- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
[url=https://www.kaskus.co.id/show_post/628d564d2e8S E N S O R980453a0/252/-]gatra 20[/url]
[url=https://www.kaskus.co.id/show_post/628d564d2e8S E N S O R980453a0/252/-]gatra 21[/url]
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
83K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#212
gatra 9
Quote:
DILUAR SADARNYA, Arya Gading terbungkuk. Namun dengan cepat pula lawannya menyapu kedua kaki Arya Gading yang mulai terhuyung. Dengan kerasnya tubuh Arya Gading seperti dibalikkan sepasang tangan raksasa. Tubuhnya dengan keras jatuh terjengkang mencium tanah. Mata Arya Gading menjadi gelap. Tetapi ia tidak mau kehilangan kesadarannya. Bahan dengan cepat ia surukkan kepalanya keperut lawannya.
Keduanya terjatuh berguling di Tanah, Namun Arya Gading tidak ingin menjadi sasaran serangan-serangan lawannya. Meskipun perutnya masih terasa mual serta kepalanya maih angat pening, tetapi Arya Gading telah bersiap kembali untuk bertempur. Pada saat yang sama, lawannya telah bangkit pula. Bahkan dengan cepat ia telah menyerang Arya Gading. Sambil meloncat orang itu telah menjulurkan tangannya kearah dada.
Tetapi Arya Gading dengan cepat bergeser kesamping. Justru pada saat tangan lawannya terjulur, Arya Gading telah menyerang lambung orang’itu dengan kakinya. Namun, lagi –lagi orang bertopeng itu dengan tangkas menangkap pergelangan kaki Arya Gading lantas didorongkannya ke belakang. Kembali tubuh Arya Gading jatuh terlentang. Teteapi, kali ini kakinya telah dicengkeram dengan erat oleh orang bertopeng itu. Arya Gading berusaha melepaskan kakinya dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, usahanya sia –sia. Cengkeraman tangan itu sangat kuat membelit pergelangan kakinya.
“ Kalau kau bergerak. Aku patahkan kaki mu ini “
Akhirnya, Arya Gading pasrah. Pemuda itu lantas diam saja. Dan anehnya, lelaki bertopeng itu perlahan melepaskan cengkraman kakinya. Lalu tertawa terbahak –bahak. Arya Gaing menjadi keheranan melihat tingkah polah lelaki bertopeng itu.
“ Gading, baru tiga hari kau turun gunung. Namun, kanuragan mu telah meningkat pesat. Hanya saja kau memang belum waktunya untuk turun gunung “
Mendengar perkataan lelaki bertopeng itu Arya Gading bertambah keheranan. Perlahan –lahan pemuda itu beranjak dari duduknya.
“ Maaf Kisanak, apakah kita sebelumnya pernah kenal? “
“ Kau masih terlalu muda Gading. Mengapa kau sepikun itu? “
Arya Gading lantas mengingat –ingat peristiwa yang baru saja terjadi. Terutama pertarungannya dengan lelaki bertopeng yang masih berdiri kokoh di depannya itu. Ditilik dari jurus –jurusnya lelaki bertopeng itu memiliki kesamaan dengan jurus –jurus yang dimiliki Arya Gading. Pemuda ini menyimpulkan bahwa lelaki bertopeng itu berasal dari dari perguruan yang sama dengannya.
Perguruan Pandan Arum di lereng Merapi. Arya Gading kembali memperhatikan lelaki yang berdiri tegap di hadapannya itu. Tubuh itu tinggi dengan ukuran badan yang cukup kekar dan besar. Hanya ada satu nama di perguruannya dengan ciri –ciri orang seperti itu. Namun, tidak mungkin kalau orang itu sampai turun gunung untuk mencari dirinya.
“ Kenapa Gading? Kau mulai mengenaliku? “
“ Maaf kisanak. Mungkin aku salah orang. Tetapi, sepertinya aku mengenali mu. Apakah ini kakang Mahesa Branjangan? “
Lelaki itu perlahan –lahan melepas topeng kayu yang menutupi wajahnya. Kini terbuka sudah wajah itu. Dan dengan cepat Arya Gading mengenali orang dibalik topeng kayu itu.
“ Kakang Mahesa Branjangan……”
Lelaki yang dipanggil Mahesa Branjangan itu tersenyum lantas mendekati Arya Gading dan menepuk bahu pemuda itu.
“ Kau cepat sekali berkembang pesat Gading. Pengalamanmu tiga hari jauh dari kaki Merapi telah membuatmu menjadi seorang pemuda yang pilihan. Sekarang ceritakan kepadaku mengapa kau sampai disini dan berurusan dengan Kebo Peteng “
Mahesa Branjangan mengajak Arya Gading untuk duduk di sebuah pohon randu alas yang cukup besar. Disana dua saudara seperguruan itu mulai berbicara. Arya Gading menjelaskan awal mula ia dan Doran mencari ayam cemani seperti tugas yang diberikan kepadanya. Seperti biasa Arya Gading mencari di tempat seorang peternak yang bernama Katili. Namun, pada saat itu ayam yang dimaksud tidak ada.
Terpaksa Arya Gading dan Doran mencari di tempat lain. Dan akhirnya mereka malah tersesat dan mampir di sebuah padukuhan. Arya Gading juga bercerita mengenai keranda terbang yang ternyata dalang dibalik keranda itu seorang pimpinan rampok bernama Kebo Peteng.
“ Maafkan kami berdua kakang. Tugas yang telah kakang berikan tidak dapat kami selesaikan dengan baik. Bahkan, kami telat untuk pulang ke padepokan dan malah menetap di padukuhan ini. Terus terang, kami tidak bisa menolak keinginan paman Pamingit untuk beberapa hari tinggal disini untuk ikut membantu menjebak Kebo Peteng dan komplotannya”
Mahesa Branjangan menarik nafas panjang. Ia sama sekali tidak menyalahkan kedua adik seperguruannya itu.
“ Gading, lantas dimana si Doran? “
“Doran ada disalah satu rumah penduduk padukuhan ini kakang. Doran tinggal di rumah paman Pamingit “
“ Apakah kakang sampai turun gunung hanya karena untuk mencari kami berdua?”, Arya Gading bertanya dengan rasa sedikit bersalah.
Pemuda itu tahu Mahesa Branjangan adalah anak satu –satunya Ki Ageng Pandan Arum yang telah diserahi tanggung jawab untuk memimpin padukuhan selama Ki Ageng sedang mengembara.
“ Tidak Gading, aku turun gunung tidak semata –mata untuk mencari kalian berdua saja. Dua hari yang lalu ada kejadian yang terjadi di padepokan. Aku merasa kecolongan dan lengah karena kejadian itu “
Arya Gading terhenyak dari duduknya. Anak muda ini bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi di padepokan sehingga Mahesa Branjangan sampai turun gunung dan meninggalkan padepokan.
“ Kakang, kalau boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi di padepokan? “
Mahesa Branjangan menerawang ke depan. Lelaki itu seperti mengorek lagi kenangan buruk yang telah berusaha untuk dilupakannya.
Keduanya terjatuh berguling di Tanah, Namun Arya Gading tidak ingin menjadi sasaran serangan-serangan lawannya. Meskipun perutnya masih terasa mual serta kepalanya maih angat pening, tetapi Arya Gading telah bersiap kembali untuk bertempur. Pada saat yang sama, lawannya telah bangkit pula. Bahkan dengan cepat ia telah menyerang Arya Gading. Sambil meloncat orang itu telah menjulurkan tangannya kearah dada.
Tetapi Arya Gading dengan cepat bergeser kesamping. Justru pada saat tangan lawannya terjulur, Arya Gading telah menyerang lambung orang’itu dengan kakinya. Namun, lagi –lagi orang bertopeng itu dengan tangkas menangkap pergelangan kaki Arya Gading lantas didorongkannya ke belakang. Kembali tubuh Arya Gading jatuh terlentang. Teteapi, kali ini kakinya telah dicengkeram dengan erat oleh orang bertopeng itu. Arya Gading berusaha melepaskan kakinya dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, usahanya sia –sia. Cengkeraman tangan itu sangat kuat membelit pergelangan kakinya.
“ Kalau kau bergerak. Aku patahkan kaki mu ini “
Akhirnya, Arya Gading pasrah. Pemuda itu lantas diam saja. Dan anehnya, lelaki bertopeng itu perlahan melepaskan cengkraman kakinya. Lalu tertawa terbahak –bahak. Arya Gaing menjadi keheranan melihat tingkah polah lelaki bertopeng itu.
“ Gading, baru tiga hari kau turun gunung. Namun, kanuragan mu telah meningkat pesat. Hanya saja kau memang belum waktunya untuk turun gunung “
Mendengar perkataan lelaki bertopeng itu Arya Gading bertambah keheranan. Perlahan –lahan pemuda itu beranjak dari duduknya.
“ Maaf Kisanak, apakah kita sebelumnya pernah kenal? “
“ Kau masih terlalu muda Gading. Mengapa kau sepikun itu? “
Arya Gading lantas mengingat –ingat peristiwa yang baru saja terjadi. Terutama pertarungannya dengan lelaki bertopeng yang masih berdiri kokoh di depannya itu. Ditilik dari jurus –jurusnya lelaki bertopeng itu memiliki kesamaan dengan jurus –jurus yang dimiliki Arya Gading. Pemuda ini menyimpulkan bahwa lelaki bertopeng itu berasal dari dari perguruan yang sama dengannya.
Perguruan Pandan Arum di lereng Merapi. Arya Gading kembali memperhatikan lelaki yang berdiri tegap di hadapannya itu. Tubuh itu tinggi dengan ukuran badan yang cukup kekar dan besar. Hanya ada satu nama di perguruannya dengan ciri –ciri orang seperti itu. Namun, tidak mungkin kalau orang itu sampai turun gunung untuk mencari dirinya.
“ Kenapa Gading? Kau mulai mengenaliku? “
“ Maaf kisanak. Mungkin aku salah orang. Tetapi, sepertinya aku mengenali mu. Apakah ini kakang Mahesa Branjangan? “
Lelaki itu perlahan –lahan melepas topeng kayu yang menutupi wajahnya. Kini terbuka sudah wajah itu. Dan dengan cepat Arya Gading mengenali orang dibalik topeng kayu itu.
“ Kakang Mahesa Branjangan……”
Lelaki yang dipanggil Mahesa Branjangan itu tersenyum lantas mendekati Arya Gading dan menepuk bahu pemuda itu.
“ Kau cepat sekali berkembang pesat Gading. Pengalamanmu tiga hari jauh dari kaki Merapi telah membuatmu menjadi seorang pemuda yang pilihan. Sekarang ceritakan kepadaku mengapa kau sampai disini dan berurusan dengan Kebo Peteng “
Mahesa Branjangan mengajak Arya Gading untuk duduk di sebuah pohon randu alas yang cukup besar. Disana dua saudara seperguruan itu mulai berbicara. Arya Gading menjelaskan awal mula ia dan Doran mencari ayam cemani seperti tugas yang diberikan kepadanya. Seperti biasa Arya Gading mencari di tempat seorang peternak yang bernama Katili. Namun, pada saat itu ayam yang dimaksud tidak ada.
Terpaksa Arya Gading dan Doran mencari di tempat lain. Dan akhirnya mereka malah tersesat dan mampir di sebuah padukuhan. Arya Gading juga bercerita mengenai keranda terbang yang ternyata dalang dibalik keranda itu seorang pimpinan rampok bernama Kebo Peteng.
“ Maafkan kami berdua kakang. Tugas yang telah kakang berikan tidak dapat kami selesaikan dengan baik. Bahkan, kami telat untuk pulang ke padepokan dan malah menetap di padukuhan ini. Terus terang, kami tidak bisa menolak keinginan paman Pamingit untuk beberapa hari tinggal disini untuk ikut membantu menjebak Kebo Peteng dan komplotannya”
Mahesa Branjangan menarik nafas panjang. Ia sama sekali tidak menyalahkan kedua adik seperguruannya itu.
“ Gading, lantas dimana si Doran? “
“Doran ada disalah satu rumah penduduk padukuhan ini kakang. Doran tinggal di rumah paman Pamingit “
“ Apakah kakang sampai turun gunung hanya karena untuk mencari kami berdua?”, Arya Gading bertanya dengan rasa sedikit bersalah.
Pemuda itu tahu Mahesa Branjangan adalah anak satu –satunya Ki Ageng Pandan Arum yang telah diserahi tanggung jawab untuk memimpin padukuhan selama Ki Ageng sedang mengembara.
“ Tidak Gading, aku turun gunung tidak semata –mata untuk mencari kalian berdua saja. Dua hari yang lalu ada kejadian yang terjadi di padepokan. Aku merasa kecolongan dan lengah karena kejadian itu “
Arya Gading terhenyak dari duduknya. Anak muda ini bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi di padepokan sehingga Mahesa Branjangan sampai turun gunung dan meninggalkan padepokan.
“ Kakang, kalau boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi di padepokan? “
Mahesa Branjangan menerawang ke depan. Lelaki itu seperti mengorek lagi kenangan buruk yang telah berusaha untuk dilupakannya.
Quote:
LERENG GUNUNG MERAPI di suatu malam buta tanpa bulan tanpa bintang. Udara dingin bukan kepalang. Kegelapan menghitam di mana-mana. Di beberapa tempat behkan sulit ditembus pandangan mata. Di kejauhan lapat-lapat terdengar suara lolongan anjing. Ketika angin malam bertiup segala sesuatunya laksana membeku dalam dingin yang luar biasa. Sekali lagi terdengar lolongan anjing di kejauhan. Saat itu baru saja akan lewat tengah malam.
Dalam gelap dan dinginnya udara sesosok berpakaian dan bertutup kepala serba hitam bergerak cepat menuju kaki gunung Merapi. Gerakannya enteng dan gesit. Tentu ilmu meringankan tubuh orang ini sudah dikatakan sempurna. Sesosok tubuh ini tidak mengikuti jalan batu yang berliku-liku melainkan mengendap dan berkelebat di balik semak belukar dan pepohonan. Kaki gunung merupakan kawasan padepokan Pandan Arum. Ke tempat inilah agaknya orang itu tengah menuju.
Bangunan padepokan Pandan Arum tampak suram di sebelah dalam. Beberapa lampu atau
pelita yang menyala tidak mampu menerangi lorong –lorong di padepokan. Suasana terasa sepi mencekam walau di luar ada dua lampu minyak di pintu gerbang. Tidak seperti biasanya dimana hanya terdapat dua orang cantrik yang bertugas jaga di pintu gerbang, kini kelihatan hampir setengah lusin cantrik berada di situ.
Lalu ditambah setengah lusin lagi yang setiap saat bergantian mengelilingi tembok luar dan tembok dalam yang memagari padepokan. Sesosok tubuh mendekam dibalik tanaman yang rimbun. Orang ini menggunakan cadar. Sehingga hanya kedua matanya saja yang mencorong tajam. Mengawasi para cantrik yang berjaga ketat disekitaran padepokan.
“ Sial..tampaknya Mahesa Branjangan tahu akan ada menerobos masuk ke dalam padepokan. Penjagaannya tiba –tiba diperketat seperti ini “
Sosok itu mendengus kesal.
“Aku harus bersabar menunggu sampai tengah malam saat mereka lengah “
Malam makin larut. Udara bertambah dingin. Di balik rerimbunan pohon di luar tembok bangunan padepokan sosok tubuh yang bersembunyi di sana tidak bergerak sedikitpun. Diam seperti sebuah batu. Di kejauhan terdengan suara anjing menggonggong bersahut -sahutan.
“ Saatnya tiba, telah tepat tengah malam “
Sesosok misterius itu lalu duduk bersila, matanya perlahan terpejam. Tarikan nafasnya teratur. Mulutnya berkomat – kamit merapal mantera. Mata orang ini terbuka. Kemudian sosok ini berdiri. Kepalanya mendongak ke atas menatap tinggi ke angkasa yang ditaburi bintang berkelap –kelip. Kakinya dihentakkan tiga kali ke tanah sambil menahan nafas.
Udara semakin dingin mencucuk kulit sampai tulang sungsum.
Di depan gerbang padepokan terlihat para prajurit penjaga bertumbangan tertidur lelap. Seorang cantrik yang tampaknya paham dengan perubahan itu langsung duduk bersila. Mencoba menandingi mantra sirep Aji Begananda yang ditebar oleh sesosok misterius di balik rerimbunan pohon. Cantrik itu tampaknya tidak kuasa melawan kantuk yang mengganduli kedua kelopak matanya. Tubuhnya menggelosoh terkapar di tanah.
Beberapa saat orang ini mengawasi dengan cermat keadaan gerbang padepokan. Setelah dirasa aman. Bayangannya berkelebat masuk ke dalam padepokan. Tubuhnya ringan bagai terbang. Langkah kakinya sama sekali tidak terdengar. Di lorong –lorong padepokan yang menuju ke ruang utama tampak bertumbangan cantrik – cantrik yang berjaga dihantam keampuhan aji sirep Begananda.
Aji sirep Begananda dikenal sebagai ilmu sirep paling ampuh di tanah Jawa. Konon pada jaman dulu, orang sekampung atau serombongan prajurit bisa tertidur pulas jika terkena ajian dahsyat ini.
Dalam gelap dan dinginnya udara sesosok berpakaian dan bertutup kepala serba hitam bergerak cepat menuju kaki gunung Merapi. Gerakannya enteng dan gesit. Tentu ilmu meringankan tubuh orang ini sudah dikatakan sempurna. Sesosok tubuh ini tidak mengikuti jalan batu yang berliku-liku melainkan mengendap dan berkelebat di balik semak belukar dan pepohonan. Kaki gunung merupakan kawasan padepokan Pandan Arum. Ke tempat inilah agaknya orang itu tengah menuju.
Bangunan padepokan Pandan Arum tampak suram di sebelah dalam. Beberapa lampu atau
pelita yang menyala tidak mampu menerangi lorong –lorong di padepokan. Suasana terasa sepi mencekam walau di luar ada dua lampu minyak di pintu gerbang. Tidak seperti biasanya dimana hanya terdapat dua orang cantrik yang bertugas jaga di pintu gerbang, kini kelihatan hampir setengah lusin cantrik berada di situ.
Lalu ditambah setengah lusin lagi yang setiap saat bergantian mengelilingi tembok luar dan tembok dalam yang memagari padepokan. Sesosok tubuh mendekam dibalik tanaman yang rimbun. Orang ini menggunakan cadar. Sehingga hanya kedua matanya saja yang mencorong tajam. Mengawasi para cantrik yang berjaga ketat disekitaran padepokan.
“ Sial..tampaknya Mahesa Branjangan tahu akan ada menerobos masuk ke dalam padepokan. Penjagaannya tiba –tiba diperketat seperti ini “
Sosok itu mendengus kesal.
“Aku harus bersabar menunggu sampai tengah malam saat mereka lengah “
Malam makin larut. Udara bertambah dingin. Di balik rerimbunan pohon di luar tembok bangunan padepokan sosok tubuh yang bersembunyi di sana tidak bergerak sedikitpun. Diam seperti sebuah batu. Di kejauhan terdengan suara anjing menggonggong bersahut -sahutan.
“ Saatnya tiba, telah tepat tengah malam “
Sesosok misterius itu lalu duduk bersila, matanya perlahan terpejam. Tarikan nafasnya teratur. Mulutnya berkomat – kamit merapal mantera. Mata orang ini terbuka. Kemudian sosok ini berdiri. Kepalanya mendongak ke atas menatap tinggi ke angkasa yang ditaburi bintang berkelap –kelip. Kakinya dihentakkan tiga kali ke tanah sambil menahan nafas.
Udara semakin dingin mencucuk kulit sampai tulang sungsum.
Di depan gerbang padepokan terlihat para prajurit penjaga bertumbangan tertidur lelap. Seorang cantrik yang tampaknya paham dengan perubahan itu langsung duduk bersila. Mencoba menandingi mantra sirep Aji Begananda yang ditebar oleh sesosok misterius di balik rerimbunan pohon. Cantrik itu tampaknya tidak kuasa melawan kantuk yang mengganduli kedua kelopak matanya. Tubuhnya menggelosoh terkapar di tanah.
Beberapa saat orang ini mengawasi dengan cermat keadaan gerbang padepokan. Setelah dirasa aman. Bayangannya berkelebat masuk ke dalam padepokan. Tubuhnya ringan bagai terbang. Langkah kakinya sama sekali tidak terdengar. Di lorong –lorong padepokan yang menuju ke ruang utama tampak bertumbangan cantrik – cantrik yang berjaga dihantam keampuhan aji sirep Begananda.
Aji sirep Begananda dikenal sebagai ilmu sirep paling ampuh di tanah Jawa. Konon pada jaman dulu, orang sekampung atau serombongan prajurit bisa tertidur pulas jika terkena ajian dahsyat ini.
Quote:
Di dalam salah satu ruangan pada padepokan ini seorang lelaki duduk di lantai sedang tekun membaca sebuah kitab tebal. Tiba –tiba kitab itu diletakkan di atas sebuah meja. Pandangannya menyapu keadaan sekitar. Ada perubahan yang aneh dan tiba –tiba dirasakan oleh lelaki ini.
“ Udara berubah menjadi dingin. Aku sangat hafal udara dingin di kaki gunung Merapi. Rupanya ada yang menyebar sirep yang sangat kuat. Mataku pun tiba –tiba terasa berat. Sedikit saja aku lengah tentu aku akan ikut terkapar sampai besok pagi“
Lelaki itu lantas duduk bersila. Matanya terpejam. Mulutnya komat –kamit merapal sebuah mantera untuk menandingi sirep yang telah menyebar dan memayungi pelosok bangunan itu. Beberapa saat lamanya lelaki itu berusaha mengimbangi ilmu sirep itu. Titik –titik keringat mulai bermunculan di keningnya. Perlahan –lahan kantuk yang tadi sempat menyerang terpupus sirna.
Lelaki itu membuka matanya perlahan. Langkahnya terhenti manakala terdengar suara pintu dibuka perlahan.
"Damar … Kaukah itu? tanya lelaki itu tanpa berpaling. Tak ada jawaban..
Setttt… settt… setttt!
Teppp … tepppp … tepppp!
Tiga buah paser meluncur sangat cepat. Lelaki tadi dengan sigap dan cekatan melompat menghindari. Pada saat itulah sekelebat bayangan masuk ke ruangan utama itu. Lelaki yang berada di dalam ruangan tadi telah bersiap dengan kuda-kudanya. Lalu perlahan-lahan palingkan kepala. Sepasang matanya terbuka lebar melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu.
"Siapa kau…?!"
Dan memang saat itu di dalam ruangan telah tegak sesosok tubuh, muncul dalam penampilan yang gelap. Bertubuh tinggi kukuh dibungkus pakaian serba hitam mulai dari ujung kaki sampai ke kepala. Di bagian muka hanya sepasang mata mereka yang kelihatan, memandang tak berkesip ke arah lelaki itu dengan pandangan sedingin salju di puncak halimun.
“ Kau hebat Mahesa Branjangan. Satu padepokan ini sudah tertidur pulas. Dan kau masih sanggup untuk terjaga. Tentu Pandan Arum harus bangga memiliki putra seperti mu”
“ Kau mengenalku dan kau juga mengenal ayah ku. Siapa sebenarnya kau dan tujuan mu apa? Seseorang bertamu di tengah malam dengan menyebar sirep tentu bukan tamu yang sewajarnya “
“ Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku kembali ke tangan ku. Pandan Arum telah mengambil apa yang bukan menjadi hak nya “
“ Kisanak apa maksudmu? Kalau memang ayahku mengambil apa yang bukan menjadi hak nya tentu kisanak dapat menemuinya secara baik –baik. Bukan dengan cara menerobos tengah malam dan menyebar sirep “
Dalam hati Mahesa Branjangan membatin "Pasti orang ini menerobos masuk dengan menyebar sirep. Jika tidak satu murid perguruan pun memergokinya, berarti orang ini adalah orang yang berilmu sangat tinggi”
"Apalagi aku juga tidak mengenali suaranya. Tapi aneh suaranya seperti ditahan dan bergelung di perut. Apakah orang ini berusaha menutupi suaranya yang sebenarnya? Apakah orang ini adalah orang yang aku kenal? “
"Aku memberi waktu lima hitungan kepada mu kisanak agar segera keluar dari tempat ini!" Mahesa Branjangan beri peringatan.
Kedua tangannya diturunkan ke sisi sedang sepasang kaki tegak merenggang cepat. Apa yang terjadi kemudian berlangung sangat cepat. Orang berkedok itu segera menggebrak maju. Satu tendangan keras berkelebat ke arah Mahesa Branjangan. Anak lelaki dari Ki Ageng Pandan Arum ini segera berkelit. Dengan tangan kosong dia hadapi penyerangnya.
Tangan kanannya menghantam ke atas disusul dengan tendangan kaki kiri kanan.
Wuuuut!
Wuuuut!
Pukulan dan tendangan kaki kiri Mahesa Branjangan hanya mengenai tempat kosong. Tapi tendangan kaki kanannya mampir dengan telak di dada penyerangnya ini mencelat ke dinding. Dinding yang hanya terbuat dari kayu itu langsung jebol dan orang berkedok itu sendiri terlempar ke luar. Untuk sesaat dia tak kuasa bangun, hanya mengerang sambil pegangi dada.
“ Udara berubah menjadi dingin. Aku sangat hafal udara dingin di kaki gunung Merapi. Rupanya ada yang menyebar sirep yang sangat kuat. Mataku pun tiba –tiba terasa berat. Sedikit saja aku lengah tentu aku akan ikut terkapar sampai besok pagi“
Lelaki itu lantas duduk bersila. Matanya terpejam. Mulutnya komat –kamit merapal sebuah mantera untuk menandingi sirep yang telah menyebar dan memayungi pelosok bangunan itu. Beberapa saat lamanya lelaki itu berusaha mengimbangi ilmu sirep itu. Titik –titik keringat mulai bermunculan di keningnya. Perlahan –lahan kantuk yang tadi sempat menyerang terpupus sirna.
Lelaki itu membuka matanya perlahan. Langkahnya terhenti manakala terdengar suara pintu dibuka perlahan.
"Damar … Kaukah itu? tanya lelaki itu tanpa berpaling. Tak ada jawaban..
Setttt… settt… setttt!
Teppp … tepppp … tepppp!
Tiga buah paser meluncur sangat cepat. Lelaki tadi dengan sigap dan cekatan melompat menghindari. Pada saat itulah sekelebat bayangan masuk ke ruangan utama itu. Lelaki yang berada di dalam ruangan tadi telah bersiap dengan kuda-kudanya. Lalu perlahan-lahan palingkan kepala. Sepasang matanya terbuka lebar melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu.
"Siapa kau…?!"
Dan memang saat itu di dalam ruangan telah tegak sesosok tubuh, muncul dalam penampilan yang gelap. Bertubuh tinggi kukuh dibungkus pakaian serba hitam mulai dari ujung kaki sampai ke kepala. Di bagian muka hanya sepasang mata mereka yang kelihatan, memandang tak berkesip ke arah lelaki itu dengan pandangan sedingin salju di puncak halimun.
“ Kau hebat Mahesa Branjangan. Satu padepokan ini sudah tertidur pulas. Dan kau masih sanggup untuk terjaga. Tentu Pandan Arum harus bangga memiliki putra seperti mu”
“ Kau mengenalku dan kau juga mengenal ayah ku. Siapa sebenarnya kau dan tujuan mu apa? Seseorang bertamu di tengah malam dengan menyebar sirep tentu bukan tamu yang sewajarnya “
“ Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku kembali ke tangan ku. Pandan Arum telah mengambil apa yang bukan menjadi hak nya “
“ Kisanak apa maksudmu? Kalau memang ayahku mengambil apa yang bukan menjadi hak nya tentu kisanak dapat menemuinya secara baik –baik. Bukan dengan cara menerobos tengah malam dan menyebar sirep “
Dalam hati Mahesa Branjangan membatin "Pasti orang ini menerobos masuk dengan menyebar sirep. Jika tidak satu murid perguruan pun memergokinya, berarti orang ini adalah orang yang berilmu sangat tinggi”
"Apalagi aku juga tidak mengenali suaranya. Tapi aneh suaranya seperti ditahan dan bergelung di perut. Apakah orang ini berusaha menutupi suaranya yang sebenarnya? Apakah orang ini adalah orang yang aku kenal? “
"Aku memberi waktu lima hitungan kepada mu kisanak agar segera keluar dari tempat ini!" Mahesa Branjangan beri peringatan.
Kedua tangannya diturunkan ke sisi sedang sepasang kaki tegak merenggang cepat. Apa yang terjadi kemudian berlangung sangat cepat. Orang berkedok itu segera menggebrak maju. Satu tendangan keras berkelebat ke arah Mahesa Branjangan. Anak lelaki dari Ki Ageng Pandan Arum ini segera berkelit. Dengan tangan kosong dia hadapi penyerangnya.
Tangan kanannya menghantam ke atas disusul dengan tendangan kaki kiri kanan.
Wuuuut!
Wuuuut!
Pukulan dan tendangan kaki kiri Mahesa Branjangan hanya mengenai tempat kosong. Tapi tendangan kaki kanannya mampir dengan telak di dada penyerangnya ini mencelat ke dinding. Dinding yang hanya terbuat dari kayu itu langsung jebol dan orang berkedok itu sendiri terlempar ke luar. Untuk sesaat dia tak kuasa bangun, hanya mengerang sambil pegangi dada.
Diubah oleh breaking182 21-04-2022 01:22
MFriza85 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas