Kaskus

Story

congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.

Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
sargopipAvatar border
efti108Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.8K
793
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
#674
Part 85 - Be My Forever
"Mas cukur rambut dong, aku anter deh" ucap Zahra

Ia memegang-megang rambut gua yang masih basah sehabis mandi.

Gua berdiri di depan cermin dan mulai menyisir rambut "bener juga kata Zahra, daripada besok kena pitak guru" batin gua

"Dandan yang cantik, sekalian kita jalan-jalan"

Zahra merespon dengan girang. Dengan cepat ia meninggalkan gua, setengah berlari menuruni tangga menuju kamarnya.

--

Saat kami berdua tiba di barbershop, hanya ada satu antrian pelanggan di sana. Beruntungnya gua, pelanggan tersebut hendak proses keramas, jadi gua ngga perlu nunggu lama.

"Mau dimodel gimana mas?" Tanya mas barberman sembari memakaikan kain berbentuk jubah ke gua.

"Botak aja, kayak taruna" saut Zahra yang duduk di kursi pelanggan

Gua melotot ke arahnya melalui cermin

"Masnya ini cocoknya gondrong mbak, soalnya rambutnya ini kalo pendek pasti jabrik-jabrik" jelas mas barberman ke Zahra

"Ngga apa mas, botak aja. Biar ngga ada yang mau sama dia selain saya" Zahra terus menerus nerocos memaksa gua potong botak

"Stress.." umpat gua

Mas-mas barberman hanya cengar-cengir berada di antara perdebatan kami berdua.

Mas barberman kemudian mengambil sebuah katalog di meja kasir, lalu memperlihatkan model-model rambut yang sekiranya cocok dengan gua.

"Ini aja nih mas, kayak oppa oppa korea" gua melihat dari cermin Zahra menunjuk sebuah foto di katalog tersebut, entah model apa yang dipilihnya.

Mas barberman melirik ke gua sebentar, sepertinya menerawang model rambut tersebut jika diaplikasikan ke bentuk muka gua.

"Cocok" ucapnya singkat. Mas barberman mengembalikan katalog tersebut ke tempat semula, kemudian mulai memasang sepatu pada cliper

"Model apaan mas?" Tanya gua

"Comma hair" jawabnya

Entah bagaimana model rambut tersebut, gua hanya berserah diri. Semoga saja cocok di gua.

Karena nggak biasanya gua menyebut model ketika pangkas rambut. "Pendekin dikit, atur aja biar rapi, volumenya jangan dikurangin" adalah template request ketika gua biasa potong rambut.

Tak henti2nya Zahra tersenyum sekeluarnya dari barbershop tadi.

"Gila, senyum-senyum sendiri" maki gua, ia nggak nyadar kalau gua bisa melihat wajahnya dari spion kiri

"Ah enggak" elaknya

"Itu loh, gigimu keliatan kering dari spion"

Kemudian kami sekejap saling bertatapan lewat spion. Zahra tersipu malu, lalu menenggelamkan wajahnya di bahu gua.

"Aku belum pernah ke simpang lima deh mas. Ke sana aja yok" ucapnya setengah berteriak di samping kuping gua

Gua pun mengabulkan permintaannya, dan mulai memacu motor ke arah barat. Sepeda motor gua parkirkan ke area parkir di pertokoan seberang Matahari Mall.

Karena di area simpang lima banyak pengamen, gua mempersiapkan rokok murahan yang gua beli di pedagang asongan.

Males aja kalo ngasih duit mulu, lagian gua ngga punya recehan banyak. Mungkin bisa sepuluh pengamen lebih yang bakal menghampiri saat nongkrong di area simpang lima hanya dalam kurun waktu kurang dari dua jam.

"Mas, naik itu yok" Zahra menunjuk odong-odong warna-warni dengan bermacam bentuk. Ada yang berbentuk sepeda sambung, mobil, sampai kereta kencana.

Tangan Zahra gua gandeng menuju salah satu penyewa odong-odong.

"Nyewa ginian berapaan mas?" Tanya gua

"Seketewu sekali puteran mas" jawabnya

Gua merogoh dompet, memberikan selembar uang biru ke mas-mas tadi.

"Pilih aja mas, yang mana" ucap mas-mas tadi setelah menerima uang

"Itu aja mas, lucu" ucap Zahra menunjuk odong-odong kereta kencana dengan lampu kelap-kelip

Dengan santai, gua mengayuh sendiri odong-odong ini. Berat juga ternyata, padahal perasaan waktu gua sama anak-anak bengkel main becak-becakan, ngga seberat ini.

Belum sampai setengah putaran, nafas gua udah mulai habis.

Zahra menyadari gua yang mulai kelelahan "aku berat ya?"

"Ngga, capek aja ngayuh ginian" balas gua. Sebenarnya bukan capek di kaki, tapi capek di nafas.

"Istirahat dulu" lanjut gua, lalu turun dan menghampiri penjaja minuman

Gua kembali ke atas odong-odong membawa dua botol air mineral dingin, satu botol gua berikan ke Zahra.

Dengan bersusah payah, akhirnya gua sampai di titik awal menyewa odong-odong.

Si mas-mas yang menyewakan odong-odong sedikit tertawa melihat gua yang tersengal-sengal.

Menjadi perokok aktif ternyata benar-benar memberikan efek besar. Nafas gua ngga lagi panjang.

Setelah mengeringkan keringat yang membasahi dahi, gua menggandeng Okta ke arah depan Matahari Mall, ke pedagang angkringan tepatnya.

Di sana, ada beberapa pedagang angkringan berjejer, bersaing menarik pembeli untuk mampir.

"Mie rebus buk, pake telor, ngga pake sayur" ucap gua ke ibuk ibuk pedagang

"Aku mau mie juga" saut Zahra

Kami berdua duduk di kursi dan meja plastik yang ditata di depan warung angkringan tadi.

"Aku gendut ya?", "Aku mau diet deh". Ucapnya setelah tragedi mengayuh odong-odong tadi

"Apaan sih diet-diet segala, noh malem-malem gini makan mie pake telur bilangnya mau diet" omel gua mendengar dia berkata seperti tadi

Bagi gua, Zahra ini sudah ideal. Ngga kurus, ngga gemuk juga (baca:semok). Dan gua suka itu.

Sehabis menghabiskan mie rebus, gua membakar rokok sembari memandangi lalu-lalang kendaraan.

Entah kenapa, pikiran gua malah membayangkan betapa indahnya suatu saat nanti ketika gua berada di posisi seperti ini. Namun saat sudah beristri, serta satu pangeran maupun putri kecil menyertai.

"Ah apaan sih, perjalanan gua masih panjang. Kenapa gua jadi kebelet nikah kayak Zahra" batin gua

Tanpa gua sadari, Zahra ternyata daritadi memandangi gua sambil senyum-senyum.

Ia membuang muka ketika ketahuan memandangi gua.

"Ngapain?"

"Lagi seneng, ngga percaya aja mas Raja milih aku" ia malu-malu mengatakannya

Di seberang, segerombolan remaja laki-laki memandangi kami berdua dengan ekspresi jijik. "Anggep wae aku rak ono mas, lanjutke wae" celetuk salah satu dari mereka

Gua dan Zahra tertawa terbahak-bahak dengan respon mereka yang ternyata mengamati tingkah kami berdua.

Karena malu, akhirnya kami bedua bergegas pulang dan melanjutkan acara pacaran di balkon rumah🤪

--

"Oi, ja!" Seseorang berteriak memanggil gua dari depan gerbang sekolah

Gua dan Zahra berhenti sejenak, menoleh ke arah suara.

Setelah mengetahui asal suara, kami memperlambat langkah. Bagas dengan berlari kecil menyusul kami berdua.

Kini, kami bertiga berjalan beriringan di lorong sekolah menuju kelas.

"Kemaren kalian bolos ya? Kalo bolos jangan barengan gitu lah, mencolok banget" Bagas dengan nafas tersengal menghardik kami tentang kejadian kemarin

"Udah telat pas nyampe, males gua kalo kena razia" jelas gua

Ketika jam istirahat, Zahra membuka kotak bekal. Gua ngga tau kalau tadi pagi ia menyiapkan bekal untuk makan siang di sekolah.

Ada tiga sekat di dalam kotak bekal tersebut. Nasi di sekat yang terbesar nampak menumpuk banyak, satu sekat lainnya ada beberapa potong nugget goreng, sedangkat sekat satunya dibiarkan kosong.

"Banyak amat" celetuk gua sembari menghampirinya, lalu duduk di kursi kosong sebelahnya

"Buat berdua" balasnya

"Berdua sama siapa?" Tanya gua

"Sama mas Raja lah, masa sama Kribo" luapnya emosi dengan nada meninggi

Gua melirik ke arah Kribo yang sibuk bermain HP di bangku sudut belakang kelas, rupanya ia mendengar apa yang Zahra ucapkan. Kribo menatap tajam ke arah kami berdua seolah berkata "apa lu bawa-bawa nama gua"

"Njir"

Gua memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu untuk membeli minuman dan dua potong gorengan.

Sekembalinya ke kelas, Zahra terlihat belum menyentuh sama sekali bekal yang dibawanya.

Gua keheranan karena Zahra hanya terlihat satu pasang sendok garpu.

"Cuma bawa satu, aku suapin biar romantis" ia berkata menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepala gua

Setiap siswa di sudut kelas menatap kami dengan tatapan aneh. Bukan tatapan iri, namun lebih ke tatapan dengan rencana iseng.

"Ngapa lu? Cewek gua nih, jagi masak" maki gua ke salah satu teman di kelas

Gua mengancam mereka semua. Siapa yang memfoto ngga akan pulang sekolah dengan tenang.

Zahra berkali-kali menyuapi gua, hanya beberapa kali suap untuk dirinya sendiri

"Ini sih judulnya bukan makan bareng" protes gua

"Biar gedean dikit badannya" ia kembali mencekoki gua dengan nasi dan nugget

Acara makan selesai beberapa saat sebelum bel masuk kelas berbunyi.

Gua kembali ke tempat duduk yang berada di samping Bagas

"Enak bener dah, satu kelas ama pacar, tinggal serumah lagi" celetuk bagas

Gua meletakkan jari telunjuk ke mulut, sebagai tanda isyarat agar bagas tak memperpanjang pembahasan tersebut.

Quote:
oktavp
delet3
japraha47
japraha47 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.