- Beranda
- Stories from the Heart
Penunggu Danau Ranu Kumbolo Semeru
...
TS
xandler
Penunggu Danau Ranu Kumbolo Semeru

Quote:
GIF
Sebelum membaca harap di perhatikan terlebih dahulu beberapa point di bawah ini ;
1.ini berkisah dari teman wanita saya, namun banyak bagian yang sengaja saya lebih-lebih kan, jadi anggap saja 90% story ini adalah fiksi.
2.ini adalah short story, yang mungkin hanya akan tamat 3-5 part.
3.Update untuk story ini maksimal 3 hari sekali.
4.Genre pembunuhan, horor dan survival.
5.Di larang mempublikasikan ke dalam media ap pun, dengan tujuan ke untungan sendiri, tanpa persetujuan penulis.
1.ini berkisah dari teman wanita saya, namun banyak bagian yang sengaja saya lebih-lebih kan, jadi anggap saja 90% story ini adalah fiksi.
2.ini adalah short story, yang mungkin hanya akan tamat 3-5 part.
3.Update untuk story ini maksimal 3 hari sekali.
4.Genre pembunuhan, horor dan survival.
5.Di larang mempublikasikan ke dalam media ap pun, dengan tujuan ke untungan sendiri, tanpa persetujuan penulis.
Quote:
Part 1 : Malam Pertama
"kakak.. baju nya udah di masukin semua?". tanya ibu dari lantai bawah.
"udah kok mah". saut ku.
"cepetan.. nanti malah ketinggalan bus nya". ujar nya.
"iya mah, ini udah selesai kok". saut ku.
Aku sekarang sedang merapihkan beberapa pakaian dan juga peralatan yang akan ku pakai untuk camping sekolah. Waktu keberangkatan adalah pukul 9, sedangkan sekarang sudah pukul 8, dan aku masih sibuk memilih-milih baju.
Bukan karna aku ingin di perhatikan, karna aku orang nya tidak tahan dingin, jadi aku berfikir lebih baik untuk menggunakan pakaian tebal, namun di satu sisi aku juga tidak tahan panas, aku kembali melepas pakaian tebal ku.
Inilah karakter ku, begitu repot dan suka overthinking, padahal aku hanya perlu memakai jaket, dan jika suhu di dalam bis tidak dingin, aku hanya perlu melepas nya.
Tidak hanya itu, rambut ku yang panjang pun juga menjadi sumber masalah untuk ku, jika ku ikat maka rambut ku akan kusut, dan jika tidak ku ikat, aku akan kepanasan. Namun jika aku potong pendek, aku malah tidak menyukai nya. Terkadang aku suka merasa kesal terhadap diri ku, yang suka berlebihan berfikir.
.
.
Perkenal kan, namaku adalah Riska, sekarang aku duduk di kelas 2 SMA, kini aku sedang berlari menuju sekolah, dengan tas yang cukup berat ku gemblok, dengan nafas begitu kembang kempis, aku paksakan kaki ku untuk tetap berlari.
"hadeh... kebiasaan banget kamu Ris". ujar Hendra, ia adalah ketua kelas ku.
"ehh ia maaf hen... bangku aku dimana?". tanya ku dengan nafas senin-kamis.
"itu sama Tian, di belakang". ujar hendra sembari menunjuk.
"ihhh.. kok sama tian sih? nanti kalo dia kesurupan lagi gimana". ujar ku.
"ya kamu doain biar sembuh... yaudah sana, udah telat masih aja bawel.. heran". celetuk hendra kesal.
Tian adalah seorang pria yang begitu pendiam di kelas ku, banyak murid di kelas yang menjauhi nya, karna banyak murid kelas ku yang takut kepada nya, bukan karna dia sok jagoan atau apa pun itu, selama hampir 2 tahun dia bersekolah di sini, dia sudah kesurupan hampir 5 kali.
Sedangkan aku, aku tidak membenci nya, terkadang aku juga merasa kasihan kepada nya, karna dia selalu sendirian di kelas, bahkan ketika ada tugas kelompok, dia selalu seperti di asing kan. Namun apa daya, aku yang juga takut terhadap nya, memilih untuk ikut menjauhi nya.
.
.
Aku dengan terpaksa menghampiri bangku dimana Tian berada, karna seluruh bangku sudah terisi penuh, aku pun menaruh tas ku di atas dan duduk di samping nya.
aku mendapat ledekan dari teman kelas ku yang lain, karna duduk di samping nya, aku hanya bisa menghela nafas, menahan rasa sebal atas ledekan mereka. Sedangkan Tian, dia seperti sudah terbiasa akan hal itu, ia hanya membaca buku tanpa menghiraukan yang lain.
"Anak-anak, Tolong perhatian nya ya.. Perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru akan segera di laksanakan, mohon Doa nya agar perjalanan kita bisa selamat sampai tujuan". ujar Bu Elis, Wali kelas kami menggunakan mic di samping supir.
Dengan 3 bus yang masing-masing berisi 28-30 orang, kami berangkat menuju Semeru dengan penuh semangat, tanpa tau apa yang akan terjadi kepada kami nanti, jika saja aku tau apa yang akan menimpa kami di sana, aku akan menghentikan perjalanan ini apa pun resiko nya.
.
.
*Sekitar 23 jam kemudian.....
Kami akhirnya sampai di sebuah restoran di dekat gunung Bromo, sekedar mengistirahatkan badan sejenak dari panjang nya perjalanan sebelum nya.
Kini aku sedang duduk di meja makan bersama Indri, dewi dan geri. Kami sedang menyantap makanan yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah.
"eh tadi gimana rasa nya berduaan sama tian?". ledek Gerry.
"gpp sih, dia juga diem doang sepanjang perjalanan, malah enak.. jadi bisa tidur tenang". jawab ku.
"cieee yang tidur sama pangeran nya". ujar Dewi dengan nada meledek.
"bodo amat". saut ku.
Sekitar 1 jam lebih kami beristirahat di restorant, kami mulai mempersiapkan bawaan kami dan akan mulai mendaki gunung Semeru, karna kami semua akan mendirikan camp di pinggir danau Ranu Kumbolo. Dan akan menginap 3 malam di sana.
Setelah kurang lebih 30 menit berjalan, kami yang ingin segera menuju danau harus bersabar, di karnakan kabut yang hampir menutupi seluruh tempat di danau, jadi guru kami tidak berani mengambil resiko karna takut akan tersesat.
Dan para Guru akhir nha memutuskan untuk menginap di salah satu motel terdekat, yang tidak begitu jauh dari lokasi danau.
"satu kamar berlima ya, untuk kunci kamar nanti akan di bagikan pak Sutoyo.. dan satu lagi, wanita dan Pria tidak boleh satu kamar". ujar Bu Elis.
"iaaa buu". saut para murid.
Aku mendapatkan kamar di lantai 2, bersama Dewi,Anggi,Ana, dan juga Yani. Karna hanya ada 1 kasur di dalam nya, kami memutuskan untuk melakukan hompimpa, dan 2 orang yang kalah, akan tidur di lantai. Dan aku lah yang akhirnya harus tidur di lantai bersama dengan Anggi.
Aku dan Anggi tidur di depan kasur, dekat dengan TV, ada juga jendela besar di sebelah kasur. Aku mempersiapkan kantung tidur yang memang sengaja ku bawa untuk camping nanti.
Waktu menunjukan pukul 9 Malam, Bu Elis di temani Pak Danang, mengitari tiap kamar untuk mematikan lampu dan juga menyurug para murid untuk segera tidur.
"yaelah bu.. baru juga jam 9". ujar ku.
"ga ada alesan, besok kita bakal cape sama kegiatan, jadi sekarang istirahat". saut Bu Elis sembari mematikan lampu dan menutup pintu.
Akhir nya kami semua memutuskan untuk segera tidur, karna tidak ingin mencari masalah dengan Bu Elis wali kelas kami, karna dia di kenal sebagai guru yang begitu tegas dan tidak segan-segan menghukum murid atau parah nya akan menurunkan nilai kami.
*Pukul 11 malam.
*TOK TOK TOK*
Terdengar suara ketukan dari jendela di samping kami, aku pun jadi terbangun karna suara ketukan itu, aku memang cukup sensitif dengan bunyi ketika tidur.
*TOK TOK TOK*
Kembali terdengar suara ketukan di jendela, yang kali ini mulai membuat ku takut, aku pun memeriksa seluruh teman sekamar ku, dan mereka semua masih tertidur, jadi seharus nya bukan mereka yang mengetuk-ngetuk jendela tersebut.
*TOK.. BRAKK... TOK... BRAKKK....*
Kali ini tidak hanya suara ketukan, namun seperti seseorang yang sedang memaksa membuka jendela.
Aku yang semakin ketukan, dengan panik mencoba membangun kan Anggi yang tidur di samping ku, namun dia yang seperti nya sudah sangat kelelahan, tidak menggubris ku.
*BRAAAKK.... BRAAKKK... BRAAAKKK*
kali ini hanya ada suara seperti seseorang yang mencoba paksa untuk membuka jendela dari luar, semakin lama semakin kencang suara nya.
Aku pun langsung mengambil sapu tangan di samping ku, karna aku tidak punya selimut untuk menutupi wajah ku. Aku hanya ingin berpura-pura tidak mendengar nya.
Tiba-tiba saja suara tersebut berhenti begitu saja, suasana menjadi begitu hening di dalam kamar, aku pun memberanikan diri untuk menengok ke arah jendela.
Aku bangkit berdiri dan membuka tirai jendela secara perlahan.. dan....
Tidak ada apa-apa, aku pun bisa bernafas lega, aku kembali menutup Tirai jendela dan untuk melanjutkan tidur ku. Namun baru saja aku ingin memejam kan mata..
"BRAAKKKKK"
Terdengar suara bantingan pintu kamar mandi yang sangat kencang, aku pun begitu kaget sampai langsung berdiri karna nya.
Namun aneh nya tidak ada satu pun dari teman-teman ku yang bangun dengan suara itu, bahkan ketika aku mencoba untuk menggoyang-goyang kan tubuh mereka, mereka sama sekali tidak merespon.
"Anggi.... Dewi... bangun dong semua ya tuhannn". ucap ku sembari menangis.
Aku hanya bisa menangis sembari menggoyang-goyangkan tubuh teman ku yang masih tertidur.
ketika aku kembali menengok ke arah pintu masuk kamar, di tengah gelap nya kondisi saat ini, aku meliha sesosok pria berbadan kurus berwarna hitam berdiri di sana, aku tidak bisa memastikan siapa dia.
"nak.."
"nak.."
Aku hanya bisa melihat nya seperti sebuah Silurt hitam, yang aku dapat lihat hanyalah mulut nya ketika dia sedang berbicara.
"Ya tuhann....ya tuhannn... pergii tolong pergi".
Aku memutuskan untuk menutup mata sembari jongkok di tengah-tengah kasur bersama teman-teman ku yang masih tertidur.
"Ris".
Panggil Dewi yang tertidur di sebelah ku, tanpa menengok atau menggerakan badan nya.
"Dewi? bangun wi... ". ujar ku senang mendengar suara nya.
"Ris.. kamu di sini aja ya, temani mereka". ujar nya yang masih diam tak bergerak.
"eh.. kamu ngomong apaan sih wi". saut ku.
Aku yang kesal langsung menarik paksa tubuh Dewi dan memaksa memalingkan wajahnya ke arah ku... namun...
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA". teriak ku terkejut.
"Ris... mau ya temani mereka".
Yang sedang aku lihat bukanlah wajah Dewi, melainkan sesosok yang tidak memiliki wajah, dan juga botak. ia hanya memiliki dua lubang kecil di hidung, tanpa batang hidung. Dan Mulut.
"Risss... mau ya". ujar nya kembali dengan suara Dewi.
"TOLONGGGG ... TOLONGGGGGG..." Teriak ku sembari meninggalkan kasur.
Aku yang ingin segera meninggalkan ruangan, malah terjatuh dan kepala ku terbentur lantai cukup keras, sampai-sampai perlahan aku mulai kehilangan kesadaran ku.
.
.
.
.
.
"RISSS BANGUN RISSS KAMU KENAPA?". terdengar suara yang tidak asing.
"tolongg... tolonggin aku". ujar ku dengan mata yang mencoba untuk ku buka.
"istighfar Ris, bangun...". ujar nya kembali.
Aku pun membuka mata secara perlahan, dan melihat ada Bu Elis dan teman-teman sekamar ku sedang duduk mengitari ku.
"bu.. tolong bu". ujar ku kembali dengan tangis.
"udah gpp... itu cuma mimpi kamu aja". ujar Bu elis sembari memeluk kepala ku dan mengelus nya.
Tunggu.. Apa yang barusan yang aku alami tadi hanyalah sebuah mimpi, jika iya, kejadian itu terlihat begitu nyata. Namun aku bersyukut jika itu hanyalah sebuah mimpi.
Wajah Bu Elis terlihat begitu kahwatir, ia bahkan membiarkan ku menaruh kepala ku di pangkuan nya, sembaru terus mengelus-elus kepala ku.
"maaf bu.. kaya nya aku mimpi buruk". ujar ku yang mencoba untuk senyum.
"iya gpp, hari ini kamu istirahat aja ya, nyusul ke camp di danau nya nanti aja kalau kamu sudah baikan". ujar nya.
"ia bu.. makasih banyak". jawab ku.
Dengan perasaan yang mulai tenang, aku pindah dari lantai dan tidur di kasur, dengan Bu Elis yang enggan meinggalkan ku dan berjaga di samping ku.
Aku pun merasa begitu lega, setelah menyadari kalau yang aku alami barusan hanya lah mimpi, namun ...
"Hai Ris".
Tiba-tiba saja mahkluk tanpa wajah itu kembali muncul tepat di depan ku.
*AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA*
.
.
.
.
Spoiler for For Part:
Diubah oleh xandler 30-08-2022 01:46
bebyzha dan 64 lainnya memberi reputasi
65
25.4K
Kutip
146
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
xandler
#35
Quote:
Part 3 : Jangan Sendiri
Dodi? apakah dodi meninggal? tidak.. tidak mungkin, tapi dia salah satu dari 3 orang yang melakukan patroli semalam.
Terlihat para guru sedang saling mengobrol, tampak jelas wajah kepanikan dari mereka, salah satu guru sedang memgangi handphone nya sembari mengangkat nya tinggi-tinggi, seperti sedang mencari sinyal.
Aku langsung mengeluarkan ponsel ku, dan benar saja.. Ponsel ku tidak memiliki sinyal sama sekali, aku pun menanyakan ke murid lain nya, dan hasil nya pun sama, handphone mereka juga tidak mendapatkan sinyal.
Lalu aku melihat ada 3 mayat sedang di tandu oleh beberapa murid untuk di masukan ke tenda paling besar, dengan tujuan akan di kuburkan sepulang nanti.
Aku yang penasaran dan begitu gelisah tentang nasib Dodi, langsung menghampiri murid yang menggotong mayat tersebut dan bertanya.
"Do..do..dodi... Apa salah satu dari mereka itu dodi?". tanya ku dengan panik.
"Risss"
tiba-tiba saja seseorang menepuk belakang ku, dan ketika ku lihat.
"DODII !! " Aku langsung reflek dengan memeluk nya.
"eh.. Ris.. ka..kamu gpp?". tanya dodi dengan wajah memerah.
"ah..maaf, a..aku kira kamu termasuk dalam 3 orang yang meninggal semalam". ujar ku.
"ah.. semalam karna perut ku sakit, jadi aku di suruh untuk buang air besar dan di gantikan oleh murid lain nya, dan ketika aku kembali, aku tidak dapat menemukan mereka.. dan pas saat fajar, aku menemukan 3 mayat yang ternyata itu teman-teman yang menjaga semalam". ucap nya dengan tenang.
"o..oh ok deh, ya..yaudah aku balik ke kelas aku". ujar ku.
Aku yang ingin memeriksa ketiga mayat tadi, mengurungkan niat ku, karna ternyata Dodi bukanlah salah satu dari mereka, itu membuat ku cukup lega.. Tapi aku sedikit di buat bingung, melihat sikap tenang dodi saat dia menceritakan bahwa dia yang pertama kali menemukan ketiga mayat teman-teman nya itu.
Ketika aku kembali ke teman-teman kelas ku, aku melihat Bu elis sedang sibuk memeriksa HP setiap murid satu persatu, dan setelah ku tanyakan ke Dewi, ternyata Bu elis sedang memeriksa siapa tau di antara hp murid ada yang masih memiliki sinyal.
Karna kami tidak mungkin dapat turun dalam keadaan kabut yang masih begitu tebal ini, dan memilih untuk memanggil bantuan. Namun setelah Bu Elis selesai memeriksa ho setiap murid, hasil nya nihil, tidak ada satu pun dari HP kami yang memiliki sinyal.
Setelah perdebatan panjang antara guru dan masing-masing ketua kelompok, mereka memutuskan akan mengirim salah satu guru pria dan 4 pria lain nya untuk turun dari gunung dan memanggil bantuan, sedangkan murid lain harus menunggu di tenda masing-masing, dan tidak boleh keluar tenda terkecuali karna masalah mendesak.
Waktu menunjukan pukul 11 siang, namun kabut tak kunjung hilang, malah ketika aku memeriksa nya barusan, kabut kian tebal dan jarak pandang juga semakin pendek, aku bahkan tidak bisa lagi melihat tenda terdekat dari ku.
Aku,Anggi dan Dewi hanya bisa diam di dalam tenda, kami mencoba untuk mengusir rasa takut kami dengan beberapa lelucon receh yang anggi lontarkan.
*aaaaaaaAAAAAAAAAAA*
Terdengar teriakan seorang wanita dari arah hutan, kami bertiga yang kaget pun keluar tenda untuk melihat suara siapa itu, namun sekali lagi, karna kabut yang begitu tebal, kami terpaksa mengurungkan niat kami dan memutuskan untuk tetap di dalam tenda, dengan rasa takut yang makin menggrogoti fikiran.
"dengar wi, ris... kita bertiga pokok nya harus bareng terus ya". ujar anggi.
"i..ia nggi..". jawab dewi.
.
.
Waktu terasa begitu lama bergulir, sampai 1 jam kemudian kami bertiga hanya berdiam diri di dalam tenda, belum juga ada pengunguman selanjutnya dari guru.
*aaaaAAAAAAAAAAAAAA*
Terdengar kembali teriakan dari luar tenda, kali ini suara pria.
"aku takut". ujar dewi sembari menutup kuping.
Aku dan anggi pun lekas memeluk dewi yang terlihat begitu ketakutan dan bahkan hampir menangis karna nya.
"kira-kira suara apa itu nggi?". tanya ku.
"gatau ris, suara nya berasal agak jauh, seharus nya dari luar camp". jawab anggi.
"berarti sama seperti suara teriakan wanita tadi, yang juga berasal dari luar camp". saut ku.
Anggi mengambil termos nya dari dalam tas, lalu ia menuangkan coklat panas untuk di berikan kepada dewi, sekedar untuk memberi nya ketenangan lebih.
"Ki..kita ga bakaln mati kan?". ujar dewi.
"huss.. jangan ngomong gitu ah, kita bakal baik-baik aja kok, ya gak Ris?". ujar Anggi.
"iya wi, kita hanya perlu sabar nunggu kabar dari rombongan yang udah turun untuk manggil bantuan sebelum nya". ucap ku
"i..itu pun kalo mereka berhasil sampai ke bawah, bagaimana kalo suara teriakan tadi dari mereka". ucap dewi .
"hus.. udah-udah kamu tidur aja wi, biar kamu tenang dan ga mikir aneh-aneh ya". ujar anggi.
Dewi mau menuruti saran dari anggi san memilih mencoba untuk tidur dengan kantung tidur nya. Sedangkan aku dan anggi tetap berjaga di dalam tenda.
Beberapa saat kemudian,ada Bu elis masuk ke tenda kami..
"ayu keluar sebentar"
namun ia terlihat berbeda dari sebelum nya, ia tidak memakai jaket dan hanya mengenakan kaos putih oblong, wajah nya pun sedikit pucat.
Aku dan anggi saling menatap satu sama lain, kami pun menuruti bu elis yang mengajak kami untuk keluar tenda.
Sebelum keluar, aku yang ingin membangunkan Dewi di hentikan oleh Bu elis, ia mengatakan untuk tidak perlu membangunkan Dewi dan membiarkan nya tetap beristirahat, aku pun meng iakan permintaan nya.
Setelah keluar dari tenda, aku dan anggi hanya mengikuti bu elis berjalan, karna kabut yang begitu tebal, jarak pandangan kami hanya sekitar 5-8 meter kedepan.
Aku melihat beberapa tenda tertutup rapat dan ada juga yang terlihat kosong dengan isi yang berantakan, namun aku mencoba untuk tetap berfikir positif terhadap tenda yang isi nya berantakan tersebut.
"Bu masih jauh??". ujar ku sedikir lelah.
Bu elis hanya diam tanpa menjawab pertanyaan ku, ia tetap berjalan seperti tidak ingin menggubris kami, dan beberapa saat kemudian..
*AAAAAAAAAAAAAAA TOLONGGGGG*
Teriakan seorang wanita yang suara yang tidak asing di telinga ku, aku dan anggi pun langsung terfokus ke arah suara nya.
"i..itu teriakan Dewi". ujar anggi panik.
"ayo kita balik lagi ke tenda nggi". ujar ku.
"bu ayo ki--".. ucap anggi terpotong.
Ketika kami menoleh kembali ke arah Bu elis, tiba-tiba saja dia sudah menghilang.
"Ri..Riss Bu.. Elis kemana?". ujar anggi takut.
Aku menarik nafas dan sebisa mungkin tetap berfikir positif, karna di saat-saat seperti ini, fikiran negatif hanya akan merugikan ku.
"mungkin dia sudah duluan nggi.. lebih baik sekarang kita balik ke tenda dan memeriksa dewi" ujar ku sembari menarik tangan anggi.
Anggi pun menganggukan kepala dan mengikuti ku untuk kembali ke tenda, kami saling berpegangan tangan karna tidak ingin berpisah satu sama lain.
Kami berjalan perlahan menembus tebal nya kabut, dengan mengikuti tenda-tenda murid lain yang sebelum nya kami lewari tadi saat mengikuti Bu elis.
Sampai akhir nya kami tiba di depan tenda kami, terlihat tenda kami tertutup rapat, berharap bahwa dewi lah yang menutup nya.
Lalu aku perlahan membuka Retsleting tenda, dari atad ke bawah....
dan...
"YA ALLAH....".
teriak anggi sampai membuat nya duduk tersungkur setelah melihat ke dalam tenda. Aku yang juga melihat apa yang anggi lihat, saking terkejut nya, aku masih diam dengan mata melotot.
"Ri..ris...". ujar anggi yang langsung memeluk ku.
Aku pun yang masih begitu shock hanya bisa diam melihay keadaan tragis Dewi di dalam tenda.
Terlihat Dewi dalam posisi tertidur tengkurap dengan kondisi kepala nya terputar ke bekalang menatap ke atas, mata nya berwarna putih melotot dengan lidah menjulur ke luar.
"Riss...". ujar seorang pria menepuk ku dari belakang.
Setelah perlahan menengok ke arah belakang, ternyata itu adalah Tian yang terlihat begitu berkeringat dengan nafas ter engah-engah.
"yan.. Dewi kenapa?". ujar ku lemas yang masih belum bisa menerima keadaan Dewi.
Tian yang terlihat terburu-buru, ia langsung menarik tangan ku dan juga anggi untuk berdiri.
"Aku bakal jelasin nanti, untuk sekarang ikutin aku". ujar Tian.
Dengan tatapan kosong, dan Anggi yang masih memeluk ku begitu erat, kami berjalan mengikuti Tian. Di pertengahan jalan, tiba-tiba saja air mata ku terjatuh begitu saja, seperti otak ku yang masih dalam proses untuk mencerna apa kah ini kenyataan atau hanya sebuah mimpi.
"kalo kalian ngeliat apa pun, pura-pura aja ga liat... dan tetap berjalan". ujar Tian.
Namun aku yang masih dalam kondisi bingung dan shock, tidak dapat merespon ucapan Tian. Lau melihat aku yang tidak merespon ucapan nya, Tian berhenti lalu menghadap ke arah ku.
*PAAAAAKKKKK*
Tampar Tian tepat di wajah ku. Lalu ia memegang kedua pundak ku dengan kedua tangan nya, ia menatap ku dengan tajam.
"RISKA... sadar.. ini bukan saat nya kamu shock, kamu harus tenang... karna bukan hanya kamu aja yang ngalamin". ujar Tian dengan nada tinggi.
Aku yang di tampar oleh tian, langsung saja menyadari bahwa ini bukanlah mimpi, tapi kenyataan yang harus ku hadapi, aku pun langsung terduduk sembari menangis kencang, anggi dengan kondisi nya yang hanya sedikit lebih baik dari ku mencoba untuk menenangkan ku dengan menepuk-nepuk punggung ku.
"Ris... tenangin diri kamu, kamu harus ikut aku dulu sekarang". ucap tian sembari mengusap air mata ku dengan sapu tangan nya.
Ia dan anggi pun membantu ku berdiri untuk tetap melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan mengikuti Tian, aku melihat punggung nya, dan aku tiba-tiba saja berfikir, Mengapa Tian yang aku kenal selama ini bisa begitu tangguh seperi ini, padahal dia di kelas hanya diam dan selalu menjadi korban Bullyan anak-anak di kelas kami, namun melihat nya seperti ini, aku seperti melihat sisi lain nya yang berbeda.
"kita mau kemana yan?". tanya anggi.
"Kita akan ke tenda yang sudah aku bangun tadi, di sana lebih aman". ujar Tian.
"Apa kau mengingat jalan kembali kesana? dengan kabut setebal ini". tanya Anggi kembali sembari merangkul ku.
"Tenang saja.. Ketika aku menghampiri kalian, aku meninggalkan potongan-potongan ranting untuk ku jadikan arah ketika aku ingin kembali". jawab Tian.
Di tengah perjalanan, aku melihat ada seorang murid dalam ke adaan tengkurap di depan kami.
"yan.. itu kenapa? bantu dulu". ujar ku sembari menunjuk.
Tian pun menengok ke arah ku, lalu ia menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Aku akan menjelaskan nya nanti, untuk sekarang, apa pun yang kalian lihat.. jangan kalian sentuh atau tegur.. apa pun itu". ujar Tian dengan wajah serius.
Aku dan Anggi hanya bisa menuruti nya, karna dengan ke anehan yang telah kami lewati sampai titik ini, lebih baik kami menuruti apa yang Tian katakan, karna seperti nya ia lebih tau tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Sepanjang perjalan, aku beberapa kali melihat murid perempuan atau laki-laki tergeletak di jalan, aku sekuat tenanga mencoba untuk tidak memperdulikan nya, dan tetap berjalan, meskipun air mata yang menetes ini tidak bisa berbohong. Karna beberapa di antara tubuh yang tergeletak tadi, aku mengenali wajah mereka.
Cukup lama kami berjalan, akhirnya kami sampai di tenda hitam dengan ukuran cukup besar, ini adalah tenda yang kami gunakan sebelum nya, namun aku mengingat bahwa posisi tenda ini seharus nya bukan di sini sebelum nya.
"masuk lah". ujar Tian sembari membukakan tenda.
Ketika kami masuk ke dalam tenda, terlihat ada sekitar 20 orang berada di dalam tenda tersebut, dan aku mengenali beberapa dari mereka. Seperti Gery,Yani, Wawan, Dina dan juga Hanif, kebanyakan adalah pria di dalam sini. Dan selain mereka, aku juga mengenali satu orang lain nya.
"BU ELISSS". Teriak ku memanggil nya.
"alhamduliah kalian gpp". ujar bu elis yang langsung menghampiri kami berdua.
"I..ibu tadi kemana? kok pergi ninggalin kita?". tanya ku.
Lalu Bu elis dan Tian saling menatap, seolah mereka sudah mengerti apa maksud ku.
"itu bukan Ibu Ris". ujar nya.
"ma..maksud ibu?". tanya ku bingung.
"Tidak hanya kamu, seperti nya mahkluk itu menyamar menyerupai para guru untuk dapat memisahkan kita". ujar Bu elis.
"Ma..mahkluk itu? mahkluk apa yang ibu maksud?". tanya ku kembali.
"Mahkluk penghuni danau ini Ris... Danau Ranu Kumbolo". ujar Tian dengan wajah serius.
Mendengar nya aku langsung terjatuh duduk dengan lemas. Tiba-tiba saja aku kembali mengingat mimpi ku sebelum nya, saat sebelum kami sampai kesini, apakah mimpi itu ada hubungan nya dengan semua ini.
"Ris.. entah kamu shock atau bagaimana pun, kamu harus mendengar cerita dari aku dan harus mempercayai nya". ujar Tian sembari menatap ku tajam.
Aku hanya menganggukan kepala tanda mengerti perkataan nya.
Bu elis membopong ku untuk duduk, dan menberiku teh hangat agar aku bisa menenangkan diri.
"Dengar Ris.. Kita semua di sini sedang memikirkan bagaimana cara nya bisa keluar dari sini, namun seperti nya mahkluk penghuni danau ini tidak membiarkan kita untuk meninggalkan camp ini bagaimana pun juga cara nya". ujar Tian.
"La..lalu bagaiamana dengan rombongan yang sebelum nya turun gunung?". tanya ku lemas.
"Aku tidak tau.. namun lebih baik kita tidak berharap dari mereka, oia satu lagi... mau apa pun yang terjadi, jangan biar kan diri mu pergi sendirian selama berada di camp ini, entah bagaiamana.. seperti nya mahkluk tersebut tidak bisa melakukan apa pun jika kita tetap bersama". ucap tian.
"Lalu bagaimana dengan mu tadi yan? bukan kah kamu pergi sendiri saat menjemput kami?". tanya Anggi.
"Karna... aku berbeda". ujar Tian.
"Berbeda? apa maksud mu?". tanya anggi.
"Aku memiliki kemampuan untuk merasakah kehadiran mahkluk ghaib di sekitar ku, jdi selama aku bisa menhindari mahkluk itu, aku bisa pergi kemana pun di camp ini". ujar Tian.
"kemampuan? mungkin seperti indigo ya?". tanya Anggi kembali.
"Mudah nya seperti itu, untuk sekarang lebih baik kita memikirkan bagaimana cara nya kita bisa keluar dari sini". jawab Tian.
Diubah oleh xandler 15-01-2022 17:27
doelviev dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Kutip
Balas