Kaskus

Story

Mbahjoyo911Avatar border
TS
Mbahjoyo911 
Suka Duka Pemancing  [kumpulan cerpen kisah para pemancing]


 Siapa yang tak kenal memancing? Tentu semua orang sudah familiar dengan hobi yang satu ini. Sensasi perlawanan ikan yang berusaha melepaskan diri dari kail, sangat ditunggu oleh para pemancing. Bahkan banyak yang tak segan mengeluarkan dana yang besar hanya untuk merasakan sensasi tarikan ikan.

 Sebagian besar orang menganggapnya sebagai hobinya orang malas, tapi sebagian lagi menganggap mancing itu bisa melatih kesabaran. Tapi kenyataannya malah bertolak belakang, hanya orang sabar saja yang betah memancing berjam-jam. 

 Tapi ternyata hobi memancing juga tak luput dari kejadian konyol, lucu, misterius, horor dan bahkan tragis. Dan disini TS mencoba merangkumnya dalam suatu kumpulan cerpen kisah para pemancing dan semua kejadian yang dialami pemancing saat berusaha menangkap ikan, baik cuma untuk sekedar hobi, maupun untuk lauk buat makan malam.

 Kisah ini diambil dari cerita-cerita para pemancing, ditambah dengan banyak bumbu-bumbu fiksi. Semua nama tokoh dan nama tempat telah disamarkan. Jadi sekiranya ada kesamaan nama dan tempat, maka itu adalah suatu kebetulan saja.

Selamat membaca..



-----------------------------------




Terima Kasih


 Kriing..! Kriiingg..! Kriing…!

 Edi terbangun oleh bunyi jam weker di meja dekat tempat tidur. Memang Edi adalah orang yang nyentrik, dia lebih memilih jam weker yang ada gambar ayam mengangguk-ngangguk, daripada memakai alarm di smartphone nya. Untuk beberapa saat Edi tertegun heran.

 Bukan karena bunyi jam weker yang bikin Edi heran, karena bunyi jam weker dari dulu juga gitu-gitu aja. Edi heran karena saat itu masih jam tiga pagi! Jadi buat apa dia memasang alarm di pagi buta gini?! Lalu dia ingat kalo hari ini adalah hari minggu, dan dia sudah janjian mau memancing bersama pak Bejo di waduk utara.

 Edi mengendap-endap keluar kamar dengan perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Karena kalau istrinya sampai ikut kebangun, maka rencana memancing hari itu akan gagal total, tentu saja istrinya tidak akan mengizinkannya untuk berangkat memancing.

 Setelah menyiapkan semua peralatan tempurnya untuk menangkap ikan, Edi gas motor hond*  bututnya menuju ke rumah pak bejo. Hawa sangat dingin menerpa, hingga dia harus pelan-pelan menjalankan motornya. Sepuluh menit perjalanan, sampailah di rumah pak Bejo, ternyata dia sudah menunggu di depan rumahnya.

Quote:


 Dengan berboncengan, mereka berangkat menuju ke waduk, membelah jalanan yang masih sangat sepi dan sedikit berkabut. Kali ini tehnik memancing yang mereka gunakan adalah tehnik yang sering disebut sebagai 'nyobok',dengan tangkai pancing yang sangat panjang yang sering disebut 'tegek', umpan yang dipakai adalah lumut, dan pemancing harus nyemplung ke air sampai sedalam dada. Ikan yang ditarget adalah ikan nila.





 Singkat cerita, mereka sampai di pasar kerbau. Meskipun baru jam 5 pagi dan matahari belum terbit, tapi pasar itu sudah sangat ramai, banyak juga para pemancing yang membeli peralatan disitu, hingga Edi dan pak Bejo harus ikut berdesakan untuk membeli lumut.

 Setelah mendapat lumut, mereka mampir di salah satu warung untuk sarapan, juga membeli nasi bungkus dan lauk untuk makan siang nanti. Beres semua urusan di pasar itu, mereka lanjut lagi perjalanan menuju ke lokasi pemancingan.

 Matahari sudah tampak di ufuk timur saat mereka tiba di pinggiran waduk. Tanpa buang waktu mereka pun mulai menyiapkan semua peralatan pancing tehnik 'nyobok'. Setelah meninggalkan tasnya di pinggir waduk, Edi langsung nyemplung ke air untuk mulai mancing, sedangkan pak Bejo masih duduk santai sambil merokok. Mendadak Edi terpekik saat kakinya menyentuh air waduk.

Quote:


 Kepalang tanggung, celananya Edi sudah basah, jadi dia nekat terusin berjalan dengan memijak di dasar air. Setelah air sudah sedalam dada, Edi mulai menebar lumut alias 'ngebom', hal ini bertujuan untuk memancing ikan nila agar mendekat ke situ. Lalu Edi memasang umpan di mata kailnya berupa lumut atau hydrilla yang panjang-panjang seperti rambut. Barulah setelah itu dia cemplungkan kailnya dengan memakai joran sepanjang 5,5 meter. 

 Setengah jam, tapi belum juga ada ikan yang nyangkut. Sementara matahari makin terasa panas. Pak Bejo terlihat sudah mulai memancing juga, berjarak sekitar 20 meter di sebelah kirinya Edi. Sedangkan 15 meter di sebelah kanan Edi ada seorang pemancing lain juga. Dia adalah seorang pemuda berusia 25 tahunan, sepantaran dengan Edi. Orang itu memakai kaos panjang berpenutup kepala alias hoodie berwarna biru. Panjang joran pancingnya sekitar 6 meteran, Cuma tiga orang itu saja yang yang memancing di spot itu.

Quote:


 Tapi harapan tinggal harapan, sampai menjelang tengah hari, Edi tidak mendapat ikan lagi, cuma satu saja yang dia dapat sejauh ini. Maka dia memutuskan untuk keluar dari air, beristirahat sambil makan siang. Edi duduk di tanah kering di pinggiran waduk dan mulai menikmati nasi bungkusnya. Tak lama kemudian, pak Bejo terlihat datang menghampiri, dia membawa tiga ekor ikan sebesar empat jari.

Quote:


 Mereka ngobrol sambil menghabiskan makan siangnya. Setelah itu merekapun kembali teruskan memancing. Edi berpindah spot menjadi lebih dekat ke pak Bejo, jarak mereka kini sekitar 10 meter. Dan orang yang memancing di sebelah kanan Edi tadi ikut berpindah di dekat Edi. Jarak mereka sama, yaitu 10 meter.

 Tiga jam berlalu, Edi sudah mengangkat dua ikan nila lagi sebesar telapak tangan, jadi jumlah perolehannya tiga ekor. Sedangkan pak Bejo dapat lima ekor, dan orang berhoodie di dekat Edi tadi cuma dapet satu ekor. Mereka mulai tampak putus asa. Dan langitpun sudah mulai mendung tebal. Maka Edi memutuskan untuk menyudahi mancing hari itu.

 Mendung menggelap dengan cepat, gelegar petir dan tiupan angin semakin kencang. Edi duduk di tanah kering di pinggir waduk, tepat dibelakang orang berhoodie tadi. Edi mempercepat kegiatannya mengepak semua peralatan pancingnya. Dan pak Bejo pun menyusulnya.

Quote:


 Belum selesai mereka packing, tau-tau hujan turun seperti dicurahkan dari langit, sangat deras disertai angin kencang dan gelegar petir tak berkesudahan. Edi dan pak Bejo segera memakai jas hujannya dan hendak beranjak meninggalkan waduk. Saat itulah mata Edi tertumbuk pada orang berhoodie yang masih aja nyemplung di air sambil asik mancing. Dengan keheranan, Edi mulai perhatikan orang itu. Dan saat orang itu mengangkat jorannya tinggi-tinggi ke udara..

 Glaaarrrr….!

 Satu kilatan petir sangat besar menyambar tepat di joran pancing orang itu. Edi dan pak Bejo berteriak keras bersamaan. Joran itu hancur berkeping-keping, sedangkan tubuh orang itu mengeluarkan asap. Perlahan tubuh itu mulai tenggelam ke dalam air sedalam dada.

 Untuk beberapa detik Edi dan pak Bejo terdiam mematung. Apa yang terjadi di depan mata mereka menimbulkan keterkejutan teramat sangat. Bandan Edi terlihat gemetaran, seumur hidup belum pernah dia melihat kejadian tragis semacam ini.

 Pak Bejo lebih dulu sadar, dia langsung berlari dan menceburkan diri ke air waduk, berenang ke arah tenggelamnya orang tadi. Lalu Edi pun menyusul. Mereka berdua menyelam sampai ke dasar, hingga akhirnya mereka menemukan tubuh orang berhoodie tadi.

Sambil berenang, Edi dan pak Bejo menyeret tubuh orang berhoodie itu ke pinggiran waduk. Dan saat tubuh orang itu sudah diangkat ke darat, Edi dan pak Bejo baru menyadari kalau orang berhoodie tadi sudah meninggal dengan tubuh yang mengerikan.

 Wajah orang itu hitam gosong, kulitnya mengelupas-ngelupas, pecah-pecah dan mengeluarkan darah, sebagian rambutnya habis seperti terbakar. Tangan kanan yang memegang joran tadi hancur sebatas pergelangan tangan, jari-jari dan telapak tangan itu seperti habis dimasukkan ke dalam mesin penggiling daging.

 Tanpa sadar Edi mundur, apa yang dilihatnya itu terlalu mengerikan. Mereka berdiri mematung di tengah curahan hujan lebat dan angin kencang, mereka terlalu shock sampai nggak tau harus berbuat apa lagi. Lima menit berlalu, dan pak Bejo segera sadar.

Quote:


 Pak Bejo membuka tasnya dan mengubek-ubek isinya, lalu dia mengeluarkan satu bungkusan plastik bening berisi hp nya. Setelah itu sia tampak bicara lewat telepon dengan berteriak, karena hujan yang sedemikan lebat membuatnya tidak bisa didengar.

 Setelah menelepon, pak Bejo mengajak Edi untuk pindah tempat, kini mereka berlindung di bawah sebuah pohon, karena sampai saat itu petir masih saja bersahut-sahutan, ditingkahi hujan lebat dan angin badai. Pak Bejo tampak mengutak-atik hpnya. Pikiran mereka nggak karuan, baru kali ini Edi melihat orang tersambar petir tepat di depan matanya, sedangkan pak Bejo baru kali ini melihat korban sambaran petir yang sedemikian parahnya.

Quote:


 Mereka lalu sama-sama terdiam, menunggu di bawah pohon itu. Sementara jasad orang berhoodie tadi masih ditinggal di tepian waduk, dibawah curahan hujan lebat. Satu jam berlalu, saat itulah sekilas mereka melihat kilatan lampu biru dan merah, lampu mobil polisi. 

 Bergegas mereka naik menuju ke jalan aspal. Disana sudah ada sebuah mobil dan dua orang polisi bersama dua orang warga sekitar. Pak Bejo menceritakan secara singkat apa yang telah terjadi, lalu mereka berenam pun kembali turun menuju waduk, menghampiri jasad orang berhoodie tadi.

 Salah satu polisi segera melakukan beberapa panggilan lewat radio, dan polisi satunya mulai menyisir daerah sekitar situ. Edi dan pak Bejo cuma duduk di tanah, tak jauh dari jasad yang tergeletak itu. Sesekali mereka menjawab pertanyaan dua polisi dan dua warga itu.

 Setengah jam berlalu, terdengarlah raungan sirene mobil ambulans. Salah satu polisi segera naik kembali ke jalan aspal. Tak lama kemudian dia balik lagi bersama dua petugas medis membawa tandu pengangkut. Bersama-sama mereka memasukkan jasad orang berhoodie ke dalam kantung mayat dan menaikkannya ke atas. Lalu dengan menggotong tandu mereka mulai beranjak naik.

 Jalan itu sangat terjal, apalagi hari lagi hujan, membuat jalan makin licin dan evakuasi itu semakin sulit saja. Edi dan pak Bejo ikut membantu mengusung tandu itu. Saat dalam perjalanan, tampak seorang warga lagi ikut bergabung, dia ikut mengangkat tandu, tepat di depan Edi. 

Langit sudah benar-benar menggelap saat mereka sampai di atas. Makin banyak mobil polisi, ambulan dan juga warga sekitar. Beberapa petugas medis kembali datang untuk ikut mengusung tandu. Maka Edi dan pak Bejo melepas tandu itu. Mereka berdua berdiri di pinggir jalan aspal. 

 Ada satu warga yang berdiri di sebelah Edi, dia adalah orang yang tadi ikut membantu mengangkat tandu, tepat di depan  Edi. Tanpa sadar Edi memperhatikan orang itu, wajahnya tertutupi hoodie dari kaos yang dipakainya. Entah kenapa perasaan nggak enak mulai merayapi hati Edi.

Quote:


 Orang itu menoleh ke arah Edi, tampa menjawab, perlahan dia membuka hoodie alias penutup kepalanya, dan dibawah penerangan lampu ambulan, terlihat jelas bagaimana wajah orang itu.

Wajah itu hitam gosong, kulitnya mengelupas dan pecah-pecah mengeluarkan darah. Dia mengangkat tangan kanannya. Dan tangan itu hancur sampai pergelangan. Orang itu adalah korban dari sambaran petir tadi! Dan sebelum pandangan Edi menggelap karena kehilangan kesadaran, masih sempat terdengar suara mengiang di telinganya.

Quote:





-----<<<{O}>>>-----



INDEX


Diubah oleh Mbahjoyo911 15-02-2022 18:58
sormin180Avatar border
UlqioraAvatar border
c4kr4d3w4Avatar border
c4kr4d3w4 dan 93 lainnya memberi reputasi
92
35.7K
1.5K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
Mbahjoyo911Avatar border
TS
Mbahjoyo911 
#142
Lanjutan
 Bunyi gemericik air membangunkan Juned dari tidurnya, suaranya persis seperti ada seseorang yang sedang mencuci kaki di air waduk. Juned pun celingukan mencari, tapi nggak ada satu orangpun di tepian air. Tanpa menggubrisnya, Juned beranjak menyalakan api unggun yang sudah hampir padam, karena udara terasa sangat dingin.

 Waktu menunjuk di jam 2 pagi. Rasa pusing akibat alkohol tadi sudah agak mereda, tapi tiba-tiba saja Juned merasa sangat lapar. Lalu dia teringat dengan ikan tangkapan pak Bejo dan Edi tadi. Ikan itu masih tergeletak di dekat api unggun.

 Tanpa pikir panjang, Juned mengambil tiga ekor ikan itu dan beranjak menuju tepian air untuk membersihkannya. Lagi fokus membersihkan ikan, tiba-tiba terdengar lagi gemericik air di samping kirinya, seperti ada orang yang bermain air, kali ini terdengar sangat jelas. 

 Tapi lagi-lagi tidak ada orang sama sekali, bahkan permukaan air waduk itu tampak tenang tanpa riak sedikitpun. Juned adalah orang yang cuek dengan segala penampakan, jadi dengan santainya dia jalan kembali ke api unggun di depan tenda. Saat itulah dia merasakan tiupan angin yang sangat keras dari belakang, dari arah waduk!

 Sebelum Juned sempat berbalik, tiupan angin itu telah melewati dirinya dan menyasar ke satu tenda yang di pakai oleh Mamat dan Supri. Tenda itu seperti dilanda angin ribut, berguncang-guncang dan seperti hendak terangkat dari tanah. Dan anehnya, tenda satunya yang dihuni pak Bejo dan Edi situ seakan tidak tersentuh oleh angin keras itu!

 Cuma sebentar saja tenda itu terguncang dengan hebat, setelah itu angin seakan pergi begitu saja. Juned sudah tau kalau dia sedang dikerjai dengan angin lokal dan suara gemericik air tadi, tapi tanpa mengacuhkannya dia teruskan langkah ke arah api unggun dan mulai membakar tiga ekor ikan tadi.

 Setelah ikan matang, Juned langsung memakannya tanpa bumbu apapun. Perutnya kini terasa kenyang karena tiga ekor ikan itu sebesar telapak tangan. Lalu dia kembali teruskan tidurnya, rebah di dekat si Jon seakan tidak pernah terjadi apa-apa, meskipun begitu, tangan kanannya tetap menggenggam erat golok andalannya. Juned pun terlelap.

 Tapi mendadak saja Juned mendengar helaan napas keras dari si Jon, dan badannya terasa bergetar keras. Juned membuka mata, dan mendapati satu siluet manusia tepat diatasnya! Dengan penerangan cahaya api unggun, Juned bisa melihat silet itu adalah seorang laki-laki yang sudah sangat tua, pipinya kempot dan sangat keriput.

 Orang tua itu memakai baju hitam dan semacam blangkon batik di kepalanya. Dia duduk di sebelahnya si Jon, melongok melewati atas tubuh si Jon dengan tangan kanan bertumpu pada dada si Jon. Inilah sebab kenapa si Jon jadi kesulitan bernapas hingga dia berusaha menghela napas dengan sangat keras.

Quote:


 Tanpa ragu lagi, Juned langsung babatkan goloknya ke arah kepala sosok orang tua tadi. Dia kuatir kalau si orang tua akan melukai si Jon. Tapi sebelum golok itu sampai di kepala, tiba-tiba sosok orang tua itu menghilang begitu saja. 

 Juned masih terduduk nanar, si si Jon sudah tertidur lagi dengan tenang, tubuhnya sudah tidak bergetar dan napasnya sudah teratur. Ternyata orang tua tadi adalah bangsa makhluk halus yang hendak mengganggunya. Juned mulai berpikir, suara kecipak air waduk, angin keras yang cuma bertiup ke satu tenda saja, dan penampakan sosok orang tua tadi, semua adalah bukti kalau Juned sedang diincar.

Quote:


 Akhirnya Juned memutuskan untuk melanjutkan tidur lagi. Goloknya masih tergenggam di tangan kanan, bersiap menghadapi segala gangguan. Dan setelah itu sudah tidak ada lagi gangguan yang datang.

 Pagi hari, saat matahari terbit, Juned terbangun dengan perut seperti dipelintir. Dia lari ke tepian waduk  dan muntah-muntah banyak sekali. Bahkan ikan yang dimakannya semalam ikut keluar semua. Juned terduduk lemas di tepian air, dia tak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya. Pak Bejo datang menghampirinya.

Quote:


 Akhirnya pak Bejo pun meninggalkan Juned di tepian waduk itu untuk mencari spot sendiri. Saat ini lagi musimnya tawes di waduk utara ini. Ikan tawes melimpah ruah dan besar-besar, jadi rombongan itu seolah sepakat menetapkan ikan tawes sebagai target hari ini.

 Teknik memancing kali ini sangat berbeda, yaitu teknik 'nyeret', memancing dengan pelampung yang terbuat dari batang bawang putih atau potongan sandal. Kedalaman titik serang cuma dua jengkal dari permukaan air. Umpan yang digunakan adalah pelet lele yang sudah diberi air hingga berbentuk gumpalan menyatu.

 Sebelumnya permukaan air disebari pur br pakan ayam untuk memancing tawes datang, setelah itu umpan baru di cemplungkan ke air. Pelampung berada di permukaan air itu diseret sangat perlahan ke kiri dan kanan bolak-balik, dan otomatis umpan yang berada di dalam air ikut terseret dan bergerak. Itulah sebabnya teknik ini dinamakan 'nyeret'.

 Saat ada tawes yang menyambar umpan, maka biasanya ikan akan nyangkut sendiri di mata kail tanpa perlu menyentakkan jorannya. Sebenarnya teknik ini sangat gampang, tapi butuh latihan lama. Dalam rombongan itu cuma Supri belum bisa menggunakan teknik ini.

 Dua jam berlalu, matahari mulai meninggi.  Juned masih terduduk nanar di depan tenda, badannya masih terasa lemas. Dia cuma memperhatikan Supri yang lagi nyobok di depannya. Karena Supri tidak bisa memancing dengan teknik nyeret, maka dia memutuskan untuk nyobok dengan umpan lumut saja.

Quote:


 Juned mulai memperagakan cara menyeting pancing khusus untuk wader, dengan joran pendek dan kecil, senar tipis, pelampung dan timah kecil, mata kailpun dipilih yang paling kecil, dengan umpan cacing yang secuil. Semua serba kecil karena wader juga kecil.

 Entah karena putus asa atau penasaran, akhirnya Supri ikut memancing wader juga. Dan setengah harian itu mereka berdua malah asyik memancing wader yang besarnya tak lebih dari jari telunjuk itu. Memang sangat seru memancing wader, karena hidupnya bergerombol banyak banget, jadi sambaran pada umpan terus datang tanpa henti.

 Menjelang tengah hari, mereka sudah mendapat wader sebanyak satu ember cat lima kiloan! Maka mereka pun memutuskan untuk beristirahat. Menanak nasi, telur, mie instan untuk makan siang. Saat itulah anggota rombongan yang lain mulai berdatangan, rata-rata mereka membawa hasil yang banyak.

 Satu orang menyumbang tiga ekor tawes untuk digoreng di tempat itu juga. Dan saat semua makanan telah masak, seluruh rombongan mulai menikmati makan siang bersama di tenda. Menunya adalah nasi, telur, mie instan dan tentunya taees goreng. Dengan piring dari daun pisang. Sungguh suatu acara camping catch and cookyang sebenarnya.

 Mendung datang bergulung-gulung saat mereka selesai makan, cuaca yang tadinya sangat cerah pun berubah seketika. Tapi mereka masih harus membersihkan ikan tangkapan masing-masing, jadi sebelum hujan, mereka pun mulai melakukannya.

Quote:


 Maka Supri dan Juned mulai kerja sama membersihkan wader seember itu. Mereka berlomba dengan waktu karena mendung makin lama makin menghitam. Tapi untunglah, hujan turun tepat pada saat mereka selesai. Mereka segera berlarian ke tenda.

 Hujan turun dengan sangat lebat bagai tercurah dari langit, tapi semua rombongan telah berada di dalam dua tenda dome itu. Mereka sempat tidur juga sambil menunggu hujan. Tapi sampai jam setengah 4 sore, hujan belum berhenti juga. Niat untuk meneruskan macimg setelah makan siang jadi gagal total. Merekapun berkumpul berdesakan dalam satu tenda untuk berunding.

Quote:


 Dibawah curahan hujan yang lebat itu mereka mulai membongkar tenda, packing segala peralatan masak dan juga semua alat pancing. Dalam tempo setengah jam, semua sudah beres,dan merekapun mulai meninggalkan pinggiran waduk itu.

 Tidak seperti waktu berangkat kemarin yang mengambil jalan memutar untuk menghindari kuburan, kali ini mereka lewat di jalan utama, dan tentu saja melewati kuburan itu. Supri terlihat bergidik ngeri karena baru mengetahui kalo tenda mereka terletak sangat dekat dengan kuburan.

 Juned masih bisa melihat lubang-lubang pada beberapa kuburan itu, lubang bekas patok-patok yang dia cabut semalam. Dan ditengah curahan hujan yang sangat lebat, Juned melihat satu sosok yang berdiri di salah satu kuburan itu. Sosok orang tua berbaju hitam dan berblangkon batik di kepala, dan dia  sedang menatap tajam ke arah Juned!

 Juned teruskan langkah tanpa menggubrisnya, tapi tangannya tetap memegang gagang golok dengan erat. Sepertinya cuma dia yang bisa melihat sosok orang tua, karena yang lain tampak tenang saja. Untungnya perjalanan itu tidak mendapat gangguan apapun sampai mereka tiba di perkampungan penduduk.



-----<<<{O}>>>-----


pecong3
banggesar
andir004
andir004 dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.