Came in from a rainy Thursday
On the avenue Thought I heard you talking softly
I turned on the lights, the TV
And the radio Still I can't escape the ghost of you
What has happened to it all?
Crazy, some'd say
Where is the life that I recognize?
Gone away
But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Passion or coincidence
Once prompted you to say
"Pride will tear us both apart"
Well now pride's gone out the window
Cross the rooftops
Run away
Left me in the vacuum of my heart
What is happening to me?
Crazy, some'd say
Where is my friend when I need you most?
Gone away
But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Papers in the roadside
Tell of suffering and greed
Here today, forgot tomorrow
Ooh, here besides the news
Of holy war and holy need
Ours is just a little sorrowed talk
And I don't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Every one Is my world, I will learn to survive
Any one Is my world, I will learn to survive
Any one Is my world
Every one Is my world
“Katanya dateng siang?” Ujar Wawan begitu melihat gua masuk ke dalam ruangan.
“Lah, emang ini belom cukup siang buat lo?” Gua balik bertanya seraya menunjukan jam tangan gua yang menampilkan angka 10. Wawan, menarik ujung lengan kemeja panjangnya dan mengintip jam yang melingkar pada pergelangan tangan; “Baru jam 10”
“...”
“...Katanya Resti sakit?” Wawan menambahkan.
“Iya, ada Bokap Nyokapnya…”
“Emang sebelumnya nggak ada?” Tanyanya lagi.
“Ada Wan!... maksud gua, sekarang ada nyokap bokapnya yang nungguin di rumah sakit…” Gua menjelaskan.
“Lah, emang dirawat? Sakit apaan?”
“Tipes…” Jawab gua singkat.
“Buset, kan minggu depan udah nikah…”
“Iya… Tapi pas gua tinggal tadi kayaknya udah segeran dia…”
“Terus lo nggak cuti?” Tanya Wawan.
“Nggak, ntar aja abis nikah…” Jawab gua.
Mendengar jawaban gua, Wawan langsung terdiam dan menjatuhkan lembaran dokumen yang tengah dibawanya. Ia membuka laci meja kerjanya, seperti mencari-cari sesuatu, kemudian bergegas mendatangi gua dan meletakkan lembaran pengajuan cuti diatas meja kerja gua.
“Nih, isi… lo kan dapet jatah cuti nikah 3 hari…” Ucapnya sebelum akhirnya pergi keluar dari ruangan.
Gua meraih lembaran kertas tersebut dan mulai mengisinya, sama seperti rencana awal; Cuti tiga hari setelah pernikahan, ditambah cuti tahunan yang gua ambil tiga hari. Jadi, total 6 hari cuti yang akan gua klaim. Selesai mengisi lembaran formulir cuti, gua meletakkannya di atas meja kerja Wawan dan bergegas menyusulnya ke ruang meeting.
—
“Nanti kesini kan?” Isi pesan dari Resti yang baru saja masuk.
Gua membalasnya singkat; “Iya” Kemudian kembali masuk ke kolong meja besar di ruang meeting untuk memeriksa kabel jaringan.
Beberapa detik berikutnya, pesan balasan dari Resti masuk; “Bawain ketoprak ya…”
Lagi, gua membalasnya singkat; “Iya”
Lalu kembali mengecek kabel. Gua terdiam, kemudian merangkak keluar, menoleh keatas, ke arah Wawan yang tengah duduk di salah satu kursi di depan meja.
“Orang tipes boleh makan ketoprak wan?” Tanya gua.
Wawan nggak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.
Lewat ponsel, gua mencari tahu perkara jenis makanan yang boleh dan tidak boleh bagi penderita tipes. Hasil pencarian menunjukkan banyaknya usulan, semuanya nyaris memberikan informasi yang berlainan. Saat situs A memberikan sebuah saran, situs B mengusulkan saran yang berbeda, begitu pula situs C dan seterusnya.
“Buruan sih, lama banget…” Ucap Wawan yang rupanya sejak tadi menunggu gua melakukan pengecekan, sementara ia sudah bersiap melakukan diagnostic test melalui laptopnya.
Gua memasukkan ponsel kedalam saku sambil bergumam; “Bodo lah, yang penting Resti udah mau makan…” Kemudian melanjutkan pengecekan kabel yang sempat dua kali terinterupsi.
“Kak…” Terdengar suara Feli di ujung koridor. Ia lalu berlari cepat menghampiri gua, terlihat ia sempat beberapa kali menjatuhkan botol minum yang tengah ia bawa. ‘Nggak salah kan, ini anak emang clumsy’ batin gua dalam hati.
“Apa?”
“Kok belom cuti?” Tanyanya, sementara nafasnya tersengal-sengal akibat berlari.
“Belom…” Jawab gua singkat. Kemudian teringat tentang korelasi Tipes dan ketoprak. Gua lalu bertanya ke Feli perkara hal tersebut.
“Fel, orang tipes boleh makan ketoprak nggak?” Tanya gua.
“Setau aku sih, kalo orang tipes yang penting jangan makan pedes-pedes gitu…”
“Kalo ketoprak boleh?” Tanya gua lagi.
“Boleh kayaknya asal nggak pedes…” Jawabnya.
“Oke, thank you…” Ucap gua.
Sementara, Feli tampak sedikit bingung. Ia masih berdiri menatap gua seraya bertanya dengan lantang; “Emang yang sakit siapa?”
Namun gua nggak menjawab, kemudian bergegas menuju kembali ke ruangan.
—
Sore hari, selepas pulang kerja, gua sudah terjebak dalam antrian pelanggan di sisi gerobak tukang ketoprak di belakang kantor. ‘Tumben baru jam segini udah rame’ batin gua dalam hati sambil memandang kerumunan orang yang mengelilingi gerobak.
Setelah hampir setengah jam menunggu seraya menahan pusing karena harus terjebak di keramaian, porsi ketoprak pesanan gua selesai. Sambil menyerahkan lembaran uang ke si abang ketoprak, gua kembali mengkonfirmasi pesanan; “Ini nggak pedes kan?”
“Iya…” Jawab si abang ketoprak seraya menyerahkan beberapa lembar uang kembalian.
Beberapa menit berikutnya gua sudah berada di dalam mobil menuju ke arah rumah sakit tempat Resti dirawat. Tak seperti kemarin, hari ini jalanan macet luar biasa. ‘Damn! kelamaan benyek dah nih ketoprak’ batin gua dalam hati sambil menatap bungkusan ketoprak dalam plastik putih yang gua letakkan di kursi penumpang di sebelah.
“Dingin banget nih ketoprak…” Ucap Resti begitu menerima bungkusan plastik berisi ketoprak yang baru gua berikan.
“Iya, kan di taro di mobil, terus tadi macet banget…” Gua mencoba menjelaskan perihal ketoprak yang dingin akibat terlalu lama berada di dalam mobil ber-AC.
“Oh…” Resti meng-oh-kan penjelasan gua seraya membuka perlahan bungkusan tersebut.
“Bokap nyokap kemana?” Tanya gua, lalu duduk di atas ranjang, memposisikan diri dekat dengan kedua kakinya.
“Pulang…” Jawabnya singkat, kemudian mengernyitkan dahi menatap ke arah porsi ketoprak di hadapannya. Ia lalu menyentuh ketoprak dengan ujung jarinya kemudian menggumam pelan; “Dingin”
“Mau gua beliin lagi, yang deket sini?” Tanya gua.
“Nggak usah, ini aja. Dingin gapapa, paling ntar lama-lama jadi pinguin, makan makanan dingin…” Resti merespon dengan kalimat sarkas, seraya menunjuk ke arah perlengkapan makan yang berada di atas meja besar di depan sofa yang terletak di seberang ranjang tempat kami berdua duduk; “Tolong piringnya dong, cad…” Tambahnya.
“Disuapin boleh?” Tanyanya seraya memandang gua dengan tatapan manja.
Gua menyentuh dahinya dengan punggung telapak tangan; mencoba mengecek suhu tubuhnya yang kini sepertinya sudah kembali normal. Kemudian menepuk pelan dahinya; “Makan sendiri, udah nggak demam” jawab gua.
“Yaah…” Ia mengeluh, lalu mulai makan.
Tak seperti saat gua datang tadi, ia terlihat ceria dan bersemangat. Saat ini, ia makan dengan gaya yang berlawanan, pelan dan tanpa semangat. Namun, jelas perilakunya saat ini merupakan perilaku tak bersemangat yang sengaja di buat-buat.
Nggak tahan dengan kelakuannya, gua merebut sendok dari tangannya dan meraih piring yang sejak tadi ia letakkan di pangkuannya.
Resti mengerlingkan mata kemudian melemparkan senyum penuh kemenangan. Gua menghela nafas pelan, membalas senyumnya walaupun merasa kalah dan mulai menyuapinya. ‘Tak apa merasa kalah, yang penting Resti mau makan’ batin gua dalam hati.
“Ini berdua kan?” Tanya Resti seraya menunjuk piring berisi ketoprak yang berada di tangan gua.
“Nggak lah… buat lo sendiri…”
“Ntar elo?”
“Gua ntar aja, gampang…”
“Yaudah sih ini aja berdua…” Ucapnya
“Nggak ah…”
“Berdua aja…”
“Nggak…”
Di tengah perdebatan kami berdua, terdengar ketukan pada pintu kamar, disusul seorang perawat yang muncul seraya mendorong troli besi berisi makan malam. Ia memperhatikan piring ketoprak yang berada di tangan gua kemudian berpaling ke arah Resti yang masih mengunyah makanan.
“Gapapa kan ya mbak, makan ketoprak?” Tanya Resti, begitu melihat kecurigaan pada tatapan si perawat yang mengantarkan makanan.
“Gapapa, asal nggak pedes…” Jawab si perawat, seraya meletakan sebuah nampan berisi porsi makanan ala rumah sakit dan mangkok plastik kecil berisi beberapa jenis obat di meja kecil yang terletak di sisi ranjang
“Ini nanti, obatnya diminum setelah makan ya…” Tambah si perawat sambil menunjuk ke arah mangkok plastik super kecil yang berada di atas nampan, bersebelahan dengan porsi makanan.
Begitu perawat pergi meninggalkan kamar, Resti meraih nampan berisi makanan ala rumah sakit, memisahkan mangkok super kecil berisi obat yang harus ia minum dan meletakkan nampan berisi makanan ala rumah sakit di pangkuan gua, lalu meraih piring ketoprak yang masih gua pegang.
“Nih lo makan ini, daripada ribet ntar pake beli makan…” Ucapnya.
“Lah…”
“Udah nggak usah bawel, makan aja…”
Gua menatap nampan berisi makanan ala rumah sakit yang kini berada di pangkuan gua. Porsi makanan yang terdiri dari nasi super lembek, beberapa lauk pauk juga sayur dan buah yang sama sekali nggak menggugah selera.
“Gua ngabisin ketoprak lo aja deh…” Pinta gua seraya menatapnya, memohon.
“Nggak, tadi kan lo bilang gua suru abisin.. ini gua mau abisin” Ucapnya, kemudian menjulurkan lidahnya; meledek gua.
“Please…”
“Nggak! Makanya tadi kalo dibilangin sama yang tua dengerin…”
Gua tersenyum. Menyadari kalau Resti sudah mampu kembali berdebat, beradu argumen bahkan meledek gua. Jauh dari kondisi sebelumnya yang lemah dan tak berdaya. Gua membelai kepalanya pelan, Resti berusaha menepis tangan gua; “Mau ngapain? ngerayu ya.. haha.. no! Makan!”
“...”
“...Kalo udah selesai makan terus pulang” Tambahnya.
“Ntar lo sama siapa?” Tanya gua.
“Ya sendiri…”
“Gua nemenin lo aja disini…”
“Ih, besok kesiangan kerja lho…”
“Gapapa…” Jawab gua santai.
—
(H-4) Sesuai prediksi, besoknya Resti sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter yang merawatnya.
Maminya berdiri di tepi ranjang seraya melipat dan memasukkan pakaian milik Resti kedalam tas yang sebelumnya digunakan untuk membawa pakaian tersebut ke sini. Mereka; Resti dan Maminya terdengar tengah bicara pelan sambil sesekali tersenyum. Dari sofa tempat gua duduk saat ini, terdengar samar ucapan maminya kepada Resti; “Kamu mah cuma kangen doang kali sama bian, jadinya sakit. Giliran ditemenin langsung sembuh…”
“Iya emang, eh berarti aku boleh diet lagi dong mi?” Respon Resti.
Mendengar ucapan Resti barusan, gua lantas berdiri dan menatap tajam ke arahnya; “Nggak, jangan”
“Yaah…” Terdengar nada kekecewaan dari suaranya.
“Udah buruan sana, ganti bajunya…” Ucap Maminya seraya menepuk pelan kaki Resti yang masih berbaring di ranjang sambil menatap layar ponsel.
Bukannya melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh maminya, Resti justru memutar tubuhnya. Kali ini posisinya berbaring tengkurap, matanya masih sibuk dengan ponsel di genggamannya.
“Papi kemana mi?” Tanya Resti.
“Ngurus administrasi, abis itu mau langsung nganter baju ke tempat Mas Karlan…” Jawab Maminya.
“Loh, biar saya aja yang nganter tan…” Gua menyelak pembicaraan mereka, saat mendengar Maminya Resti menyebut nama Mas Karlan.
“Udah gapapa, biarin Papinya aja…” Respon Maminya yang lalu gua jawab dengan anggukan kepala.
Setengah jam berikutnya, kami sudah berada di mobil menuju ke rumah Resti. Tentu saja setelah perdebatan kecil antara gua dan Resti yang memaksa untuk pulang sendiri dengan taksi dan menyuruh gua untuk lekas berangkat kerja. Sementara saat itu, maminya hanya bisa menggelengkan kepala melihat perdebatan di antara kami berdua, lalu berusaha melerai dengan memposisikan dirinya berdiri ditengah-tengah gua dan Resti; “Udah, malu diliatin orang” Ucapnya pelan.
“Biarin Bian nganter kita dulu, abis itu langsung berangkat kerja…” Tambah Maminya memberi solusi. Ia lalu berpaling ke arah gua dan mulai bicara; “Kamu emang belum cuti bi?”
“Belum tan…” Jawab gua singkat, tanpa memberi tahu kepadanya kalau gua mengambil cuti setelah menikah.
Di dalam mobil, Resti kembali mengungkit masalah cuti gua; “Kapan lo mulai cuti?”
“Minggu depan…” Jawab gua singkat.
“Hah, abis nikah?” Tanyanya lagi.
“Iya…”
“Dih… kok gitu, paling nggak cuti sehari sebelumnya…” Responnya.
“Mau ngapain?” Gua balik bertanya.
“Ya emang supposed to be like that. Mana ada orang mau nikah, sama sekali nggak ngambil cuti sebelumnya…”
“Ada, gua..”
“Iya! Emang cuma elo doang cowok yang aneh di dunia akhirat…”
“Ya cuma orang aneh yang mau sama orang aneh…” Balas gua.
Resti lalu memukul lengan gua berkali-kali sambil berteriak; “Aneh, aneh, aneh, aneh!”
Dari kaca spion di atas dashboard gua melihat maminya yang duduk di kursi penumpang bagian belakang tengah menunduk dan memijat sisi keningnya dengan tangan. Mungkin pusing dengan perdebatan antara kami berdua yang terjadi hampir setiap saat. Atau bisa aja, sempat terbesit dalam hatinya yang terdalam ‘apakah pasangan ahli debat ini yakin ingin menikah?’
“Kalian yakin mau nikah?” Tanya Maminya tiba-tiba. Pertanyaan yang lalu menghentikan perdebatan kami berdua.
“Yakin…” Jawab gua dan Resti kompak.
“Yaudah jangan ribut mulu, mami pusing…” Ucap maminya, masih sambil memijat sisi keningnya.
“Iya..” Lagi, gua dan Resti menjawab kompak, lalu tenggelam dalam diam selama sisi perjalanan.
(H-3) Drama pingitan Resti gagal. Penyebabnya jelas bukan karena rindu, melainkan karena Resti yang tiba-tiba jatuh sakit karena diet yang salah kaprah. Karena drama pingitan yang sudah terlanjur gagal, akhirnya tak ada lagi pantangan bagi kami berdua untuk saling bertemu.
Sementara, perkara gua yang nggak cuti menjelang nikah masih menjadi ‘masalah’ tersendiri buat Resti.
“Udah ngajuin cuti belom?” Tanyanya melalui sambungan ponsel saat gua tengah sibuk duduk di lantai menghadapi mesin fotocopy yang bermasalah.
“Kan kemarin gua udah bilang…” Jawab gua singkat.
“Ih elo mah, susah banget di bilangin. Ntar kan lo kecapean kalo nggak cuti…”
“Kalo gua cuti, sebelum nikah Gua harus ngapain?”
“Ya ngapain kek, tidur, istirahat…”
“Ah bosen…” Jawab gua santai.
“...”
“... Udah ah, gua lagi kerja ini…”
“Cih…” Responnya singkat lalu mengakhiri panggilan.
(H-2) Resti tak lagi meneror gua perkara cuti. Entah ia sudah menyerah atau sudah tak lagi peduli hingga marah. Terakhir gua bicara dengannya adalah kemarin, saat ia menelpon memaksa gua untuk mengajukan cuti. Hingga sekarang, tak ada lagi telepon darinya, ia hanya mengirim pesan yang benar-benar singkat; sekedar mengingatkan akan hari pernikahan. “Inget, dua hari lagi kita nikah”
“Iya, emang orang bego mana yang lupa hari pernikahan mereka” Balas gua melalui pesan singkat.
“Elo!” Balasnya lagi.
“Nggak, gua udah pasang alarm…”
Saat gua berniat menghubunginya nggak pernah dijawab atau bahkan di ‘reject’. “Nggak usah nelpon, gw lagi males ngomong” isi pesan dari Resti sesaat setelah ia menolak panggilan telepon gua.
“Kenapa, sariawan?” Balas gua.
“Nggak! lagi males aja” Balasnya lagi.
Hingga akhirnya pertahanannya runtuh. Malam itu, sepulang kerja, saat tengah sibuk memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, ponsel gua berdering. Gua mengabaikan dering ponsel yang berada di kamar. Namun, beberapa waktu berselang, ponsel gua kembali berdering, dan hal itu berulang beberapa kali, hingga gua mengira ada hal yang penting hingga orang menghubungi gua berkali-kali.
Ob-La-Di, Ob-La-Da - The Beatles
Desmond has a barrow in the market place
Molly is the singer in a band
Desmond says to Molly, "Girl, I like your face"
And Molly says this as she takes him by the hand
Ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on
Ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on
Desmond takes a trolley to the jeweler's stores
Buys a twenty carat golden ring (Golden ring?)
Takes it back to Molly waiting at the door
And as he gives it to her she begins to sing (Sing)
Ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on
Ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on, yeah (No)
In a couple of years they have built
A home sweet home
With a couple of kids running in the yard
Of Desmond and Molly Jones
(Ah ha ha ha ha ha)
Happy ever after in the market place
Desmond lets the children lend a hand (Arm! Leg!)
Molly stays at home and does her pretty face
And in the evening she still sings it with the band
Yes, ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on (Ha ha ha)
Hey, ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on
In a couple of years they have built
A home sweet home
With a couple of kids running in the yard
Of Desmond and Molly Jones
(Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha)
Yeah, happy ever after in the market place
Molly lets the children lend a hand (Foot!)
Desmond stays at home and does his pretty face
And in the evening she's a singer with the band
Yeah, ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on
Yeah, ob-la-di ob-la-da life goes on bra
La-la how their life goes on