- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.4K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#683
Part 87 - Kopi Pahit, Yang Manis Kamu
Ibu-ibu di depan teras rumah langsung berdiri ketika gua memarkirkan motor di halamannya.
Raut penasarannya menunggu sosok yang disembunyikan dibalik helm dan masker.
"Owalah, ja. Tak kiro ki sopo" Umi menyambut kedatangan gua di magelang.
Gua cengar-cengir menanggapinya
Umi mengarahkan gua ke ruang tengah "kok tumben, main ke sini?" Tanya umi keheranan.
Emang gua ngga pernah datang ke sini kalau ngga bareng Mamah-Papah.
"Bosen liburan di semarang, pengen main-main" jawab gua. Padahal, alasan sebenarnya, Zahra!
Umi berjalan ke arah dapur, meninggalkan gua sendirian di ruang tengah
Dinginnya kaki gunung merbabu mulai menusuk tulang. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore.
Sebelum semakin dingin, gua memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Rasa-rasanya, sudah banyak debu yang menempel di sekujur tubuh. Belum di tambah ekstrak solar, kampas kopling, oli rem, dan sebagainya.
"Mau mandi dulu mi, lengket" ucap gua ketika Umi kembali dari dapur.
"Keburu dingin ini kopinya" Secangkir kopi yang baru saja dibuat Umi nampak menggoda, masih mengepulkan asap panas.
"Ngga apa" lebih baik minum kopi dingin, daripada air di bak mandi yang keburu makin dingin. Pikir gua
Entah perasaan gua aja atau gimana ya. Bagi gua, hawa malam bakal lebih kerasa dingin semisal gua belum mandi sore/malem.
Meskipun pas mandi tuh dingin banget, tapi abis itu jadi biasa aja. Beda sama badan kalo ngga kena air, hawanya bakal lebih dingin.
Kalian begitu juga ngga sih?
Sehabis mandi, gua kembali ke ruang tengah. Dari depan, Zahra muncul sambil menenteng karung kecil yang berikutnya gua ketahui berisi kentang dan wortel.
"Loh, kok udah dateng. Aku baru metik ini" ia mengangkat karung tadi, menunjukkan ke gua.
"Emangnya kamu ngga suka kalo aku dateng lebih cepet?"
"Seneng banget. Tapi belum masak. Kirain tuh bakal sampenya malem, jadi aku masaknya kan buat makan malem nanti" jelasnya
"Yang penting kan udah nyampe sini"
Ia berjalan cepat ke arah gua, membuka tangannya ketika jarak kami semakin dekat.
Gua mundur satu langkah, sembari menunjuk ke arah dapur menggunakan dagu. Zahra pun mengerti apa yang gua maksud, lalu membatalkan pelukannya.
"Sini tak bantuin" tawar gua, mengambil karung yang ada di genggamannya.
Kami berdua berjalan ke dapur, menyiapkan masakan untuk makan malam.
Kepulan asap dari kayu bakar menyambut gua di dapur tradisional ini. Lantai yang masih tanah mengharuskan gua memakai sandal ketika beraktifitas di dapur.
Di tungku yang masih menyala, terdapat beberapa bungkus daun pisang yang dipanggang.
"Ini pepes?" Gua menyentuh bungkusan tersebut dengan sendok
Zahra mengangguk "tinggal masak sayur sop" lanjutnya kemudian.
Dengan terampil, Zahra menyiapkan bahan-bahan masakan yang ngga gua pahami urutan maupun komposisinya
Tugas gua hanyalah mengiris-iris bahan, lalu mencucinya.
Adzan Maghrib mulai berkumandang, kami menghentikan sejenak acara memasak.
Banyak mata memandang ketika kami sekeluarga berjalan ke masjid.
"Mantune niki pak? (Menantunya ini pak?" Tanya beberapa orang yang bertemu kami
"Anake (menyebut nama Papah)" jawab abah tentang pertanyaan tadi
Kenapa orang-orang di sini kayak asing sama muka gua ya? Seharusnya kan mereka tau kalau gua anak dari Papah karena wajah gua yang mirip dengan Pratama.
Atau mereka memang asing dengan wajah Pratama?
--
"Iso dewe kan nduk? (Bisa sendiri kan nduk?" Umi memasrahkan urusan masak ke Zahra
"Nggih mi, sampun direwangi mas Raja (iya mi, udah dibantu mas Raja" jawab Zahra
Di hadapan tungku, kami berdua duduk di kursi kecil yang biasa disebut dingklik. Kursi kecil tersebut biasanya terbuat dari kayu-kayu sisa.
Selain berada di dapur, kursi seperti ini juga sering ditemukan di tempat-tempat yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian.
"Udah, tunggu mendidih aja" Ia menutup panci yang sudah diisi lengkap oleh sayur-sayuran.
Sembari menunggu matang, gua dan Zahra menghangatkan badan di depan perapian.
Gua meraih pinggang Zahra, menarik tubuhnya agar lebih mendekat.
"Kamu bisa nyalain ini ra?" Gua bertanya sembari menunjuk tungku di hadapan kami
"Ya bisa dong, emang siapa yang tadi nyalain ini" sombongnya
"Pake apa?"
"Pake korek"
Gua menghela nafas "ya iya make korek. Maksudnya, make kertas apa gimana bikin baranya"
Zahra berdiri dari duduknya, lalu ia mengambil kertas di tumpukan koran bekas yang terdapat di sudut dapur, kemudian mencontohkan cara agar bara di kayu bakar cepat jadi.
"Ribet, ngga pake kompor ngapa sih? Itu ada gas" protes gua, menunjuk kompor dan gas yang ada persis di samping tungku
"Kalo ada yang murah, ngapain pake yang mahal. Lagian, di sini kan masih gampang banget cari kayu bakar" jelasnya
"Tapi ribet dek"
"Orang sini mah lebih milih beli pupuk daripada beli gas"
Sekejap kemudian ia membuka tutup panci, sayur sop di dalamnya sudah mendidih.
Zahra memindahkan sayur sop dari panci ke wadah lain.
Masakan-masakan tadi kami sajikan ke ruang tengah.
Gua dan Zahra sekeluarga makan bersama di sana. Di atas karpet hijau polos, lesehan.
Kami berempat ngobrol banyak di sana. Tentang eyang kakung yang kenal dekat dengan abah di pesantren, tentang dusun ini, sampai tentang masa kecil Zahra.
Hingga akhirnya, Abah mempertanyakan kisah asmara Zahra di Semarang "Zahra punya pacar ngga ja?"
Gua dan Zahra saling menatap, kemudian gua melirik lagi ke abah.
"Aduh, ngomong apa nih" batin gua
"Mana ada yang berani deketin, pada takut duluan sama mas Raja" saut Zahra
"Iya toh? Emang kangmas mu serem?" Tanya abah lagi
Sebelum Zahra ngomong yang engga-engga, gua mencubit kakinya pelan. Bisa ngga diterima jadi mantu nih kalo Zahra buka mulut.
"Aduh, sakit" rintih Zahra akibat cubitan gua.
Umi dan Abah menertawakan tingkah kami berdua.
Dengan menggenggam sebungkus rokok gua meninggalkan ruang tengah menuju teras depan.
Dinginnya udara malam langsung menembus tulang ketika gua baru membuka pintu.
Nyala api dari mancis membakar sebatang tembakau pabrikan gudang garam kesukaan gua.
"Jaketnya tuh dipake" ucapnya, sembari mengalungkan jaket ke punggung gua.
Kemudian ia menyerahkan segelas teh panas yang berubah menjadi dingin kurang dari semenit.
"Kok ngga kopi sih?" Protes gua
"Ntar lagi lah kopinya, baru makan kok langsung minum kopi"
Kami berdua menatap jalan dusun di depan rumah, hanya sesekali kendaraan yang lewat dengan kecepatan sedang.
Suara-suara binatang malam juga menemani kami berdua dalam memandang langit.
Tak lama, suara adzan isya berkumandang. Kami sekeluarga bergegas bersiap menuju masjid yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari rumah.
Gua hendak masuk ke dalam rumah untuk mengambil air wudhu, namun dicegah oleh Zahra.
"Wudhu di masjid aja, airnya radak anget" ujarnya
Raut penasarannya menunggu sosok yang disembunyikan dibalik helm dan masker.
"Owalah, ja. Tak kiro ki sopo" Umi menyambut kedatangan gua di magelang.
Gua cengar-cengir menanggapinya
Umi mengarahkan gua ke ruang tengah "kok tumben, main ke sini?" Tanya umi keheranan.
Emang gua ngga pernah datang ke sini kalau ngga bareng Mamah-Papah.
"Bosen liburan di semarang, pengen main-main" jawab gua. Padahal, alasan sebenarnya, Zahra!
Umi berjalan ke arah dapur, meninggalkan gua sendirian di ruang tengah
Dinginnya kaki gunung merbabu mulai menusuk tulang. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore.
Sebelum semakin dingin, gua memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Rasa-rasanya, sudah banyak debu yang menempel di sekujur tubuh. Belum di tambah ekstrak solar, kampas kopling, oli rem, dan sebagainya.
"Mau mandi dulu mi, lengket" ucap gua ketika Umi kembali dari dapur.
"Keburu dingin ini kopinya" Secangkir kopi yang baru saja dibuat Umi nampak menggoda, masih mengepulkan asap panas.
"Ngga apa" lebih baik minum kopi dingin, daripada air di bak mandi yang keburu makin dingin. Pikir gua
Entah perasaan gua aja atau gimana ya. Bagi gua, hawa malam bakal lebih kerasa dingin semisal gua belum mandi sore/malem.
Meskipun pas mandi tuh dingin banget, tapi abis itu jadi biasa aja. Beda sama badan kalo ngga kena air, hawanya bakal lebih dingin.
Kalian begitu juga ngga sih?
Sehabis mandi, gua kembali ke ruang tengah. Dari depan, Zahra muncul sambil menenteng karung kecil yang berikutnya gua ketahui berisi kentang dan wortel.
"Loh, kok udah dateng. Aku baru metik ini" ia mengangkat karung tadi, menunjukkan ke gua.
"Emangnya kamu ngga suka kalo aku dateng lebih cepet?"
"Seneng banget. Tapi belum masak. Kirain tuh bakal sampenya malem, jadi aku masaknya kan buat makan malem nanti" jelasnya
"Yang penting kan udah nyampe sini"
Ia berjalan cepat ke arah gua, membuka tangannya ketika jarak kami semakin dekat.
Gua mundur satu langkah, sembari menunjuk ke arah dapur menggunakan dagu. Zahra pun mengerti apa yang gua maksud, lalu membatalkan pelukannya.
"Sini tak bantuin" tawar gua, mengambil karung yang ada di genggamannya.
Kami berdua berjalan ke dapur, menyiapkan masakan untuk makan malam.
Kepulan asap dari kayu bakar menyambut gua di dapur tradisional ini. Lantai yang masih tanah mengharuskan gua memakai sandal ketika beraktifitas di dapur.
Di tungku yang masih menyala, terdapat beberapa bungkus daun pisang yang dipanggang.
"Ini pepes?" Gua menyentuh bungkusan tersebut dengan sendok
Zahra mengangguk "tinggal masak sayur sop" lanjutnya kemudian.
Dengan terampil, Zahra menyiapkan bahan-bahan masakan yang ngga gua pahami urutan maupun komposisinya
Tugas gua hanyalah mengiris-iris bahan, lalu mencucinya.
Adzan Maghrib mulai berkumandang, kami menghentikan sejenak acara memasak.
Banyak mata memandang ketika kami sekeluarga berjalan ke masjid.
"Mantune niki pak? (Menantunya ini pak?" Tanya beberapa orang yang bertemu kami
"Anake (menyebut nama Papah)" jawab abah tentang pertanyaan tadi
Kenapa orang-orang di sini kayak asing sama muka gua ya? Seharusnya kan mereka tau kalau gua anak dari Papah karena wajah gua yang mirip dengan Pratama.
Atau mereka memang asing dengan wajah Pratama?
--
"Iso dewe kan nduk? (Bisa sendiri kan nduk?" Umi memasrahkan urusan masak ke Zahra
"Nggih mi, sampun direwangi mas Raja (iya mi, udah dibantu mas Raja" jawab Zahra
Di hadapan tungku, kami berdua duduk di kursi kecil yang biasa disebut dingklik. Kursi kecil tersebut biasanya terbuat dari kayu-kayu sisa.
Selain berada di dapur, kursi seperti ini juga sering ditemukan di tempat-tempat yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian.
"Udah, tunggu mendidih aja" Ia menutup panci yang sudah diisi lengkap oleh sayur-sayuran.
Sembari menunggu matang, gua dan Zahra menghangatkan badan di depan perapian.
Gua meraih pinggang Zahra, menarik tubuhnya agar lebih mendekat.
"Kamu bisa nyalain ini ra?" Gua bertanya sembari menunjuk tungku di hadapan kami
"Ya bisa dong, emang siapa yang tadi nyalain ini" sombongnya
"Pake apa?"
"Pake korek"
Gua menghela nafas "ya iya make korek. Maksudnya, make kertas apa gimana bikin baranya"
Zahra berdiri dari duduknya, lalu ia mengambil kertas di tumpukan koran bekas yang terdapat di sudut dapur, kemudian mencontohkan cara agar bara di kayu bakar cepat jadi.
"Ribet, ngga pake kompor ngapa sih? Itu ada gas" protes gua, menunjuk kompor dan gas yang ada persis di samping tungku
"Kalo ada yang murah, ngapain pake yang mahal. Lagian, di sini kan masih gampang banget cari kayu bakar" jelasnya
"Tapi ribet dek"
"Orang sini mah lebih milih beli pupuk daripada beli gas"
Sekejap kemudian ia membuka tutup panci, sayur sop di dalamnya sudah mendidih.
Zahra memindahkan sayur sop dari panci ke wadah lain.
Masakan-masakan tadi kami sajikan ke ruang tengah.
Gua dan Zahra sekeluarga makan bersama di sana. Di atas karpet hijau polos, lesehan.
Kami berempat ngobrol banyak di sana. Tentang eyang kakung yang kenal dekat dengan abah di pesantren, tentang dusun ini, sampai tentang masa kecil Zahra.
Hingga akhirnya, Abah mempertanyakan kisah asmara Zahra di Semarang "Zahra punya pacar ngga ja?"
Gua dan Zahra saling menatap, kemudian gua melirik lagi ke abah.
"Aduh, ngomong apa nih" batin gua
"Mana ada yang berani deketin, pada takut duluan sama mas Raja" saut Zahra
"Iya toh? Emang kangmas mu serem?" Tanya abah lagi
Sebelum Zahra ngomong yang engga-engga, gua mencubit kakinya pelan. Bisa ngga diterima jadi mantu nih kalo Zahra buka mulut.
"Aduh, sakit" rintih Zahra akibat cubitan gua.
Umi dan Abah menertawakan tingkah kami berdua.
Dengan menggenggam sebungkus rokok gua meninggalkan ruang tengah menuju teras depan.
Dinginnya udara malam langsung menembus tulang ketika gua baru membuka pintu.
Nyala api dari mancis membakar sebatang tembakau pabrikan gudang garam kesukaan gua.
"Jaketnya tuh dipake" ucapnya, sembari mengalungkan jaket ke punggung gua.
Kemudian ia menyerahkan segelas teh panas yang berubah menjadi dingin kurang dari semenit.
"Kok ngga kopi sih?" Protes gua
"Ntar lagi lah kopinya, baru makan kok langsung minum kopi"
Kami berdua menatap jalan dusun di depan rumah, hanya sesekali kendaraan yang lewat dengan kecepatan sedang.
Suara-suara binatang malam juga menemani kami berdua dalam memandang langit.
Tak lama, suara adzan isya berkumandang. Kami sekeluarga bergegas bersiap menuju masjid yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari rumah.
Gua hendak masuk ke dalam rumah untuk mengambil air wudhu, namun dicegah oleh Zahra.
"Wudhu di masjid aja, airnya radak anget" ujarnya
Quote:
japraha47 dan 12 lainnya memberi reputasi
13