- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
Diubah oleh breaking182 30-12-2022 23:12
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.7K
Kutip
622
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#211
gatra 8
Quote:
TERNYATA KI BEKEL juga merasa heran melihat kedatangan ki Jagabaya bersama tiga orang kerumahnya. Di wajah mereka nampak persoalan yang membebani mereka, sehingga mereka harus datang menemuinya.
“Apakah Ki Jagabaya tidak dapat menyelesaikan persoalan mereka sehingga mereka harus datang kepadaku?“ bertanya Ki Bekel didalam hatinya.
Ketika mereka sudah duduk di pringgitan, maka Ki Jagabaya lah yang telah menyampaikan persoalan yang mereka bawa menghadap Ki Bekel. Wajah Ki Bekel pun menjadi tegang. Kebo Peteng baginya juga merupakan hantu yang mendebarkan.
“Tetapi agaknya hantu-hantuan itu ada hubungannya dengan Kebo Peteng.”
“Ya” jawab Ki Jagabaya, “anak inilah yang mendengar langsung pembicaraan para perampok itu.”
Sekali lagi Arya Gading harus berceritera tentang pari perampok dan pembicaraan diantara mereka tentang rencana kedatangan Kebo Peteng.
“Sebaiknya kita sambut kedatangan Kebo Peteng itu.” berkata Pamingit.
“Kau jangan main-main dengan nama itu” desis Ki Bekel.
Pamingit tersenyum.
Katanya, “Aku tahu kelebihan Kebo Peteng. Tetapi jangan biarkan Kebo Peteng menguasai padukuhan ini. Sekali ia dapat bergerak leluasa disini, maka padukuhan ini akan menjadi ladang yang subur bagi Kebo Peteng. Ia akan memeras setiap orang yang memang sudah ketakutan karena ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri itu.”
“Tetapi bagaimana kita dapat melawannya?” bertanya Ki Bekel.
“Kita harus melakukan bersama-sama. Biarlah kita mencoba untuk menahan Kebo Peteng. Jika kita tidak mampu mengimbanginya, maka para warga dan pemuda akan bersama –sama menggempurnya. Aku yakin, bahwa sehebat –hebatnya Kebo Peteng jika digempur dengan banyak orang akan dapat menahannya.”
“Bagaimana dengan para pengikutnya?”
“Mereka banyak tergantung kepada pemimpinnya. Jika kami benar-benar dapat menahan Kebo Peteng, maka aku yakin, bahwa para pengikutnya akan menjadi ragu-ragu, sehingga kita akan dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menghancurkan mereka. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sepuluh, lima belas atau katakan duapuluh lima orang. Bukankah jumlah laki-laki di padukuhan ini jauh lebih banyak dari jumlah itu?”
“Tetapi hanya ada berapa orang laki-laki yang berada di paduhukan ini.” berkata Pamingit dengan dahi yang berkerut, “apalagi menghadapi Kebo Peteng dan pengikutnya, sedangkan ceritera tentang keranda terbang itu saja sudah membuat seisi padukuhan ini ketakutan"
”Tetapi bukankah ada orang-orang yang akan dapat menjadi sandaran kekuatan isi padukuhan ini? Disini ada kakang Bekel, Kakang Jagabaya, kakang Pamingit dan kakang Merta. Di padukuhan ini ada bebahu yang tentu akan dapat dikerahkan. Mereka tidak hanya dapat sekedar menikmati bengkok sawah yang mereka petik hasilnya setiap musim”
“ Tetapi mereka juga harus bersedia menjadi perisai di padukuhan ini. Kemudian menurut pengenalanku disini ada juga beberapa orang bekas prajurit dan anak-anak muda yang haus penjelasan bahwa keranda itu tidak lebih dari hantu-hantuan saja.”
“ Maaf kakang bekel. Ada hal lagi yang ingin aku sampaikan. Menurut dugaan kami kelompok Kebo Peteng akan mengambil hasil curiannya pada saat hajatan ngunduh mantu Demang Dadap Ayam. Karena pada saat itu orang –ornag tentu akan berkumpul di rumah ke demang karena aka nada hiburan berupa tari topeng dan tayuban”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Masih ada waktu berapa lama menjelang ngunduh mantu itu?”
“Besok malam kakang Bekel.”
“Waktu yang sangat singkat” sahut Ki Bekel, “kita siapkan perlawanan terhadap para perampok itu dalam waktu yang singkat. Aku kenal isi padukuhan ini. Karena itu, aku yakin bahwa kita akan dapat mempertahankan harga diri padukuhan ini. Tetapi sebelumnya kita harus juga menyadari, bahwa akan jatuh korban di antara kita”
“Tetapi itu tentu wajar bagi setiap perjuangan. Karena itu, maka kita harus mampu mengerahkan kekuatan yang sebesar-besarnya. Semakin banyak dan semakin kuat kita, maka korban akan menjadi semakin sedikit. Didalam pertempuran, kita harus saling menolong sehingga setiap orang pengikut Kebo Peteng, akan menghadapi lawan yang dapat membuat jantungnya bergetar.”
“Bagaimana pendapatmu, Ki Jagabaya?” bertanya Ki Bekel.
“Aku setuju dengan mu kakang. Aku akan menggerakkan setiap laki-laki di padukuhan ini.”
“Baiklah” berkata Pamingit, “jika kita sudah sependapat bahwa kita akan mengadakan perlawanan, maka kita harus melakukan-dengan sepenuh hati. Kita tidak boleh ragu-ragu. Jika kita menjadi ragu, maka kita justru akan terjebak dalam kesulitan.”
“Tentu Pamingit. Sekali kita turun ke gelanggang, maka kita harus sudah bersiap untuk menghadapi maut”, sahut ki bekel.
“Itulah yang harus dijelaskan kepada rakyat padukuhan ini. Jika mereka bersedia, kita harus benar-benar terjun dengan segala akibat yang mungkin terjadi. Sebaliknya, jika rakyat padukuhan ini ragu, sebaiknya kita pasrah saja pada keadaan, meskipun leher kita akan dicekiknya” sahut Merta.
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memanggil para bebahu malam ini juga.”
Demikianlah, maka Ki Jagabaya, Pamingit, Merta dan Arya Gading telah minta diri. Malam nanti mereka akan kembali ke rumah Ki Bekel itu kecuali Arya Gading,
“Apakah Ki Jagabaya tidak dapat menyelesaikan persoalan mereka sehingga mereka harus datang kepadaku?“ bertanya Ki Bekel didalam hatinya.
Ketika mereka sudah duduk di pringgitan, maka Ki Jagabaya lah yang telah menyampaikan persoalan yang mereka bawa menghadap Ki Bekel. Wajah Ki Bekel pun menjadi tegang. Kebo Peteng baginya juga merupakan hantu yang mendebarkan.
“Tetapi agaknya hantu-hantuan itu ada hubungannya dengan Kebo Peteng.”
“Ya” jawab Ki Jagabaya, “anak inilah yang mendengar langsung pembicaraan para perampok itu.”
Sekali lagi Arya Gading harus berceritera tentang pari perampok dan pembicaraan diantara mereka tentang rencana kedatangan Kebo Peteng.
“Sebaiknya kita sambut kedatangan Kebo Peteng itu.” berkata Pamingit.
“Kau jangan main-main dengan nama itu” desis Ki Bekel.
Pamingit tersenyum.
Katanya, “Aku tahu kelebihan Kebo Peteng. Tetapi jangan biarkan Kebo Peteng menguasai padukuhan ini. Sekali ia dapat bergerak leluasa disini, maka padukuhan ini akan menjadi ladang yang subur bagi Kebo Peteng. Ia akan memeras setiap orang yang memang sudah ketakutan karena ceritera tentang keranda yang dapat berjalan sendiri itu.”
“Tetapi bagaimana kita dapat melawannya?” bertanya Ki Bekel.
“Kita harus melakukan bersama-sama. Biarlah kita mencoba untuk menahan Kebo Peteng. Jika kita tidak mampu mengimbanginya, maka para warga dan pemuda akan bersama –sama menggempurnya. Aku yakin, bahwa sehebat –hebatnya Kebo Peteng jika digempur dengan banyak orang akan dapat menahannya.”
“Bagaimana dengan para pengikutnya?”
“Mereka banyak tergantung kepada pemimpinnya. Jika kami benar-benar dapat menahan Kebo Peteng, maka aku yakin, bahwa para pengikutnya akan menjadi ragu-ragu, sehingga kita akan dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menghancurkan mereka. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sepuluh, lima belas atau katakan duapuluh lima orang. Bukankah jumlah laki-laki di padukuhan ini jauh lebih banyak dari jumlah itu?”
“Tetapi hanya ada berapa orang laki-laki yang berada di paduhukan ini.” berkata Pamingit dengan dahi yang berkerut, “apalagi menghadapi Kebo Peteng dan pengikutnya, sedangkan ceritera tentang keranda terbang itu saja sudah membuat seisi padukuhan ini ketakutan"
”Tetapi bukankah ada orang-orang yang akan dapat menjadi sandaran kekuatan isi padukuhan ini? Disini ada kakang Bekel, Kakang Jagabaya, kakang Pamingit dan kakang Merta. Di padukuhan ini ada bebahu yang tentu akan dapat dikerahkan. Mereka tidak hanya dapat sekedar menikmati bengkok sawah yang mereka petik hasilnya setiap musim”
“ Tetapi mereka juga harus bersedia menjadi perisai di padukuhan ini. Kemudian menurut pengenalanku disini ada juga beberapa orang bekas prajurit dan anak-anak muda yang haus penjelasan bahwa keranda itu tidak lebih dari hantu-hantuan saja.”
“ Maaf kakang bekel. Ada hal lagi yang ingin aku sampaikan. Menurut dugaan kami kelompok Kebo Peteng akan mengambil hasil curiannya pada saat hajatan ngunduh mantu Demang Dadap Ayam. Karena pada saat itu orang –ornag tentu akan berkumpul di rumah ke demang karena aka nada hiburan berupa tari topeng dan tayuban”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Masih ada waktu berapa lama menjelang ngunduh mantu itu?”
“Besok malam kakang Bekel.”
“Waktu yang sangat singkat” sahut Ki Bekel, “kita siapkan perlawanan terhadap para perampok itu dalam waktu yang singkat. Aku kenal isi padukuhan ini. Karena itu, aku yakin bahwa kita akan dapat mempertahankan harga diri padukuhan ini. Tetapi sebelumnya kita harus juga menyadari, bahwa akan jatuh korban di antara kita”
“Tetapi itu tentu wajar bagi setiap perjuangan. Karena itu, maka kita harus mampu mengerahkan kekuatan yang sebesar-besarnya. Semakin banyak dan semakin kuat kita, maka korban akan menjadi semakin sedikit. Didalam pertempuran, kita harus saling menolong sehingga setiap orang pengikut Kebo Peteng, akan menghadapi lawan yang dapat membuat jantungnya bergetar.”
“Bagaimana pendapatmu, Ki Jagabaya?” bertanya Ki Bekel.
“Aku setuju dengan mu kakang. Aku akan menggerakkan setiap laki-laki di padukuhan ini.”
“Baiklah” berkata Pamingit, “jika kita sudah sependapat bahwa kita akan mengadakan perlawanan, maka kita harus melakukan-dengan sepenuh hati. Kita tidak boleh ragu-ragu. Jika kita menjadi ragu, maka kita justru akan terjebak dalam kesulitan.”
“Tentu Pamingit. Sekali kita turun ke gelanggang, maka kita harus sudah bersiap untuk menghadapi maut”, sahut ki bekel.
“Itulah yang harus dijelaskan kepada rakyat padukuhan ini. Jika mereka bersedia, kita harus benar-benar terjun dengan segala akibat yang mungkin terjadi. Sebaliknya, jika rakyat padukuhan ini ragu, sebaiknya kita pasrah saja pada keadaan, meskipun leher kita akan dicekiknya” sahut Merta.
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memanggil para bebahu malam ini juga.”
Demikianlah, maka Ki Jagabaya, Pamingit, Merta dan Arya Gading telah minta diri. Malam nanti mereka akan kembali ke rumah Ki Bekel itu kecuali Arya Gading,
Quote:
MENJELANG MALAM, maka para bebahu yang dipanggil Ki Bekel telah berkumpul. Pamingit dan Merta pun telah datang pula memenuhi panggilan Ki Bekel meskipun mereka bukan bebahu. Arya Gading dan Doran yang merasa dirinya orang lain di padukuhan itu, tidak ikut hadir dirumah Ki Bekel. Namun beberapa orang telah mendengar ceriteranya tentang hantu keranda, para perampok dan hasil rampokan mereka yang mereka sembunyikan di kuburan.
Sementara Pamingit tidak ada dirumah, maka Arya Gading pun telah minta ijin kepada Nyi Pamingit untuk berjalan-jalan.
“Malam-malam kau akan pergi kemana ngger?” bertanya Nyi Pamingit.
“Hanya berjalan-jalan saja bibi, menghirup angin. Udara terasa panas malam ini.”
“Jangan terlalu lama ngger. Nanti jika pamanmu datang, ia tentu akan mencarimu. Apakah angger Doran juga ikut menyertaimu?” tanya Nyi Pamingit.
“ Doran tidak ikut bibi. Dia sudah masuk ke biliknya. Aku sendirian saja”
Arya Gading pun kemudian telah meninggalkan rumah Pamingit. Ia menyusuri jalan-jalan padukuhan yang sudah menjadi sepi. Ada beberapa oncor terpancang di regol-regol rumah yang besar dan di simpang-simpang ampat terpenting di-padukuhan.
Sejak terbetik berita tentang hantu keranda, maka jarang sekali ada orang yang berani keluar setelah gelap. Bahkan gardu-gardupun menjadi kosong. Satu dua orang yang mempunyai keberanian mencoba untuk mengintip dari belakang dinding padukuhan. Tetapi mereka tidak pernah dapat melihat keranda yang berjalan sendiri itu. Justru orang yang tidak sengaja untuk melihatnya, sekali-sekali pernah ada yang sempat melihatnya.
Tetapi akhirnya Pamingit, dan ketiga orang kawannya berhasil melihat keranda yang dikiranya dapat berjalan sendiri itu, sehingga justru ada diantara mereka yang menjadi sakit. Tetapi Arya Gading sama sekali tidak takut bertemu dengan keranda yang dapat terbang. Meskipun demikian ia harus berhati-hati, karena disekitar keranda itu terdapat sekitar sepuluh orang yang berpakaian serba hitam. Jika orang-orang itu menyadari, bahwa rahasia mereka diketahui, maka mereka tidak akan segan-segan menyingkirkan orang yang mengetahui rahasia mereka itu.
Beberapa lama Arya Gading berjalan di tengah-tengah bulak yang luas itu. Tetapi Arya Gading sudah menduga bahwa keranda yang belum lama lewat, hari itu tidak akan lewat. Apalagi keranda itu hanya lewat di hari-hari tertentu saja. Semakin lama maka langkah Arya Gading menjadi semakin jauh dari padukuhan. Sementara malam menjadi semakin malam. Disimpang ampat ditengah bulak, Arya Gading berhenti.
Dipandanginya padukuhan yang nampak kehitam-hitaman. Seleret sinar oncor memancar menyusup disela-sela dedaunan. Arya Gading harus menunda perjalanan pulangnya ke lereng Merapi. Tentu Mahesa Branjangan tidak akan menyalahkannya jika ia berhenti di padukuhan itu barng sehari dua hari. Arya Gading menarik nafas panjang.
Sementara Pamingit tidak ada dirumah, maka Arya Gading pun telah minta ijin kepada Nyi Pamingit untuk berjalan-jalan.
“Malam-malam kau akan pergi kemana ngger?” bertanya Nyi Pamingit.
“Hanya berjalan-jalan saja bibi, menghirup angin. Udara terasa panas malam ini.”
“Jangan terlalu lama ngger. Nanti jika pamanmu datang, ia tentu akan mencarimu. Apakah angger Doran juga ikut menyertaimu?” tanya Nyi Pamingit.
“ Doran tidak ikut bibi. Dia sudah masuk ke biliknya. Aku sendirian saja”
Arya Gading pun kemudian telah meninggalkan rumah Pamingit. Ia menyusuri jalan-jalan padukuhan yang sudah menjadi sepi. Ada beberapa oncor terpancang di regol-regol rumah yang besar dan di simpang-simpang ampat terpenting di-padukuhan.
Sejak terbetik berita tentang hantu keranda, maka jarang sekali ada orang yang berani keluar setelah gelap. Bahkan gardu-gardupun menjadi kosong. Satu dua orang yang mempunyai keberanian mencoba untuk mengintip dari belakang dinding padukuhan. Tetapi mereka tidak pernah dapat melihat keranda yang berjalan sendiri itu. Justru orang yang tidak sengaja untuk melihatnya, sekali-sekali pernah ada yang sempat melihatnya.
Tetapi akhirnya Pamingit, dan ketiga orang kawannya berhasil melihat keranda yang dikiranya dapat berjalan sendiri itu, sehingga justru ada diantara mereka yang menjadi sakit. Tetapi Arya Gading sama sekali tidak takut bertemu dengan keranda yang dapat terbang. Meskipun demikian ia harus berhati-hati, karena disekitar keranda itu terdapat sekitar sepuluh orang yang berpakaian serba hitam. Jika orang-orang itu menyadari, bahwa rahasia mereka diketahui, maka mereka tidak akan segan-segan menyingkirkan orang yang mengetahui rahasia mereka itu.
Beberapa lama Arya Gading berjalan di tengah-tengah bulak yang luas itu. Tetapi Arya Gading sudah menduga bahwa keranda yang belum lama lewat, hari itu tidak akan lewat. Apalagi keranda itu hanya lewat di hari-hari tertentu saja. Semakin lama maka langkah Arya Gading menjadi semakin jauh dari padukuhan. Sementara malam menjadi semakin malam. Disimpang ampat ditengah bulak, Arya Gading berhenti.
Dipandanginya padukuhan yang nampak kehitam-hitaman. Seleret sinar oncor memancar menyusup disela-sela dedaunan. Arya Gading harus menunda perjalanan pulangnya ke lereng Merapi. Tentu Mahesa Branjangan tidak akan menyalahkannya jika ia berhenti di padukuhan itu barng sehari dua hari. Arya Gading menarik nafas panjang.
Quote:
NAMUN tiba-tiba saja Arya Gading terkejut. Dibawah sebatang pohon randu yang tumbuh di pinggir simpang empat itu ia melihat sesuatu yang bergerak. Bahkan kemudian menjadi semakin jelas baginya, bahwa yang bergerak itu adalah seseorang yang sedang duduk bersandar batang pohon randu itu.
Arya Gading melangkah surut. Sementara orang yang duduk bersandar pohon randu itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Arya Gading memang tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, Maka Arya Gading pun merasa lebih baik ia pergi tanpa mengganggu orang itu.
Namun ketika ia melangkah menjauh, terdengar orang itu berkata, “Kau kira begitu saja kau dapat pergi?”
Arya Gading berhenti. Sambil menghadap kearah orang itu, Arya Gading bertanya, “Apakah maksud Ki Sanak?”
“Kau telah mengetahui rahasiaku. Rahasia keranda terbang itu, serta kau telah melihat tempat kami menyimpan benda-benda rampokan itu.”
Jantung Arya Gading berdentang semakin cepat. Ternyata orang itu mengerti bahwa ia telah mengetahui rahasia hantu keranda itu.
”Apakah kau salah seorang dari mereka ?” bertanya Arya Gading
Orang itu masih tetap duduk. Dengan suara yang seakan-akan bergulung didalam mulutnya, ia menjawab, “Ya. Aku salah seorang dari mereka.”
Arya Gading termangu-mangu sejenak. Namun dadanya mulai bergejolak. Jika benar orang itu salah seorang dari para perampok yang membuat hantu-hantuan serta yang telah menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu, maka ia harus benar-benar mempertahankan hidupnya. Tetapi Arya Gading masih tetap berdiri ditempatnya karena orang yang duduk dibawah pohon randu itupun masih saja duduk di tempatnya pula.
Namun kemudian terdengar orang itu berkata, “Anak muda. Kau telah bermain dengan api. Adalah salahmu jika api itu menjilat dan membakar tubuhmu.”
Arya Gading menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Tetapi apa boleh buat. Ia harus berani memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri sebagaimana dikaitkan oleh orang itu. Tiba-tiba saja keberaniannya telah menghangatkan darahnya.
Dengan suara yang mantap Arya Gading bertanya, “Apa yang kau kehendaki Ki Sanak.”
“Nyawamu” jawab orang itu.
“Ambillah sendiri” jawab Arya Gading.
Orang itu mulai bangkit. Ia berdiri dibawah pohon randu alas itu. Gelap malam telah mengaburkan wajah orang itu. Apalagi sekilas terlihat orang itu menutupi wajahnya menggunakan topeng dari kayu sehingga Arya Gading tidak dapat melihat dengan jelas. Apalagi mengenalinya.Tetapi yang nampak di matanya dalam keremangan malam adalah tubuhnya yang gagah, tinggi dan besar.
“Menyerahlah” suaranya terdengar serak.
“Untuk apa aku menyerah?” bertanya Arya Gading.
“Aku akan membunuhmu.”
“Kau kira aku apa?” Arya Gading justru bertanya dengan nada yang mantap.
Pengalaman hidupnya membuat Arya Gading tidak mengenal takut lagi. Arya Gading pernah mengalami nyawanya hampir di ujung tanduk jika saja tidak diselamatkan oleh Ki Ageng Pandan Arum. Bahkan kematian tidak lagi menghantuinya.
Orang itu mulai melangkah mendekat. Katanya, “Kau akan aku bunuh dengan caraku.”
“Jika kau benar-benar akan membunuhku, maka aku pun harus berusaha untuk mempertahankan hidupku. Jika karena aku mempertahankan diri terjadi sesuatu atasmu, aku tidak bertanggung jawab.”
“Bersiaplah anak yang sombong. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mundur.”
Arya Gading pun segera mempersiapkan diri. Meskipun ia masih terhitung sangat muda di umurnya yang tujuh belas itu, namun Arya Gading pernah menyadap ilmu dari seorang guru yang berilmu tinggi. Karena itu, ketika hidupnya terancam, maka ia akan mempertahankan dirinya dengan ilmunya sejauh yang dikuasainya.
Demikianlah, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarinya lagi. Dengan garangnya orang yang semula duduk dibawah pohon randu itupun mulai menyerangnya. Tetapi Arya Gading pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka Arya Gading pun dengan tangkasnya telah mengelak. Bahkan dengan cepat, Arya Gading telah membalas menyerangnya.
Tetapi orang itu pun mampu bergerak cepat pula. Serangan Arya Gading pun sama sekali tidak menyentuhnya. Ketika Arya Gading memburunya dengan serangan berikutnya, maka orang itu justru telah membenturnya. Serangan kaki Arya Gading yang terjulur mengarah ke dada, telah ditangkis lawannya dengan kedua tangannnya yang bersilang didadanya.
Arya Gading yang belum mengetahui seberapa besar kekuatan dan tenaga lawannya telah terdorong selangkah surut. Namun Arya Gading tidak berkecil hati.
Lawannya ternyata juga tergetar dan surut selangkah pula. Demikianlah, keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya saling menyerang, bertahan dan menghindar. Dalam pertempuran yang semakin cepat itu, Arya Gading berusaha untuk dapat mengenali lawannya. Dalam keremangan malam, Arya Gading melihat bahwa lawannya itu mengenakan topeng dari kayu.
Pertempuran pun telah menyala dengan lebih berkobar. Keduanya bergerak semakin cepat. Serangan demi serangan telah dilakukan oleh kedua belah pihak. Orang misterius dengan wajah ditutup menggunakan topeng kayu itu ternyata semakin lama menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras.
Tetapi Arya Gading pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Pada umurnya, Arya Gading memiliki tenaga yang mantap. Karena itu maka setelah bertempur beberapa lama, tenaga Arya Gading pun masih belum menyusut. Tetapi pengalaman orang nertopeng kayu itu memang jauh lebih luas dari Arya Gading. Karena itu, maka setiap kali serangan orang itu mengejutkan Arya Gading.
Namun betapapun Arya Gading mengerahkan kemampuannya, orang itu ternyata mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangannya sekali-sekali telah menyentuh tubuhnya. Tetapi setelah bertempur beberapa lama Arya Gading menjadi heran karena jurus dan gerakan orang misterius yang tengah dilawannya itu memiliki ciri dan gerakan yang sama dengan jurus –jurus yang dimilikinya.
Serangan orang bertopeng itu semakin gencar dan cepat Arya Gading yang kemudian mengalami kesulitan itu, tidak lagi sekedar bertempur dengan unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Tetapi ia harus mempergunakan penalarannya sebaik-baiknya. Ia harus membuat perhitungan-perhitungan dengan cepat, tetapi cermat agar tidak justru membuatnya semakin sulit.
Ketika Arya Gading harus meloncat menjauhi lawannya untuk mengambil jarak, ia melihat bahwa lawannya tidak terlalu cepat menyusulnya. Terasa ada tenggang waktu sekejap sebelum lawannya melibatnya lagi dalam pertempuran yang sengit. Sekali dua kali Arya Gading mencoba, Sehingga ia pun dapat mengambil kesimpulan bahwa lawannya kurang memiliki ketangkasan untuk bertempur dengan loncatan-loncatan panjang. Dengan demikian, maka Arya Gading telah memilih cara yang justru tidak disukai lawannya. Arya Gading bertempur pada jarak yang dipeliharanya dengan baik.
Ternyata Arya Gading berhasil mempersulit kedudukan lawannya. Tetapi setiap kali pengalaman orang bertopeng itu, terasa sangat berpengaruh dalam pertempuran itu. Orang bertopeng itu tidak mau terpancing dalam pertempuran dengan jarak yang panjang. Setiap kali Arya Gading meloncat menjauh, lawannya tidak tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia justru melangkah satu-satu mendekatinya.
Arya Gadinglah yang kemudian menjadi tidak telaten. Ia menjadi tidak sabar lagi, sehingga ia tidak berpegang teguh pada perhitungannya. Dengan demikian, maka serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda itu. Ketika Arya Gading menjulurkan kakinya menyerang ke arah lambung lawannya, maka orang bertopeng itu justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat menyapu kaki Arya Gading yang lain, sehingga Arya Gading telah menjadi kehilangan keseimbangan.
Karena itu, maka Arya Gading pun telah terjatuh. Tetapi ia pun dengan cepat berguling. Dengan tangkas pula Arya Gading segera meloncat bangkit. Tetapi diluar dugaan. Lawannya itu selalu menghindari pertempuran dengan jarak yang panjang, mampu meloncat dengan cepat. Ternyata Arya Gading terkejut. Tetapi ia terlambat menghindar. Tangan orang itu dengan cepat menghantam perutnya.
Arya Gading melangkah surut. Sementara orang yang duduk bersandar pohon randu itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Arya Gading memang tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, Maka Arya Gading pun merasa lebih baik ia pergi tanpa mengganggu orang itu.
Namun ketika ia melangkah menjauh, terdengar orang itu berkata, “Kau kira begitu saja kau dapat pergi?”
Arya Gading berhenti. Sambil menghadap kearah orang itu, Arya Gading bertanya, “Apakah maksud Ki Sanak?”
“Kau telah mengetahui rahasiaku. Rahasia keranda terbang itu, serta kau telah melihat tempat kami menyimpan benda-benda rampokan itu.”
Jantung Arya Gading berdentang semakin cepat. Ternyata orang itu mengerti bahwa ia telah mengetahui rahasia hantu keranda itu.
”Apakah kau salah seorang dari mereka ?” bertanya Arya Gading
Orang itu masih tetap duduk. Dengan suara yang seakan-akan bergulung didalam mulutnya, ia menjawab, “Ya. Aku salah seorang dari mereka.”
Arya Gading termangu-mangu sejenak. Namun dadanya mulai bergejolak. Jika benar orang itu salah seorang dari para perampok yang membuat hantu-hantuan serta yang telah menyembunyikan barang-barang hasil rampokan itu, maka ia harus benar-benar mempertahankan hidupnya. Tetapi Arya Gading masih tetap berdiri ditempatnya karena orang yang duduk dibawah pohon randu itupun masih saja duduk di tempatnya pula.
Namun kemudian terdengar orang itu berkata, “Anak muda. Kau telah bermain dengan api. Adalah salahmu jika api itu menjilat dan membakar tubuhmu.”
Arya Gading menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Tetapi apa boleh buat. Ia harus berani memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri sebagaimana dikaitkan oleh orang itu. Tiba-tiba saja keberaniannya telah menghangatkan darahnya.
Dengan suara yang mantap Arya Gading bertanya, “Apa yang kau kehendaki Ki Sanak.”
“Nyawamu” jawab orang itu.
“Ambillah sendiri” jawab Arya Gading.
Orang itu mulai bangkit. Ia berdiri dibawah pohon randu alas itu. Gelap malam telah mengaburkan wajah orang itu. Apalagi sekilas terlihat orang itu menutupi wajahnya menggunakan topeng dari kayu sehingga Arya Gading tidak dapat melihat dengan jelas. Apalagi mengenalinya.Tetapi yang nampak di matanya dalam keremangan malam adalah tubuhnya yang gagah, tinggi dan besar.
“Menyerahlah” suaranya terdengar serak.
“Untuk apa aku menyerah?” bertanya Arya Gading.
“Aku akan membunuhmu.”
“Kau kira aku apa?” Arya Gading justru bertanya dengan nada yang mantap.
Pengalaman hidupnya membuat Arya Gading tidak mengenal takut lagi. Arya Gading pernah mengalami nyawanya hampir di ujung tanduk jika saja tidak diselamatkan oleh Ki Ageng Pandan Arum. Bahkan kematian tidak lagi menghantuinya.
Orang itu mulai melangkah mendekat. Katanya, “Kau akan aku bunuh dengan caraku.”
“Jika kau benar-benar akan membunuhku, maka aku pun harus berusaha untuk mempertahankan hidupku. Jika karena aku mempertahankan diri terjadi sesuatu atasmu, aku tidak bertanggung jawab.”
“Bersiaplah anak yang sombong. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mundur.”
Arya Gading pun segera mempersiapkan diri. Meskipun ia masih terhitung sangat muda di umurnya yang tujuh belas itu, namun Arya Gading pernah menyadap ilmu dari seorang guru yang berilmu tinggi. Karena itu, ketika hidupnya terancam, maka ia akan mempertahankan dirinya dengan ilmunya sejauh yang dikuasainya.
Demikianlah, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarinya lagi. Dengan garangnya orang yang semula duduk dibawah pohon randu itupun mulai menyerangnya. Tetapi Arya Gading pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka Arya Gading pun dengan tangkasnya telah mengelak. Bahkan dengan cepat, Arya Gading telah membalas menyerangnya.
Tetapi orang itu pun mampu bergerak cepat pula. Serangan Arya Gading pun sama sekali tidak menyentuhnya. Ketika Arya Gading memburunya dengan serangan berikutnya, maka orang itu justru telah membenturnya. Serangan kaki Arya Gading yang terjulur mengarah ke dada, telah ditangkis lawannya dengan kedua tangannnya yang bersilang didadanya.
Arya Gading yang belum mengetahui seberapa besar kekuatan dan tenaga lawannya telah terdorong selangkah surut. Namun Arya Gading tidak berkecil hati.
Lawannya ternyata juga tergetar dan surut selangkah pula. Demikianlah, keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya saling menyerang, bertahan dan menghindar. Dalam pertempuran yang semakin cepat itu, Arya Gading berusaha untuk dapat mengenali lawannya. Dalam keremangan malam, Arya Gading melihat bahwa lawannya itu mengenakan topeng dari kayu.
Pertempuran pun telah menyala dengan lebih berkobar. Keduanya bergerak semakin cepat. Serangan demi serangan telah dilakukan oleh kedua belah pihak. Orang misterius dengan wajah ditutup menggunakan topeng kayu itu ternyata semakin lama menjadi semakin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan semakin keras.
Tetapi Arya Gading pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Pada umurnya, Arya Gading memiliki tenaga yang mantap. Karena itu maka setelah bertempur beberapa lama, tenaga Arya Gading pun masih belum menyusut. Tetapi pengalaman orang nertopeng kayu itu memang jauh lebih luas dari Arya Gading. Karena itu, maka setiap kali serangan orang itu mengejutkan Arya Gading.
Namun betapapun Arya Gading mengerahkan kemampuannya, orang itu ternyata mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangannya sekali-sekali telah menyentuh tubuhnya. Tetapi setelah bertempur beberapa lama Arya Gading menjadi heran karena jurus dan gerakan orang misterius yang tengah dilawannya itu memiliki ciri dan gerakan yang sama dengan jurus –jurus yang dimilikinya.
Serangan orang bertopeng itu semakin gencar dan cepat Arya Gading yang kemudian mengalami kesulitan itu, tidak lagi sekedar bertempur dengan unsur-unsur gerak yang dikuasainya. Tetapi ia harus mempergunakan penalarannya sebaik-baiknya. Ia harus membuat perhitungan-perhitungan dengan cepat, tetapi cermat agar tidak justru membuatnya semakin sulit.
Ketika Arya Gading harus meloncat menjauhi lawannya untuk mengambil jarak, ia melihat bahwa lawannya tidak terlalu cepat menyusulnya. Terasa ada tenggang waktu sekejap sebelum lawannya melibatnya lagi dalam pertempuran yang sengit. Sekali dua kali Arya Gading mencoba, Sehingga ia pun dapat mengambil kesimpulan bahwa lawannya kurang memiliki ketangkasan untuk bertempur dengan loncatan-loncatan panjang. Dengan demikian, maka Arya Gading telah memilih cara yang justru tidak disukai lawannya. Arya Gading bertempur pada jarak yang dipeliharanya dengan baik.
Ternyata Arya Gading berhasil mempersulit kedudukan lawannya. Tetapi setiap kali pengalaman orang bertopeng itu, terasa sangat berpengaruh dalam pertempuran itu. Orang bertopeng itu tidak mau terpancing dalam pertempuran dengan jarak yang panjang. Setiap kali Arya Gading meloncat menjauh, lawannya tidak tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia justru melangkah satu-satu mendekatinya.
Arya Gadinglah yang kemudian menjadi tidak telaten. Ia menjadi tidak sabar lagi, sehingga ia tidak berpegang teguh pada perhitungannya. Dengan demikian, maka serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering menembus pertahanan anak muda itu. Ketika Arya Gading menjulurkan kakinya menyerang ke arah lambung lawannya, maka orang bertopeng itu justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat menyapu kaki Arya Gading yang lain, sehingga Arya Gading telah menjadi kehilangan keseimbangan.
Karena itu, maka Arya Gading pun telah terjatuh. Tetapi ia pun dengan cepat berguling. Dengan tangkas pula Arya Gading segera meloncat bangkit. Tetapi diluar dugaan. Lawannya itu selalu menghindari pertempuran dengan jarak yang panjang, mampu meloncat dengan cepat. Ternyata Arya Gading terkejut. Tetapi ia terlambat menghindar. Tangan orang itu dengan cepat menghantam perutnya.
Diubah oleh breaking182 20-04-2022 06:02
MFriza85 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas