Came in from a rainy Thursday
On the avenue Thought I heard you talking softly
I turned on the lights, the TV
And the radio Still I can't escape the ghost of you
What has happened to it all?
Crazy, some'd say
Where is the life that I recognize?
Gone away
But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Passion or coincidence
Once prompted you to say
"Pride will tear us both apart"
Well now pride's gone out the window
Cross the rooftops
Run away
Left me in the vacuum of my heart
What is happening to me?
Crazy, some'd say
Where is my friend when I need you most?
Gone away
But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Papers in the roadside
Tell of suffering and greed
Here today, forgot tomorrow
Ooh, here besides the news
Of holy war and holy need
Ours is just a little sorrowed talk
And I don't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Every one Is my world, I will learn to survive
Any one Is my world, I will learn to survive
Any one Is my world
Every one Is my world
Buat yang belum tau pil koplo; Pil Koplo adalah obat golongan benzodiazepine, yang mirip dengan rohypnol, nipam, dan lexotan. Obat jenis ini tergolong obat anti cemas yang sifatnya depresan, jadi yang mengkonsumsi bisa merasakan sensasi teler yang bikin ‘santai’. Saat tahun 2000-an awal, obat-obatan jenis ini banyak beredar dikalangan remaja karena harganya murah dan mudah di dapat.
“Tau darimana? gua belom pernah cerita ini ke siapapun…” Tanya gua lagi sambil menatapnya serius.
“...” Resti nggak menjawab, ia hanya terdiam sambil menggigit bibir dan memainkan ujung jarinya.
“Elo ya?”
“...”
“... Elo yang ada disana? yang bikin gua muntah?”
Pelan, Resti menganggukkan kepalanya; “Iya”
Gua menghela nafas, seakan nggak percaya dengan jawabannya barusan. Gua memutar tubuh, kini tepat menghadap ke arahnya. Sambil membelai rambutnya gua berbisik; “Thank you ya…”
Ia lalu menyandarkan kepalanya di dada gua; “Don't you dare do that stupid thing again” ucapnya, seraya memukul tubuh gua pelan.
“Nggak…”
“Janji?” Tanyanya sambil mendongak, menatap gua.
“Iya, janji…”
“By the way, gimana cara lo bikin gua muntah?” Tanya gua penasaran.
“Gw colok tenggorokan lo lah…” Jawabnya santai.
“Pake?”
“Pake ini…” Jawabnya lagi, sambil mengacungkan jari telunjuk kirinya.
“Tapi yang kanan kan?”
“Nggak, yang ini…”
“F*ck”
—
Kami berdua duduk di dalam mobil, gua di balik kemudi, sedangkan Resti berada tepat di sebelah. Alih-alih langsung menyalakan mesin mobil dan pergi, gua justru terdiam dan menatapnya lama, cukup lama, hingga membuatnya berpaling dari ponsel yang tengah ia pandangi.
“Buruan sih, panas nih…” Protesnya sambil mengibaskan telapak tangannya tepat di depan wajah.
Gua bergeming, masih menatapnya.
“...Buruaan…” Tambahnya, kali ini sambil memukul bahu gua.
“Gua penasaran, ada rahasia apa lagi yang lo simpen..” Ucap gua.
“Harusnya gw yang penasaran, ada hal apa lagi yang belom lo ceritain ke gw…” Balasnya.
“Udah semua gua ceritain kok…” Jawab gua sambil tersenyum.
“Gw juga. Udah semua gw ceritain ke elo.. Semua yang perlu lo tau…”
“...”
“... Adakalanya, rahasia membuat wanita menjadi wanita…”
“...”
“... Tapi, jangan khawatir Cad. Lo bakal selalu jadi orang tempat gw cerita segalanya, from now on…” Tambahnya, seraya melayangkan senyumnya. Sementara tangannya mulai meraba dada gua, turun ke pinggang lalu dengan cepat melayangkan cubitan; “Buruan nyalain mobilnya, gw panas…”
“Aow… Ok..” Keluh gua sambil menghidupkan mesin mobil dan buru-buru menyalakan pendingin.
Rahasia, kecil atau besar, remeh atau penting, tetaplah sebuah rahasia. Dan sadar atau tidak, hal tersebut tentu saja bakal menimbulkan efek pada sebuah hubungan. Namun, nowadays; Secrets in relationships are common, very common.
Tapi, persentase sebuah hubungan jadi rusak karena ‘Rahasia’ cukuplah besar. Rahasia bakal membuat elo terus menutupinya dengan berbohong, lagi, lagi, lagi dan lagi. Dan tentu saja gua nggak menginginkan hal tersebut terjadi pada hubungan gua dengan Resti.
“Iya, harus… gua nggak mau ada rahasia. Sekecil apapun, from now on…”
“I’ll sharing my life with you, semua yang gw tau, lo juga bakal tau, semua yang lo tau, gw juga harus tau…” Jawabnya, masih sambil melayangkan senyumnya yang merenggut hati siapapun yang melihatnya.
Sharing your life with someone means being honest.
“Ada satu hal lagi yang bikin gua penasaran…” Ucap gua.
“Apa?”
“Kenapa lo tau segalanya?” Tanya gua.
“Nggak segalanya lah, emang gw Tuhan…”
“Iya, karena lo bukan Tuhan, makanya gua penasaran. Kenapa lo bisa tau segalanya…”
“Apa ya… Hmmm…. Susah jelasinnya deh…”
“...”
“... Oh gini… Banyak orang lahir dengan kelebihan tertentu kan Cad; kayak misalnya ada anak yang dari kecil udah cerdas, ada yang suaranya bagus, ada yang motoriknya bagus jadi jago olahraga; kayak elo… Nah, gw tuh kayaknya dilahirkan dengan intuisi yang tajam aja sih kayaknya…” Resti mencoba menjelaskan.
“Oh Wow, Intuisi itu bukan bakat yah…” Gua mengajukan protes.
“Sebenernya, intuisi itu mirip kayak firasat aja sih, Firasat yang tanpa sengaja kita latih. Misalnya kayak pola pikir berdasarkan pengalaman sebelumnya…”
“Terus?”
“Terus otak kita bakal ngasih tebakan terbaik…”
“Ok, then try me… Abis ini, menurut intuisi lo gua bakal ngapain?”
“Heh! Gw bukan peramal ya…”
—
Seperti yang pernah gua singgung sebelumnya; menjelang pernikahan biasanya terjadi konflik-konflik yang melibatkan pasangan bahkan hingga keluarganya. Apalagi melihat respon orang tua Resti yang sangat ‘terbuka’ dan nggak terlalu memaksakan kehendaknya. Namun, konflik dan krisis tersebut sepertinya sudah berhasil kami lalui dengan ‘mulus’.tentu saja dengan mengesampingkan ‘percikan-percikan’ kecil perkara remeh-temeh tentang pernikahan.
Salah satunya perihal souvenir pernikahan.
“Ini kita juga yang mikirin?” Tanya gua ke Resti yang duduk sambil menatap layar laptop; tengah mencari souvenir pernikahan yang tepat di internet.
“Ya terus siapa yang mau mikirin?” Resti balik bertanya.
“Kirain jadi satu paket sama undangan yang diurus sama Feli…” Gua berkilah, seraya berbaring di sofa. Sementara Resti yang duduk di lantai, langsung berpaling dan menoleh begitu mendengar kalimat gua barusan.
“Nggak lah…”
“Repot ya…” Gua menggumam pelan.
“Ya kalo nggak mau repot, jangan nikah…” Balas Resti sambil memukul lengan gua dengan pulpen yang sejak tadi ia gunakan untuk mencatat.
“Nggak usah pake souvenir juga gapapa kan?” Tanya gua lagi.
Resti kembali berpaling dan menoleh ke arah gua, matanya menatap tajam; “Udah diem deh cad, kalo nggak bisa bantuin, diem aja…”
Gua bangun, dan mulai duduk; “Yaudah gua harus ngapain?”
“Udah lo diem aja, jangan ngomong, diem…” Hardiknya.
Gua menghela nafas, kemudian kembali menjatuhkan diri di atas sofa, dan memutar tubuh, memandang dirinya yang masih terlihat sibuk menatap layar laptop sambil sesekali mencatat.
“Kalo ini gimana cad?” Tanyanya sambil menunjukan layar laptop yang menampilkan botol parfum yang dikemas cantik dalam sebuah gift box.
Gua hanya terdiam.
“Cad…” Resti memanggil nama gua, kali ini sambil menoleh.
“Tadi katanya suru diem aja…”
Ia lalu memukul gua berkali-kali sambil berteriak; “Ya kalo ditanya, ngomong!”
“Iya itu bagus… tapi kayak parfum buat cewek” Gua menjawab.
“Iya ya… hmmm…”
Selanjutnya, Resti kembali sibuk mencari souvenir pernikahan yang tepat di internet. Selama itu pula terjadi perdebatan kecil antara kami berdua mengenai cocok atau tidaknya barang tersebut untuk dijadikan souvenir.
Beberapa jam berikutnya, Resti menyerah. Ia mengambil ponsel dan mulai menghubungi maminya. Ia bicara singkat; meminta bantuan kepada Maminya untuk memilihkan souvenir pernikahan kami.
“Dari tadi aja telpon nyokap lo…” Gumam gua pelan.
Resti menghela nafas, kemudian menyandarkan tubuhnya di bantalan sofa. Matanya menatap ke atas, ke arah langit-langit, sambil menggigit bibirnya ia mengetuk-ngetuk pulpen ke sisi dahinya; terlihat tengah berpikir.
“Prewed udah, Gedung dan WO papi yang urus, Undangan udah, Fitting baju udah, Souvenir Mami yang urus, apa lagi ya…” Terdengar ia bicara sendiri.
Sementara gua masih berbaring di atas sofa yang sama sambil menatap layar ponsel; menonton cuplikan video lucu yang sering kali dikirim oleh Wawan tanpa alasan yang jelas.
“Oh…” Tiba-tiba Resti berteriak seraya memukul kaki gua.
Gua nggak merespon, hanya mengelus kaki yang baru saja ia pukul, sementara mata gua masih menatap layar ponsel.
“Mas kimpoi, Cad… Mas kimpoi…” Resti berteriak ke arah gua.
“Hah…”
“Mas kimpoi”
“Hah…”
Resti menarik lengan dan membuat gua terduduk di sofa. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga gua dan mulai berbisik; “Mas Kawiin Cad…”
“Oh…” Gua lalu berdiri dan bergegas menuju ke kamar, meninggalkan Resti sendirian terduduk di sofa sambil menatap gua heran.
Beberapa saat kemudian gua kembali, duduk di tempat dan lokasi yang sama seperti sebelumnya. Gua meraih lengan Resti dan menyerahkan sebuah kotak kecil berlapis kain beludru berwarna merah dan meletakkannya di atas tangannya yang terbuka.
Resti terlihat cukup terkejut, ia menatap gua cukup lama sebelum akhirnya berpaling ke arah kotak kecil yang kini berada di genggamannya.
“Ini Mas Kawiinnya?” Tanya Resti pelan.
Gua menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Boleh dibuka?” Ia kembali bertanya, kali ini ekspresinya tampak sangat antusias.
Perlahan ia membuka kotak kecil berlapis kain beludru berwarna merah. Seiring dengan terbukanya kotak tersebut, senyumnya pun ikut merekah. Ia meraih sebuah cincin emas sederhana tanpa ornamen apapun dari dalam kotak dan mengangkatnya ke atas seraya menatap penuh kagum.
“Baguuussss….” Ucapnya.
Sementara gua kembali berbaring di atas sofa dan menatap layar ponsel. Resti menarik lengan dan membuat gua duduk.
“Coba pakein…” Tambahnya seraya menyerahkan cincin tersebut ke gua.
“Mas Kawiin bukannya dipakenya nanti pas nikah?” Tanya gua.
“Ya sekarang nyobain dulu…” Ucapnya.
Gua meraih cincin tersebut, meraih tangan kirinya dan memakaikannya di jari manis. Resti tersenyum, mengangkat dan mulai memandangi cincin pemberian gua yang kini melingkar di jari manisnya.
Ia lalu mendekat dan menyandarkan tubuhnya dalam pelukan, sementara matanya masih menatap ke arah cincin di jari tangannya.
“Lo mau itu yang jadi mas kawiin atau hal lain?” Tanya gua.
“Apa ‘Hal lain’ nya?” Resti balik bertanya.
Gua lalu berbisik pelan di telinganya. Menyebutkan sesuatu sebagai ganti cincin yang saat ini tengah ia kenakan.
Resti tersenyum kemudian memeluk gua semakin erat dan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan. “You smell so good…” Ucapnya lirih.
“Itu cincinnya mau langsung dipake atau mau disimpan dulu?” Tanya gua.
“Langsung di pake deh, since kita nggak pake acara tunangan, anggap aja ini cincin tunangan ya…” Jawabnya.
“Kalo cincin tunangan harusnya gua juga pake nggak sih?”
“Iya ya… nanti gw beliin deh…”
—
Minggu berikutnya, gua sudah berada tepat di depan rumah Resti. Nggak seperti biasa, kali ini gua mengendarai sepeda motor yang sudah teronggok cukup lama di parkiran basement gedung kantor.
Hari ini sesuai janjinya, Resti ingin membelikan gua cincin sebagai pasangan dari cincin emas yang gua berikan kepadanya pekan kemarin. Sekaligus, mengambil mockup kartu undangan dari Feli.
Gua duduk di depan garasi rumah Resti bersama dengan Pak Sam, sambil menikmati secangkir kopi dan singkong goreng yang tadi sempat disediakan oleh salah satu asisten rumah tangga.
“Tunggu di dalem…” Teriak Resti dari dalam ruang tamu, tanpa menunjukkan wajahnya.
“Disini aja…” Jawab gua, juga sambil berteriak.
“Didalem aja…” Ia membalas.
Alih-alih membalas teriakannya, gua terdiam, meraih sebatang rokok dan mulai menyulutnya. Beberapa saat berikutnya, seorang asisten rumah tangga berjalan cepat menghampiri gua; “Mas, kata non Resti suru tunggu di dalem aja…” Ucapnya pelan.
Si mbak lalu bergegas masuk, namun baru beberapa langkah ia kembali; “Tapi mas, saya nggak berani ngomong gitu ke non Resti…”
Gua menghela nafas, kemudian meralat ucapan titipan kepada Resti; “Bilangin mbak; ‘iya nanti saya masuk’”
“Ok” Si mbak merespon lega, kemudian kembali bergegas masuk.
Gua menyeruput gelas kopi kedua yang baru disediakan, kemudian melirik ke arah jam tangan; sudah hampir setengah jam berlalu sejak kedatangan gua, dan Resti belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Baru saja gua hendak masuk untuk memanggilnya, Resti berjalan keluar dengan santai, seakan tak ada orang yang tengah menunggunya.
“Lama…” Ucap gua seraya menekan batangan rokok yang masih tersisa setengah ke asbak.
“Bawel…” Balasnya tanpa menoleh dan terus melangkah menuju ke arah pagar. Kemudian berdiri mematung sambil berkacak pinggan dan menatap ke arah sepeda motor yang gua parkir di depan.
Ia menoleh ke arah pak Sam, sambil memicingkan mata karena silaunya cahaya matahari dan bicara; “Pak Sam, tolong keluarin mobil dong…”
“Siap…” Pak Sam menjawab cepat, kemudian dengan sigap bergegas masuk ke dalam untuk mengeluarkan mobil. Namun, tak kalah sigap, gua menahan dengan menarik lengannya; “Nggak usah pak…”.
Gua lalu berdiri, berjalan ke arah dimana sepeda motor gua terparkir dan duduk di atasnya. “Naek…” Ucap gua ke Resti.
Resti terdiam, nggak menjawab. Gua menarik lengannya agar ia mendekat; “Kenapa lo nggak mau naik motor? trauma atau karena kenangan masa lalu?” Tanya gua berbisik.
Ia masih terdiam, hanya merespon gua dengan gelengan kepala.
“... Mulai sekarang lo harus percaya sama gua, naek…” Gua menambahkan.
Penuh keraguan, Resti perlahan duduk di boncengan jok belakang. Gua menyerahkan helm kepadanya; “Percaya sama gua kan?”
“Iya…” Jawabnya lirih, dan mulai mengenakan helm di kepalanya.
Gua menyalakan mesin motor, dari kaca spion terlihat Resti tengah memejamkan matanya seraya mulutnya komat-kamit seperti tengah membaca doa. Sementara, kedua tangannya melingkar di pinggang gua erat, sangat erat hingga gua kesulitan bernafas.
“Boleh nggak pegangannya jangan terlalu kenceng, gua susah napas…”
“...Pelan-pelan aja ya cad, gapapa lama yang penting selamet…” Tambahnya, sambil berbisik.
—
Live - Selling The Drama
And to love: a god
And to fear: a flame
And to burn a crowd that has a name
And to right or wrong
And to meek or strong
It is known; just scream it from the wall
I've willed, I've walked, I've read
I've talked, I know, I know,
I've been here before, yeah
Now we won't be raped
Hey, now we won't be scarred like that
Hey, now we won't be raped
Hey, now we won't be scarred like that…
It's the sun that burns
It's the wheel that turns
It's the way we sing that makes 'em dream
And to Christ: a cross
And to me: a chair
I will sit and earn the ransom from up here
I've willed, I've walked, I've read
I've talked, I know, I know,
I've been here before, yeah
Now we won't be raped
Hey, now we won't be scarred like that
Hey, now we won't be raped
Hey, now we won't be scarred like that…
Scarred like that…
And to love: a god
And to fear: a flame
And to burn: a love that has a name
I've willed, I've walked, I've read
I've talked, I know, I know,
I've been here before, yeah
Now we won't be raped
Hey, now we won't be scarred like that
Hey, now we won't be raped
Hey, now we won't be scarred like that…
Hey, hey, now, now, now…
We won’t be scarred like that…
We won’t be scarred like that…