- Beranda
- Stories from the Heart
JANJI? (MINI SERIES)
...
TS
beavermoon
JANJI? (MINI SERIES)

Pernahkah kalian jatuh cinta? Pernahkah kalian menyembunyikan perasaan kepada orang yang kalian suka? Kenapa kalian menyembunyikan hal itu? Bukankah lebih baik untuk mengutarakannya?
Fika dan Rama akan menemani perjalanan kalian dalam mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersyukurlah jika kalian dapat menemukan jawabannya, namun jika tidak?
Spoiler for Episode:
Diubah oleh beavermoon 16-06-2022 19:03
ndoro_mant0 dan 7 lainnya memberi reputasi
4
3.4K
Kutip
40
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#16
Episode 14
Spoiler for Episode 14:
Fika memarkirkan mobilnya di deretan mobil-mobil yang lain. Ia ke luar dari mobil membawa tas yang biasa ia kenakan, kemudian ia berjalan santai sambil meminum minuman yang sebelumnya sudah ia beli terlebih dahulu.
“Fika!”
Fika cukup terkejut dengan kedatangan Tessa di sampingnya, sementara Tessa hanya tertawa kecil atas perbuatannya. Mereka berdua berjalan memasuki Gedung.
“Eh iya Tes, gimana nih buat presentasi kita besok? Tetep pakai bahan yang kemarin aja atau mau ada tambahan lain? Soalnya kalau gue liat kayaknya masih kurang deh.” Ucap Fika.
Mereka masuk ke dalam kelas yang belum ramai diisi, mereka pun memilih bangku yang selalu sama di belakang. Tessa menyalakan laptopnya sementara Fika mengeluarkan buku catatannyan dari dalam tas.
“Bagian mana nih yang kurang?” Tanya Tessa.
Fika melihat buku catatannya, “Jadi bagian yang akan kita bahas ini masih kurang referensi. Kemarin sih gue sempet baca jurnalnya kakak kelas, kalau mau kita tambahin bagian ini aja.”
Fika menunjukkan catatannya, Tessa mulai membaca apa saja yang sudah dicatat oleh Fika. Sesekali Tessa mengangguk setelah membaca catatan tersebut. Ting!Fika membaca pesan masuk dari handphonenya.
“Ayam, Bebek, atau Sapi? Bebek ternyata mahal juga ya.”
-Rama-
“Eh iya Fik, ini...”
Tessa menghentikan ucapannya setelah melihat Fika yang sedang tersenyum menatap ke arah handphonenya. Tessa pun menjadi curiga, dengan sengaja ia mendekatkan wajahnya agar Fika mengetahuinya.
“Eh Tes...”
“Cie. Katanya udah lama ngga pacaran, tapi senyuman lo gambarin semuanya dengan jelas. Jadi gue harus percaya omongan lo atau ekspresi lo?” Tanya Tessa menggoda.
‘...Ngga kok, serius deh ini bukan pacar gue. Kan gue udah pernah cerita kalau gue udah lama ngga pacaran.” Jawabnya salah tingkah.
Tessa tertawa, “Iya gue percaya kok sama lo. Yaudah lo bales aja dulu deh, abis itu ada yang mau gue tanyain sama lo soal presentasi kita.”
Fika pun sempat membalas pesan Rama, kemudian mereka mulai membahas tentang presentasi mereka. Beberapa waktu berlalu dengan sengaja, Fika dan Tessa sudah berjalan ke luar dari gedung Fakultas.
“...yang jadi masalah kan kenapa dia jadi bahan acuan kita Fik.” Ucap Tessa.
“Ya mau gimana lagi Tes, emang bahannya dia paling oke selama penjelasan tadi. Jadinya ya kita harus beracu sama dia mau ngga mau.” Jawab Fika.
“Tapi kan jadi ngga masuk sama makna aslinya Fik kalau ujung-ujungnya kita harus beracu sama dia, ngapain kita harus repot selama dua minggu kemarin coba, sebel banget.” Keluh Tessa.
Fika tersenyum lalu merangkul Tessa, “Ya ampun Tessa, sekalinya lo ngga terima tuh bisa sampai segininya ya, ngga berubah dari awal kita kuliah dulu. Udah santai aja, jalanin aja demi keselamatan umat banyak.”
Mereka berjalan melewati parkiran di mana mobil mereka berada. Tessa nampak melihat ke arah sekeliling, Fika pun berhasil dibuat penasaran olehnya.
“Ngapain lo Tes? Nungguin orang?” Tanya Fika.
Tessa menatapnya, “Kayaknya do’a gue belum terkabul Fik, udah seminggu gue ngga ketemu sama orang yang waktu itu nabrak gue. Ke mana ya dia? Jangan-jangan cuma tamu lagi.”
“Gue kira apaan Tes...” Fika berjalan menjauh, “udah ya gue mau pulang dulu. Jangan lupa presentasi.”
Tessa mengangguk setuju, mereka pun berpisah di parkiran. Mobil yang dikendarai Fika ke luar dari area Kampus, untungnya sore ini belum terjadi penumpukan kendaraan yang menyebabkan kemacetan.
“Baiklah kawula muda di mana pun kalian berada, sore hari yang cerah ini...”
Fika memperbesar suara radio untuk menemaninya berkendara pada sore hari ini, ia sempat melihat ke arah Matahari yang bersinar terang di sisi kanan.
“...ada sebuah cerita dari kawula muda yang tidak mau disebutkan namanya. Dia cerita kalau dia lagi nungguin seseorang ngga sengaja ketemu beberapa hari lalu, lucunya ada kejadian kecil di mana mereka saling bertabrakan satu sama lain, kayak di film-film ya...”
“Loh, kayak ceritanya Tessa.” Ucap Fika seorang diri
“...dia berharap bisa ketemu lagi sama orang itu. Wah, ini semua sih udah tergantung semesta ya, karena kalau lo pernah ketemu dengan tidak sengaja dan ngga sempet kenalan, hanya sebuah keajaiban dari semesta yang bisa buat kalian ketemu lagi.”
Fika tersenyum setelah mendengar hal tersebut, ia melajukan mobilnya melewati beberapa perempatan yang memang menjadi biang dari segala kemacetan. Beberapa saat di perjalanan, Fika sudah memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Belum sempat ia menutup pintu gerbang, Rama dengan motornya masuk ke dalam.
“Macet banget ya?” Tanya Rama.
Fika mengangguk, “Biasa deh perempatan-perempatan dengan angkutan umum yang ngga masuk akal, kamu tau sendiri deh Ram. Eh iya, udah kamu beli semua kan?”
Rama mengangkat tas belanjaan yang dikaitkan di motornya, Fika pun mengacungkan ibu jari kepadanya. Mereka masuk ke dalam rumah lalu menuju dapur. Rama sedang menyusun apa yang sudah dipesan oleh Fika, sementara Fika berlalu menuju lantai atas untuk mengganti bajunya.
“Bawang merah... Bawang bombay...”
“Ada semua kan Ram?” Tanya Fika memotong.
“...Jahe, ada semua kok sesuai sama yang kamu pesen. Kamu mau bikin apa emang? Kayaknya kali ini bahannya lebih banyak dari biasanya.” Kata Rama.
“Ada deh...” Fika pun mengenakan apron, “kamu duduk aja sambil ngerjain tugas kalau masih ada, kalau udah selesai semua ya liatin aku aja.”
Rama pun duduk di atas bangku yang menghadap langsung ke arah Fika. Setelah mencuci tangan, FIka pun memegang pisau lalu mulai untuk mengiris tipis bahan-bahan yang ada. Setelah dari Bawang Merah, berlanjut ke Bawang Putih dan juga Bawang Bombay.
“Kalau aku yang masak kayaknya jari aku udah plester semua.” Sahut Rama.
Fika tersenyum, “Dulu aku juga sering luka pas motong-motong ini, karena udah terbiasa jadinya udah tau posisi mana yang aman. Kamu mau aku ajarin?”
Rama menggeleng, “Kayaknya aku ngga ada bakat di sana Fik, mending beli yang udah jadi aja deh atau minta sama kamu yang udah ketahuan jelas bisa.”
Fika kembali tersenyum. Ia beralih menuju bebek yang sudah dibersihkan, secara perlahan ia mulai memotong bebek tersebut di beberapa bagian hingga menghasilkan bebek yang terbuka dengan lebar. Rama nampak takjub dengan apa yang baru saja ia lihat hingga ia menepuk tangannya dengan pelan.
Bebek yang sudah terbuka diletakkan di atas nampan kemudian dilumuri oleh mentega yang sudah dicairkan, setelah itu dimasukkan ke dalam pemanggang dengan suhu yang sudah disesuaikan.
Fika beralih menuju wajan dengan minyak yang sudah panas, ia memasukkan bahan-bahan yang sudah teriris tipis beserta beberapa bumbu lain ke dalamnya. Secara perlahan bahan-bahan tersebut diaduk agar tidak gosong, kemudian api dimatikan namun Fika masih mengaduk-aduk bumbu tersebut.
Ting! Fika membuka pemanggang untuk mengambil nampan, bebek sudah mulai berubah warna menjadi sedikit kekuningan. Secara perlahan-lahan Fika mulai melumuri bebek dengan bumbu yang berasal dari wajan hingga merata, kemudian ia kembali memasukannya ke dalam pemanggang untuk beberapa menit ke depan.
Masih ada bumbu yang tersisa di wajan, Fika pun menambahkan cabai, garam, merica, lada, dan juga daun bawang ke dalam wajan tersebut. Setelah diaduk merata, semuanya dipindahkan ke dalam mangkuk. Ting! Fika kembali mengeluarkan nampan dari dalam pemanggang, bebek pun sudah nampak cokelat keemasan. Rama bertepuk tangan dengan meriah setelah melihat makanannya yang sudah siap, Fika hanya tersenyum melihat responnya.
“Sesuai sama apa yang aku bayangin Fik.” Ucap Rama.
“Emang apa yang kamu bayangin?” Tanya Fika.
“Warna bebeknya persis sama apa yang aku bayangin, cokelat keemasan yang pasti kulitnya akan garing dan dagingnya akan empuk.” Jelas Rama.
“Untuk ukuran yang ngga bisa masak, visualisasi kamu bagus juga sampai bisa bayangin kayak gitu.” Kata Fika.
Mereka pun beralih menuju meja makan, Rama membantu Fika untuk menyiapkan makanan tersebut. Setelah selesai, mereka duduk berhadapan satu sama lain. Rama memimpin do’a untuk mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh Tuhan dengan bantuan Fika.
“...Amin, selamat makan.” Ucap Fika.
Fika mulai memotong bebek tersebut lalu diberikan kepada Rama, ia pun mengambil bagian untuk dirinya sendiri. Rama menyentuh kulit bebek dengan ujung kukunya hingga dapat terdengar suara.
“Bener kan Fik.” Ucap Rama.
Fika tertawa pelan melihat kelakuannya, mereka pun mulai makan malam. Rama menunjukkan ekspresinya dengan sangat jelas setelah memakan bebek tersebut, hingga beberapa kali ia memejamkan matanya sambil mengunyah.
“Kayaknya kamu berlebihan Ram.” Sahut Fika.
“Ini bukan berlebihan Fik, tapi emang kenyataannya makanan yang kamu buat selalu enak.” Jawabnya.
Fika kembali dibuat tersenyum, hingga tak terasa makanan pun sudah habis. Fika sedang membersihkan meja makan sementara Rama sedang mencuci piring dan alat-alat lainnya.
“Kamu mau teh apa Ram?...” Fika membuka laci meja, “ada Bergamot sama Chamomile.”
“Ngga paham, aku percaya sama kamu aja.” Jawab Rama.
Fika menyeduh dua cangkir Chamomile dengan air panas. Rama sudah selesai, kemudian ia mendekat ke arah Fika lalu membawakan dua cangkir teh ke lantai atas. Fika dan Rama duduk di lantai beralaskan karpet, Fika menyalakan laptopnya sementara Rama mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Tugas apa Ram?” Tanya Fika.
“Spektroskopi Molekul Ultra...”
Rama menghentikan ucapannya setelah melihat reaksi Fika yang menatapnya dengan penuh kebingungan.
“...gampangnya penelitian sinar matahari terhadap larutan ion.” Jelas Rama.
Fika menggelengkan kepalanya, “Aku bener-bener salut sekaligus heran sama orang-orang kayak kamu. Salutnya ya kamu mampu buat belajar itu dan herannya kenapa kamu mau belajar tentang itu.”
“Sama aja kayak kamu, misalnya...” Rama melihat laptop Fika, “Hermeneutika, kamu kira aku ngga bingung kenapa kamu mau belajar tentang itu? Jadi ya sama aja Fik.”
“Kalau dipikir-pikir bener juga sih, tapi kenapa bisa begitu ya Ram? Padahal apa yang dilakuin sama, yang beda cuma subjekya.” Ucap Fika.
Rama terdiam sejenak, “Bisa jadi karena kita ngga bisa terima kalau orang lain suka sama apa yang kita benci, jadinya bikin tanda tanya tersendiri ke diri kita dan orang itu.”
Fika menerima jawaban Rama dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Beberapa saat berlalu, mereka berdua sudah fokus dengan tugas masing-masing. Sesekali Fika menatap ke arah Rama, ia dapat melihat sebuah keseriusan yang selalu Rama tunjukkan jika sudah berhadapan dengan apa yang ia suka.
“Belum selesai Ram?” Tanya Fika.
“Sedikit lagi, kamu udah selesai?...”
Rama menatap Fika yang sedang menggeleng pelan.
“...santai aja, kamu kan besok libur jadi bisa ngerjain lagi.” Ucap Rama.
Fika menghela nafas, “Aku pengennya tuh malem ini semuanya selesai, biar besok bisa nikmatin hari libur seutuhnya. Udah beberapa kali percobaan dari dulu, tetep aja ngga bisa.”
Rama hanya tersenyum menanggapi keluhan Fika, mereka kembali mengerjakan tugas mereka. Beberapa menit kembali berlalu, Rama sudah membereskan kertas-kertas ke dalam tasnya.
“Udah Ram?” Tanya Fika.
Rama mengangguk. “Kamu belum selesai juga?”
Fika menggelengkan kepalanya kemudian ia bersandar pada tepian tempat tidur. Rama meletakkan tasnya di atas meja, kemudian ia duduk di samping Fika.
“Masih banyak?” Tanya Rama.
Fika mengangguk pelan, Rama pun melihat tugas Fika yang terpampang jelas di laptop. Rama sedikit memiringkan kepalanya ke arah kanan sambil mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat.
“Kamu ngapain Ram?” Tanya Fika.
“Mungkin dengan aku miringin kepala kayak gini, aku jadi paham sama tugas kamu...”
Ucapan Rama berhasil membuat Fika tertawa pelan.
“...ternyata ngga bisa juga, jadi aku cuma bisa nemenin kamu doang sekarang. Ayo selesaiin kalau kamu mau.” Jelas Rama.
Fika mendekatkan duduknya ke arah laptop dan kembali mengerjakan tugasnya, sementara Rama memandanginya dari belakang. Beberapa saat berlalu, Fika meregangkan lehernya untuk sesaat. Ia menatap ke arah belakang di mana Rama masih memandanginya.
“Aku kira kamu udah tidur.” Ucap Fika.
“Palingan juga aku ketiduran nanti.” Sahut Rama.
Fika melempar senyumnya kepada Rama, kemudian ia kembali mengerjakan tugasnya yang tersisa. Waktu terus berjalan entah siapa yang tertinggal di belakang, Fika menatap ke arah jam dinding kamarnya.
“Udah selesai?”
Fika kembali menatap ke arah Rama.
“Loh, kamu masih bangun?” Tanya Fika.
“Aku nanya kok malah nanya balik.” Sahut Rama.
Fika memukul lengan Rama pelan kemudian tersenyum. Rama melihat ke arah laptop Fika, nampaknya tugasnya sudah selesai. Ia pun tersenyum ke arahnya, kemudian Rama menutup laptop Fika.
“Kamu mau pulang?” Tanya Fika.
Fika membuka pintu menuju balkon, ia dan Rama pun berjalan ke luar. Suasana hening di tengah malam dengan angin semilir yang menemani mereka. Rama mengeluarkan sebatang rokok lalu membakarnya, asap dari mulutnya pun terhempas begitu saja oleh angin.
“Ram, dies natalis kamu ngapain?” Tanya Fika.
Rama menoleh, “Kemarin sih aku disuruh bantuin buat karya ilmiah, paling bantuin sekenanya aja ngga kayak dulu. Lagian juga udah semester segini, kayaknya udah bukan waktunya aja untuk gituan.”
Fika mengangguk pelan. Angin kembali berhembus dengan leluasa, membuat rambut Fika menutupi sebagian wajahnya. Rama meletakkan rokoknya yang masih menyala di asbak.
“Balik badan Fik.” Perintah Rama.
Rama mengarahkan Fika untuk membalikkan badannya, Fika hanya bisa mengikutinya dengan penuh tanya. Tangan Rama mulai mengumpulkan rambut Fika yang menutupi sebagian wajahnya ke arah belakang, Rama mengambil kunciran dari dalam saku celananya lalu mengikat rambut Fika.
“Selesai, coba liat...”
Fika membalikkan badannya kembali menatap ke arah Rama.
“...cantik.” Ucap Rama.
Fika sedikit terkejut dengan ucapan Rama, ia tersenyum malu. Entah Rama menyadarinya atau tidak, saat ini pipi Fika merona. Rama pun membalas senyum tersebut, kemudian mereka kembali menatap jauh ke arah depan di mana refleksi lampu dari perkotaan nampak jelas di mata.
“Ram...”
“Hm...”
“Aku mau makan es krim deh.”
“Ngga usah mempersulit keadaan, mana ada yang...”
Plak!
“...kenapa sih aku dipukul terus?”
“Abisnya kamu nyebelin.”
“Fika!”
Fika cukup terkejut dengan kedatangan Tessa di sampingnya, sementara Tessa hanya tertawa kecil atas perbuatannya. Mereka berdua berjalan memasuki Gedung.
“Eh iya Tes, gimana nih buat presentasi kita besok? Tetep pakai bahan yang kemarin aja atau mau ada tambahan lain? Soalnya kalau gue liat kayaknya masih kurang deh.” Ucap Fika.
Mereka masuk ke dalam kelas yang belum ramai diisi, mereka pun memilih bangku yang selalu sama di belakang. Tessa menyalakan laptopnya sementara Fika mengeluarkan buku catatannyan dari dalam tas.
“Bagian mana nih yang kurang?” Tanya Tessa.
Fika melihat buku catatannya, “Jadi bagian yang akan kita bahas ini masih kurang referensi. Kemarin sih gue sempet baca jurnalnya kakak kelas, kalau mau kita tambahin bagian ini aja.”
Fika menunjukkan catatannya, Tessa mulai membaca apa saja yang sudah dicatat oleh Fika. Sesekali Tessa mengangguk setelah membaca catatan tersebut. Ting!Fika membaca pesan masuk dari handphonenya.
“Ayam, Bebek, atau Sapi? Bebek ternyata mahal juga ya.”
-Rama-
“Eh iya Fik, ini...”
Tessa menghentikan ucapannya setelah melihat Fika yang sedang tersenyum menatap ke arah handphonenya. Tessa pun menjadi curiga, dengan sengaja ia mendekatkan wajahnya agar Fika mengetahuinya.
“Eh Tes...”
“Cie. Katanya udah lama ngga pacaran, tapi senyuman lo gambarin semuanya dengan jelas. Jadi gue harus percaya omongan lo atau ekspresi lo?” Tanya Tessa menggoda.
‘...Ngga kok, serius deh ini bukan pacar gue. Kan gue udah pernah cerita kalau gue udah lama ngga pacaran.” Jawabnya salah tingkah.
Tessa tertawa, “Iya gue percaya kok sama lo. Yaudah lo bales aja dulu deh, abis itu ada yang mau gue tanyain sama lo soal presentasi kita.”
Fika pun sempat membalas pesan Rama, kemudian mereka mulai membahas tentang presentasi mereka. Beberapa waktu berlalu dengan sengaja, Fika dan Tessa sudah berjalan ke luar dari gedung Fakultas.
“...yang jadi masalah kan kenapa dia jadi bahan acuan kita Fik.” Ucap Tessa.
“Ya mau gimana lagi Tes, emang bahannya dia paling oke selama penjelasan tadi. Jadinya ya kita harus beracu sama dia mau ngga mau.” Jawab Fika.
“Tapi kan jadi ngga masuk sama makna aslinya Fik kalau ujung-ujungnya kita harus beracu sama dia, ngapain kita harus repot selama dua minggu kemarin coba, sebel banget.” Keluh Tessa.
Fika tersenyum lalu merangkul Tessa, “Ya ampun Tessa, sekalinya lo ngga terima tuh bisa sampai segininya ya, ngga berubah dari awal kita kuliah dulu. Udah santai aja, jalanin aja demi keselamatan umat banyak.”
Mereka berjalan melewati parkiran di mana mobil mereka berada. Tessa nampak melihat ke arah sekeliling, Fika pun berhasil dibuat penasaran olehnya.
“Ngapain lo Tes? Nungguin orang?” Tanya Fika.
Tessa menatapnya, “Kayaknya do’a gue belum terkabul Fik, udah seminggu gue ngga ketemu sama orang yang waktu itu nabrak gue. Ke mana ya dia? Jangan-jangan cuma tamu lagi.”
“Gue kira apaan Tes...” Fika berjalan menjauh, “udah ya gue mau pulang dulu. Jangan lupa presentasi.”
Tessa mengangguk setuju, mereka pun berpisah di parkiran. Mobil yang dikendarai Fika ke luar dari area Kampus, untungnya sore ini belum terjadi penumpukan kendaraan yang menyebabkan kemacetan.
“Baiklah kawula muda di mana pun kalian berada, sore hari yang cerah ini...”
Fika memperbesar suara radio untuk menemaninya berkendara pada sore hari ini, ia sempat melihat ke arah Matahari yang bersinar terang di sisi kanan.
“...ada sebuah cerita dari kawula muda yang tidak mau disebutkan namanya. Dia cerita kalau dia lagi nungguin seseorang ngga sengaja ketemu beberapa hari lalu, lucunya ada kejadian kecil di mana mereka saling bertabrakan satu sama lain, kayak di film-film ya...”
“Loh, kayak ceritanya Tessa.” Ucap Fika seorang diri
“...dia berharap bisa ketemu lagi sama orang itu. Wah, ini semua sih udah tergantung semesta ya, karena kalau lo pernah ketemu dengan tidak sengaja dan ngga sempet kenalan, hanya sebuah keajaiban dari semesta yang bisa buat kalian ketemu lagi.”
Fika tersenyum setelah mendengar hal tersebut, ia melajukan mobilnya melewati beberapa perempatan yang memang menjadi biang dari segala kemacetan. Beberapa saat di perjalanan, Fika sudah memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Belum sempat ia menutup pintu gerbang, Rama dengan motornya masuk ke dalam.
“Macet banget ya?” Tanya Rama.
Fika mengangguk, “Biasa deh perempatan-perempatan dengan angkutan umum yang ngga masuk akal, kamu tau sendiri deh Ram. Eh iya, udah kamu beli semua kan?”
Rama mengangkat tas belanjaan yang dikaitkan di motornya, Fika pun mengacungkan ibu jari kepadanya. Mereka masuk ke dalam rumah lalu menuju dapur. Rama sedang menyusun apa yang sudah dipesan oleh Fika, sementara Fika berlalu menuju lantai atas untuk mengganti bajunya.
“Bawang merah... Bawang bombay...”
“Ada semua kan Ram?” Tanya Fika memotong.
“...Jahe, ada semua kok sesuai sama yang kamu pesen. Kamu mau bikin apa emang? Kayaknya kali ini bahannya lebih banyak dari biasanya.” Kata Rama.
“Ada deh...” Fika pun mengenakan apron, “kamu duduk aja sambil ngerjain tugas kalau masih ada, kalau udah selesai semua ya liatin aku aja.”
Rama pun duduk di atas bangku yang menghadap langsung ke arah Fika. Setelah mencuci tangan, FIka pun memegang pisau lalu mulai untuk mengiris tipis bahan-bahan yang ada. Setelah dari Bawang Merah, berlanjut ke Bawang Putih dan juga Bawang Bombay.
“Kalau aku yang masak kayaknya jari aku udah plester semua.” Sahut Rama.
Fika tersenyum, “Dulu aku juga sering luka pas motong-motong ini, karena udah terbiasa jadinya udah tau posisi mana yang aman. Kamu mau aku ajarin?”
Rama menggeleng, “Kayaknya aku ngga ada bakat di sana Fik, mending beli yang udah jadi aja deh atau minta sama kamu yang udah ketahuan jelas bisa.”
Fika kembali tersenyum. Ia beralih menuju bebek yang sudah dibersihkan, secara perlahan ia mulai memotong bebek tersebut di beberapa bagian hingga menghasilkan bebek yang terbuka dengan lebar. Rama nampak takjub dengan apa yang baru saja ia lihat hingga ia menepuk tangannya dengan pelan.
Bebek yang sudah terbuka diletakkan di atas nampan kemudian dilumuri oleh mentega yang sudah dicairkan, setelah itu dimasukkan ke dalam pemanggang dengan suhu yang sudah disesuaikan.
Fika beralih menuju wajan dengan minyak yang sudah panas, ia memasukkan bahan-bahan yang sudah teriris tipis beserta beberapa bumbu lain ke dalamnya. Secara perlahan bahan-bahan tersebut diaduk agar tidak gosong, kemudian api dimatikan namun Fika masih mengaduk-aduk bumbu tersebut.
Ting! Fika membuka pemanggang untuk mengambil nampan, bebek sudah mulai berubah warna menjadi sedikit kekuningan. Secara perlahan-lahan Fika mulai melumuri bebek dengan bumbu yang berasal dari wajan hingga merata, kemudian ia kembali memasukannya ke dalam pemanggang untuk beberapa menit ke depan.
Masih ada bumbu yang tersisa di wajan, Fika pun menambahkan cabai, garam, merica, lada, dan juga daun bawang ke dalam wajan tersebut. Setelah diaduk merata, semuanya dipindahkan ke dalam mangkuk. Ting! Fika kembali mengeluarkan nampan dari dalam pemanggang, bebek pun sudah nampak cokelat keemasan. Rama bertepuk tangan dengan meriah setelah melihat makanannya yang sudah siap, Fika hanya tersenyum melihat responnya.
“Sesuai sama apa yang aku bayangin Fik.” Ucap Rama.
“Emang apa yang kamu bayangin?” Tanya Fika.
“Warna bebeknya persis sama apa yang aku bayangin, cokelat keemasan yang pasti kulitnya akan garing dan dagingnya akan empuk.” Jelas Rama.
“Untuk ukuran yang ngga bisa masak, visualisasi kamu bagus juga sampai bisa bayangin kayak gitu.” Kata Fika.
Mereka pun beralih menuju meja makan, Rama membantu Fika untuk menyiapkan makanan tersebut. Setelah selesai, mereka duduk berhadapan satu sama lain. Rama memimpin do’a untuk mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh Tuhan dengan bantuan Fika.
“...Amin, selamat makan.” Ucap Fika.
Fika mulai memotong bebek tersebut lalu diberikan kepada Rama, ia pun mengambil bagian untuk dirinya sendiri. Rama menyentuh kulit bebek dengan ujung kukunya hingga dapat terdengar suara.
“Bener kan Fik.” Ucap Rama.
Fika tertawa pelan melihat kelakuannya, mereka pun mulai makan malam. Rama menunjukkan ekspresinya dengan sangat jelas setelah memakan bebek tersebut, hingga beberapa kali ia memejamkan matanya sambil mengunyah.
“Kayaknya kamu berlebihan Ram.” Sahut Fika.
“Ini bukan berlebihan Fik, tapi emang kenyataannya makanan yang kamu buat selalu enak.” Jawabnya.
Fika kembali dibuat tersenyum, hingga tak terasa makanan pun sudah habis. Fika sedang membersihkan meja makan sementara Rama sedang mencuci piring dan alat-alat lainnya.
“Kamu mau teh apa Ram?...” Fika membuka laci meja, “ada Bergamot sama Chamomile.”
“Ngga paham, aku percaya sama kamu aja.” Jawab Rama.
Fika menyeduh dua cangkir Chamomile dengan air panas. Rama sudah selesai, kemudian ia mendekat ke arah Fika lalu membawakan dua cangkir teh ke lantai atas. Fika dan Rama duduk di lantai beralaskan karpet, Fika menyalakan laptopnya sementara Rama mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Tugas apa Ram?” Tanya Fika.
“Spektroskopi Molekul Ultra...”
Rama menghentikan ucapannya setelah melihat reaksi Fika yang menatapnya dengan penuh kebingungan.
“...gampangnya penelitian sinar matahari terhadap larutan ion.” Jelas Rama.
Fika menggelengkan kepalanya, “Aku bener-bener salut sekaligus heran sama orang-orang kayak kamu. Salutnya ya kamu mampu buat belajar itu dan herannya kenapa kamu mau belajar tentang itu.”
“Sama aja kayak kamu, misalnya...” Rama melihat laptop Fika, “Hermeneutika, kamu kira aku ngga bingung kenapa kamu mau belajar tentang itu? Jadi ya sama aja Fik.”
“Kalau dipikir-pikir bener juga sih, tapi kenapa bisa begitu ya Ram? Padahal apa yang dilakuin sama, yang beda cuma subjekya.” Ucap Fika.
Rama terdiam sejenak, “Bisa jadi karena kita ngga bisa terima kalau orang lain suka sama apa yang kita benci, jadinya bikin tanda tanya tersendiri ke diri kita dan orang itu.”
Fika menerima jawaban Rama dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Beberapa saat berlalu, mereka berdua sudah fokus dengan tugas masing-masing. Sesekali Fika menatap ke arah Rama, ia dapat melihat sebuah keseriusan yang selalu Rama tunjukkan jika sudah berhadapan dengan apa yang ia suka.
“Belum selesai Ram?” Tanya Fika.
“Sedikit lagi, kamu udah selesai?...”
Rama menatap Fika yang sedang menggeleng pelan.
“...santai aja, kamu kan besok libur jadi bisa ngerjain lagi.” Ucap Rama.
Fika menghela nafas, “Aku pengennya tuh malem ini semuanya selesai, biar besok bisa nikmatin hari libur seutuhnya. Udah beberapa kali percobaan dari dulu, tetep aja ngga bisa.”
Rama hanya tersenyum menanggapi keluhan Fika, mereka kembali mengerjakan tugas mereka. Beberapa menit kembali berlalu, Rama sudah membereskan kertas-kertas ke dalam tasnya.
“Udah Ram?” Tanya Fika.
Rama mengangguk. “Kamu belum selesai juga?”
Fika menggelengkan kepalanya kemudian ia bersandar pada tepian tempat tidur. Rama meletakkan tasnya di atas meja, kemudian ia duduk di samping Fika.
“Masih banyak?” Tanya Rama.
Fika mengangguk pelan, Rama pun melihat tugas Fika yang terpampang jelas di laptop. Rama sedikit memiringkan kepalanya ke arah kanan sambil mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat.
“Kamu ngapain Ram?” Tanya Fika.
“Mungkin dengan aku miringin kepala kayak gini, aku jadi paham sama tugas kamu...”
Ucapan Rama berhasil membuat Fika tertawa pelan.
“...ternyata ngga bisa juga, jadi aku cuma bisa nemenin kamu doang sekarang. Ayo selesaiin kalau kamu mau.” Jelas Rama.
Fika mendekatkan duduknya ke arah laptop dan kembali mengerjakan tugasnya, sementara Rama memandanginya dari belakang. Beberapa saat berlalu, Fika meregangkan lehernya untuk sesaat. Ia menatap ke arah belakang di mana Rama masih memandanginya.
“Aku kira kamu udah tidur.” Ucap Fika.
“Palingan juga aku ketiduran nanti.” Sahut Rama.
Fika melempar senyumnya kepada Rama, kemudian ia kembali mengerjakan tugasnya yang tersisa. Waktu terus berjalan entah siapa yang tertinggal di belakang, Fika menatap ke arah jam dinding kamarnya.
“Udah selesai?”
Fika kembali menatap ke arah Rama.
“Loh, kamu masih bangun?” Tanya Fika.
“Aku nanya kok malah nanya balik.” Sahut Rama.
Fika memukul lengan Rama pelan kemudian tersenyum. Rama melihat ke arah laptop Fika, nampaknya tugasnya sudah selesai. Ia pun tersenyum ke arahnya, kemudian Rama menutup laptop Fika.
“Kamu mau pulang?” Tanya Fika.
Fika membuka pintu menuju balkon, ia dan Rama pun berjalan ke luar. Suasana hening di tengah malam dengan angin semilir yang menemani mereka. Rama mengeluarkan sebatang rokok lalu membakarnya, asap dari mulutnya pun terhempas begitu saja oleh angin.
“Ram, dies natalis kamu ngapain?” Tanya Fika.
Rama menoleh, “Kemarin sih aku disuruh bantuin buat karya ilmiah, paling bantuin sekenanya aja ngga kayak dulu. Lagian juga udah semester segini, kayaknya udah bukan waktunya aja untuk gituan.”
Fika mengangguk pelan. Angin kembali berhembus dengan leluasa, membuat rambut Fika menutupi sebagian wajahnya. Rama meletakkan rokoknya yang masih menyala di asbak.
“Balik badan Fik.” Perintah Rama.
Rama mengarahkan Fika untuk membalikkan badannya, Fika hanya bisa mengikutinya dengan penuh tanya. Tangan Rama mulai mengumpulkan rambut Fika yang menutupi sebagian wajahnya ke arah belakang, Rama mengambil kunciran dari dalam saku celananya lalu mengikat rambut Fika.
“Selesai, coba liat...”
Fika membalikkan badannya kembali menatap ke arah Rama.
“...cantik.” Ucap Rama.
Fika sedikit terkejut dengan ucapan Rama, ia tersenyum malu. Entah Rama menyadarinya atau tidak, saat ini pipi Fika merona. Rama pun membalas senyum tersebut, kemudian mereka kembali menatap jauh ke arah depan di mana refleksi lampu dari perkotaan nampak jelas di mata.
“Ram...”
“Hm...”
“Aku mau makan es krim deh.”
“Ngga usah mempersulit keadaan, mana ada yang...”
Plak!
“...kenapa sih aku dipukul terus?”
“Abisnya kamu nyebelin.”
nuryadiari memberi reputasi
1
Kutip
Balas