- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#197
gatra 3
Quote:
ALANGKAH TERPERANJATNYA Doran pada saat melihat lawannya itu tiba –tiba dapat bangkit dan seperti tidak merasakan apa –apa. Tubuhnya terlihat masih bugar. Sementara itu, orang yang bernama Kebo Peteng telah berdiri tegak kembali sambil mengawasi Arya Gading yang masih saja berada di tempatnya.
“Anak muda,” berkata Kebo Peteng itu, “ternyata kau telah membuat kami menjadi benar-benar marah. Kau sudah menyakiti kawan –kawan ku. Mereka memang terlalu bodoh karena mereka menganggap kau terlalu lemah. Namun ternyata mereka telah terjebak oleh kelengahan mereka sendiri, sehingga mereka mengalami kesulitan.”
“Sekarang kau mau apa?” bertanya Doran.
Wajah Kebo Peteng itu menjadi semburat merah. Kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya seakan-akan telah meluap sampai ke wajahnya itu.
“Anak muda,” berkata orang itu, “aku masih berusaha untuk menyabarkan diri. Meskipun kau telah menyakiti orang –orang ku, tetapi aku beri kesempatan kau pergi.”
“Pergi atau tidak pergi, tergantung kepada kehendakku sendiri,” jawab Doran. “Kau sama sekali tidak berwenang untuk mengatur aku. Aku bukan anakmu, bukan adikmu dan bukan pula budakmu.”
“Anak setan,” geram orang itu. “Kau benar-benar keras kepala.”
“Kau yang keras kepala. Kau merasa berkuasa disini, sehingga jika kau memasuki kedai itu, semua orang berlari-larian pergi meskipun mereka sebenarnya belum selesai. Apakah kau sebenarnya mempunyai wewenang berbuat demikian?” bertanya Doran
“Bukan salahku,” geram orang itu. “Mereka telah pergi dengan sendirinya.”
“Tidak. Kau telah mengusir mereka sebagaimana kau lakukan atas kami. Kau tidak dapat ingkar, karena aku sendiri mengalami,” jawab Doran
“Jika demikian, apa boleh buat. Aku harus benar-benar menghukummu dan kawanmu itu,” geram Kebo Peteng.
Tetapi Doran tidak mau kalah garang dari lawannya yang berwajah kasar itu. Karena itu, maka iapun menyahut, “Akulah yang wajib menghukummu. Bukan kau menghukum kami.”
Kebo Peteng itu benar-benar kehabisan kesabaran. Tetapi ia sudah melihat apa yang dapat dilakukan oleh anak muda itu, sehingga karena itu, maka ia pun harus berhati-hati. Ia tidak dapat dengan serta-merta bertindak sebagaimana sering dilakukannya atas orang-orang yang membuatnya marah karena kesalahan-kesalahan kecil. Seorang yang terlambat keluar dari kedai di saat ia masuk, agaknya sudah cukup alasan baginya untuk memukuli orang itu sampai pingsan.
Tetapi terhadap anak-anak muda itu ia harus berhati-hati. Ketika orang itu bersiap, maka Doran pun telah bersiap pula. Matahari yang menjadi semakin rendah membuat langit menjadi semakin merah. Sekelompok burung bangau nampak terbang dari selatan menuju ke utara. Doran pun menyadari, bahwa lawannya itu menjadi sangat berhati-hati. Kecuali sikapnya, maka pandangan matanya menunjukkan kepadanya, bahwa orang itu memiliki kelebihan dari kawan-kawannya.
Doran memang menjadi berdebar-debar. Ada kecemasan di hatinya. Alasannya orang yang bernama Kebo Peteng itu jurus –jurusnya memang tidak begitu berbahaya. Kelincahannya juga seperti orang yang baru belajar ilmu kanuragan. Akan tetapi, orang ini seperti tidak merasakan sakit ataupun terluka meski telah ia pukul atau tendang dengan sekuat tenaga. Beberapa saat Doran menunggu. Tetapi karena orang itu tidak juga segera menyerangnya, maka Doran lah vang tidak sabar lagi. Ialah yang kemudian mulai menyerang.
Serangan Doran memang bukan serangan vang menentukan. Karena itu, maka dengan bergeser selangkah, Kebo Peteng dengan mudah mengelakkannya. Namun adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Doran telah melenting menyambar kening. Orang itu terkejut. Dengan cepat pula ia harus memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan anak muda itu. Tetapi ternyata bahwa serangan yang sebenarnya adalah menyusul kemudian. Kaki Doran lah yang berputar menyambar dengan derasnya.
Tidak ada kesempatan bagi Kebo Peteng untuk menghindar. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain daripada menangkis serangan itu. Karena itu, maka segera terjadi benturan demikian pertempuran itu dimulai. Ternyata kedua orang itu telah terkejut. Doran merasa seakan-akan kakinya telah membentur batu. Karena itu, dengan serta-merta ia telah menarik kakinya yang meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Beberapa saat ia harus berusaha mengatasi rasa sakit pada kakinya itu. Kuda –kudanya saat berpijak di tanah pun sedikit goyah karena nyeri yang sangat menggigit.
Namun dalam pada itu, Kebo Peteng itu pun telah terdorong surut. Kaki Doran rasa-rasanya telah menghentakkan kekuatan yang luar biasa, sehingga Kebo Peteng itu tidak mampu tetap tegak di tempatnya. Bahkan ia pun harus berusaha untuk mengatasi keseimbangannya yang goyah. Ketika orang itu berhasil berdiri dengan mantap, maka Doran pun telah berdiri tegak pula. Keduanya ternyata telah dapat mengatasi kesulitan di dalam diri mereka masing-masing.
“Anak muda,” berkata Kebo Peteng itu, “ternyata kau telah membuat kami menjadi benar-benar marah. Kau sudah menyakiti kawan –kawan ku. Mereka memang terlalu bodoh karena mereka menganggap kau terlalu lemah. Namun ternyata mereka telah terjebak oleh kelengahan mereka sendiri, sehingga mereka mengalami kesulitan.”
“Sekarang kau mau apa?” bertanya Doran.
Wajah Kebo Peteng itu menjadi semburat merah. Kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya seakan-akan telah meluap sampai ke wajahnya itu.
“Anak muda,” berkata orang itu, “aku masih berusaha untuk menyabarkan diri. Meskipun kau telah menyakiti orang –orang ku, tetapi aku beri kesempatan kau pergi.”
“Pergi atau tidak pergi, tergantung kepada kehendakku sendiri,” jawab Doran. “Kau sama sekali tidak berwenang untuk mengatur aku. Aku bukan anakmu, bukan adikmu dan bukan pula budakmu.”
“Anak setan,” geram orang itu. “Kau benar-benar keras kepala.”
“Kau yang keras kepala. Kau merasa berkuasa disini, sehingga jika kau memasuki kedai itu, semua orang berlari-larian pergi meskipun mereka sebenarnya belum selesai. Apakah kau sebenarnya mempunyai wewenang berbuat demikian?” bertanya Doran
“Bukan salahku,” geram orang itu. “Mereka telah pergi dengan sendirinya.”
“Tidak. Kau telah mengusir mereka sebagaimana kau lakukan atas kami. Kau tidak dapat ingkar, karena aku sendiri mengalami,” jawab Doran
“Jika demikian, apa boleh buat. Aku harus benar-benar menghukummu dan kawanmu itu,” geram Kebo Peteng.
Tetapi Doran tidak mau kalah garang dari lawannya yang berwajah kasar itu. Karena itu, maka iapun menyahut, “Akulah yang wajib menghukummu. Bukan kau menghukum kami.”
Kebo Peteng itu benar-benar kehabisan kesabaran. Tetapi ia sudah melihat apa yang dapat dilakukan oleh anak muda itu, sehingga karena itu, maka ia pun harus berhati-hati. Ia tidak dapat dengan serta-merta bertindak sebagaimana sering dilakukannya atas orang-orang yang membuatnya marah karena kesalahan-kesalahan kecil. Seorang yang terlambat keluar dari kedai di saat ia masuk, agaknya sudah cukup alasan baginya untuk memukuli orang itu sampai pingsan.
Tetapi terhadap anak-anak muda itu ia harus berhati-hati. Ketika orang itu bersiap, maka Doran pun telah bersiap pula. Matahari yang menjadi semakin rendah membuat langit menjadi semakin merah. Sekelompok burung bangau nampak terbang dari selatan menuju ke utara. Doran pun menyadari, bahwa lawannya itu menjadi sangat berhati-hati. Kecuali sikapnya, maka pandangan matanya menunjukkan kepadanya, bahwa orang itu memiliki kelebihan dari kawan-kawannya.
Doran memang menjadi berdebar-debar. Ada kecemasan di hatinya. Alasannya orang yang bernama Kebo Peteng itu jurus –jurusnya memang tidak begitu berbahaya. Kelincahannya juga seperti orang yang baru belajar ilmu kanuragan. Akan tetapi, orang ini seperti tidak merasakan sakit ataupun terluka meski telah ia pukul atau tendang dengan sekuat tenaga. Beberapa saat Doran menunggu. Tetapi karena orang itu tidak juga segera menyerangnya, maka Doran lah vang tidak sabar lagi. Ialah yang kemudian mulai menyerang.
Serangan Doran memang bukan serangan vang menentukan. Karena itu, maka dengan bergeser selangkah, Kebo Peteng dengan mudah mengelakkannya. Namun adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Doran telah melenting menyambar kening. Orang itu terkejut. Dengan cepat pula ia harus memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan anak muda itu. Tetapi ternyata bahwa serangan yang sebenarnya adalah menyusul kemudian. Kaki Doran lah yang berputar menyambar dengan derasnya.
Tidak ada kesempatan bagi Kebo Peteng untuk menghindar. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain daripada menangkis serangan itu. Karena itu, maka segera terjadi benturan demikian pertempuran itu dimulai. Ternyata kedua orang itu telah terkejut. Doran merasa seakan-akan kakinya telah membentur batu. Karena itu, dengan serta-merta ia telah menarik kakinya yang meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Beberapa saat ia harus berusaha mengatasi rasa sakit pada kakinya itu. Kuda –kudanya saat berpijak di tanah pun sedikit goyah karena nyeri yang sangat menggigit.
Namun dalam pada itu, Kebo Peteng itu pun telah terdorong surut. Kaki Doran rasa-rasanya telah menghentakkan kekuatan yang luar biasa, sehingga Kebo Peteng itu tidak mampu tetap tegak di tempatnya. Bahkan ia pun harus berusaha untuk mengatasi keseimbangannya yang goyah. Ketika orang itu berhasil berdiri dengan mantap, maka Doran pun telah berdiri tegak pula. Keduanya ternyata telah dapat mengatasi kesulitan di dalam diri mereka masing-masing.
Quote:
BEBERAPA SAAT kemudian mereka pun telah bersikap pula. Beberapa langkah mereka bergeser. Namun nampak pada keduanya, bahwa mereka masih tetap berhati-hati. Kebo Peteng yang berwajah kasar dan memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak itu, terpaksa harus menahan diri. Anak muda itu adalah orang yang sangat berbahaya baginya. Sejenak kemudian, maka hampir berbareng keduanya telah melangkah mendekat. Bahkan keduanya telah mulai mengayunkan serangan-serangan meskipun belum terlalu berbahaya.
Namun kemudian menjadi semakin cepat dan semakin keras. Serangan-serangan yang dilontarkan oleh kedua pihak tidak saja menjadi semakin kuat, tetapi mulai mengarah ke sasaran-sasaran yang berbahaya. Keduanya mulai membuat perhitungan-perhitungan yang cermat serta mulai menuangkan kemampuannya dengan lembaran ilmu yang semakin meningkat.
Tetapi Doran tiba –tiba merasa ada yang janggal pada lawannya itu. Ia yang tadi di atas angin tiba –tiba Doran lah yang telah ditekan oleh lawannya sehingga ia terpaksa beberapa kali harus berloncatan surut. Kegelisahan semakin mencengkam jantung Doran. Semakin rendah matahari, maka ia pun menjadi semakin gelisah.
Sampai saatnya senja turun, Doran masih saja terdesak hebat. Bahkan dalam pertempuran yang menjadi semakin cepat, maka sekali-sekali Doran telah terkena pukulan bahkan tendangan dari Kebo Peteng. Mula-mula tangan itu hanya menyentuh-nya. Namun kemudian menjadi semakin keras dan ternyata sentuhan-sentuhan itu akhirnya telah menyakitinya. Ketika Kebo Peteng sempat menghantam kening Doran dengan seluruh kekuatannya, anak muda itu sampai terdorong dua langkah surut.
Doran memang harus bekerja lebih keras. Ia tidak berani membentur serangan lawan begitu saja. Sentuhan besi hitam di genggaman tangan Kebo Peteng itu akan dapat mengoyakkan kulit dagingnya. Karena itu, maka Doran harus lebih banyak menghindari serangan-serangan lawan atau berusaha untuk menangkis pada pergelangan tangannya. Namun di samping itu Doran justru menjadi semakin sering terkena pukulan lawannya. Arya Gading yang menyaksikan pertempuran memang menjadi bertambah tegang. Kawannya itu mulai terlihat keteteran.
Tiba-tiba saja ia berteriak, “Kau jangan menyesal anak muda karena saat ini aku akan mulai menyerang mu dengan bersungguh –sungguh.”
“Anak itu akan segera kehabisan nafas,” geram orang- orang yang berada di sekitar arena pertempuran.
Sebenarnyalah, untuk melawan Kebo Peteng, Doran memang mengalami kesulitan. Sejenak kemudian, Doran pun benar-benar mulai terdesak karena kemampuan Kebo Peteng itu tiba –tiba seperti meningkat dengan cepat. Gerakan Kebo Peteng sekarang memiliki kecepatan gerak luar biasa. Pada saat ujung besi Kebo Peteng telah menyentuh lengan Doran sehingga menggoreskan luka meski tidak begitu dalam, meskipun ia telah berusaha menangkisnya dengan membentur pergelangan tangan itu.
Doran serta-merta meloncat menjauhi lawannya untuk mengambil jarak. Ia merasakan pedih yang menyengat. Tetapi Kebo Peteng agaknya tidak mau melepaskannya. Ia bersiap untuk memburunya, ketika tiba-tiba saja mereka tertegun karena tawa di luar arena.
“Bagus,” Arya Gading lah yang ternyata telah tertawa, “ternyata kau memiliki kanuragan dan kekuatan yang sangat dahsyat ”
Arya Gading melangkah pula memasuki arena. Sebenarnya ia cenderung untuk menghindari perkelahian. Tetapi Doran agaknya bersikap lain, sementara Arya Gading tidak akan dapat membiarkan Doran mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga, maka Arya Gading terpaksa melibatkan diri pula.
“Ki Sanak,” berkata Arya Gading, “nampaknya pertempuran ini sudah harus diakhiri. Nampaknya, kawanku ini harus mengakui keunggulan dari kisanak Kebo Peteng. Kami berdua mohon diri “
“ Apa maksudmu Gading? Kita bukan kumpulan orang –orang pengecut. Mari selesaikan pertempuran ini sampai salah satu dari kita terkapar berkalang tanah“
“Cukup,” bentak Kebo Peteng. “Aku akan membunuhmu. Kesempatan yang telah kuberikan tadi sudah tidak berlaku lagi”
“ Baiklah kalau begitu marilah kita lanjutkan bermain kucing dan tikus yang ternyata sangat menarik ini. Meskipun demikian, segala sesuatunya terserah kepada Ki Sanak. Jika Ki Sanak merasa perlu melibatkan kawan-kawan, kami tidak berkeberatan. ,” berkata Arya Gading kemudian, “kami sudah siap.”
“Jika kalian ingin ikut bermain semuanya, kami tidak berkeberatan,” berkata Doran. Lalu, “Dengan demikian kami dan orang-orang di lingkungan ini akan dapat menilai seberapa besar nama kalian dibandingkan dengan harga diri kalian.”
Arya Gading dan Doran pun telah bersiap sepenuhnya. Sementara itu Arya Gading sempat berbisik, “Kau telah menyeret aku dalam persoalan yang tidak ada artinya seperti ini.”
Doran mengerutkan dahinya. Iapun kemudian menjawab dengan suara yang lambat hampir berdesis, “Siapa bilang tidak ada artinya? Aku merasa mendapatkan petunjuk yang sangat berharga tentang pengembangan ilmuku.”
“O,” Arya Gading mengangguk-angguk, “jika itu yang kau maksud, aku sependapat. Tetapi apakah cukup berharga dibandingkan dengan kemungkinan yang bakal terjadi?”
Doran termangu-mangu. Namun akhirnya ia bergumam, “Sudah terlanjur.”
Arya Gading tidak bertanya lagi. Ia pun harus bersiap sepenuhnya menghadapi lawannya itu. Ternyata bahwa Arya Gading harus berhadapan dengan Kebo Peteng. Sementara Doran menghadapi sekumpulan orang yang disebut anak buah dari orang yang bernama Kebo Peteng itu. Demikianlah, sejenak kemudian kedua pemuda itu telah terlibat dalam pertempuran.
Namun kemudian menjadi semakin cepat dan semakin keras. Serangan-serangan yang dilontarkan oleh kedua pihak tidak saja menjadi semakin kuat, tetapi mulai mengarah ke sasaran-sasaran yang berbahaya. Keduanya mulai membuat perhitungan-perhitungan yang cermat serta mulai menuangkan kemampuannya dengan lembaran ilmu yang semakin meningkat.
Tetapi Doran tiba –tiba merasa ada yang janggal pada lawannya itu. Ia yang tadi di atas angin tiba –tiba Doran lah yang telah ditekan oleh lawannya sehingga ia terpaksa beberapa kali harus berloncatan surut. Kegelisahan semakin mencengkam jantung Doran. Semakin rendah matahari, maka ia pun menjadi semakin gelisah.
Sampai saatnya senja turun, Doran masih saja terdesak hebat. Bahkan dalam pertempuran yang menjadi semakin cepat, maka sekali-sekali Doran telah terkena pukulan bahkan tendangan dari Kebo Peteng. Mula-mula tangan itu hanya menyentuh-nya. Namun kemudian menjadi semakin keras dan ternyata sentuhan-sentuhan itu akhirnya telah menyakitinya. Ketika Kebo Peteng sempat menghantam kening Doran dengan seluruh kekuatannya, anak muda itu sampai terdorong dua langkah surut.
Doran memang harus bekerja lebih keras. Ia tidak berani membentur serangan lawan begitu saja. Sentuhan besi hitam di genggaman tangan Kebo Peteng itu akan dapat mengoyakkan kulit dagingnya. Karena itu, maka Doran harus lebih banyak menghindari serangan-serangan lawan atau berusaha untuk menangkis pada pergelangan tangannya. Namun di samping itu Doran justru menjadi semakin sering terkena pukulan lawannya. Arya Gading yang menyaksikan pertempuran memang menjadi bertambah tegang. Kawannya itu mulai terlihat keteteran.
Tiba-tiba saja ia berteriak, “Kau jangan menyesal anak muda karena saat ini aku akan mulai menyerang mu dengan bersungguh –sungguh.”
“Anak itu akan segera kehabisan nafas,” geram orang- orang yang berada di sekitar arena pertempuran.
Sebenarnyalah, untuk melawan Kebo Peteng, Doran memang mengalami kesulitan. Sejenak kemudian, Doran pun benar-benar mulai terdesak karena kemampuan Kebo Peteng itu tiba –tiba seperti meningkat dengan cepat. Gerakan Kebo Peteng sekarang memiliki kecepatan gerak luar biasa. Pada saat ujung besi Kebo Peteng telah menyentuh lengan Doran sehingga menggoreskan luka meski tidak begitu dalam, meskipun ia telah berusaha menangkisnya dengan membentur pergelangan tangan itu.
Doran serta-merta meloncat menjauhi lawannya untuk mengambil jarak. Ia merasakan pedih yang menyengat. Tetapi Kebo Peteng agaknya tidak mau melepaskannya. Ia bersiap untuk memburunya, ketika tiba-tiba saja mereka tertegun karena tawa di luar arena.
“Bagus,” Arya Gading lah yang ternyata telah tertawa, “ternyata kau memiliki kanuragan dan kekuatan yang sangat dahsyat ”
Arya Gading melangkah pula memasuki arena. Sebenarnya ia cenderung untuk menghindari perkelahian. Tetapi Doran agaknya bersikap lain, sementara Arya Gading tidak akan dapat membiarkan Doran mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga, maka Arya Gading terpaksa melibatkan diri pula.
“Ki Sanak,” berkata Arya Gading, “nampaknya pertempuran ini sudah harus diakhiri. Nampaknya, kawanku ini harus mengakui keunggulan dari kisanak Kebo Peteng. Kami berdua mohon diri “
“ Apa maksudmu Gading? Kita bukan kumpulan orang –orang pengecut. Mari selesaikan pertempuran ini sampai salah satu dari kita terkapar berkalang tanah“
“Cukup,” bentak Kebo Peteng. “Aku akan membunuhmu. Kesempatan yang telah kuberikan tadi sudah tidak berlaku lagi”
“ Baiklah kalau begitu marilah kita lanjutkan bermain kucing dan tikus yang ternyata sangat menarik ini. Meskipun demikian, segala sesuatunya terserah kepada Ki Sanak. Jika Ki Sanak merasa perlu melibatkan kawan-kawan, kami tidak berkeberatan. ,” berkata Arya Gading kemudian, “kami sudah siap.”
“Jika kalian ingin ikut bermain semuanya, kami tidak berkeberatan,” berkata Doran. Lalu, “Dengan demikian kami dan orang-orang di lingkungan ini akan dapat menilai seberapa besar nama kalian dibandingkan dengan harga diri kalian.”
Arya Gading dan Doran pun telah bersiap sepenuhnya. Sementara itu Arya Gading sempat berbisik, “Kau telah menyeret aku dalam persoalan yang tidak ada artinya seperti ini.”
Doran mengerutkan dahinya. Iapun kemudian menjawab dengan suara yang lambat hampir berdesis, “Siapa bilang tidak ada artinya? Aku merasa mendapatkan petunjuk yang sangat berharga tentang pengembangan ilmuku.”
“O,” Arya Gading mengangguk-angguk, “jika itu yang kau maksud, aku sependapat. Tetapi apakah cukup berharga dibandingkan dengan kemungkinan yang bakal terjadi?”
Doran termangu-mangu. Namun akhirnya ia bergumam, “Sudah terlanjur.”
Arya Gading tidak bertanya lagi. Ia pun harus bersiap sepenuhnya menghadapi lawannya itu. Ternyata bahwa Arya Gading harus berhadapan dengan Kebo Peteng. Sementara Doran menghadapi sekumpulan orang yang disebut anak buah dari orang yang bernama Kebo Peteng itu. Demikianlah, sejenak kemudian kedua pemuda itu telah terlibat dalam pertempuran.
Quote:
SESAAT ARYA GADING memang agak canggung. Karena itu, beberapa kali ia justru berloncatan mengambil jarak. Kebo Peteng menjadi semakin yakin, bahwa dalam waktu dekat ia akan segera menyelesaikan lawannya, justru karena orang itu sekilas sempat melihat bagaimana lawannya berloncatan surut. Lawan Arya Gading itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka pada benturan-benturan pertama, Arya Gading sengaja langusng meningkatkan ilmu tertinggi yang telah dipelajarinya.
Namun keuntungan Arya Gading adalah bahwa ia telah menyaksikan Doran bertempur. Dari pengamatan itu, maka Arya Gading telah mendapat pengalaman pula yang dapat membantunya melawan Kebo Peteng. Perlahan-lahan Arya Gading mulai menyesuaikan dirinya. Ia mulai mantap mengetrapkan jurus –jurus yang sudah dipelajarinya dan bahkan ia pun mulai mampu mengambil sikap menghadapi jurus –jurus yang baru ditemuinya saat itu, yang dipergunakan oleh lawannya yang jauh lebih berpengalaman.
Untunglah bahwa Arya Gading pun telah menempa diri dengan latihan-latihan yang berat dan keras. Bahkan meskipun Doran adalah kakak seperguruan, Arya Gading memang memiliki kelebihan dari Doran. Meskipun umur keduanya hanya terpaut setahun, tetapi cara berpikir Arya Gading memang lebih dewasa dari Doran. Apalagi Arya Gading itu telah terpisah dari kedua orang tuanya sejak kecil, sementara Doran meskipun berguru pada guru yang sama dengan Arya Gading, tetapi ia berada di dalam sebuah kehidupan yang mapan.
Meskipun gurunya tidak membedakan antara kedua muridnya, namun perkembangan yang wajar telah terjadi. Arya Gading yang harus lebih prihatin dari kakak seperguruannya itu tumbuh menjadi lebih dewasa dari Doran. Demikian pula penguasaan ilmu mereka. Meskipun pada dasarnya mereka memiliki ilmu yang sama, karena dasar ilmu gurunya telah tertuang seluruhnya, namun Arya Gading agak lebih dewasa mengendapkan ilmu itu di dalam dirinya.
Karena itu, maka menghadapi Kebo Peteng itu, Arya Gading segera berhasil mengimbanginya. Pertempuran di antara merekapun segera meningkat menjadi semakin sengit. Keduanya berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka dan mengatasi lawannya.
Berbekal pengalaman yang panjang, maka Kebo Peteng segera mengetahui bahwa lawannya, anak muda itu adalah seorang yang baru saja keluar dari sebuah perguruan dengan ilmunya yang masih utuh dan lugu. Namun dalam beberapa saat kemudian segera terasa, bahwa anak muda itu dengan cepat berusaha untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh ilmunya. Jurus –jurus nya justru mulai berkembang bahkan rasa-rasanya anak muda itu telah diberi beberapa umpan untuk dapat dipecahkannya dengan bekal ilmu yang ada padanya.
Dan seperti saat menghadapi Doran tadi, lelaki yang bernama Kebo Peteng itu juga membuat jantung Arya Gading menjadi berdebar. Bagaimana tidak, saat pukulan dan tendangan menghantam Kebo Peteng. Orang itu terpental lalu tidak lama berdiri lagi tanpa merasakan sakit ataupun luka. Dan yang membuat Arya Gading keheranan begitu bangun lagi. Kemampuan Kebo Peteng menjadi berlipat –lipat.
Namun keuntungan Arya Gading adalah bahwa ia telah menyaksikan Doran bertempur. Dari pengamatan itu, maka Arya Gading telah mendapat pengalaman pula yang dapat membantunya melawan Kebo Peteng. Perlahan-lahan Arya Gading mulai menyesuaikan dirinya. Ia mulai mantap mengetrapkan jurus –jurus yang sudah dipelajarinya dan bahkan ia pun mulai mampu mengambil sikap menghadapi jurus –jurus yang baru ditemuinya saat itu, yang dipergunakan oleh lawannya yang jauh lebih berpengalaman.
Untunglah bahwa Arya Gading pun telah menempa diri dengan latihan-latihan yang berat dan keras. Bahkan meskipun Doran adalah kakak seperguruan, Arya Gading memang memiliki kelebihan dari Doran. Meskipun umur keduanya hanya terpaut setahun, tetapi cara berpikir Arya Gading memang lebih dewasa dari Doran. Apalagi Arya Gading itu telah terpisah dari kedua orang tuanya sejak kecil, sementara Doran meskipun berguru pada guru yang sama dengan Arya Gading, tetapi ia berada di dalam sebuah kehidupan yang mapan.
Meskipun gurunya tidak membedakan antara kedua muridnya, namun perkembangan yang wajar telah terjadi. Arya Gading yang harus lebih prihatin dari kakak seperguruannya itu tumbuh menjadi lebih dewasa dari Doran. Demikian pula penguasaan ilmu mereka. Meskipun pada dasarnya mereka memiliki ilmu yang sama, karena dasar ilmu gurunya telah tertuang seluruhnya, namun Arya Gading agak lebih dewasa mengendapkan ilmu itu di dalam dirinya.
Karena itu, maka menghadapi Kebo Peteng itu, Arya Gading segera berhasil mengimbanginya. Pertempuran di antara merekapun segera meningkat menjadi semakin sengit. Keduanya berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka dan mengatasi lawannya.
Berbekal pengalaman yang panjang, maka Kebo Peteng segera mengetahui bahwa lawannya, anak muda itu adalah seorang yang baru saja keluar dari sebuah perguruan dengan ilmunya yang masih utuh dan lugu. Namun dalam beberapa saat kemudian segera terasa, bahwa anak muda itu dengan cepat berusaha untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh ilmunya. Jurus –jurus nya justru mulai berkembang bahkan rasa-rasanya anak muda itu telah diberi beberapa umpan untuk dapat dipecahkannya dengan bekal ilmu yang ada padanya.
Dan seperti saat menghadapi Doran tadi, lelaki yang bernama Kebo Peteng itu juga membuat jantung Arya Gading menjadi berdebar. Bagaimana tidak, saat pukulan dan tendangan menghantam Kebo Peteng. Orang itu terpental lalu tidak lama berdiri lagi tanpa merasakan sakit ataupun luka. Dan yang membuat Arya Gading keheranan begitu bangun lagi. Kemampuan Kebo Peteng menjadi berlipat –lipat.
MFriza85 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas