kakinya menyerang ke arah lambung lawannya, maka orang itu justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat menyapu kaki Arya Gading yang lain, sehingga Arya Gading telah menjadi kehilangan keseimbangan. Karena itu, maka Arya Gading pun telah terjatuh. Tetapi ia pun dengan cepat berguling. Dengan tangkas pula Arya Gading segera meloncat bangkit.
Namun, lelaki misterius itu tidak segera menyerangnya kembali. Ia masih saja berdiri tegak. Sementara hujan semakin reda. Hanya masih menyisakan gerimis dan angina yang sesekali bertiup kencang. Arya Gading terkejut alang kepalang. Manakala, lelaki yang berdiri di hadapannya itu tiba –tiba menjadi mengabur, lamat –lamat dan kemudian hilang tidak berbekas. Arya Gading mengucek matanya. Pemuda ini sama sekali meresa heran karena lawannya tiba –tiba lenyap. Diedarkan pandangannya mencoba menembus kepekatan. Tapi sesosok itu benar -benar lenyap.
“ Apakah itu tadi lelembut penghuni randu growong? Tentu tidak mungkin, orang itu memiliki wadak kasar. Beberapa kali aku berbenturan dengan tubuhnya. Bahkan, tidak jarang tendangan dan pukulannya menghajar ku. Dia bukan lelembut. Dia juga manusia sepertiku”, batin Arya Gading berkecamuk.
“ Orang itu tadi memiliki aji Panglimunan”
Belum lagi Arya Gading selesai dengan keterkejutannya. Terdengar suara tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“ Anak muda, kalau aku mau mudah saja membunuh mu. Aku sangat jelas melihat wadagmu. Sedangkan kau tidak bisa melihatku “
“ Tunjukkan dirimu kisanak. Permainan kita masih jauh. Kita masih belum tahu siapa yang akan kalah”
Suara tertawa itu terdengar lagi, “ Kau jangan mengigau Arya Gading. Tiga jurus lamanya kita bertarung. Tidak ada satu pukulan atau tendangan mu yang menyentuh ku. Kesombongan mu sundul langit. Apakah kakak mu Sukmo Aji juga memiliki sifat sombong? “
Arya Gading kembali terkejut. Orang yang telah berlindung di balik aji Panglimunan itu mengetahui namanya. Bahkan, juga tahu kakaknya.
“ Siapa kau sebenarnya kisanak? Apakah kita pernah bertemu? “
“ Tentang siapa aku sebenarnya tidak penting. Sampaikan pada orang –orang padepokan Pandan Arum. Aku akan menuntut hak ku dengan penuh. Kitab Lawang Pitu hanya sebagian kecil dari hak yang telah Pandan Arum rampas dari tangan ku. Padepokan Pandan Arum harus jatuh di tangan keturunanku. Bukan Mahesa Branjangan, Paksi Jalak Kuning, Kuda Merta ataupun Anjam Kayuwangi”
“ Akan aku buat karang abang lereng Merapi kalau sampai pimpinan padepokan jatuh ke tangan orang yang bukan berasal dari garis darahku”
Suara itu lantas menghilang. Beberapa saat kemudian belasan tombak di depan. Arya Gading melihat sesosok tubuh itu berkelebat dengan cepat dan meloncat – loncat di atas pohon. Arya Gading sekejap ingin oba mengejarnya. Namun, adik dari Sukmo Aji ini mengurungkan niatnya. Segera ia menghampiri tubuh Doran yang masih pingsan. Perlahan –lahan Arya Gading menepuk dengan pelan pipi Doran. Tidak berapa lama Doran membuka matanya. Pandangan matanya masih sedikit berkunang –kunang dan pening.
“ Dimana orang itu Gading? “
“ Sudah pergi “
“ Kau mampu mengusirnya? “
Arya Gading menyeringai, “ Tidak, orang itu pergi dengan sendirinya setelah membuat beberapa bagian tubuhku menjadi memar dan nyeri “
Doran berusaha untuk bangun. Baju yang dikenakannya sudah basah kuyup dan belepotan lumpur.
“ Ayo Gading, kita lanjutkan perjalanan “
“ Kau tidak apa –apa Doran? Kau masih kuat berjalan atau aku harus memapah mu?”
“ Luka ini tidak seberapa. Aku lelaki kuat bukan perawan lemah yang harus dipapah berjalan”
Lantas Doran berjalan perlahan mendahului Arya Gading yang masih saja tidak beranjak dari tempat duduknya. Melihat Doan sudah mampu berjalan. Arya Gading lantas beranjak dan berjalan menyusul Doran yang telah berada beberapa langkah di depannya. Sepanjang jalan pikiran Arya Gading masih saja terusik siapa sebenarnya lelaki itu. Apakah lelaki itu orang dalam padepokan Pandan Arum?
Orang yang berbadan tegap dan besar itu ternyata semakin lama menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras. Tetapi kemampuan kanuragan orang itu memang jauh di atas Arya Gading. Karena itu, maka setiap kali serangan orang itu mengejutkan Arya Gading. Bahkan, tidak jarang menyentuh tubuhnya.
Namun betapapun Arya Gading mengerahkan kemampuannya, orang itu ternyata mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangannya sekali-sekali telah menyentuh tubuhnya. Seiring dengan berjalannya waktu. Maka, serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda itu. Ketika Arya Gading menjulurkan kakinya menyerang ke arah lambung lawannya, maka orang itu justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat menyapu kaki Arya Gading yang lain, sehingga Arya Gading telah menjadi kehilangan keseimbangan. Karena itu, maka Arya Gading pun telah terjatuh. Tetapi ia pun dengan cepat berguling. Dengan tangkas pula Arya Gading segera meloncat bangkit.
Namun, lelaki misterius itu tidak segera menyerangnya kembali. Ia masih saja berdiri tegak. Sementara hujan semakin reda. Hanya masih menyisakan gerimis dan angina yang sesekali bertiup kencang. Arya Gading terkejut alang kepalang. Manakala, lelaki yang berdiri di hadapannya itu tiba –tiba menjadi mengabur, lamat –lamat dan kemudian hilang tidak berbekas. Arya Gading mengucek matanya. Pemuda ini sama sekali meresa heran karena lawannya tiba –tiba lenyap. Diedarkan pandangannya mencoba menembus kepekatan. Tapi sesosok itu benar -benar lenyap.
“ Apakah itu tadi lelembut penghuni randu growong? Tentu tidak mungkin, orang itu memiliki wadak kasar. Beberapa kali aku berbenturan dengan tubuhnya. Bahkan, tidak jarang tendangan dan pukulannya menghajar ku. Dia bukan lelembut. Dia juga manusia sepertiku”, batin Arya Gading berkecamuk.
“ Orang itu tadi memiliki aji Panglimunan”
Belum lagi Arya Gading selesai dengan keterkejutannya. Terdengar suara tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“ Anak muda, kalau aku mau mudah saja membunuh mu. Aku sangat jelas melihat wadagmu. Sedangkan kau tidak bisa melihatku “
“ Tunjukkan dirimu kisanak. Permainan kita masih jauh. Kita masih belum tahu siapa yang akan kalah”
Suara tertawa itu terdengar lagi, “ Kau jangan mengigau Arya Gading. Tiga jurus lamanya kita bertarung. Tidak ada satu pukulan atau tendangan mu yang menyentuh ku. Kesombongan mu sundul langit. Apakah kakak mu Sukmo Aji juga memiliki sifat sombong? “
Arya Gading kembali terkejut. Orang yang telah berlindung di balik aji Panglimunan itu mengetahui namanya. Bahkan, juga tahu kakaknya.
“ Siapa kau sebenarnya kisanak? Apakah kita pernah bertemu? “
“ Tentang siapa aku sebenarnya tidak penting. Sampaikan pada orang –orang padepokan Pandan Arum. Aku akan menuntut hak ku dengan penuh. Kitab Lawang Pitu hanya sebagian kecil dari hak yang telah Pandan Arum rampas dari tangan ku. Padepokan Pandan Arum harus jatuh di tangan keturunanku. Bukan Mahesa Branjangan, Paksi Jalak Kuning, Kuda Merta ataupun Anjam Kayuwangi”
“ Akan aku buat karang abang lereng Merapi kalau sampai pimpinan padepokan jatuh ke tangan orang yang bukan berasal dari garis darahku”
Suara itu lantas menghilang. Beberapa saat kemudian belasan tombak di depan. Arya Gading melihat sesosok tubuh itu berkelebat dengan cepat dan meloncat – loncat di atas pohon. Arya Gading sekejap ingin oba mengejarnya. Namun, adik dari Sukmo Aji ini mengurungkan niatnya. Segera ia menghampiri tubuh Doran yang masih pingsan. Perlahan –lahan Arya Gading menepuk dengan pelan pipi Doran. Tidak berapa lama Doran membuka matanya. Pandangan matanya masih sedikit berkunang –kunang dan pening.
“ Dimana orang itu Gading? “
“ Sudah pergi “
“ Kau mampu mengusirnya? “
Arya Gading menyeringai, “ Tidak, orang itu pergi dengan sendirinya setelah membuat beberapa bagian tubuhku menjadi memar dan nyeri “
Doran berusaha untuk bangun. Baju yang dikenakannya sudah basah kuyup dan belepotan lumpur.
“ Ayo Gading, kita lanjutkan perjalanan “
“ Kau tidak apa –apa Doran? Kau masih kuat berjalan atau aku harus memapah mu?”
“ Luka ini tidak seberapa. Aku lelaki kuat bukan perawan lemah yang harus dipapah berjalan”
Lantas Doran berjalan perlahan mendahului Arya Gading yang masih saja tidak beranjak dari tempat duduknya. Melihat Doan sudah mampu berjalan. Arya Gading lantas beranjak dan berjalan menyusul Doran yang telah berada beberapa langkah di depannya. Sepanjang jalan pikiran Arya Gading masih saja terusik siapa sebenarnya lelaki itu. Apakah lelaki itu orang dalam padepokan Pandan Arum?
Quote:
WAKTU yang diperlukan tidak terlalu lama. Setelah mereka menyusur jalan desa, di antara pagar-pagar batu setinggi dada, maka sampailah mereka disebuah halaman yang luas. Pagar halaman itu pun agak lebih tinggi dari pagar-pagar disekelilingnya terbuat dari batu –batu yang disusun sedemikian rupa. Di depan halaman itu tampak sebuah regol yang tertutup rapat.
Doran, yang berjalan dimuka Arya Gading itu pun segera mengetuk pintu regol itu. Untuk sesaat tidak terdengar jawaban. Bahkan yang terdengar ketokan pula di dalam. Empat kali berturut-turut. Arya Gading dan Doran sama sekali tidak tahu maksud dari ketokan itu. Ia menjadi heran. Lantas Doran kembali sekali lagi mengetuk pintu itu. Dua kali tiga ganda. Dan tak lama kemudian pintu itu pun terbuka.
“Siapa?” terdengar sebuah pertanyaan.
“Doran dan Arya Gading”, jawab Doran setenagh keheranan.
“Kami berdua telah pulang. Ingin menghadap kakang Mahesa Branjangan”.
“Sekarang?” bertanya seorang cantrik di dalam halaman.
Arya Gading maju selangkah. Setelah dekat ia mengenali seorang cantrik yang menghampirinya.
”Kakang Damar….. “
Tetapi hatinya mulai berdebar-debar manakala ia melihat Damar Tahun terlihat tegang.
Meskipun demikian ia berkata dengan ketenangan yang dibuat-buat, “Maaf kakang. Kami berdua ingin bertemu dengan kakang Mahesa Branjangan”
Cantrik yang bernama Damar Tahun itu menarik nafas panjang.
“ Kakang Mahesa Branjangan baru saja pulang belum lama ini. Mungkin sekitar sepenginangan sebelum kalian datang. Tadi kakang Mahesa Branjangan langsung masuk ke bilik utama. Mungkin saat ini beliau sudah beristirahat “
“Adakah sesuatu hal yang penting sekali?” bertanya Damar Tahun.
“Ya” jawab Arya Gading, “Penting sekali. Kakang Mahesa Branjangan harus segera mendengarnya sebelum fajar”
Damar Tahun tanpa disengajanya menengadahkan wajahnya. Ditimur laut dilihatnya bintang panjer esuk memancar dengan terangnya.
Doran, yang berjalan dimuka Arya Gading itu pun segera mengetuk pintu regol itu. Untuk sesaat tidak terdengar jawaban. Bahkan yang terdengar ketokan pula di dalam. Empat kali berturut-turut. Arya Gading dan Doran sama sekali tidak tahu maksud dari ketokan itu. Ia menjadi heran. Lantas Doran kembali sekali lagi mengetuk pintu itu. Dua kali tiga ganda. Dan tak lama kemudian pintu itu pun terbuka.
“Siapa?” terdengar sebuah pertanyaan.
“Doran dan Arya Gading”, jawab Doran setenagh keheranan.
“Kami berdua telah pulang. Ingin menghadap kakang Mahesa Branjangan”.
“Sekarang?” bertanya seorang cantrik di dalam halaman.
Arya Gading maju selangkah. Setelah dekat ia mengenali seorang cantrik yang menghampirinya.
”Kakang Damar….. “
Tetapi hatinya mulai berdebar-debar manakala ia melihat Damar Tahun terlihat tegang.
Meskipun demikian ia berkata dengan ketenangan yang dibuat-buat, “Maaf kakang. Kami berdua ingin bertemu dengan kakang Mahesa Branjangan”
Cantrik yang bernama Damar Tahun itu menarik nafas panjang.
“ Kakang Mahesa Branjangan baru saja pulang belum lama ini. Mungkin sekitar sepenginangan sebelum kalian datang. Tadi kakang Mahesa Branjangan langsung masuk ke bilik utama. Mungkin saat ini beliau sudah beristirahat “
“Adakah sesuatu hal yang penting sekali?” bertanya Damar Tahun.
“Ya” jawab Arya Gading, “Penting sekali. Kakang Mahesa Branjangan harus segera mendengarnya sebelum fajar”
Damar Tahun tanpa disengajanya menengadahkan wajahnya. Ditimur laut dilihatnya bintang panjer esuk memancar dengan terangnya.
Diubah oleh breaking182 04-05-2022 22:23
MFriza85 dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Kutip
Balas