- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#206
Chapter 134
Quote:
Eksperimen sederhana yang dilakukan oleh Wayne kepada komandan yang tubuhnya mendidih itu memberikannya sebuah ide. Sambil menatap Dr. Geere, dirinya mencoba mengutarakannya. Namun sebuah serangan tiba-tiba muncul tepat menghadang mereka. Walaupun berhasil menghindar tetapi keduanya kini terpisah. Komandan tidak merubah targetnya meskipun ada Wayne yang terlihat nyata berada di sana. Dengan membawa hawa panas yang tidak main-main, dirinya bergerak ke arah monster kumbang berwarna silver itu.
“Cih! Padahal aku juga ada di sini!” ucap Wayne marah. Serangan komandan tadi dinilainya cerdas karena pas sekali membelah tempat mereka menjadi dua, jadi secara refleks maupun Wayne atau Dr. Geere pasti menghindar ke arah yang saling berlawanan.
Sengatan hawa panas menjulur ke seluruh tubuh Dr. Geere, terjebak di udara dalam posisi sedang menghindari serangan membuatnya susah menghindar. Tidak mungkin mengeluarkan sayapnya yang tipis meskipun ada bagian yang dilapisi oleh sel monster sekeras baja. Jika terbakar, api dengan cepat menyulut badannya.
“Kena kau!” telapak tangan komandan berhasil menyentuh tubuh Dr. Geere, api berkibar seketika membakar seluruhnya. Belum puas sampai situ, satu pukulan juga dengan tepat mendarat di wajah musuhnya. Bola api yang terlihat terang dikegelapan malam pun jatuh layaknya meteor.
Lirikan matanya sekarang tertuju ke arah Wayne, karena monster kumbang berwarna emas itu semakin lama semakin mendekat. Komandan melepaskan hawa panas lagi ke udara, kini Wayne dapat merasakan sendiri bagaimana sengatan panas bila mengenai tubuhnya. Namun di luar dugaan, tubuh Wayne lebih kebal dibandingkan Dr. Geere. Buktinya ia terus meluncur dan siap melancarkan serangan.
“Kau menyerangku dengan kekuatan yang kuberikan? Sungguh ironi…,” tangannya menebas Wayne dengan sangat cepat, namun dalam waktu sepersekian milidetik, pemuda ini berhasil menghindar.
“Tidak semudah itu,” tinju yang dilancarkan malah membuat tangannnya semakin panas, komandan pun dapat menghindarinya dengan sangat mudah. Lalu tangan yang dipakainya untuk menyerang kini digenggam dengan erat oleh sang komandan. “kau…berencana membakarku hidup-hidup?” menggunakan tangan satunya untuk menyerang, namun hawa panas dilepaskan dalam intensitas besar seperti angin yang dihembuskan ketika badai.
“Meraunglah seperti itu, sesi penyiksaanmu berlanjut…,” tubuh Wayne belum hancur, warna emasnya mulai menyala terang, pertahanannya cukup kuat. “kita lihat sampai kapan kau bisa bertahan?” kini lelehan emas mulai berjatuhan, lebih dari ini tubuh Wayne tidak sanggup menahannya lagi. “hm?” dari arah kejauhan beberapa pohon berukuran sedang meluncur kearahnya.
Pohon-pohon dengan daun rindangnya itu lantas terbakar ketika terkena hawa panas dari tubuh sang komandan. Batang yang tersisa tetap meluncur meski dalam keadaan terbakar, dengan sangat terpaksa komandan melepaskan cengkramannya. Wayne terjatuh ke bawah, dirinya terkapar lemah sambil mencoba untuk memulihkan tubuhnya yang sempat meleleh.
“Siapa?” tanya komandan Gert. Matanya mulai fokus ke suatu sosok yang berdiri dengan susah payah, kedua kakinya berbentuk monster tetapi separuh tubuh atasnya hangus terbakar, dikepalanya hanya tersisa sebagian yang berbentuk monster dengan tanduk sebelah. “oh, ilmuwan kesukaanku, kau kuat juga….”
Dr. Geere masih sempat menyelamatkan Wayne dengan kondisi yang parah seperti itu, untung saja teknik yang ia kembangkan mampu menyelamatkannya. Jika hanya mengandalkan sisi monsternya saja kemungkinan tubuhnya sudah melebur menjadi abu. Sel-sel monster dalam dirinya mulai bergerak melakukan pemulihan, hanya saja ancaman besar ada di depan matanya. Rekan-rekan lainnya juga belum terlihat batang hidungnya, jumlah pasukan sang komandan terlalu banyak.
“Terlalu sibuk memikirkan orang lain sampai lupa jika kondisi diri sendiri juga mengenaskan seperti itu,” ucap komandan Gert. “baiklah, dengan senang hati akan kuhentikan penderitaanmu,” belum sempat bergerak beberapa meriam datang menghujamnya, berwarna perunggu dengan ukurannya yang sedikit lebih besar dari biasanya. “apa?” ledakan-ledakan besar terjadi, untuk beberapa saat nyawa Dr. Geere tertolong.
“Eh?” ucap Dr. Geere keheranan, lalu datanglah rekan yang dinantikan.
“Maaf, aku telat,” ucap Marco bersama Dr. George, sedangkan Ferdinand membawa tubuh Wayne sedikit menjauh.
Dr. George segera mengobati luka Dr. Geere, kemampuan tersembunyinya adalah mampu mempercepat penyembuhan dengan mengirimkan sel-sel monster berwarna putih kepada pasiennya. Tiap-tiap sel yang masuk akan langsung berubah mengikuti sel yang sebelumnya sudah ada di dalam tubuh. Layaknya kertas putih yang masih kosong, jika diberikan tinta akan berubah mengikuti warna tinta yang digunakan.
Sedangkan Marco dapat membuat berbagai senjata dengan sel-sel monsternya, kemampuan tersembunyinya ini lahir ketika dalam kondisi terdesak saat melawan pasukan monster yang jumlahnya membuat pusing kepala. Ternyata selain dapat digunakan untuk membuat baju jirah untuk pertahanan diri, sel monster juga memiliki kemampuan tersembunyi lainnya.
“Entahlah, yang kurasakan tandukku ini bergetar sangat hebat seperti memberikan sinyal, lalu kekuatan itu muncul,” ungkap Marco yang diiyakan oleh Dr. George karena mengalami peristiwa yang sama. “aku dan Ferdinand akan mencoba menahan komandan sampai kondisimu dan juga Wayne membaik,” Dr. George dengan segera pergi ke tempat Wayne, sementara Dr. Geere diinstruksikan untuk beristirahat sejenak.
Wayne masih terkapar saat Dr. George datang, kondisinya tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan Dr. Geere. Dan sel-sel monster milik Dr. George mulai masuk ke tubuh Wayne, berharap pemulihannya semakin cepat dilakukan. Ferdinand pergi dari sana untuk bergabung dengan Marco tuk melawan komandan Gert. Ia tidak yakin apakah kekuatannya mampu mengalahkan monster itu.
“Bagaimana?” tanya Ferdinand.
“Entahlah, mungkin pertama kita bisa membuatnya menjauh dari sini,” melihat kebelakang tempat Dr. Geere berada. “dari awal niatnya untuk menghabisi Dr. Geere, ia tidak mungkin pergi dari sini hanya untuk melawan kita…,” keraguan mulai muncul dalam dirinya.
Asap tebal yang mengelilingi komandan mulai menghilang, tidak ada sedikitpun bekas luka dari serangan barusan. Meskipun ledakan yang terdengar cukup besar, tetapi nampaknya serangan itu belum cukup untuk melukai komandan. Tatapannya kini mengarah pada dua monster yang perbedaannya begitu kontras, yang satu berwarna perunggu mengkilat sedangkan satunya hitam. Komandan mulai berpikir untuk menyisakan Dr. Geere diakhir.
“Mereka akan terus menganggu, sebaiknya kumusnahkan dulu orang-orang yang menghalangi jalanku!” komandan menukik ke bawah, Ferdinand dan Marco terkejut.
“Eh?” dengan sigap Ferdinand dan Marco menghindarinya, hawa panas yang dikeluarkan begitu merepotkan.
Ferdinand mengeluarkan cairan berwarna ungu gelap dari kedua tangannya, ia menyerang komandan dengan cairannya itu. Namun tidak sampai jarak 2 meter dari posisi komandan berdiri, cairan itu mendadak mendidih dan musnah sambil mengeluarkan asap berwarna hitam. Dan kini komandan tahu siapa targetnya. Marco berusaha untuk membantu Ferdinand dengan pergi kearahnya.
“Hei Ferdinand, sekarang kau membelot rupanya!” didatangi seperti itu membuat Ferdinand sebisa mungkin menjauhinya, dengan hawa panas yang konsisten membuat zona aman bagi komandan. Berada dekat dengannya dapat membuat tubuhnya terbakar.
Satu dua tembakan dilancarkan oleh Marco, peluru yang terbakar itu tidak membuat komandan bergeming. Serangannya kepada Ferdinand tetap dilakukan, seluruh jemarinya dengan tepat menusuk perut Ferdinand hingga menembus. Belum lagi hawa panas yang menyengatnya membuat serangan ini begitu fatal. Ferdinand mencoba bertahan dengan mengeluarkan cairan seperti tadi dengan intensitas besar untuk melapisi seluruh tubuhnya.
“Ah, jadi cairan ini adalah racun, kau tidak lihat tadi cairan ini mendidih dan malah menjadi uap?” sindir komandan sambil melepaskan tangannya sedangkan Ferdinand berlutut tak berdaya.
“SIAL!” Marco yang marah melihatnya membuat sebuah kapak tebal berukuran raksasa, ia melompat tinggi dan menghujam kapak besarnya itu dengan kekuatan penuh.
“Hm,” kapak itu mampu ditahan oleh komandan dengan menggunakan satu tangannya, kapaknya sengaja dibuat lebih tebal agar dapat menembus zona komandan. Namun sengatan panas mulai membakarnya dan mengikis kapak itu secara perlahan. “membuat senjata yang besar dan panjang agar dapat menyerangku dari jarak yang jauh, aku terkesan….” Sekali cengkraman dari tangannya menghancurkan kapak yang dibuat oleh Marco.
Dengan kecepatan maksimal, komandan berhasil menghampiri Marco tanpa disadarinya. Tidak sempat waktu untuk berpikir dan lagi-lagi tangan komandan menusuk perut Marco hingga tertembus. Monster kumbang yang tadinya berwarna perunggu itu berubah menjadi merah karena terbakar oleh api yang dimiliki oleh komandan. Dua orang tersebut dapat dikalahkannya dengan mudah, meskipun dapat mengobati luka sendiri, tetapi luka fatal seperti itu butuh waktu lama untuk memulihkannya.
“Hei, Dr. George! Ku yakin itu kau yang berdiri di situ kan?” teriak komandan dari kejauhan.
Sosok Dr. George memang berdiri dihadapannya, sikapnya seperti menantang komandan untuk bertarung. “Sebelumnya Marco dan Ferdinand yang telah menyelamatkanku dari serbuan makhluk ganas tadi. Sekarang aku akan bertarung….,” memikirkan rekan-rekannya yang kondisinya mengkhawatirkan karena melawan komandan. “dan menjadi pembuktian bahwa aku---,” belum selesai berbicara, komandan sudah berada disampingnya, dengan santainya memegang pundak Dr. Geoge yang sudah berbentuk monster kumbang.
“Bicaralah lebih keras, aku tidak dapat mendengarnya dari jauh,” api menyala besar. Tubuh Dr. George terbakar. “mereka berlaga kuat tadi, ternyata kemampuannya hanya segini, tapi untuk memusnahkan satu negara, kurasa cukup…,” ucap komandan sambil melangkah dengan percaya diri yang begitu tinggi. “keluar kau Dr. Geere! Aku sudah sangat sopan mengucapkan namamu beserta gelar yang kau miliki!”
Suasana hutan malam yang diterangi oleh kobaran api di beberapa tempat masih sunyi, keberadaan bunker persembunyian yang jauh dari warga memang sudah tepat dibuat. Pertarungan di area pegunungan dengan hutan asrinya ini menjauhkan sipil dari mara bahaya. Mayat-mayat yang berserakan juga tidak perlu dibereskan, mereka akan menyatu dengan alam nantinya. Lagipula tidak ada yang merindukan orang yang sudah mati.
Kabut mulai muncul, hawa dingin mulai mengisi kekosongan. Dan baru disadari bahwa sosok monster yang tadi terbakar dibelakangnya sudah menghilang, begitu juga dengan dua monster sebelumnya yang hangus terbakar juga sosoknya sudah tidak ada. Perlahan hawa dingin semakin menyengat kulit, bahkan daun-daun pepohonan mulai kaku dibuatnya. Kabut semakin tebal, komandan melepaskan hawa panasnya untuk menghilangkan kabut.
“Hm, kaukah itu Dr. Geere?” berdiri didepannya sosok monster kumbang berwarna perak menyala yang tampak berbeda dari sebelumnya, armor ditubuhnya seperti seorang kesatria, lengkap dengan pedang panjang berwarna putih mengkilap. Jubah panjangnya berwarna putih semakin menguatkan identitas kesatria pada sosok itu.
“Bersiaplah…,” ucapnya pelan, tiap langkah kakinya memunculkan jejak es, Dr. Geere mendapatkan kekuatan baru berkat sel-sel monster yang diberikan oleh Dr. George. “kupastikan kali ini kau akan mati!”
“Cih! Padahal aku juga ada di sini!” ucap Wayne marah. Serangan komandan tadi dinilainya cerdas karena pas sekali membelah tempat mereka menjadi dua, jadi secara refleks maupun Wayne atau Dr. Geere pasti menghindar ke arah yang saling berlawanan.
Sengatan hawa panas menjulur ke seluruh tubuh Dr. Geere, terjebak di udara dalam posisi sedang menghindari serangan membuatnya susah menghindar. Tidak mungkin mengeluarkan sayapnya yang tipis meskipun ada bagian yang dilapisi oleh sel monster sekeras baja. Jika terbakar, api dengan cepat menyulut badannya.
“Kena kau!” telapak tangan komandan berhasil menyentuh tubuh Dr. Geere, api berkibar seketika membakar seluruhnya. Belum puas sampai situ, satu pukulan juga dengan tepat mendarat di wajah musuhnya. Bola api yang terlihat terang dikegelapan malam pun jatuh layaknya meteor.
Lirikan matanya sekarang tertuju ke arah Wayne, karena monster kumbang berwarna emas itu semakin lama semakin mendekat. Komandan melepaskan hawa panas lagi ke udara, kini Wayne dapat merasakan sendiri bagaimana sengatan panas bila mengenai tubuhnya. Namun di luar dugaan, tubuh Wayne lebih kebal dibandingkan Dr. Geere. Buktinya ia terus meluncur dan siap melancarkan serangan.
“Kau menyerangku dengan kekuatan yang kuberikan? Sungguh ironi…,” tangannya menebas Wayne dengan sangat cepat, namun dalam waktu sepersekian milidetik, pemuda ini berhasil menghindar.
“Tidak semudah itu,” tinju yang dilancarkan malah membuat tangannnya semakin panas, komandan pun dapat menghindarinya dengan sangat mudah. Lalu tangan yang dipakainya untuk menyerang kini digenggam dengan erat oleh sang komandan. “kau…berencana membakarku hidup-hidup?” menggunakan tangan satunya untuk menyerang, namun hawa panas dilepaskan dalam intensitas besar seperti angin yang dihembuskan ketika badai.
“Meraunglah seperti itu, sesi penyiksaanmu berlanjut…,” tubuh Wayne belum hancur, warna emasnya mulai menyala terang, pertahanannya cukup kuat. “kita lihat sampai kapan kau bisa bertahan?” kini lelehan emas mulai berjatuhan, lebih dari ini tubuh Wayne tidak sanggup menahannya lagi. “hm?” dari arah kejauhan beberapa pohon berukuran sedang meluncur kearahnya.
Pohon-pohon dengan daun rindangnya itu lantas terbakar ketika terkena hawa panas dari tubuh sang komandan. Batang yang tersisa tetap meluncur meski dalam keadaan terbakar, dengan sangat terpaksa komandan melepaskan cengkramannya. Wayne terjatuh ke bawah, dirinya terkapar lemah sambil mencoba untuk memulihkan tubuhnya yang sempat meleleh.
“Siapa?” tanya komandan Gert. Matanya mulai fokus ke suatu sosok yang berdiri dengan susah payah, kedua kakinya berbentuk monster tetapi separuh tubuh atasnya hangus terbakar, dikepalanya hanya tersisa sebagian yang berbentuk monster dengan tanduk sebelah. “oh, ilmuwan kesukaanku, kau kuat juga….”
Dr. Geere masih sempat menyelamatkan Wayne dengan kondisi yang parah seperti itu, untung saja teknik yang ia kembangkan mampu menyelamatkannya. Jika hanya mengandalkan sisi monsternya saja kemungkinan tubuhnya sudah melebur menjadi abu. Sel-sel monster dalam dirinya mulai bergerak melakukan pemulihan, hanya saja ancaman besar ada di depan matanya. Rekan-rekan lainnya juga belum terlihat batang hidungnya, jumlah pasukan sang komandan terlalu banyak.
“Terlalu sibuk memikirkan orang lain sampai lupa jika kondisi diri sendiri juga mengenaskan seperti itu,” ucap komandan Gert. “baiklah, dengan senang hati akan kuhentikan penderitaanmu,” belum sempat bergerak beberapa meriam datang menghujamnya, berwarna perunggu dengan ukurannya yang sedikit lebih besar dari biasanya. “apa?” ledakan-ledakan besar terjadi, untuk beberapa saat nyawa Dr. Geere tertolong.
“Eh?” ucap Dr. Geere keheranan, lalu datanglah rekan yang dinantikan.
“Maaf, aku telat,” ucap Marco bersama Dr. George, sedangkan Ferdinand membawa tubuh Wayne sedikit menjauh.
Dr. George segera mengobati luka Dr. Geere, kemampuan tersembunyinya adalah mampu mempercepat penyembuhan dengan mengirimkan sel-sel monster berwarna putih kepada pasiennya. Tiap-tiap sel yang masuk akan langsung berubah mengikuti sel yang sebelumnya sudah ada di dalam tubuh. Layaknya kertas putih yang masih kosong, jika diberikan tinta akan berubah mengikuti warna tinta yang digunakan.
Sedangkan Marco dapat membuat berbagai senjata dengan sel-sel monsternya, kemampuan tersembunyinya ini lahir ketika dalam kondisi terdesak saat melawan pasukan monster yang jumlahnya membuat pusing kepala. Ternyata selain dapat digunakan untuk membuat baju jirah untuk pertahanan diri, sel monster juga memiliki kemampuan tersembunyi lainnya.
“Entahlah, yang kurasakan tandukku ini bergetar sangat hebat seperti memberikan sinyal, lalu kekuatan itu muncul,” ungkap Marco yang diiyakan oleh Dr. George karena mengalami peristiwa yang sama. “aku dan Ferdinand akan mencoba menahan komandan sampai kondisimu dan juga Wayne membaik,” Dr. George dengan segera pergi ke tempat Wayne, sementara Dr. Geere diinstruksikan untuk beristirahat sejenak.
Wayne masih terkapar saat Dr. George datang, kondisinya tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan Dr. Geere. Dan sel-sel monster milik Dr. George mulai masuk ke tubuh Wayne, berharap pemulihannya semakin cepat dilakukan. Ferdinand pergi dari sana untuk bergabung dengan Marco tuk melawan komandan Gert. Ia tidak yakin apakah kekuatannya mampu mengalahkan monster itu.
“Bagaimana?” tanya Ferdinand.
“Entahlah, mungkin pertama kita bisa membuatnya menjauh dari sini,” melihat kebelakang tempat Dr. Geere berada. “dari awal niatnya untuk menghabisi Dr. Geere, ia tidak mungkin pergi dari sini hanya untuk melawan kita…,” keraguan mulai muncul dalam dirinya.
Asap tebal yang mengelilingi komandan mulai menghilang, tidak ada sedikitpun bekas luka dari serangan barusan. Meskipun ledakan yang terdengar cukup besar, tetapi nampaknya serangan itu belum cukup untuk melukai komandan. Tatapannya kini mengarah pada dua monster yang perbedaannya begitu kontras, yang satu berwarna perunggu mengkilat sedangkan satunya hitam. Komandan mulai berpikir untuk menyisakan Dr. Geere diakhir.
“Mereka akan terus menganggu, sebaiknya kumusnahkan dulu orang-orang yang menghalangi jalanku!” komandan menukik ke bawah, Ferdinand dan Marco terkejut.
“Eh?” dengan sigap Ferdinand dan Marco menghindarinya, hawa panas yang dikeluarkan begitu merepotkan.
Ferdinand mengeluarkan cairan berwarna ungu gelap dari kedua tangannya, ia menyerang komandan dengan cairannya itu. Namun tidak sampai jarak 2 meter dari posisi komandan berdiri, cairan itu mendadak mendidih dan musnah sambil mengeluarkan asap berwarna hitam. Dan kini komandan tahu siapa targetnya. Marco berusaha untuk membantu Ferdinand dengan pergi kearahnya.
“Hei Ferdinand, sekarang kau membelot rupanya!” didatangi seperti itu membuat Ferdinand sebisa mungkin menjauhinya, dengan hawa panas yang konsisten membuat zona aman bagi komandan. Berada dekat dengannya dapat membuat tubuhnya terbakar.
Satu dua tembakan dilancarkan oleh Marco, peluru yang terbakar itu tidak membuat komandan bergeming. Serangannya kepada Ferdinand tetap dilakukan, seluruh jemarinya dengan tepat menusuk perut Ferdinand hingga menembus. Belum lagi hawa panas yang menyengatnya membuat serangan ini begitu fatal. Ferdinand mencoba bertahan dengan mengeluarkan cairan seperti tadi dengan intensitas besar untuk melapisi seluruh tubuhnya.
“Ah, jadi cairan ini adalah racun, kau tidak lihat tadi cairan ini mendidih dan malah menjadi uap?” sindir komandan sambil melepaskan tangannya sedangkan Ferdinand berlutut tak berdaya.
“SIAL!” Marco yang marah melihatnya membuat sebuah kapak tebal berukuran raksasa, ia melompat tinggi dan menghujam kapak besarnya itu dengan kekuatan penuh.
“Hm,” kapak itu mampu ditahan oleh komandan dengan menggunakan satu tangannya, kapaknya sengaja dibuat lebih tebal agar dapat menembus zona komandan. Namun sengatan panas mulai membakarnya dan mengikis kapak itu secara perlahan. “membuat senjata yang besar dan panjang agar dapat menyerangku dari jarak yang jauh, aku terkesan….” Sekali cengkraman dari tangannya menghancurkan kapak yang dibuat oleh Marco.
Dengan kecepatan maksimal, komandan berhasil menghampiri Marco tanpa disadarinya. Tidak sempat waktu untuk berpikir dan lagi-lagi tangan komandan menusuk perut Marco hingga tertembus. Monster kumbang yang tadinya berwarna perunggu itu berubah menjadi merah karena terbakar oleh api yang dimiliki oleh komandan. Dua orang tersebut dapat dikalahkannya dengan mudah, meskipun dapat mengobati luka sendiri, tetapi luka fatal seperti itu butuh waktu lama untuk memulihkannya.
“Hei, Dr. George! Ku yakin itu kau yang berdiri di situ kan?” teriak komandan dari kejauhan.
Sosok Dr. George memang berdiri dihadapannya, sikapnya seperti menantang komandan untuk bertarung. “Sebelumnya Marco dan Ferdinand yang telah menyelamatkanku dari serbuan makhluk ganas tadi. Sekarang aku akan bertarung….,” memikirkan rekan-rekannya yang kondisinya mengkhawatirkan karena melawan komandan. “dan menjadi pembuktian bahwa aku---,” belum selesai berbicara, komandan sudah berada disampingnya, dengan santainya memegang pundak Dr. Geoge yang sudah berbentuk monster kumbang.
“Bicaralah lebih keras, aku tidak dapat mendengarnya dari jauh,” api menyala besar. Tubuh Dr. George terbakar. “mereka berlaga kuat tadi, ternyata kemampuannya hanya segini, tapi untuk memusnahkan satu negara, kurasa cukup…,” ucap komandan sambil melangkah dengan percaya diri yang begitu tinggi. “keluar kau Dr. Geere! Aku sudah sangat sopan mengucapkan namamu beserta gelar yang kau miliki!”
Suasana hutan malam yang diterangi oleh kobaran api di beberapa tempat masih sunyi, keberadaan bunker persembunyian yang jauh dari warga memang sudah tepat dibuat. Pertarungan di area pegunungan dengan hutan asrinya ini menjauhkan sipil dari mara bahaya. Mayat-mayat yang berserakan juga tidak perlu dibereskan, mereka akan menyatu dengan alam nantinya. Lagipula tidak ada yang merindukan orang yang sudah mati.
Kabut mulai muncul, hawa dingin mulai mengisi kekosongan. Dan baru disadari bahwa sosok monster yang tadi terbakar dibelakangnya sudah menghilang, begitu juga dengan dua monster sebelumnya yang hangus terbakar juga sosoknya sudah tidak ada. Perlahan hawa dingin semakin menyengat kulit, bahkan daun-daun pepohonan mulai kaku dibuatnya. Kabut semakin tebal, komandan melepaskan hawa panasnya untuk menghilangkan kabut.
“Hm, kaukah itu Dr. Geere?” berdiri didepannya sosok monster kumbang berwarna perak menyala yang tampak berbeda dari sebelumnya, armor ditubuhnya seperti seorang kesatria, lengkap dengan pedang panjang berwarna putih mengkilap. Jubah panjangnya berwarna putih semakin menguatkan identitas kesatria pada sosok itu.
“Bersiaplah…,” ucapnya pelan, tiap langkah kakinya memunculkan jejak es, Dr. Geere mendapatkan kekuatan baru berkat sel-sel monster yang diberikan oleh Dr. George. “kupastikan kali ini kau akan mati!”
ashrose dan 69banditos memberi reputasi
3
Kutip
Balas