- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
81.9K
Kutip
623
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#210
gatra 7
Quote:
“Sukro akan menemanimu, ngger”, berkata Pamingit. Beberapa saat kemudian Pamingit telah datang bersama seorang kawannya. Bertiga mereka pergi ke kuburan untuk membuktikan, apakah yang dilihat Arya Gading semalam bukan sekedar sebuah mimpi atau khayalannya saja.
Mendengar tentang hal itu Doran tidka bisa menahan dirinya.
“ Jadi orang –orang itu menggunakan kedok keranda hantu untuk merampok? “
Arya Gading menggunakan isyarat agar Doran untuk diam terlebih dahulu. Dan Doran pun dengan setengah bersungut –sungut mengikuti kemauan sahabatnya itu.
Dalam pada itu, Pamingit pun berkata, “ngger, pamanmu Merta ini kebetulan adalah anak juru kunci kuburan itu.”
“O” Arya Gading mengangguk-angguk, “kebetulan sekali paman.”
“Tetapi aku segan untuk menggantikan jabatan orang tuaku. Aku lebih senang tidak mengurusi kuburan”, desis Merta.
“Harus ada orang yang bersedia melakukannya. Jika tidak, orang-orang yang memerlukan akan menjadi sangat repot”, berkata Pamingit.
Merta tertawa. Katanya, “Adikku telah menyatakan kesediaannya.”
“Syukurlah. Dengan demikian, maka segala sesuatunya ada yang mengatur. Orang-orang padukuhan yang kematian keluarganya tidak asal saja mengubur di kuburan ini, sehingga berjejal-jejal tanpa diatur.”
Merta tertawa semakin keras. Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di kuburan. Tidak ada orang yang melihat mereka meskipun mereka memasuki kuburan itu disiang hari. Arya Gading memang agak sulit untuk menemukan batu yang besar itu. Bahkan Arya Gading sempat menjadi bimbang, bahwa apa yang dilihatnya tidak lebih dari sebuah khayalan.
Mungkin hantu keranda itu sempat menyesatkan penglihatannya, sehingga seolah-olah ia melihat keranda itu memasuki kuburan Ini. Doranpun juga ikut gelisah. Beberapa kali anak bertubuh kurus dan tinggi ini ikut mencari – cari batu besar yang dimaksud. Namun, setelah mengitari kuburan itu beberapa kali, maka Arya Gading pun telah menemukan batu yang besar itu.
”Kami hampir kehabisan kesabaran” desis Pamingit.
Merta pun tertawa pula. Katanya, “Aku kira kau hanya bermimpi. Tetapi itu pun masih harus dibuktikan, apakah barang-barang itu benar-benar ada.””
Arya Gading mengangguk-angguk. Ketika mereka bersiap-siap untuk mulai menggali, maka jantung Arya Gading menjadi berdebar-debar. Jika barang-barang yang dikatakan itu tidak ada, maka kedua orang itu akan dapat menjadi marah kepadanya. Mereka akan mengira, bahwa Arya Gading telah mempermainkan kedua orang itu. Namun Pamingit dan Merta memang melihat tanah yang kemerahan disekitar batu yang besar itu. Nampaknya tanah itu memang tanah yang baru dari sebuah galian yang telah ditimbun kembali.
Ketika mereka mulai menggali, maka tanah itupun agaknya masih juga lunak, sehingga dengan demikian, mereka tidak banyak menemui kesulitan. Mereka menjadi berdebar-debar ketika cangkul mereka mulai terasa menyentuh sesuatu. Dengan hati-hati mereka menggali lebih dalam lagi. Ternyata Arya Gading tidak sekedar berkhayal atau bermimpi atau penglihatannya dipengaruhi oleh hantu keranda itu. Didalam lubang galian itu memang terdapat barang-barang yang disembunyikan oleh para perampok yang telah mengelabuhi banyak orang itu.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan barang-barang ini” berkata Pamingit kemudian.
“Aku yakin cepat atau lambat mereka akan kembali lagi kesini untuk mengambil barang –barang yang mereka sembunyikan ini” berkata Arya Gading, “karena itu, maka barang-barang yang disembunyikan disini akan ditunjukkan kepada pemimpin mereka itu yang bernama Kebo Peteng ”
Doran setengah terlonjak dari tempatnya berdiri mendengar Arya Gading menyebut nama Kebo Peteng. Anak muda ini kembali teringat peristiwa di kedai kemarin yang akhirnya membuatnya dan Arya Gading lari tunggang langgang menyelamatkan diri.
“Kebo Peteng” kedua orang itu terkejut. Dengan nada tinggi Pamingit berdesis, “Jadi permainan ini dikendalikan oleh Kebo Peteng yang namanya menggetarkan bulu tengkuk itu?”
“Apakah paman sudah pernah mendengar nama itu?”
“Ya. Kami sudah pernah mendengar. Banyak orang yang pernah mendengar nama itu. Orang-orang padukuhan menjadi ketakutan mendengar nama itu seperti mereka mendengar ceritera tentang hantu keranda. Tetapi hantu keranda itu ternyata hanya sebuah tipuan. Tetapi Kebo Peteng benar-benar mampu memilin leher kita sampai patah.”
“Jika demikian, biarlah barang-barang ini disini” berkata Merta, “kita akan mengawasinya. Besok, pada saatnya Kebo Peteng itu datang, kita akan menangkapnya.”
“Kau kira kita akan mudah melakukannya” sahut Pamingit, “para perampok adalah orang-orang yang telah menyatukan hidup matinya dengan senjata. Mereka terbiasa berkelahi dan bahkan bunuh-membunuh, sehingga darah bagi mereka tidak lagi menggetarkan perasaan mereka. Apalagi Kebo Peteng bukan orang sembarangan”
“Tetapi kita mempunyai kawan yang tentu jauh lebih banyak dari para perampok itu. Mungkin jumlah mereka hanya sekitar sepuluh orang.”
“Ya” sahut Arya Gading, “sekitar sepuluh orang. Mereka bergantian memanggul keranda itu.”
“Nah, bukankah kita memiliki kesempatan?”
Pamingit mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara dengan Ki Jagabaya.”
“Hanya dengan Ki Jagabaya, “desis Merta, “jika hal ini didengar oleh banyak orang, maka persoalannya akan menjadi lain. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu ngger?”
“Aku hanya ingin menunjukkan kepada paman, bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu. Salah satu buktinya adalah barang-barang yang telah mereka sembunyikan disini. Selanjutnya, terserah kepada paman berdua. Kasihan jika orang-orang padukuhan itu menjadi terlalu lama dicekam oleh ketakutan.”
“Padahal bukan hanya satu dua padukuhan saja yang dibayangi ketakutan kepada hantu keranda yang berjalan sendiri di malam hari, yang bahkan dapat lenyap dalam sekejap mata.”
“Kita harus dapat menangkap hantu keranda itu. Tetapi kita memang memerlukan beberapa orang yang berani” berkata Pamingit kemudian.
“Ya. Aku setuju, jika kita menemui Ki Jagabaya. Tetapi untuk sementara tidak ada orang lain yang mengetahuinya” berkata Merta.
Arya Gading tiba –tiba teringat sebuah rumah yang terlihat lebih besar dan bagus dari rumah –rumah yang ia lihat di padukuhan itu. Bahkan, pemuda itu sempat melihat beberapa tratag sudah terpasang di halaman rumah besar itu.
“ Maaf paman, tadi sebelum aku memasuki pedukuhan ini ada rumah yang besar dengan halaman luas terlihat seperti sedang akan mengadakan hajatan. Rumah siapakah itu paman?”
“ Itu rumah demang Ki Dadap Ayam. Memang besok Ki Demang akan melangsungkan pernikahan anak ragilnya. Dan malamnya akan ada pertunjukan tari topeng dan tayuban “
Kening Arya Gading berkerut. Ia berpikir jika ada pertunjukan seperti itu tentu orang –orang akan berkumpul semua di halaman rumah ki demang. Dan suasana di jalan pedesaan tentu akan sepi. Kesempatan untuk para perampok itu mengambil barang hasil rampasannya.
“ Mengapa angger tiba –tiba menanyakan rumah ki demang? “, kali ini Merta yang bertanya.
“ Saya curiga paman. Kebo Peteng dan patra anak buahnya akan mengambil barang –barang yang mereka timbun di pekuburan itu. Saat pertunjukan tari-tarian di rumah ki demang “
Merta dan Pamingit sependapat dengan dugaan Arya Gading. Besar kemungkinan Kebo Lorog akan mengambil barang rampokannya memanfaatkan keadaan desa yang sepi karena para warganya sedang berkumpul semua di halaman rumah ki demang.
Mendengar tentang hal itu Doran tidka bisa menahan dirinya.
“ Jadi orang –orang itu menggunakan kedok keranda hantu untuk merampok? “
Arya Gading menggunakan isyarat agar Doran untuk diam terlebih dahulu. Dan Doran pun dengan setengah bersungut –sungut mengikuti kemauan sahabatnya itu.
Dalam pada itu, Pamingit pun berkata, “ngger, pamanmu Merta ini kebetulan adalah anak juru kunci kuburan itu.”
“O” Arya Gading mengangguk-angguk, “kebetulan sekali paman.”
“Tetapi aku segan untuk menggantikan jabatan orang tuaku. Aku lebih senang tidak mengurusi kuburan”, desis Merta.
“Harus ada orang yang bersedia melakukannya. Jika tidak, orang-orang yang memerlukan akan menjadi sangat repot”, berkata Pamingit.
Merta tertawa. Katanya, “Adikku telah menyatakan kesediaannya.”
“Syukurlah. Dengan demikian, maka segala sesuatunya ada yang mengatur. Orang-orang padukuhan yang kematian keluarganya tidak asal saja mengubur di kuburan ini, sehingga berjejal-jejal tanpa diatur.”
Merta tertawa semakin keras. Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di kuburan. Tidak ada orang yang melihat mereka meskipun mereka memasuki kuburan itu disiang hari. Arya Gading memang agak sulit untuk menemukan batu yang besar itu. Bahkan Arya Gading sempat menjadi bimbang, bahwa apa yang dilihatnya tidak lebih dari sebuah khayalan.
Mungkin hantu keranda itu sempat menyesatkan penglihatannya, sehingga seolah-olah ia melihat keranda itu memasuki kuburan Ini. Doranpun juga ikut gelisah. Beberapa kali anak bertubuh kurus dan tinggi ini ikut mencari – cari batu besar yang dimaksud. Namun, setelah mengitari kuburan itu beberapa kali, maka Arya Gading pun telah menemukan batu yang besar itu.
”Kami hampir kehabisan kesabaran” desis Pamingit.
Merta pun tertawa pula. Katanya, “Aku kira kau hanya bermimpi. Tetapi itu pun masih harus dibuktikan, apakah barang-barang itu benar-benar ada.””
Arya Gading mengangguk-angguk. Ketika mereka bersiap-siap untuk mulai menggali, maka jantung Arya Gading menjadi berdebar-debar. Jika barang-barang yang dikatakan itu tidak ada, maka kedua orang itu akan dapat menjadi marah kepadanya. Mereka akan mengira, bahwa Arya Gading telah mempermainkan kedua orang itu. Namun Pamingit dan Merta memang melihat tanah yang kemerahan disekitar batu yang besar itu. Nampaknya tanah itu memang tanah yang baru dari sebuah galian yang telah ditimbun kembali.
Ketika mereka mulai menggali, maka tanah itupun agaknya masih juga lunak, sehingga dengan demikian, mereka tidak banyak menemui kesulitan. Mereka menjadi berdebar-debar ketika cangkul mereka mulai terasa menyentuh sesuatu. Dengan hati-hati mereka menggali lebih dalam lagi. Ternyata Arya Gading tidak sekedar berkhayal atau bermimpi atau penglihatannya dipengaruhi oleh hantu keranda itu. Didalam lubang galian itu memang terdapat barang-barang yang disembunyikan oleh para perampok yang telah mengelabuhi banyak orang itu.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan barang-barang ini” berkata Pamingit kemudian.
“Aku yakin cepat atau lambat mereka akan kembali lagi kesini untuk mengambil barang –barang yang mereka sembunyikan ini” berkata Arya Gading, “karena itu, maka barang-barang yang disembunyikan disini akan ditunjukkan kepada pemimpin mereka itu yang bernama Kebo Peteng ”
Doran setengah terlonjak dari tempatnya berdiri mendengar Arya Gading menyebut nama Kebo Peteng. Anak muda ini kembali teringat peristiwa di kedai kemarin yang akhirnya membuatnya dan Arya Gading lari tunggang langgang menyelamatkan diri.
“Kebo Peteng” kedua orang itu terkejut. Dengan nada tinggi Pamingit berdesis, “Jadi permainan ini dikendalikan oleh Kebo Peteng yang namanya menggetarkan bulu tengkuk itu?”
“Apakah paman sudah pernah mendengar nama itu?”
“Ya. Kami sudah pernah mendengar. Banyak orang yang pernah mendengar nama itu. Orang-orang padukuhan menjadi ketakutan mendengar nama itu seperti mereka mendengar ceritera tentang hantu keranda. Tetapi hantu keranda itu ternyata hanya sebuah tipuan. Tetapi Kebo Peteng benar-benar mampu memilin leher kita sampai patah.”
“Jika demikian, biarlah barang-barang ini disini” berkata Merta, “kita akan mengawasinya. Besok, pada saatnya Kebo Peteng itu datang, kita akan menangkapnya.”
“Kau kira kita akan mudah melakukannya” sahut Pamingit, “para perampok adalah orang-orang yang telah menyatukan hidup matinya dengan senjata. Mereka terbiasa berkelahi dan bahkan bunuh-membunuh, sehingga darah bagi mereka tidak lagi menggetarkan perasaan mereka. Apalagi Kebo Peteng bukan orang sembarangan”
“Tetapi kita mempunyai kawan yang tentu jauh lebih banyak dari para perampok itu. Mungkin jumlah mereka hanya sekitar sepuluh orang.”
“Ya” sahut Arya Gading, “sekitar sepuluh orang. Mereka bergantian memanggul keranda itu.”
“Nah, bukankah kita memiliki kesempatan?”
Pamingit mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara dengan Ki Jagabaya.”
“Hanya dengan Ki Jagabaya, “desis Merta, “jika hal ini didengar oleh banyak orang, maka persoalannya akan menjadi lain. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu ngger?”
“Aku hanya ingin menunjukkan kepada paman, bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu. Salah satu buktinya adalah barang-barang yang telah mereka sembunyikan disini. Selanjutnya, terserah kepada paman berdua. Kasihan jika orang-orang padukuhan itu menjadi terlalu lama dicekam oleh ketakutan.”
“Padahal bukan hanya satu dua padukuhan saja yang dibayangi ketakutan kepada hantu keranda yang berjalan sendiri di malam hari, yang bahkan dapat lenyap dalam sekejap mata.”
“Kita harus dapat menangkap hantu keranda itu. Tetapi kita memang memerlukan beberapa orang yang berani” berkata Pamingit kemudian.
“Ya. Aku setuju, jika kita menemui Ki Jagabaya. Tetapi untuk sementara tidak ada orang lain yang mengetahuinya” berkata Merta.
Arya Gading tiba –tiba teringat sebuah rumah yang terlihat lebih besar dan bagus dari rumah –rumah yang ia lihat di padukuhan itu. Bahkan, pemuda itu sempat melihat beberapa tratag sudah terpasang di halaman rumah besar itu.
“ Maaf paman, tadi sebelum aku memasuki pedukuhan ini ada rumah yang besar dengan halaman luas terlihat seperti sedang akan mengadakan hajatan. Rumah siapakah itu paman?”
“ Itu rumah demang Ki Dadap Ayam. Memang besok Ki Demang akan melangsungkan pernikahan anak ragilnya. Dan malamnya akan ada pertunjukan tari topeng dan tayuban “
Kening Arya Gading berkerut. Ia berpikir jika ada pertunjukan seperti itu tentu orang –orang akan berkumpul semua di halaman rumah ki demang. Dan suasana di jalan pedesaan tentu akan sepi. Kesempatan untuk para perampok itu mengambil barang hasil rampasannya.
“ Mengapa angger tiba –tiba menanyakan rumah ki demang? “, kali ini Merta yang bertanya.
“ Saya curiga paman. Kebo Peteng dan patra anak buahnya akan mengambil barang –barang yang mereka timbun di pekuburan itu. Saat pertunjukan tari-tarian di rumah ki demang “
Merta dan Pamingit sependapat dengan dugaan Arya Gading. Besar kemungkinan Kebo Lorog akan mengambil barang rampokannya memanfaatkan keadaan desa yang sepi karena para warganya sedang berkumpul semua di halaman rumah ki demang.
Quote:
Setelah berbicara beberapa saat lamanya. Berempat mereka sependapat untuk menimbun barang-barang itu lagi. Namun dengan demikian mereka sudah menjadi yakin, bahwa keranda yang berjalan sendiri ditengahi malam itu sama sekali bukan hantu. Sementara itu, mereka pun mengetahui dimana para perampok itu menyembunyikan barang-barang hasil rampokan mereka.
Namun dalam pada itu, Arya Gading pun berkata, “Paman berdua. Sebaiknya aku dan kawanku ini meneruskan perjalanan. Aku merasa bahwa kewajibanku melaporkan tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari itu sudah aku lakukan dengan baik. Karena itu, segala sesuatunya terserah kepada paman berdua serta para bebahu padukuhan . Tindakan apa yang akan mereka ambil. Namun barangkali yang harus mendapat perhatian adalah, bahwa pemimpin perampok yang akan datang itu bernama Kebo Peteng.”
“Jika demikian maka keranda yang berjalan sendiri itu tetap menakutkan bagi kita. Bukan karena kita menyangka keranda itu hantu, tetapi justru karena yang ada di belakangnya adalah Kebo Peteng.”
“Jika nama Kebo Peteng itu lebih menakutkan daripada hantu, kenapa mereka harus bermain hantu-hantuan? Kenapa tidak Kebo Peteng itu saja datang kemari dan melakukan kegiatan yang dilakukan oleh keranda itu?
“Kebo Peteng mempunyai lingkungan yang luas, ngger. Sehingga ia tidak dapat berada di satu tempat, Tetapi jika Kebo Peteng itu mengunjungi satu lingkungan, tentu ia mempunyai kepentingan tertentu.”
Arya Gading mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin keberhasilan orang-orang yang mempunyai gagasan bermain hantu-hantuan itu telah menarik perhatiannya, sehingga permainan itu akan dapat dikembangkan di daerah lain.”
Pamingit dan Merta mengangguk-angguk. Dengan nada datar Merta berkata, “Mungkin kau benar ngger. Kita akan melihat bersama-sama, apa yang akan terjadi kemudian.”
“Paman berdua. Kami sudah berniat untuk mohon diri. Kami ingin melanjutkan pulang ke lereng Merapi karena sudah cukup lama kami turun gunung. Kami sudah merasa cukup berhasil dengan menunjukkan benda-benda yang disembunyikan itu.”
“Aku minta angger berdua tetap disini menunggu kedatangan Kebo Peteng” berkata Pamingit.
“Apakah artinya keberadaan kami disini?”
“Kita akan bersama-sama menyaksikan, kapan Kebo Peteng itu datang.” jawab Merta.
Arya Gading termangu-mangu sejenak. Doran pun ikut terdiam. Di pikiran pemuda itu berkecamuk ingin segera pulang ke padepokan Pandan Arum. Tentu di padepokan Mahesa Branjangan sudah sangat menunggu kedatangan mereka. Dua hari waktu yang diberikan sudah melewati batas karena sudah memasuki hari ke tiga.
Sementara Pamingit itupun berkata, “Kita akan pergi kerumah Ki Jagabaya ngger. Kau akan dapat menjelaskan apa yang telah terjadi itu. Mudah-mudahan kita akan dapat mencari jalan keluar dari bayangan gelap karena kehadiran Kebo Peteng itu.”
Arya Gading termangu-mangu sejenak. Pamingit nampaknya mengerti getar perasaan anak muda itu. Karena itu, maka katanya, “Selama kau berada di padukuhan ini, kau dapat tinggal bersama kami, ngger. Sukro tentu akan merasa senang jika kau berada disini.”
“Apakah kami tidak akan merepotkan paman dan keluarga?” bertanya Arya Gading dengan ragu.
“Tentu tidak ngger. Kalian berdua tentu sudah dapat mengurus dirimu sendiri. Kalian sudah dapat mandi sendiri, mencuci pakaian sendiri. Makan sendiri, sehingga kami tidak usah menyuapi.”
Arya Gading tertawa. Kemudian iapun menjawab, “Baiklah paman. Jika paman tidak berkeberatan, kami berdua akan tinggal disini sampai para rampok itu datang mengambil barang hasil curiannya kembali.”
Ternyata bahwa keberadaan Arya Gading di rumah Pamingit justru memberikan kesegaran baru. Arya Gading adalah seorang anak yang rajin. Pagi-pagi ia sudah bangun. Menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. Kamudian menyapu halaman samping, karena halaman depan tentu sudah disapu oleh Pamingit sendiri. Sementara Doran masih nyenyak terlelap berselimutkan kain panjang.
Pengaruh keberadaan Arya Gading di rumah itu justru sangat baik bagi Sukro, la dapat bangun lebih pagi dari kebiasaannya. Anak itu ingin bersama-sama dengan Arya Gading. Juga saat Arya Gading menimba air, menyapu halaman atau membelah kayu di siang hari. Bahkan Arya Gading pun telah mengajari Sukro untuk menuliskan huruf-huruf, kemudian membacanya.
Sementara itu, ceritera tentang keranda hantu itu masih saja membayangi kehidupan beberapa padukuhan. Pamingit dan Merta memang belum mengambil langkah-langkah tertentu untuk membuktikan kepada banyak orang, bahwa ceritera tentang hantu keranda itu hanya sebuah olok-olok dari para penjahat yang kebingungan membawa hasil rampokannya. Namun yang kemudian ternyata berhasil.
Namun dalam pada itu, Arya Gading pun berkata, “Paman berdua. Sebaiknya aku dan kawanku ini meneruskan perjalanan. Aku merasa bahwa kewajibanku melaporkan tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari itu sudah aku lakukan dengan baik. Karena itu, segala sesuatunya terserah kepada paman berdua serta para bebahu padukuhan . Tindakan apa yang akan mereka ambil. Namun barangkali yang harus mendapat perhatian adalah, bahwa pemimpin perampok yang akan datang itu bernama Kebo Peteng.”
“Jika demikian maka keranda yang berjalan sendiri itu tetap menakutkan bagi kita. Bukan karena kita menyangka keranda itu hantu, tetapi justru karena yang ada di belakangnya adalah Kebo Peteng.”
“Jika nama Kebo Peteng itu lebih menakutkan daripada hantu, kenapa mereka harus bermain hantu-hantuan? Kenapa tidak Kebo Peteng itu saja datang kemari dan melakukan kegiatan yang dilakukan oleh keranda itu?
“Kebo Peteng mempunyai lingkungan yang luas, ngger. Sehingga ia tidak dapat berada di satu tempat, Tetapi jika Kebo Peteng itu mengunjungi satu lingkungan, tentu ia mempunyai kepentingan tertentu.”
Arya Gading mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin keberhasilan orang-orang yang mempunyai gagasan bermain hantu-hantuan itu telah menarik perhatiannya, sehingga permainan itu akan dapat dikembangkan di daerah lain.”
Pamingit dan Merta mengangguk-angguk. Dengan nada datar Merta berkata, “Mungkin kau benar ngger. Kita akan melihat bersama-sama, apa yang akan terjadi kemudian.”
“Paman berdua. Kami sudah berniat untuk mohon diri. Kami ingin melanjutkan pulang ke lereng Merapi karena sudah cukup lama kami turun gunung. Kami sudah merasa cukup berhasil dengan menunjukkan benda-benda yang disembunyikan itu.”
“Aku minta angger berdua tetap disini menunggu kedatangan Kebo Peteng” berkata Pamingit.
“Apakah artinya keberadaan kami disini?”
“Kita akan bersama-sama menyaksikan, kapan Kebo Peteng itu datang.” jawab Merta.
Arya Gading termangu-mangu sejenak. Doran pun ikut terdiam. Di pikiran pemuda itu berkecamuk ingin segera pulang ke padepokan Pandan Arum. Tentu di padepokan Mahesa Branjangan sudah sangat menunggu kedatangan mereka. Dua hari waktu yang diberikan sudah melewati batas karena sudah memasuki hari ke tiga.
Sementara Pamingit itupun berkata, “Kita akan pergi kerumah Ki Jagabaya ngger. Kau akan dapat menjelaskan apa yang telah terjadi itu. Mudah-mudahan kita akan dapat mencari jalan keluar dari bayangan gelap karena kehadiran Kebo Peteng itu.”
Arya Gading termangu-mangu sejenak. Pamingit nampaknya mengerti getar perasaan anak muda itu. Karena itu, maka katanya, “Selama kau berada di padukuhan ini, kau dapat tinggal bersama kami, ngger. Sukro tentu akan merasa senang jika kau berada disini.”
“Apakah kami tidak akan merepotkan paman dan keluarga?” bertanya Arya Gading dengan ragu.
“Tentu tidak ngger. Kalian berdua tentu sudah dapat mengurus dirimu sendiri. Kalian sudah dapat mandi sendiri, mencuci pakaian sendiri. Makan sendiri, sehingga kami tidak usah menyuapi.”
Arya Gading tertawa. Kemudian iapun menjawab, “Baiklah paman. Jika paman tidak berkeberatan, kami berdua akan tinggal disini sampai para rampok itu datang mengambil barang hasil curiannya kembali.”
Ternyata bahwa keberadaan Arya Gading di rumah Pamingit justru memberikan kesegaran baru. Arya Gading adalah seorang anak yang rajin. Pagi-pagi ia sudah bangun. Menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan. Kamudian menyapu halaman samping, karena halaman depan tentu sudah disapu oleh Pamingit sendiri. Sementara Doran masih nyenyak terlelap berselimutkan kain panjang.
Pengaruh keberadaan Arya Gading di rumah itu justru sangat baik bagi Sukro, la dapat bangun lebih pagi dari kebiasaannya. Anak itu ingin bersama-sama dengan Arya Gading. Juga saat Arya Gading menimba air, menyapu halaman atau membelah kayu di siang hari. Bahkan Arya Gading pun telah mengajari Sukro untuk menuliskan huruf-huruf, kemudian membacanya.
Sementara itu, ceritera tentang keranda hantu itu masih saja membayangi kehidupan beberapa padukuhan. Pamingit dan Merta memang belum mengambil langkah-langkah tertentu untuk membuktikan kepada banyak orang, bahwa ceritera tentang hantu keranda itu hanya sebuah olok-olok dari para penjahat yang kebingungan membawa hasil rampokannya. Namun yang kemudian ternyata berhasil.
Quote:
Seperti yang sudah direncanakan, maka ketika saatnya dianggap sudah tiba, maka Pamingit dan Merta telah pergi menemui Ki Jagabaya sambil mengajak Arya Gading dan Doran. Ki Jagabaya menerima mereka bertiga di pendapa rumahnya. Karena keduanya tidak terbiasa berkunjung ke-rumah Ki Jagabaya, maka Ki Jagabaya menjadi heran atas kedatangan mereka berempat. Apalagi dengan dua pemuda yang sama sekali belum dikenalnya.
“Nampaknya ada sesuatu yang penting” desis Ki Jagabaya.
“Ya, Ki Jagabaya. Kami ingin berbicara tentang keranda hantu itu.”
Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat Ki Jagabaya itupun bertanya, “Ada apa dengan dongeng itu? Kalian berdua terhitung orang-orang yang berani di padukuhan ini. Apakah kalian juga percaya tentang keranda yang berjalan sendiri itu?”
“Kami percaya, Ki Jagabaya” jawab Pamingit.
“Sikapmu tentang keranda yang berjalan sendiri itu tentu akan menjadi panutan. Jika kau berkata bahwa kau percaya, maka padukuhan ini akan menjadi semakin kalut.”
“Aku telah melihat sendiri, Ki Jagabaya.”
Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Apa maksudmu? Apakah kau memang menghendaki orang-orang padukuhan ini dicekam oleh ketakutan? Dengan susah payah aku menjelaskan kepada mereka, bahwa tidak ada hantu keranda. Omong kosong. Tidak ada hantu yang sedang menyebarkan wabah penyakit.”
“Ki Jagabaya” berkata Pamingit kemudian, “aku benar-benar telah melihat keranda itu berjalan di malam hari. Aku yakin akan penglihatanku itu. Hal itulah yang akan aku katakan kepada Ki Jagabaya”
“Persetan dengan igauanmu. Kau tidak akan dapat mempengaruhi aku. Kau tidak akan dapat menyeret aku kedalam ketakutan seperti orang-orang bodoh itu.”
Pamingit termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Aku mohon Ki Jagabaya mendengarkan ceriteraku. Nanti Ki Jagabaya dapat percaya atau tidak percaya.”
Wajah Ki Jagabaya menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Cepat katakan. Tetapi jangan mengharap aku terseret kedalam arus yang melanda padukuhan kita dan beberapa padukuhan yang lain.”
Pamingitpun kemudian menceriterakan apa yang pernah dilihatnya. Keranda yang berjalan di malam hari. Seakan-akan keranda itu berjalan sendiri. Hampir saja Ki Jagabaya yang tidak mempercayainya itu menjadi marah. Namun kemudian Pamingit pun menceriterakan apa yang telah dilihat oleh Arya Gading.
Wajah Ki Jagabaya nampak berkerut. Dipandanginya Arya Gading dengan tajamnya. Kemudian Ki Jagabaya itupun bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”
Arya Gading pun telah menyebut namanya. Tetapi ia selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari Kedungtuban serta selalu mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi.
“Ceriteramu memang masuk akal.” berkata Ki Jagabaya.
“Kami sudah membuktikannya, Ki Jagabaya.”
“Bukti apa?” bertanya Ki Jagabaya.
“Kami sudah menggali tempat para perampok itu menyembunyikan barang-barangnya?”
“Kau telah mengambil barang-barang itu?”
“Tidak Ki Jagabaya” jawab Merta, “kami hanya membuktikan bahwa penglihatan angger Arya Gading itu bukan sekedar mimpi atau khayalan yang ditimbulkan oleh hantu keranda. Tetapi benar-benar ada. Sekarang barang-barang itu telah kami timbun kembali.”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara Pamingit minta Arya Gading menceriterakan tentang rencana Kebo Peteng datang ke lingkungan mereka. Ki Jagabaya mendengarkan keterangan Arya Gading tentang Kebo Peteng sebagaimana didengarnya di kuburan dengan jantung yang berdebar-debar.
Seakan-akan kepada diri sendiri Ki Jagabaya itu berkata, ”Kebo Peteng. Ternyata orang itu ada di belakang ceritera tentang hantu itu.”
“Mungkin sebaliknya, Ki Bekel. Kebo Peteng tertarik kepada gagasan para pengikutnya tentang hantu-hantu itu, sehingga ia ingin melihat hasil dari permainan itu.”
“Kebo Peteng itu sendiri lebih dari hantu yang manapun juga.” berkata Ki Jagabaya.
“Apakah kita sepadukuhan tidak dapat menghentikannya?” bertanya Merta.
Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita sepadukuhan tidak akan berdaya melawan para penjahat itu jika diantara mereka terdapat Kebo Peteng. Kecuali karena Kebo Peteng itu mempunyai ilmu yang tinggi, ia akan dapat menjadi penyulut api keberanian dan kekuatan para pengikutnya. Bersama Kebo Peteng itu sendiri, maka sekelompok penjahat tidak akan dapat dihentikan oleh orang se padukuhan. Bahkan mungkin sekali kita akan dibantai habis oleh Kebo Peteng itu.”
“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan jika benar besok pada saat demang Dadapb Ayam ngunduh mantu besar -besaran Kebo Peteng itu datang?”
“Kita akan berbicara dengan Ki Bekel.”
Ternyata Ki Jagabaya tidak membuang waktu. Diajaknya ketiga orang yang datang kerumahnya itu langsung menemui Ki Bekel.
“Nampaknya ada sesuatu yang penting” desis Ki Jagabaya.
“Ya, Ki Jagabaya. Kami ingin berbicara tentang keranda hantu itu.”
Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada berat Ki Jagabaya itupun bertanya, “Ada apa dengan dongeng itu? Kalian berdua terhitung orang-orang yang berani di padukuhan ini. Apakah kalian juga percaya tentang keranda yang berjalan sendiri itu?”
“Kami percaya, Ki Jagabaya” jawab Pamingit.
“Sikapmu tentang keranda yang berjalan sendiri itu tentu akan menjadi panutan. Jika kau berkata bahwa kau percaya, maka padukuhan ini akan menjadi semakin kalut.”
“Aku telah melihat sendiri, Ki Jagabaya.”
Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Apa maksudmu? Apakah kau memang menghendaki orang-orang padukuhan ini dicekam oleh ketakutan? Dengan susah payah aku menjelaskan kepada mereka, bahwa tidak ada hantu keranda. Omong kosong. Tidak ada hantu yang sedang menyebarkan wabah penyakit.”
“Ki Jagabaya” berkata Pamingit kemudian, “aku benar-benar telah melihat keranda itu berjalan di malam hari. Aku yakin akan penglihatanku itu. Hal itulah yang akan aku katakan kepada Ki Jagabaya”
“Persetan dengan igauanmu. Kau tidak akan dapat mempengaruhi aku. Kau tidak akan dapat menyeret aku kedalam ketakutan seperti orang-orang bodoh itu.”
Pamingit termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Aku mohon Ki Jagabaya mendengarkan ceriteraku. Nanti Ki Jagabaya dapat percaya atau tidak percaya.”
Wajah Ki Jagabaya menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Cepat katakan. Tetapi jangan mengharap aku terseret kedalam arus yang melanda padukuhan kita dan beberapa padukuhan yang lain.”
Pamingitpun kemudian menceriterakan apa yang pernah dilihatnya. Keranda yang berjalan di malam hari. Seakan-akan keranda itu berjalan sendiri. Hampir saja Ki Jagabaya yang tidak mempercayainya itu menjadi marah. Namun kemudian Pamingit pun menceriterakan apa yang telah dilihat oleh Arya Gading.
Wajah Ki Jagabaya nampak berkerut. Dipandanginya Arya Gading dengan tajamnya. Kemudian Ki Jagabaya itupun bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”
Arya Gading pun telah menyebut namanya. Tetapi ia selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari Kedungtuban serta selalu mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi.
“Ceriteramu memang masuk akal.” berkata Ki Jagabaya.
“Kami sudah membuktikannya, Ki Jagabaya.”
“Bukti apa?” bertanya Ki Jagabaya.
“Kami sudah menggali tempat para perampok itu menyembunyikan barang-barangnya?”
“Kau telah mengambil barang-barang itu?”
“Tidak Ki Jagabaya” jawab Merta, “kami hanya membuktikan bahwa penglihatan angger Arya Gading itu bukan sekedar mimpi atau khayalan yang ditimbulkan oleh hantu keranda. Tetapi benar-benar ada. Sekarang barang-barang itu telah kami timbun kembali.”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara Pamingit minta Arya Gading menceriterakan tentang rencana Kebo Peteng datang ke lingkungan mereka. Ki Jagabaya mendengarkan keterangan Arya Gading tentang Kebo Peteng sebagaimana didengarnya di kuburan dengan jantung yang berdebar-debar.
Seakan-akan kepada diri sendiri Ki Jagabaya itu berkata, ”Kebo Peteng. Ternyata orang itu ada di belakang ceritera tentang hantu itu.”
“Mungkin sebaliknya, Ki Bekel. Kebo Peteng tertarik kepada gagasan para pengikutnya tentang hantu-hantu itu, sehingga ia ingin melihat hasil dari permainan itu.”
“Kebo Peteng itu sendiri lebih dari hantu yang manapun juga.” berkata Ki Jagabaya.
“Apakah kita sepadukuhan tidak dapat menghentikannya?” bertanya Merta.
Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita sepadukuhan tidak akan berdaya melawan para penjahat itu jika diantara mereka terdapat Kebo Peteng. Kecuali karena Kebo Peteng itu mempunyai ilmu yang tinggi, ia akan dapat menjadi penyulut api keberanian dan kekuatan para pengikutnya. Bersama Kebo Peteng itu sendiri, maka sekelompok penjahat tidak akan dapat dihentikan oleh orang se padukuhan. Bahkan mungkin sekali kita akan dibantai habis oleh Kebo Peteng itu.”
“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan jika benar besok pada saat demang Dadapb Ayam ngunduh mantu besar -besaran Kebo Peteng itu datang?”
“Kita akan berbicara dengan Ki Bekel.”
Ternyata Ki Jagabaya tidak membuang waktu. Diajaknya ketiga orang yang datang kerumahnya itu langsung menemui Ki Bekel.
Diubah oleh breaking182 20-04-2022 05:55
MFriza85 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas