- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#195
Chapter 126
Quote:
Lampu taman bersinar terang, ngengat pun berkumpul ingin merasakan cahaya yang ditampilkan, sayangnya sebuah bongkahan kaca menghalanginya. Seberapa kuat ngengat itu mencoba masuk, tetap saja tidak bisa. Dr. Geere termenung duduk di salah satu kursi yang tersedia, matanya menatap kosong ke sebuah lampu taman yang dikeliling ngengat. Pertemuannya dengan wakil komandan Ferdinand membuyarkan pikirannya, semua yang ia alami benar adanya.
“Apa benar aku telah diubah menjadi monster mengerikan itu?” sambil menatap telapak tangannya yang kaku akibat cuaca dingin. Lalu kembali menatap kosong ke arah lampu.
Angin berseliweran datang menusuk kalbu orang-orang yang berjalan ditepian taman, Dr. Geere dengan santai menghadapinya, bayang-bayang keluarganya kembali muncul. Hal-hal indah kembali terkenang, mulai dari awal pertemuan dengan istrinya, pernikahan, hingga lahirnya sang buah hati. Kehidupan tenangnya itu berubah ketika perang berkecamuk, tidak ada sangkut paut pada dirinya sebelum panggilan membela datang padanya. Membela dengan tujuan lain yaitu untuk membuat senjata biologi pemusnah.
Khawatir istrinya malah mencarinya di malam dingin begini, Dr. Geere memutuskan untuk pulang. Setidaknya ia ingin melihat wajah istri dan anaknya tuk yang terakhir kalinya, ia berencana untuk menuliskan pesan pada keluarga.
“Malam semakin larut, kuharap istriku tidak nekat keluar rumah mencariku….,” langkahnya begitu berat, namun tidak ada pilihan lain laginya.
Di lain tempat sang komandan berada di puncak gunung yang dijadikan markas rahasia oleh negara. Berada di puncak bukan seperti pendaki yang menginjakan kakinya di atas tanah, melainkan sang komandan berdiri melayang. Pemandangan kota yang dipenuhi oleh semergap cahaya pun tersaji dengan indah, angin malam berhembus menambah kesempurnaannya.
“Inilah saatnya, orchestra kematian…pertunjukan dimulai….,” matanya tiba-tiba menjadi merah, seperti warna darah yang pekat.
Halaman rumah Dr. Geere tampak tenang dan damai, dari luar jendela dirinya mengintip ke dalam. Karena hampir seluruh lampu dimatikan, keadaan di dalam tidak terlalu terlihat dengan jelas. Langkah kakinya pelan namun mantap menuju pintu belakang, yang langsung tertembus pada ruangan kerjanya. Ia sengaja membuat ruangan yang terkoneksi agar tidak menganggu istri dan anaknya ketika pulang larut malam. Tak lupa sebuah kunci berbentuk bunga pada ujungnya dikeluarkan, lalu dimasukan ke lubang kunci, pintu pun terbuak mempersilahkannya masuk.
Ruangan kerjanya ini lebih banyak berisi penelitian yang dilakukan olehnya sebagai guru besar. Ada pun beberapa karya ilmiah ilmuwan lain yang dijadikan rujukannya. Sayangnya ia tidak bisa bereksperimen di sini, karena memang dilarang oleh istrinya karena takut dijadikan mainan oleh anaknya. Dr. Geere duduk termenung, matanya mulai berkaca-kaca, tak sanggup bahkan untuk mengambil pena didepannya.
“Kenapa?...kenapa ujungnya harus seperti ini?” tangisnya semakin pecah, namun tekad yang kuat dikeluarkan untuk menulis pesan untuk keluarganya.
Satu dua goretan tersaji, kertas yang tadinya putih murni perlahan berubah menjadi hitam. Satu tulisan demi tulisan semakin memberatkannya, dan tangisannya pun semakin kuat hingga pintu ruangan kerjanya pun terbuka dari depan.
“Sayang?” istrinya yang membukakan pintu. “ada apa? pintu depan sengaja kubiarkan tak terkunci,” dengan suara yang pelan dan keadaan setengah sadar.
Mengetahui istrinya yang datang membuat Dr. Geere panik setengah mati, ia bergetar. Niat untuk melarikan diri pun sirna ketika melihat wajah istrinya, hatinya berat untuk meninggalkannya sekali lagi.
“Putri kita sampai jalan sendirian, kukira kamu yang akan menjemput,” menyadari adanya tulisan pada kertas di atas meja. “menulis laporan? Pantas pulang selarut ini, ada pertemuan dadakan dengan staf?”
Mengingat putrinya yang lugu dan lucu membuat Dr. Geere lemas, ia menanamkan wajahnya ke meja. Lalu mulai menangis lagi dengan kuat, ketika sang istri mencoba mendekat, dengan refleks cepat Dr. Geere menghindar dengan melompat dari kursi hingga membuatnya terjatuh.
“Sayang…,” wajahnya mendingin, terkejut melihat sikap suaminya yang seperti itu. Jarang sekali suaminya bersikap menjauh seperti itu. “ada apa?” tidak tega melihat suaminya menangis seperti itu merobek hatinya sebagai sang istri, air matanya pun jatuh. “aku ini istrimu, ceritakan apa yang terjadi, tolonglah!” tangannya meraih pundak sang ilmuwan yang tertunduk lesu menatap lantai rumahnya.
Tangis Dr. Geere mulai mereda, dan perlahan-lahan mulai berhenti, sang istri pun berucap syukur bahwa keadaannya membaik setelah ditenangkan oleh dirinya. Namun wajah Dr. Geere masih menatap lantai belum mau menghadap istri yang jaraknya hanya beberapa centimeter dari badannya.
“Jika kamu sudah tenang, sekarang ceritakanlah---,” secara mengejutkan Dr. Geere menerkam leher istrinya dengan gigitan yang sangat keras. “suamiku…,” matanya membelalak, ia masih bisa menahan sakit gigitan itu walaupun darah mulai mengalir. “hentikan…tolong hentikan…,” setelah darah dilehernya mulai memasuki mulut Dr. Geere, sosoknya mulai berubah. Matanya kini memerah, giginya berubah menjadi tajam dan menusuk dalam leher sang istri.
Keributan yang terjadi di bawah disertai suara tangisan yang cukup keras membuat anak kesayangan Dr. Geere terbangun dari tidur lelapnya, dalam keadaan setengah sadar sang putri beranjak menuju sumber suara. Hingga akhirnya melihat satu ruangan yang lampunya menyala, langkahnya pelan namun pasti mendekati ruangan itu. Bercak darah yang berceceran di lantai tak mengurungkan niatnya untuk melihat ke dalam, kepolosannya itu membuatnya seakan tidak takut dengan tanda seperti itu.
Dengan tatapan polosnya sang putri melihat ibunya sedang digigit lehernya oleh sang ayah. Bagian leher sang ibu sudah tergerus banyak, mulut sang ayah sudah masuk terlalu dalam.
“Ayah, ibu sedang diapakan?” tanyanya dengan polos dan lugu.
Mendengar suara anaknya membuat sang ibu yang sudah tak berdaya itu menggerakan badannya, dengan sisa tenaganya sang ibu memerintahkan anaknya untuk lari sejauh mungkin. “Nak…ibu tidak apa-apa, pergilah temui paman diseberang sana…,” sambil tersenyum menahan tangis.
Dr. Geere berhenti memakan leher istrinya, lalu melihat anaknya berdiri tepat di depan. Mulut hingga lehernya dipenuhi darah segar, ia pun melangkah pelan berjalan menuju anaknya.
“Jangan…dia itu putri kita….,” meronta-ronta meraih kaki suaminya agar menghentikan lajunya.
“Ayah….,” tatapan anaknya begitu polos, karena terbangun di pagi buta sehingga tidak menyadari bahwa yang berdiri didepannya itu bukanlah ayahnya yang dikenalnya selama ini.
Malam yang tadinya damai, tenang, dengan angin yang berhembus pelan mendadak berubah menjadi sangat kelam. Langit yang tadinya berwarna hitam berubah menjadi merah, kekacauan terjadi di mana-mana. Orang-orang mulai berperilaku layaknya monster, memakan satu demi satu manusia yang bisa dilihatnya. Tidak ada yang bisa melawan, karena lingkungan netral ini memang diisi oleh orang-orang baik saja, mereka yang membenci perang dan mencintai perdamaian.
Sang Komandan Gert tersenyum melihat perubahan warna pada kota yang terlihat olehnya, warna oranye mulai berkibar satu demi satu.
“Belum…sampai semuanya menjadi pesuruhku,” dengan nada yang pelan dan mata yang menyala merah diselimuti kegelapan malam.
Selain lingkungan Dr. Geere dan juga kota kecil yang berada dekat pegunungan yang menjadi markas. Kekacauan lainnya juga timbul dibeberapa titik. Semuanya berubah menjadi monster mengerikan pemakan manusia. Korban-korban berjatuhan dengan leher yang tergerus hingga nyaris putus.
Pagi datang dengan hamparan sinar matahari yang menyilaukan mata, orang-orang masih tergeletak di banyak tempat, di jalanan, bahkan di toilet rumahnya sendiri. Warna merah mendominasi sebagian sisi kota. Biasanya banyak orang menyambut pagi mereka dengan gembira tetapi berbeda dengan kali ini, sungguh sepi dan sunyi.
Dr. Geere tak bisa menahan tangisnya ketika melihat dua orang yang paling disayanginya berlumuran darah, sudah dipastikan bahwa keduanya telah mati.
“Apa…APA YANG KULAKUKAN!!!!!” tak bisa mengingat kejadian semalam, hal terakhir yang diingatnya adalah ketika sang istri membuka pintu ruangan kerjanya.
“Apa benar aku telah diubah menjadi monster mengerikan itu?” sambil menatap telapak tangannya yang kaku akibat cuaca dingin. Lalu kembali menatap kosong ke arah lampu.
Angin berseliweran datang menusuk kalbu orang-orang yang berjalan ditepian taman, Dr. Geere dengan santai menghadapinya, bayang-bayang keluarganya kembali muncul. Hal-hal indah kembali terkenang, mulai dari awal pertemuan dengan istrinya, pernikahan, hingga lahirnya sang buah hati. Kehidupan tenangnya itu berubah ketika perang berkecamuk, tidak ada sangkut paut pada dirinya sebelum panggilan membela datang padanya. Membela dengan tujuan lain yaitu untuk membuat senjata biologi pemusnah.
Khawatir istrinya malah mencarinya di malam dingin begini, Dr. Geere memutuskan untuk pulang. Setidaknya ia ingin melihat wajah istri dan anaknya tuk yang terakhir kalinya, ia berencana untuk menuliskan pesan pada keluarga.
“Malam semakin larut, kuharap istriku tidak nekat keluar rumah mencariku….,” langkahnya begitu berat, namun tidak ada pilihan lain laginya.
Di lain tempat sang komandan berada di puncak gunung yang dijadikan markas rahasia oleh negara. Berada di puncak bukan seperti pendaki yang menginjakan kakinya di atas tanah, melainkan sang komandan berdiri melayang. Pemandangan kota yang dipenuhi oleh semergap cahaya pun tersaji dengan indah, angin malam berhembus menambah kesempurnaannya.
“Inilah saatnya, orchestra kematian…pertunjukan dimulai….,” matanya tiba-tiba menjadi merah, seperti warna darah yang pekat.
Halaman rumah Dr. Geere tampak tenang dan damai, dari luar jendela dirinya mengintip ke dalam. Karena hampir seluruh lampu dimatikan, keadaan di dalam tidak terlalu terlihat dengan jelas. Langkah kakinya pelan namun mantap menuju pintu belakang, yang langsung tertembus pada ruangan kerjanya. Ia sengaja membuat ruangan yang terkoneksi agar tidak menganggu istri dan anaknya ketika pulang larut malam. Tak lupa sebuah kunci berbentuk bunga pada ujungnya dikeluarkan, lalu dimasukan ke lubang kunci, pintu pun terbuak mempersilahkannya masuk.
Ruangan kerjanya ini lebih banyak berisi penelitian yang dilakukan olehnya sebagai guru besar. Ada pun beberapa karya ilmiah ilmuwan lain yang dijadikan rujukannya. Sayangnya ia tidak bisa bereksperimen di sini, karena memang dilarang oleh istrinya karena takut dijadikan mainan oleh anaknya. Dr. Geere duduk termenung, matanya mulai berkaca-kaca, tak sanggup bahkan untuk mengambil pena didepannya.
“Kenapa?...kenapa ujungnya harus seperti ini?” tangisnya semakin pecah, namun tekad yang kuat dikeluarkan untuk menulis pesan untuk keluarganya.
Satu dua goretan tersaji, kertas yang tadinya putih murni perlahan berubah menjadi hitam. Satu tulisan demi tulisan semakin memberatkannya, dan tangisannya pun semakin kuat hingga pintu ruangan kerjanya pun terbuka dari depan.
“Sayang?” istrinya yang membukakan pintu. “ada apa? pintu depan sengaja kubiarkan tak terkunci,” dengan suara yang pelan dan keadaan setengah sadar.
Mengetahui istrinya yang datang membuat Dr. Geere panik setengah mati, ia bergetar. Niat untuk melarikan diri pun sirna ketika melihat wajah istrinya, hatinya berat untuk meninggalkannya sekali lagi.
“Putri kita sampai jalan sendirian, kukira kamu yang akan menjemput,” menyadari adanya tulisan pada kertas di atas meja. “menulis laporan? Pantas pulang selarut ini, ada pertemuan dadakan dengan staf?”
Mengingat putrinya yang lugu dan lucu membuat Dr. Geere lemas, ia menanamkan wajahnya ke meja. Lalu mulai menangis lagi dengan kuat, ketika sang istri mencoba mendekat, dengan refleks cepat Dr. Geere menghindar dengan melompat dari kursi hingga membuatnya terjatuh.
“Sayang…,” wajahnya mendingin, terkejut melihat sikap suaminya yang seperti itu. Jarang sekali suaminya bersikap menjauh seperti itu. “ada apa?” tidak tega melihat suaminya menangis seperti itu merobek hatinya sebagai sang istri, air matanya pun jatuh. “aku ini istrimu, ceritakan apa yang terjadi, tolonglah!” tangannya meraih pundak sang ilmuwan yang tertunduk lesu menatap lantai rumahnya.
Tangis Dr. Geere mulai mereda, dan perlahan-lahan mulai berhenti, sang istri pun berucap syukur bahwa keadaannya membaik setelah ditenangkan oleh dirinya. Namun wajah Dr. Geere masih menatap lantai belum mau menghadap istri yang jaraknya hanya beberapa centimeter dari badannya.
“Jika kamu sudah tenang, sekarang ceritakanlah---,” secara mengejutkan Dr. Geere menerkam leher istrinya dengan gigitan yang sangat keras. “suamiku…,” matanya membelalak, ia masih bisa menahan sakit gigitan itu walaupun darah mulai mengalir. “hentikan…tolong hentikan…,” setelah darah dilehernya mulai memasuki mulut Dr. Geere, sosoknya mulai berubah. Matanya kini memerah, giginya berubah menjadi tajam dan menusuk dalam leher sang istri.
Keributan yang terjadi di bawah disertai suara tangisan yang cukup keras membuat anak kesayangan Dr. Geere terbangun dari tidur lelapnya, dalam keadaan setengah sadar sang putri beranjak menuju sumber suara. Hingga akhirnya melihat satu ruangan yang lampunya menyala, langkahnya pelan namun pasti mendekati ruangan itu. Bercak darah yang berceceran di lantai tak mengurungkan niatnya untuk melihat ke dalam, kepolosannya itu membuatnya seakan tidak takut dengan tanda seperti itu.
Dengan tatapan polosnya sang putri melihat ibunya sedang digigit lehernya oleh sang ayah. Bagian leher sang ibu sudah tergerus banyak, mulut sang ayah sudah masuk terlalu dalam.
“Ayah, ibu sedang diapakan?” tanyanya dengan polos dan lugu.
Mendengar suara anaknya membuat sang ibu yang sudah tak berdaya itu menggerakan badannya, dengan sisa tenaganya sang ibu memerintahkan anaknya untuk lari sejauh mungkin. “Nak…ibu tidak apa-apa, pergilah temui paman diseberang sana…,” sambil tersenyum menahan tangis.
Dr. Geere berhenti memakan leher istrinya, lalu melihat anaknya berdiri tepat di depan. Mulut hingga lehernya dipenuhi darah segar, ia pun melangkah pelan berjalan menuju anaknya.
“Jangan…dia itu putri kita….,” meronta-ronta meraih kaki suaminya agar menghentikan lajunya.
“Ayah….,” tatapan anaknya begitu polos, karena terbangun di pagi buta sehingga tidak menyadari bahwa yang berdiri didepannya itu bukanlah ayahnya yang dikenalnya selama ini.
Malam yang tadinya damai, tenang, dengan angin yang berhembus pelan mendadak berubah menjadi sangat kelam. Langit yang tadinya berwarna hitam berubah menjadi merah, kekacauan terjadi di mana-mana. Orang-orang mulai berperilaku layaknya monster, memakan satu demi satu manusia yang bisa dilihatnya. Tidak ada yang bisa melawan, karena lingkungan netral ini memang diisi oleh orang-orang baik saja, mereka yang membenci perang dan mencintai perdamaian.
Sang Komandan Gert tersenyum melihat perubahan warna pada kota yang terlihat olehnya, warna oranye mulai berkibar satu demi satu.
“Belum…sampai semuanya menjadi pesuruhku,” dengan nada yang pelan dan mata yang menyala merah diselimuti kegelapan malam.
Selain lingkungan Dr. Geere dan juga kota kecil yang berada dekat pegunungan yang menjadi markas. Kekacauan lainnya juga timbul dibeberapa titik. Semuanya berubah menjadi monster mengerikan pemakan manusia. Korban-korban berjatuhan dengan leher yang tergerus hingga nyaris putus.
Pagi datang dengan hamparan sinar matahari yang menyilaukan mata, orang-orang masih tergeletak di banyak tempat, di jalanan, bahkan di toilet rumahnya sendiri. Warna merah mendominasi sebagian sisi kota. Biasanya banyak orang menyambut pagi mereka dengan gembira tetapi berbeda dengan kali ini, sungguh sepi dan sunyi.
Dr. Geere tak bisa menahan tangisnya ketika melihat dua orang yang paling disayanginya berlumuran darah, sudah dipastikan bahwa keduanya telah mati.
“Apa…APA YANG KULAKUKAN!!!!!” tak bisa mengingat kejadian semalam, hal terakhir yang diingatnya adalah ketika sang istri membuka pintu ruangan kerjanya.
69banditos dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas