- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
Diubah oleh breaking182 30-12-2022 23:12
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.8K
Kutip
622
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#227
gatra 14
Quote:
DENGAN HATI-HATI Arya Gading merayap di antara batang pohon kamboja serta nisan nisan yang membujur ke utara. Dalam kegelapan, matanya yang tajam melihat pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Sekali sekali Ia mendengar teriakan-teriakan kasar. Umpatan-umpatan dan juga perintah-perintah di sela-sela pekik kesakitan. Arya Gading pun bergeser semain dekat. Ia berhenti di belakang sebuah nisan yang besar. Beberapa langkah daripadanya, di tempat yang agak lapang, Doran tengah bertempur melawan tiga orang anak buah Kebo Peteng yang tampaknya sebentar lagi sudah tidak mampu melanjutkan pertempuran.
Ketika Arya Gading berpaling ke arah yang lain, ia melihat Pamingit dan Merta juga sedang bertempur. Tetapi keduanya tidak bertempur seorang melawan seorang. Beberapa orang anak muda tengah membantu mereka menghadapi dua orang perampok yang semakin terdesak.
“Nampaknya kedua orang perampok itu sudah tidak banyak dapat memberikan perlawanan” berkata Arya Gading didalam hatinya.
Dengan demikian, maka menurut pengamatan Arya Gading, orang-orang padukuhan akan segera dapat mengatasi lawan-lawanya. Karena itu, maka Arya Gading pun segera keluar dari persembunyiannya.
“ Menyerahlah, pimpinan kalian Kebo Peteng telah meloloskan diri. Buat apa kalian mempertaruhkan nyawa sementara pimpinan kalian melarikan diri tanpa memikirkan keselamatan para anak buahnya. Apakah pemimpin seperti ini pantas mendapatkan kepercayaan dari kalian? “
Suara Arya Gading lantang bergema memecah bentakan –bentakan perkelahian dan denting suara senjata beradu. Namun dalam pada itu, keadaan para pengikut Kebo Peteng memang menjadi semakin sulit. Setiap orang harus berhadapan dengan tiga atau ampat orang lawan. Meskipun mereka sudah terbiasa bertempur, namun mereka adalah orang-orang yang hanya berbekal keberanian, kekasaran dan kebengisan. Jarang di antara mereka yang benar-benar memiliki dasar-dasar kemampuan dalam olah kanuragan.
Karena itu, ketika mereka benar-benar berhadapan dengan beberapa orang dan bahkan ada di antaranya adalah bekas prajurit maka mereka pun mengalami kesulitan. Dan mendengar suara lantang itu dengan serta merta anak buah Kebo Peteng mundur dan melepaskan senjata mereka. Menyerah. Para penduduk padukuhan di bantu oleh jagabaya, ki bekal dan para bebahu segera mengikat tangan –tangan mereka dan mengumpulkannya menjadi satu.
Beberapa saat kemudian, maka pertempuran benar-benar telah berhenti. Beberapa orang yang ada di kuburan itu telah menyalakan obor untuk mencari korban yang jatuh dalam pertempuran itu. Beberapa orang memang telah terluka. Tiga di antara orang pedukuhan terluka berat. Sedangkan yang lain, luka-luka yang mereka derita tidak sampai membahayakan jiwa mereka.
Sementara itu, seorang di antara para perampok itu terluka parah. Seorang lagi diketemukan diluar kuburan, Orang itu bahkan telah pingsan, karena luka-lukanya. Nampaknya ia juga telah mencoba untuk melarikan diri, namun wadagnya tidak lagi dapat mendukungnya, sehingga ia terjatuh dan pingsan. Ki Bekel yang juga telah terluka meskipun hanya beberapa goresan ditubuhnya, telah memerintahkan untuk membawa mereka yang terluka dan para tawanan ke padukuhan.
“Hati-hati dengan para tawanan.” pesan Ki Bekel.
Ki Jagabaya tidak mau membuat kesalahan sehingga tawanan itu dapat terlepas meskipun hanya seorang saja. Karena itu, maka mereka pun telah diikat tangannya. Dua orang memegangi kedua ujung tali pengikat dari setiap orang. Malam itu, para tawanan telah dibawa ke banjar padukuhan. Demikian pula mereka yang terluka. Ki Bekel telah memanggil tabib yang ada di padukuhan itu untuk membantu merawat orang-orang yang terluka.
Ki Bekel pun memberikan pesan yang sama kepada beberapa orang yang ditugaskannya untuk tetap berada di kuburan, mengawasi agar barang-barang berharga itu tidak diambil oleh siapa pun juga, sampai Ki Bekel mengambil satu keputusan. Sepuluh orang yang berada di kuburan masih juga merasa, bulu tengkuk mereka meremang. Apalagi jika mereka memandangi sebatang pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kuburan itu.
Namun di antara mereka terdapat dua orang yang berani. Pamingit dan Merta. Keduanya telah diserahi untuk memimpin kawan-kawannya yang berjaga-jaga di kuburan itu. Arya Gading dan Doran kemudian telah memilih untuk berada di kuburan bersama-sama dengan Pamingit. Sambil duduk bersandar sebatang pohon di pinggir kuburan, dekat tempat benda-benda berharga itu ditanam, Arya Gading sempat merenungi pertempuran yang baru saja terjadi. Ia memang merasa heran, bahwa ternyata memang seperti yang dikatakan oleh Mahesa Branjangan. Setiap ilmu pasti ada kelemahannya.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Doran duduk disampingnya sambil bercaka p-cakap dengan beberapa orang pemuda yang memutuskan untuk tetap di kuburan itu. Di sekitarnya terdapat beberapa orang padukuhan yang berjaga-jaga. Seorang di antara mereka membawa sebuah kentongan kecil. Jika perlu kentongan itu akan dibunyikan untuk memanggil orang-orang dari padukuhan.Tetapi menurut perhitungan Arya Gading, Kebo Peteng itu tidak akan kembali karena Mahesa Branjangan akan mencari pimpinan rampok itu.
Ketika Arya Gading berpaling ke arah yang lain, ia melihat Pamingit dan Merta juga sedang bertempur. Tetapi keduanya tidak bertempur seorang melawan seorang. Beberapa orang anak muda tengah membantu mereka menghadapi dua orang perampok yang semakin terdesak.
“Nampaknya kedua orang perampok itu sudah tidak banyak dapat memberikan perlawanan” berkata Arya Gading didalam hatinya.
Dengan demikian, maka menurut pengamatan Arya Gading, orang-orang padukuhan akan segera dapat mengatasi lawan-lawanya. Karena itu, maka Arya Gading pun segera keluar dari persembunyiannya.
“ Menyerahlah, pimpinan kalian Kebo Peteng telah meloloskan diri. Buat apa kalian mempertaruhkan nyawa sementara pimpinan kalian melarikan diri tanpa memikirkan keselamatan para anak buahnya. Apakah pemimpin seperti ini pantas mendapatkan kepercayaan dari kalian? “
Suara Arya Gading lantang bergema memecah bentakan –bentakan perkelahian dan denting suara senjata beradu. Namun dalam pada itu, keadaan para pengikut Kebo Peteng memang menjadi semakin sulit. Setiap orang harus berhadapan dengan tiga atau ampat orang lawan. Meskipun mereka sudah terbiasa bertempur, namun mereka adalah orang-orang yang hanya berbekal keberanian, kekasaran dan kebengisan. Jarang di antara mereka yang benar-benar memiliki dasar-dasar kemampuan dalam olah kanuragan.
Karena itu, ketika mereka benar-benar berhadapan dengan beberapa orang dan bahkan ada di antaranya adalah bekas prajurit maka mereka pun mengalami kesulitan. Dan mendengar suara lantang itu dengan serta merta anak buah Kebo Peteng mundur dan melepaskan senjata mereka. Menyerah. Para penduduk padukuhan di bantu oleh jagabaya, ki bekal dan para bebahu segera mengikat tangan –tangan mereka dan mengumpulkannya menjadi satu.
Beberapa saat kemudian, maka pertempuran benar-benar telah berhenti. Beberapa orang yang ada di kuburan itu telah menyalakan obor untuk mencari korban yang jatuh dalam pertempuran itu. Beberapa orang memang telah terluka. Tiga di antara orang pedukuhan terluka berat. Sedangkan yang lain, luka-luka yang mereka derita tidak sampai membahayakan jiwa mereka.
Sementara itu, seorang di antara para perampok itu terluka parah. Seorang lagi diketemukan diluar kuburan, Orang itu bahkan telah pingsan, karena luka-lukanya. Nampaknya ia juga telah mencoba untuk melarikan diri, namun wadagnya tidak lagi dapat mendukungnya, sehingga ia terjatuh dan pingsan. Ki Bekel yang juga telah terluka meskipun hanya beberapa goresan ditubuhnya, telah memerintahkan untuk membawa mereka yang terluka dan para tawanan ke padukuhan.
“Hati-hati dengan para tawanan.” pesan Ki Bekel.
Ki Jagabaya tidak mau membuat kesalahan sehingga tawanan itu dapat terlepas meskipun hanya seorang saja. Karena itu, maka mereka pun telah diikat tangannya. Dua orang memegangi kedua ujung tali pengikat dari setiap orang. Malam itu, para tawanan telah dibawa ke banjar padukuhan. Demikian pula mereka yang terluka. Ki Bekel telah memanggil tabib yang ada di padukuhan itu untuk membantu merawat orang-orang yang terluka.
Ki Bekel pun memberikan pesan yang sama kepada beberapa orang yang ditugaskannya untuk tetap berada di kuburan, mengawasi agar barang-barang berharga itu tidak diambil oleh siapa pun juga, sampai Ki Bekel mengambil satu keputusan. Sepuluh orang yang berada di kuburan masih juga merasa, bulu tengkuk mereka meremang. Apalagi jika mereka memandangi sebatang pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kuburan itu.
Namun di antara mereka terdapat dua orang yang berani. Pamingit dan Merta. Keduanya telah diserahi untuk memimpin kawan-kawannya yang berjaga-jaga di kuburan itu. Arya Gading dan Doran kemudian telah memilih untuk berada di kuburan bersama-sama dengan Pamingit. Sambil duduk bersandar sebatang pohon di pinggir kuburan, dekat tempat benda-benda berharga itu ditanam, Arya Gading sempat merenungi pertempuran yang baru saja terjadi. Ia memang merasa heran, bahwa ternyata memang seperti yang dikatakan oleh Mahesa Branjangan. Setiap ilmu pasti ada kelemahannya.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Doran duduk disampingnya sambil bercaka p-cakap dengan beberapa orang pemuda yang memutuskan untuk tetap di kuburan itu. Di sekitarnya terdapat beberapa orang padukuhan yang berjaga-jaga. Seorang di antara mereka membawa sebuah kentongan kecil. Jika perlu kentongan itu akan dibunyikan untuk memanggil orang-orang dari padukuhan.Tetapi menurut perhitungan Arya Gading, Kebo Peteng itu tidak akan kembali karena Mahesa Branjangan akan mencari pimpinan rampok itu.
Quote:
SESOSOK TUBUH tampak menunggang kuda yang dipacu sedemikian cepatnya. Kuda itu berlari dan berlari tanpa menghiraukan duri –duri tajam menggores sekujur badan penunggangnya. Nafas antara kuda dan penunggangnya terdengar memburu seperti saling berlomba- lomba. Beberapa kali kuda itu bahkan nyaris terjatuh karena kakinya tersangkut sulur –sulur akar yang tumbuh di sepanjang jalan yang dilewatinya.
“ Setan belang anak itu. Ternyata dia mengetahui kelemahan ajian Blabag Pengantolan. Baiklah, hari ini aku mengaku kalah. Lihat saja, suatu hari nanti akan aku buat perhitungan dengan anak itu “
Sosok tubuh yang berpacu diatas kuda itu ternyata Kebo Peteng yang meloloskan diri dari Arya Gading. Orang ini pun akhirnya menghentikan lari kudanya. Kuda berwarna coklat itu dibiarkan saja tanpa mengikat pada sebatang pohon. Kebo Peteng lalu duduk bersandarkan sebuah pohon yang tumbang di tepi sebuah hutan. Sesekali menyeringai karena dibeberapa bagian tubuhnya terasa nyeri dan pedih. Baru beberapa saat duduk mengatur nafas. Kebo Peteng terkejut bukan kepalang. Tiba –tiba di depannya berdiri sosok tinggi besar sambil melipat tangan di dada.
“ Siapa kau? Apakah kau genderuwo penghuni tepi hutan ini? “
“ Kau terlalu berprasangka buruk Kebo Peteng. Aku manusia sepertimu juga. Aneh, seorang Kebo Peteng yang kawentar namanya. Dan membuat orang ketakutan begitu mendengar namamu tiba –tiba saja pontang panting saat bertarung melawan anak yang usianya belum genap tujuh belas tahun “
Mendengar orang di depannya berbicara seperti itu sebenarnya hati Kebo Peteng seperti disulut menggunakan api. Namun, Kebo Peteng sadar diri dengan keadaannya. Percuma saja melawan orang itu. Disamping dia tengah terluka. Kebo Peteng juga yakin orang di depannya itu bukan orang sembarangan yang tidak akan mudah dibekuk apalagi dilumpuhkan.
“ Apa mau mu kisanak?Tentu kau kesini tidak hanya sekedar ingin mengolok –olok aku bukan? “
Lelaki itu masih berdiam diri di tempatnya semula. Dan dengan gerakan yang cepat tiba –tiba beberapa syaraf yang ada di sekitar leher Kebo Peteng telah tertotok. Tubuh Kebo Peteng menggelepar sebentar. Lantas ambruk tidak sadarkan diri.
“ Setan belang anak itu. Ternyata dia mengetahui kelemahan ajian Blabag Pengantolan. Baiklah, hari ini aku mengaku kalah. Lihat saja, suatu hari nanti akan aku buat perhitungan dengan anak itu “
Sosok tubuh yang berpacu diatas kuda itu ternyata Kebo Peteng yang meloloskan diri dari Arya Gading. Orang ini pun akhirnya menghentikan lari kudanya. Kuda berwarna coklat itu dibiarkan saja tanpa mengikat pada sebatang pohon. Kebo Peteng lalu duduk bersandarkan sebuah pohon yang tumbang di tepi sebuah hutan. Sesekali menyeringai karena dibeberapa bagian tubuhnya terasa nyeri dan pedih. Baru beberapa saat duduk mengatur nafas. Kebo Peteng terkejut bukan kepalang. Tiba –tiba di depannya berdiri sosok tinggi besar sambil melipat tangan di dada.
“ Siapa kau? Apakah kau genderuwo penghuni tepi hutan ini? “
“ Kau terlalu berprasangka buruk Kebo Peteng. Aku manusia sepertimu juga. Aneh, seorang Kebo Peteng yang kawentar namanya. Dan membuat orang ketakutan begitu mendengar namamu tiba –tiba saja pontang panting saat bertarung melawan anak yang usianya belum genap tujuh belas tahun “
Mendengar orang di depannya berbicara seperti itu sebenarnya hati Kebo Peteng seperti disulut menggunakan api. Namun, Kebo Peteng sadar diri dengan keadaannya. Percuma saja melawan orang itu. Disamping dia tengah terluka. Kebo Peteng juga yakin orang di depannya itu bukan orang sembarangan yang tidak akan mudah dibekuk apalagi dilumpuhkan.
“ Apa mau mu kisanak?Tentu kau kesini tidak hanya sekedar ingin mengolok –olok aku bukan? “
Lelaki itu masih berdiam diri di tempatnya semula. Dan dengan gerakan yang cepat tiba –tiba beberapa syaraf yang ada di sekitar leher Kebo Peteng telah tertotok. Tubuh Kebo Peteng menggelepar sebentar. Lantas ambruk tidak sadarkan diri.
Quote:
PAMINGIT yang berjalan hilir mudik untuk mengusir kantuk, justru telah mendekati Arya Gading. Sambil duduk di sebelahnya ia berkata, “Sebaiknya kau pulang saja ngger. Kau dapat beristirahat dan barangkali masih mempunyai waktu sedikit untuk tidur. Kau lihatlah Doran, anak itu malah sudah tertidur hampir memeluk nisan”
Tetapi Arya Gading menjawab sambil tersenyum, “Aku tentu sudah tidak dapat tidur di sisa malam yang tinggal sedikit ini Paman”
“Kau tidak perlu tergesa-gesa bangun meskipun matahari sudah naik.”
“Aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi, paman” jawab Arya Gading.
Pamingit tertawa. Sambil menepuk bahu Arya Gading ia berkata, “Kau tentu letih. Barangkali kau dapat tidur sambil duduk bersandar seperti itu. Seperti si Doran”
Arya Gading pun tertawa pula. Katanya, “Aku akan mencoba paman.”
Pamingit pun kemudian bangkit sambil berkata, “Jika demikian, biarlah aku tidak mengganggumu.”
Arya Gading masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Arya Gading memang berusaha untuk dapat beristirahat. Tetapi yang beristirahat hanyalah wadagnya. Angan-angannya pun kembali mengembara menyusuri perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu. Berawal dari ditingal mati ayahandanya, tidak lama berselang ibunya menyusul. Hingga akhirnya ia tinggal bersama paman dan bibinya.
Sementara satu – satunya orang yang dipercaya bisa melindunginya berada jauh di Pajang. Dan pada akhirnya, di malam itu peristiwa rajapati itu terjadi. Terlihat jelas di depan mata kepalanya sendiri. Pamannya dibunuh oleh Demang Wiryoboga. Lalu tubuhnya ditimbun di pekuburan. Bulu kuduk Arya Gading meremang mengingat peristiwa itu. Sudah hampir satu tahun peristiwa itu berlalu. Namun, bayangan buruk itu masih terus menghantuinya setiap saat.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Kakinya mulai merasa gatal. Nyamuknya cukup banyak, sehingga desing ditelinganya membuatnya tidak tenang berangan-angan. Arya Gading akhirnya berdiri. Langit ternyata sudah mulai dibayangi cahaya kemerah-merahan. Menjelang fajar Arya Gading baru merasa dinginnya embun yang bergayut di ujung dedaunan dan menitik satu-satu. Batu-batu nisan pun mulai menjadi basah. Arya Gading menggeliat. Beberapa orang justru telah tertidur sambil bersandar pepohonan. Doran juga masih nyenyak hampir memeluk nisan. Arya Gading melangkah keluar dari lingkungan kuburan. Ketika ia berdiri di pematang, dilihatnya sebuah parit yang dialiri oleh air yang jernih.
Diluar sadarnya Arya Gading turun kedalam parit untuk mencuci wajahnya, kakinya dan tangannya. Terasa badannya menjadi sedikit segar meskipun semalam suntuk Arya Gading tidak tidur sekejap pun. Dalam pada itu, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu serta ditemani oleh Pamingit dan Merta masih berbincang tentang benda-benda berharga itu. Apa yang akan mereka lakukan, karena mereka tahu, bahwa benda-benda berharga itu adalah barang yang panas.
“Bagaimana kita dapat mengembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya” berkata Pamingit.
“Kita akan berbicara dengan Ki Demang. Karena ki demang punya seorang kenalan tumenggung di Pajang. Padukuhan ini masih berada di bawah kekuasaan Sultan Hadiwijoyo” berkata Ki Bekel.
Tetapi Arya Gading menjawab sambil tersenyum, “Aku tentu sudah tidak dapat tidur di sisa malam yang tinggal sedikit ini Paman”
“Kau tidak perlu tergesa-gesa bangun meskipun matahari sudah naik.”
“Aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi, paman” jawab Arya Gading.
Pamingit tertawa. Sambil menepuk bahu Arya Gading ia berkata, “Kau tentu letih. Barangkali kau dapat tidur sambil duduk bersandar seperti itu. Seperti si Doran”
Arya Gading pun tertawa pula. Katanya, “Aku akan mencoba paman.”
Pamingit pun kemudian bangkit sambil berkata, “Jika demikian, biarlah aku tidak mengganggumu.”
Arya Gading masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Arya Gading memang berusaha untuk dapat beristirahat. Tetapi yang beristirahat hanyalah wadagnya. Angan-angannya pun kembali mengembara menyusuri perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu. Berawal dari ditingal mati ayahandanya, tidak lama berselang ibunya menyusul. Hingga akhirnya ia tinggal bersama paman dan bibinya.
Sementara satu – satunya orang yang dipercaya bisa melindunginya berada jauh di Pajang. Dan pada akhirnya, di malam itu peristiwa rajapati itu terjadi. Terlihat jelas di depan mata kepalanya sendiri. Pamannya dibunuh oleh Demang Wiryoboga. Lalu tubuhnya ditimbun di pekuburan. Bulu kuduk Arya Gading meremang mengingat peristiwa itu. Sudah hampir satu tahun peristiwa itu berlalu. Namun, bayangan buruk itu masih terus menghantuinya setiap saat.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Kakinya mulai merasa gatal. Nyamuknya cukup banyak, sehingga desing ditelinganya membuatnya tidak tenang berangan-angan. Arya Gading akhirnya berdiri. Langit ternyata sudah mulai dibayangi cahaya kemerah-merahan. Menjelang fajar Arya Gading baru merasa dinginnya embun yang bergayut di ujung dedaunan dan menitik satu-satu. Batu-batu nisan pun mulai menjadi basah. Arya Gading menggeliat. Beberapa orang justru telah tertidur sambil bersandar pepohonan. Doran juga masih nyenyak hampir memeluk nisan. Arya Gading melangkah keluar dari lingkungan kuburan. Ketika ia berdiri di pematang, dilihatnya sebuah parit yang dialiri oleh air yang jernih.
Diluar sadarnya Arya Gading turun kedalam parit untuk mencuci wajahnya, kakinya dan tangannya. Terasa badannya menjadi sedikit segar meskipun semalam suntuk Arya Gading tidak tidur sekejap pun. Dalam pada itu, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu serta ditemani oleh Pamingit dan Merta masih berbincang tentang benda-benda berharga itu. Apa yang akan mereka lakukan, karena mereka tahu, bahwa benda-benda berharga itu adalah barang yang panas.
“Bagaimana kita dapat mengembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya” berkata Pamingit.
“Kita akan berbicara dengan Ki Demang. Karena ki demang punya seorang kenalan tumenggung di Pajang. Padukuhan ini masih berada di bawah kekuasaan Sultan Hadiwijoyo” berkata Ki Bekel.
Quote:
PADA SAAT ITU lah tiba –tiba terdengar suara derap kaki kuda mendekati area pekuburan. Serentak orang –orang yang berada di sekitar tempat itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Di ujung jalan seekor kuda berlari tidak terlalu pelan. Dan yang membuat para warga pedukuhan terkejut adalah ada sesosok tubuh yang terlungkup di atas punggung kuda coklat itu. Tanpa menunggu lama, serentak beberapa orang menyongsong kuda coklat itu. Setelah dekat mereka baru melihat jelas. Sesosok tubuh lelaki terikat erat kaki dan tangannya berada di punggung kuda itu. Setelah diteliti lebih dekat lagi ternyata orang yang terikat di atas punggung kuda itu adalah Kebo Peteng.
Ki Bekel lantas memerintahkan untuk membawa Kebo Peteng ke padukuhan dijadikan satu dengan para tawanan yang telah ditangkap tadi malam.
“Hati-hati dengan para tawanan.” pesan Ki Bekel.
Ki Jagabaya tidak mau membuat kesalahan sehingga Kebo Peteng itu dapat terlepas meskipun hanya seorang saja. Karena itu, maka Kebo Peteng pun telah diikat tangannya lagi. Dua orang memegangi kedua ujung tali pengikat dari setiap orang. Pagi itu, Kebo Peteng telah dibawa ke banjar padukuhan. Sementara itu, seperti yang dipesankan oleh Ki Bekel, maka Kebo Peteng di tempatkan di bilik yang terpisah. Lelaki pimpinan rampok itu telah diikat dengan tiang yang ada didalam bilik itu. Bukan hanya tangannya, tetapi juga kakinya.
Di siang hari, ketika Arya Gading dan Doran diminta untuk makan siang bersama Pamingit, ia menyatakan keinginannya untuk meneruskan perjalanan.
“Aku sudah cukup lama terhenti disini, paman.”
“Aku masih minta kau berdua menunggu, ngger. Setelah persoalan benda-benda berharga yang disembunyikan para perampok itu selesai, maka terserahlah kepadamu, meskipun aku ingin mencoba untuk menahanmu disini.”
“Bukankah kita berdua sudah tidak mempunyai kepentingan lagi?”, kali ini Doran yang berbicara sembari memasukkan segumpal empal ke dalam mulutnya.
“Tentu masih ada ngger bukankah Ki Bekel, Ki Jagabaya akan pergi ke Kwarasan untuk melaporkan penemuan ini kepada Tumengung Surotani?”
Namun keinginan Arya Gading terlalu kuat. Hari itu juga ia harus pulang ke padepokan. Mandat dari Mahesa Branjangan harus dilakukannya. Arya Gading menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya, “Aku mohon maaf paman Pamingit. Berat rasanya meninggalkan rumah ini. Namun, ada hal yang sangat penting yang harus kami kerjakan berdua. Kami berdua mohon doa paman, bibi dan seluruh keluarga”
Akhirnya Pamingit pun tidak kuasa untuk mencegah Arya Gading pergi. Dan dengan berat hati pula ia hanya bisa merelakan dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk menahan Arya Gading dan Doran.
“Semoga Yang Maha Agung akan selalu melindungimu di sepanjang perjalananmu. Semoga kau akan dapat mencapai keinginanmu kelak”
Arya Gading meninggalkan rumah Pamingit dengan hati yang berat. Tetapi ia sudah memantapkan hatinya untuk berjalan pulang. Jika ia tetap tinggal dirumuh Pamingit, maka akan sulit baginya untuk dapat membantu menemukan kitab Lawang Pintu yang dicuri. Ketika Arya Gading dan Doran keluar dari regol padukuhan, matahari sudah tinggi dilangit.
Mendekati tengah hari, maka jalan-jalan terasa sepi di tengah-tengah bulak. Orang yang bekerja disawah pun mulai menjadi letih. Keringat membasahi kulit mereka yang terbakar oleh sengatan sinar matahari. Sekali-sekali Arya Gading dan Doran bertemu dengan perempuan yang membawa gendi berisi air, serta bakul berisi nasi dan kelengkapannya. Perempuan-perempuan itu membawa makanan bagi suami, ayah atau anak-anak mereka yang bekerja disawah dan tidak sempat pulang disiang hari untuk makan siang.
Ketika Arya Gading sampai di simpang ampat, maka Arya Gading berhenti sejenak dibawah sebatang pohon randu yang daunnya tidak begitu banyak. Tetapi di cabang-cabang dan rantingnya bergayutan buah randu yang sudah menjadi tua dan kering. Warnanya menjadi kecoklat-coklatan. Satu dua yang telah pecah, melontarkan kelentengnya dan menghamburkan kapuknya yang berwarna putih.
“ Kenapa berhenti disini Gading. Kau mau beristirahat? Perjalanan kita masih cukup jauh. Mungkin kalau kita berjalan terus. Akan sampai di padepokan tengah malam. Atau menjelang pagi “
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam.
“ Tidak Doran. Aku tidak bermaksud untuk beristirahat disini. Nanti saja kita cari kedai. Kita akan beristirahat menjelang sore “
Lantas keduanya melanjutkan perjalanan. Di tengah hari itu mendekati senja, leher Arya Gading memang terasa kering. Tetapi ia berharap untuk menjumpai sebuah kedai di padukuhan yang agak besar di ujung bulak itu. Arya Gading dan Doran berpapasan dengan seorang gadis yang menggendong sebuah bakul kecil sambil menjinjing gendi lewat. Gadis itu sempat berpaling kepadanya. Tetapi gadis itu berjalan terus.
Arya Gading mengerutkan dahinya, gadis itu berjalan dibawah matahari yang bertengger di puncak langit. Arya Gading pun kemudian meneruskan langkahnya menuju ke padukuhan diujung bulak itu. Keringatnya yang mengalir dengan derasnya lelah membasahi pakaiannya. Semakin dekat langkahnya dengan padukuhan didepan, maka Arya Gading melihat padukuhan itu bukan saja besar, tetapi tentu juga sebuah padukuhan yang terhitung mempunyai tataran kesejahteraan yang tinggi.
Regol padukuhan itu tidak sekedar memenuhi kebutuhan. Tetapi dibuat dengan bahan yang baik. Buatannya-pun nampak baik dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.Demikian Arya Gading dan Doran memasuki regol padukuhan itu, udara rasa-rasanya menjadi sejuk. Angin membelai lembut menyentuh dedaunan yang hijau. Padukuhan itu memang sebuah padukuhun yang memiliki kesejahteraan yang tinggi bagi para penghuninya.
Seperti yang diduga, padukuhan itu nampak lebih ramai dari padukuhan-padukuhan yang pernah dilewatinya. Sambil melihat-lihat halaman rumah yang bersih di sebelah-menyebelah jalan, Arya Gading berjalan terus di jalan induk padukuhan itu. Halaman-halaman rumah yang pada umumnya terbentang luas di seputar rumah yang besar dan terawat, ditanami dengan beberapa batang pohon buah-buahan, sehingga suasananya menjadi sejuk.
Beberapa saat kemudian maka Arya Gading dan Doran pun telah sampai kesebuah pasar. Pasar itu agaknya sebuah pasar yang agak besar. Tetapi di saat matahari telah sampai ke puncak langit itu, pasar itu sudah nampak sepi. Tetapi yang dicari oleh Arya Gading dan Doran hanyalah sebuah kedai. Sedangkan di dekat pasar yang sudah sepi itu terdapat beberapa buah kedai yang masih membuka pintunya. Beberapa orang masih berada di kedai itu. Mereka adalah orang-orang yang baru saja selesai berjualan di pasar itu. Setelah mengemasi sisa dagangan mereka, maka mcreka pun singgah barang sebentar untuk minum dan makan di kedai itu.
Ki Bekel lantas memerintahkan untuk membawa Kebo Peteng ke padukuhan dijadikan satu dengan para tawanan yang telah ditangkap tadi malam.
“Hati-hati dengan para tawanan.” pesan Ki Bekel.
Ki Jagabaya tidak mau membuat kesalahan sehingga Kebo Peteng itu dapat terlepas meskipun hanya seorang saja. Karena itu, maka Kebo Peteng pun telah diikat tangannya lagi. Dua orang memegangi kedua ujung tali pengikat dari setiap orang. Pagi itu, Kebo Peteng telah dibawa ke banjar padukuhan. Sementara itu, seperti yang dipesankan oleh Ki Bekel, maka Kebo Peteng di tempatkan di bilik yang terpisah. Lelaki pimpinan rampok itu telah diikat dengan tiang yang ada didalam bilik itu. Bukan hanya tangannya, tetapi juga kakinya.
Di siang hari, ketika Arya Gading dan Doran diminta untuk makan siang bersama Pamingit, ia menyatakan keinginannya untuk meneruskan perjalanan.
“Aku sudah cukup lama terhenti disini, paman.”
“Aku masih minta kau berdua menunggu, ngger. Setelah persoalan benda-benda berharga yang disembunyikan para perampok itu selesai, maka terserahlah kepadamu, meskipun aku ingin mencoba untuk menahanmu disini.”
“Bukankah kita berdua sudah tidak mempunyai kepentingan lagi?”, kali ini Doran yang berbicara sembari memasukkan segumpal empal ke dalam mulutnya.
“Tentu masih ada ngger bukankah Ki Bekel, Ki Jagabaya akan pergi ke Kwarasan untuk melaporkan penemuan ini kepada Tumengung Surotani?”
Namun keinginan Arya Gading terlalu kuat. Hari itu juga ia harus pulang ke padepokan. Mandat dari Mahesa Branjangan harus dilakukannya. Arya Gading menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya, “Aku mohon maaf paman Pamingit. Berat rasanya meninggalkan rumah ini. Namun, ada hal yang sangat penting yang harus kami kerjakan berdua. Kami berdua mohon doa paman, bibi dan seluruh keluarga”
Akhirnya Pamingit pun tidak kuasa untuk mencegah Arya Gading pergi. Dan dengan berat hati pula ia hanya bisa merelakan dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk menahan Arya Gading dan Doran.
“Semoga Yang Maha Agung akan selalu melindungimu di sepanjang perjalananmu. Semoga kau akan dapat mencapai keinginanmu kelak”
Arya Gading meninggalkan rumah Pamingit dengan hati yang berat. Tetapi ia sudah memantapkan hatinya untuk berjalan pulang. Jika ia tetap tinggal dirumuh Pamingit, maka akan sulit baginya untuk dapat membantu menemukan kitab Lawang Pintu yang dicuri. Ketika Arya Gading dan Doran keluar dari regol padukuhan, matahari sudah tinggi dilangit.
Mendekati tengah hari, maka jalan-jalan terasa sepi di tengah-tengah bulak. Orang yang bekerja disawah pun mulai menjadi letih. Keringat membasahi kulit mereka yang terbakar oleh sengatan sinar matahari. Sekali-sekali Arya Gading dan Doran bertemu dengan perempuan yang membawa gendi berisi air, serta bakul berisi nasi dan kelengkapannya. Perempuan-perempuan itu membawa makanan bagi suami, ayah atau anak-anak mereka yang bekerja disawah dan tidak sempat pulang disiang hari untuk makan siang.
Ketika Arya Gading sampai di simpang ampat, maka Arya Gading berhenti sejenak dibawah sebatang pohon randu yang daunnya tidak begitu banyak. Tetapi di cabang-cabang dan rantingnya bergayutan buah randu yang sudah menjadi tua dan kering. Warnanya menjadi kecoklat-coklatan. Satu dua yang telah pecah, melontarkan kelentengnya dan menghamburkan kapuknya yang berwarna putih.
“ Kenapa berhenti disini Gading. Kau mau beristirahat? Perjalanan kita masih cukup jauh. Mungkin kalau kita berjalan terus. Akan sampai di padepokan tengah malam. Atau menjelang pagi “
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam.
“ Tidak Doran. Aku tidak bermaksud untuk beristirahat disini. Nanti saja kita cari kedai. Kita akan beristirahat menjelang sore “
Lantas keduanya melanjutkan perjalanan. Di tengah hari itu mendekati senja, leher Arya Gading memang terasa kering. Tetapi ia berharap untuk menjumpai sebuah kedai di padukuhan yang agak besar di ujung bulak itu. Arya Gading dan Doran berpapasan dengan seorang gadis yang menggendong sebuah bakul kecil sambil menjinjing gendi lewat. Gadis itu sempat berpaling kepadanya. Tetapi gadis itu berjalan terus.
Arya Gading mengerutkan dahinya, gadis itu berjalan dibawah matahari yang bertengger di puncak langit. Arya Gading pun kemudian meneruskan langkahnya menuju ke padukuhan diujung bulak itu. Keringatnya yang mengalir dengan derasnya lelah membasahi pakaiannya. Semakin dekat langkahnya dengan padukuhan didepan, maka Arya Gading melihat padukuhan itu bukan saja besar, tetapi tentu juga sebuah padukuhan yang terhitung mempunyai tataran kesejahteraan yang tinggi.
Regol padukuhan itu tidak sekedar memenuhi kebutuhan. Tetapi dibuat dengan bahan yang baik. Buatannya-pun nampak baik dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.Demikian Arya Gading dan Doran memasuki regol padukuhan itu, udara rasa-rasanya menjadi sejuk. Angin membelai lembut menyentuh dedaunan yang hijau. Padukuhan itu memang sebuah padukuhun yang memiliki kesejahteraan yang tinggi bagi para penghuninya.
Seperti yang diduga, padukuhan itu nampak lebih ramai dari padukuhan-padukuhan yang pernah dilewatinya. Sambil melihat-lihat halaman rumah yang bersih di sebelah-menyebelah jalan, Arya Gading berjalan terus di jalan induk padukuhan itu. Halaman-halaman rumah yang pada umumnya terbentang luas di seputar rumah yang besar dan terawat, ditanami dengan beberapa batang pohon buah-buahan, sehingga suasananya menjadi sejuk.
Beberapa saat kemudian maka Arya Gading dan Doran pun telah sampai kesebuah pasar. Pasar itu agaknya sebuah pasar yang agak besar. Tetapi di saat matahari telah sampai ke puncak langit itu, pasar itu sudah nampak sepi. Tetapi yang dicari oleh Arya Gading dan Doran hanyalah sebuah kedai. Sedangkan di dekat pasar yang sudah sepi itu terdapat beberapa buah kedai yang masih membuka pintunya. Beberapa orang masih berada di kedai itu. Mereka adalah orang-orang yang baru saja selesai berjualan di pasar itu. Setelah mengemasi sisa dagangan mereka, maka mcreka pun singgah barang sebentar untuk minum dan makan di kedai itu.
MFriza85 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas