- Beranda
- Stories from the Heart
Penunggu Danau Ranu Kumbolo Semeru
...
TS
xandler
Penunggu Danau Ranu Kumbolo Semeru

Quote:
GIF
Sebelum membaca harap di perhatikan terlebih dahulu beberapa point di bawah ini ;
1.ini berkisah dari teman wanita saya, namun banyak bagian yang sengaja saya lebih-lebih kan, jadi anggap saja 90% story ini adalah fiksi.
2.ini adalah short story, yang mungkin hanya akan tamat 3-5 part.
3.Update untuk story ini maksimal 3 hari sekali.
4.Genre pembunuhan, horor dan survival.
5.Di larang mempublikasikan ke dalam media ap pun, dengan tujuan ke untungan sendiri, tanpa persetujuan penulis.
1.ini berkisah dari teman wanita saya, namun banyak bagian yang sengaja saya lebih-lebih kan, jadi anggap saja 90% story ini adalah fiksi.
2.ini adalah short story, yang mungkin hanya akan tamat 3-5 part.
3.Update untuk story ini maksimal 3 hari sekali.
4.Genre pembunuhan, horor dan survival.
5.Di larang mempublikasikan ke dalam media ap pun, dengan tujuan ke untungan sendiri, tanpa persetujuan penulis.
Quote:
Part 1 : Malam Pertama
"kakak.. baju nya udah di masukin semua?". tanya ibu dari lantai bawah.
"udah kok mah". saut ku.
"cepetan.. nanti malah ketinggalan bus nya". ujar nya.
"iya mah, ini udah selesai kok". saut ku.
Aku sekarang sedang merapihkan beberapa pakaian dan juga peralatan yang akan ku pakai untuk camping sekolah. Waktu keberangkatan adalah pukul 9, sedangkan sekarang sudah pukul 8, dan aku masih sibuk memilih-milih baju.
Bukan karna aku ingin di perhatikan, karna aku orang nya tidak tahan dingin, jadi aku berfikir lebih baik untuk menggunakan pakaian tebal, namun di satu sisi aku juga tidak tahan panas, aku kembali melepas pakaian tebal ku.
Inilah karakter ku, begitu repot dan suka overthinking, padahal aku hanya perlu memakai jaket, dan jika suhu di dalam bis tidak dingin, aku hanya perlu melepas nya.
Tidak hanya itu, rambut ku yang panjang pun juga menjadi sumber masalah untuk ku, jika ku ikat maka rambut ku akan kusut, dan jika tidak ku ikat, aku akan kepanasan. Namun jika aku potong pendek, aku malah tidak menyukai nya. Terkadang aku suka merasa kesal terhadap diri ku, yang suka berlebihan berfikir.
.
.
Perkenal kan, namaku adalah Riska, sekarang aku duduk di kelas 2 SMA, kini aku sedang berlari menuju sekolah, dengan tas yang cukup berat ku gemblok, dengan nafas begitu kembang kempis, aku paksakan kaki ku untuk tetap berlari.
"hadeh... kebiasaan banget kamu Ris". ujar Hendra, ia adalah ketua kelas ku.
"ehh ia maaf hen... bangku aku dimana?". tanya ku dengan nafas senin-kamis.
"itu sama Tian, di belakang". ujar hendra sembari menunjuk.
"ihhh.. kok sama tian sih? nanti kalo dia kesurupan lagi gimana". ujar ku.
"ya kamu doain biar sembuh... yaudah sana, udah telat masih aja bawel.. heran". celetuk hendra kesal.
Tian adalah seorang pria yang begitu pendiam di kelas ku, banyak murid di kelas yang menjauhi nya, karna banyak murid kelas ku yang takut kepada nya, bukan karna dia sok jagoan atau apa pun itu, selama hampir 2 tahun dia bersekolah di sini, dia sudah kesurupan hampir 5 kali.
Sedangkan aku, aku tidak membenci nya, terkadang aku juga merasa kasihan kepada nya, karna dia selalu sendirian di kelas, bahkan ketika ada tugas kelompok, dia selalu seperti di asing kan. Namun apa daya, aku yang juga takut terhadap nya, memilih untuk ikut menjauhi nya.
.
.
Aku dengan terpaksa menghampiri bangku dimana Tian berada, karna seluruh bangku sudah terisi penuh, aku pun menaruh tas ku di atas dan duduk di samping nya.
aku mendapat ledekan dari teman kelas ku yang lain, karna duduk di samping nya, aku hanya bisa menghela nafas, menahan rasa sebal atas ledekan mereka. Sedangkan Tian, dia seperti sudah terbiasa akan hal itu, ia hanya membaca buku tanpa menghiraukan yang lain.
"Anak-anak, Tolong perhatian nya ya.. Perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru akan segera di laksanakan, mohon Doa nya agar perjalanan kita bisa selamat sampai tujuan". ujar Bu Elis, Wali kelas kami menggunakan mic di samping supir.
Dengan 3 bus yang masing-masing berisi 28-30 orang, kami berangkat menuju Semeru dengan penuh semangat, tanpa tau apa yang akan terjadi kepada kami nanti, jika saja aku tau apa yang akan menimpa kami di sana, aku akan menghentikan perjalanan ini apa pun resiko nya.
.
.
*Sekitar 23 jam kemudian.....
Kami akhirnya sampai di sebuah restoran di dekat gunung Bromo, sekedar mengistirahatkan badan sejenak dari panjang nya perjalanan sebelum nya.
Kini aku sedang duduk di meja makan bersama Indri, dewi dan geri. Kami sedang menyantap makanan yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah.
"eh tadi gimana rasa nya berduaan sama tian?". ledek Gerry.
"gpp sih, dia juga diem doang sepanjang perjalanan, malah enak.. jadi bisa tidur tenang". jawab ku.
"cieee yang tidur sama pangeran nya". ujar Dewi dengan nada meledek.
"bodo amat". saut ku.
Sekitar 1 jam lebih kami beristirahat di restorant, kami mulai mempersiapkan bawaan kami dan akan mulai mendaki gunung Semeru, karna kami semua akan mendirikan camp di pinggir danau Ranu Kumbolo. Dan akan menginap 3 malam di sana.
Setelah kurang lebih 30 menit berjalan, kami yang ingin segera menuju danau harus bersabar, di karnakan kabut yang hampir menutupi seluruh tempat di danau, jadi guru kami tidak berani mengambil resiko karna takut akan tersesat.
Dan para Guru akhir nha memutuskan untuk menginap di salah satu motel terdekat, yang tidak begitu jauh dari lokasi danau.
"satu kamar berlima ya, untuk kunci kamar nanti akan di bagikan pak Sutoyo.. dan satu lagi, wanita dan Pria tidak boleh satu kamar". ujar Bu Elis.
"iaaa buu". saut para murid.
Aku mendapatkan kamar di lantai 2, bersama Dewi,Anggi,Ana, dan juga Yani. Karna hanya ada 1 kasur di dalam nya, kami memutuskan untuk melakukan hompimpa, dan 2 orang yang kalah, akan tidur di lantai. Dan aku lah yang akhirnya harus tidur di lantai bersama dengan Anggi.
Aku dan Anggi tidur di depan kasur, dekat dengan TV, ada juga jendela besar di sebelah kasur. Aku mempersiapkan kantung tidur yang memang sengaja ku bawa untuk camping nanti.
Waktu menunjukan pukul 9 Malam, Bu Elis di temani Pak Danang, mengitari tiap kamar untuk mematikan lampu dan juga menyurug para murid untuk segera tidur.
"yaelah bu.. baru juga jam 9". ujar ku.
"ga ada alesan, besok kita bakal cape sama kegiatan, jadi sekarang istirahat". saut Bu Elis sembari mematikan lampu dan menutup pintu.
Akhir nya kami semua memutuskan untuk segera tidur, karna tidak ingin mencari masalah dengan Bu Elis wali kelas kami, karna dia di kenal sebagai guru yang begitu tegas dan tidak segan-segan menghukum murid atau parah nya akan menurunkan nilai kami.
*Pukul 11 malam.
*TOK TOK TOK*
Terdengar suara ketukan dari jendela di samping kami, aku pun jadi terbangun karna suara ketukan itu, aku memang cukup sensitif dengan bunyi ketika tidur.
*TOK TOK TOK*
Kembali terdengar suara ketukan di jendela, yang kali ini mulai membuat ku takut, aku pun memeriksa seluruh teman sekamar ku, dan mereka semua masih tertidur, jadi seharus nya bukan mereka yang mengetuk-ngetuk jendela tersebut.
*TOK.. BRAKK... TOK... BRAKKK....*
Kali ini tidak hanya suara ketukan, namun seperti seseorang yang sedang memaksa membuka jendela.
Aku yang semakin ketukan, dengan panik mencoba membangun kan Anggi yang tidur di samping ku, namun dia yang seperti nya sudah sangat kelelahan, tidak menggubris ku.
*BRAAAKK.... BRAAKKK... BRAAAKKK*
kali ini hanya ada suara seperti seseorang yang mencoba paksa untuk membuka jendela dari luar, semakin lama semakin kencang suara nya.
Aku pun langsung mengambil sapu tangan di samping ku, karna aku tidak punya selimut untuk menutupi wajah ku. Aku hanya ingin berpura-pura tidak mendengar nya.
Tiba-tiba saja suara tersebut berhenti begitu saja, suasana menjadi begitu hening di dalam kamar, aku pun memberanikan diri untuk menengok ke arah jendela.
Aku bangkit berdiri dan membuka tirai jendela secara perlahan.. dan....
Tidak ada apa-apa, aku pun bisa bernafas lega, aku kembali menutup Tirai jendela dan untuk melanjutkan tidur ku. Namun baru saja aku ingin memejam kan mata..
"BRAAKKKKK"
Terdengar suara bantingan pintu kamar mandi yang sangat kencang, aku pun begitu kaget sampai langsung berdiri karna nya.
Namun aneh nya tidak ada satu pun dari teman-teman ku yang bangun dengan suara itu, bahkan ketika aku mencoba untuk menggoyang-goyang kan tubuh mereka, mereka sama sekali tidak merespon.
"Anggi.... Dewi... bangun dong semua ya tuhannn". ucap ku sembari menangis.
Aku hanya bisa menangis sembari menggoyang-goyangkan tubuh teman ku yang masih tertidur.
ketika aku kembali menengok ke arah pintu masuk kamar, di tengah gelap nya kondisi saat ini, aku meliha sesosok pria berbadan kurus berwarna hitam berdiri di sana, aku tidak bisa memastikan siapa dia.
"nak.."
"nak.."
Aku hanya bisa melihat nya seperti sebuah Silurt hitam, yang aku dapat lihat hanyalah mulut nya ketika dia sedang berbicara.
"Ya tuhann....ya tuhannn... pergii tolong pergi".
Aku memutuskan untuk menutup mata sembari jongkok di tengah-tengah kasur bersama teman-teman ku yang masih tertidur.
"Ris".
Panggil Dewi yang tertidur di sebelah ku, tanpa menengok atau menggerakan badan nya.
"Dewi? bangun wi... ". ujar ku senang mendengar suara nya.
"Ris.. kamu di sini aja ya, temani mereka". ujar nya yang masih diam tak bergerak.
"eh.. kamu ngomong apaan sih wi". saut ku.
Aku yang kesal langsung menarik paksa tubuh Dewi dan memaksa memalingkan wajahnya ke arah ku... namun...
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA". teriak ku terkejut.
"Ris... mau ya temani mereka".
Yang sedang aku lihat bukanlah wajah Dewi, melainkan sesosok yang tidak memiliki wajah, dan juga botak. ia hanya memiliki dua lubang kecil di hidung, tanpa batang hidung. Dan Mulut.
"Risss... mau ya". ujar nya kembali dengan suara Dewi.
"TOLONGGGG ... TOLONGGGGGG..." Teriak ku sembari meninggalkan kasur.
Aku yang ingin segera meninggalkan ruangan, malah terjatuh dan kepala ku terbentur lantai cukup keras, sampai-sampai perlahan aku mulai kehilangan kesadaran ku.
.
.
.
.
.
"RISSS BANGUN RISSS KAMU KENAPA?". terdengar suara yang tidak asing.
"tolongg... tolonggin aku". ujar ku dengan mata yang mencoba untuk ku buka.
"istighfar Ris, bangun...". ujar nya kembali.
Aku pun membuka mata secara perlahan, dan melihat ada Bu Elis dan teman-teman sekamar ku sedang duduk mengitari ku.
"bu.. tolong bu". ujar ku kembali dengan tangis.
"udah gpp... itu cuma mimpi kamu aja". ujar Bu elis sembari memeluk kepala ku dan mengelus nya.
Tunggu.. Apa yang barusan yang aku alami tadi hanyalah sebuah mimpi, jika iya, kejadian itu terlihat begitu nyata. Namun aku bersyukut jika itu hanyalah sebuah mimpi.
Wajah Bu Elis terlihat begitu kahwatir, ia bahkan membiarkan ku menaruh kepala ku di pangkuan nya, sembaru terus mengelus-elus kepala ku.
"maaf bu.. kaya nya aku mimpi buruk". ujar ku yang mencoba untuk senyum.
"iya gpp, hari ini kamu istirahat aja ya, nyusul ke camp di danau nya nanti aja kalau kamu sudah baikan". ujar nya.
"ia bu.. makasih banyak". jawab ku.
Dengan perasaan yang mulai tenang, aku pindah dari lantai dan tidur di kasur, dengan Bu Elis yang enggan meinggalkan ku dan berjaga di samping ku.
Aku pun merasa begitu lega, setelah menyadari kalau yang aku alami barusan hanya lah mimpi, namun ...
"Hai Ris".
Tiba-tiba saja mahkluk tanpa wajah itu kembali muncul tepat di depan ku.
*AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA*
.
.
.
.
Spoiler for For Part:
Diubah oleh xandler 30-08-2022 01:46
bebyzha dan 64 lainnya memberi reputasi
65
25.5K
Kutip
146
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
xandler
#83
Quote:
Part 6 : Bujuk Rayu
Saat ini, aku sedang duduk di dalam tenda, sembari menikmati coklat hangat pemberian Anggi, aku mengamati sekitar ku, terlihat Tian sedang mengobrol serius dengan Gery, lalu Yuni sedang bermain karet gelang sendirian.
Yuni memang terkenal judes dan juga jutek, terutama dengan ku, entah apa alasannya, ku akui terkadang aku merasa jengkel karna sikap nya, namun aku memilih untuk tidak menanggapi ucapan nya dengan serius.
Wajah murid-murid di dalam tenda, terlihat begitu cemas dan juga lesuh, mungkin perasaan takut akan kematian, mulai merasuki fikiran dan hati mereka.
Lalu tiba-tiba saja, aku mengingat Dodi, dimana dia sekarang, apakah Roh nya telah berhasil di culik oleh jin itu, dimana pun dia berada saat, aku mendoaakan dia baik-baik saja.
Bu lisa meminta kami untuk berkumpul, di tengah tenda, karna ada yang ingin di sampai kan.
Kami pun mendiskusikan apa yang akan kami lakukan, dan strategi apa yang sudah di siapkan oleh Tian untuk menghadapi Jin tersebut.
"YOSSSHHHH... untuk yang terakhir, Ratu kelas kita silahkan maju, untuk memberi semangat". ujar Gery sembari menatap ku.
Aku pun hanya diam, dan tidak tau siapa yang ia maksud dengan sebutan Ratu, namun yang pasti, itu bukan lah aku.
"Ris.. maju". ucap Anggi.
"hah? ngapain..". ujar ku.
"Risskaaa ayo maju". ajak Gery sembari menarik tangan ku.
"heh? kenapa? ada apa ger?". tanya ku bingung.
Lalu Gery memegang kedua bahu ku dengan erat, dan menatap ku.
"Ini saat nya Ris.. Tugas seorang Ratu untuk memberi semangat murid Pria". ujar nya.
*hahahaha*
Tawa para murid dan juga bu elis. Aku malah semakin bingung apa yang sebenarnya Gery ingin aku lakukan.
"bilang aja semangat". bisik Tian dari belakang ku.
"eh?.. kalo gitu.. SE..SE..semangat". ujar ku grogi.
*YOOOOOOSSSSSHHHHHH*
Sautan semangat dari para murid, khusus nya dari murid pria, mereka terlihat begitu semangat setelah mendengar ucapan ku.
"DENGAR KAN KALIAN... RATU KITA SUDAH BERSABDA... KOBARKAN SEMANGAT KALIANNN". ujar gery dengan teriakan semangat.
*YYOOOOOOOOOOOOOOOSSSHHH*
Saut mereka kembali.
Lalu seluruh murid pria yang berjunlah 13 orang termasuk Gery dan Tian pergi keluar tenda, dengan semangat membara di wajah mereka.
"me..mereka kenapa dah nggi?". tanya ku bingung.
"hahh riss risss... ". ujar anggi sembari menggelengkan kepala.
"ehh kenapa aku serius tanya?". tanya ku bingung.
"percuma aku ngomong juga, kamu ga akan percaya... yaudah yukk". jawab nya sembari merangkul ku.
Lalu aku dan Anggi beserta para murid perempuan lain nya menyusul murid pria yang sudah terlebih dahulu keluar tenda. Kami akan pergi ke tepi danau, tempat dimana jin itu meminta kami untuk datang.
Namun.. baru saja, aku melangkah kan kaki keluar tenda....
"lohh nggi? di... dimana ini?". tanya ku panik
Ketika aku keluar tenda, tiba-tiba saja aku berada di sebuah Goa, aku pun langsung menengok ke arah belakang, dan tidak ada apa-apa, aku seperti berteleportasi ke sini.
Aku hanya sendirian, bahkan Anggi yang merangkul ku saat aku keluar tenda tadi, juga tidak ada. Dimana aku sebenarnya, apakah ini ulah jin itu? bukan kah tian mengatakan kalau kita tetap bersama-sama, kita akan aman.
Aku menarik nafas dalam-dalam berkali-kali, mencoba untuk menenangkan diri agar tidak panik dan membuat fikiran ku untuk tetap fokus.
Aku menengok ke berbagai sudut Goa, aku menyadari hal yang tidak biasa, padahal tidak ada api atau lampu di dalam sini, tapi mengapa Goa ini bisa terang, aku bahkan tidak bisa menemukan sumber cahaya nya.
Pada dinding-dinding Goa, aku melihat banyak sekali ukiran, seperti seorang petani yang sedang membajak sawah dengan kerbau nya, lalu pria dengan setengah badan, dan sebuah gambar sungai yang terdapat kepala buaya di permukaan nya. Buaya tersebut seperti sedang tenggelam, mulut nya menganga seperti sedang kehabisan nafas. Aneh....
Dan pada dinding sebrang nya, aku melihat sebuah gunung kembar, dengan matahari di tengah nya, matahari tersebut memiliki sebuah wajah, dengan ekspreksi sedih. Lalu aku juga melihat banyak sekali orang seperti sedang bersujud ke arah matahari tersebut.
Lalu pada gambar di samping nya, gunung tersebut perlahan termakan oleh Matahari yang kian membesar, expresi sedih yang di tunjukan oleh matahari tadi, berubah menjadi ekspresi marah. Orang-orang terlihat berlarian menjauhi matahari tersebut.
Dan pada gambar selanjut nya, ada seorang manusia yang leher nya di rantai dan di tarik seperti layak nya anjing, dan untuk orang yang menarik nya, terlihat sedang menunjuk ke arah matahari tersebut, ia terlihat tersenyum.
Lalu pada gambar berikut nya, yang mana menjadi gambar terakhir, di situ di gambarkan letusan gunung yang maha dahsyat, orang-orang yang sebelum nya berlari, kini sudah tewas terkapar. Termasuk orang dengan orang yang memperlakukan manusia seperti anjing tadi.
Namun aku melihat satu manusia yang selamat, dia adalah orang yang sebelum nya di rantai, dengan rantai yang masih melingkari leher nya, ia terlihat sedang berdiri tegak menghadap sang matahari.
Entah maksud apa dari gambar-gambar ini, untuk sekarang aku akan mengkhafal nya dan akan ku beritau kepada Tian saat kami bertemu nanti, siapa tau gambar-gambar ini adalah sebuah petunjuk.
Lalu aku kembali menyelusuri Goa lebih dalam, permukaan Goa ini cukup basah dan licin, aku bahkan hanya bisa berjalan secara perlahan karna takut tergelincir.
Cukup jauh aku berjalan, aku menemukan 3 lorong bercabang, aku pun di buat bingung harus memilih jalan yang mana, lorong pertama terlihat mengarahkan ku ke bawah, lalu lorong ke dua mengarah lurus, dan yang terakhir, terlihat mengarah ke atas.
Dengan mengucapkan bissmillah, aku memilih lorong ke 2, yang mengarah lurus kedepan.
Di dalam lorong, aku melihat beberapa kelelawar sedang tertidur terbalik, aku pun mencoba sebisa mungkin untuk tidak membangunkan nya, karna aku pasti akan panik jika itu terjadi.
Sekitar 10 menit berjalan, di ujung lorong, aku menemukan sebuah ruangan yang besar. Tidak seperti ruangan pertama tadi, yang memiliki banyak ukiran, di ruangan kedua ini, aku melihat banyak sekali kulit binatang yang telah di keringkan dan tempelkan pada dinding-dinding Goa.
Aku juga menemukan beberapa tombak yang terbuat dari kayu, dan pata pisau nya menggunakan batu, seperti senjata zaman purbakala, aku juga menemukan sebuah api unggun menyala tepat di tengah-tengah ruangan.
"Apakah ada seseorang yang tinggal di sini?". gumam ku.
Tidak lama kemudian, aku mendengar suara suling yang begitu merdu dari arah lorong yang berada di depan ku, semakin lama semakin besar suara nya, seperti akan ada yang datang.
Aku pun menjadi panik dan memilih untuk segera bersembunyi di balik tumpukan kulit kering.
Dan benar saja... aku mulai mendengar langkah kaki mulai mendekat..
"huihui ha ha hui ha".
"hao hao ha hui hui"
Aku melihat 2 orang yang memiliki tubuh yang sangat besar, mungkin tinggi mereka mencapai 3 meter dengan postur gemuk, mereka seperti sedang berbicara satu sama lain menggunakan bahasa yang tidak aku pahami.
Lalu salah satu dari mereka duduk di dekat Api unggun sembari kembali memainkan suling yang iya bawa.
"apa itu manusia purba? memang nya pada zaman itu sudah ada suling? tunggu... memang nya mereka manusia?". gumam ku yang terus bertanya-tanya.
Tidak lama kemudian, salah satu dari mereka meninggalkan ruangan dan menuju ke lorong yang sebelum nya aku lewati tadi, aku pun berfikir bahwa ini adalah waktu nya aku mengambil kesempatan untuk pergi dari sini, mumpung satu pria yang tinggal masih sibuk memainkan seruling nya.
Aku pun melangkah secara perlahan, sembari membungkuk, mencoba untuk menghilangkan suara langkah kaki, dan pergi menuju lorong dimana mereka datang.
namun... tiba-tiba saja suara suling berhenti, jantung ku pun langsung berdetak kencang, apakah aku ketahuan? aku memberanikan diri menengok ke arah pria tersebut, dan.....
"HAO HAO HU HU HA HUII"
benar saja, pria tersebut sedang melihat ku dan langsung berteriak begitu keras.
Aku pun langsung menegak kan badan dan langsung berlari sekuat tenaga, pria tersebut juga berlari mengejar ku. Aku berlari memasuki lorong dengan keringat yang sudah membasahi wajah ku, aku tidak ingin menengok ke belakang, karna dari suara langkah pria itu, aku bisa merasakan dia sudah tepat berada di belakang ku.
dan...
*KREEEEEKKKKKK*
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA". Teriak ku.
Tangan besar pria itu berhasil menangkap bahu kanan ku, dia mencengkram bahu ku dengan begitu kencang sampai-sampai aku mendengar suara retakan pada bahu ku.
Aku pun langsung berteriak kesakitan dan terpakar jatuh sembari memegangi bahu ku.
Lalu pria besar itu menggenggam kepala ku dan menyeret ku bersama nya, namun ia tidak kembali ke tempat sebelum nya.
Aku mencoba meninju-ninju tangan nya dengan tangan kiri ku dengan harapan agar dia melepaskan kepala ku, namun percuma, seperti nya pukulan ku juga tidak terasa oleh nya.
Sekitar 10 menit, kami sampai di sebuah ruangan berbeda, aku merasakan sesuatu sedang menunggu di ruangan tersebut, namun aku tidak menengok ke arah nya, karna kepala ku masih ia genggam.
"ka..ka...ka....KAAAUUUUU". ucap seorang pria yang suara nya tidak asing di kuping ku.
*BUKKKKKKKKKKK*
Tiba-tiba saja pria besar yang sedang menyeret ku di hajar begitu keras, sampai-sampai membuat nya terpental jauh, dan tepat sebelum aku ikut terpental, ada tangan yang memeluk perut ku.
"BE...BE...BERANI-BERANI NYA KAUUUU MENYENTUH RISSSKAAA KUUUU". ujar nya kembali.
Aku pun menengok ke arah pria itu, dan... itu adalah Luno.
Pria yang barusan ia hajar, langsung bangun dan bersuju di depan Luno, seperti sedang meminta maaf dengan bahasa yang tidak ku mengerti.
Lalu Luno menggendong ku dan menududuk kan di sebuah kursi yang terbuat dari kulit.
"APA.. APA.KK...KK...KKKAAAAUU BA...BAIK SA....SAA ..SAAJAAA?". ujar nya dengan suara beegitu keras.
Aku tidak menjawab pertanyaan nya, aku hanya memegang bahu kanan ku yang masih begitu sakit sembari menatap ke arah Luno.
"di.. dimana ini?". tanya ku.
"BA...BAAAHU MUUUUUUU, AKU A..AKAN MENYEMBUHKAN NYA.... TE...TEENANGLAHHH". ujar Luno kembali.
tanpa menjawab pertanyaan ku, ia memegang bahu ku dengan tangan nya,... aku merasakan udara yang begitu sejuk seperti masuk ke dalam pori-pori bahu ku, dan tidak lama kemudian, setelah ia melepaskan tangan nya, rasa sakit pada bahu ku hilang begitu saja.
Luno menatap ku begitu tajam, walaupun dia tidak memiloko hidung dan mulut pada wajah nya, namun aku merasakan rasa bersalah hanya dari tatapan nya, dengan tangan yang terus meraba-raba wajah ku.
"di..dimana ini?". tanya ku kembali.
"k..kita berada di ru...rumah ku". jawab nya
"kau yang membawa ku kesini?". tanya ku.
"te..tentu.... hanya a..aku dan ka..kakak ku yang bi..bisa keluar ma..masuk dari sini". jawab nya dengan tergagap-gagap.
"lalu ma.. mau aapa kau dedengan ku?". tanya ku.
"tentu ka...karna a..aku ingin menyelamatkan mu, a...aku ba...bahkan menghabiskan seluruh energi ku untuk dapat me..mbawa mu ke...kesini". ujar Luno.
"ja..jangan-jangan... bagaimana dengan teman-teman ku?". tanya ku kembali.
"me..mereka se..seharus nya sudah mati oleh ka..kakak ku" ujar nya.
Aku pun langsung lemas setelah mendengar nya, apa mungkin strategi yang di buat oleh Tian telah gagal?.
Aku langsung menangis sembari menundukan kepala dan menutup wajah ku dengan kedua tangan ku.
"Ja..jangan me...menangis.. KAAAUUUUU PASTI KARNAA KAUUUUUU DIA KE...KEMBALI MENANGISSSS". ujar luno yang kembali meninggikan suara nya.
Lalu terlihat luno menghampiri pria besar tersebut, dan langsung menghajar nya dengan pukulan bertubi-tubi yang saking cepat nya, aku sampai tidak bisa melihat tangan nya.
"HENTIKAAAAANNNN". Teriak ku.
Aku tidak tau mengapa aku menghentikan Luno, mungkin aku hanya tidak suka melihat siapa pun di pukuli bukan karna kesalahan nya.
Aku mengambil nafas panjang dan langsung berdiri tegap, aku berjalan menghampiri luno dengan wajah penuh amarah, sampai aku tepat berada di depan wajah nya.
"a...ada.. a..aapaa? k...kamu i..ingin se..sesuatu?". ujar Luno dengan sedikir panik.
"bawa aku ke danau". ujar ku.
"Ti...tidak mu..mungkin, jika kau ke...kesana, ka....kau akan di bunuh oleh Luna.... A..aku ti...tidak bisa meng..mengalahkan Luna". ujar Luno dengan cemas sembari berjalan bulak-balik.
"LUNOOOOOOOO". Teriak ku kembali.
"YAAA". saut nya yang langsung berdiri tegak.
"Jika kau memang mencintai ku... apakah kau rela melihat ku mati karna rasa sedih ini". ujar ku merayu.
"Ti...tidak.... a..aaku--- oo.oohh ba..bagaiaman jika aku mengawet kan mu sekarang, jadi ki...kita bisa hidup bersama selama nya dan ka...kau ti..tidak per...perlu khawatir akan mati". ucap Luno.
*PAKKKKK*
Tanpa ku sadari aku malah menampar Luno, aku sudah keterlaluan, awal nya aku hanya ingin merayu nya agar dia mau membawa ku kembali, namun aku malah menampar nya, bagaimana jika dia marah dan malah membunuh ku.
"ma..maaf.... i..ini per...pertama kali nya aku men...mencintai wa...wanita aku tidak tau a..apa yang harus aku la...lakukan, apa aku salah?". ujar nya dengan mata memelas.
"heh?". saut ku kaget.
Dia tidak marah, dia malah seperti takut dengan ku, aku pun terdiam sebentar berfikir.
"me...mengapa se..senyum mu me..mengerikan seperti itu Ris?". tanya Luno.
"a.aahh tidak apa-apa". saut ku.
Tanpa ku sadari aku malah tersenyum setelah memikirkan rencana ku, untuk sekarang aku berencana untuk memanfaatkan Luno, dan mencoba untuk mencari cara agar bisa kembali ke tempat teman-teman ku.
.
.
*1 jam kemudian*
"duh duhh duhhh pelan". ujar ku.
"a...ah i..iya maaf". jawab Luno.
Luno saat ini sedang memijat ku, semenjak tadi aku sedang mengujur betapa besar cinta nya kepada ku, atau seberapa mau dia menuruti ku.
Sampai saat ini, dia selalu mau untuk menuruti apa pun permintaan ku, seperti memijat bahu ku saat inu.
"luno". ucap ku.
"y..ya?". saut nya.
"apa luna.. maksud ku, kakak mu itu begitu kuat?". tanya ku.
"te..tentu saja, dia adalah jin terkuat di gunung ini, di... dia sudah menghabiskan ribuan tahun untuk be..betapa". ujar Luno yang masih memijat ku.
"seberapa kuat jika di bandingkan dengan mu?". tanya ku kembali.
"ji...jika de..dengan ku, a..akan mustahil bavi ku untuk menang melawan nya, ta..tapii". ucap nya terhenti.
"tapi apa?". tanya ku kembali.
"Tapi... ada sa...satu cara a...agar bisa me...mengalahkan nya". ujar Luno.
"oya.. apa itu?". tanya ku yang langsung membalikan badan dan menatap nya.
"cara nya adalah....."
.
.
"wahh itu ide bagus, mari kita lakukan Luno". ujar ku dengan wajah gembira.
"ta...tapi un...untuk a...apa aku ha..harus melawan ka..kakak ku?". tanya nya.
"bodoh... apa lagi selain membuat mu menjadi penguasa di sini". ujar ku berbohong.
"Pe..penguasa?". saut nya.
"tentu... penguasa, apa kau tidak lelah selalu menjadi nomor 2? Selalu di marahi oleh nya? selalu menjadi bayang-bayang nya?". rayu ku.
"se..sebenar nya.. a..aku ti...tidak ada masalah". saut nya.
*PAAAAAKKKKKK*
Aku kembali menampar nya.
"hehhh? ke..kenapa ka...kamu menampar ku lagi?". tanya nya.
"BODOH.... Pria impian ku harus memiliki ambisi, ambisi untuk selalu menjadi yang terbaik, bukan seperti mu... yang begitu nyaman menjadi budak kakak mu". ucap ku memberanikan diri.
Aku mungkin sudah berlebihan kali ini, namun.. aku memilih untuk bertaruh..
"bu...budak.. me..meskipun dia kakak ku, a...aku ti..tidak akan mau menjadi budak nya". ujar nya kembali.
"kau hanya tidak menyadari nya Luno, kakak mu selama ini hanya menganggap mu sebagai budak atau pesuruh nya... apa kau mau selama nya, untuk menjadi budak nya?". Rayu ku kembali.
"TI...TIDAK... a..aku tidak akan mau, ta...tapi... ji..jika aku memulai per..pertarungan dengan Luna, pa..pasti sang Dewa akan marah". ujar nya.
"Dewa? ohh dewa gunung ini, bisa kau jelaskan siapa Dewa itu?". tanya ku.
"ji..jika kakak ku adalah Jin terkuat di sini, beda dengan sang Dewa, Lu..luna pernah bercerita kalau Dewa tersebut su..sudah hidup se...sebelum A..adam di turunkan di Bu.. bumi". ujar nya.
"mendengar cerita? berarti kau belum pernah bertemu dengan Sang dewa itu?". tanya ku kembali.
"y..ya". saut nya.
"Lalu berar ti kau juga tidak tau kemana psra tumbal di serahkan?". tanya ku kembali.
"y..ya lu..luna melarang ku un..untuk me..melihat nya". saut nya kembali.
"hmmm.. bisa jadi, kakak mu selama ini hanya membohongi mu untuk sekedar memanfaat kan mu". ucap ku.
"a..apa maksud mu?". tanya nya.
"apa kau tidak pernah berfikir? bisa saja selama ini seliruh tumbal yang ingin di serahkan kepada dewa itu adalah kebohongan belaka?". tanya ku.
"hah?.. ma..mana mungkin". saut nya.
"bisa saja bukan, selama ini dia tidak memberi mu izin untuk melihat secara langsung penyerahan tumbal kepada dewa, karna selama ini juga kakak mu sendiri lah yang memakan jiwa-jiwa itu untuk diri nya sendiri". saut ku.
Luno pun cukup terkejut setelah mendengar ucapan ku, sejujur nya aku juga tidak yakin tentang Dewa itu, aku juga tidak begitu memperdulikan nya, karna prioritas ku saat ini adalah untuk merayu Luno agar mau bertarung dengan Luna.
"Ja...jadi se..selama ini ... di...dia hanya menipuku?". ujar luno yang mulai terlihat kesal.
"tentu saja, karna masuk akal bukan? supaya kau tidak akan pernah melampaui kekuatan nya, agar dia selalu yang menjadi nomor 1 di sin". ucap ku kembali.
*BRRUUUUKKKK*
"SI...SIALANNNN JA..JADI SELAMA INI, A...AKU HANUA DI MAN...MANFAATKAN, TI...TIDAK A..AKAN AKU MAAAFKAN". teriak Luno sembari menghancurkan kursi di depan nya.
"Tenang Luno... untuk itu, aku akan membantu mu mengalahkan nya, dan membuat nya mengakui betapa hebat nya diri mu". saut ku kembali.
"be...benarkah ka...kamu mau membantu ku". jawab nya yang sudah termakan bujuk rayu ku.
"tentu, karna aku akan selalu di samping mu... bukan begitu?". ujar ku dengan senyum.
"Ri..risskaa te..terimakasih".jawab nya.
Diubah oleh xandler 31-01-2022 14:45
doelviev dan 40 lainnya memberi reputasi
41
Kutip
Balas
Tutup