Kaskus

Entertainment

riandyogaAvatar border
TS
riandyoga
Apa Salahnya Sukses Dengan Manfaatkan Privilese?
Quote:


Hai GanSis! Saat ini kata privilese sudah mulai akrab disekitar kita. Kalau dulu mungkin ada yang menyebutnya nepotisme, tapi memang kedua kata itu berbeda. kata privilese merupakan kata serapan dari privilegie (Belanda), dari bahasa Latin privilegium 'hukum yang berpihak atau berlaku kepada individu tertentu'. Atau sering kita jumpai dari bahasa Inggris, privilegeyang artinya hak istimewa.


Sejauh yang saya tahu privilese itu gak dosa dan gak melanggar hukum, kecuali dengan beberapa catatan. Namun belakangan privilese dinarasikan sebagai sesuatu yang memalukan dan jadi bahan olok-olok. Siapa yang bilang begitu? Netizen.


Konteksnya disini tentang Putri Tanjung. Anak muda sukses dan stafsus milenial. Namun publik seolah gak mengakui pencapaiannya, sebab Ia punya privilese sebagai anak Chairul Tanjung, konglomerat ternama Indonesia.


Posisi saya disini gak sedang lagi menghakimi siapapun. Hanya bertanya, memang apa salahnya sukses dengan memanfaatkan privilese?


Jawaban saya sendiri, ya tidak salah dan tidak masalah. Tapi dengan catatan. Menjadi salah bila seseorang tersebut tidak jujur. Mengaku sukses mulai dari nol, padahal tidak. Berbohong dengan tujuan untuk pamer atau tujuan tipu-tipu. Seperti ada orang yang mengaku crazy rich, meromantisasi kisah suksesnya demi kepentingan pribadinya.


Dunia akhir-akhir ini memang aneh ya kawan! Ada orang gak mengakui privilese yang melekat pada dirinya, sehingga klaim dirinya sukses karena kerja kerasnya sendiri. Sementara sekalipun sudah berjuang keras dengan kemampuan sendiri, orang-orang diluar sana tetap tidak mengakui sebab ada privilese disana.


Lalu apakah kita perlu memikirkan semua ini? Gak juga.


Prinsip saya, yang juga ini saya dapatkan dari guru di SMK. Bahwa manfaatkan privilese untuk jadi sukses itu gak salah, jika ada peluang ya embat aja!!


Jika ada relasi atau orang dalam yang menawarkan lowongan pekerjaan, ya mengapa gak?  Selama kita mampu untuk posisi tersebut, maka ambil.


Namun jika kita gak mampu untuk posisi tersebut, maka mundur saja. Karena itu bukan hak kita, sebab ketidakmampuan tadi. Biarkan untuk orang lain yang lebih mampu dan layak.


Prinsip seperti itu pernah saya lihat langsung, ada orang yang saya kenal, punya orang tua yang berpengaruh di suatu perusahaan. Sebenarnya dia ditawari pekerjaan, posisinya pilih sendiri, dijamin diterima. Tapi dia memilih sebagai karyawan biasa karena menyadari kemampuannya.


Karena jika dia maksa ambil jabatan tinggi, sekalipun diberikan karena privilese, namun itu akan jadi masalah dikemudian hari. Pertama dia akan merebut hak orang yang lebih berhak. Kedua, menjadi masalah sebab tanggung jawab pekerjaan yang tidak sesuai keahliannya.



Sampai sini semoga GanSis paham poin yang ingin saya sampaikan.


Saya kira kita jangan terlalu kaku dengan istilah "privilese" yang selalu dikaitkan dengan harta dan jabatan. "Mindset" juga bisa disebut privilese, seperti yang baru-baru ini viral.



Sudah ya, saya gak bisa banyak bicara lagi. Karena saya merasa gak punya banyak privilese. Sebagai orang-orang yang tidak punya banyak privilese, kalau bisa kita jangan sampai "mental block"bahwa sukses hanya bisa diraih oleh orang yang punya privilese.

Selama kita layak untuk mendapat sebuah privilese, maka manfaatkan. Jangan sampai kita terlalu kaku atau takut dikata-katain hidup dari privilese, maka sekonyong-konyong kita menolak sebuah kesempatan emas. Bodoh sekali!


Privilese bisa dalam bentuk apapun, bisa berupa ilmu, kesehatan, keluarga harmonis, sahabat dan sukur² dapat warisan sepetak tanah. Apapun itu jangan abaikan dan jangan sia-siakan itu semua.


Diakhir thread, saya ingin bertanya lagi, apakah salah sukses berkat privilese?


Sebagai perbandingan saya kutip pernyataan dari orang-orang sukses yang diduga berkat privilese.

Quote:


Quote:


Quote:


Silahkan berkasak-kusuk GanSis!!

Rianda Prayoga
Binjai, 6 Februari 2022


Spoiler for sumber & referensi:
Diubah oleh riandyoga 11-02-2022 10:09
EriksaRizkiMAvatar border
embelgedessAvatar border
asamboiganAvatar border
asamboigan dan 23 lainnya memberi reputasi
18
9.9K
215
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread104.9KAnggota
Tampilkan semua post
bhuchoAvatar border
bhucho
#80
kalo pengalaman dari temen ane yang kaya aja (blom sekelas konglomerat) sama yang ekonomi bawah (ortu cere karna ekonomi dll "bukan miskin banget") dari cara omongannya ya uda beda. yang miskin sibuk mencari pembenaran dengan ngomong : "dia mah enak ortu nya berduit bla", intensitas ghibah nya lebih tinggi dari yang kaya juga wkwkk, kadang sibuk kegiatan gak jelas, yang kaya sibuk nya mau inves atau bisnis apa atau mau liburan kemana.

dan kalo temen ane yang kismin ngomonging privilage langsung ane ketusin, yah masa nyokap bokap lu cari duit cape" hasilnya buat anak tetangganya wkwkwk, kita juga gak bisa milih mau lahir dari kluarga mana, lagian belom tentu lu bakal bisa menghandle privilage yang lu dapet dari orang tua, kalo yang kaya itu kebanyakan suka gak ngotak kalo ngomong kek gak pernah hidup susah ya jadi banyak" masuk kuping kiri kluar kuping kanan aja.

ujungnya ya ada dua yang miskin makin down atau yang miskin bisa jadiin motivasi, dan orang yang punya privilage pun gak selalu idup nya bakal mapan terus"an ada yang terlena manja ke enakan ngabisin duit ortunya ada yang bisa ngembangin jadi lebih banyak. lagian sekarang ini udah gk kek jaman taun di bawah 2000 konsep yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin gak selalu bener, banyak media buat cari duit atau yang bikin orang miskin kaya mendadak ; crypto atau yang cukup gampang selebgram/youtuber dll tinggal pinter" dan mau apa kagak berkembang.
Diubah oleh bhucho 08-02-2022 08:10
riandyoga
riandyoga memberi reputasi
1
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.