- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
...
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

Hallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.
Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya
Quote:
Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati

Oh iya jangan lupa
Quote:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
233.9K
2.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•55KAnggota
Tampilkan semua post
TS
afryan015
#719
Part 2 - Peperangan (Sisi Mbah Margono)
Sementara diriku yang sudah mulai diserang oleh pasukan Bajra, ternyata dari sisi mbah Margono pun sama, Mbah Margono juga sedang dalam posisi diserang hanya saja tempat dan areanya sangat lah berbeda, tentu saja berbeda karena kita bertiga memang berpencar.
Setelah kita berpisah, mbah margono pun berjalan pada rute sesuai kesepakatan saat menyusun strategi lalu, mbah Margono diteman oleh Ningrum dan pasukan yang dikumpulkannya sejak dulu, namun setelah beberapa waktu berjalan, area atau rute yang diambil oleh mbah Margono tanpa dia sadari, area sekitar yang kita sudah tahu dimana banyak sekali pohon seperti ditengah hutan seperti yang aku alami saat itu, tapi pada perjalanan mbah Margono, tempat dimana dia berjalan tiba tiba berubah derastis, pepohonan lebat dan rindang tiba tiba hilang dan berubah menjadi menjadi padang rumput berwarna hitam, bau anyir sangat tercium dihidung mbah Margono.
Melihat medan yang tiba tiba berubah jelaslah Mbah Margono dan pasukannya merasa terkejut, karena informasi yang didapat dan yang dijelaskan oleh Alhazam sangat berbeda, dan sepertinya kita sudah masuk dalam strateginya milik salah satu pasukan milik Bajra sesuai yang dikatakan Alhazam, kalau pasukan Bajra juga memiliki pasukan yang ahli didalam berstrategi.
Namun Alhazam sudah mewanti kita apabila ada sesuatu yang berbeda dari rencana, kita harus pandai perinprofisasi, dan tetap tidak jauh dari strategi kita, kumpul dititik yang sudah ditentukan tadi.
Mbah Margono memerintahkan salah satu pasukanya yang berwujud manusia setengah ular untuk terlebih dahulu memantau kearah depan, wanita berbadan setengah ular itu langsung maju dan keluar dari barisan menuju kearah depan untuk mengetahui ada hambatan apakah didepan sana.
Gerakan yang sunggu cepat saat menuju kearah depan hingga kalau mata biasa melihat, seolah hanya ada rumput yang tertiup angin saja, sosok wanita setengah ular itu memang biasa digunakan oleh mbah Margono untuk mengintai atau biasa digunakan mbah Margono untuk mengontrol keamanan desa.
Setelah beberapa detik, wanita setengah ular pun kembali, ya memang hanya hitungan detik saja dia memeriksa keadaan didepan, karena pergerakannya yang sangat cepat, wanita setengah ular itu pun kembali kehadapan mbah Margono dan melaporkan apa yang ada di depan sana.
“ijin melapor tuan, didepan kita hanya ada padang rumput ini saja, tanpa ada perbukitan dan gunung sejauh 20Km, namun didepan sana ada sebuah permukiman, dan saya rasa disana adalah permukiman siluman yang membelot terhadap kepemimpinan Bajra, ada banyak penduduk siluman disana yang sepertinya baru saja dihabisi oleh pasukan Bajra namun tidak semuanya, masih ada beberapa siluman yang sedang mengurus bangkai siluman lain, lalu setelah permukiman siluman itu, terdapat pasar yang cukup ramai, dengan jarak 5Km dari perkampungan tadi, dan saya rasa disanalah yang perlu kita waspadai, banyak sekali prajurit Bajra dari berbagai jenis siluman berada disana”. Ucap wanita setengah ular disana
“lalu apakah dalam perjalananmu kesana, dipadang rumput ini ada sesuat yang mencurigakan, dan bisa membahayakan kita” tanya mbah Margono memastikan
“tidak ada Tuan, hanya di pasar tadi saja yang menurut saya adalah titik bahaya” terang nya kembali pada mbah Margono
“baiklah, mungkin untuk di daerah permukiman kita tidak perlu merisaukan karena menurut keterangan yang dikatakan disana barusaja ada pembantaian” ucap mbah Margono santai
“tidak bisa begitu, kita harus terus waspada” Ningrum seolah mengingatkan mbah Margono untuk tidak menyepelekan keadaan
“baiklah, kalau begitu, kita akan membuat 3 kelompok lagi, kelompok Endrasuta, Ningrum dan aku, Ningrum tolong kamu bawa pasukan wanita setengah ular dan jangan lupa, kalian para pasukan ular dan wanita ular, rubah wujudmu agar serupa dengan jenis Ningrum, supaya kalau ada pasukan dari Bajra, yang mereka tahu kalian adalah penduduk dari daerah sebrang sesuai yang dikatakan Alhazam tadi kalau disebrang kerajaan Bajra ada kerajaan kecil yang terdiri dari peri peri, dan langsung bergegas pergi ke permukiman itu, jika mereka butuh pertolongan bantu saja mereka” perintah mbag Margono mengutus Ningrum dan pasukan ular
“baik lah, aku akan langsung berangkat kesana, ayo kita semua bergegas, suapaya semua ini cepat selesai” Ningrum bergegas melesat dengan membawa busur dan anak panah andalannya, diikuti dengan para pasukan ular dan wanita setengah ular yang sudah berubah wujud.
“untuk kau Endrasuta, kamu bawa pasukan Om wowo ini, dan para golem, bawa mereka dengan kecepatan sedang dan sesekali perintahkan salah satu dari pasukan ini untuk memantau pergerakan Ningrum bersama pasukannya di depan, jika ada sesuatu yang mencurigakan langsung hampiri dia dan bantu dia, kalian berangkat berselang sepuluh menit lagi, biarkan Ningrum bersama pasukannya mengeksplor permukiman itu terlebih dahulu” perintah Mbah Margono pada Endrasuta
“tapi apakah tidak terlalu lama dengan jarak 10menit, sedangkan kecepatan Ningrum secepat itu, jarak yang kita tempuh juga termasuk jauh untuk pasukan Golem” Endrasuta menanyakan perintah dari mbah Margono
“eh lah iya juga ya, nanti keburu ada apa apa, yasudah sebentar lagi kalian berangkat, dan ingat tetap waspada” perintah Mbah Margono merevisi perintah yang tadi, ada ada saja mbah Margono ini, didalam keadaan seperti ini masih saja sempat nyleneh
“baiklah aku akan mempersiapkan pasukan, semua bersiap diposisi, golem berada di barisan paling depan, dan pasukan Om wowo mengikuti dibelakang” Endrasuta memberikan perintah pada pasukannya.
Ningrum pun dengan secepat kilat langsung hampir sampai dipermukiman yang dimaksud wanita setengah ular tadi, namun tidak langsung menuju ke permukiman itu, dia berhenti dengan jarak sekitar 3Km dan memerintahkan pasukannya untuk berhenti dulu, dan kemudian Ningrum terbang kelangit dengan tujuan kembali melihat keadaan dipermukiman itu untuk memastikan keadaan yang ada disana untuk kedua kalinya.
Pasukan Endrasuta mulai diberangkatkan dan sedangkan pasukan dari mbah Margono sendiri menunggu dipaling belakang, mbah Margono bukan akan mengorbankan pasukannya tapi dia akan menjadi Backup dari belakang siapa tahu pasukan Bajra akan mengepung mereka dari belakang, karena tidak ada yang tahu apa yang akan tahu kedepannya, medan yang tiba tiba berubah pun sama sekali tidak diketahui walau sudah ada warning dari Alhazam.
Ningrum terbang sedekat mungkin dengan permukiman itu, terlihat banyak sekali siluman yang sepertinya tumbang dan terbelah menggeletak hampir terlihat disetiap rumah yang berada disana, tubuh yang tergeletak kebanyakan sudah tidak utuh ada bagian bagian yang sudah hilang, entah tercabik, terpotong atau dimakan oleh pasukan Bajra yang terkenal sangat brutal itu.
Ningrum memerintahkan para siluman ular yang sudah berubah wujud dengan spesies yang sama dnegan Ningrum untuk maju perlahan dan mendekat kearah permukiman itu.
Darah yang mulai mengental terlihat berceceran di tanah bau anyir yang tadi sudah menusuk hidung kini bertambah parah dengan adanya darah dimana mana, dan adanya beberapa bagian tubuh yang berceceran di tanah juga.
Saat sampai dipermukiman Ningrum ditemani salah satu siluman ular terkuat yang dibawanya mendekat kesalah satu penduduk disana yang sedang mengurusi bangkai dari siluman yang lainnya.
“apa yang baru saja terjadi disini” tanya Ningrum pada salah satu penduduk yang baru saja akan mengangkat salah satu anggota tubuh rekannya yang tergeletak di tanah
Penduduk siluman yang ditanyai Ningrum itu sepertinya kaget dengan kedatangan Ningrum dan temannya itu yang tiba tiba disana, hingga tubuh rekan nya yang sudah dia angkat sampai dijatuhkan kembali.
“ada apa, tenang saja, kami tidak akan melukai kalian, justru kami akan membantu kalian jika ada yang terluka dan masih bisa diselamatkan” ucap rekan Ningrum
Sementara itu pasukan ular yang lain tetap menunggu dari luar pemukiman untuk berjaga jaga.
Setelah itu, ada salah satu rekan dari penduduk siluman itu yang mendekat pada Ningrum dan penduduk yang sepertinya ketakutan akan kedatangan Ningrum dan temannya yang tiba tiba itu.
“tenang saja kami disini untuk membantu, kami tidak akan melukai kalian, apakah ada penduduk yang masih bisa diselamatkan?” tanya Ningrum memastikan kembali
“ee...” awalnya penduduk yang ditanyai Ningrum hanya bisa menjawab ee... eee.. e..
“ya ada, kami baru saja diserang, tolong bantu kami untuk menguburkan mereka yang sudah tumbang ditempat terpisah” penduduk yang baru datang itu menjawab dengan tegasnya
“baiklah, kami akan membantu kalian menguburkan teman teman kalian ini, lalu dimana kita bisa menguburkan mereka semua ini” tanya rekan Ningrum
“terimakasih sekali atas kedatangan kalian yang mau kami repotkan, nanti kita akan kubur mereka diarah sana, kemudian disana, lalu disana dan disana” penduduk yang menjawab dengan tegas itu menjawab dengan pasti dimana saja mereka akan mengubur.
“tunggu, mengapa harus ditempat terpisah, dan ini pun tempatnya sangat acak, kalian bukan sedang menjebak kami kan, kami hanya sekedar lewat saja dan melihat desa kalian luluh lanta seperti ini makanya kami mencoba membantu kalian” Ningrum sempat curiga dengan pola dan tempat penguburan yang diminta oleh penduduk itu
“apakah putri ini meragukan kami yang barusaja diserang habis habisan seperti ini, kami mau menyerang kalian dengan apa putri, kamu sudah tidak ada pasukan dan untuk apa menyerang kalian, akan aku panggilkan penduduk yang selamat agar kalian percaya” penduduk itu menjelaskan dan berusaha meyakinkan Ningrum
“baiklah tapi andai kalian terbukti akan mencelakai rombongan ku, kalian akan ku habisi tak satupun tersisa” gertak Ningrum yang masih tidak begitu percaya dengan penduduk disini
“baiklah putri, tapi lihat ini lah penduduk yang tersisa disini” penduduk itu kemudian menunjukan sisa warga yang masih selamat yang sedang mengangkat para korban yang sudah tidak bisa bergerak dan tercerai berai tubuhnya.
“baiklah, suruh semua rombongan membantu penduduk disini menguburkan, pastikan juga mereka berkelompok, jangan ada yang terpisah atau malah bahkan sendirian, pecah menjadi beberapa kelompok” perintah Ningrum pada rekannya itu dan masih belum sepenuhnya percaya pada penduduk itu.
“terimakasih putri terimakasih, kalau begitu saya akan lanjutkan kembali mengurus rekan rekan yang gugur itu” penduduk itu kemudian memulai kembali megurus warga yang gugur. Ningrum masih mencium adanya kejanggalan disini, dia tidak bisa percaya sepenuhnya.
Kelompok Ningrum pun dipisah menjadi beberapa kelompok lagi dan mulai membantu warga yang tersisa mengburkan warga yang telah menjadi korban ini.
Sementara itu, disisi Endrasuta mereka masih terus berjalan dengan kecepatan sedang dan terus menyusuri padang rumput berwarna hitam itu, mata dari Endrasuta sama sekali tidak lepas dari setiap sudut untuk memastikan tidak ada siapapun yang tiba tiba menyerang kelompoknya, sebenarnya kelompok yang dibawa oleh Endrasuta ini tergolong yang kuat, bagaimana tidak isinya hanya Om Wowo yang terkenal perkasa ditambah Golem yang sudah jelas memiliki tubuh yang keras, tapi Endrasuta tetap berwas was, dengan tujuan jika ada serangan dia ingin tidak ada satupun kelompoknya yang tumbang akibat serangan itu.
Ditengah perjalanan, dan permukiman dimana Ningrum sudah berada disana sudah mulai kelihatan walau hanya terlihat setitik dari pandangan Endrasuta, saat mereka sedang terus berjalan, tiba tiba dari arah atas, ada sesuatu yang turun didepan hadapan kelompok Endrasuta.
Kedatangan sosok yang tiba tiba turun dihadapannya membuat Endrasuta begitu terkejut, karena sama sekali tidak terdeteksi sosok itu dan tiba tiba sudah turun saja dihadapannya.
Dan sosok itu ternyata adalah Mbah Margono, namun yang membuat Endrasuta bingung, Mbah Margono datang dengan sebuah Awan Hitam yang kalau dilihat ditengah tengahnya seperti menyambarkan sebuah kilatan kilatan kecil.
“Stop berhenti dulu saja disini, biarkan Temanmu dipermukiman itu membantu wargadisana dulu” ucap Mbah Margono menghentikan laju kelompok Endrasuta.
“dengan siapa anda datang kesini itu, sepertinya aku belum pernah melihatnya, apakah dia rekan yang barusaja ditemui dialam ini” tanya Endrasuta menyelidiki
“ya dia baru saja aku dapatkan disana” Mbah Margono menunjukan arah dimana dia mendapatkan Awan Hitam itu
“dari sana? Lalu kenapa kita harus berhenti disini, kenapa kita tidak langsung ke desa itu dan ikut membantu mereka” tanya Endrasuta yang merasa sedikit aneh
“sudah tidak apa apa, mereka bisa mengatasi dan sudah cukup tenaga, kalian tinggal tunggu disini dulu samapai proses disana selesai” ucap Mbah Margono yang seolah perintahnya bertentangan dengan perintah awalnya
Salah satu Golem yang begitu dekat dengan Mbah Margono juga merasa aneh dengan kedatangan Mbah Margono yang tiba tiba mengentikan mereka dan menyuruhnya menunggu disini.
“tunggu tunggu, sebentar aku mau bertanya kenapa kita tidak membantu saja, akan lebih cepat selesai urusan didesa itu dan kita akan segera menyelesaikan pertempuran ini kan” tanya Endrasuta kepada Mbah Margono sekaligus menenangkan salah satu Golem yang seolah marah kepada Mbah Margono dan ingin mendekatinya.
“pokoknya tunggu saja disini, turuti perintahku, ini sudah sesuai rencana” Mbah Margono dengan keras berkata, dan hal itu membuat salah Satu Golem yang memang dekat dengan mbah Margono itu merasa aneh dengan perintah dari Mbah Margono ini, dan tanpa ba bi bu, Golem yang sangat dekat dengan Mbah Margono itu, melemparkan sebuah bola batu yang diselimuti kobaran api yang diambil dari bagian tubuhnya.
Endrasuta sama sekali tidak menyangka Golem yang ini akan menyerang Mbah Margono, dan serangan dari Golem itu ternyata tepat sasaran dan mengenai dipelipis Mbah Margono. Dan disaat itu lah terdengar juga suara dari arah dimana Ningrum dan yang lain sedang menguburkan warga yang menjadi korban, dan terlihat oleh Endrasuta kalau di posisi Ningrum terjadi .......
Diubah oleh afryan015 15-03-2022 11:36
itkgid dan 31 lainnya memberi reputasi
32