- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.3K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#692
Part 90 - Never Ending Drama
"yuk?" Zahra menghampiri gua di teras depan
"Bentar, belum abis" sembari menunggu motor agak panas, gua menghabiskan rokok yang masih seperempat batang.
Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinar, gua dan Zahra sudah bersiap melakukan perjalanan ke Magelang, ke rumah Zahra tepatnya.
Semakin hari, penampilan Zahra juga semakin trendy. Dengan cermatnya ia bisa mix match pakaian simple menjadi terlihat menarik.
Pagi ini Zahra mengenakan sweetshirt warna coklat tua, dengan angkle pant kakhi, serta sneakers converse warna hitam putih.
Tak lupa totebag canvas putih bergambar kartun yang sedari tadi sibuk ia check isinya.
"Di check lagi, charger, dompet, jangan sampai ketinggalan" gua mengingatkan agar tak tertinggal barang-barang penting miliknya.
"Ngga ada yang ketinggalan kok, kan separuh jiwaku bakal ikut" Zahra kini sudah tak malu-malu melempar gombalan
"Alay"
Sebelum pukul 6 pagi, kami start dari rumah. Melewati gombel, naik ke banyumanik, ungaran, bawen, tuntang, lalu kopeng, dan Magelang. Perjalanan kurang lebih kami tempuh dalam waktu satu jam. Lebih cepat dari biasanya, karena masih cukup pagi, sehingga lalu lintas belum terlalu banyak diisi para pejuang nafkah.
"Kok rame amat ra?" Rumah Zahra terlihat ramai pada pagi itu. Beberapa orang tetangga yang gua ketahui masih punya hubungan saudara terlihat mondar-mandir membawa peralatan memasak.
"Ngga tau" ucapnya sambil turun dari motor dan masuk ke dalam rumah.
Umi yang tadinya berada di dapur langsung bergegas menghampiri ketika tahu kami sudah tiba. "Eh, wis sampai. Sini masuk"
Gua dan Zahra kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Akan ada acara apa?. Terlebih Umi meminta Zahra agar segera berganti pakaian.
Di ruang tamu gua sibuk sendiri akan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Zahra dan Umi juga masih belum keluar dari kamar dalam waktu yang cukup lama. Ibu-ibu di sana terlalu sibuk dengan urusan dapur untuk gua tanyai. Sedangkan Abah belum terlihat sejak awal kami tiba. Muncul berbagai macam spekulasi yang tiba-tiba terlintas di pikiran gua.
Kopi milik gua hanya tersisa ampas kering ketika Zahra keluar dari dalam kamar, Zahra keluar menggunakan tunik warna pink serta rok panjang berwarna hitam. Wajahnya didandani dengan make up yang cukup serius. Satu hal yang membuat gua takjub, Zahra kali ini menggunakan hijab.
Gua mematung memandangi Zahra yang kali ini benar-benar terlihat sungguh spesial. Akan tetapi, raut wajahnya seperti memancarkan hal buruk.
Ia melambaikan tangan ke gua, meminta gua untuk mengikutinya berjalan ke halaman belakang.
"Apa nih? Kok kayaknya serius" batin gua sambil berjalan menyusulnya.
Kami duduk di kursi halaman belakang yang memiliki pemandangan kebun kubis.
"Aku mau dilamar orang" tangisnya langsung pecah ketika selesai mengucap kalimat tadi.
Gua langsung berdiri, menatap Zahra yang tak berani melakukan kontak mata dengan gua.
"Udah gila kamu, ra. Terus selama ini kita ini apa?" Nada gua meninggi, namun menjaga volume agar orang-orang di dapur tidak mendengar apa yang kami perdebatkan.
"Aku ngga tahu apa-apa mas. Abah juga ngga bilang apa-apa waktu telepon kemarin" ucapnya dengan sesenggukan, kali ini air matanya mengalir lebih deras dari sebelumnya.
Tanpa mengucap apapun lagi, gua langsung pergi meninggalkan Zahra yang masih menangis di halaman belakang.
Segera gua pamit pulang ke Umi, lalu berkendara pulang dengan tangis. Gua memacu kuda besi sekencang-kencangnya, sampai beberapa kali hampir keluar lintasan saat berada di tikungan.
Sama sekali gua ngga fokus ketika di jalan, jarum di speedometer sempat mencapai 130+ tanpa gua sadari.
Puncaknya ketika gua sampai di tuntang, hampir saja gua menabrak ibu-ibu penyebrang jalan karena tidak fokus dengan apa yang di depan gua.
Di minimarket terdekat, gua berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun yang terjadi malah gua semakin terbayang semua tentang Zahra.
Zahra yang setiap hari selalu ada buat gua, menemani tiap detik, melayani gua dengan ikhlas, kini sudah pergi.
Baru kemarin ia membicarakan tentang pernikahan, nyatanya sekarang bukan gua yang meminta ia di hadapan kedua orang tuanya.
Bukan salah Zahra juga sampai hal ini terjadi di antara kami, gua yakin Zahra juga merasakan sakit di sana.
Ini semua salah gua, terlambat mengungkapkan apa yang sudah terjadi antara kami berdua kepada masing-masing orang tua. Salah gua juga yang terlalu egois karena takut dipisah atap jika kedua orang tua kami tahu.
Mungkin jika gua bisa menurunkan sedikit ego, ini semua tak akan terjadi, dan yang pasti Zahra tak akan jatuh ke pelukan laki-laki lain.
Gua cari kontak Ryan di HP, lalu menekan tombol call "halo.."
"Kenapa ja?"
"Tolong jemput gua di tuntang, bawa pickup"
"Lu kecelakaan?"
"Ngga, udah jemput aja dulu"
Sekitar satu jam kemudian Ryan dan Mas Joe tiba dengan pick up operasional bengkel.
"Kenapa lu ja?" Tanya Mas joe selepas keluar dari kursi kemudi
"Ntar aja mas, gua lagi males ngomong" ucap gua.
Mas Joe dan Ryan mengerti dan paham jika gua sedang ada masalah, namun mereka tidak membombardir gua dengan berbagai pertanyaan yang bisa membuat gua semakin tidak tenang.
Motor gua dinaikkan ke atas pickup, lalu kami bertiga pulang.
Tak banyak yang kami bicarakan saat di dalam mobil karena gua yang selalu melamun menatap jendela dari kursi penumpang.
Maaf, ra...
"Bentar, belum abis" sembari menunggu motor agak panas, gua menghabiskan rokok yang masih seperempat batang.
Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinar, gua dan Zahra sudah bersiap melakukan perjalanan ke Magelang, ke rumah Zahra tepatnya.
Semakin hari, penampilan Zahra juga semakin trendy. Dengan cermatnya ia bisa mix match pakaian simple menjadi terlihat menarik.
Pagi ini Zahra mengenakan sweetshirt warna coklat tua, dengan angkle pant kakhi, serta sneakers converse warna hitam putih.
Tak lupa totebag canvas putih bergambar kartun yang sedari tadi sibuk ia check isinya.
"Di check lagi, charger, dompet, jangan sampai ketinggalan" gua mengingatkan agar tak tertinggal barang-barang penting miliknya.
"Ngga ada yang ketinggalan kok, kan separuh jiwaku bakal ikut" Zahra kini sudah tak malu-malu melempar gombalan
"Alay"
Sebelum pukul 6 pagi, kami start dari rumah. Melewati gombel, naik ke banyumanik, ungaran, bawen, tuntang, lalu kopeng, dan Magelang. Perjalanan kurang lebih kami tempuh dalam waktu satu jam. Lebih cepat dari biasanya, karena masih cukup pagi, sehingga lalu lintas belum terlalu banyak diisi para pejuang nafkah.
"Kok rame amat ra?" Rumah Zahra terlihat ramai pada pagi itu. Beberapa orang tetangga yang gua ketahui masih punya hubungan saudara terlihat mondar-mandir membawa peralatan memasak.
"Ngga tau" ucapnya sambil turun dari motor dan masuk ke dalam rumah.
Umi yang tadinya berada di dapur langsung bergegas menghampiri ketika tahu kami sudah tiba. "Eh, wis sampai. Sini masuk"
Gua dan Zahra kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Akan ada acara apa?. Terlebih Umi meminta Zahra agar segera berganti pakaian.
Di ruang tamu gua sibuk sendiri akan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Zahra dan Umi juga masih belum keluar dari kamar dalam waktu yang cukup lama. Ibu-ibu di sana terlalu sibuk dengan urusan dapur untuk gua tanyai. Sedangkan Abah belum terlihat sejak awal kami tiba. Muncul berbagai macam spekulasi yang tiba-tiba terlintas di pikiran gua.
Kopi milik gua hanya tersisa ampas kering ketika Zahra keluar dari dalam kamar, Zahra keluar menggunakan tunik warna pink serta rok panjang berwarna hitam. Wajahnya didandani dengan make up yang cukup serius. Satu hal yang membuat gua takjub, Zahra kali ini menggunakan hijab.
Gua mematung memandangi Zahra yang kali ini benar-benar terlihat sungguh spesial. Akan tetapi, raut wajahnya seperti memancarkan hal buruk.
Ia melambaikan tangan ke gua, meminta gua untuk mengikutinya berjalan ke halaman belakang.
"Apa nih? Kok kayaknya serius" batin gua sambil berjalan menyusulnya.
Kami duduk di kursi halaman belakang yang memiliki pemandangan kebun kubis.
"Aku mau dilamar orang" tangisnya langsung pecah ketika selesai mengucap kalimat tadi.
Gua langsung berdiri, menatap Zahra yang tak berani melakukan kontak mata dengan gua.
"Udah gila kamu, ra. Terus selama ini kita ini apa?" Nada gua meninggi, namun menjaga volume agar orang-orang di dapur tidak mendengar apa yang kami perdebatkan.
"Aku ngga tahu apa-apa mas. Abah juga ngga bilang apa-apa waktu telepon kemarin" ucapnya dengan sesenggukan, kali ini air matanya mengalir lebih deras dari sebelumnya.
Tanpa mengucap apapun lagi, gua langsung pergi meninggalkan Zahra yang masih menangis di halaman belakang.
Segera gua pamit pulang ke Umi, lalu berkendara pulang dengan tangis. Gua memacu kuda besi sekencang-kencangnya, sampai beberapa kali hampir keluar lintasan saat berada di tikungan.
Sama sekali gua ngga fokus ketika di jalan, jarum di speedometer sempat mencapai 130+ tanpa gua sadari.
Puncaknya ketika gua sampai di tuntang, hampir saja gua menabrak ibu-ibu penyebrang jalan karena tidak fokus dengan apa yang di depan gua.
Di minimarket terdekat, gua berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun yang terjadi malah gua semakin terbayang semua tentang Zahra.
Zahra yang setiap hari selalu ada buat gua, menemani tiap detik, melayani gua dengan ikhlas, kini sudah pergi.
Baru kemarin ia membicarakan tentang pernikahan, nyatanya sekarang bukan gua yang meminta ia di hadapan kedua orang tuanya.
Bukan salah Zahra juga sampai hal ini terjadi di antara kami, gua yakin Zahra juga merasakan sakit di sana.
Ini semua salah gua, terlambat mengungkapkan apa yang sudah terjadi antara kami berdua kepada masing-masing orang tua. Salah gua juga yang terlalu egois karena takut dipisah atap jika kedua orang tua kami tahu.
Mungkin jika gua bisa menurunkan sedikit ego, ini semua tak akan terjadi, dan yang pasti Zahra tak akan jatuh ke pelukan laki-laki lain.
Gua cari kontak Ryan di HP, lalu menekan tombol call "halo.."
"Kenapa ja?"
"Tolong jemput gua di tuntang, bawa pickup"
"Lu kecelakaan?"
"Ngga, udah jemput aja dulu"
Sekitar satu jam kemudian Ryan dan Mas Joe tiba dengan pick up operasional bengkel.
"Kenapa lu ja?" Tanya Mas joe selepas keluar dari kursi kemudi
"Ntar aja mas, gua lagi males ngomong" ucap gua.
Mas Joe dan Ryan mengerti dan paham jika gua sedang ada masalah, namun mereka tidak membombardir gua dengan berbagai pertanyaan yang bisa membuat gua semakin tidak tenang.
Motor gua dinaikkan ke atas pickup, lalu kami bertiga pulang.
Tak banyak yang kami bicarakan saat di dalam mobil karena gua yang selalu melamun menatap jendela dari kursi penumpang.
Maaf, ra...
mirzazmee dan 12 lainnya memberi reputasi
13