- Beranda
- Stories from the Heart
Asrama Horror Story
...
TS
chomchorom
Asrama Horror Story
Hai agan sekalian..
Ane yg masih newbie ini ingin menuliskan sebuah kisah kelam seorang gadis yg tinggal di sekolah berasrama. Mohon maaf jika banyak kekurangan. Welcome kritik dan saran yg ramah.. 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak dan bagi cendolnya yaaa 🙈🙈

Index:
Bab Satu
Bab Dua
Bab Tiga
Bab Empat
Bab Lima
Bab Enam
Bab Tujuh
Bab Delapan
Bab Sembilan
Bab Sepuluh
Bab Sebelas
Ane yg masih newbie ini ingin menuliskan sebuah kisah kelam seorang gadis yg tinggal di sekolah berasrama. Mohon maaf jika banyak kekurangan. Welcome kritik dan saran yg ramah.. 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak dan bagi cendolnya yaaa 🙈🙈

Quote:
Index:
Bab Satu
Bab Dua
Bab Tiga
Bab Empat
Bab Lima
Bab Enam
Bab Tujuh
Bab Delapan
Bab Sembilan
Bab Sepuluh
Bab Sebelas
Diubah oleh chomchorom 26-05-2022 23:05
JabLai cOY dan 15 lainnya memberi reputasi
16
5K
55
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chomchorom
#11
Bab 5
Sesuai janji, malem ini ane update lagi gan. Selamat membaca~

Tubuh Andin dan Dhea seolah membeku. Dihadapan mereka sesosok pria dengan wajah mengerikan yg hancur dan penuh belatung yg terus berjatuhan sedang berdiri menatap mereka berdua. Bau busuk yg menusuk hidung mereka membuat Dhea tak kuasa menahan mualnya.
Sosok tersebut berdiri hanya terpaut 1 meter di depan mereka.
Andin memijat tengkuk Dhea yg muntah di sebelahnya, sambil sesekali menatap sosok mengerikan tadi. Memastikan sosok tersebut tidak berpindah tempat atau mendatangi mereka.
"Papaaaahh.....!!" Anita berteriak dari belakang mereka
"Nit tunggu!!" Andin menahan sebelah tangan Anita yg tengah berlari kecil menghampiri sosok mengerikan di depan mereka.
"Papah...." Suara anita terdengar melemah lalu tubuhnya terkulai lemah
"Loh.. Nit?!!" Andin dengan cepat menangkap tubuh Anita yg lunglai dipelukannya.
Dhea yg lelah karena muntah mulai mengendalikan dirinya dan mendongak untuk berdiri.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!" Dhea dikejutkan oleh sosok mengerikan yg kini berada tepat di depan wajahnya. Mengerang meminta pertolongan di telinga Dhea.
Andin yg juga terkejut reflek memejamkan matanya rapat-rapat sambil memeluk tubuh Anita.
Andin menghitung didalam hatinya. Sudah pada hitungan ke 10 tetapi tidak terdengar suara apapun. Andin mengintip perlahan dari sebelah matanya.
Kosong. Dhea menghilang begitu saja. Andin yg panik berusaha membangunkan Anita yg masih berada di pelukannya.
Anita perlahan sadar dan sangat panik begitu membuka matanya. Andin memeluk tubuh sahabatnya erat sambil menjelaskan situasinya.
Anita yg sudah sepenuhnya sadarpun mulai tenang.
"Din.. Kita.. Pulang yuk??" Bisik Anita sambil memeluk lengan Andin erat
"Terus Dhea gimana Nit??"
"Duh.. Kita harus nyari keliling sekolah din?? Sekarang???"
"Terus kapan Nit? Dhea loh ilang.."
"Feeling gue ga enak banget din.."
"Udah tenang. Berdoa aja supaya Tuhan jaga kita"
Keduanya sampai di lantai 2 sekolah mereka. Mengintip setiap jendela kelas yg mereka lewati. Mencari keberadaan Dhea.
Mereka berhenti karena ada seseorang yg menyoroti keduanya dengan lampu senter dan berjalan ke arah mereka
"Siapa disana???"
"Ah.. Kita.." Anita yg kaget dengan gugup meremas lengan Andin
"Maaf pak kita lagi nyari catatan teman saya yg hilang. Terus denger suara orang di lantai 2 jadi kita keatas. Ternyata ada bapak hehe"
"Udah udah ayo pulang! Udah jam 3 pagi ini!"
"Hehe iya paaaaaakkkk"
"Kalian berdua aja??"
"Eh???"
"Yg di kelas ujung itu teman kalian bukan??"
"Tadi kita bertiga sih pak tapi temen saya tiba-tiba ilang. Makanya kita kesini hehe"
"Yaudah sana di ajak pulang temennya. Saya tunggu disini"
"Ok pak.."
Mereka berjalan ke arah kelas yg ditunjuk satpam tersebut.
Andin menarik napas dalam dan membuka pintu.
Dhea sedang duduk di salah satu bangku siswa kelas itu.
Andin dan Anita menghapirinya dengan sangat perlahan.
"Dhe...." Andin memanggil Dhea pelan
"Dhe.. Pulang yukk.." Bisik Anita yg ketakutan
"Dhe..??" Andin menepuk punggung Dhea dengan ujung jarinya. Dhea tak merespon
Andin dan Anita saling berpandangan. Rasa khawatir dan takut bercampur menjadi satu.
"Dheeee.." Kali ini Andin memberanikan diri menepuk punggung Dhea dengan benar.
"Hmmm.." Suara Dhea terdengar seperti orang yg sedang tidur
"Dhe.. Banguuuunnn..."
"Iyaaaa.. Bentar lagi.."
"Dhe.. Banguuuunn... Ditungguin pak satpaaaam"
"Hah? Satpam???" Dhea terbangun dan lebih tetkejut lagi melihat dirinya berada di dalam kelas yg gelap
Ketiganya keluar kelas dan diantar satpam sampai ke depan gerbang asrama mereka.
Andin menoleh ke belakang. Melihat sosok gadis berseragam sekolah mereka sedang melambaikan tangan dan tersenyum padanya.
Begitu sampai di kamar, mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat tanpa membicarakan apapun yg telah terjadi malam itu.
Mereka terlalu lelah untuk membahasnya malam itu juga.
Andin menatap langit-langit kamarnya sambil mengingat-ingat wajah gadis yg melambaikan tangan padanya di gerbang tadi.
Berusaha mengingat-ingat wajah yg tampak familiar itu hingga tertidur karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.
Andin membuka mata dan melihat sekeliling dengan bingung. 'Ini... Kantor yayasan??' Pikirnya
"Bilang bundamu, nanti pulangnya biar saya antar sampai bandara" Ucap seorang pria dengan tanda lahir di tengkuknya
"Ga usah pak gapapa. Saya udah biasa naik kendaraan umum kok" Jawab gadis tersebut
"Gapapa.. Bunda pasti lebih tenang kalo kamu saya antar.."
"Tapi..."
"Udah bilang aja. Percaya deh. Bunda pasti senang"
"Hmmm.. Okay.. Saya bilang bunda dulu.."
Andin memperhatikan gadis yg sedang menelepon bundanya tersebut. Akhirnya dia diizinkan diantar sampai bandara setelah bundanya berbicara dengan pria tersebut melalui telepon.
Siangnya pria tersebut meminta sang gadis untuk bersiap pergi dengan nya. Gadis itupun bingung. Karena tiket pesawat yg di belinya bukanlah untuk penerbangan hari ini melainkan untuk besok.
Pria tersebut mengajaknya keluar untuk makan siang bersama karena sudah hari bebas sekolah dan murid di perbolehkan keluar.
Gadis tersebut ragu. Tapi akhirnya mau karena pria tersebut berkata telah meminta izin bundanya untuk mengajaknya refreshing dan makan siang.
Keduanya makan siang di restoran yg tampak mewah. Gadis tersebut merasa sangat canggung dan terbebani oleh sikap pria tersebut.
Andin mendekati mereka berdua. Hendak melihat wajah pria dengan tanda lahir di tengkuknya itu. Tetapi seseorang memanggilnya.
"Din! Andin! Bangun din.." Dhea membangunkan Andin yg tengah tidur pulas
"Din.. Udah siang din.. Lo gapapa kan ya??" Anita ikut membangunkannya karena khawatir Andin tak hanya tidur melainkan pingsan seperti sebelumnya.
"Hmmh..." Andin terbangun dan menatap kedua sahabatnya bingung
"Apa? Ada apa?" Tanya Andin
"Gue kirain lu pingsan lagi din.. Lu tidur nya anteng banget kek orang pingsan.." Jawab Dhea
"Iya. Kita kan jadi takut lu kenapa napa lagi.."
"Ohh hahaha enggak kok. Cuma emang sih gue minpi sesuatu.."
Andin menceritakan apa yg dilihatnya dimimpi kepada Dhea dan Anita. Keduanya menyimak dengan serius tanpa memotong cerita Andin sedikitpun sampai selesai.
Setelah Andin selsesai menceritakan mimpi nya Dhea tiba-tiba angkat suara.
"Gue jadi inget.. Semalem gue...."

Tubuh Andin dan Dhea seolah membeku. Dihadapan mereka sesosok pria dengan wajah mengerikan yg hancur dan penuh belatung yg terus berjatuhan sedang berdiri menatap mereka berdua. Bau busuk yg menusuk hidung mereka membuat Dhea tak kuasa menahan mualnya.
Sosok tersebut berdiri hanya terpaut 1 meter di depan mereka.
Andin memijat tengkuk Dhea yg muntah di sebelahnya, sambil sesekali menatap sosok mengerikan tadi. Memastikan sosok tersebut tidak berpindah tempat atau mendatangi mereka.
"Papaaaahh.....!!" Anita berteriak dari belakang mereka
"Nit tunggu!!" Andin menahan sebelah tangan Anita yg tengah berlari kecil menghampiri sosok mengerikan di depan mereka.
"Papah...." Suara anita terdengar melemah lalu tubuhnya terkulai lemah
"Loh.. Nit?!!" Andin dengan cepat menangkap tubuh Anita yg lunglai dipelukannya.
Dhea yg lelah karena muntah mulai mengendalikan dirinya dan mendongak untuk berdiri.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!" Dhea dikejutkan oleh sosok mengerikan yg kini berada tepat di depan wajahnya. Mengerang meminta pertolongan di telinga Dhea.
Andin yg juga terkejut reflek memejamkan matanya rapat-rapat sambil memeluk tubuh Anita.
Andin menghitung didalam hatinya. Sudah pada hitungan ke 10 tetapi tidak terdengar suara apapun. Andin mengintip perlahan dari sebelah matanya.
Kosong. Dhea menghilang begitu saja. Andin yg panik berusaha membangunkan Anita yg masih berada di pelukannya.
Anita perlahan sadar dan sangat panik begitu membuka matanya. Andin memeluk tubuh sahabatnya erat sambil menjelaskan situasinya.
Anita yg sudah sepenuhnya sadarpun mulai tenang.
"Din.. Kita.. Pulang yuk??" Bisik Anita sambil memeluk lengan Andin erat
"Terus Dhea gimana Nit??"
"Duh.. Kita harus nyari keliling sekolah din?? Sekarang???"
"Terus kapan Nit? Dhea loh ilang.."
"Feeling gue ga enak banget din.."
"Udah tenang. Berdoa aja supaya Tuhan jaga kita"
Keduanya sampai di lantai 2 sekolah mereka. Mengintip setiap jendela kelas yg mereka lewati. Mencari keberadaan Dhea.
Mereka berhenti karena ada seseorang yg menyoroti keduanya dengan lampu senter dan berjalan ke arah mereka
"Siapa disana???"
"Ah.. Kita.." Anita yg kaget dengan gugup meremas lengan Andin
"Maaf pak kita lagi nyari catatan teman saya yg hilang. Terus denger suara orang di lantai 2 jadi kita keatas. Ternyata ada bapak hehe"
"Udah udah ayo pulang! Udah jam 3 pagi ini!"
"Hehe iya paaaaaakkkk"
"Kalian berdua aja??"
"Eh???"
"Yg di kelas ujung itu teman kalian bukan??"
"Tadi kita bertiga sih pak tapi temen saya tiba-tiba ilang. Makanya kita kesini hehe"
"Yaudah sana di ajak pulang temennya. Saya tunggu disini"
"Ok pak.."
Mereka berjalan ke arah kelas yg ditunjuk satpam tersebut.
Andin menarik napas dalam dan membuka pintu.
Dhea sedang duduk di salah satu bangku siswa kelas itu.
Andin dan Anita menghapirinya dengan sangat perlahan.
"Dhe...." Andin memanggil Dhea pelan
"Dhe.. Pulang yukk.." Bisik Anita yg ketakutan
"Dhe..??" Andin menepuk punggung Dhea dengan ujung jarinya. Dhea tak merespon
Andin dan Anita saling berpandangan. Rasa khawatir dan takut bercampur menjadi satu.
"Dheeee.." Kali ini Andin memberanikan diri menepuk punggung Dhea dengan benar.
"Hmmm.." Suara Dhea terdengar seperti orang yg sedang tidur
"Dhe.. Banguuuunnn..."
"Iyaaaa.. Bentar lagi.."
"Dhe.. Banguuuunn... Ditungguin pak satpaaaam"
"Hah? Satpam???" Dhea terbangun dan lebih tetkejut lagi melihat dirinya berada di dalam kelas yg gelap
Ketiganya keluar kelas dan diantar satpam sampai ke depan gerbang asrama mereka.
Andin menoleh ke belakang. Melihat sosok gadis berseragam sekolah mereka sedang melambaikan tangan dan tersenyum padanya.
Begitu sampai di kamar, mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat tanpa membicarakan apapun yg telah terjadi malam itu.
Mereka terlalu lelah untuk membahasnya malam itu juga.
Andin menatap langit-langit kamarnya sambil mengingat-ingat wajah gadis yg melambaikan tangan padanya di gerbang tadi.
Berusaha mengingat-ingat wajah yg tampak familiar itu hingga tertidur karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.
Andin membuka mata dan melihat sekeliling dengan bingung. 'Ini... Kantor yayasan??' Pikirnya
"Bilang bundamu, nanti pulangnya biar saya antar sampai bandara" Ucap seorang pria dengan tanda lahir di tengkuknya
"Ga usah pak gapapa. Saya udah biasa naik kendaraan umum kok" Jawab gadis tersebut
"Gapapa.. Bunda pasti lebih tenang kalo kamu saya antar.."
"Tapi..."
"Udah bilang aja. Percaya deh. Bunda pasti senang"
"Hmmm.. Okay.. Saya bilang bunda dulu.."
Andin memperhatikan gadis yg sedang menelepon bundanya tersebut. Akhirnya dia diizinkan diantar sampai bandara setelah bundanya berbicara dengan pria tersebut melalui telepon.
Siangnya pria tersebut meminta sang gadis untuk bersiap pergi dengan nya. Gadis itupun bingung. Karena tiket pesawat yg di belinya bukanlah untuk penerbangan hari ini melainkan untuk besok.
Pria tersebut mengajaknya keluar untuk makan siang bersama karena sudah hari bebas sekolah dan murid di perbolehkan keluar.
Gadis tersebut ragu. Tapi akhirnya mau karena pria tersebut berkata telah meminta izin bundanya untuk mengajaknya refreshing dan makan siang.
Keduanya makan siang di restoran yg tampak mewah. Gadis tersebut merasa sangat canggung dan terbebani oleh sikap pria tersebut.
Andin mendekati mereka berdua. Hendak melihat wajah pria dengan tanda lahir di tengkuknya itu. Tetapi seseorang memanggilnya.
"Din! Andin! Bangun din.." Dhea membangunkan Andin yg tengah tidur pulas
"Din.. Udah siang din.. Lo gapapa kan ya??" Anita ikut membangunkannya karena khawatir Andin tak hanya tidur melainkan pingsan seperti sebelumnya.
"Hmmh..." Andin terbangun dan menatap kedua sahabatnya bingung
"Apa? Ada apa?" Tanya Andin
"Gue kirain lu pingsan lagi din.. Lu tidur nya anteng banget kek orang pingsan.." Jawab Dhea
"Iya. Kita kan jadi takut lu kenapa napa lagi.."
"Ohh hahaha enggak kok. Cuma emang sih gue minpi sesuatu.."
Andin menceritakan apa yg dilihatnya dimimpi kepada Dhea dan Anita. Keduanya menyimak dengan serius tanpa memotong cerita Andin sedikitpun sampai selesai.
Setelah Andin selsesai menceritakan mimpi nya Dhea tiba-tiba angkat suara.
"Gue jadi inget.. Semalem gue...."
Bersambung..
simounlebon dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup