- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#201
Chapter 131
Quote:
Komandan Gert menatap sang professor dengan tatapan yang mematikan. Matanya seakan-akan siap menerkamnya kapan saja. Suntikan yang baru dilihatnya memanglah barang baru, otaknya mulai berputar, terlalu fokus dengan menaklukan sebuah negara membuatnya menjadi lengah dan tidak bisa menjaga apa yang sudah ada digenggamannya.
“Suntikan itu, apa yang kau rencanakan prof?” tanya komandan Gert.
“Ini…,” Dr. Geere tidak ingin menjawabnya, namun posisinya sangat tidak menguntungkan. Tapi apa boleh buat, dalam pikirnya Dr. George telah gagal melakukan tugasnya, sekarang hanya menyisakan dirinya saja. Persoalan ini adalah hidup dan mati. “ini serum yang sengaja aku buat untuk mengalahkanmu!”
Jawaban seperti itu malah membuat perasaan komandan menjadi membaik, ia bahkan seperti yang menahan tertawanya keluar.
“Jangan gila! Tidak ada serum yang seperti itu!”
Ketua pasukan tiba-tiba terbangun, “Apa yang terjadi, itukah kau Prof?” nampak orang ini mengenali sosok Dr. Geere.
“Syukurlah!” satu lagi subjek yang berhasil diselamatkan, bukan tanpa alasan karena ketua pasukan ini mempunyai kekuatan yang sama seperti orang-orang penting lainnya. “jangan terlalu banyak bergerak dahulu, kau masih harus menyesuaikannya,” perkataan yang malah membuat ketua pasukan kebingungan.
“Ah, jadi serum itu dapat membuat kesadaran seseorang kembali seperti sedia kalah, menarik…,” komadan Gert malah memujinya. “tapi, walaupun begitu aku masih mempunyai kendali atas tubuh kalian. Benarkan begitu prof?”
Kali ini Dr. Geere yang tersenyum lebar, matanya memancarkan sinar harapan.
“Aku rasa tidak,” Dr. Geere membawa ketua pasukan kabur dengan menabrak dinding, keputusan yang cerdas diambil karena tidak ada harapan jika harus berhadapan dengan komandan satu lawan satu.
Sang professor bergerak cepat menuju laboratoriumnya, ia berencana untuk membawa seluruh catatan pentingnya. Berkat kekuatan yang diperolehnya dari komandan, tubuhnya yang tua sangat dapat diandalkan. Membawa seseorang yang lebih muda dan bertubuh lebih besar darinya pun tidak ada masalah yang berarti. Untungnya komandan belum membunyikan sirine peringatan, sehingga semua yang dilakukannya masih dianggap tidak ada oleh seluruh pasukan boneka yang ada di markas.
“Sebentar, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita malah lari dari komandan?” tanya ketua pasukan.
“Aku lupa namamu,” ucap Dr. Geere.
“Ini aku, Marco Bilius!” jawabnya dengan tegas. “jadi apa jawabannya?” tanyanya lagi.
“Aku bertaruh, hal terakhir yang kau ingat adalah pesta itu kan?” Marco mengangguk. “kita semua sudah mati!”
Marco tertunduk lesu, rasanya kaki-kakinya kehilangan wibawa untuk menopang tubuhnya. Setelah Dr. Geere menceritakan semuanya dalam versi singkat, kemenangan yang mereka raih dipeperangan tidak ada artinya. Banyak warga sipil yang dijadikan umpan hanya untuk memenuhi hasrat sang komandan. Tidak segan-segan maupun itu anak-anak atau wanita, Dr. Geere bahkan berani bertaruh bahwa keluarga Marco juga sudah dijadikan korban. Karena komandan memang mengirimkan orang yang sudah terinfeksi virus monster ke beberapa wilayah.
“Maafkan aku, jika seandainya aku tidak melakukan percobaan yang begitu ekstrem,” ucap Dr. Geere pelan sambil memasukan beberapa catatan pentingnya itu. “beruntungnya seseorang yang tidak berasal dari kalangan militer seperti itu, kemungkin keluarga mereka masih utuh sampai sekarang. Untuk itu, aku membutuhkan bantuanmu untuk menghentikan semua ini….”
Marco tidak menjawabnya segera, ia bahkan tidak tahu bagaimana menggunakan kekuatannya yang jika benar telah diberikan oleh komandan padanya.
Tiba-tiba pintu labnya terbuka, Dr. Geere dan Marco membeku. Komandan telah menyusulnya ke sini, sementara sang professor masih belum sempat membawa semua catatan yang berisi studi tentang serum yang melawan sel milik komandan. Jika memang kali ini Dr. Geere harus melawannya, maka tidak ada jalan lain lagi baginya.
Pintu terbuka semua dan yang muncul adalah Dr. George, “Prof!” lalu melihat ada satu orang lain yang berada di ruangan itu. “aku tadi mencarimu, dan untungnya aku melihatmu sekilas, ternyata benar…”
Perasaan Dr. Geere lega setelah yang dilihatnya adalah Dr. George bukan komandan.
“Mengagetkan saja, oh iya kenalkan ini Marco, ia ketua pasukan yang berjaga di barak dan maaf tidak memberitahumu tentang rencanaku yang ini…,” Dr. George tidak mempermasalahkannya.
“Aku juga telah berhasil melakukan tugasku, Wayne sedang mengurus wakil komandan,” Dr. George juga menjelaskan bahwa anak muda yang diikat dengan rantai itu adalah seorang mata-mata dari negara lain, ia bernama Wayne Londress.
Kedatangan Dr. George membuat pekerjaan Dr. Geere menjadi lebih cepat, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya semua catatannya sudah dimasukan ke sebuah tas panjang yang cukup besar. Jika masih menjadi seorang manusia, Dr. Geere tidak yakin bisa membawa tas yang besar dan berat itu. Sekarang mereka harus bergegas menuju ruangan di mana Wayne dan wakil komandan berada. Sementara itu Marco masih merenung, belum bisa menentukan sikapnya.
Kedua ilmuwan itu segera bergegas, namun suara keras dari sirine terdengar menggema bahkan di lorong ini seakan-akan sedang berteriak. Akhirnya komandan membunyikannya, dan langkah mereka harus lebih cepat lagi, sebelum pasukan yang ada di markas ini menangkap mereka. Dr. George merasakan adanya keanehan, dari semua keributan yang terjadi, komandan seperti bersikap tenang dan biasa saja.
“Apa benar tadi prof kabur dari komandan?”
“Iya, aku membobol dinding ruangan di barak,” tetap saja bagi Dr. George ada sesuatu yang janggal.
Ruangan tempat Wayne ditahan sudah di depan mata, Dr. Geere bergegas membukanya dan hal yang dilhatnya membuatnya kehilangan kata-kata. Darah berceceran di mana-mana, potongan tubuh yang membusuk berserakan tidak karuan, dan sosok komandan yang tersenyum berlumuran darah membuat bulu lehernya bergidik ngeri.
“Aku sudah berpengalaman dalam militer, puluhan tahun lamanya. Ada cara yang lebih ampuh dalam memburu mangsa, tanpa harus mengeluarkan tenaga, yaitu dengan membuat umpan. Kalian yang bergelut dengan buku-buku tebal tidak akan mengetahui hal ini…,” ucap Komandan sementara wakilnya itu masih bisa berdiri sambil menumbuhkan bagian tubuhnya yang hilang.
Wayne terkapar dengan kehilangan kedua kaki dan tangannya, masih berusaha untuk menumbuhkannya. Saat membiarkan Dr. Geere kabur bersama Marco, komandan langsung bergegas menuju tempat Ferdinand. Di sana ia melihat pertarungan dua monster yang sejatinya tidak imbang bagi Ferdinand. Lalu komandan melawan Wayne dengan mudah dilihat dari seragamnya yang masih utuh, sementara wakilnya itu sudah berwujud monster kumbang berwarna hitam.
“Harus kuapakan kalian ini?” ucap komandan dengan dingin.
“Kita lawan,” ucap Dr. Geere sambil menatap Dr. George, rekannya itu pun setuju dan bersiap.
Komandan bergerak, namun atap ruangan mendadak hancur ketika sebuah tank baja dari mana asalnya muncul menghantam dengan keras menimbun tubuhnya. Sosok yang melakukannya adalah Marco, kemudian ia menyerang Ferdinand dengan menusuk kepalanya dengan dua pisau, membuatnya tidak berdaya.
“Cepat!” teriak Marco, kemudian Dr. George membawa Wayne pergi. Lalu Dr. Geere menghampirinya, “aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini, tapi tolong ceritakan semuanya lagi, kali ini versi utuh…,” Dr. Geere setuju dan langsung menyuntikan serumnya ke luka yang dihasilkan dari tusukan pisau tadi. Lalu keduanya bergegas pergi, tidak lupa Marco melemparkan bom asap yang juga dibawanya.
Beberapa saat kemudian, tank baja yang menahan komandan terbang ke angkasa. Dan ketika komadan berdiri tegak, api muncul dan mulai membakar ruangan ini. Urat dikepalanya keluar semua, pasukannya malah baru datang ketika sirine sudah tidak bersuara. Dalam semalam, orang-orang yang diberikan kekuatan besar olehnya melarikan diri. Dalam sejarah kemiliterannya, ini yang paling memalukan.
“Professor Geere, si keparat itu yang akan aku siksa paling kejam nantinya…,” tangannya mengerat epal, perlahan berubah menjadi merah menyala.
“Suntikan itu, apa yang kau rencanakan prof?” tanya komandan Gert.
“Ini…,” Dr. Geere tidak ingin menjawabnya, namun posisinya sangat tidak menguntungkan. Tapi apa boleh buat, dalam pikirnya Dr. George telah gagal melakukan tugasnya, sekarang hanya menyisakan dirinya saja. Persoalan ini adalah hidup dan mati. “ini serum yang sengaja aku buat untuk mengalahkanmu!”
Jawaban seperti itu malah membuat perasaan komandan menjadi membaik, ia bahkan seperti yang menahan tertawanya keluar.
“Jangan gila! Tidak ada serum yang seperti itu!”
Ketua pasukan tiba-tiba terbangun, “Apa yang terjadi, itukah kau Prof?” nampak orang ini mengenali sosok Dr. Geere.
“Syukurlah!” satu lagi subjek yang berhasil diselamatkan, bukan tanpa alasan karena ketua pasukan ini mempunyai kekuatan yang sama seperti orang-orang penting lainnya. “jangan terlalu banyak bergerak dahulu, kau masih harus menyesuaikannya,” perkataan yang malah membuat ketua pasukan kebingungan.
“Ah, jadi serum itu dapat membuat kesadaran seseorang kembali seperti sedia kalah, menarik…,” komadan Gert malah memujinya. “tapi, walaupun begitu aku masih mempunyai kendali atas tubuh kalian. Benarkan begitu prof?”
Kali ini Dr. Geere yang tersenyum lebar, matanya memancarkan sinar harapan.
“Aku rasa tidak,” Dr. Geere membawa ketua pasukan kabur dengan menabrak dinding, keputusan yang cerdas diambil karena tidak ada harapan jika harus berhadapan dengan komandan satu lawan satu.
Sang professor bergerak cepat menuju laboratoriumnya, ia berencana untuk membawa seluruh catatan pentingnya. Berkat kekuatan yang diperolehnya dari komandan, tubuhnya yang tua sangat dapat diandalkan. Membawa seseorang yang lebih muda dan bertubuh lebih besar darinya pun tidak ada masalah yang berarti. Untungnya komandan belum membunyikan sirine peringatan, sehingga semua yang dilakukannya masih dianggap tidak ada oleh seluruh pasukan boneka yang ada di markas.
“Sebentar, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita malah lari dari komandan?” tanya ketua pasukan.
“Aku lupa namamu,” ucap Dr. Geere.
“Ini aku, Marco Bilius!” jawabnya dengan tegas. “jadi apa jawabannya?” tanyanya lagi.
“Aku bertaruh, hal terakhir yang kau ingat adalah pesta itu kan?” Marco mengangguk. “kita semua sudah mati!”
Marco tertunduk lesu, rasanya kaki-kakinya kehilangan wibawa untuk menopang tubuhnya. Setelah Dr. Geere menceritakan semuanya dalam versi singkat, kemenangan yang mereka raih dipeperangan tidak ada artinya. Banyak warga sipil yang dijadikan umpan hanya untuk memenuhi hasrat sang komandan. Tidak segan-segan maupun itu anak-anak atau wanita, Dr. Geere bahkan berani bertaruh bahwa keluarga Marco juga sudah dijadikan korban. Karena komandan memang mengirimkan orang yang sudah terinfeksi virus monster ke beberapa wilayah.
“Maafkan aku, jika seandainya aku tidak melakukan percobaan yang begitu ekstrem,” ucap Dr. Geere pelan sambil memasukan beberapa catatan pentingnya itu. “beruntungnya seseorang yang tidak berasal dari kalangan militer seperti itu, kemungkin keluarga mereka masih utuh sampai sekarang. Untuk itu, aku membutuhkan bantuanmu untuk menghentikan semua ini….”
Marco tidak menjawabnya segera, ia bahkan tidak tahu bagaimana menggunakan kekuatannya yang jika benar telah diberikan oleh komandan padanya.
Tiba-tiba pintu labnya terbuka, Dr. Geere dan Marco membeku. Komandan telah menyusulnya ke sini, sementara sang professor masih belum sempat membawa semua catatan yang berisi studi tentang serum yang melawan sel milik komandan. Jika memang kali ini Dr. Geere harus melawannya, maka tidak ada jalan lain lagi baginya.
Pintu terbuka semua dan yang muncul adalah Dr. George, “Prof!” lalu melihat ada satu orang lain yang berada di ruangan itu. “aku tadi mencarimu, dan untungnya aku melihatmu sekilas, ternyata benar…”
Perasaan Dr. Geere lega setelah yang dilihatnya adalah Dr. George bukan komandan.
“Mengagetkan saja, oh iya kenalkan ini Marco, ia ketua pasukan yang berjaga di barak dan maaf tidak memberitahumu tentang rencanaku yang ini…,” Dr. George tidak mempermasalahkannya.
“Aku juga telah berhasil melakukan tugasku, Wayne sedang mengurus wakil komandan,” Dr. George juga menjelaskan bahwa anak muda yang diikat dengan rantai itu adalah seorang mata-mata dari negara lain, ia bernama Wayne Londress.
Kedatangan Dr. George membuat pekerjaan Dr. Geere menjadi lebih cepat, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya semua catatannya sudah dimasukan ke sebuah tas panjang yang cukup besar. Jika masih menjadi seorang manusia, Dr. Geere tidak yakin bisa membawa tas yang besar dan berat itu. Sekarang mereka harus bergegas menuju ruangan di mana Wayne dan wakil komandan berada. Sementara itu Marco masih merenung, belum bisa menentukan sikapnya.
Kedua ilmuwan itu segera bergegas, namun suara keras dari sirine terdengar menggema bahkan di lorong ini seakan-akan sedang berteriak. Akhirnya komandan membunyikannya, dan langkah mereka harus lebih cepat lagi, sebelum pasukan yang ada di markas ini menangkap mereka. Dr. George merasakan adanya keanehan, dari semua keributan yang terjadi, komandan seperti bersikap tenang dan biasa saja.
“Apa benar tadi prof kabur dari komandan?”
“Iya, aku membobol dinding ruangan di barak,” tetap saja bagi Dr. George ada sesuatu yang janggal.
Ruangan tempat Wayne ditahan sudah di depan mata, Dr. Geere bergegas membukanya dan hal yang dilhatnya membuatnya kehilangan kata-kata. Darah berceceran di mana-mana, potongan tubuh yang membusuk berserakan tidak karuan, dan sosok komandan yang tersenyum berlumuran darah membuat bulu lehernya bergidik ngeri.
“Aku sudah berpengalaman dalam militer, puluhan tahun lamanya. Ada cara yang lebih ampuh dalam memburu mangsa, tanpa harus mengeluarkan tenaga, yaitu dengan membuat umpan. Kalian yang bergelut dengan buku-buku tebal tidak akan mengetahui hal ini…,” ucap Komandan sementara wakilnya itu masih bisa berdiri sambil menumbuhkan bagian tubuhnya yang hilang.
Wayne terkapar dengan kehilangan kedua kaki dan tangannya, masih berusaha untuk menumbuhkannya. Saat membiarkan Dr. Geere kabur bersama Marco, komandan langsung bergegas menuju tempat Ferdinand. Di sana ia melihat pertarungan dua monster yang sejatinya tidak imbang bagi Ferdinand. Lalu komandan melawan Wayne dengan mudah dilihat dari seragamnya yang masih utuh, sementara wakilnya itu sudah berwujud monster kumbang berwarna hitam.
“Harus kuapakan kalian ini?” ucap komandan dengan dingin.
“Kita lawan,” ucap Dr. Geere sambil menatap Dr. George, rekannya itu pun setuju dan bersiap.
Komandan bergerak, namun atap ruangan mendadak hancur ketika sebuah tank baja dari mana asalnya muncul menghantam dengan keras menimbun tubuhnya. Sosok yang melakukannya adalah Marco, kemudian ia menyerang Ferdinand dengan menusuk kepalanya dengan dua pisau, membuatnya tidak berdaya.
“Cepat!” teriak Marco, kemudian Dr. George membawa Wayne pergi. Lalu Dr. Geere menghampirinya, “aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini, tapi tolong ceritakan semuanya lagi, kali ini versi utuh…,” Dr. Geere setuju dan langsung menyuntikan serumnya ke luka yang dihasilkan dari tusukan pisau tadi. Lalu keduanya bergegas pergi, tidak lupa Marco melemparkan bom asap yang juga dibawanya.
Beberapa saat kemudian, tank baja yang menahan komandan terbang ke angkasa. Dan ketika komadan berdiri tegak, api muncul dan mulai membakar ruangan ini. Urat dikepalanya keluar semua, pasukannya malah baru datang ketika sirine sudah tidak bersuara. Dalam semalam, orang-orang yang diberikan kekuatan besar olehnya melarikan diri. Dalam sejarah kemiliterannya, ini yang paling memalukan.
“Professor Geere, si keparat itu yang akan aku siksa paling kejam nantinya…,” tangannya mengerat epal, perlahan berubah menjadi merah menyala.
ashrose dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas