- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#204
gatra 5
Quote:
TERNYATA BUKIT kecil itu adalah sebuah area pekuburan yang cukup besar. Beberapa batang pohon kamboja yang tumbuh di sekitar tempat itu laksana mahkluk –mahkluk dari alam ghaib. Arya Gading menjadi berdebar-debar melihat keranda itu seakan-akan lenyap dari penglihatannya. Namun kemudian Arya Gading itu mengetahui bahwa orang-orang yang membawa keranda itu dengan cepat telah menyelimuti keranda itu dengan kain hitam.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Keinginannya untuk mengetahui tentang keranda itu pun menjadi semakin mendesaknya sehingga dengan demikian, maka Arya Gading pun telah mendekati dan masuk kedalam kuburan itu pula. Dengan landasan ilmu yang telah dimilikinya, maka Arya Gading berusaha untuk menjadi semakin dekat. Batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan yang tumbuh diatas bukit kecil itu, memberi kesempatan kepada Arya Gading untuk menjadi lebih dekat lagi.
Arya Gading terkejut ketika ia melihat apa yang terdapat didalam keranda itu. Ketika keranda itu dibuka, maka yang ada didalamnya adalah beberapa jenis barang-barang yang nampaknya berharga. Arya Gading sempat mendengar orang-orang itu tertawa. Mereka membongkar barang-barang yang terdapat didalam keranda itu sambil berbangga akan keberhasilan mereka.
“Jangan terlalu sering mempergunakan cara ini untuk membawa barang-barang rampokan itu” berkata salah seorang diantara mereka.
“Tidak ada cara lain yang lebih baik. Aku ragu-ragu untuk membawa barang-barang ini dengan pedati atau dengan mempergunakan kuda beban. Cara ini nampaknya lebih aman” sahut yang lain.
Tetapi orang yang pertama berkata pula, “Jika cara ini terlalu sering kita pergunakan, maka orang-orang akan menghubungkan setiap terjadi perampokan, tentu ada keranda yang terbang di malam hari.”
“Ya. Aku setuju” desis yang lain”tetapi sampai saat ini, orang-orang padukuhan itu telah menjadi ketakutan mendengar ceritera tentang keranda yang berjalan di malam hari.”
“Ceritera itu telah kita lengkapi dengan ceritera tentang ting hijau yang juga terbang di malam hari.” berkata yang lain lagi, “sehingga untuk beberapa lama kita akan dapat mempergunakan cara ini dengan aman.”
Yang terdengar adalah suara tertawa beberapa orang yang tertahan. Seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah. Jangan terlalu berbangga atas keberhasilan ini. Kita harus segera mengubur barang-barang ini untuk beberapa lama, sebelum kita kemudian menjualnya. Disaat orang sudah melupakan peristiwa perampokan ini, kita akan mengambilnya dan menjualnya.”
“Sebenarnya kita tidak perlu bersusah payah. Bukankah ada orang-orang yang bersedia menerima barang-barang hasil rampokan ini?”
“Tetapi harganya sangat murah” jawab yang lain.
Tetapi dalam pada itu, orang yang agaknya memimpin sekelompok perampok itu berkata, “Marilah. Kita simpan barang-barang itu didekat barang-barang yang sudah terdahulu kita simpan. Kita akan memperlihatkan barang barang itu kepada kakang Kebo Peteng.”
“Kakang Kebo Peteng?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ya. Kakang Kebo Peteng telah kembali dari pengembaraannya. Kau belum bertemu dengannya? “
“Aku sama sekali belum bertemu dengannya. Kau tahu sendiri beberapa hari ini aku pulang ke desa untuk sekedar menengok anak dan istri ku”
“Mudah-mudahan kakang Kebo Peteng puas dengan tugas-tugas kita disini.”
“Sekarang, kita akan menyimpan barang-barang kita.”
Arya Gading memperhatikan semua yang terjadi serta mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebar-debar. Arya Gading sendiri heran, bahwa batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul liar dan satu dua pohon raksasa yang tumbuh dibukit itu tidak membuat bulu-bulunya meremang. Dan Arya Gading juga mengetahui ternyata dibalik keranda terbang itu terdapat orang –orang yang telah bentrok dengannya siang tadi disebuah kedai. Ia masih sangat hafal dengan suara beberapa orang yang tengah berbincang itu. Apalagi mendengar seseorang menyebut nama Kebo Peteng. Seorang lelaki dengan ilmu yang langka dan aneh.
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Keinginannya untuk mengetahui tentang keranda itu pun menjadi semakin mendesaknya sehingga dengan demikian, maka Arya Gading pun telah mendekati dan masuk kedalam kuburan itu pula. Dengan landasan ilmu yang telah dimilikinya, maka Arya Gading berusaha untuk menjadi semakin dekat. Batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan yang tumbuh diatas bukit kecil itu, memberi kesempatan kepada Arya Gading untuk menjadi lebih dekat lagi.
Arya Gading terkejut ketika ia melihat apa yang terdapat didalam keranda itu. Ketika keranda itu dibuka, maka yang ada didalamnya adalah beberapa jenis barang-barang yang nampaknya berharga. Arya Gading sempat mendengar orang-orang itu tertawa. Mereka membongkar barang-barang yang terdapat didalam keranda itu sambil berbangga akan keberhasilan mereka.
“Jangan terlalu sering mempergunakan cara ini untuk membawa barang-barang rampokan itu” berkata salah seorang diantara mereka.
“Tidak ada cara lain yang lebih baik. Aku ragu-ragu untuk membawa barang-barang ini dengan pedati atau dengan mempergunakan kuda beban. Cara ini nampaknya lebih aman” sahut yang lain.
Tetapi orang yang pertama berkata pula, “Jika cara ini terlalu sering kita pergunakan, maka orang-orang akan menghubungkan setiap terjadi perampokan, tentu ada keranda yang terbang di malam hari.”
“Ya. Aku setuju” desis yang lain”tetapi sampai saat ini, orang-orang padukuhan itu telah menjadi ketakutan mendengar ceritera tentang keranda yang berjalan di malam hari.”
“Ceritera itu telah kita lengkapi dengan ceritera tentang ting hijau yang juga terbang di malam hari.” berkata yang lain lagi, “sehingga untuk beberapa lama kita akan dapat mempergunakan cara ini dengan aman.”
Yang terdengar adalah suara tertawa beberapa orang yang tertahan. Seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah. Jangan terlalu berbangga atas keberhasilan ini. Kita harus segera mengubur barang-barang ini untuk beberapa lama, sebelum kita kemudian menjualnya. Disaat orang sudah melupakan peristiwa perampokan ini, kita akan mengambilnya dan menjualnya.”
“Sebenarnya kita tidak perlu bersusah payah. Bukankah ada orang-orang yang bersedia menerima barang-barang hasil rampokan ini?”
“Tetapi harganya sangat murah” jawab yang lain.
Tetapi dalam pada itu, orang yang agaknya memimpin sekelompok perampok itu berkata, “Marilah. Kita simpan barang-barang itu didekat barang-barang yang sudah terdahulu kita simpan. Kita akan memperlihatkan barang barang itu kepada kakang Kebo Peteng.”
“Kakang Kebo Peteng?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ya. Kakang Kebo Peteng telah kembali dari pengembaraannya. Kau belum bertemu dengannya? “
“Aku sama sekali belum bertemu dengannya. Kau tahu sendiri beberapa hari ini aku pulang ke desa untuk sekedar menengok anak dan istri ku”
“Mudah-mudahan kakang Kebo Peteng puas dengan tugas-tugas kita disini.”
“Sekarang, kita akan menyimpan barang-barang kita.”
Arya Gading memperhatikan semua yang terjadi serta mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebar-debar. Arya Gading sendiri heran, bahwa batu-batu nisan, gerumbul-gerumbul liar dan satu dua pohon raksasa yang tumbuh dibukit itu tidak membuat bulu-bulunya meremang. Dan Arya Gading juga mengetahui ternyata dibalik keranda terbang itu terdapat orang –orang yang telah bentrok dengannya siang tadi disebuah kedai. Ia masih sangat hafal dengan suara beberapa orang yang tengah berbincang itu. Apalagi mendengar seseorang menyebut nama Kebo Peteng. Seorang lelaki dengan ilmu yang langka dan aneh.
Quote:
SEJENAK KEMUDIAN, orang-orang yang berpakaian serba hitam itu pun telah menggali sebuah lubang di pinggir kuburan itu, di sebelah batu hitam yang besar, yang sulit untuk digeser. Agaknya mereka menjadikan batu itu sebagai pertanda, dimana mereka menyimpan barang-barang hasil kejahatan mereka.
Beberapa saat lamanya, Arya Gading harus menunggu. Di kuburan itu nyamuknya ternyata lebih banyak lagi daripada di gubug tempat ia membaringkan tubuhnya. Tetapi Arya Gading tidak dapat menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya. Demikian orang-orang itu selesai menguburkan barang-barang hasil rampokannya yang dibungkus dengan kain, maka mereka telah berganti pakaian. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian-pakaian hitam.
Ditempatkannya keranda itu disebuah cungkup yang besar, yang agaknya memang tempat untuk menyimpan keranda. Arya Gading hampir tidak tahan menunggu orang-orang itu pergi. Tetapi ia tidak bergerak di tempatnya selagi orang-orang itu masih berkeliaran di kuburan itu.
Baru kemudian, setelah kuburan itu menjadi sepi, Arya Gading pun keluar dari persembunyiannya.
“Ternyata mereka adalah orang-orang yang cerdas. Mereka memanfaatkan ceritera-ceritera tentang hantu dan jadi-jadian untuk melakukan kejahatan” berkata Arya Gading.
Malam itu semalam suntuk Arya Gading tidak tidur. Dari kuburan Arya Gading telah menyusuri parit. Ketika ia mendengar suara air gemericik, maka Arya Gading pun mengetahui, bahwa ia berada tidak jauh dari sebuah sungai. Diam –diam Arya Gading merasa lega karena Doran tidak mengetahui perihal keranda terbang itu. Jika saja anak itu tahu tentu kericuhan akan terjadi di tengah pekuburan itu.
Menjelang fajar Arya Gading sudah berendam di air sungai untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gatal-gatal. Tetapi Arya Gading masih belum dapat mencuci pakaiannya, karena matahari masih agak lama terbit. Setelah mandi, maka Arya Gading untuk beberapa lama duduk di tepian. Justru setelah ia berendam, maka ia tidak merasakan dinginnya udara pagi. Langit yang cerah menjadi semakin terang. Cahaya matahari mulai menusuk lembaran-lembaran awan tipis yang menggantung dilangit.
Arya Gading sempat merenungi peristiwa yang dilihatnya semalam. Agaknya karena hantu keranda itulah, maka padukuhan-padukuhan menjadi sepi setelah gelap.
“Tetapi tentu ada orang yang pernah melihat keranda itu” berkata Arya Gading didalam hatinya, “jika tidak, mereka tentu tidak akan dicekam ketakutan.”
Arya Gading berniat untuk menjelaskan kepada orang-orang padukuhan, bahwa hantu keranda itu hanyalah akal orang-orang jahat agar mereka dapat leluasa bergerak di-malam hari.
“Tetapi kepada siapa aku harus mengatakannya?” bertanya Arya Gading kepada diri sendiri.
Pada saat itulah sesosok tubuh muncur dari gerumbul semak. Jika dilihat dari wajahnya nampak bersungut –sungut dan sedikit jengkel.
“ Gading, kau sengaja tidak membangunkan aku he ?”
“ Jangan marah Doran. Sudah beberapa kali aku membangunkan mu. Namun, kau masih saja terlelap. Mendengkur seperti kerbau. Maaf, aku meninggalkan mu di atas gubug itu. Marilah bersihkan diri mu di sungai ini. Airnya sangat segar. Kantuk mu akan segera sirna “
Tanpa banyak bicara lagi Doran segera membuka pakaian lalu menceburkan diri ke dalam sungai yang sangat jernih itu. Beberapa lama pemuda kurus itu masih saja berenang kesana –kemari. Sesekali tampak menyelam dan kemudian muncul lagi di sisi yang lain.
Beberapa saat lamanya, Arya Gading harus menunggu. Di kuburan itu nyamuknya ternyata lebih banyak lagi daripada di gubug tempat ia membaringkan tubuhnya. Tetapi Arya Gading tidak dapat menyelimuti tubuhnya dengan kain panjangnya. Demikian orang-orang itu selesai menguburkan barang-barang hasil rampokannya yang dibungkus dengan kain, maka mereka telah berganti pakaian. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian-pakaian hitam.
Ditempatkannya keranda itu disebuah cungkup yang besar, yang agaknya memang tempat untuk menyimpan keranda. Arya Gading hampir tidak tahan menunggu orang-orang itu pergi. Tetapi ia tidak bergerak di tempatnya selagi orang-orang itu masih berkeliaran di kuburan itu.
Baru kemudian, setelah kuburan itu menjadi sepi, Arya Gading pun keluar dari persembunyiannya.
“Ternyata mereka adalah orang-orang yang cerdas. Mereka memanfaatkan ceritera-ceritera tentang hantu dan jadi-jadian untuk melakukan kejahatan” berkata Arya Gading.
Malam itu semalam suntuk Arya Gading tidak tidur. Dari kuburan Arya Gading telah menyusuri parit. Ketika ia mendengar suara air gemericik, maka Arya Gading pun mengetahui, bahwa ia berada tidak jauh dari sebuah sungai. Diam –diam Arya Gading merasa lega karena Doran tidak mengetahui perihal keranda terbang itu. Jika saja anak itu tahu tentu kericuhan akan terjadi di tengah pekuburan itu.
Menjelang fajar Arya Gading sudah berendam di air sungai untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gatal-gatal. Tetapi Arya Gading masih belum dapat mencuci pakaiannya, karena matahari masih agak lama terbit. Setelah mandi, maka Arya Gading untuk beberapa lama duduk di tepian. Justru setelah ia berendam, maka ia tidak merasakan dinginnya udara pagi. Langit yang cerah menjadi semakin terang. Cahaya matahari mulai menusuk lembaran-lembaran awan tipis yang menggantung dilangit.
Arya Gading sempat merenungi peristiwa yang dilihatnya semalam. Agaknya karena hantu keranda itulah, maka padukuhan-padukuhan menjadi sepi setelah gelap.
“Tetapi tentu ada orang yang pernah melihat keranda itu” berkata Arya Gading didalam hatinya, “jika tidak, mereka tentu tidak akan dicekam ketakutan.”
Arya Gading berniat untuk menjelaskan kepada orang-orang padukuhan, bahwa hantu keranda itu hanyalah akal orang-orang jahat agar mereka dapat leluasa bergerak di-malam hari.
“Tetapi kepada siapa aku harus mengatakannya?” bertanya Arya Gading kepada diri sendiri.
Pada saat itulah sesosok tubuh muncur dari gerumbul semak. Jika dilihat dari wajahnya nampak bersungut –sungut dan sedikit jengkel.
“ Gading, kau sengaja tidak membangunkan aku he ?”
“ Jangan marah Doran. Sudah beberapa kali aku membangunkan mu. Namun, kau masih saja terlelap. Mendengkur seperti kerbau. Maaf, aku meninggalkan mu di atas gubug itu. Marilah bersihkan diri mu di sungai ini. Airnya sangat segar. Kantuk mu akan segera sirna “
Tanpa banyak bicara lagi Doran segera membuka pakaian lalu menceburkan diri ke dalam sungai yang sangat jernih itu. Beberapa lama pemuda kurus itu masih saja berenang kesana –kemari. Sesekali tampak menyelam dan kemudian muncul lagi di sisi yang lain.
Quote:
SAMBIL BERJALAN selangkah-selangkah diikuti Doran di sampingnya, Arya Gading sempat merenungi peristiwa yang dilihatnya semalam. Arya Gading pun kemudian sudah memanjat tanggul dan melangkah menuju ke padukuhan terdekat. Tetapi hari masih terlalu pagi. Karena itu, maka Arya Gading pun tidak tergesa-gesa menemui seseorang. Bahkan Arya Gading sempat mengikuti beberapa orang perempuan yang berjalan beriringan sambil menggendong bakul. Beberapa orang membawa bakul berisi hasil kebun. Sedangkan yang lain membawa makanan dan bahkan seorang diantara mereka membawa nasi tumpang digendongannya.
“ Gading kita mau kemana? “
“ Kita ikuti serombongan orang –orang itu. Mereka tentu akan pergi ke pasar.” berkata Arya Gading.
Ternyata iring-iringan itu telah menarik perhatiannya. Ketika ia melihat sayuran rebus yang digelar diatas tambir ditutup dengan daun pisang, maka tiba-tiba saja ia merasa lapar. Apalagi semalaman Arya Gading hampir tidak tidur sama sekali. Karena itu, maka Arya Gading pun telah pergi ke pasar pula.
Di pasar Arya Gading telah membeli nasi tumpang yang jarang sekali ditemuinya di rumahnya. Ia tidak memikirkan pula dimana ia duduk dan makan nasi tumpang yang masih hangat itu. Sekali-sekali Arya Gading berdesis karena bubuk kedelenya yang terlalu pedas serasa menyengat lidahnya. Doran pun tampak sibuk mengunyang daging sapi bacem.
Namun dalam pada itu, sambil makan nasi tumpang dan duduk dibelakang penjualnya di dekat pintu gerbang pasar, Arya Gading mendengar beberapa orang yang berceritera tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari.
“Suamiku melihat sendiri malam tadi” berkata seorang penjual kelapa dengan mantap, “bersama tiga orang, suamiku memang berusaha untuk dapat melihat langsung keranda yang berjalan sendiri itu. Malam tadi, malam Jumat Kliwon, bersama tiga orang, suamiku sengaja menunggu disudut padukuhan”
“Ternyata sedikit lewat tengah malam, dari kejauhan mereka benar-benar melihat keranda itu berjalan sendiri, seolah-olah terbang meluncur dengan cepat. Suamiku dan ketiga kawannya menjadi sangat ketakutan. Beberapa puluh langkah dari padukuhan itu, keranda itu berhenti sejenak. Seakan-akan berpaling memandangi keempat orang yang telah mengintip itu. Seorang kawan suamiku hampir menjadi pingsan. Untunglah keranda itu berjalan lagi menuju ke kuburan di bulak itu. Sebelum masuk pintu gerbang kuburan, keranda itu tiba-tiba telah lenyap.”
“Apa yang dilakukan suamimu kemudian?” bertanya seorang penjual sirih.
“Tidak apa-apa. Sebelumnya keempat orang itu bertekad untuk melihat dari dekat jika benar-benar ada keranda yang terbang di malam hari. Tetapi ketika mereka benar-benar melihat langsung, maka jantung mereka menjadi kuncup sebesar biji mentimun.”
“Siapa yang tidak menjadi ketakutan melihat keranda terbang itu?” desis penjual nasi tumpang itu.
“Pagi ini suamiku tidak pergi ke sawah. Badannya merasa tidak enak. Dahinya panas dan jantungnya serasa berdetak lebih cepat.”
“O” penjual nasi tumpang itu menjadi cemas, ”apakah suamimu tidak pergi ke rumah seorang tua yang dapat menyingkirkan kutukan keranda terbang itu? Mungkin karanda itu mengetahui bahwa suamimu dan kawan-kawannya sengaja mengintipnya.”
Penjual kelapa itu termangu-mangu sejenak. Katanya, “Belum. Tetapi siang nanti aku akan mengajaknya pergi ke rumah Ki Said yang terkenal itu. Suamiku mengenalnya dengan baik, karena Ki Said minta suamiku menggarap sawahnya sampai lebih dari tiga tahun. Letak sawah Ki Said berdekatan dengan sawah suamiku, sehingga suamiku dapat menggarapnya dengan baik dan memuaskan bagi Ki Said.”
“Tetapi jangan sampai terlambat” desis penjual sirih.
Penjual kelapa itu mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dua orang datang untuk memilih beberapa buah kelapa yang sudah tua. Arya Gading mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Arya Gading tidak dapat berbicara tentang keranda terbang itu dengan perempuan-perempuan yang tidak melihat sendiri semalam. Dan nampaknya Doran tidak ambil pusing dnegan cerita keranda terbang. Anak lelaki itu masih dengan semangatnya menyuapkan makanan di mulutnya.
“ Gading kita mau kemana? “
“ Kita ikuti serombongan orang –orang itu. Mereka tentu akan pergi ke pasar.” berkata Arya Gading.
Ternyata iring-iringan itu telah menarik perhatiannya. Ketika ia melihat sayuran rebus yang digelar diatas tambir ditutup dengan daun pisang, maka tiba-tiba saja ia merasa lapar. Apalagi semalaman Arya Gading hampir tidak tidur sama sekali. Karena itu, maka Arya Gading pun telah pergi ke pasar pula.
Di pasar Arya Gading telah membeli nasi tumpang yang jarang sekali ditemuinya di rumahnya. Ia tidak memikirkan pula dimana ia duduk dan makan nasi tumpang yang masih hangat itu. Sekali-sekali Arya Gading berdesis karena bubuk kedelenya yang terlalu pedas serasa menyengat lidahnya. Doran pun tampak sibuk mengunyang daging sapi bacem.
Namun dalam pada itu, sambil makan nasi tumpang dan duduk dibelakang penjualnya di dekat pintu gerbang pasar, Arya Gading mendengar beberapa orang yang berceritera tentang keranda yang berjalan sendiri di malam hari.
“Suamiku melihat sendiri malam tadi” berkata seorang penjual kelapa dengan mantap, “bersama tiga orang, suamiku memang berusaha untuk dapat melihat langsung keranda yang berjalan sendiri itu. Malam tadi, malam Jumat Kliwon, bersama tiga orang, suamiku sengaja menunggu disudut padukuhan”
“Ternyata sedikit lewat tengah malam, dari kejauhan mereka benar-benar melihat keranda itu berjalan sendiri, seolah-olah terbang meluncur dengan cepat. Suamiku dan ketiga kawannya menjadi sangat ketakutan. Beberapa puluh langkah dari padukuhan itu, keranda itu berhenti sejenak. Seakan-akan berpaling memandangi keempat orang yang telah mengintip itu. Seorang kawan suamiku hampir menjadi pingsan. Untunglah keranda itu berjalan lagi menuju ke kuburan di bulak itu. Sebelum masuk pintu gerbang kuburan, keranda itu tiba-tiba telah lenyap.”
“Apa yang dilakukan suamimu kemudian?” bertanya seorang penjual sirih.
“Tidak apa-apa. Sebelumnya keempat orang itu bertekad untuk melihat dari dekat jika benar-benar ada keranda yang terbang di malam hari. Tetapi ketika mereka benar-benar melihat langsung, maka jantung mereka menjadi kuncup sebesar biji mentimun.”
“Siapa yang tidak menjadi ketakutan melihat keranda terbang itu?” desis penjual nasi tumpang itu.
“Pagi ini suamiku tidak pergi ke sawah. Badannya merasa tidak enak. Dahinya panas dan jantungnya serasa berdetak lebih cepat.”
“O” penjual nasi tumpang itu menjadi cemas, ”apakah suamimu tidak pergi ke rumah seorang tua yang dapat menyingkirkan kutukan keranda terbang itu? Mungkin karanda itu mengetahui bahwa suamimu dan kawan-kawannya sengaja mengintipnya.”
Penjual kelapa itu termangu-mangu sejenak. Katanya, “Belum. Tetapi siang nanti aku akan mengajaknya pergi ke rumah Ki Said yang terkenal itu. Suamiku mengenalnya dengan baik, karena Ki Said minta suamiku menggarap sawahnya sampai lebih dari tiga tahun. Letak sawah Ki Said berdekatan dengan sawah suamiku, sehingga suamiku dapat menggarapnya dengan baik dan memuaskan bagi Ki Said.”
“Tetapi jangan sampai terlambat” desis penjual sirih.
Penjual kelapa itu mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dua orang datang untuk memilih beberapa buah kelapa yang sudah tua. Arya Gading mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Arya Gading tidak dapat berbicara tentang keranda terbang itu dengan perempuan-perempuan yang tidak melihat sendiri semalam. Dan nampaknya Doran tidak ambil pusing dnegan cerita keranda terbang. Anak lelaki itu masih dengan semangatnya menyuapkan makanan di mulutnya.
Diubah oleh breaking182 19-04-2022 03:14
donif dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
Tutup