- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.8K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#725
Part 95 - Surat Cinta Untuk Zahra
Hampir sebulan gua mengurusi toko online gua di marketplace, namun belum satupun produk gua yang laku.
Padahal, sudah ratusan kali produk gua dilihat. Serta puluhan chat dari calon pembeli gua balas satu persatu. Tapi tetap saja belum ada yang nyantol.
Rasanya, hampir gua hampir memutuskan untuk menyerah karena sebulan yang gua lalui terasa sia-sia.
Banyak planing yang sudah gua susun diatas usaha gua ini. Rencananya, usaha gua ini bakal membuat gua mandiri tanpa harus menadah tangan lagi ke Papah Mamah.
Kuliah yang beberapa hari lagi akan dimulai, resepsi yang sudah ditentukan pada awal tahun nanti. Ahhh, gua kebanyakan pikiran.
Di balkon kamar, gua merenung. Mengurut satu persatu tentang apa yang salah dengan toko online milik gua.
Cukup lama gua di sana, beberapa batang rokok habis termakan oleh bara.
"Capek banget kayaknya" Zahra datang menggendong Dini yang usianya kini hampir menginjak dua tahun
Gua menatap mereka dengan lesu
"Mau dipijitin?" Tawar Zahra, gua hanya menggeleng. Menolak tawarannya karena yang lelah bukanlah tubuh gua, tapi pikiran gua.
Dari saku celananya, Zahra mengambil smartphone, lalu menekan tombol panggilan mengubungi Izal. Tak lupa panggilan tersebut disetting ke mode loud speaker.
"Assalamualaikum, zal"
"Waalaikumsalam, ada apa ra?" Tanya Izal dari seberang sana
"Ini, mas Raja murung terus belum ada yang beli di tokonya. Bisa dibantu ngga? Kesel aku liat dia gini terus berapa hari ini"
"Produknya tuh kayaknya perlu diiklanin" balas Izal
"Endorse maksud lu?" Saut gua
"Bukan, diiklanin di marketplacenya, jadi produk lu bisa tampil di peringkat atas. Otomatis produk lu bakal diliat lebih sering, jadinya kan berimbas ke persentase pembelian" jelas Izal
"Boros dong kalo gitu caranya" ucap gua
"Ya jangan tiap waktu diiklanin. Di jam sama hari tertentu aja, cuma buat ngedongkrak performa toko" balas Izal
Gua segera bergegas pergi dari balkon, masuk menuju kamar "makasih Zal"
Dari riwayat pesan yang dikirimkan oleh calon pembeli kemarin, gua mengumpulkan data hari apa dan jam berapa mereka mengirimkan pesan. Data tersebut gua simpulkan sebagai jam para calon pembeli melakukan pencarian di marketplace. Dari data itu juga gua mengatur tayangan iklan produk di toko gua.
Dan *boom* keesokan harinya gua bangun dengan 4 pembeli melakukan checkout di toko gua.
Berlarian gua ke kamar Zahra, mengetuk pintunya dengan sedikit keras "ra, ada yang beli"
Gua mendengar deru langkahnya menuju pintu dan membukanya "Alhamdulillah" Zahra turut senang dan memeluk gua
--
Waktu berjalan begitu cepatnya, usaha gua berjalan lancar. Kesibukan gua kuliah membuat gua tak bisa menghandle penuh toko online tersebut, hingga akhirnya gua memutuskan untuk memperkejakan satu orang untuk melakukan packing. Sedangkan urusan administrasi, gua dibantu oleh Zahra.
Gua pun juga memindahkan barang-barang usaha gua, serta tempat operasional ke kos-kosan milik Papah. Ada dua kamar yang gua pakai, satu untuk gudang, satu lagi untuk administrasi dan packing.
Banyaknya orderan di toko online milik gua, tak berarti bahwa gua memiliki untung besar. Rencana bahwa penghasilan toko yang akan gua gunakan untuk acara resepsi nyatanya tak terealisasi.
Uang yang gua kumpulkan tak lebih dari seperempat anggaran biaya.
Ujung-ujungnya, Papah dan Abah tetap saja menggelontorkan dana besar bagi pernikahan gua dan Zahra.
"Ngga apa, setidaknya nanti kita udah punya sumber penghasilan pas udah nikah" kata Zahra menyemangati gua.
--
Januari 2018, gua resmi meminang Zahra sebagai pendamping hidup gua.
Resepsi dilakukan dua kali. Resepsi pertama dilakukan setelah akan nikah di Magelang dengan tamu undangan dari pihak keluarga dan kerabat Abah, Umi, dan Zahra. Resepsi kedua dilakukan di Semarang dengan tamu undangan dari pihak keluarga dan kerabat Papah, Mamah, Eyang, Bapak, Ibu, serta teman-teman gua.
Terkesan ngga punya malu, ya? Udah anak angkat, baru lulus langsung nikah, dibiayain pula. Sudah lah, jadi paket lengkap bahan ghibah.
Tapi ya sudahlah, toh gua ngga tau juga bahwa akan ada hal yang membuat hidup gua berubah 180 derajat jadi mudah.
Dengan berlangsungnya pernikahan gua, jadinya berakhir juga perjuangan gua mengejar apa yang dinamakan bumbu hidup; yaitu cinta.
Padahal, sudah ratusan kali produk gua dilihat. Serta puluhan chat dari calon pembeli gua balas satu persatu. Tapi tetap saja belum ada yang nyantol.
Rasanya, hampir gua hampir memutuskan untuk menyerah karena sebulan yang gua lalui terasa sia-sia.
Banyak planing yang sudah gua susun diatas usaha gua ini. Rencananya, usaha gua ini bakal membuat gua mandiri tanpa harus menadah tangan lagi ke Papah Mamah.
Kuliah yang beberapa hari lagi akan dimulai, resepsi yang sudah ditentukan pada awal tahun nanti. Ahhh, gua kebanyakan pikiran.
Di balkon kamar, gua merenung. Mengurut satu persatu tentang apa yang salah dengan toko online milik gua.
Cukup lama gua di sana, beberapa batang rokok habis termakan oleh bara.
"Capek banget kayaknya" Zahra datang menggendong Dini yang usianya kini hampir menginjak dua tahun
Gua menatap mereka dengan lesu
"Mau dipijitin?" Tawar Zahra, gua hanya menggeleng. Menolak tawarannya karena yang lelah bukanlah tubuh gua, tapi pikiran gua.
Dari saku celananya, Zahra mengambil smartphone, lalu menekan tombol panggilan mengubungi Izal. Tak lupa panggilan tersebut disetting ke mode loud speaker.
"Assalamualaikum, zal"
"Waalaikumsalam, ada apa ra?" Tanya Izal dari seberang sana
"Ini, mas Raja murung terus belum ada yang beli di tokonya. Bisa dibantu ngga? Kesel aku liat dia gini terus berapa hari ini"
"Produknya tuh kayaknya perlu diiklanin" balas Izal
"Endorse maksud lu?" Saut gua
"Bukan, diiklanin di marketplacenya, jadi produk lu bisa tampil di peringkat atas. Otomatis produk lu bakal diliat lebih sering, jadinya kan berimbas ke persentase pembelian" jelas Izal
"Boros dong kalo gitu caranya" ucap gua
"Ya jangan tiap waktu diiklanin. Di jam sama hari tertentu aja, cuma buat ngedongkrak performa toko" balas Izal
Gua segera bergegas pergi dari balkon, masuk menuju kamar "makasih Zal"
Dari riwayat pesan yang dikirimkan oleh calon pembeli kemarin, gua mengumpulkan data hari apa dan jam berapa mereka mengirimkan pesan. Data tersebut gua simpulkan sebagai jam para calon pembeli melakukan pencarian di marketplace. Dari data itu juga gua mengatur tayangan iklan produk di toko gua.
Dan *boom* keesokan harinya gua bangun dengan 4 pembeli melakukan checkout di toko gua.
Berlarian gua ke kamar Zahra, mengetuk pintunya dengan sedikit keras "ra, ada yang beli"
Gua mendengar deru langkahnya menuju pintu dan membukanya "Alhamdulillah" Zahra turut senang dan memeluk gua
--
Waktu berjalan begitu cepatnya, usaha gua berjalan lancar. Kesibukan gua kuliah membuat gua tak bisa menghandle penuh toko online tersebut, hingga akhirnya gua memutuskan untuk memperkejakan satu orang untuk melakukan packing. Sedangkan urusan administrasi, gua dibantu oleh Zahra.
Gua pun juga memindahkan barang-barang usaha gua, serta tempat operasional ke kos-kosan milik Papah. Ada dua kamar yang gua pakai, satu untuk gudang, satu lagi untuk administrasi dan packing.
Banyaknya orderan di toko online milik gua, tak berarti bahwa gua memiliki untung besar. Rencana bahwa penghasilan toko yang akan gua gunakan untuk acara resepsi nyatanya tak terealisasi.
Uang yang gua kumpulkan tak lebih dari seperempat anggaran biaya.
Ujung-ujungnya, Papah dan Abah tetap saja menggelontorkan dana besar bagi pernikahan gua dan Zahra.
"Ngga apa, setidaknya nanti kita udah punya sumber penghasilan pas udah nikah" kata Zahra menyemangati gua.
--
Januari 2018, gua resmi meminang Zahra sebagai pendamping hidup gua.
Resepsi dilakukan dua kali. Resepsi pertama dilakukan setelah akan nikah di Magelang dengan tamu undangan dari pihak keluarga dan kerabat Abah, Umi, dan Zahra. Resepsi kedua dilakukan di Semarang dengan tamu undangan dari pihak keluarga dan kerabat Papah, Mamah, Eyang, Bapak, Ibu, serta teman-teman gua.
Terkesan ngga punya malu, ya? Udah anak angkat, baru lulus langsung nikah, dibiayain pula. Sudah lah, jadi paket lengkap bahan ghibah.
Tapi ya sudahlah, toh gua ngga tau juga bahwa akan ada hal yang membuat hidup gua berubah 180 derajat jadi mudah.
Dengan berlangsungnya pernikahan gua, jadinya berakhir juga perjuangan gua mengejar apa yang dinamakan bumbu hidup; yaitu cinta.
Quote:
japraha47 dan 18 lainnya memberi reputasi
19