Kaskus

Story

open.mindedAvatar border
TS
open.minded
ILLUSI
Quote:


Quote:


Quote:
Polling
0 suara
menurut penghuni kos disini.. kalian mau kisah gw kaya gimana? (bisa milih banyak!!)
Diubah oleh open.minded 08-01-2022 18:27
garingwewAvatar border
agoritmeAvatar border
gembogspeedAvatar border
gembogspeed dan 212 lainnya memberi reputasi
201
2M
5.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.3KAnggota
Tampilkan semua post
open.mindedAvatar border
TS
open.minded
#4728
Vacation Log: Time Begets Changes (Part 1)
Matahari sudah mulai jatuh dari posisi paling puncaknya pada hari ini, menandakan hari sudah memasuki waktu sore. Mulut gw sedang sibuk mengunyah kacang atom sementara mata gw sibuk membaca komik ‘murah’ yang gw beli dari abang-abang tadi sambil duduk di kursi di pinggir kolam. Sementara bocah-bocah kuliah ini sedang asyik berenang di kolam renang. Tiga cowok dan tiga cewek kecuali Anastasya dan Lena mengisi kolam renang itu.

“Kamu lagi apa sih dari tadi Di?” tanya Lena yang duduk di samping gw.

“Lagi ngebaca komik nih Len.” Jawab gw singkat.

“Kayaknya seru banget. Mana banyak banget lagi komiknya.” Ucapnya sambil menunjuk ke tumpukan komik di pangkuan gw.

“Emang seru, makanya gw beli banyak.”

“Tentang apa sih? Penasaran aku.”

“Yang gw baca ini judulnya ‘pocong vs anaconda’, ada juga nih yang lain kaya, ‘pocong rawa’, ‘pocong laut’, ‘siksa neraka’, ummm apalagi ya? Masih banyak deh, ambil aja kalo mau baca.”

“Hahahahahaha apaansih kok lucu banget judulnya!” tawa Lena puas banget.

“Masterpiece sih menurut gw, murah lagi, di abang-abang Cuma 1000-3000 perak doang.”

Lena pun mengambil salah satu komik ‘murahan’ yang berjudul ‘pocong rawa’ dan lanjut membacanya. Tidak membutuhkan waktu lama ia pun sudah terlarut dalam komik itu, membuat gw terkekeh.

“Guys nanti malam kita dinner bareng yuk. Gw tau tempat yang bagus banget di sekitar sini.” Ucap seorang cowok di kolam sana.

“Wah boleh tuh Don” ucap seorang cowok yang kayanya bernama Angga.

“Angga nanti yang nyetir mobil cewek-cewek ya, gw sama Lena berdua pake mobil gw.” Ujar cowok yang ternyata bernama Doni. Cowok yang dateng bersama Lena.

“Eh tunggu dulu, kan udah ada Adi yang nyetirin jadi sopir, kenapa harus Angga?” tanya Anastasya.

“Iya An, Dinner ini buat kita-kita aja, orang luar ga usah ikut dulu” ujar Doni sepertinya sengaja mengecualikan gw, yang mana gw terima dengan senang hati, karena dinner rame-rame itu terdengar sangat melelahkan.

“Don! Apa-apaan sih lo!” tiba-tiba Lena marah ke Doni.

“Len ayolah.. kan tujuan kita kesini buat seneng-seneng kelompok kita aja.” Ucap Doni.

“Gw setuju, gw jaga Villa aja.” Ucap gw mendukung Doni.

“Adii!!” protes Lena.

“Gw cuma orang asing disini Len. Gw gak mau ganggu waktu kalian.” Jelas gw.

“Tapiii…” ucap Lena menundukkan kepalanya sambil memainkan kedua ibu jarinya. Sepertinya ia sedang mencari sebuah alasan untuk membuat gw ikut.

“Lena.. udahlah, gw juga gaenak kalo kalian berantem. Gw gak kemana-mana kok.”

“Oke deh.” Akhirnya ia menyerah.

Situasi agak menjadi canggung saat Lena dan Doni berargumen tadi. Yang cowok-cowok jelas memihak ke Doni karena dia teman dekat mereka, Anastasya dan Lena tentunya ada dipihak gw, namun ketiga cewek lainnya anehnya lebih cenderung memihak gw, terlihat dari ekspresi mereka yang kayanya ilfeel saat mendengar kata-kata Doni tadi, terutama Andin, sang tuan rumah.

Tapi gw harus berikan apresiasi ke Doni, karena berkat dia, gw bisa ngendok di Villa tanpa harus berurusan dengan ramainya suasana restaurant puncak di waktu malam.

Bocah-bocah sudah pada pergi jam 5 sore tadi, gw liat cewek-cewek seperti Andin, Jessie, dan Salsa sudah dandan cantik dengan pakaian yang menurut gw sangat menggoda, berbeda dengan Sya dan Lena yang memilih pakaian casual.

Gw menyusuri setiap ruangan Villa yang sekarang kosong tidak berpenghuni ini. Gw menenteng gitar dan duduk di spot kesayangan gw di Villa ini, yaitu dipinggir kolam renang lalu menikmati waktu santai tanpa diganggu oleh siapapun, hanya diiringi oleh melodi gitar yang gw petik ini. Disudut mata gw, siluet seorang wanita sedang berdiri menatap ke atas langit sana sambil melantunkan gumaman yang mengiringi melodi gitar gw, dia bukanlah bayang – bayang Valli yang terbentuk karena manipulasi otak gw, dia adalah sebuah ‘hadiah’ yang gw dapatkan sejak gw bangun dari mati gw empat bulan lalu, tapi itu adalah sebuah cerita untuk lain waktu.

Satu jam sudah berlalu, dan gw mendengar suara pagar terbuka diikuti dengan suara mesin mobil yang memasuki garasi Villa ini. Sepertinya bocah-bocah sudah balik, tapi ini baru jam 6, makan malam apa yang selesai jam 6 sore?

Pintu depan pun terbuka, diikuti dengan masuknya bocah-bocah yang pergi itu. Gw gakperlu menengok ke belakang gw untuk tau bagaimana ekspresi yang mereka pasang sekarang, cukup dari suara mereka yang melemparkan badan mereka ke sofa dengna kencangnya itu. Anastasya menghampiri gw dan duduk di sebelah kanan gw dengan ekspresi betenya. Sementara gw terus memetik gitar gw tanpa henti.

“Idiot” umpat Sya entah ke siapa membuat gw berhenti memetik gitar ini.

“Kenapa kamu ngatain aku idiot?” tanya gw.

“Bukan, tapi si Doni tuh. Tadi sombong banget mau ‘Dinner’, tapi ga bikin reservasi, jadi ga dapet tempat disana, idiot banget.” Umpat Sya lagi memenyunkan bibirnya.

“Hahahahaha ada-ada aja.”

“Mau cari perhatian kak Lena, tapi gagal. Tapi gara-gara dia kan kasian temen ku Di, tuh si Andin, Jessie, sama Salsa udah dandan cantik. Jadi ikutan bete mereka.” Ucap Sya.

Gw menoleh kebelakang, kearah, sofa yang penuh dengan cewe-cewe bete yang sedang duduk dan memainkan HP mereka masing-masing. Di sofa kecil yang terpisah dari ketiga cewek itu, terlihat Lena sedang memakan kacang punya gw sambil mengetik sesuatu di hpnya. Gw mengambil hp yang tersimpan di saku celana bagian kiri gw ini, lalu membuka daftar kontak yang gw baca satu-satu sambil mencari ide. Sampai layar HP ini menampilkan nama yang membuat otak gw menemukan ide untuk mengembalikan situasi yang canggung ini menjadi lebih ceria lagi. Gw langsung menekan icon bulat hijau yang didalamnya ada gambar gagang telepon ini.

Nada sambung pun terdengar di kuping ini, yang tidak lama kemudian berhenti karena panggilan gw diangkat oleh orang yang gw telfon ini. Belum sempet gw ‘say hello’, lawan bicara gw di ujung sana udah histeris duluan dan mengeluarkan banyak kalimat yang bikin gw pusing.

Quote:


Gw langsung beranjak dari duduk gw ini lalu berjalan ke arah para cewek yang lagi bete di sofa itu. Kedatangan gw membuat perhatian mereka teralihkan dari hp yang mereka utak-atik sedari tadi.

“Len.” Panggil gw.

“Hm?”

“Masih mau Dinner ga?” tanya gw.

“Udah reservasi belum?” tanyanya ketus seperti sarkas ke seseorang.

“Udah jawab aja, mau atau ga?” tanya gw lagi.

“Mau siih…”

“Sip.”

Gw lalu mengalihkan pandangan gw dari Lena ke Andin. Ia yang sedari tadi sepertinya memperhatikan gw ini langsung kaget saat melihat gw menatap nya langsung. Andin langsung refleks memalingkan mukanya kesamping.

“Lo gimana Din? Masih mau Dinner ga?” tanya gw ke Andin.

“Loh bukannya Mas Cuma ngajak kak Lena doang?”

“Ya gw ngajak semua lah. Yakali gw ninggalin tuan rumah yang udah ngasih gw makan? Mau atau engga?”

“Mau mas! Yang cowok boleh ikut ga?”

Gw menganggukkan kepala gw untuk menjawab pertanyaan Andin. Hp yang sedari tadi gw genggam di tangan kanan ini, kembali gw tempelkan ke telinga gw untuk melanjutkan obrolan yang terputus tadi.

Quote:


“Girls, tempatnya baru siap 1 jam lagi. Gapapa? Ada yang udah kelaperan?” tanya gw ke cewek-cewek.

“Gapapa mas!” ucap para cewek itu, sementara Lena hanya menganggukkan kepalanya.

Quote:


Gw tutup panggilan telfon gw lalu memasukkan kembali Hp ini ke kantong celana. Mata gw langsung menatap kotak kacang yang di pangku oleh Lena sedari tadi, membuat badan ini berjalan dengan sendirinya lalu merebut kotak kacang yang di dominasi Lena sedari tadi. Lena hanya bengong melihat cemilan yang dia nikmatin dari tadi gw rebut.

“Punya gw!” Ucap gw sambil memeluk kotak ini.
“Ohya! Walau gw bilang kita harus nunggu sejam, tapi 30 menit lagi kita berangkat ya. Karena perjalanan kesananya minimal makan waktu 30 menitan.” Gw menjelaskan ke para cewek ini.
“Kasih tau ke cowok kalian masing-masing untuk siap-siap. Ok?”

Setelah itu gw kembali duduk di spot biasa, sambil ngemil kacang yang juga dicomot oleh Sya ini.

30 menit pun sudah berlalu dan gw sudah siap-siap untuk menjadi supir yang teladan untuk mengantar para putri-putri cantik ini ke tempat tujuan. Bau parfum mulai menyerang indra penciuman gw, para gadis ini satu persatu keluar dari pintu Villa bak putri Indonesia. Tidak ada yang berubah dari apa yang mereka pakai dari sore tadi, kecuali Lena dan Sya yang sudah tidak memakai baju casual mereka, Sya yang memakai jeans dan tank top yang ditutupi oleh cardigan berwarna lavender nya, dan Lena yang memakai turtleneck maroon ketat dengan bawahan jeans.

Kelima cewek itu tidak langsung masuk mobil, mereka malah terdiam memandangi gw yang berdiri di depan pintu kemudi, membuat kepala gw mengeluar kan sebuah tanda tanya besar. Melihat kemana arah tatapan mereka yang tertuju ke badan dan bagian bawah tubuh gw, gw langsung mengerti apa yang mereka pikirkan.

“Kenapa?” tanya gw.

“Kamu itu Di! Ga berubah dari dulu! Pake baju tuh yang bener dongg!” keluh Lena yang diangguk-angguki oleh Sya.

“Loh? Kenapa dengan baju gw?” tanya gw.

“Mana ada orang waras yang mau Dinner Cuma pake kaos yang kegedean sama celana cargo pendek!!” protes Lena menjelaskan.

“Gw emang ga waras Len hahaha.”

“Kita udah cantik-cantik gini loh Dii.. masak kamu begitu bajunya?” lanjut Lena.

“Ya emang kalo gw pake baju bagus, bisa jadi cantik kayak lo?” tanya gw balik.

“…….” Lena speechless mendengar perkataan gw. Sementara yang lain menahan ketawa.

“Udah masuk mobil ya gadis-gadis cantik. Tar kalo resto nya tutup baru tau rasa lo.”
“Eh bentar-bentar, kok cewek semua disini? Yang cowok dimana?” tanya gw melihat Lena masuk ke mobil Andin

“Yang cowok di mobil kak Doni mas.” Ucap Andin.

“Oh oke.”

Akhirnya para cewek ini masuk juga ke mobil. Kami pun akhirnya mulai menuju ketempat tujuan. Di dalam perjalanan, kuping gw mulai panas mendengar celotehan para cewek-cewek ini, sepertinya dengan hilangnya para cowok, mereka seperti sudah kehilangan rem dan bebas untuk membicarakan apapun, seperti gosip misalnya. Kehadiran Lena juga seperti menjadi katalis buat kemeriahan dalam mobil ini, gw bisa merasakan kalau para cewek ini sangat menghormati dan menyayangi Lena baik itu sebagai senior, ataupun sebagai seorang teman.

“Di tempatnya bagus ga?” tanya Lena.

“Ga tau, katanya sih bagus.”

“Lah? Kamu belum pernah kesana?”

“Belum.”

“Ih gimana siii.. emang tempatnya dimana?”

“Di puncak.”

“Ini kita juga di puncak Adiiii.”

“Ah bawel.. lo tau gw ga bakal inget nama lokasi Len. Udah diem aja, ga bakal nyasar, gw udah dikirimin foto lokasinya kok.” Protes gw.

“Tapiii…..”

“Len.. lo tau kalo Alphard mobil mahal kan?” tanya gw kesel.

“Tau lah.. kan terkenal ini mobil.”

“lo tau kalo Alphard ada mode terbangnya?”

“Hah? Masa sih?” tanya Lena gak percaya.

“Nah itu gw ga tau hoax atau ga.. mau gw coba sekarang?” ucap gw dengan senyum jail. Sambil miringin mobil ke pembatas jalan yang berbatasan dengan lembah yang tergolong curam.

“Di.. Dii.. Diiiii…. Sembarangan kamu!!”

“Makanya jangan bawel!”

“Ihhh!!!” keluh Lena mulai cemberut.

“Kak Lena udah tenang aja. Kalo masalah tempat, Adi ga pernah mengecewakan.” Ucap Sya di sebelah gw ke arah Lena.



Diubah oleh open.minded 26-01-2022 10:19
AbiEyzaArra
maniacblack
kkaze22
kkaze22 dan 51 lainnya memberi reputasi
52
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.