- Beranda
- Stories from the Heart
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#52
BAGIAN TIGA BELAS
EDDIcukup puas dengan informasi yang diperolehnya. Glenn masih bernafas ketika dilarikan ke rumah sakit, namun kemudian meninggal tanpa sempat bicara apa apa. Hanya saja yang ia khawatirkan pistol ayahnya yang ia ambil dengan diam –diam lantas dipinjamkan pada Glenn. Tetapi tidak Sulit memecahkan persoalannya. Cukup mengkambing hitamkan Glenn telah mencuri pistol itu dari laci meja kerja ayahnya, dan Alex mendukung pula dengan cerita isapan jempol bahwa penyakit lama Glenn sebagai bekas rampok, memang masih kambuh sekali waktu.
Namun Eddi sempat kaget dan khawatir juga ketika ia kembali ke kantor dan sekretarisnya mengatakan ia dicari oleh! Kapten Polisi Suhardi. Apakah perwira polisi itu mencurigai sesuatu? Sedikit panik, ia mengatakan pada sekretarisnya kalau Suhardi menelepon lagi agar dikatakan bahwa ia sudah pergi. Ia sedang membereskan beberapa berkas secara terburu buru dengan maksud menghindar dari kantor secepat mungkin, tatkala sekretarisnya mengatakan ada telepon.
Melihat wajah bosnya yang tampak kesal menahan amarah, sekretaris itu cepat - cepat menambahkan :
"Dari seorang perempuan yang cantik "
"Siapa?" tanya Eddi gelisah.
"Miranda "
Jawaban pendek dari sekertarisnya itu membuat Eddi sesaat tampak gugup. Tetapi akan menggelikan kalau sekretarisnya mengetahui ia mendadak takut pada semua orang. Maka dengan kepala diliputi tanda tanya, ia sambut telepon itu dan menyahuti panggilan Mira. Di luar dugaannya suara perempuan itu terdengar lunak dan ramah .
"Apakah aku mengganggu kesibukanmu, Eddi?"
"Kau Mira,ada apa?" tanya Eddi hati-hati.
"Bicara."
"Tentang?"
"Yah, semacam curhat. Aku sangat kesepian semenjak kakak mu pergi. Toh, kita masih saudara. Kau masih adik iparku ..."
Eddi menarik nafas lega. Sekaligus keheranan kepada dirinya sendiri. Beberapa waktu yang lalu. Bara dendam di dadanya serasa membakar pembuluh – pembuluh darah. Mira janda dari kakak kandungnya itu harus mati. Dan kini begitu mendengar suara halus kakak iparnya itu bara dendam yang hampir menghanguskan itu raib entah kemana. Seperti sering dikatakan ayahnya, Eddi kadang-kadang suka berlaku semorono. Saat inipun, ia agaknya melupakan apa yang ia perintahkan pada Glenn serta akibatnya pada Mira. Yang terbayang di pelupuk matanya, hanyalah suatu gambaran menyenangkan : bahwa pada akhirnya, semuanya akan beres. Dan lagi lagi, pastilah uang memegang peran penting.
Tanpa berpikir panjang, Eddi berbisik pelan : "Dimana kita bisa bertemu?"
"Makin cepat makin baik, bukan?"
"Oke. Kapan?"
"Betul juga. Bagaimana kalau sore hari ini juga?"
"Sore ini aku masih Sibuk. Entah, kalau malam."
"Jam berapa?"
"Yah, antara pukul tujuh atau delapanlah “
"Apakah aku ke rumahmu, atau ...," saat itulah Eddi teringat apa yang telah diperintahkan kepada Glenn.
Bunuh Mira tanpa seorangpun tahu. Ia sadikit gugup setelah mendadak teringat lagi pada Glenn.
Untunglah, Mira cepat cepat berkata: "Malam ini aku malas pulang ke rumah. Jadi aku bermaksud menginap di hotel untuk sementara. Saat ini pun aku telah mendaftarkan namaku . Kau tahu lokasi hotel itu Eddi? Hotel dengan sebuah kafe di lantai bawah"
"Tahu Mira " nada suara Eddi kini lebih bersahabat.
"Kamar berapa?"
"Wah, jangan di kamar ah. Kalau ada yang tahu, payah!" Mira tertawa renyah, sedikit nakal.
"Aku akan menunggu di lobby. Begitu kau muncul, kita pergi."
"Ke mana ?"
"Terserah kemana kau bawa aku. Aku tinggal ngikut saja. Aku hanya sekedar ingin bersenang –senang sebentar untuk mengurangi rasa sepi ini"
"Percayakan itu padaku, Mira!"
Setelah pembicaraan mereka selesai, Eddi duduk tercenung. Apa yang membuat sikapnya pada Mira sang kakak ipar itu berubah begitu drastis? Memang dahulu Eddu semapt naksir pada Mira. Hanya saja rasa itu terampas karena Mira ternyata lebih memilih Irfan yang juga kakak kandungnya itu.
"Kapten Suhardi menelepon lagi, Pak," sekretarisnya membuyarkan lamunan.
Eddi dengan ketus ia berkata : "Kau sudah tahu jawabannya, bukan?"
Lantas Eddi bergegas meninggalkan kantor. Di kantor Satuan Reserse Poltabes Jogja, Kapten Polisi Suhardi sangat kecewa karena gagal lagi menghubungi Eddi.
Namun Eddi sempat kaget dan khawatir juga ketika ia kembali ke kantor dan sekretarisnya mengatakan ia dicari oleh! Kapten Polisi Suhardi. Apakah perwira polisi itu mencurigai sesuatu? Sedikit panik, ia mengatakan pada sekretarisnya kalau Suhardi menelepon lagi agar dikatakan bahwa ia sudah pergi. Ia sedang membereskan beberapa berkas secara terburu buru dengan maksud menghindar dari kantor secepat mungkin, tatkala sekretarisnya mengatakan ada telepon.
Melihat wajah bosnya yang tampak kesal menahan amarah, sekretaris itu cepat - cepat menambahkan :
"Dari seorang perempuan yang cantik "
"Siapa?" tanya Eddi gelisah.
"Miranda "
Jawaban pendek dari sekertarisnya itu membuat Eddi sesaat tampak gugup. Tetapi akan menggelikan kalau sekretarisnya mengetahui ia mendadak takut pada semua orang. Maka dengan kepala diliputi tanda tanya, ia sambut telepon itu dan menyahuti panggilan Mira. Di luar dugaannya suara perempuan itu terdengar lunak dan ramah .
"Apakah aku mengganggu kesibukanmu, Eddi?"
"Kau Mira,ada apa?" tanya Eddi hati-hati.
"Bicara."
"Tentang?"
"Yah, semacam curhat. Aku sangat kesepian semenjak kakak mu pergi. Toh, kita masih saudara. Kau masih adik iparku ..."
Eddi menarik nafas lega. Sekaligus keheranan kepada dirinya sendiri. Beberapa waktu yang lalu. Bara dendam di dadanya serasa membakar pembuluh – pembuluh darah. Mira janda dari kakak kandungnya itu harus mati. Dan kini begitu mendengar suara halus kakak iparnya itu bara dendam yang hampir menghanguskan itu raib entah kemana. Seperti sering dikatakan ayahnya, Eddi kadang-kadang suka berlaku semorono. Saat inipun, ia agaknya melupakan apa yang ia perintahkan pada Glenn serta akibatnya pada Mira. Yang terbayang di pelupuk matanya, hanyalah suatu gambaran menyenangkan : bahwa pada akhirnya, semuanya akan beres. Dan lagi lagi, pastilah uang memegang peran penting.
Tanpa berpikir panjang, Eddi berbisik pelan : "Dimana kita bisa bertemu?"
"Makin cepat makin baik, bukan?"
"Oke. Kapan?"
"Betul juga. Bagaimana kalau sore hari ini juga?"
"Sore ini aku masih Sibuk. Entah, kalau malam."
"Jam berapa?"
"Yah, antara pukul tujuh atau delapanlah “
"Apakah aku ke rumahmu, atau ...," saat itulah Eddi teringat apa yang telah diperintahkan kepada Glenn.
Bunuh Mira tanpa seorangpun tahu. Ia sadikit gugup setelah mendadak teringat lagi pada Glenn.
Untunglah, Mira cepat cepat berkata: "Malam ini aku malas pulang ke rumah. Jadi aku bermaksud menginap di hotel untuk sementara. Saat ini pun aku telah mendaftarkan namaku . Kau tahu lokasi hotel itu Eddi? Hotel dengan sebuah kafe di lantai bawah"
"Tahu Mira " nada suara Eddi kini lebih bersahabat.
"Kamar berapa?"
"Wah, jangan di kamar ah. Kalau ada yang tahu, payah!" Mira tertawa renyah, sedikit nakal.
"Aku akan menunggu di lobby. Begitu kau muncul, kita pergi."
"Ke mana ?"
"Terserah kemana kau bawa aku. Aku tinggal ngikut saja. Aku hanya sekedar ingin bersenang –senang sebentar untuk mengurangi rasa sepi ini"
"Percayakan itu padaku, Mira!"
Setelah pembicaraan mereka selesai, Eddi duduk tercenung. Apa yang membuat sikapnya pada Mira sang kakak ipar itu berubah begitu drastis? Memang dahulu Eddu semapt naksir pada Mira. Hanya saja rasa itu terampas karena Mira ternyata lebih memilih Irfan yang juga kakak kandungnya itu.
"Kapten Suhardi menelepon lagi, Pak," sekretarisnya membuyarkan lamunan.
Eddi dengan ketus ia berkata : "Kau sudah tahu jawabannya, bukan?"
Lantas Eddi bergegas meninggalkan kantor. Di kantor Satuan Reserse Poltabes Jogja, Kapten Polisi Suhardi sangat kecewa karena gagal lagi menghubungi Eddi.
MIRAmeninggalkan rumah dengan mempergunakan taksi yang telah ia pesan lebih dulu. Ia tidak mau mengambil resiko diikuti. Oleh karenanya, setiba di Jalan Malioboro dengan tiba tiba ia menyuruh taksi berhenti, membayar ongkos secukupnya dihitung tarip per dua jam. Dengan cepat ia menyelinap ke sebuah pusat perbelanjaan yang ia ketahui selalu ramai dengan pengunjung karena selain penjual model-model terbaru, pusat perbelanjaan itu juga memasang obral.
Ia sering berbelanja di situ, sehingga tahu betul seluk-beluknya. Dalam waktu tiga menit ia telah keluar lewat pintu lainnya setelah menyelinap ke gang di samping kamar kecil, dan langsung naik ke sebuah taksi yang banyak mangkal di situ. Supir ia suruh tancap gas, baru kemudian memberitahu agar ia dibawa berputar putar dulu. Setelah yakin tidak ada yang mengikuti, ia minta diantarkan ke hotel Sekar Mirah.
EDDI tertawa berderai-derai sewaktu Mira mengisahkan peristiwa peristiwa konyol yang ia alami semasa masih menjadi aak sekolahan. Lelaki itu telah membuang pikiran - pikiran buruk mengenai kakak iparnya ini. Lambat laun ia semakin santai. Sambil menikmati hidangan makan malam di sebuah kafe dan diiringi music jazz yang dibawakan secara live oleh home band, mereka ngobrol dengan intimnya Tak ubah dua orang bekas kekasih yang telah berpisah sekian belas tahun dan takdir menghendaki mereka tiba - tiba bertemu lagi.
Tidaklah mengherankan, apabila sekeluar dari kafe, Eddi langsung pasang kuda kuda : "Malam yang indah, Mira. Bagaimana kalau sisa malam kita lewatkan di kamar hotelmu?"
"Aduh, jangan dong!" Mira tertawa malu - malu.
"Kalau ada razia, kan gawat namanya. Belum lagi aku ini masih kakak ipar mu"
"Punya usul yang lebih menarik?"
"Yaaahhh ...," Mira berpikir keras, kemudian memutuskan : "Ayo kita ke Kaliurang saja.
Menikmati hawa sejuk. Atau barangkali kau lebih suka mandi air panas di Parangwedang?"
"Terlalu malam untuk main air", Eddi berucap lirih.
“ Kalau begitu ke Kaliurang saja “
"Usul yang gemilang Mira. Mana aku bisa menolak?"
Lalu mobil ia luncurkan ke arah Kaliurang. Di iringi obrolan yang kian lama kian intim jua. Seolah tanpa disengaja, obrolan mereka berkembang ke arah hal-hal yang menyangkut birahi dan semakin menjurus ketika mereka menceritakan pengalaman seksual masing masing. Eddi yang sudah ke buru mabuk kepayang tidak bercuriga apa apa ketika Mira tiba tiba mengatakan agar mobil dihentikan sebentar.
"Aku tak tahan nih! Hampir satu bulan Irfan tidak menyentuhku" kata perempuan itu seraya tertawa tersipu - sipu.
Eddi mengerti. Ia memilih tempat yang ia perkirakan paling aman. Mobil dapat ia simpangkan keluar dari jalan raya tak terlihat pengendara lain lalu menabraknya. Tempatnya tidak terlalu gelap pula,karena disirami cahaya rembulan empat belas hari. Hanya sedikit temaram karena udara berkabut.
Mira bergegas membuka pintu mobil lalu berlari-lari kecil ke balik semak belukar. Eddi menungguinya cukup dekat, ingin memperlihatkan diri sebagai seorang pelindung apabila ketika sedang buang air kecil, Mira mengalami gangguan tak terduga.
Sambil menunggu, lelaki itu berpikir : "Ah. Selain elok rupawan, ternyata ia juga pemberani!"
"Ed?" terdengar panggilan lembut Mira dari balik semak belukar.
"Ada apa?"
"Rokku tersangkut duri!"
Eddi bergegas menerobos semak belukar dan dengan heran ia kemudian menyadari bahwa gadis itu tidak buang air. Mantel si gadis terhampar di rerumputan dan pemiliknya berbaring santai dengan posisi menantang birahi seorang laki-laki. Lepas dari keheranannya, Eddi kemudian tersenyum nakal.
"Kau ingin kita melakukannya di sini?"
"Lebih romantis bukan? Dulu aku sering melakukannya dengan Irfan" sahut Mira dengan suara tergetar.
"Sudah kubilang, kau seorang wanita dengan otak liar!" rungut Eddi, ikut tergetar.
Ia kemudian berjongkok di sebelah Mira dan siap untuk memeluk dan mencium bibir yang mengundang birahi itu.
Tetapi Mira mengelak, lalu berkata pelan : "Tahukah kau, Ed?"
"Apa ?"
"Situasinya sedikit berbeda ...."
"Situasi apa?"
"Antara malam ini, dengan malam ketika aku memergoki Irfan!"
"Kenapa dengan Irfan?" Eddi tercengang,
"Mengaku menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit karena ada pasien yang harus dioperasi. Firasatku tidka enak. Diam –diam aku ke rumah sakit tempat ia bekerja. Tidak ada Irfan disana. Seorang rekan kerjanya memberitahuku dengan diam –diam kalau Irfan mendatangi seseorang. Ia memberiku sebuah alamat dan ancar –ancar....," Mira menjelaskan dengan tekanan suara yang berubah misterius.
" Aku menemukan alamat itu dengan bantuan seornag sopir taxi yang ku tumpangi. Sengaja aku minta berhenti di ujung gang itu. Sopir taxi aku minta tolong untuk menungguku karena aku tidak akan lama”
“ Dan apa yang aku lihat di depan mataku? Mereka saling bercumbu. Irfan dan perempuan itu"
Jantung Eddi berdenyut keras.
“ Dan aku telah membereskannya”
"Apanya yang beres ...?" Eddi tergagap.
"Irfan!" jawab Mira tenang.
"Ia bukan saja telah selingkuh di belakang ku. Ia juga sering memukulku. Di rumah, di dalam mobil, Ed. Di dalam mobil! Dan malam tadi ketika Glenn melakukan hal itu padanya. Pada lelaki lugu yang tidak tahu apa -apa ...," wajah Mira sekonyong-konyong berubah secara aneh matanya pun ikut berubah. Merah, kehijau-hijauan dengan sorot yang seketika memukau Eddi.
"Kau yang menyuruh Glenn melakukannya bukan?" gadis itu berbisik serak desah desah nafas memburu yang keras dan ganjil nadanya.
Selagi Eddi kaget dan takut Mira meraung keras sembari mencopoti pakaiannya sedemikian rupa. Dan ketika sinar rembulan menangkap tubuh telanjangnya, tampak di kulit mulusnya muncul bulu bulu panjang pirang kecoklatan, yang dalam tempo hanya beberapa detik telah memenuhi sekujur tubuhnya. Suatu saat, Mira meraung dalam lolongan menusuk, sembari tengadah ke arah rembulan.
Wajah cantik rupawan itu pelan tetapi pasti berubah jadi lonjong, semakin lonjong. Telinganya melebar, bertambah panjang. Bulu bulu yang sama bermunculan di wajah yang tah tahu telah berubah seperti kepala asu ajag -dengan moncong yang kecil lancip, hitam berlendir. Moncong asu ajag itu membuka lebar, memperdengarkan raungan yang dahsyat. Lidahnya terjulur panjang ke luar, merah kehitaman, berbuih buih di antara gigi - gigi taring yang mencuat runcing mengerikan.
Eddi terpekik. Ia mundur ketakutan. Kakinya tersangkut sesuatu, dan ia jatuh terjerembab di semak belukar. Belum sempat ia bangkit untuk melarikan diri, sosok makhluk mengerikan itu telah menerkamnya. Lalu dengan kejam dan buas merengkah lambungnya, mengoyaknya sedemikian rupa lalu dengan suatu sentakan keras mencopot ulu hatinya. Eddi tidak sempat lagi menjerit. Namun ia masih sempat mendengar bunyi - bunyi mengerikan ketika tubuhnya dibantai dan ulu hatinya direnggut. Samar samar, sebelum ajal meninggalkan raganya, dia pun sempat melihat bagaimana makhluk itu mengunyah-ngunyah hatinya yang dilumuri darah segar.
Ia sering berbelanja di situ, sehingga tahu betul seluk-beluknya. Dalam waktu tiga menit ia telah keluar lewat pintu lainnya setelah menyelinap ke gang di samping kamar kecil, dan langsung naik ke sebuah taksi yang banyak mangkal di situ. Supir ia suruh tancap gas, baru kemudian memberitahu agar ia dibawa berputar putar dulu. Setelah yakin tidak ada yang mengikuti, ia minta diantarkan ke hotel Sekar Mirah.
EDDI tertawa berderai-derai sewaktu Mira mengisahkan peristiwa peristiwa konyol yang ia alami semasa masih menjadi aak sekolahan. Lelaki itu telah membuang pikiran - pikiran buruk mengenai kakak iparnya ini. Lambat laun ia semakin santai. Sambil menikmati hidangan makan malam di sebuah kafe dan diiringi music jazz yang dibawakan secara live oleh home band, mereka ngobrol dengan intimnya Tak ubah dua orang bekas kekasih yang telah berpisah sekian belas tahun dan takdir menghendaki mereka tiba - tiba bertemu lagi.
Tidaklah mengherankan, apabila sekeluar dari kafe, Eddi langsung pasang kuda kuda : "Malam yang indah, Mira. Bagaimana kalau sisa malam kita lewatkan di kamar hotelmu?"
"Aduh, jangan dong!" Mira tertawa malu - malu.
"Kalau ada razia, kan gawat namanya. Belum lagi aku ini masih kakak ipar mu"
"Punya usul yang lebih menarik?"
"Yaaahhh ...," Mira berpikir keras, kemudian memutuskan : "Ayo kita ke Kaliurang saja.
Menikmati hawa sejuk. Atau barangkali kau lebih suka mandi air panas di Parangwedang?"
"Terlalu malam untuk main air", Eddi berucap lirih.
“ Kalau begitu ke Kaliurang saja “
"Usul yang gemilang Mira. Mana aku bisa menolak?"
Lalu mobil ia luncurkan ke arah Kaliurang. Di iringi obrolan yang kian lama kian intim jua. Seolah tanpa disengaja, obrolan mereka berkembang ke arah hal-hal yang menyangkut birahi dan semakin menjurus ketika mereka menceritakan pengalaman seksual masing masing. Eddi yang sudah ke buru mabuk kepayang tidak bercuriga apa apa ketika Mira tiba tiba mengatakan agar mobil dihentikan sebentar.
"Aku tak tahan nih! Hampir satu bulan Irfan tidak menyentuhku" kata perempuan itu seraya tertawa tersipu - sipu.
Eddi mengerti. Ia memilih tempat yang ia perkirakan paling aman. Mobil dapat ia simpangkan keluar dari jalan raya tak terlihat pengendara lain lalu menabraknya. Tempatnya tidak terlalu gelap pula,karena disirami cahaya rembulan empat belas hari. Hanya sedikit temaram karena udara berkabut.
Mira bergegas membuka pintu mobil lalu berlari-lari kecil ke balik semak belukar. Eddi menungguinya cukup dekat, ingin memperlihatkan diri sebagai seorang pelindung apabila ketika sedang buang air kecil, Mira mengalami gangguan tak terduga.
Sambil menunggu, lelaki itu berpikir : "Ah. Selain elok rupawan, ternyata ia juga pemberani!"
"Ed?" terdengar panggilan lembut Mira dari balik semak belukar.
"Ada apa?"
"Rokku tersangkut duri!"
Eddi bergegas menerobos semak belukar dan dengan heran ia kemudian menyadari bahwa gadis itu tidak buang air. Mantel si gadis terhampar di rerumputan dan pemiliknya berbaring santai dengan posisi menantang birahi seorang laki-laki. Lepas dari keheranannya, Eddi kemudian tersenyum nakal.
"Kau ingin kita melakukannya di sini?"
"Lebih romantis bukan? Dulu aku sering melakukannya dengan Irfan" sahut Mira dengan suara tergetar.
"Sudah kubilang, kau seorang wanita dengan otak liar!" rungut Eddi, ikut tergetar.
Ia kemudian berjongkok di sebelah Mira dan siap untuk memeluk dan mencium bibir yang mengundang birahi itu.
Tetapi Mira mengelak, lalu berkata pelan : "Tahukah kau, Ed?"
"Apa ?"
"Situasinya sedikit berbeda ...."
"Situasi apa?"
"Antara malam ini, dengan malam ketika aku memergoki Irfan!"
"Kenapa dengan Irfan?" Eddi tercengang,
"Mengaku menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit karena ada pasien yang harus dioperasi. Firasatku tidka enak. Diam –diam aku ke rumah sakit tempat ia bekerja. Tidak ada Irfan disana. Seorang rekan kerjanya memberitahuku dengan diam –diam kalau Irfan mendatangi seseorang. Ia memberiku sebuah alamat dan ancar –ancar....," Mira menjelaskan dengan tekanan suara yang berubah misterius.
" Aku menemukan alamat itu dengan bantuan seornag sopir taxi yang ku tumpangi. Sengaja aku minta berhenti di ujung gang itu. Sopir taxi aku minta tolong untuk menungguku karena aku tidak akan lama”
“ Dan apa yang aku lihat di depan mataku? Mereka saling bercumbu. Irfan dan perempuan itu"
Jantung Eddi berdenyut keras.
“ Dan aku telah membereskannya”
"Apanya yang beres ...?" Eddi tergagap.
"Irfan!" jawab Mira tenang.
"Ia bukan saja telah selingkuh di belakang ku. Ia juga sering memukulku. Di rumah, di dalam mobil, Ed. Di dalam mobil! Dan malam tadi ketika Glenn melakukan hal itu padanya. Pada lelaki lugu yang tidak tahu apa -apa ...," wajah Mira sekonyong-konyong berubah secara aneh matanya pun ikut berubah. Merah, kehijau-hijauan dengan sorot yang seketika memukau Eddi.
"Kau yang menyuruh Glenn melakukannya bukan?" gadis itu berbisik serak desah desah nafas memburu yang keras dan ganjil nadanya.
Selagi Eddi kaget dan takut Mira meraung keras sembari mencopoti pakaiannya sedemikian rupa. Dan ketika sinar rembulan menangkap tubuh telanjangnya, tampak di kulit mulusnya muncul bulu bulu panjang pirang kecoklatan, yang dalam tempo hanya beberapa detik telah memenuhi sekujur tubuhnya. Suatu saat, Mira meraung dalam lolongan menusuk, sembari tengadah ke arah rembulan.
Wajah cantik rupawan itu pelan tetapi pasti berubah jadi lonjong, semakin lonjong. Telinganya melebar, bertambah panjang. Bulu bulu yang sama bermunculan di wajah yang tah tahu telah berubah seperti kepala asu ajag -dengan moncong yang kecil lancip, hitam berlendir. Moncong asu ajag itu membuka lebar, memperdengarkan raungan yang dahsyat. Lidahnya terjulur panjang ke luar, merah kehitaman, berbuih buih di antara gigi - gigi taring yang mencuat runcing mengerikan.
Eddi terpekik. Ia mundur ketakutan. Kakinya tersangkut sesuatu, dan ia jatuh terjerembab di semak belukar. Belum sempat ia bangkit untuk melarikan diri, sosok makhluk mengerikan itu telah menerkamnya. Lalu dengan kejam dan buas merengkah lambungnya, mengoyaknya sedemikian rupa lalu dengan suatu sentakan keras mencopot ulu hatinya. Eddi tidak sempat lagi menjerit. Namun ia masih sempat mendengar bunyi - bunyi mengerikan ketika tubuhnya dibantai dan ulu hatinya direnggut. Samar samar, sebelum ajal meninggalkan raganya, dia pun sempat melihat bagaimana makhluk itu mengunyah-ngunyah hatinya yang dilumuri darah segar.
PERISTIWAberdarah itu berlangsung dalam tempo hanya beberapa detik saja. Puas melampiaskan kebiadabannya, makhluk bertubuh manusia dengan wujud asu ajag itu menengadah ke rembulan yang seakan tersentak diam setelah menyadari tragedi apa yang barusan berlangsung di bawah naungannya. Makhluk itu memperdengarkan lolongan bergetar, panjang dan lirih. Mendayu dayu. Kemudian mayat korbannya diseret, hanya dengan sebelah tangan saja. Seakan mayat bertubuh tinggi kekar itu tak lebih dari sekarung kapas belaka. Setelah mendudukkan mayat yang tak karuan bentuknya itu di sebelah kemudi, sang mahluk kembali lagi ke semak belukar. Pakaian yang berserakan ia kumpulkan dan dibungkus dengan mantel yang terhampar di rerumputan. Ia melemparkan bungkusan itu ke jok belakang mobil, setelah mana ia lalu duduk di belakang kemudi.
Dengan mata tetap menyala merah kehijau hijauan serta bunyi geraman di moncongnya yang terbuka, makhluk itu dengan keterampilan seorang pengemudi memundurkan mobil ke jalan raya dan kemudian melarikannya ke arah Gunungkidul. Tiba di daerah tak berpenghuni dengan tikungan tikungan tajam serta jurang-jurang menganga di kiri kanan jalan, mobil menurunkan kecepatan lantas berhenti dengan bunyi menciut rem yang keras karena diinjak mendadak begitu moncong mobil sudah menghadap ke jurang gelap dan dalam di pinggir jalan. Bungkusan tadi beserta sebuah tas wanita tampak dilemparkan ke luar jendela mobil, jatuh di rerumputan.
Makhluk itu menyusul ke luar. Ia seret mayat supaya posisi duduknya tepat di belakang kemudi. Saluran bahan bakar ke tangki bensin dilonggarkan. Lalu dengan sebuah geraman lirih, makhluk itu mendorong bagian belakang mobil dengan kekuatan luar biasa.
Sebelum mobil dan pemiliknya itu-benar-benar jatuh tunggang langgang ke dalam jurang, sang makhluk telah berlari meninggalkan tempat itu dengan membawa serta tas dan bungkusan berisi pakaiannya. Ia berlari dan terus berlari, begitu cepat dan menakjubkan sehingga ketika terdengar bunyi ledakan keras disusul nyala api menjiLat udara berkabut, makhluk itu sudah menyelinap sejauh ratusan meter Jauhnya. Namun larinya tidak juga dihentikan, sampai akhirnya ia mendekati wilayah yang dihuni penduduk setempat. Ia turun ke bawah jalan, meraba raba dalam kegelapan.
Tanah lembab dan basah yang teraba olehnya, diraup lalu dimasukkan ke mulut, lalu dikunyah-kunyah bersama akar akar ilalang yang ikut tercabut. Terdengar suara batuk batuk tertahan. Batuk manusia, dari moncong asu ajagnya. Setelah bunyi batuknya hilang, ia duduk terengah-engah. Menunggu. Detik demi detik berlalu sementara di atasnya ia dengar langkah langkah berlari serta suara suara ribut menuju ke arah jilatan api di kejauhan.
Detik detik berikutnya rasa sakit yang menyiksa itu muncul dengan cepat. Sang makhluk meliuk - liukkan tubuh menahan azab sengsara, tanpa berani mengeluarkan suara jeritan betapapun menyakitkan nya. Ia terus meliuk, menggeliat, terkadang merayap di tanah berumput sampai bulu-bulu pirang kecoklatan itu perlahan-lahan sirna tak berbekas dan wajah lancipnya kembali kewujud wajah seorang gadis cantik rupawan. Masih menahan sisa sisa rasa sakit ia buka bungkusannya tanpa membuang tempo. Dengan mantelnya, bagian-bagian tubuh yang kotor ia bersihkan. Untunglah darah korban yang melekat di tubuhnya tadi, secara ajaib ikut sirna bersama sirnanya wujudnya sebagai asu ajag.
Dengan mata tetap menyala merah kehijau hijauan serta bunyi geraman di moncongnya yang terbuka, makhluk itu dengan keterampilan seorang pengemudi memundurkan mobil ke jalan raya dan kemudian melarikannya ke arah Gunungkidul. Tiba di daerah tak berpenghuni dengan tikungan tikungan tajam serta jurang-jurang menganga di kiri kanan jalan, mobil menurunkan kecepatan lantas berhenti dengan bunyi menciut rem yang keras karena diinjak mendadak begitu moncong mobil sudah menghadap ke jurang gelap dan dalam di pinggir jalan. Bungkusan tadi beserta sebuah tas wanita tampak dilemparkan ke luar jendela mobil, jatuh di rerumputan.
Makhluk itu menyusul ke luar. Ia seret mayat supaya posisi duduknya tepat di belakang kemudi. Saluran bahan bakar ke tangki bensin dilonggarkan. Lalu dengan sebuah geraman lirih, makhluk itu mendorong bagian belakang mobil dengan kekuatan luar biasa.
Sebelum mobil dan pemiliknya itu-benar-benar jatuh tunggang langgang ke dalam jurang, sang makhluk telah berlari meninggalkan tempat itu dengan membawa serta tas dan bungkusan berisi pakaiannya. Ia berlari dan terus berlari, begitu cepat dan menakjubkan sehingga ketika terdengar bunyi ledakan keras disusul nyala api menjiLat udara berkabut, makhluk itu sudah menyelinap sejauh ratusan meter Jauhnya. Namun larinya tidak juga dihentikan, sampai akhirnya ia mendekati wilayah yang dihuni penduduk setempat. Ia turun ke bawah jalan, meraba raba dalam kegelapan.
Tanah lembab dan basah yang teraba olehnya, diraup lalu dimasukkan ke mulut, lalu dikunyah-kunyah bersama akar akar ilalang yang ikut tercabut. Terdengar suara batuk batuk tertahan. Batuk manusia, dari moncong asu ajagnya. Setelah bunyi batuknya hilang, ia duduk terengah-engah. Menunggu. Detik demi detik berlalu sementara di atasnya ia dengar langkah langkah berlari serta suara suara ribut menuju ke arah jilatan api di kejauhan.
Detik detik berikutnya rasa sakit yang menyiksa itu muncul dengan cepat. Sang makhluk meliuk - liukkan tubuh menahan azab sengsara, tanpa berani mengeluarkan suara jeritan betapapun menyakitkan nya. Ia terus meliuk, menggeliat, terkadang merayap di tanah berumput sampai bulu-bulu pirang kecoklatan itu perlahan-lahan sirna tak berbekas dan wajah lancipnya kembali kewujud wajah seorang gadis cantik rupawan. Masih menahan sisa sisa rasa sakit ia buka bungkusannya tanpa membuang tempo. Dengan mantelnya, bagian-bagian tubuh yang kotor ia bersihkan. Untunglah darah korban yang melekat di tubuhnya tadi, secara ajaib ikut sirna bersama sirnanya wujudnya sebagai asu ajag.
viensi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
