- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
198.7K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#891
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mikir "Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Saat sesi perkenalan masa orientasi siswa baru di SMA sudah berjalan selama beberapa saat, bocah laki-laki yang duduk tepat di depan gue repot-repot berbalik badan menghadap gue dan kursi yang ada di sebelah gue. Gue nggak tau kenapa dia sampe repot-repot balik badan, kemungkinan ada sesuatu yang mau dia sampaikan.
“Eh, eh, Lo harus merhatiin yang satu ini, dia manis banget. Sumpah.” Ucap bocah laki-laki yang duduk di depan gue sambil berbisik. Namun kata ‘manis’ yang dia ucapkan sedikit ditekankannya.
Gue dan temen semeja yang baru gue kenal beberapa menit yang lalu saling berpandangan beberapa saat, belum mengerti apa yang dimaksud dari bocah laki-laki yang duduk di depan gue. Ketika guru memanggil sebuah nama, salah satu kursi kayu yang ada di dalam kelas berdecit dan seseorang yang duduk di sana segera bangkat. Baru gue dan teman sebangku gue memahami apa yang dimaksud bocah laki-laki tersebut.
“Tau dari mana lo?” Tanya temen sebangku gue ke si bocah laki-laki.
“Kita satu SMP dulu.”
Seketika mereka berdua (bahkan bertiga dengan teman semeja bocak laki-laki tersebut) sudah membicarakan gadis manis yang sebentar lagi akan memperkenalkan dirinya di depan kelas.
Sementara itu tanpa sadar gue terus memperhatikan ke arah ‘gadis manis’ yang dibicarakan oleh ketiga orang di sekitar gue. Gadis manis tersebut berjalan perlahan menuju depan kelas. Terlihat geliat malu-malu dari caranya berjalan. Kedua tangannya yang saling berpegangan satu sama lain dah wajahnya yang sedikit menunduk.
Detik ketika si gadis manis menaikan pandangannya, gue langsung bisa melihat wajahnya secara utuh. Kalau hanya dari deskripsi singkat ang diberikan bocah laki-laki di depan gue, bisa dibilang dia adalah gadis yang manis. Kulitnya sawo matang. Senyumnya tipis dan sedikit dipaksakan karena malu. Serta rambut hitamnya yang lurus tergerai.
Tetapi gue merasakan sedikit kejanggalan di matanya. Dari sudut pandang bocah tengik seperti gue, pandangan matanya seperti memancarkan kesedihan yang berusaha ditutupi dengan senyuman. Sampai saat ini gue juga nggak mengerti dengan sorot mata tersebut.
Saat si gadis manis memperkenalkan namanya serta menyebutkan nama panggilannya, seketika seluruh laki-laki yang ada di dalam kelas bersorak bahkan ada yang langsung memanggilnya dari tempat duduk. Memang nama panggilan yang ia sebutkan terkesan lucu dan imut. Kalau kakak kelas yang berada di depan nggak menyuruh seisi kelas untuk tenang, mungkin satu jam kedepan semua murid laki-laki yang ada di kelas masih akan terus memanggil namanya.
Perkenalan singkat tersebut berakhir dengan cepat. Si gadis manis kembali duduk di kursinya dan terdengar sedikit suara kekecewaan dari murid laki-laki di dalam kelas.
“Gimana menurut lo?” Tiba-tiba si bocah laki-laki yang duduk di depan gue menanyakan pertanyaan yang gue nggak mengerti arahnya.
“Ha?” Sahut gue nggak mengerti.
“Tadi, yang abis perkenalan di depan.” Sekarang giliran teman semeja gue yang bertanya antusias.
“Biasa aja.” Jawab gue singkat.
“Yah, nggak asik lo!”
*****
Secara singkat, si gadis manis yang berada di dalam kelas gue sudah menjadi perbincangan bagi banyak anak laki-laki di angkatan gue. Gak jarang temen kelasan gue sendiri, atau anak-anak kelas lain ngomongin tentang si gadis manis ini. Bahkan ada yang terang terangan PDKT atau bahkan sekedar ngegodain. Semuanya bertujuan buat mencari atensi darinya.
Menurut orang-orang di sekitar gue, baik dari temen-temen kelas atau anak anggatan yang lagi nongkrong di depan kelas gue, salah satu yang ngebuat si gadis manis ini disukai banyak orang adalah karena sifatnya yang rendah hati (tentunya selain karena parasnya yang manis). Dia nggak segan-segan untuk meladeni obrolan dari siapa pun yang bicara dengannya. Baik itu obrolan serius atau sekedar gombalan-gombalan modus yang dilemparkan.
Bukannya dia caper atau gimana, gue sama sekali nggak melihatnya ke arah sana. Bahkan gue yakin semua orang yang kenal tau tahu juga nggak punya pemikiran itu. Si gadis manis hanya berusaha bersikap baik dan ramah kepada semua orang. Bahkan dia kadang nggak segan-segan buat menyapa gue di pagi hari, seseorang yang notabennya hanya seorang pendiam di dalam kelas.
Interaksi yang gue lakukan dengan si gadis manis juga nggak bisa dibilang intensif, hanya seperlunya dan sebutuhnya aja. Tapi semuanya nggak pernah meninggalkan kesan buruk atau negatif di pikiran gue. Malah cenderung memberikan kesan yang menyenangkan di hati gue.
Ada dua kejadian yang paling membekas di hati gue ketika berhadapan dengan si gadis manis ini. Yang pertaman, saat pelajaran bahasa asing, gue dan si gadis manis sama-sama memilih bahasa Jepang sebagai kewajiban mata pelajaran. Waktu itu awal-awal kita masih beajar dan menghafal huruf hiragana. Waktu itu guru kita melakukan tes untuk menulis sekitar 40 huruf yang sudah harus kita hafal. Si gadis manis kebetulan duduk di depan gue. Saat itu dia nggak segan-segan untuk menengok ke arah belakang untuk sekedar mencocokkan jawaban yang dia tulis dengan gue. Sama seperti teman sebangku atau di bangku belakang gue. Sederhana, tapi sangat berkesan buat seorang yang jarang diperhatikan seperti gue.
Yang kedua ketika kelas kita mengadakan acara buka bersama di rumah teman saat satu bulan awal kita sebagai siswa kelas sepuluh. Saat pulang, si gadis manis belum memiliki tumpangan untuk pulang. Pada saat itu belum banyak angkutan online, atau bahkan belum booming. Harusnya gue bisa mengantar dia dengan motor yang gue bawa. Sayangnya ada satu anak cewek lagi yang belum mendapatkan tumpangan pulang. Mereka berdua pun melakukan suit, dan sayangnya si gadis manis yang kalah. Gue lupa bagai mana akhirnya dia bisa pulang, intinya gue nggak jadi mengantarnya sampai ke rumah.
Seiring berjalannya waktu, benih-benih perasaan mulai tumbuh di dalam hati gue. Sapaan-sapaan serta percakapan singkat yang sebelumnya belum pernah gue rasakan seolah menjadi air yang menyuburkan perasaan suka. Tetapi saat itu gue masih mendenial perasaan gue sendiri. Apa alasan konkritnya gue sendiri nggak ingat. Mungkin karena terlalu banyak saingan, mungkin karena gue merasa minder. Entah lah.
Sampai pada akhirnya gue mulai mengakui kalau ada perasaan suka terhadap si gadis manis di dalam hati gue ketika kenaikan kelas. Sayangnya saat itu kita sudah berada di kelas yang berbeda. Meskipun sama-sama IPA, tapi nggak bakalan ada lagi interaksi-interaksi yang akan gue alami dengan si gadis manis. Lebih tepatnya nggak ada kewajiban yang harus ngebuat kita berdua saling berinteraksi.
Suatu waktu, saat acara buka bersama bareng temen-temen kelas sebelas, entah bagaimana ceritanya topik pembicaraan kita saat itu adalah si gadis manis. Anak laki-laki kelasan gue sengaja ngumpul dari sore untuk membatu acara di rumah yang menjadi tempat kita kumpul, mengingat keterbatasan tenaga dimana kelas gue cuman ada 10 anak laki-laki.
Gue yang secara sadar nggak sadar, atau sekedar ingin memvalidasiperasaan gue mengatakan kalau gue juga memiliki perasaan pada si gadis manis tersebut. Sayangnya, temen-temen kelas gue nggak ada yang bener-bener serius menyukai si gadis manis tersebut, hanya gue seorang. Mereka hanya sekedar mengagumi parasnya.
Keesokan harinya, hingga seterusnya. Ledekan atau ceng-cengan kalau gue menyukai si gadis manis mulai gue dapatkan. Terutama saat kami melewati kelasnya atau ketika si gadis manis melewati kelas kami untuk ke kantin. Gue nggak tau pasti apakah dia menyadari ledekan tersebut sehingga dia menyadari perasaan gue terhadapnya. Yang jelas jurang pemisah antara kami berdua semakin jelas. Sebuah jurang yang sebernarnya gue ciptakan sendiri. Dan gue tetap hanya bisa menjadi seorang pengagum rahasia.
*****
Satu hal yang paling membuat gue kecewa adalah ekspektasi gue sendiri. Gue sadar kalau gue hanya bisa menjadi seorang pengagum rahasia. Tetapi tetap saja, ekspektasi-ekspektasi tersebut nggak bisa gue cegah.
Berkali-kali teman kelasan gue mengatakan kalau nggak akan ada kesempatan untuk gue terhadap si gadis manis, apa pun bentuknya. Dan gue pun dengan sadar mengamini hal tersebut. Tetapi dalam hati gue sendiri, dan tentunya ekspektasi, kemungkinan tersebut bukannya nol persen.
Suatu hari, gue dan teman-teman kelasan gue lagi ngumpul di rumah teman kelas gue yang nggak jauh dari sekolah. Mungkin hanya berjalan kaki. Begitu juga dengan rumah si gadis manis. Bahkan rumahnya dengan rumah teman gue hanya berbeda satu gang dan diselingi beberapa rumah. Ditambah lagi salah satu jalan utama menuju rumah si gadis manis adalah melewati depan rumah teman gue ini. Itu artinya terkadang gue masih saling berpapasan meskipun nggak saling menyapa.
Ketika kami semua sedang berkumpul di atas balkon, terdengar suara motor menuju rumah si gadis manis. Dia sedang dibonceng bersama teman kelasnya setelah melakukan sebuah rapat untuk acara ekskul sekolah. Teman-teman gue meledek gue kalau laki-laki yang bersamanya kemungkinan besar sedang mendekati si gadis manis.
Gue dengan sigap dan tegas mengatakan, “Nggak mungkin, mereka berdua udah saling mengenal sejak SMP.” Maksud gue, kalau mereka sudah saling mengenal selama itu, harusnya mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih sedari dulu.
Waktu terus bergulir. Pertengahan semester dua, ketika seluruh siswa harus libur kecuali kelas tiga karena sedang mengadakan try out UN serentak. Kelas gue memutuskan untuk liburan ke bandung bersama.
Sehari sebelum liburan gue ikut bokap pergi ke rumah kerabatnya yang katanya sedang berkumpul. Karena gue sendiri lagi nggak memiliki kerjaan, gue memutuskan untuk ikut. Jam sembilan pagi gue sudah berada di dalam mobil menuju rumah kerabat bokap. Gue yang sedang berada di kursi penumpang sibuk mengecek recent update yang ada di BBM gue.
Pagi itu recent update di BBM gue terlihat ramai karena suatu berita. Berita kalau akhirnya si gadis manis akhirnya memiliki seorang kekasih. Cukup banyak teman-temannya yang memberikan selamat di status BBM mereka. Gue yang masih belum percaya langsung membuka profil seseorang yang selama ini gue puja.
Di status yang ada di BBMnya, terdapat sebuah nama yang memutarbalikkan ekspektasi yang gue miliki. Sebuah nama yang nggak pernah terpikirkan akan ada di sana. Nama seorang anak laki-laki yang mengantar si gadis manis pulang tempo hari. Bocah laki-laki yang duduk di depan meja gue saat kelas sepuluh dan saat perkenalan seluruh siswa baru menyuruh gue untuk memperhatikan si gadis manis yang akan memperkenalkan diri di depan kelas.
Seketika pandangan, pikiran, dan tubuh gue terasa kosong. Gue sama sekali nggak bisa mencerna apa yang sedang terjadi pada dunia di sekitar gue. Seketika gue menonaktifkan telepon genggam yang berada di genggaman gue, nggak ingin dihubungi oleh siapa pun, bahkan sampai akhir acara ketika gue berada di rumah kerabat bokap.
Menjelang malam gue tiba di rumah, dan gue baru kembali mengaktifkan telepon genggam gue. Nggak ada satu pun pesan yang masuk yang mengarah kepada gue selain broadcast message yang mempromosikan pim BBM seseorang.
Hari semakin malam ketika terbaring di atas kasur. Sambil mendengarkan lagu melalui headset dan gue masih belum mengerti apa yang sedang terjadi dengan dunia di sekitar gue. Sebuah lagu tiba-tiba menggantikan lagu sebelumnya yang sudah habis. Seketika air mata mulai menetes dari sela-sela kelopak mata dan mulai membasahi wajah.
Gue masih ingat betul lagu apa yang membuat gue menangis malam itu. Ingin hilang ingatan dari Rocket Rockers. Entah kenapa tiba-tiba gue sangat mendalami lirik dari lagu tersebut. Di sisa-sisa malam gue menghabiskan waktu untuk mendengarkan lagu yang menggambarkan perasaan gue saat ini dan nggak membiarkan air mata gue untuk berhenti mengalir.
*****
Di tahun ketiga gue, sama sekali nggak ada yang berubah selain tingkatan dan mata pelajaran yang gue dapatkan. Kegiatan monoton, suasana kelas yang terasa serupa, dan perasan terhadap si gadis manis yang masih sama.
Ledekan dan ceng-cengan terhadap gue masih terus berlanjut. Terbih untuk menuju kelas gue, gue harus melewati kelas si gadis manis tersebut. Gue bahkan menjadi terbiasa untuk mengambil sisi paling jauh dari koridor yang gue lewati.
Puncak ledekan teman-teman gue terjadi beberapa hari setelah palajaran Bahasa Indonesia. Saat itu seluruh kelas ditugaskan untuk membuat puisi dan dibacakan di depan kelas. Gue dengan sepenuh hati menulis puisi tersebut berdasarkan perasaan yang gue rasakan saat ini. Untuk perempuan yang sempat singgah di hati, begitu gue membuat judul untuk puisi yang gue tulis.
Tanpa gue duga ternyata salah satu teman gue merekan saat gue membacakannya di depan kelas. Kemudian saat pelajaran olahraga, saat itu guru gue mebawa radio untuk tugas senam irama. Seluruh siswa kelas gue ditugaskan untuk menciptakan gerakan senam irama dan dibebaskan untuk memilih lagu. Lagu tersebut akan disambungkan dari telepon genggam ke radio.
Tiba-tiba teman gue memutarkan rekaman video yang mereka ambil saat gue membacakan puisi kemarin. Gue yang pasrah dengan keadaan hanya bisa duduk di sudut lapangan sambil melihat tingkah laku teman-teman gue yang sedang melihat gue pasrah. Ketika tiba-tiba si gadis manis keluar dari kelasnya dan mata kami saling bertatapan untuk beberapa saat sebelum dia pergi.
Di malam prom, gue dan teman-teman gue menghadiri acara tersebut sebagai malam perpisahan kita semua sebagai teman satu angkatan. Acara berlangsung secara meriah sekaligus mengharukan. Suka dan cita terus terjadi sepanjang acara.
Di penghujung malam, terdapat sebuah sesi dimana kita boleh mengungkapkan apa saja kepada siapa saja apa yang ingin kita sampaikan ddi atas panggung. Saat itu terpikir untuk menyampaikan perasaan gue kepada si gadis manis, meskipun saat ini hasilnya sudah jelas seratus persen. Hanya sekedar ingin menyampaikan perasaan yang terpendam saja.
Sayangnya si gadis manis nggak datang di malam perpisahan tersebut. Itu artinya nggak ada satu hal pun yang gue bisa lakukan.
Saat itu gue tersadar, kalau gue bukan lah seorang tokoh utama pada sebuah cerita. Bahkan untuk sekedar tokoh pendamping. Gue hanya seorang pengagum rahasia yang terkadang berharap perasaannya diketahui oleh orang lain.
Ketika acara selesai, seluruh teman anggkatan gue sibuk dengan urusannya masing-masing. Begitu juga dengan gue sendiri. Disaat yang bersamaan, saat itu juga diri gue perlahan-lahan mulai terbentuk. Bagaimana gue melihat kehidupan, bagaimana cara gue memandang dunia, dan bagaimana gue merasakan cinta.
“Katanya, seseorang yang kita suka saat berumur 16 tahun adalah seseorang yang akan membentuk diri kita yang sekarang.”
Seorang penulis yang gue lupa namanya.
fin.
Seorang penulis yang gue lupa namanya.
fin.
mmuji1575 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup