Kaskus

Story

pyantiAvatar border
TS
pyanti
[HORROR] Kontrakan 13 Kamar. Base On True Story.
Kontrakan 13 kamar


[HORROR] Kontrakan 13 Kamar. Base On True Story.


Quote:


Quote:


Langsung yah,
Sebelumnya. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan atau ada yang tau kisah ini, ane harap dari kisah ini kita bisa ambil hikmahnya. Tanpa menghakimi pelakunya. Tulisan ini ane buat hanya untuk pengingat, khususnya buat diri ane sendiiri. Baik buruk, ini adalah kenangan juga. Sekalian nulis sebuah hobby TS yang mana masih banyak kekuranganya . Rutinitas dunia nyata kadang melelahkan gan, setidaknya disini kita bisa berhenti sejenak.

Spoiler for prolog:

part 1
part 2 pemberi fantasi bu toni
pemberi fantasi bu toni 2
part 3. ketakutan penikmat logika
Diubah oleh pyanti 30-06-2023 04:45
herry8900Avatar border
leviozAvatar border
arieaduhAvatar border
arieaduh dan 18 lainnya memberi reputasi
19
8K
63
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
pyantiAvatar border
TS
pyanti
#2
Ibu Pemilik Ilmu. (Tolong Saya Pak! )
Kisah ibu wagni.

Ibu wagni beserta anaknya bambang, pindah kekontrakan ini baru sekitar 1 minggu.
Awalnya semua baik-baik saja hingga suatu sore ibu wagni bertamu kerumahku.
Beliau bercerita tentang ilmu yang dia punya, semalam dia bermediasi dengan penunggu sumur. Kebetulan bu wagni menyewa kontrakan di samping rumah, dimana di belakang rumah ku adalah sumur, dan itu terbuka. Aku sudah mengunakan mesin pompa, tapi sumur itu hanya dibiarkan ditutup dengan asbes. Karena sebelumya kami masih menimba air.

Bu wagni bercerita, bahwa penunggu sumur ingin diberi suguhan, berisikan kopi pahit, kopi manis, teh, bunga 7 rupa dan seekor bekakak ayam. Ayahku tentu menolak, berpuluh tahun kami menempati rumah ini, tidak pernah berbuat seperti itu, dan kami aman-aman saja, hidup berdampingan tanpa saling merugikan. Tapi bu wagni tidak, beliau bersikeras harus melakukan itu.

Aku bisa melihat bu wagni sangat kesal, beliau pulang kekontrakanya cukup lama, setelah bercerita tentang perjalanan hidupnya, tentang apa saja keberhasilanya.

Sampai 3 hari berlalu setelah kedatangan bu wagni, pagi-pagi sekali anak bu wagni mengetuk pintu rumahku lagi. Setelah dibuka pintu, anak bu wagni berlari lalu berlutut dibawah kaki ayahku.

"Pak, ampun pak, tolong saya"

"Kenapa bang, kamu kenapa?, Bangun. Duduk dulu, minum dulu yah"

"Tolong saya dan ibu pak, saya minta ampun."

Hanya kata-kata itu yang terucap dari mulut bambang, anak bu wagni, air mata dan ketakutan terlihat jelas dari wajahnya.

"Coba cerita dulu bang, tenang dulu, baru saya mengerti."

"Jadi begini pak, setelah tempo hari ibu saya kesini, ibu pulang dengan sangat marah."

***

"Bang, pak rahmat itu loh, dikasih tau buat kebaikanya sendiri ora mau denger, tidak percaya. Mau celaka apa dia.'

"Sudah bu, biarkan saja, nanti kalau sudah mengalami baru percaya sama kita, ibu sudah tau penunggunya mau apa, ibu kasih saja supaya dia mau nurut sama kita. Jadi kalau ada apa-apa gampang toh urusanya. Aku juga belum dapat kerja lagi bu, bulan depan bayar kontrakan iki bisalah nunggak berapa hari, jaga-jaga kalo belum ada uang."

"Gampang itu, aku wes hapal semua. Liat saja nanti malam aku mulai wiridan disana saja."

Jam 1 malam bu wagni mengelar tikar disamping sumur, ternyata tekadnya sudah bulat, mendekati makhluk halus itu supaya mau menuruti semua perkataannya.

Malam pertama tidak ada apa-apa, semua tampak biasa, malam kedua pun tidak terjadi apa-apa, hanya bu wagni kesal dengan nyamuk, bagaimana tidak, di sekitaran sumur adalah pohon bambu, sengaja ditanam untuk pagar rumah dan juga bambunya bermanfaat sekali untuk kayu bakar.

Malam ketiga, bu wagni mengelar tikarnya sekitar pukul 01.15. sedangkan bambang anaknya berjaga disekitaran ibunya. Takut kalau-kalau ayah atau siapapun keluar. Alasan sudah dibuatnya, mencari musang. Karena dipohon bambu biasanya ada saja musang yang lewat.

Angin dingin mengerayangi tubuh bambang, entah mengapa dingin ini tidak seperti biasanya, di sudut lain, bambang melihat ibunya duduk bersila, dihadapanya ada segelas kopi, bunga dan tentu saja sedikit dupa. Ibunya memejamkan mata dan merapalkan mantra, hinga akhirnya sesuatu yang ganjil ada disemak pohon bambu, awalnya bambang melihat bayangan. Tapi rupanya tidak seperti bayangan pohon, bayangan itu diam, sementara pohonya bergerak tertiup angin. Bulu kuduk bambang sudah bergridik.
Ingin sekali bambang mendekati ibunya dan mengajaknya pulang. Tapi, urung dilakukan. Bambang juga takut ibunya yang marah.

Bambang melihat jam dipergelangan tanganya, sudah menunjukan pukul 02.50. sungguh sangat lama menunggu pagi, rasa kantuk juga sudah mengelayuti mata bambang, hingga jeritan ibunya tiba-tiba menyadarkannya. Ibunya menjerit, berteriak, lalu merapalkan mantra, bambang hendak menolong sang ibu, tapi bayangan besar ada disekitaranya, tubuh bambang tidak bisa bergerak, sekuat tenaga bambang melawan, semakin melawan semakin kuat pula bayangan itu menekan dirinya. Bambang ketakutan, membaca doa yang entah benar atau tidak, merapal mantra yang diajarkan ibunya pun dia tidak bisa. Air mata bambang keluar, sekarang ia tidak bisa mengeluarkan suara, sementara disebelah sana, ibunya mencoba melawan, mengeluarkan semua ilmu yang dia punya. Sedetik, bambang bisa keluar dari bayangan itu, tapi baru beberapa langkah, punggung bambang terasa sangat sakit, bambang terjatuh ketanah, mata bambang sangat berat. Bambang menutup mata. Sementara ibunya terus melawan.

Bambang membuka mata pagi hari, didalam kontrakannya, ibunya merintih kesakitan, sekujur tubuhnya melepuh seperti terkena air panas, punggung bambanh juga terasa nyeri, dilihatnya dicermin ada 5 guratan seperti cakaran. Ibunya lebih memprihatinkan.

Bambang kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Jadi dia berlari kerumah pemilik kontrakan.

***

Ayahku mendengar cerita bambang hanya mengeleng kepala.

Bambang mengajak ayahku kekontrakanya menemui bu wagni.

Melihat bu wagni sungguh menyedihkan. Beliau bekali-kali meminta maaf.
Penghuni kontrakan lainya melihat kejadian ini sangat kaget, tapi anehnya mereka tidak mendengar apa-apa, jeritan dan teriakan bu wagni seperti tersamarkan di malam tadi.

Bu wagni dan anaknya segera pindah dari kontrakan, tidak sampai 1 bulan mereka menghuninya. Entah dimana mereka sekarang. Semoga tidak terulang lagi kejadian seperti dirumahku kelak.

Bu wagni yang dengan sombongnya menantang ditempat baru menemui akibatnya, setinggi-tingginya ilmu seseorang, masih ada yang lebih tinggi.

Kami sekeluarga memilih untuk diam. Toh selama aku disini pun belum pernah mengalami hal semengerikan itu.

****
tariganna
theorganic.f702
JabLai cOY
JabLai cOY dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.