- Beranda
- Stories from the Heart
Hidden Story - Sisi Lainku [sekuel - Istri Kedua]
...
TS
User telah dihapus
Hidden Story - Sisi Lainku [sekuel - Istri Kedua]
![Hidden Story - Sisi Lainku [sekuel - Istri Kedua]](https://s.kaskus.id/images/2022/02/07/10990333_20220207023513.jpg)
Patah hati
Patah hati adalah berkah Tuhan. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkanmu dari orang yang salah.
-Anonymous
Sebuah motor butut terparkir di garasi. Entah apa tujuan Ayah membeli motor itu. Yang pasti, berkat motor itu, aku tidak perlu lagi tinggal di rumah Teh Heera. Dengan motor itu, aku bisa menghemat ongkos ojek hanya dengan membeli 1 liter bensin untuk aku pakai semala 1 minggu. Selain butut, motor itu juga bodong. Jadi, aku hanya bisa pakai motor itu sampai rumah Teh Heera, kemudian lanjut dengan angkot untuk ke sekolah. Sementara motor itu aku titip di rumah Teh Heera sampai aku kembali dari sekolah.
Sebetulnya Teh Heera sangat baik. Tapi, tetap saja aku tidak nyaman. Bukan hanya karena Teh Heera anaknya Ibu Suri, rumahnya juga bersebrangan persis dengan rumah Ibu Suri. Rumah yang selalu membangkitkan kenangan buruk. Bagaimana bisa, aku nyaman disana.
Aku putuskan untuk kembali ke rumah Ibu. Aku tidak lagi peduli dengan sikap Ayah yang dingin dan sikap Ibu yang selalu membela Ayah. Setidaknya di rumah Ibu, aku bisa tidur di kasur yang layak. Tidak seperti di rumah Ibu Nani, yang membuat aku seperti tidur dalam kuburan. Atau dirumah Teh Heera, yang terpaksa tiap malam aku tidur di lantai, hanya beralaskan tikar tipis. Teh Heera mau menampung dan memberiku makan aja udah sukur. Aku tau, sebagai anak Ibu Suri, Teh Heera pasti merasa ayahnya telah di rebut. Walaupun nyatanya, tidak sama sekali. Ibu Suri, Teh Heera, Catra dan Dewa selalu jadi prioritas Ayah. Sementara aku, Ibu, Bima dan Daffa, kami hanya kacung.
Rutinitasku kembali seperti sebelum aku memutuskan tinggal di rumah Ibu Nani. Aku kembali membantu Ibu di warung. Tapi, sekarang warung Ibu sudah gak seramai dulu. Warung Ibu terasa lebih sepi. Barang-barang yang ibu jual sudah gak sekomplit dulu. Entah apa yang terjadi. Aku rasa, Ayah lah di balik semua ini. Aku tau persis dan yakin, warung Ibu menurun karena Ayah. Aku yakin, karena dulu aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, hampir setiap belanja, Ayah akan mampir untuk memberikan uang kepada Ibu Suri yang dia ambil dari uang belanjaan warung. Aku yakin sampai saat ini, Ayah masih seperti itu. Tapi, kali ini aku tidak mau peduli. Sebagaimana Ibu juga tidak pernah peduli, padahal aku udah sering cerita hal ini. Sepertinya Ibu memang suka dan rela bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan Ayah juga Ibu Suri.
***
“Memandangmu, walau selalu, tak akan pernah beri jemu di hatiku.”Aku bersenandung, mencoba menghalau sepi akibat suasana menjelang Maghrib dan mendung.
“Meyapamu, walau selalu, masih terasa merdu, bagai di awal jumpa.” Lisa tiba-tiba menimpali.
“Mencari, apa yang aku cari, merangkai rindunya hatiku.” Tanpa di komando, kami lanjut bernyanyi bersama. Lagu ‘Memandangmu’ yang di populerkan oleh Ikke Nurjanah dan Aldi tahun 1998 itu, berkumandang menghalau sepi perjalananku untuk mengantar Lisa pulang setelah seharian main di rumahku.
“Bulan bawa bintang menari,” Aku dan Lisa semakin meresapi lagu.
“Iringi langkahku.” Aku membiarkan Lisa menyanyikan bagian yang di nyanyikan oleh Ikke Nurjanah, sendirian.
“Malam hadir bawa diriku,” aku semakin semangat menyanyi.
“Berjumpa denganmu.” Tidak kalah semangat, Lisa terlihat sangat menikmati lagu.
“Dua hati satu tujuan,”
“Melangkah bersama.”
“Cinta hadir bawa diriku,”
“Menyentuh indahnya.” Lisa tertawa mengakhiri duet kami sore itu. “Sampe sini aja, Teh. Gak apa-apa. Aku berani kalo dari sini.” Kata-kata Lisa menyadarkanku. Ternyata kami sudah sampai di depan gang menuju rumah Lisa.
“Yaudah,” kataku singkat.
“Dah…” Lisa melambaikan tangan sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat menuju rumahnya yang tidak jauh dari pintu gang.
Selain rutinitasku di warung yang kembali, rutinitas yang lainpun ikut kembali. Aku kembali dekat dengan Lisa. Hampir setiap hari kami bertemu. Kalau bukan Lisa yang main kerumahku, aku yang akan datang kerumahnya. Sebetulnya kedekatanku dengan Lisa biasa-biasa saja, tidak ada hal yang istimewa. Kadang kita hanya ngobrol, kadang kita hanya main ps, kadang kita hanya nonton film. Tapi, apapun kegiatannya, selama itu dengan Lisa, aku bahagia.
Aku menatap Lisa yang menghilang masuk ke gerbang rumahnya. Moment kami bernyanyi tadi, terasa sangat mengganjal. Ada rasa bahagia sekaligus hawatir. Aku sangat sayang Lisa, aku tidak ingin Lisa merasakan penderitaan yang sama sepertiku. Aku tau pasti seperti apa tersiksanya memiliki hati yang korslet. Aku tidak ingin Lisa merasakan itu.
Tiba-tiba memory-ku merangkai beberapa kejadian. Kartu ucapan hari valentine, dengan tulisan kaligrafi indah yang di khususkannya untukku. Kartu ucapan ulang tahun beserta hadiah kecil sebuah gantungan, sepasang boneka yang terlihat manis sekaligus romantis. Bunga mawar yang sudah mengering, yang dia selipkan kedalam buku diary-nya.
Saat itu tanpa sengaja aku melihat buku diary Lisa, saat Lisa menyuruhku menunggu di kamar, sementara dia mandi. Di meja belajarnya, sebuah buku diary terbuka. Setangkai mawar yang sudah mengering terselip disana. Aku yakin, itu bunga mawar dariku. Yang aku berikan saat Lisa main kerumah dan kebetulan saat itu aku sedang merawat bunga mawar milik Ibu.
“Astaghfirullah…” ucapku lirih diantara Adzan Maghrib yang kini berkumandang bersahutan.
Sepanjang jalan aku kembali ke rumah, wajah Nenek yang sedang bercerita tentang kisah para Nabi, tergambar jelas. Aku ingat betul dengan kisah Nabi Luth yang pernah Nenek ceritakan.
“Astaghfirullah…” ucapku lagi. Mataku mulai bersaput dan terasa panas. Aku berhenti sejenak untuk sekedar menghapus air mata yang sudah tak terbendung.
***
Warung yang sudah sepi, semakin sepi karena Ayah sedang di rumah Ibu Suri dan Ibu sedang memeriksa kolam yang di gunakan untuk budidaya ikan. Aku masih mengemas terigu di temani Lisa yang terlihat masih betah menontoniku.
“Lisa, Teteh mau ngomong sesuatu…” hari ini, aku tekadkan untuk menjaga Lisa, walaupun dengan begitu aku sendiri akan sangat sedih dan pasti kehilangan dia.
“Apa, Teh?” Lisa menatapku tidak sabar.
“Kayaknya, kita jangan sering-sering bertemu, deh. Kalau bisa kita jangan bertemu dulu,” kataku, setenang mungkin.
“Lho, kenapa?” Tanya Lisa. Jelas sekali dia kaget.
“Sepertinya, Teteh...” aku menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan kekuatan. “Teteh suka kamu lebih dari sekedar teman, lebih dari sekedar kakak ke adiknya,” aku menelan ludah, karena tiba-tiba tenggorokanku terasa kering.
“Maksudnya gimana, Teh? Aku gak ngerti, Aku⸺”
“Iya, kamu emang gak akan ngerti Lisa. Maaf, ini demi kebaikan kita, terutama Teteh. Kalau kita tetap bertemu, Teteh hawatir, perasaan Teteh makin gak beres.”
“Terus, Teteh maunya apa? Aku harus gimana?”
“Lisa, tolong pulang, ya. Sementara jangan temuin Teteh dulu. Lebih baik, kamu cari pacar, cari cowok yang baik. Kalo Lisa udah punya cowok, baru deh kita main bareng lagi,” seolah mencerna kalimatku yang panjang, Lisa menatapku dalam. Aku menunduk, menghindari tatapannya. Hatiku terasa perih. Tenggorokanku tiba-tiba terasa sakit dan mataku mulai bersaput. Aku yakin, ini yang terbaik untuk aku dan Lisa. Batinku.
Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Lisa beranjak dan pergi tanpa berkata apapaun lagi dan tanpa melihat ke arahku lagi. Selepas Lisa pergi, aku bergegas ke washtafel. Aku coba membasuh air mata yang terus mengalir tanpa henti. Tidak ada yang spesial antara aku dan Lisa, tapi kenapa kepergiannya terasa sangat menyakitkan. Sepertinya aku sedang merasakan apa yang orang bilang sebagai ‘patah hati’. “Ya Allah, kenapa rasanya sakit sekali.” Ucapku lirih sambil mengelus-ngelus dada berharap sakitnya sedikit berkurang.
***
Note :
Buat kalian yang tertarik membaca cerita ini dari awal, bisa di cek di link di bawah :
marwangroove920 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
4.7K
36
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#16
Hidden Story - Sisi Lainku [Sekuel - Istri Kedua] The law of attraction

The Law Of Attraction
What you think, you become. What you feel, you attract. What you imagine, you create.
-Buddha
What you think, you become. What you feel, you attract. What you imagine, you create.
-Buddha
Muthia menyodorkan kotak tissue. Dengan cepat aku menyambar beberapa tissue. Aku menyeka air mata yang tiba-tiba meluber dan tak mampu aku bendung. Aku tersenyum getir, menertawakan diriku sendiri. Bagamana bisa, setelah lebih dari 12 tahun berlalu, kenangan tentang Freya masih selalu membuatku menangis.
“Gue emang gak akan bisa ngerti perasaan lo sama Freya, Teh. Tapi gue yakin, di posisi lo itu pasti gak mudah. Dan gue yakin, lo gak mau seperti itu, kan?”
Aku mengangguk pelan. Mengatur nafas yang mulai terasa sesak. Menarik nafas dalam-dalam sebelum menandaskan segelas air sekaligus. Lelah rasanya bercerita panjang lebar, apalagi cerita tentang hal terkelam dalam hidup kita. “Don’t try this at home!”selorohku mencoba menghilangkan suasana yang tiba-tiba terasa pengap.
Muthia tersenyum tipis, matanya terlihat mengamatiku. Gesturnya mengingatkanku pada peramal Gipsy di film-film. “Gue rasa, Freya memiliki perasaan yang sama dengan lo, Teh. Bedanya dia kuat iman, gak kaya lo yang mudah banget di bujuk setan. Wkwkwkwk,”
Aku melongo tak percaya dengan kalimat di iringi tawa renyah yang baru saja meluncur mulus dari mulutnya. “Lu, orang pertama yang ngomong dia punya perasaan yang sama kaya gue,” aku berdecak, antara heran dan kagum. Muthia selalu memiliki sudut pandang yang beda. “Walaupun diakhir kalimat, lu bikin gue gak nyaman. Tapi, thanks ya. Lu ga seperti orang-orang yang selalu bilang ‘lu aja ke GR an’ atau ‘perasaan lu aja kali, karena lu berharap dia memiliki perasaan yang sama ama lu’” Ya, hampir semua orang menyalahkanku, termasuk diriku sendiri.
“So, how do you feel, now? About Freya?” tanya Muthia, serius.
Aku terdiam sejenak, memberi waktu kepada perasaan dan pikiranku berdiskusi untuk merespon pertanyaan Muthia dengan jujur. “Gue bersyukur, bisa kenal dan pernah sempet dekat dengannya. Seperti yang lu bilang, dia mungkin sama ama gue. Bedanya, iman dia jauh lebih kuat. Gue harap, gue bisa ngikutin jejak dia. Lebih memperkuat iman.”
“Bijiksini sekali anda,” Muthia bertepuk tangan “Oke, sambil lo lanjut cerita, gue pesenin kopi, mau?”
“Mantap! Kopi kenangan, ya! Tambahin, cerita roti.”
“Ngelunjak lo, Teh!”
“Pas momentnya, Bray. ‘kopi kenangan dan cerita roti’”
***
Sejak malam itu, aku dan Freya seperti dua mahluk dari dua dimensi berbeda. Bersama tapi tidak pernah saling berinteraksi. Ah, itu sangat-sangat menyiksaku. Tapi aku tidak bisa gegabah dengan terburu-buru meninggalkan pekerjaanku. Bagaimanapun, aku harus mandiri supaya aku tak perlu kembali pulang kerumah Ibu. Hanya ini satu-satunya cara untuk aku tidak bertemu Ayah.
Pada akhirnya aku sadar dan tau alasan yang mendasari sikap Ayah berubah dingin kepadaku. Karena itu, kini, sebisa mungkin aku menghindar bertemu dengan Ayah. Aku muak!
Aku butuh kegiatan lain selain bekerja. Hanya saat aku sibuk atau beraktifitas, aku bisa sejenak rehat dari memikirkan dan mengingat Freya. Dan itu tidak cukup hanya dengan membaca buku atau bermain gitar. Aku butuh sesuatu yang lebih hidup, seseorang yang bisa aku ajak ngobrol dan bercerita, seseorang yang akan memahamiku dan memihakku.
Seakan semesta mengamini pengharapanku. Sebuah aplikasi chating, mig33 hadir menjadi sarana untukku bertemu teman-teman baru. Lewat aplikasi itu, untuk pertama kalinya aku mecoba membuka diri. Berkenalan dengan seorang laki-laki.
Namanya Ikhsan. Seorang mahasiswa jurusan informatika. Kami membuat janji kopdar setelah 1 bulan intens komunikasi via mig33.
Siang di hari Minggu kala itu sangat panas. Alun-alun kota terlihat ramai. Aku duduk disebuah bangku taman tepat di bawah sebuah pohon rindang. Lumayan untuk berlindung dari matahari yang terik.
“Assalamualaikum,”sebuah suara bariton menyentak mengaburkan lamunanku. Seorang lelaki dengan perawakan lumayan tinggi terlihat menjulang dari tempatku duduk. “Kamu, Aru?” tanyanya dengan senyum ramah.
“Ikhsan?”
“Iya.” Dia tersenyum memamerkan sederet gigi rapih dan sebuah lesung pipi di bagian kanan wajahnya.
“Aruna.” Aku mengulurkan tangan kikuk.
“Kan kita udah kenalan,” kata-katanya seketika membuatku semakin kikuk.
Aku selalu payah kalau urusan dengan laki-laki. Aku tidak pernah PD. Aku sadar diri, aku tidak cantik ditambah tidak bisa berdandan selayaknya perempuan. Dari pengalamanku, cowok mendekatiku semata untuk menjadikanku jembatan mendekati teman-temanku. Selama bersama Freya, kejadian itu sangat sering terjadi.
Tiba-tiba Ikhsan menjabat tanganku. “Ikhsan,” dia kembali tersenyum. “Udah makan belum?”
“Sudah.” Jawabku singkat. Tiba-tiba ada rasa malas dan menyesal. Seandainya aku laki-laki, aku tidak akan bertanya ‘sudah makan, belum?’ tapi aku akan langsung mengajak makan di tempat yang teduh dan nyaman.
“Kalau gitu, kita ngapain?” tanya Ikhsan. Sepertinya dia juga mulai bosan.
“Kita ke mesjid aja dulu, kebetulan saya belum solat.” Aku beranjak, tak perduli dia setuju atau tidak. Tapi sepertinya dia mengikutiku.
***
Tidak aku sangka, pertemuan yang membosankan dengan Ikhsan berakhir dengan pernyataan dan ajakannya untuk menjalin relasi yang trend disebut ‘pacaran’.
Dan tak ku sangka, aku meng-iya-kan. Iya aja dulu, soal nanti gimana, biarlah jadi urusan nanti. Yang penting, sekarang aku harus sibuk dan mengalihkan perhatianku dari Freya. Lagipula ngobrol dengan Ikhsan lumayan seru. Dia pintar dan kadang-kadang, lumayan lucu juga.
Selain Ikhsan, aku juga kenal dengan banyak orang lain. Salah satunya Dheara. Seorang gadis hitam manis dengan perawakan tinggi proporsional macam model. Jenisnya termasuk langka, apalagi di kota kecil seperti kotaku.
Dalam satu kali pertemuan, Dheara bisa langsung tau, aku berbeda. Saat itu, aku sedang menghabiskan malam Minggu di sebuah warnet. Mengakses mig33 sambil mempelajari sebuah aplikasi baru bernama FB.
Sebuah notifikasi terlihat dari tab yang aku pakai untuk mengakses mig33.
Dheara : BT, euy. Lagi apa?
Arrun4 : Diwarnet
Dheara : Sama, warnet mana?
Arrun4 : warnet “Ngalong”
Dheara : Wah? Meja nomor berapa? Aku nomor 6
Pesan dari Dheara seketika membuatku melongok mencari meja nomor 6. Seorang gadis jangkung dengan rambut model bob melambai ke arahku. Aku tersenyum sambil membalas lambaiannya sebelum kembali duduk menghadap layar komputer.
Dehara : kamu belok bukan?
Arrun4 : belok? Maksudnya? belok apa?
Dehara : belok, l*sb*i
Deg! Aku tersentak. Seperti jatuh dari ketinggian, aku merasa jantungku mencelos. Belum selesai dengan rasa kaget, sekarang Dheara hampir membuatku kena serangan jantung.
Dheara : Tenang, saya juga belok.
Aku bisa merasakan dengan jelas kelopak mataku yang melebar, melotot menatap sebaris pendek pernyataan Dheara.
Dheara mengingatkanku pada hukum fisika ‘The Law of Attraction’ hukum tarik menarik. Tidak dapat dipungkiri, sejak aku memutuskan menjauh dari Freya, aku selalu memikirkan kemungkinan ada banyak orang yang sepertiku diluar sana. The Law Of Attraction menyebutkan bahwa apapun yang kita pikirkan, kita akan menarik hal tersebut ke dalam diri kita.
Aku telah menarik sisi gelapku semakin dekat.
Ikhsan? Bagaimana dengan Ikhsan?
***
ginger00 memberi reputasi
1