- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
...
TS
nyunwie
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Quote:
Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
Spoiler for They don’t give you a right:
Diubah oleh nyunwie 31-10-2020 20:09
idrisefendhi552 dan 121 lainnya memberi reputasi
116
251.3K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nyunwie
#657
Part 57-a
Today on earth
Gue berhenti melangkah di lantai 2 bangunan baru Stasiun yang saay masa kecil menjadi lahan bermain gue. Dari jendela kaca gue memandangi pemandangan malam yang tidak indah. Biasa saja, hanya terlihat kemilau cahaya lampu dari kawasan pemukiman penduduk di sebelah Stasiun ini. Sebuah permukiman yang padat, saking padatnya bahkan tersekan kumuh.
Gue berjalan menuruni anak tangga, hingga sampai di lobi dari bangunan Stasiun yang baru ini. Beberapa orang terlihat sedang asik duduk-duduk di sebuah kursi kayu di depan warung kecil di seberang lobi tempat gue berdiri. Mata gue terus tertuju pada pemukiman di seberang sana, pemukiman yang ramai yang benar-benar kontras dengan kondisi pandemi seharusnya.
"Hahah." Gue tertawa dalam hati sambil memastikan masker yang gue kenakan sudah dalam posisi yang tepat. Kemudian gue berjalan perlahan menuju ke pemukiman itu.
Gue masuk ke salah satu gang yang langsung terhubung dengan sebuah jembatan kecil. Gue terus berjalan dan semakin lama gang-gang ini semakin bercabang. Gue berani bertaruh, siapapun yang pertama kalinya menginjakan kaki disini pasti akan tersesat. Karena memang permukiman ini seperti labyrinth.
Setelah berjalan beberapa menit gue tiba di sebuah jalan yang agak besar, yang seharusnya cukup untuk satu mobil melintas. Gue menggunakan kata seharusnya karena seingat gue dulu jalan ini masih bisa dilalui mobil tapi saat ini rasanya mustahil; banyak sekali kendaraan roda dua yang di parkir sembarangan, para warga yang mengambil sedikit jalan untuk berdagang, dan beberapa rumah gue lihat memajukan bangunan rumahnya hingga setengah meter dari pinggir jalan.
"Makin sumpek." Gumam gue dalam hati melihat jalanan ini dan melihat sebuah rumah tempat dimana dulu seseorang menghabiskan masa kecil hingga dia memasuki usia remaja sebelum akhirnya, entah bagaimana hidupnya benar-benar berubah 180°.
Dan seseorang itu kalian tahu, gue.
Gue menghirup nafas panjang karena mungkin hanya perasaan itu yang tidak pernah berubah dari semua yang ada disini. Bahkan rumah yang dulu pernah menjadi tempat berlindung gue di kala terik siang dan dinginnya malam, kini sudah sangat berbeda. Sepertinya pemilik barunya sudah lama merenovasi rumah yang saat bertahun-tahun lalu gue tinggalkan memang sudah usang. No no no, bahkan renovasian tersebut sudah terlihat usang. Damn! Gue sudah terlalu lama menghilang. Bahkan gue hampir tidak mengenali tiap-tiap wajah yang gue temui.
"Aa… aa…" Karina terdengar gugup. "Le, iyah. Udah! Gue gak bisa bohong sama sama lo. Iyah gue cabut. Maaf." Lanjut Karina.
"Maaf? Kenapa harus minta maaf sama gue? Lagian kan yang gue tanya lo dimana? Bukan cabut atau engga."
"Tau ah, omongan lo kadang kaya santet. Bingung gue. Iyaa gue cabut dan sekarang gue lagi di Sarinah. Puas lo!" Jawab Karina.
"Dih, aneh lo! Kenapa lo jadi sewot."
"Tau ah, tole ahhh! Gue lagi puyeng mikirin buat pensi sekolahan gue…"
"Karena pensi atau karena…" Selak gue dan gue sengaja tidak menyelesaikan ucapan gue.
"Karena apa?" Tanya Karina suaranya sedikit bergetar. "Abdul cerita sama lo, yah?" Tanya Karina lagi getaran suaranya makin terasa kalau dia merasa takut akan hal itu.
"Sekalipun Abdul cerita entah apapun itu rahasia lo berdua. I really really don't care about that! Serius, gue gak peduli. Gue cuma mau tanya lo dimana. Udah itu ajah."
"Yaudah. Gue di Sarinah."
"Nah gitu kan enak. Cuma itu yang mau gue denger. Bukan hae hae hae kaya orang i****! Lo tau gak tadi lo kaya apa? Kaya orang yang dituduh abis nyopet. Lo nyopet gak?"
"...Engga, lah!" Sahut Karina agak berjeda.
"Nah good! Tapi lo harus tau. Pencopet beneran kalo ditangkep juga bakal bilangnya gak nyopet, bakal bilang gak salah. Dan kalo udah bener-bener ketangkep basah dia pasti melas-melasin hidupnya susah…"
"Mulut lo jahat banget, sih. Le!?" Sambar Karina.
"Mulut gue pasti terdengar jahat. Karena pencopet pasti mikir orang-orang gak pernah ngerti gimana susahnya dia hidup. Lo mau tau, itu disebut playing victim."
"I know I know! Stop! Damn you! Gue kalah. Sekarang lo mau apa? Lo mau bilang Nata. Sok.. sana bilang! Gak peduli lah. Gue. Ancur-ancur sekalian." Sahut Karina terdengar emosi.
"Excuse me? Dengan siapa saya berbicara?" Sahut gue lalu gue mendengar Karina sedikit menangis.
"Lo gak ngerti, Le!? Lo gak ngerti! Gue capek, Le. Gue capek begini terus…"
"Stop. Gue kesana! Gue usahain gak lewat dari sejam." Sambar gue.
"Yaudah gue di rumah. Kalo mau kesini, kesini ajah."
"Tadi katanya di Sarinah!?"
"Iyah gue bohong."
"Gue tau, kok. Lo bohong dari awal. Karina, please deh. Ini bulan puasa. Mana ada yang buka jam segini disana."
"..." Gue mendengar Karina sedikit tertawa. "Le… Le… gue heran. Lo begini, sedetil ini, semikir ini, sepenuh perhitungan gini tapi kok masih bisa kepatil sama Dinda, yah." Ujar Karina.
"Terooooossss! Bahas terooosss. Lo lupa kata Om Bags!? Cinta emang gila, hah?"
"Hahahah, setuju banget gue." Sahut Karina.
"Yaudah gue otewe." Sahut gue lalu menghubungi Tante Elsa untuk menelpon ke sekolah, meminta izin agar gue bisa pulang lebih awal.
Tante Elsa awalnya menolak. Tante Elsa tidak ingin gue membolos sekolah, dan Tante Elsa juga tak ingin berbohong karena menurutnya dia sedang puasa. Tapi gue terus membujuk Tante Elsa untuk mau menolong gue, "Please, Tanttttt sekali ini ajah. Besok-besok gak lagi, deh." Ucap gue merayu.
"Bener, ya. Ini terakhir. Besok-besok Anty gak mau kamu begini-begini lagi."
"Iyah, Tant. Suer! Besok enggak lagi."
"Iyah besok enggak. Tapi lusa? Minggu depan? Bulan depan? Haah… Anty udah apal otak-otakannya kamu."
"Heheheheh. Tanttt… please…"
"Emang kamu mau kemana, sih?" Tanya Tante Elsa.
"Nyari gandengan buat dipamerin pas nanti ada acara bukber, nih. Tant."
"Hahahah, kamu nih. Ada ajah ngejawabnya. Yaudah Anty telpon ke sekolah. Tapi dengan satu syarat. Anty minta bayaran untuk ini."
"Apa tuh?" Tanya gue.
"Kamu nyari gandengan untuk bukber kamu nanti. Dan Anty butuh kamu nanti saat acara bukber Anty. Deal?"
"Aduhhhh… gimana, yah?" Sahut gue dan seketika gue berpikir, menimbang kembali permintaan gue.
Mungkin untuk banyak orang bisa menyaksikan pembukaan sebuah acara sekelas Olimpiade Musim Panas adalah suatu kebanggan; gue berpikir seperti itu, setidaknya/atau sebelumnya gue benar-benar berada di stadion kebanggan warga Tiongkok di Beijing. Apalagi saat itu kali pertamanya gue pergi ke luar Negeri.
Gue begitu antusias sebelumnya, hingga gue tidak bisa tidur sepanjang malam sebelum gue dan Tante Elsa berangkat ke sana. Di dalam pikiran gue, pengalaman itu nantinya pasti tidak akan pernah gue lupakan. Dan memang kenyataannya hingga kini, saat gue menulis ini, kenangan itu masih tidak pernah gue lupakan. Namun bukan sebagai pengalaman yang menyenangkan atau membanggakan.
Maybe, I'm wrong. Yes, I'm wrong. Nyatanya untuk sebuah pengalaman pertama keluar negeri. Kepergian gue ke Beijing hampir 14 tahun lalu cukup menyenangkan dan membanggakan, setidaknya gue bisa pamer. "Pertama kali gue ke luar negeri gue nonton pembukaan olimpiade, Cuy!!!!" Tapi cukup sampai disitu karena diluar konteks 'gue' yang pertama kalinya ke luar negeri dan olimpiade. Tidak ada lagi hal menyenangkan untuk dikenang. Justru sebaliknya, mengingat saat itu rasanya gue ingin memutar waktu, mengubah alur cerita hidup gue sendiri—mengubah jati diri gue untuk kemudian hari—yang terus-terus berlalu hingga sampai kata demi kata tertulis dalam cerita ini.
Gue kembali menghubungi Karina untuk memberi tahunya kalau gue tidak jadi untuk ke rumahnya. Gue beralasan pada Karina kalau Tante Elsa tidak memberikan izin, "Duh, lagian lo ada-ada ajah. Mana mungkin Anty Elsa mau." Ucap Karina.
"Hehehe."
"Terus tadi lo bilang sama Anty Elsa lo mau izin buat ke rumah gue? Mampus deh gue. Rusak nama gue, deh."
"Apaan, sih. Enggak lah. Lo lagi kenapa, sih? Sumpah lo aneh banget, deh."
"Gak tau, ah. Le. Gue pusing. Yaudah kalo lo gak jadi kesini gue mau tidur ajah."
"Yaudah tidur, gih."
"Tut." Karina langsung mengakhiri panggilan telpon.
"Haaah." Gue menghela nafas lalu menggaruk kepala yang tidak gatal. Gue merasa tidak habis pikir. Bukan pada sikap Karina, tapi dengan win-win solution yang diajukan Tante Elsa sebelumnya. Dan hal itu benar-benar merusak mood gue untuk melakukan apapun sehingga saat teman-teman gue mengajak gue untuk kembali ke kelas, karena waktu istirahat telah berakhir, gue hanya menggelengkan kepala tanpa berkata sepatah kata—hanya memberi isyarat kalau gue ingin tetap di sini, yang pastinya tidak mereka ketahui, gue ingin menenangkan diri.
Gue lalu duduk di tempat yang biasanya diduduki Mutia. Sedikit memejamkan mata, lalu gue mengingat kembali apa yang ditawarkan "Mereka" pada gue saat gue berada di Beijing bersama Tante Elsa. Tentunya Tante Elsa juga bagian dari "mereka", walau saat "Mereka" menawarkan pada gue suatu hal Tante Elsa adalah orang pertama yang bersuara untuk menolaknya. Namun entah mengapa gue merasa Tante Elsa adalah awal mulanya kenapa "Mereka" ingin merekrut gue menjadi bagian dari "Mereka."
Gue senang membaca buku-buku yang berbau konspirasi. Seperti The Eye in The Pyramid, The Golden Apple, The Leviathan. Atau bukunya Don DeLillo yang berjudul Libra yang terbit pada tahun 1988, hingga yang terbaru buku berjudul 2666 karya Robet Bolano. Karena itu, karena gue senang membaca buku/novel yang berbau konspirasi tersebut gue mempunyai pemikiran, kecurigaan kalau ada sekelompok golongan manusia yang mengontrol jalannya dunia ini.
Dan gue yakin bukan hanya gue saja yang memiliki pemikiran atau kecurigaan akan hal tersebut, melihat pembahasan tentang teori konspirasi selalu menjadi pembahasan yang ramai di pelbagai forum internet ataupun dalam forum-forum diskusi.
Beberapa orang percaya ada agenda terselubung dari sekelompok golongan manusia (entah apapun kalian menyebutnya; illuminati, freemason, zionis, paganis, penyembah iblis, elit global, globalis, partai pengemis. Oke skip yang terakhir!) yang menginginkan dunia ini dalam satu komando pemerintahan—one world—new world order.
Dan gue berada di dalam barisan orang-orang yang percaya dengan itu semua.
TAPI!!!!
Gue tidak membenarkan hal itu benar-benar ada dan gue juga tidak menyangkal kalau semua teori konspirasi itu adalah bualan semata. Gue hanya percaya dan enggan untuk menjabarkan bukti-bukti yang membuat gue mempercayainya. Gue hanya akan mempertanyakan logika, "bagaimana kalian percaya pacarmu?"
Usia gue belasan kala itu, saat "Mereka" meminta gue untuk mengambil bagian dalam perkumpulannya. "Mereka" sendiri adalah sebuah perkumpulan yang tidak bernama, tidak terorganisir, namun terkoordinasi dengan sangat baik. "Mereka" tidak menamai perkumpulan ini dan "Mereka" bukanlah perkumpulan yang sama dengan perkumpulan sebelumnya tempat gue, Tante Elsa, Om Han, dan Mbah-nya Malik berada. Walau beberapa orang di dalam "Mereka" juga berada di perkumpulan gelap "Kami".
Walau gue berani mengatakan antara "Mereka" dan "Kami" sama-sama sebuah perkumpulan gelap. Tapi "Kami" masih terorganisir dan berkamuflase sebuah organisasi resmi yang tercatat dalam pemerintahan sebagai organisasi masyarakat. Sedangkan "Mereka" sama sekali tidak. "Mereka" tidak memiliki atribut atau pengenal lainnya yang bisa mencirikan seseorang tergabung di dalam "Mereka". Satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang adalah bagian dari "Mereka" atau tidak adalah "Mereka" sendiri. Dengan kata lain perkumpulan ini hanya untuk orang-orang tertentu dan jumlahnya sangat sangat sangat SANGAT terbatas.
Seberapa terbatasnya "Mereka" jika kau tanya, dan gue menjawab seterbatas jumlah kursi yang ada di meja makan ruang perjamuan istana. Gue tidak tahu siapa mereka dan apa tujuan "Mereka". Sampai di sana gue buta, namun mata gue terbuka, akan sebuah kenyataan kalau tidak semua yang ada di dunia ini bisa gue ketahui.
"Mereka" menginginkan gue menjadi aktor pembaruan. Dengan kata lain jika gue menyetujuinya, "Mereka" akan merencanakan sebuah skenarìo dimana nantinya gue akan menjadi aktor dalam sebuah cerita inspiratif—From Zero To Hero—layaknya dongeng-dongeng keberhasilan seseorang dalam meraih kesuksesan di dalam hidupnya. Jika gue mengiyakan, nantinya hidup gue akan penuh sorotan dimana seorang gembel bisa menjadi "orang" kasarnya dan tentu saja banyak konsekuensi jika gue mengiyakan hal tersebut. Menghapus ikatan apapun diantara gue dan Tante Elsa salah satunya.
Hal itu yang membuat Tante Elsa menolak keinginan "Mereka" namun dari cara Tante Elsa menolak itu pula gue yakin, Tante Elsa ada di balik keputusan "Mereka" memilih gue. Hanya saja sepertinya Tante Elsa sedikit tergocek dengan bagaimana skenario lanjutannya. Karena setelah pertemuan yang tidak menghasilkan keputusan apapun itu, Tante Elsa langsung membawa gue ke Brussel.
Di Brussel Tante Elsa mengumpulkan semua rekan-rekannya sesama pengusaha (yang kebanyakan pengusaha-pengusaha asal Eropa) untuk membahas sesuatu (yang saat itu), gue belum mengerti akan hal itu. Yang gue tangkap dari pertemuan di Brussel tersebut hanya Tante Elsa menganjurkan rekan-rekannya mengangkat pilar bisnis mereka dari beberapa negara dan Indonesia salah satunya.
Dan di Brussel pula Tante Elsa mempertemukan gue dengan seseorang yang selama ini dia kagumi dan dia bangganya. Tante Elsa mengenalkan gue dengan orang yang selama ini dia sebut sebagai dosennya. Gue sangat terkejut saat bertemu Beliau. Tentunya karena gue sudah mengetahui siapa Beliau. Tidak, bukan hanya gue, Indonesia tahu siapa Beliau.
Tante Elsa memberi tahu beliau tentang apa yang terjadi di Beijing. Tante Elsa juga memberi tahu beliau prediksinya akan Tiongkok. Beliau hanya tertawa dan meledek Tante Elsa yang melemah karena mempunyai seorang anak, "You orang jadi lemah, hah? Sudah punya anak? Hahahah." Ucap beliau sambil melirik ke arah gue dengan ramah.
"Bukan begitu, Pak…"
"Ne! Aku paham, Sa. Aku tidak menyalahkanmu. Saya justru senang kamu merasakan, akhirnya, apa yang saya rasakan dulu, kan. People change! Dan tentang pertemuan mu disana. Saya sudah tahu, segera, rancangan Indonesia Baru pasti akan mulai dilaksanakan. Yang saya juga terkejut, mengapa kalian ingin memulainya dari sini." Ucap Beliau melirik gue lagi, "Terlalu dini untuknya, terlalu lama membangun ceritanya. Bukan kah ada xxxx… xxxx… xxxx." Beliau menyebutkan nama-nama tokoh muda yang berpotensi menjadi Aktor perubahan.
"Ini kesalahan ku, Pak. Semua data tentang Widi sampai ke tangan Han. Dan Han… Han mempunyai masalah pribadi dengan Widi, Pak."
"Oyakah?"
"Ya, Widi memiliki hubungan dengan anak semata wayangnya Han."
"PERNAH!" Sambar gue mengkoreksi.
"Hahaha." Beliau tertawa. "Aku tau si Han. Biar bagaimana dia salah satu anak terbaikku. Dia memang licik, terkadang. Tapi dia tidak sejahat itu. Aku yakin si Mbleketek itu punya pemikiran jauh kedepan. Yaa… aku yakin itu pemikiran licik tapi aku juga yakin dia tidak jahat."
"Ya tapi saya tidak mau mengorbankan satu-satunya keluargaku, Pak. Keponakanku, anakku."
"Ya memang seharusnya jangan. Sampai kamu tau apa sebenarnya tujuan si Han."
Sekali lagi, umur gue masih belasan kala itu. Dan politik adalah yang paling tidak membuat gue tertarik untuk mendalaminya. Saat itu gue memang lolos dari permintaan "Mereka", tapi gue tidak lolos begitu saja dari "Mereka". GUE SUDAH TERLIBAT. Gue sudah berada di dalamnya, menjadi bagian dari "Mereka". Mau tidak mau dan suka tidak suka gue harus mengambil porsi walaupun hanya sebatas provokasi.
Dan karena hal itu, gue harus mempersiapkan diri. Dipersiapkan tepatnya. Untuk menjadi apapun kelak saat waktunya tiba. Gue harus menjalani pelajaran extra di luar sekolah, mempelajari ilmu-ilmu yang tidak mungkin diajarkan di sekolah. Lalu seorang ditunjuk sebagai mentor gue, beliau adalah (sebut saja) Pak Mo. Beliau bukan orang-orang "Mereka", Pak Mo bukan bagian dari organisasi "Kami". Beliau ada seorang profesional dalam bidang tertentu dan seorang pengusaha yang bisa dikatakan sukses.
Gue dipertemukan dengan Pak Mo sepulang dari Brussel, hanya pertemuan singkat di bandara—kami bertemu sejenak saat gue dan Tante Elsa tiba dan dia hendak berangkat ke suatu Negara di bagian bumi sebelah selatan. Pertemuan itu singkat dan kami hanya saling memperkenalkan diri, namun dalam pertemuan singkat itu Pak Mo memberi gue satu kalimat utuh yang membuat segala nyali gue runtuh.
"Setelah ini tidak akan ada jalan kembali, jika kamu nanti berhasil kamu tidak akan dipuji, jika kamu nanti gagal kamu akan dicaci, jika nanti kamu hilang tidak akan ada yang mencari DAN!!! jika nanti kamu mati… tidak akan ada satupun yang mengakui."
Gue berhenti melangkah di lantai 2 bangunan baru Stasiun yang saay masa kecil menjadi lahan bermain gue. Dari jendela kaca gue memandangi pemandangan malam yang tidak indah. Biasa saja, hanya terlihat kemilau cahaya lampu dari kawasan pemukiman penduduk di sebelah Stasiun ini. Sebuah permukiman yang padat, saking padatnya bahkan tersekan kumuh.
Gue berjalan menuruni anak tangga, hingga sampai di lobi dari bangunan Stasiun yang baru ini. Beberapa orang terlihat sedang asik duduk-duduk di sebuah kursi kayu di depan warung kecil di seberang lobi tempat gue berdiri. Mata gue terus tertuju pada pemukiman di seberang sana, pemukiman yang ramai yang benar-benar kontras dengan kondisi pandemi seharusnya.
"Hahah." Gue tertawa dalam hati sambil memastikan masker yang gue kenakan sudah dalam posisi yang tepat. Kemudian gue berjalan perlahan menuju ke pemukiman itu.
Gue masuk ke salah satu gang yang langsung terhubung dengan sebuah jembatan kecil. Gue terus berjalan dan semakin lama gang-gang ini semakin bercabang. Gue berani bertaruh, siapapun yang pertama kalinya menginjakan kaki disini pasti akan tersesat. Karena memang permukiman ini seperti labyrinth.
Setelah berjalan beberapa menit gue tiba di sebuah jalan yang agak besar, yang seharusnya cukup untuk satu mobil melintas. Gue menggunakan kata seharusnya karena seingat gue dulu jalan ini masih bisa dilalui mobil tapi saat ini rasanya mustahil; banyak sekali kendaraan roda dua yang di parkir sembarangan, para warga yang mengambil sedikit jalan untuk berdagang, dan beberapa rumah gue lihat memajukan bangunan rumahnya hingga setengah meter dari pinggir jalan.
"Makin sumpek." Gumam gue dalam hati melihat jalanan ini dan melihat sebuah rumah tempat dimana dulu seseorang menghabiskan masa kecil hingga dia memasuki usia remaja sebelum akhirnya, entah bagaimana hidupnya benar-benar berubah 180°.
Dan seseorang itu kalian tahu, gue.
Gue menghirup nafas panjang karena mungkin hanya perasaan itu yang tidak pernah berubah dari semua yang ada disini. Bahkan rumah yang dulu pernah menjadi tempat berlindung gue di kala terik siang dan dinginnya malam, kini sudah sangat berbeda. Sepertinya pemilik barunya sudah lama merenovasi rumah yang saat bertahun-tahun lalu gue tinggalkan memang sudah usang. No no no, bahkan renovasian tersebut sudah terlihat usang. Damn! Gue sudah terlalu lama menghilang. Bahkan gue hampir tidak mengenali tiap-tiap wajah yang gue temui.
"Seorang pengembara yang hilang,
Atau seorang petualang yang pulang?"
Di balik mata tercengang
Kau ucapkan selamat datang
###
Atau seorang petualang yang pulang?"
Di balik mata tercengang
Kau ucapkan selamat datang
###
"Aa… aa…" Karina terdengar gugup. "Le, iyah. Udah! Gue gak bisa bohong sama sama lo. Iyah gue cabut. Maaf." Lanjut Karina.
"Maaf? Kenapa harus minta maaf sama gue? Lagian kan yang gue tanya lo dimana? Bukan cabut atau engga."
"Tau ah, omongan lo kadang kaya santet. Bingung gue. Iyaa gue cabut dan sekarang gue lagi di Sarinah. Puas lo!" Jawab Karina.
"Dih, aneh lo! Kenapa lo jadi sewot."
"Tau ah, tole ahhh! Gue lagi puyeng mikirin buat pensi sekolahan gue…"
"Karena pensi atau karena…" Selak gue dan gue sengaja tidak menyelesaikan ucapan gue.
"Karena apa?" Tanya Karina suaranya sedikit bergetar. "Abdul cerita sama lo, yah?" Tanya Karina lagi getaran suaranya makin terasa kalau dia merasa takut akan hal itu.
"Sekalipun Abdul cerita entah apapun itu rahasia lo berdua. I really really don't care about that! Serius, gue gak peduli. Gue cuma mau tanya lo dimana. Udah itu ajah."
"Yaudah. Gue di Sarinah."
"Nah gitu kan enak. Cuma itu yang mau gue denger. Bukan hae hae hae kaya orang i****! Lo tau gak tadi lo kaya apa? Kaya orang yang dituduh abis nyopet. Lo nyopet gak?"
"...Engga, lah!" Sahut Karina agak berjeda.
"Nah good! Tapi lo harus tau. Pencopet beneran kalo ditangkep juga bakal bilangnya gak nyopet, bakal bilang gak salah. Dan kalo udah bener-bener ketangkep basah dia pasti melas-melasin hidupnya susah…"
"Mulut lo jahat banget, sih. Le!?" Sambar Karina.
"Mulut gue pasti terdengar jahat. Karena pencopet pasti mikir orang-orang gak pernah ngerti gimana susahnya dia hidup. Lo mau tau, itu disebut playing victim."
"I know I know! Stop! Damn you! Gue kalah. Sekarang lo mau apa? Lo mau bilang Nata. Sok.. sana bilang! Gak peduli lah. Gue. Ancur-ancur sekalian." Sahut Karina terdengar emosi.
"Excuse me? Dengan siapa saya berbicara?" Sahut gue lalu gue mendengar Karina sedikit menangis.
"Lo gak ngerti, Le!? Lo gak ngerti! Gue capek, Le. Gue capek begini terus…"
"Stop. Gue kesana! Gue usahain gak lewat dari sejam." Sambar gue.
"Yaudah gue di rumah. Kalo mau kesini, kesini ajah."
"Tadi katanya di Sarinah!?"
"Iyah gue bohong."
"Gue tau, kok. Lo bohong dari awal. Karina, please deh. Ini bulan puasa. Mana ada yang buka jam segini disana."
"..." Gue mendengar Karina sedikit tertawa. "Le… Le… gue heran. Lo begini, sedetil ini, semikir ini, sepenuh perhitungan gini tapi kok masih bisa kepatil sama Dinda, yah." Ujar Karina.
"Terooooossss! Bahas terooosss. Lo lupa kata Om Bags!? Cinta emang gila, hah?"
"Hahahah, setuju banget gue." Sahut Karina.
"Yaudah gue otewe." Sahut gue lalu menghubungi Tante Elsa untuk menelpon ke sekolah, meminta izin agar gue bisa pulang lebih awal.
Tante Elsa awalnya menolak. Tante Elsa tidak ingin gue membolos sekolah, dan Tante Elsa juga tak ingin berbohong karena menurutnya dia sedang puasa. Tapi gue terus membujuk Tante Elsa untuk mau menolong gue, "Please, Tanttttt sekali ini ajah. Besok-besok gak lagi, deh." Ucap gue merayu.
"Bener, ya. Ini terakhir. Besok-besok Anty gak mau kamu begini-begini lagi."
"Iyah, Tant. Suer! Besok enggak lagi."
"Iyah besok enggak. Tapi lusa? Minggu depan? Bulan depan? Haah… Anty udah apal otak-otakannya kamu."
"Heheheheh. Tanttt… please…"
"Emang kamu mau kemana, sih?" Tanya Tante Elsa.
"Nyari gandengan buat dipamerin pas nanti ada acara bukber, nih. Tant."
"Hahahah, kamu nih. Ada ajah ngejawabnya. Yaudah Anty telpon ke sekolah. Tapi dengan satu syarat. Anty minta bayaran untuk ini."
"Apa tuh?" Tanya gue.
"Kamu nyari gandengan untuk bukber kamu nanti. Dan Anty butuh kamu nanti saat acara bukber Anty. Deal?"
"Aduhhhh… gimana, yah?" Sahut gue dan seketika gue berpikir, menimbang kembali permintaan gue.
###
Mungkin untuk banyak orang bisa menyaksikan pembukaan sebuah acara sekelas Olimpiade Musim Panas adalah suatu kebanggan; gue berpikir seperti itu, setidaknya/atau sebelumnya gue benar-benar berada di stadion kebanggan warga Tiongkok di Beijing. Apalagi saat itu kali pertamanya gue pergi ke luar Negeri.
Gue begitu antusias sebelumnya, hingga gue tidak bisa tidur sepanjang malam sebelum gue dan Tante Elsa berangkat ke sana. Di dalam pikiran gue, pengalaman itu nantinya pasti tidak akan pernah gue lupakan. Dan memang kenyataannya hingga kini, saat gue menulis ini, kenangan itu masih tidak pernah gue lupakan. Namun bukan sebagai pengalaman yang menyenangkan atau membanggakan.
Maybe, I'm wrong. Yes, I'm wrong. Nyatanya untuk sebuah pengalaman pertama keluar negeri. Kepergian gue ke Beijing hampir 14 tahun lalu cukup menyenangkan dan membanggakan, setidaknya gue bisa pamer. "Pertama kali gue ke luar negeri gue nonton pembukaan olimpiade, Cuy!!!!" Tapi cukup sampai disitu karena diluar konteks 'gue' yang pertama kalinya ke luar negeri dan olimpiade. Tidak ada lagi hal menyenangkan untuk dikenang. Justru sebaliknya, mengingat saat itu rasanya gue ingin memutar waktu, mengubah alur cerita hidup gue sendiri—mengubah jati diri gue untuk kemudian hari—yang terus-terus berlalu hingga sampai kata demi kata tertulis dalam cerita ini.
Aku mau wajar-wajar saja
Aku mau apa adanya
Aku mau jujur-jujur saja
Bicara apa adanya
Aku mau sederhana
Aku mau baik-baik saja
"Damn! I love this song!"
Aku mau apa adanya
Aku mau jujur-jujur saja
Bicara apa adanya
Aku mau sederhana
Aku mau baik-baik saja
"Damn! I love this song!"
###
Gue kembali menghubungi Karina untuk memberi tahunya kalau gue tidak jadi untuk ke rumahnya. Gue beralasan pada Karina kalau Tante Elsa tidak memberikan izin, "Duh, lagian lo ada-ada ajah. Mana mungkin Anty Elsa mau." Ucap Karina.
"Hehehe."
"Terus tadi lo bilang sama Anty Elsa lo mau izin buat ke rumah gue? Mampus deh gue. Rusak nama gue, deh."
"Apaan, sih. Enggak lah. Lo lagi kenapa, sih? Sumpah lo aneh banget, deh."
"Gak tau, ah. Le. Gue pusing. Yaudah kalo lo gak jadi kesini gue mau tidur ajah."
"Yaudah tidur, gih."
"Tut." Karina langsung mengakhiri panggilan telpon.
"Haaah." Gue menghela nafas lalu menggaruk kepala yang tidak gatal. Gue merasa tidak habis pikir. Bukan pada sikap Karina, tapi dengan win-win solution yang diajukan Tante Elsa sebelumnya. Dan hal itu benar-benar merusak mood gue untuk melakukan apapun sehingga saat teman-teman gue mengajak gue untuk kembali ke kelas, karena waktu istirahat telah berakhir, gue hanya menggelengkan kepala tanpa berkata sepatah kata—hanya memberi isyarat kalau gue ingin tetap di sini, yang pastinya tidak mereka ketahui, gue ingin menenangkan diri.
Gue lalu duduk di tempat yang biasanya diduduki Mutia. Sedikit memejamkan mata, lalu gue mengingat kembali apa yang ditawarkan "Mereka" pada gue saat gue berada di Beijing bersama Tante Elsa. Tentunya Tante Elsa juga bagian dari "mereka", walau saat "Mereka" menawarkan pada gue suatu hal Tante Elsa adalah orang pertama yang bersuara untuk menolaknya. Namun entah mengapa gue merasa Tante Elsa adalah awal mulanya kenapa "Mereka" ingin merekrut gue menjadi bagian dari "Mereka."
###
Gue senang membaca buku-buku yang berbau konspirasi. Seperti The Eye in The Pyramid, The Golden Apple, The Leviathan. Atau bukunya Don DeLillo yang berjudul Libra yang terbit pada tahun 1988, hingga yang terbaru buku berjudul 2666 karya Robet Bolano. Karena itu, karena gue senang membaca buku/novel yang berbau konspirasi tersebut gue mempunyai pemikiran, kecurigaan kalau ada sekelompok golongan manusia yang mengontrol jalannya dunia ini.
Dan gue yakin bukan hanya gue saja yang memiliki pemikiran atau kecurigaan akan hal tersebut, melihat pembahasan tentang teori konspirasi selalu menjadi pembahasan yang ramai di pelbagai forum internet ataupun dalam forum-forum diskusi.
Beberapa orang percaya ada agenda terselubung dari sekelompok golongan manusia (entah apapun kalian menyebutnya; illuminati, freemason, zionis, paganis, penyembah iblis, elit global, globalis, partai pengemis. Oke skip yang terakhir!) yang menginginkan dunia ini dalam satu komando pemerintahan—one world—new world order.
Dan gue berada di dalam barisan orang-orang yang percaya dengan itu semua.
TAPI!!!!
Gue tidak membenarkan hal itu benar-benar ada dan gue juga tidak menyangkal kalau semua teori konspirasi itu adalah bualan semata. Gue hanya percaya dan enggan untuk menjabarkan bukti-bukti yang membuat gue mempercayainya. Gue hanya akan mempertanyakan logika, "bagaimana kalian percaya pacarmu?"
...
Usia gue belasan kala itu, saat "Mereka" meminta gue untuk mengambil bagian dalam perkumpulannya. "Mereka" sendiri adalah sebuah perkumpulan yang tidak bernama, tidak terorganisir, namun terkoordinasi dengan sangat baik. "Mereka" tidak menamai perkumpulan ini dan "Mereka" bukanlah perkumpulan yang sama dengan perkumpulan sebelumnya tempat gue, Tante Elsa, Om Han, dan Mbah-nya Malik berada. Walau beberapa orang di dalam "Mereka" juga berada di perkumpulan gelap "Kami".
Walau gue berani mengatakan antara "Mereka" dan "Kami" sama-sama sebuah perkumpulan gelap. Tapi "Kami" masih terorganisir dan berkamuflase sebuah organisasi resmi yang tercatat dalam pemerintahan sebagai organisasi masyarakat. Sedangkan "Mereka" sama sekali tidak. "Mereka" tidak memiliki atribut atau pengenal lainnya yang bisa mencirikan seseorang tergabung di dalam "Mereka". Satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang adalah bagian dari "Mereka" atau tidak adalah "Mereka" sendiri. Dengan kata lain perkumpulan ini hanya untuk orang-orang tertentu dan jumlahnya sangat sangat sangat SANGAT terbatas.
Seberapa terbatasnya "Mereka" jika kau tanya, dan gue menjawab seterbatas jumlah kursi yang ada di meja makan ruang perjamuan istana. Gue tidak tahu siapa mereka dan apa tujuan "Mereka". Sampai di sana gue buta, namun mata gue terbuka, akan sebuah kenyataan kalau tidak semua yang ada di dunia ini bisa gue ketahui.
"Mereka" menginginkan gue menjadi aktor pembaruan. Dengan kata lain jika gue menyetujuinya, "Mereka" akan merencanakan sebuah skenarìo dimana nantinya gue akan menjadi aktor dalam sebuah cerita inspiratif—From Zero To Hero—layaknya dongeng-dongeng keberhasilan seseorang dalam meraih kesuksesan di dalam hidupnya. Jika gue mengiyakan, nantinya hidup gue akan penuh sorotan dimana seorang gembel bisa menjadi "orang" kasarnya dan tentu saja banyak konsekuensi jika gue mengiyakan hal tersebut. Menghapus ikatan apapun diantara gue dan Tante Elsa salah satunya.
Hal itu yang membuat Tante Elsa menolak keinginan "Mereka" namun dari cara Tante Elsa menolak itu pula gue yakin, Tante Elsa ada di balik keputusan "Mereka" memilih gue. Hanya saja sepertinya Tante Elsa sedikit tergocek dengan bagaimana skenario lanjutannya. Karena setelah pertemuan yang tidak menghasilkan keputusan apapun itu, Tante Elsa langsung membawa gue ke Brussel.
Di Brussel Tante Elsa mengumpulkan semua rekan-rekannya sesama pengusaha (yang kebanyakan pengusaha-pengusaha asal Eropa) untuk membahas sesuatu (yang saat itu), gue belum mengerti akan hal itu. Yang gue tangkap dari pertemuan di Brussel tersebut hanya Tante Elsa menganjurkan rekan-rekannya mengangkat pilar bisnis mereka dari beberapa negara dan Indonesia salah satunya.
Dan di Brussel pula Tante Elsa mempertemukan gue dengan seseorang yang selama ini dia kagumi dan dia bangganya. Tante Elsa mengenalkan gue dengan orang yang selama ini dia sebut sebagai dosennya. Gue sangat terkejut saat bertemu Beliau. Tentunya karena gue sudah mengetahui siapa Beliau. Tidak, bukan hanya gue, Indonesia tahu siapa Beliau.
Tante Elsa memberi tahu beliau tentang apa yang terjadi di Beijing. Tante Elsa juga memberi tahu beliau prediksinya akan Tiongkok. Beliau hanya tertawa dan meledek Tante Elsa yang melemah karena mempunyai seorang anak, "You orang jadi lemah, hah? Sudah punya anak? Hahahah." Ucap beliau sambil melirik ke arah gue dengan ramah.
"Bukan begitu, Pak…"
"Ne! Aku paham, Sa. Aku tidak menyalahkanmu. Saya justru senang kamu merasakan, akhirnya, apa yang saya rasakan dulu, kan. People change! Dan tentang pertemuan mu disana. Saya sudah tahu, segera, rancangan Indonesia Baru pasti akan mulai dilaksanakan. Yang saya juga terkejut, mengapa kalian ingin memulainya dari sini." Ucap Beliau melirik gue lagi, "Terlalu dini untuknya, terlalu lama membangun ceritanya. Bukan kah ada xxxx… xxxx… xxxx." Beliau menyebutkan nama-nama tokoh muda yang berpotensi menjadi Aktor perubahan.
"Ini kesalahan ku, Pak. Semua data tentang Widi sampai ke tangan Han. Dan Han… Han mempunyai masalah pribadi dengan Widi, Pak."
"Oyakah?"
"Ya, Widi memiliki hubungan dengan anak semata wayangnya Han."
"PERNAH!" Sambar gue mengkoreksi.
"Hahaha." Beliau tertawa. "Aku tau si Han. Biar bagaimana dia salah satu anak terbaikku. Dia memang licik, terkadang. Tapi dia tidak sejahat itu. Aku yakin si Mbleketek itu punya pemikiran jauh kedepan. Yaa… aku yakin itu pemikiran licik tapi aku juga yakin dia tidak jahat."
"Ya tapi saya tidak mau mengorbankan satu-satunya keluargaku, Pak. Keponakanku, anakku."
"Ya memang seharusnya jangan. Sampai kamu tau apa sebenarnya tujuan si Han."
Sekali lagi, umur gue masih belasan kala itu. Dan politik adalah yang paling tidak membuat gue tertarik untuk mendalaminya. Saat itu gue memang lolos dari permintaan "Mereka", tapi gue tidak lolos begitu saja dari "Mereka". GUE SUDAH TERLIBAT. Gue sudah berada di dalamnya, menjadi bagian dari "Mereka". Mau tidak mau dan suka tidak suka gue harus mengambil porsi walaupun hanya sebatas provokasi.
Dan karena hal itu, gue harus mempersiapkan diri. Dipersiapkan tepatnya. Untuk menjadi apapun kelak saat waktunya tiba. Gue harus menjalani pelajaran extra di luar sekolah, mempelajari ilmu-ilmu yang tidak mungkin diajarkan di sekolah. Lalu seorang ditunjuk sebagai mentor gue, beliau adalah (sebut saja) Pak Mo. Beliau bukan orang-orang "Mereka", Pak Mo bukan bagian dari organisasi "Kami". Beliau ada seorang profesional dalam bidang tertentu dan seorang pengusaha yang bisa dikatakan sukses.
Gue dipertemukan dengan Pak Mo sepulang dari Brussel, hanya pertemuan singkat di bandara—kami bertemu sejenak saat gue dan Tante Elsa tiba dan dia hendak berangkat ke suatu Negara di bagian bumi sebelah selatan. Pertemuan itu singkat dan kami hanya saling memperkenalkan diri, namun dalam pertemuan singkat itu Pak Mo memberi gue satu kalimat utuh yang membuat segala nyali gue runtuh.
"Setelah ini tidak akan ada jalan kembali, jika kamu nanti berhasil kamu tidak akan dipuji, jika kamu nanti gagal kamu akan dicaci, jika nanti kamu hilang tidak akan ada yang mencari DAN!!! jika nanti kamu mati… tidak akan ada satupun yang mengakui."
###
Diubah oleh nyunwie 20-01-2022 15:47
joyanwoto dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tutup
