- Beranda
- Stories from the Heart
7 PENDEKAR
...
TS
oyag2000
7 PENDEKAR

Bismillahirrahmanirrahiim..
Kepada para penghuni kaskus, izinkan lah hamba melampiaskan hasrat untuk menulis dan membagikan cerita imajinasi hamba sendiri disini. Semoga semuanya terhibur.
Hatur nuhun..
Quote:
Cerita ini adalah fiksi. Apabila ada nama, agama, tempat, instansi, dan daerah yang sama, maka itu murni ketidak sengajaan. Silahkan dinikmati saja sebagai bacaan teman ngopi dan bersantai.
Spoiler for BACA DULU:
Tolong hargai usaha dan kerja keras seorang penulis dengan tidak mengcopy paste tanpa izin, apalagi sampai mem-plagiat demi keuntungan pribadi. Sing burut nyanyut na tah nu kitu mah!
Disclaimer : Cerita ini mengandung muatan bahasa kasar, kekerasan dan darah. Pembaca dibawah usia dewasa disarankan pulang ke rumah, cuci kaki, tidur sana!
Spoiler for PROLOG:
Generasi Emas Indonesia 2045, begitulah mereka menyebut nya. Karena katanya di tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70% nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan usia tidak produktif. Yang seharusnya menjadikan Indonesia di tahun 2045 dipenuhi oleh generasi muda yang cerdas, produktif, inovatif dan berperadaban unggul. Namun sayangnya, bonus demografi ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga membuat Indonesia menjadi kacau balau. Pengangguran semakin banyak yang berefek terhadap semakin meningkatnya tingkat kriminalitas, korupsi sudah bukan lagi rahasia bahkan di tingkatan paling rendah, aparat yang sudah tidak menjalankan tugasnya, hanya membela yang bayar ditambah dengan semakin lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin membuat amarah masyarakat khususnya rakyat miskin menjadi membesar dan terus membesar. Pada akhirnya, semua permasalahan tersebut menjadi bola salju yang semakin membesar dan menyebabkan kerusuhan yang sangat besar. Bahkan lebih besar daripada kerusuhan di tahun 98’. Namun di tengah kerusuhan ini, muncul lah penyelamat yang berasal dari salah satu partai politik yang bernama Partai Senja Merah yang berhasil membantu pemerintah menengahi konflik antara aparat dan rakyat. Bahkan Partai ini bisa memberikan win win solution yang membuat aparat dan rakyat bisa bernafas lega karena solusi tersebut memberikan hasil terbaik untuk keduanya. Begitu pula pemerintah yang sangat terbantu dengan adanya Partai ini, sehingga Senja Merah begitu mudah masuk ke system pemerintahan dan mengubah kebijakan. Yang paling kontroversial adalah Senja Merah menginisiasi akan dibentuknya poros baru penjaga keamanan dan stabilitas Negara, selain TNI dan POLRI, yaitu Penjaga Kedamaian. Yang mana setiap partai politik ataupun organisasi masyarakat, berhak mengajukan diri menjadi para Penjaga Kedamaian. Dengan persyaratan yang relatif lebih mudah daripada persyaratan untuk menjadi TNI atau Polisi, ditambah dengan buruknya citra Polisi dimata masyarakat, maka berbondong-bondong lah ormas-ormas yang berisikan pemuda-pemuda bergabung menjadi para Penjaga Kedamaian. Pemerintah tidak bisa berbuat banyak, karena setelah Perang Dunia 3 yang dimulai antara Rusia dan Ukraina, kemudian melibatkan hampir seluruh Eropa dan tentu saja Amerika dan sekutunya, terjadi pada kurun waktu 2030-2035, berimbas terhadap perekonomian dunia tanpa terkecuali Indonesia. Hadirnya Senja Merah selain menjadi angin segar atas teratasinya konflik berkepanjangan, Senja Merah juga membantu perekonomian pemerintah sehingga di 2045 Indonesia menjadi kekuatan baru di ASEAN dan bahkan beranjak untuk menjadi Macan Asia.
Generasi Emas Indonesia 2045 ini memang berkontribusi membawa Indonesia kembali menjadi Negara yang disegani. Namun sayangnya, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang dulu dikenal sebagai bangsa yang sopan dan ramah, semuanya hilang tanpa sisa. Karena Generasi Emas 2045 ini hidup dengan perilaku yang terkenal tidak sopan dan kasar, bahkan sopan santun terhadap orang yang lebih tua pun sudah tidak ada. Jika pada tahun 2020 bahwa netizen Indonesia adalah netizen yang paling tidak sopan di tingkat Asia Tenggara berdasarkan survey dari Microsoft, maka di 2045 bukan hanya netizennya tapi masyarakat Indonesia khususnya netizen dan masyarakat usia produktifnya berada pada posisi ke 3 di tingkat Asia sebagai masyarakat paling tidak sopan dan kasar. Prestasi tersebut seakan menutupi prestasi Indonesia di bidang-bidang positif yang lain.
Generasi Emas Indonesia 2045 ini memang berkontribusi membawa Indonesia kembali menjadi Negara yang disegani. Namun sayangnya, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang dulu dikenal sebagai bangsa yang sopan dan ramah, semuanya hilang tanpa sisa. Karena Generasi Emas 2045 ini hidup dengan perilaku yang terkenal tidak sopan dan kasar, bahkan sopan santun terhadap orang yang lebih tua pun sudah tidak ada. Jika pada tahun 2020 bahwa netizen Indonesia adalah netizen yang paling tidak sopan di tingkat Asia Tenggara berdasarkan survey dari Microsoft, maka di 2045 bukan hanya netizennya tapi masyarakat Indonesia khususnya netizen dan masyarakat usia produktifnya berada pada posisi ke 3 di tingkat Asia sebagai masyarakat paling tidak sopan dan kasar. Prestasi tersebut seakan menutupi prestasi Indonesia di bidang-bidang positif yang lain.
Spoiler for :
PART 1 : PERMULAAN
Januari 2045
“Kesepakatan final dari seluruh Negara-negara di dunia akan dihilangkannya penggunaan senjata api dan nuklir sudah disetujui oleh PBB. Ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Perdamaian yang dilaksanakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia yang dikenal dengan Pakta Nusa Dua. Dengan ini, maka semua penggunaan senjata api dan nuklir dengan segala macam alasan adalah dilarang dan illegal. Bagi Negara yang melanggar maka akan diberikan hukuman yang sangat berat. Dan Negara-negara yang menandatangani Pakta Nusa Dua ini wajib mengedukasi masyarakatnya agar menyerahkan senjata apinya kepada Negara secepatnya. Bagi yang melanggar maka hukuman yang sangat berat menantinya. Sekian Breaking News pagi ini, saya Timothy Siregar melaporkan dari Nusa Dua Bali.”
“Berarti nanti kamu dinas ga bawa senjata api dong lang?”
“Engga atuh bi, kan waktu pendidikan juga kita udah dikasih tau disana”
BHARADA (Bhayangkara Dua) Erlang Santosa. Pemuda gagah ini sedang merapikan seragam dinasnya ketika dia mengobrol dengan Bi Euis, satu-satunya keluarga yang dia miliki. Karena sejak usia 5 tahun, Erlang sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan. Bi Euis sendiri ditinggal suaminya sejak lama dan belum sempat dikarunia anak. Sehingga Erlang sudah menganggap Bi Euis sebagai Ibu kandungnya sendiri.
“Lang, nanti jangan lupa tolong bukain tirai warung ya kalo mau berangkat, bibi tanggung masih masak ini”. Ujar Bi Euis dari dapur.
“iya Bi, Elang berangkat yaa. Assalamualaikum..”
“Waalaikum salam, hati-hati Lang.”
Erlang tinggal di rumah bibinya yang merangkap menjadi warung makan sederhana yang berada tepat di pinggir jalan provinsi di kota Bandung. Dari warung makan inilah Erlang bisa menyelesaikan pendidikan kepolisiannya, Bi Euis begitu peduli sekali dengan pendidikan Erlang sehingga beliau sangat bekerja keras dari pagi sampai malam memasak dan melayani pelanggan warungnya. Meskipun beliau mempunyai beberapa karyawan tapi tetap saja beliau selalu turun tangan. Dengan etos kerja yang luar biasa inilah yang membuat warung makan Bi Euis semakin dikenal dan membesar seperti sekarang. Namun, di usia beliau yang semakin menua membuat Bi Euis tidak bisa terlalu gesit seperti dulu, makanya sekarang beliau lebih sering berada dibalik layar, di dapur maksudnya.
Baru saja Erlang keluar dari pintu dan hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba seorang pemuda dengan wajah bersimbah darah mendatanginya dan meminta tolong.
“Kang Elang, tolong saya kang. Saya dikeroyok Geng Bedog.”
Ternyata pemuda tersebut adalah salah satu karyawan bibinya, Jamil biasa dia dipanggil.
“Kenapa kamu sampe babak belur gini Mil, ada masalah apa sama Geng Bedog?”. Tanya Erlang sambil menuntun Jamil masuk ke dalam warung.
“Ya Allah, Jamil kenapa kamu?” Bi Euis yang baru saja keluar dari dapur langsung panik melihat keadaan Jamil yang bersimbah darah.
Jamil kemudian diobati oleh Bi Euis seraya menceritakan kronologi kenapa dia bisa dikeroyok oleh Geng Bedog. Erlang dan Bi Euis menyimak cerita Jamil dengan seksama. Berdasarkan cerita dari Jamil, dia dikeroyok karena tidak sengaja menyenggol motor salah satu anggota Geng Bedog yang terparkir di pinggir jalan. Pada saat itu Jamil memang agak terburu-buru berangkat, sehingga menyenggol motor anggota Geng Bedog itu.
“Saya ga sengaja kang, lagian mereka juga salah. Parkir motor hampir ke tengah jalan gitu, terus banyak lagi.”
“Nanti mah lebih hati-hati lagi Mil, tau sendiri kan sekarang di Bandung banyak orang sok jago, heran kok bisa ya Geng meresahkan kaya gini malah dilindungi dan lebih parahnya malah dilegalkan”. Ketus Erlang yang sedikit terpancing emosinya.
“Yaudah yang penting sekarang kamu udah selamat, hari ini kamu ga usah kerja, pulang aja ke rumah. Nanti biar diantar sama Elang, gapapa kan Lang?”
“Iya gapapa Bi, searah juga kan rumah kamu Mil?”. Tanya Erlang
“Iya kang, searah. Nanti saya turun di pinggir jalan aja, deket kok ke rumah”.
Erlang dan Jamil pun kemudian berangkat diiringi oleh Bi Euis yang mengantar sampai ke depan warung. Di perjalanan Jamil Nampak was-was, sesekali dia celingak celinguk melihat keadaan sekitar.
“Tenang aja Mil, kalo kamu sama saya Insya Allah aman”. Erlang membaca keresahan Jamil yang masih takut akan Geng Bedog.
“I.. iiiyaa kang, juju raja saya trauma takut dikeroyok lagi”.
“Makanya kamu harus belajar beladiri dong Mil, zaman sekarang semua orang harus bisa, wajib malah. Tau sendiri kan kita hidup di zaman orang orang makin tak beradab, tak tahu sopan santun, dan tidak bermoral”. Erlang mulai lagi menumpahkan sisa-sisa emosi yang tadi sempat tertahan karena Bi Euis.
“Bandung beda banget sama yang sering Bi Euis ceritain waktu saya kecil Mil. Dulu bibi cerita bahwa Bandung itu adalah Kota Kembang yang penduduknya ramah dan agamis, Bandung yang menjadi kiblat food and fashion nya Indonesia, bahkan turis asing sangat betah jika berlibur di Bandung karena orang-orangnya murah senyum dan penolong, ciri khas orang Sunda. Namun sekarang, Bandung tak ubahnya kota Gengster yang merusak semua itu. Banyak orang yang pindah keluar kota karena merasa tidak betah dengan Bandung yang sekarang. Turis lokal dan mancanegara juga tidak lagi menjadikan Bandung sebagai destinasi wisata mereka, dan parahnya Geng-geng ini seakan difasilitasi dan dibiarkan oleh pemerintah. Semua gara-gara Senja Merah dan ide akan Penjaga Kedamaian sialannya!”.
Jamil yang merasakan amarah dari penjelasan Erlang hanya meng-iyakan ucapan polisi tersebut. Karena sedikitnya Jamil tahu bahwa Erlang adalah pemuda yang baik, namun ketika dia marah hanya bibinya yang mampu meredam amarahnya.
“Untung kamu ga kebawa-bawa pergaulan kaya mereka Mil, kalo kamu ikutan bisa saya………BANGSIT!”
“Demi Allah kang saya ga pernah nyuri, sumpah kang. Jangan panggil saya BANGSIT dong”. Protes Jamil yang tersinggung dengan ucapan Erlang.
“Bukan kamu Mil, lihat di depan”.
Di depan mobil mereka sudah berjejer motor-motor dari pemuda-pemuda berseragam hijau tua strip merah dengan lambang Golok/Bedog di dada kirinya. Pemuda-pemuda tersebut mengacungkan goloknya dan berteriak. Para pengguna jalan dan pejalan kaki pun berhamburan dan putar balik karena takut akan terjadi keributan disana. Tinggallah Erlang dan Jamil yang tersisa.
“Keluar kau anjing! Jangan sembunyi!”. Tunjuk seorang pemuda berambut Mohawk yang merangsek maju ke depan dan mengetuk kap depan mobil Erlang dengan ujung goloknya.
“Aduh kang Elang, gimana ini kang? Saya takut pisan”. Jamil yang mulai terisak dan menitikan air mata.
“Tenang Mil, selama masih ada saya disini kamu bakalan saya lindungi. Polisi ada untuk mengayomi dan melindungi masyarakat. Yuk kita samperin mereka”.
“Ta.. tapii kang”. Rengek Jamil yang kemudian tetap mengikuti perintah Erlang, karena dibalik senyuman Erlang, ada kilatan amarah di matanya yang membuat Jamil nurut dan tidak berani menatap mata Erlang.
“Ada apa ini akang-akang? Kok bergerombol gini?”. Tanya Erlang ramah dengan sorot matanya tajam menatap satu persatu pemuda-pemuda tersebut. Khususnya si Mohawk yang masih sok jago dengan tidak melepas goloknya di depan polisi gagah tersebut.
“Wah wah wahh, sejak kapan pak polisi berubah menjadi pengawal pribadi nih? Apa kalian udah ga punya kerjaan?”. Si Mohawk yang berjalan santai ke depan Erlang yang masih berdiri tegap dan Jamil yang malu-malu kucing bersembunyi di belakang punggung Erlang.
“Kayanya yang ga punya kerjaan itu kalian, bergerombol seperti ini menghalangi pengguna jalan, tolong lah setidaknya kalo hidup kalian memang tidak berguna, jangan merugikan orang lain dengan ngalangin jalan dong. Minggir yaa”. Ucap Erlang dengan tersenyum sarkas kepada pemuda-pemuda Geng Bedog.
Dan Erlang sukses membuat naik emosi pemuda-pemuda tersebut, sehingga salah satu pemuda di belakang si Mohawk langsung merangsek maju ke depan dan hendak mengayunkan goloknya ke leher Erlang. Namun si Mohawk dengan cekatan menahan pemuda itu dan tanpa diduga langsung membanting anak buahnya itu sehingga dia jatuh dengan keras di aspal jalan.
“DIAM ANJING! JANGAN CARI MASALAH!”. Hardik si Mohawk kepada anak buahnya itu dengan diiringi oleh tendangan di wajah dan membuat anak buahnya pingsan seketika.
“Lumayan juga berandalan ini, pantas saja dia jadi pemimpin Geng”. Pikir Erlang dalam hati setelah melihat kejadian di depan matanya.
“Pak polisi ini ternyata pintar bersilat lidah juga ya? Apakah memang polisi sekarang kemampuannya cuman ini aja hehe”. Si Mohawk mencoba memprovokasi Erlang yang masih berdiri tenang di depannya.
“Silahkan saja jika ingin mencoba kemampuan saya, itupun jika anda berani [I]one on one”. Erlang yang maju selangkah ke depan dan berhadapan dengan si Mohawk.
“Gimana?”
“Kita akan bertemu lagi pak polisi, secepatnya”. Geram si Mohawk dengan menatap benci kepada Erlang.
Perlahan-lahan si Mohawk mundur tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya terhadap Erlang yang masih berdiri dengan tenang tanpa takut. Dengan kibasan tangannya si Mohawk mengisyaratkan anak buahnya untuk mundur dan pergi dari sana. Deru suara bising motor-motor Geng Bedog mengiringi kepergian mereka. Dan sekilas Erlang melihat tanda garis putih di tangan kanan Geng Bedog tersebut yang menandakan bahwa mereka adalah Penjaga Kedamaian secara legal.
Erlang yang masih berdiri tegak meskipun Geng Bedog sudah pergi dari hadapannya menyadari bahwa semakin bencinya dia akan para Penjaga Kedamaian ini. Karena isinya hanya pemuda-pemuda pengangguran yang banyak berulah dan mengganggu masyarakat. Tetapi kepolisian lah yang dibenci oleh masyarakat, padahal kepolisian Indonesia sudah berbenah diri dan berubah menjadi lebih baik. Namun tetap saja stigma negatif dari masyarakat terhadap polisi tidak bisa hilang begitu saja dan Erlang harus tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat.
“Kang, ayo kita pergi”
Ajakan Jamil menyadarkan Erlang kembali, tanpa sadar sejak kepergian Geng Bedog, Erlang mengepalkan tangannya dengan begitu keras sehingga ketika kepalan tangannya dilepas, terlihat oleh Jamil titik-titik darah bekas dari kuku-kukunya.
“Yuk kita jalan, bentar lagi nyampe kan Mil?”. Tanya Erlang
“Betul kang, bentar lagi kok”
Erlang pun melanjutkan perjalanannya dan menurunkan Jamil di pinggir jalan dekat rumahnya.
“Hatur nuhun kang Elang, hati-hati di jalannya”
“Sama-sama Mil, lekas sembuh”
***
16.00
Perjalanan pulang adalah salah satu penyebab yang membuat Erlang kesal selain kejadian tadi pagi dengan Geng Bedog. Karena pada jam itu Bandung sedang di puncak kemacetan, padahal populasi di Bandung sudah berkurang karena eksodus besar-besaran penduduknya ke luar kota namun tetap saja macet tidak hilang disana. Jika saja Erlang tidak ingat akan pesan dari bibinya tadi siang, bahwa bibinya memasak menu masakan favorit Erlang, mungkin Erlang akan menggerutu sepanjang jalan. Bi Euis ini memang bibi terbaik di dunia, pikir Erlang.
Di lampu merah, tiba-tiba gawai Erlang berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
“Tumben si Rini nelpon, biasanya bibi kalo mau nitip sesuatu nelpon pake nomor sendiri”. Rini adalah salah satu karyawan Bi Euis yang biasanya bertugas di dapur. Erlang segera mengangkat telpon itu namun yang terdengar adalah suara isak tangis dari Rini dan terdengar sirene.
“Kang Elaaang, tolong kaaang. Bu Euis kang”.
Erlang menyadari bahwa ada yang tidak beres, langsung menghujani Rini dengan berbagai pertanyaan.
“Bibi kenapa Rin? Suara apa disana? Kenapa berisik sekali? Kamu dimana?”
“Bu Euis kang, masih di dalam kejebak”. Isak Rini dari sebrang telpon.
“Kejebak dimana Rini, emang kenapa disana?”. Erlang mulai panik langsung tancap gas meskipun lampu masih merah dan menyebabkan umpatan dan sumpah serapah dari pengguna jalan yang lain.
“Warung kita kebakaran kang, Bu Euis masih kejebak di dapur”
Januari 2045
“Kesepakatan final dari seluruh Negara-negara di dunia akan dihilangkannya penggunaan senjata api dan nuklir sudah disetujui oleh PBB. Ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Perdamaian yang dilaksanakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia yang dikenal dengan Pakta Nusa Dua. Dengan ini, maka semua penggunaan senjata api dan nuklir dengan segala macam alasan adalah dilarang dan illegal. Bagi Negara yang melanggar maka akan diberikan hukuman yang sangat berat. Dan Negara-negara yang menandatangani Pakta Nusa Dua ini wajib mengedukasi masyarakatnya agar menyerahkan senjata apinya kepada Negara secepatnya. Bagi yang melanggar maka hukuman yang sangat berat menantinya. Sekian Breaking News pagi ini, saya Timothy Siregar melaporkan dari Nusa Dua Bali.”
“Berarti nanti kamu dinas ga bawa senjata api dong lang?”
“Engga atuh bi, kan waktu pendidikan juga kita udah dikasih tau disana”
BHARADA (Bhayangkara Dua) Erlang Santosa. Pemuda gagah ini sedang merapikan seragam dinasnya ketika dia mengobrol dengan Bi Euis, satu-satunya keluarga yang dia miliki. Karena sejak usia 5 tahun, Erlang sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan. Bi Euis sendiri ditinggal suaminya sejak lama dan belum sempat dikarunia anak. Sehingga Erlang sudah menganggap Bi Euis sebagai Ibu kandungnya sendiri.
“Lang, nanti jangan lupa tolong bukain tirai warung ya kalo mau berangkat, bibi tanggung masih masak ini”. Ujar Bi Euis dari dapur.
“iya Bi, Elang berangkat yaa. Assalamualaikum..”
“Waalaikum salam, hati-hati Lang.”
Erlang tinggal di rumah bibinya yang merangkap menjadi warung makan sederhana yang berada tepat di pinggir jalan provinsi di kota Bandung. Dari warung makan inilah Erlang bisa menyelesaikan pendidikan kepolisiannya, Bi Euis begitu peduli sekali dengan pendidikan Erlang sehingga beliau sangat bekerja keras dari pagi sampai malam memasak dan melayani pelanggan warungnya. Meskipun beliau mempunyai beberapa karyawan tapi tetap saja beliau selalu turun tangan. Dengan etos kerja yang luar biasa inilah yang membuat warung makan Bi Euis semakin dikenal dan membesar seperti sekarang. Namun, di usia beliau yang semakin menua membuat Bi Euis tidak bisa terlalu gesit seperti dulu, makanya sekarang beliau lebih sering berada dibalik layar, di dapur maksudnya.
Baru saja Erlang keluar dari pintu dan hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba seorang pemuda dengan wajah bersimbah darah mendatanginya dan meminta tolong.
“Kang Elang, tolong saya kang. Saya dikeroyok Geng Bedog.”
Ternyata pemuda tersebut adalah salah satu karyawan bibinya, Jamil biasa dia dipanggil.
“Kenapa kamu sampe babak belur gini Mil, ada masalah apa sama Geng Bedog?”. Tanya Erlang sambil menuntun Jamil masuk ke dalam warung.
“Ya Allah, Jamil kenapa kamu?” Bi Euis yang baru saja keluar dari dapur langsung panik melihat keadaan Jamil yang bersimbah darah.
Jamil kemudian diobati oleh Bi Euis seraya menceritakan kronologi kenapa dia bisa dikeroyok oleh Geng Bedog. Erlang dan Bi Euis menyimak cerita Jamil dengan seksama. Berdasarkan cerita dari Jamil, dia dikeroyok karena tidak sengaja menyenggol motor salah satu anggota Geng Bedog yang terparkir di pinggir jalan. Pada saat itu Jamil memang agak terburu-buru berangkat, sehingga menyenggol motor anggota Geng Bedog itu.
“Saya ga sengaja kang, lagian mereka juga salah. Parkir motor hampir ke tengah jalan gitu, terus banyak lagi.”
“Nanti mah lebih hati-hati lagi Mil, tau sendiri kan sekarang di Bandung banyak orang sok jago, heran kok bisa ya Geng meresahkan kaya gini malah dilindungi dan lebih parahnya malah dilegalkan”. Ketus Erlang yang sedikit terpancing emosinya.
“Yaudah yang penting sekarang kamu udah selamat, hari ini kamu ga usah kerja, pulang aja ke rumah. Nanti biar diantar sama Elang, gapapa kan Lang?”
“Iya gapapa Bi, searah juga kan rumah kamu Mil?”. Tanya Erlang
“Iya kang, searah. Nanti saya turun di pinggir jalan aja, deket kok ke rumah”.
Erlang dan Jamil pun kemudian berangkat diiringi oleh Bi Euis yang mengantar sampai ke depan warung. Di perjalanan Jamil Nampak was-was, sesekali dia celingak celinguk melihat keadaan sekitar.
“Tenang aja Mil, kalo kamu sama saya Insya Allah aman”. Erlang membaca keresahan Jamil yang masih takut akan Geng Bedog.
“I.. iiiyaa kang, juju raja saya trauma takut dikeroyok lagi”.
“Makanya kamu harus belajar beladiri dong Mil, zaman sekarang semua orang harus bisa, wajib malah. Tau sendiri kan kita hidup di zaman orang orang makin tak beradab, tak tahu sopan santun, dan tidak bermoral”. Erlang mulai lagi menumpahkan sisa-sisa emosi yang tadi sempat tertahan karena Bi Euis.
“Bandung beda banget sama yang sering Bi Euis ceritain waktu saya kecil Mil. Dulu bibi cerita bahwa Bandung itu adalah Kota Kembang yang penduduknya ramah dan agamis, Bandung yang menjadi kiblat food and fashion nya Indonesia, bahkan turis asing sangat betah jika berlibur di Bandung karena orang-orangnya murah senyum dan penolong, ciri khas orang Sunda. Namun sekarang, Bandung tak ubahnya kota Gengster yang merusak semua itu. Banyak orang yang pindah keluar kota karena merasa tidak betah dengan Bandung yang sekarang. Turis lokal dan mancanegara juga tidak lagi menjadikan Bandung sebagai destinasi wisata mereka, dan parahnya Geng-geng ini seakan difasilitasi dan dibiarkan oleh pemerintah. Semua gara-gara Senja Merah dan ide akan Penjaga Kedamaian sialannya!”.
Jamil yang merasakan amarah dari penjelasan Erlang hanya meng-iyakan ucapan polisi tersebut. Karena sedikitnya Jamil tahu bahwa Erlang adalah pemuda yang baik, namun ketika dia marah hanya bibinya yang mampu meredam amarahnya.
“Untung kamu ga kebawa-bawa pergaulan kaya mereka Mil, kalo kamu ikutan bisa saya………BANGSIT!”
“Demi Allah kang saya ga pernah nyuri, sumpah kang. Jangan panggil saya BANGSIT dong”. Protes Jamil yang tersinggung dengan ucapan Erlang.
“Bukan kamu Mil, lihat di depan”.
Di depan mobil mereka sudah berjejer motor-motor dari pemuda-pemuda berseragam hijau tua strip merah dengan lambang Golok/Bedog di dada kirinya. Pemuda-pemuda tersebut mengacungkan goloknya dan berteriak. Para pengguna jalan dan pejalan kaki pun berhamburan dan putar balik karena takut akan terjadi keributan disana. Tinggallah Erlang dan Jamil yang tersisa.
“Keluar kau anjing! Jangan sembunyi!”. Tunjuk seorang pemuda berambut Mohawk yang merangsek maju ke depan dan mengetuk kap depan mobil Erlang dengan ujung goloknya.
“Aduh kang Elang, gimana ini kang? Saya takut pisan”. Jamil yang mulai terisak dan menitikan air mata.
“Tenang Mil, selama masih ada saya disini kamu bakalan saya lindungi. Polisi ada untuk mengayomi dan melindungi masyarakat. Yuk kita samperin mereka”.
“Ta.. tapii kang”. Rengek Jamil yang kemudian tetap mengikuti perintah Erlang, karena dibalik senyuman Erlang, ada kilatan amarah di matanya yang membuat Jamil nurut dan tidak berani menatap mata Erlang.
“Ada apa ini akang-akang? Kok bergerombol gini?”. Tanya Erlang ramah dengan sorot matanya tajam menatap satu persatu pemuda-pemuda tersebut. Khususnya si Mohawk yang masih sok jago dengan tidak melepas goloknya di depan polisi gagah tersebut.
“Wah wah wahh, sejak kapan pak polisi berubah menjadi pengawal pribadi nih? Apa kalian udah ga punya kerjaan?”. Si Mohawk yang berjalan santai ke depan Erlang yang masih berdiri tegap dan Jamil yang malu-malu kucing bersembunyi di belakang punggung Erlang.
“Kayanya yang ga punya kerjaan itu kalian, bergerombol seperti ini menghalangi pengguna jalan, tolong lah setidaknya kalo hidup kalian memang tidak berguna, jangan merugikan orang lain dengan ngalangin jalan dong. Minggir yaa”. Ucap Erlang dengan tersenyum sarkas kepada pemuda-pemuda Geng Bedog.
Dan Erlang sukses membuat naik emosi pemuda-pemuda tersebut, sehingga salah satu pemuda di belakang si Mohawk langsung merangsek maju ke depan dan hendak mengayunkan goloknya ke leher Erlang. Namun si Mohawk dengan cekatan menahan pemuda itu dan tanpa diduga langsung membanting anak buahnya itu sehingga dia jatuh dengan keras di aspal jalan.
“DIAM ANJING! JANGAN CARI MASALAH!”. Hardik si Mohawk kepada anak buahnya itu dengan diiringi oleh tendangan di wajah dan membuat anak buahnya pingsan seketika.
“Lumayan juga berandalan ini, pantas saja dia jadi pemimpin Geng”. Pikir Erlang dalam hati setelah melihat kejadian di depan matanya.
“Pak polisi ini ternyata pintar bersilat lidah juga ya? Apakah memang polisi sekarang kemampuannya cuman ini aja hehe”. Si Mohawk mencoba memprovokasi Erlang yang masih berdiri tenang di depannya.
“Silahkan saja jika ingin mencoba kemampuan saya, itupun jika anda berani [I]one on one”. Erlang yang maju selangkah ke depan dan berhadapan dengan si Mohawk.
“Gimana?”
“Kita akan bertemu lagi pak polisi, secepatnya”. Geram si Mohawk dengan menatap benci kepada Erlang.
Perlahan-lahan si Mohawk mundur tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya terhadap Erlang yang masih berdiri dengan tenang tanpa takut. Dengan kibasan tangannya si Mohawk mengisyaratkan anak buahnya untuk mundur dan pergi dari sana. Deru suara bising motor-motor Geng Bedog mengiringi kepergian mereka. Dan sekilas Erlang melihat tanda garis putih di tangan kanan Geng Bedog tersebut yang menandakan bahwa mereka adalah Penjaga Kedamaian secara legal.
Erlang yang masih berdiri tegak meskipun Geng Bedog sudah pergi dari hadapannya menyadari bahwa semakin bencinya dia akan para Penjaga Kedamaian ini. Karena isinya hanya pemuda-pemuda pengangguran yang banyak berulah dan mengganggu masyarakat. Tetapi kepolisian lah yang dibenci oleh masyarakat, padahal kepolisian Indonesia sudah berbenah diri dan berubah menjadi lebih baik. Namun tetap saja stigma negatif dari masyarakat terhadap polisi tidak bisa hilang begitu saja dan Erlang harus tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat.
“Kang, ayo kita pergi”
Ajakan Jamil menyadarkan Erlang kembali, tanpa sadar sejak kepergian Geng Bedog, Erlang mengepalkan tangannya dengan begitu keras sehingga ketika kepalan tangannya dilepas, terlihat oleh Jamil titik-titik darah bekas dari kuku-kukunya.
“Yuk kita jalan, bentar lagi nyampe kan Mil?”. Tanya Erlang
“Betul kang, bentar lagi kok”
Erlang pun melanjutkan perjalanannya dan menurunkan Jamil di pinggir jalan dekat rumahnya.
“Hatur nuhun kang Elang, hati-hati di jalannya”
“Sama-sama Mil, lekas sembuh”
***
16.00
Perjalanan pulang adalah salah satu penyebab yang membuat Erlang kesal selain kejadian tadi pagi dengan Geng Bedog. Karena pada jam itu Bandung sedang di puncak kemacetan, padahal populasi di Bandung sudah berkurang karena eksodus besar-besaran penduduknya ke luar kota namun tetap saja macet tidak hilang disana. Jika saja Erlang tidak ingat akan pesan dari bibinya tadi siang, bahwa bibinya memasak menu masakan favorit Erlang, mungkin Erlang akan menggerutu sepanjang jalan. Bi Euis ini memang bibi terbaik di dunia, pikir Erlang.
Di lampu merah, tiba-tiba gawai Erlang berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
“Tumben si Rini nelpon, biasanya bibi kalo mau nitip sesuatu nelpon pake nomor sendiri”. Rini adalah salah satu karyawan Bi Euis yang biasanya bertugas di dapur. Erlang segera mengangkat telpon itu namun yang terdengar adalah suara isak tangis dari Rini dan terdengar sirene.
“Kang Elaaang, tolong kaaang. Bu Euis kang”.
Erlang menyadari bahwa ada yang tidak beres, langsung menghujani Rini dengan berbagai pertanyaan.
“Bibi kenapa Rin? Suara apa disana? Kenapa berisik sekali? Kamu dimana?”
“Bu Euis kang, masih di dalam kejebak”. Isak Rini dari sebrang telpon.
“Kejebak dimana Rini, emang kenapa disana?”. Erlang mulai panik langsung tancap gas meskipun lampu masih merah dan menyebabkan umpatan dan sumpah serapah dari pengguna jalan yang lain.
“Warung kita kebakaran kang, Bu Euis masih kejebak di dapur”
Part 2
Part 3
Part 4
Selintas Memori 1
Part 5
Part 6
Selintas Memori 2
Part 7
Diubah oleh oyag2000 18-10-2022 19:35
erman123 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
4.6K
Kutip
37
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
oyag2000
#5
Part 2 : Amarah
Spoiler for :
“Kejebak dimana Rini, emang kenapa disana?”. Erlang mulai panik langsung tancap gas meskipun lampu masih merah dan menyebabkan umpatan dan sumpah serapah dari pengguna jalan yang lain.
“Warung kita kebakaran kang, Bu Euis masih kejebak di dapur”.
Dengan kecepatan tinggi Erlang segera menuju ke warung sekaligus tempat tinggalnya, seraya berdoa semoga bibinya baik-baik saja.
“Ya Allah, tolong jaga bibi hamba, jangan sampai beliau kenapa-napa”. Doa Erlang yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
Sesampainya di lokasi, Erlang melihat para pemadam kebakaran yang berjuang memadamkan api, beberapa polisi yang mengamankan, dan beberapa karyawan bibinya yang menangis dan dirawat oleh petugas medis namun lebih banyak lagi orang-orang yang hanya melihat tanpa melakukan apapun, kecuali mengeluarkan gawainya dan merekam. Iya hanya merekam. Erlang tidak terlalu memperdulikan orang-orang tidak berguna itu karena Erlang segera merangsek maju ke arah pintu depan yang dihalangi oleh seorang petugas.
“Pak, tolong mundur disini baha… ehh pak Erlang.. maaf pak”. Petugas tersebut segera menyadari siapa yang datang dan segera menyingkir dari hadapan Erlang. Kemudian terdengar jeritan seorang perempuan yang berlari dan langsung memeluk Erlang.
“Rini! Kamu ga kenapa-napa kan?’ mana bibi?”
“Ibu masih di dapur kang Elang, tadi beliau yang nyuruh semua karyawan keluar duluan katanya beliau mau nyari sesuatu dulu, tapi pas kita udah diluar Ibu masih di dalam kejebak, pintu dapurnya kebakar dan runtuh”. Isak Rini yang masih tidak berani menatap mata Erlang.
“Kamu tunggu disini”. Seraya melepaskan pelukan dari Rini dan bergegas meminta jaket pemadam kebakaran dan alat bantu pernafasan kepada damkar yang berada di mobil.
“Buat apa pak? Jangan gegabah. Apinya masih besar, tunggu saja kami juga berusaha sebisa mungkin. Bantuan akan segera datang”. Ujar seorang damkar yang memberi Erlang 2 buah jaket pemadam dan alat bantu pernafasan, namun dia sendiri tidak yakin apakah bantuan akan tiba tepat waktu atau tidak.
Erlang tidak menjawab pertanyaan basa basi tersebut dan langsung memakai jaket pemadam dan langsung menerobos ke dalam ruangan, tujuan utamanya adalah dapur. Dengan terbatuk-batuk karena asap yang begitu pekat membuat Erlang mulai pusing, namun dia melihat pintu dapur sudah hampir habis dan tanpa banyak berpikir langsung Erlang tendang pintu tersebut sehingga roboh. Disana terlihat bibinya tergeletak tak sadarkan diri di lantai dan hampir saja tertimpa lemari yang terbakar, jika saja Erlang telat menarik bibinya. Erlang memeriksa denyut nadi bibinya dan bersyukur beliau masih bernafas, segera Erlang memakaikan alat bantu pernafasan dan jaket pemadam, kemudian menggendong bibinya keluar dari dapur yang sudah hampir habis terbakar.
“Woyy! Bantu sini! Medis cepetan bawa ke ambulan!”. Teriak seorang damkar yang baru saja memasuki ruangan dan melihat Erlang yang berhasil menyelamatkan bibinya.
Erlang jatuh tersungkur karena terlalu banyak menghirup asap, langsung ditolong oleh seorang medis dan bibinya dibawa ke mobil ambulan oleh petugas medis lain yang sudah stand by disana.
“bibi saya pa, gimana keadaan bibi saya?”. Tanya Erlang yang sedang diberikan oksigen oleh petugas medis.
“Bibi bapak sedang diberi pertolongan pertama sama temen saya, nampaknya harus dibawa ke Rumah Sakit pak”.
Erlang yang masih memakai oksigen segera beranjak menuju mobil ambulan dan meminta petugas medis segera membawa beliau ke Rumah Sakit.
Ambulan pun berjalan dengan kecepatan penuh, membawa Erlang dan bibinya ke Rumah Sakit. Di perjalanan, Erlang terdiam melihat kondisi bibinya yang tergolek lemas dan terlihat beberapa luka bakar pada tangan dan kakinya yang mulai keriput membuat Erlang menitikan air mata. Seorang petugas medis yang duduk di sebelahnya mencoba menghibur Erlang dengan menepuk bahunya.
“Terima kasih pak, semoga bibi saya tidak kenapa napa”.
“Sama-sama pak polisi, semoga kita bisa segera sampai di Rumah Sakit supaya bibinya bisa ditangani dengan lebih baik lagi”. Hibur petugas medis tersebut yang tiba-tiba kaget karena Bi Euis terbatuk batuk dan mengeluarkan darah.
“Biiii, bibi kenapaaa?! Pak gimana ini kenapa bibi saya batuk darah?”. Erlang pun mulai panik karena Bi Euis beberapa kali batuk dan mengeluarkan darah.
Petugas medis itupun segera menangani beliau namun tiba-tiba tangan Bi Euis mencengram tangan Erlang.
“Lang, dengarkan pesan bibi. Bibi rasa waktu bibi udah ga lama lagi, uhkk uhuuukk”. Kembali darah keluar seiring dengan batuknya.
“Bibi jangan nakutin Elang, bibi kuat, bentar lagi nyampe Rumah Sakit kok”. Mulai dari sini Erlang menangis seperti anak kecil. Dia tidak peduli dengan image dia sebagai pemuda gagah na kuat, meskipun di depan seorang petugas medis yang juga panik dan canggung dengan keadaan tersebut.
“Udah Lang, kamu dengerin bibi! Setelah ini hiduplah menjadi polisi yang lebih baik lagi dalam melindungi dan mengayomi masyarakat. Bibi yakin kamu bisa merubah image kepolisian menjadi lebih baik daripada zaman bibi dulu. Dan jaga ibadahmu, jjangan menjadi orang yang pendendam, jadilah orang pemaaf. Kamu anak bibi satu-satunya Lang, bibi bangga sama kamu”. Pesan terakhir Bi Euis sebelum beliau kembali batuk darah hebat dan mengeluarkan darah. Setelah itu tangan Bi Euis yang mencengkram Erlang, perlahan melemah dan terkulai, seutas senyum tersimpul dari raut wajah Bi Euis.
Bunyi sirene ambulan perlahan hilang, karena mobil ambulan sudah sampai di Rumah Sakit. Setelah itu hanya ada tangisan kehilangan yang sangat menyakitkan dari seorang pemuda di dalamnya..
***
Pemakaman Bi Euis dihadiri banyak pelayat, bahkan ketika di sholatkan pun masjid sampai tumpah ruah ke jalan saking banyaknya jamaah yang ikut mensholatkan. Itulah yang sedikit menghibur Erlang, pertanda bahwa bibinya adalah orang baik. Dan jika mengingat kebaikan beliau, hanya membuat Erlang kembali menangis bahkan untuk sekarang air matanya sudah tidak mampu lagi keluar meskipun dia ingin. Tak terasa para pelayat mulai pergi meninggalkan pemakaman, dan tinggal Erlang sendiri disana yang masih berdiri namun kepalanya tertunduk. Menutupi tangisan tanpa air mata.
Seminggu kemudian..
Erlang kembali bekerja pasca kematian Bi Euis. Dan menurut penyelidikan pihak kepolisian, penyebab kebakaran adalah konsleting listrik, Erlang pun mempercayakan sepenuhnya kepada rekan-rekannya di kepolisian. Pasca kebakaran, warung makan sekaligus tempat tinggal Erlang masih belum ada tanda-tanda di perbaiki. Erlang sendiri lebih memilih tinggal di mess kantor yang kosong, meskipun beberapa karyawan bibinya menawari dia tinggal di rumah mereka. Namun Erlang menolak karena tidak ingin merepotkan. Namun pada suatu hari..
“Lang, bisa ke ruangan saya sebentar?”.
Erlang memasuki ruangan atasannya, BHARAKA Simon Wijaya. Atasan Erlang yang terkenal tegas dan tanpa kompromi. Di tangannya, semua anak buahnya menjadi polisi-polisi yang jujur dan tegas. Oleh karena itu semua anak buahnya hormat pada beliau.
“siap pak!”
“Udah santai aja jangan terlalu formal, gimana kamu sudah sehat?”. Tanya pak Simon
“Alhamdulillah sehat pak”
“Saya ikut berduka atas kepergian bibi, karena percaya atau tidak saya juga merasa kehilangan. Meskipun cuman beberapa kali saya singgah makan disana tapi saya merasa bibi kamu itu bukan orang asing lagi buat saya”.
“Terima kasih pak, ngomong-ngomong ada apa ya pak manggil saya?”. Tanya Erlang
“Langsung saja Lang, jadi saya kemarin-kemarin ikut menginvestigasi tentang kebakaran di warung makan bibimu, dan ternyata tim investigasi melaporkan ke saya bahwa ada rekaman cctv dari toko yang tidak jauh dari dapur warungmu itu. Dan hasil yang kami dapat adalah kesimpulan bahwa kebakaran itu sabotase, ada suspect yang kita curigai sebagai pelaku dan sekarang sedang dalam pengejaran”.
Rasa sakit Erlang akan kehilangan bibinya berubah menjadi amarah yang membara, kemudian terbaca oleh pak Simon.
“Saya tidak akan lanjutkan sebelum kamu bisa mengontrol amarahmu Lang”.
Erlang hanya diam mengangguk namun tatapan matanya masih terlihat tajam. Bahkan untuk ukuran pak Simon sendiri beliau tidak berani menatap lama tatapan itu.
“Oke oke mari kita lihat rekaman cctv nya”.
Pak Simon kemudian menyalakan komputernya dan segera memutar rekaman cctv tersebut. Nampak terlihat kondisi lalu lintas seperti biasa disana, warung makan bibinya terlihat dari belakang, beberapa kali Rini dan karyawan bagian dapur keluar membuang sampah dan sisa makanan dan setelah itu Nampak beberapa motor berhenti. Erlang melotot geram melihat hal tersebut karena terlihat jelas di matanya orang-orang yang turun dari motor tersebut adalah si Mohawk dan Gengnya… yang paling membuat Erlang geram adalah ADA JAMIL BERSAMA MEREKA..
“Warung kita kebakaran kang, Bu Euis masih kejebak di dapur”.
Dengan kecepatan tinggi Erlang segera menuju ke warung sekaligus tempat tinggalnya, seraya berdoa semoga bibinya baik-baik saja.
“Ya Allah, tolong jaga bibi hamba, jangan sampai beliau kenapa-napa”. Doa Erlang yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
Sesampainya di lokasi, Erlang melihat para pemadam kebakaran yang berjuang memadamkan api, beberapa polisi yang mengamankan, dan beberapa karyawan bibinya yang menangis dan dirawat oleh petugas medis namun lebih banyak lagi orang-orang yang hanya melihat tanpa melakukan apapun, kecuali mengeluarkan gawainya dan merekam. Iya hanya merekam. Erlang tidak terlalu memperdulikan orang-orang tidak berguna itu karena Erlang segera merangsek maju ke arah pintu depan yang dihalangi oleh seorang petugas.
“Pak, tolong mundur disini baha… ehh pak Erlang.. maaf pak”. Petugas tersebut segera menyadari siapa yang datang dan segera menyingkir dari hadapan Erlang. Kemudian terdengar jeritan seorang perempuan yang berlari dan langsung memeluk Erlang.
“Rini! Kamu ga kenapa-napa kan?’ mana bibi?”
“Ibu masih di dapur kang Elang, tadi beliau yang nyuruh semua karyawan keluar duluan katanya beliau mau nyari sesuatu dulu, tapi pas kita udah diluar Ibu masih di dalam kejebak, pintu dapurnya kebakar dan runtuh”. Isak Rini yang masih tidak berani menatap mata Erlang.
“Kamu tunggu disini”. Seraya melepaskan pelukan dari Rini dan bergegas meminta jaket pemadam kebakaran dan alat bantu pernafasan kepada damkar yang berada di mobil.
“Buat apa pak? Jangan gegabah. Apinya masih besar, tunggu saja kami juga berusaha sebisa mungkin. Bantuan akan segera datang”. Ujar seorang damkar yang memberi Erlang 2 buah jaket pemadam dan alat bantu pernafasan, namun dia sendiri tidak yakin apakah bantuan akan tiba tepat waktu atau tidak.
Erlang tidak menjawab pertanyaan basa basi tersebut dan langsung memakai jaket pemadam dan langsung menerobos ke dalam ruangan, tujuan utamanya adalah dapur. Dengan terbatuk-batuk karena asap yang begitu pekat membuat Erlang mulai pusing, namun dia melihat pintu dapur sudah hampir habis dan tanpa banyak berpikir langsung Erlang tendang pintu tersebut sehingga roboh. Disana terlihat bibinya tergeletak tak sadarkan diri di lantai dan hampir saja tertimpa lemari yang terbakar, jika saja Erlang telat menarik bibinya. Erlang memeriksa denyut nadi bibinya dan bersyukur beliau masih bernafas, segera Erlang memakaikan alat bantu pernafasan dan jaket pemadam, kemudian menggendong bibinya keluar dari dapur yang sudah hampir habis terbakar.
“Woyy! Bantu sini! Medis cepetan bawa ke ambulan!”. Teriak seorang damkar yang baru saja memasuki ruangan dan melihat Erlang yang berhasil menyelamatkan bibinya.
Erlang jatuh tersungkur karena terlalu banyak menghirup asap, langsung ditolong oleh seorang medis dan bibinya dibawa ke mobil ambulan oleh petugas medis lain yang sudah stand by disana.
“bibi saya pa, gimana keadaan bibi saya?”. Tanya Erlang yang sedang diberikan oksigen oleh petugas medis.
“Bibi bapak sedang diberi pertolongan pertama sama temen saya, nampaknya harus dibawa ke Rumah Sakit pak”.
Erlang yang masih memakai oksigen segera beranjak menuju mobil ambulan dan meminta petugas medis segera membawa beliau ke Rumah Sakit.
Ambulan pun berjalan dengan kecepatan penuh, membawa Erlang dan bibinya ke Rumah Sakit. Di perjalanan, Erlang terdiam melihat kondisi bibinya yang tergolek lemas dan terlihat beberapa luka bakar pada tangan dan kakinya yang mulai keriput membuat Erlang menitikan air mata. Seorang petugas medis yang duduk di sebelahnya mencoba menghibur Erlang dengan menepuk bahunya.
“Terima kasih pak, semoga bibi saya tidak kenapa napa”.
“Sama-sama pak polisi, semoga kita bisa segera sampai di Rumah Sakit supaya bibinya bisa ditangani dengan lebih baik lagi”. Hibur petugas medis tersebut yang tiba-tiba kaget karena Bi Euis terbatuk batuk dan mengeluarkan darah.
“Biiii, bibi kenapaaa?! Pak gimana ini kenapa bibi saya batuk darah?”. Erlang pun mulai panik karena Bi Euis beberapa kali batuk dan mengeluarkan darah.
Petugas medis itupun segera menangani beliau namun tiba-tiba tangan Bi Euis mencengram tangan Erlang.
“Lang, dengarkan pesan bibi. Bibi rasa waktu bibi udah ga lama lagi, uhkk uhuuukk”. Kembali darah keluar seiring dengan batuknya.
“Bibi jangan nakutin Elang, bibi kuat, bentar lagi nyampe Rumah Sakit kok”. Mulai dari sini Erlang menangis seperti anak kecil. Dia tidak peduli dengan image dia sebagai pemuda gagah na kuat, meskipun di depan seorang petugas medis yang juga panik dan canggung dengan keadaan tersebut.
“Udah Lang, kamu dengerin bibi! Setelah ini hiduplah menjadi polisi yang lebih baik lagi dalam melindungi dan mengayomi masyarakat. Bibi yakin kamu bisa merubah image kepolisian menjadi lebih baik daripada zaman bibi dulu. Dan jaga ibadahmu, jjangan menjadi orang yang pendendam, jadilah orang pemaaf. Kamu anak bibi satu-satunya Lang, bibi bangga sama kamu”. Pesan terakhir Bi Euis sebelum beliau kembali batuk darah hebat dan mengeluarkan darah. Setelah itu tangan Bi Euis yang mencengkram Erlang, perlahan melemah dan terkulai, seutas senyum tersimpul dari raut wajah Bi Euis.
Bunyi sirene ambulan perlahan hilang, karena mobil ambulan sudah sampai di Rumah Sakit. Setelah itu hanya ada tangisan kehilangan yang sangat menyakitkan dari seorang pemuda di dalamnya..
***
Pemakaman Bi Euis dihadiri banyak pelayat, bahkan ketika di sholatkan pun masjid sampai tumpah ruah ke jalan saking banyaknya jamaah yang ikut mensholatkan. Itulah yang sedikit menghibur Erlang, pertanda bahwa bibinya adalah orang baik. Dan jika mengingat kebaikan beliau, hanya membuat Erlang kembali menangis bahkan untuk sekarang air matanya sudah tidak mampu lagi keluar meskipun dia ingin. Tak terasa para pelayat mulai pergi meninggalkan pemakaman, dan tinggal Erlang sendiri disana yang masih berdiri namun kepalanya tertunduk. Menutupi tangisan tanpa air mata.
Seminggu kemudian..
Erlang kembali bekerja pasca kematian Bi Euis. Dan menurut penyelidikan pihak kepolisian, penyebab kebakaran adalah konsleting listrik, Erlang pun mempercayakan sepenuhnya kepada rekan-rekannya di kepolisian. Pasca kebakaran, warung makan sekaligus tempat tinggal Erlang masih belum ada tanda-tanda di perbaiki. Erlang sendiri lebih memilih tinggal di mess kantor yang kosong, meskipun beberapa karyawan bibinya menawari dia tinggal di rumah mereka. Namun Erlang menolak karena tidak ingin merepotkan. Namun pada suatu hari..
“Lang, bisa ke ruangan saya sebentar?”.
Erlang memasuki ruangan atasannya, BHARAKA Simon Wijaya. Atasan Erlang yang terkenal tegas dan tanpa kompromi. Di tangannya, semua anak buahnya menjadi polisi-polisi yang jujur dan tegas. Oleh karena itu semua anak buahnya hormat pada beliau.
“siap pak!”
“Udah santai aja jangan terlalu formal, gimana kamu sudah sehat?”. Tanya pak Simon
“Alhamdulillah sehat pak”
“Saya ikut berduka atas kepergian bibi, karena percaya atau tidak saya juga merasa kehilangan. Meskipun cuman beberapa kali saya singgah makan disana tapi saya merasa bibi kamu itu bukan orang asing lagi buat saya”.
“Terima kasih pak, ngomong-ngomong ada apa ya pak manggil saya?”. Tanya Erlang
“Langsung saja Lang, jadi saya kemarin-kemarin ikut menginvestigasi tentang kebakaran di warung makan bibimu, dan ternyata tim investigasi melaporkan ke saya bahwa ada rekaman cctv dari toko yang tidak jauh dari dapur warungmu itu. Dan hasil yang kami dapat adalah kesimpulan bahwa kebakaran itu sabotase, ada suspect yang kita curigai sebagai pelaku dan sekarang sedang dalam pengejaran”.
Rasa sakit Erlang akan kehilangan bibinya berubah menjadi amarah yang membara, kemudian terbaca oleh pak Simon.
“Saya tidak akan lanjutkan sebelum kamu bisa mengontrol amarahmu Lang”.
Erlang hanya diam mengangguk namun tatapan matanya masih terlihat tajam. Bahkan untuk ukuran pak Simon sendiri beliau tidak berani menatap lama tatapan itu.
“Oke oke mari kita lihat rekaman cctv nya”.
Pak Simon kemudian menyalakan komputernya dan segera memutar rekaman cctv tersebut. Nampak terlihat kondisi lalu lintas seperti biasa disana, warung makan bibinya terlihat dari belakang, beberapa kali Rini dan karyawan bagian dapur keluar membuang sampah dan sisa makanan dan setelah itu Nampak beberapa motor berhenti. Erlang melotot geram melihat hal tersebut karena terlihat jelas di matanya orang-orang yang turun dari motor tersebut adalah si Mohawk dan Gengnya… yang paling membuat Erlang geram adalah ADA JAMIL BERSAMA MEREKA..
ozzai936 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas