- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#189
Chapter 122
Quote:
Sudah tiga hari berselang, namun tanda-tanda sang komandan terbangun dari tidurnya belum terlihat. Alat-alat kesehatan yang terpasang dibadannya berfungsi dengan baik menginformasikan status tubuhnya, semuanya baik-baik saja dan normal. Di luar ruangan Dr. Geere mengintip dari balik kaca, menunggu perkembangan selanjutnya dari eksperimen yang dilakukannya.
“Hm, ia terus berada disampingnya, padahal seingatku ialah yang paling menggebu untuk melakukan eksperimen itu,” Dr. Geere beranjak pergi.
Sang wakil komandan masih menatap dengan wajah yang datar cenderung dingin, “Ku kira kau akan menjadi monster gila, dan mengacaukan tempat ini. Di saat itulah aku akan menghabisimu, lalu mengambil alih proyek ini. Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, terutama---,” tiba-tiba tangan komandan naik lalu mencengkram lehernya dengan sangat kuat. “ko…komandan!” ia kesulitan bernafas karena tercekik.
Urat-urat ditangannya keluar semua, wakil komandan meronta-ronta tuk melepaskan diri dari gerakan yang tidak terduga-duga itu. Lalu ia mengambil pistol yang berada di saku sebelah kanan, membuka kancing yang menutup kantung senjatanya dan menyodorkannya langsung ke kepala sang komandan. Tidak ada keraguan dalam dirinya, sebelum pelatuk di tekan, mata sang komandan terbuka, diikuti dengan tangannya yang melemah.
Sang wakil masih menyodorkan pistolnya, ia menghirup nafas panjang-panjang sambil menjauhi kasur tempat komandan berada.
“Komandan…anda sudah sadar?” tanyanya pelan, untuk memastikan apakah komandan tidak terpengaruhi oleh apapun.
Sang komandan hanya melihat kedua tangannya, lalu membuka selimut yang menutup tubuhnya, tidak ada bekas luka ataupun darah yang tercecer, semuanya dalam kondisi yang sangat baik.
“Hei, Ferdinand, turunkan senjatamu, tenanglah ini aku…atasanmu,” ucapnya dengan sangat santai, jarang-jarang komandan berbicara dengan nada yang halus seperti itu.
“Jika benar itu anda komandan, kenapa tadi anda menyerangku secara tiba-tiba?!” keringatnya bercucuran turun dari topi yang menutup rambut tipisnya itu.
“Ah itu, entahlah, tubuhku bergerak sendiri setelah merasakan aura jahat berada didekatku,” matanya menajam, semakin membuat wakil komandan gemetaran. “ayo turunkan, lalu beritahu semuanya bahwa aku telah kembali….”
Sang wakil mempercayainya, lalu memasukan kembali pistolnya ke kantung yang terbuat dari kulit itu. Mengelap bekas keringatnya, berdiri tegak sambil memberi hormat kemudian keluar dari ruangan. Dengan cepat berita komandan telah sadar dari tidurnya menyebar ke seluruh personil yang ada di tempat ini. Mulai dari prajurit, medis, serta ilmuwan mendatangi kamar komandan. Yang pertama dilakukan oleh orang medis adalah memeriksanya secara manual, bertanya keluhan yang diderita atau ada sakit yang dirasakan atau tidak. Jawabannya tegas semuanya baik-baik saja.
“Percobaan ini berhasil Dr. Geere…,” menatap wajah ilmuwannya itu dengan mantap.
“Maksudnya? Aku bahkan belum melakukan tes lanjutan,” jawabnya.
“Aku merasakan sesuatu yang hebat mengalir dalam tubuhku,” komandan beranjak dari kasurnya, lalu meminta semuanya untuk keluar terlebih dahulu karena ia ingin mengganti pakaiannya agar lebih berwibawa, lalu memerintahkan wakilnya untuk mengumpulkan semua orang di lapangan besar.
Sesuai dengan titah sang komandan, seluruh personil dalam proyek ini berkumpul di sebuah lapangan besar tepat di bawah kaki gunung yang sudah dimodifikasi menjadi laboratorium besar. Sang komandan datang dengan pakaian kebesarannya, dengan berbagai plat yang tertempel di kiri dan kanan seragamnnya, belum lagi bintang-bintang yang menghiasinya, tidak lupa dengan topi militer kebanggaannya. Sang wakil berada disampingnya, sedangkan prajurit lainnya berbaris rapih sedari tadi, diikuti oleh para ilmuwan dan juga staff lain dalam lab rahasia ini. Komandan menekuk wajahnya kebawah, dengan wajah yang muram, kekhawatiran terlihat di wajah para prajurit.
“Ada apa?” bisik para prajurit.
Sang wakil komandan ingin mengeceknya, namun tiba-tiba komandan Gert melempar topinya ke udara seraya berteriak, “AKULAH YANG TERKUAT!!!” melihat semangat komandannya, para prajurit bersorak-sorak. “akan kubuktikan,” tersenyum kecil kewakilnya.
“Jangan-jangan?” sontak komandan terbang melewatinya.
Komandan berlari sangat cepat, lalu terdengar bunyi-bunyian yang sungguh keras, pepohonan mulai runtuh satu-persatu. Entah apa yang diperbuat oleh sang komandan, hanya bunyi riuhnya yang terdengar. Tiba-tiba suasana menjadi hening, para prajurit saling menatap, sedangkan sang wakil sedikit khawatir. Begitupun dengan ilmuwan terutama Dr. Geere, ia mengira kekuatan sekejap yang hadir mungkin saja lenyap karena tubuh komandan Gert belum beradaptasi betul. Hingga akhir semua pikiran itu salah, karena sebuah batang pohon besar meluncur cepat, menubruk dinding di belakang tempat berdiri sang wakil.
“Apa…maksud tujuannya ini?” keringat dingin keluar dari tubuhnya “apa ucapanku sebelumnya terdengar olehnya? Makanya dia sampai mencekikku!” sang wakil mulai gusar, ia takut jika komandan akan melakukan hal yang lebih gila lagi padanya.
Sang komandan kembali, semua bertepuk tangan dan bersorak heboh. Percobaan yang sudah dilakukan berbulan-bulan akhirnya menemui titik keberhasilannya. Yang akan dilakukan oleh para ilmuwan selanjutnya adalah meneliti apakah darah komandan untuk dijadikan sampel bagi prajurit lainnya. Dr. Geere berucap syukur, dan menantikan kembali momen berkumpul bersama keluarga kecilnya.
Pesta diadakan untuk merayakan keberhasilan ini, semuanya dibebas tugaskan dan diminta untuk ikut berpartisipasi. Yang paling senang dengan keadaan ini adalah sang komandan itu sendiri, ia terus menceritakan apa yang dilakukannya di hutan tadi. Bahkan jika bertemu hewan buas, ia akan melawannya, namun sayangnya tidak ada hewan buas yang berani menghampirinya. Di tempat terpisah, Dr. Geere menelepon keluarganya, perbincangan hangat terjadi di sana.
“Pak komandan, aku tahu kekuatanmu meningkat pesat, tapi apakah badanmu itu kebal dengan pistol ini?” tanya prajurit yang sudah mabuk, sontak saja perkataannya ini menimbulkan tawa yang meriah.
“Oi, kau sudah gila! Kau tidak mendengar ceritanya tadi? pepohonan saja bisa dihempaskan dari jarak yang jauh, apalagi hanya menahan sebuah peluru?” ucap prajurit yang tidak terima.
“Ah benar juga, tubuh ini belum diuji…,” sang komandan pun setuju, ia membuka seragamnnya hingga menampilkan tubuhnya yang kekar.
Prajurit yang tadi bertanya pun ditugaskan untuk menembaki tubuhnya, mereka beranjak dari meja, sedangkan prajurit lainnya berkumpul untuk melihat ‘pentas’ ini. Wakil komandan menontonnya dari jauh, dirinya juga penasaran apakah tubuh komandan kebal terhadap peluru atau tidak. Suasana hening, komandan tersenyum lebar, siap dengan situasi yang akan dihadapi.
“Tidak usah takut, aku yang perintahkan,” ucapnya pelan. “BERSIAP!” prajuritnya mengacungkan senjatanya. “TEMBAK!” terdengar suara peluru yang begitu keras.
Suara tembakan yang keras itu terdengar sampai ke tempat Dr. Geere yang sedang melakukan sambungan telepon bersama keluarganya. Tentunya hal ini membuat sang istri cemas karena suara tembakan biasa menunjukan hal yang tidak beres sedang terjadi. Tidak ingin membuat istrinya khawatir lalu pekerjaannya yang sebenarnya terbongkar, Dr. Geere menyudahi sambungan telepon lalu bergegas menuju ke sumber suara.
“Ada apa? apakah ada yang dieksekusi? Tetapi suaranya terdengar sangat jelas,” langkahnya semakin cepat.
Satu dua tembakan yang dilontarkan sama sekali tidak berefek apa-apa pada tubuh komandan. Pelurunya itu seakan terpental dan berserakan di depan kedua kakinya. Prajurit yang menembakinya itu tidak puas, ia berdalih di pertempuran tidak ada yang menggunakan pistol, semuanya menggunakan senapan. Tetapi kepercayaan komandan masih sangat tinggi, ia pun setuju dengan permintaan prajurit untuk menembakinya dengan senapan.
Dr. Geere sampai dikerumunan, ia bertanya kepada salah satu prajurit. “Hei, apa yang komandan lakukan?”
“Oh prof, komandan sedang menguji ketahanan tubuhnya, tembakan pistol tidak mempan. Kini rekanku akan mencoba menggunakan senapan.”
“Begitu kah?” Dr. Geere juga penasaran, karena uji coba yang sebenarnya belum dilakukan. Dan uji coba sederhana ini bisa menjadi acuannya.
Prajurit membawa senapan, dengan arahan komandan, rentetan peluru pun ditembakkan. Suaranya menjadi sangat bising, komandan masih saja santai dengan merentangkan kedua tangannya.
“Aku…sudah menjadi dewa….,” ucap sang komandan lirih.
Karena efek alkohol, prajurit malah menembaki kepala sang komandan, dan pelurunya malah membalik mengenainya. “Ah!” pelipisnya terkena dan mengeluarkan darah.
“Ayolah, kenapa kau sampai ceroboh begitu, lihat kan pelipismu itu terluka….,” ucap sang komandan sambil melihat prajurit yang terluka, “hei, bawa---,” komandan mematung, matanya berubah ketika melihat darah segar itu mengucur dari pelipis prajuritnya. Tubuhnya bergetar hebat, dan tanpa ia sadari, air liurnya tumpah.
“Hm, ia terus berada disampingnya, padahal seingatku ialah yang paling menggebu untuk melakukan eksperimen itu,” Dr. Geere beranjak pergi.
Sang wakil komandan masih menatap dengan wajah yang datar cenderung dingin, “Ku kira kau akan menjadi monster gila, dan mengacaukan tempat ini. Di saat itulah aku akan menghabisimu, lalu mengambil alih proyek ini. Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, terutama---,” tiba-tiba tangan komandan naik lalu mencengkram lehernya dengan sangat kuat. “ko…komandan!” ia kesulitan bernafas karena tercekik.
Urat-urat ditangannya keluar semua, wakil komandan meronta-ronta tuk melepaskan diri dari gerakan yang tidak terduga-duga itu. Lalu ia mengambil pistol yang berada di saku sebelah kanan, membuka kancing yang menutup kantung senjatanya dan menyodorkannya langsung ke kepala sang komandan. Tidak ada keraguan dalam dirinya, sebelum pelatuk di tekan, mata sang komandan terbuka, diikuti dengan tangannya yang melemah.
Sang wakil masih menyodorkan pistolnya, ia menghirup nafas panjang-panjang sambil menjauhi kasur tempat komandan berada.
“Komandan…anda sudah sadar?” tanyanya pelan, untuk memastikan apakah komandan tidak terpengaruhi oleh apapun.
Sang komandan hanya melihat kedua tangannya, lalu membuka selimut yang menutup tubuhnya, tidak ada bekas luka ataupun darah yang tercecer, semuanya dalam kondisi yang sangat baik.
“Hei, Ferdinand, turunkan senjatamu, tenanglah ini aku…atasanmu,” ucapnya dengan sangat santai, jarang-jarang komandan berbicara dengan nada yang halus seperti itu.
“Jika benar itu anda komandan, kenapa tadi anda menyerangku secara tiba-tiba?!” keringatnya bercucuran turun dari topi yang menutup rambut tipisnya itu.
“Ah itu, entahlah, tubuhku bergerak sendiri setelah merasakan aura jahat berada didekatku,” matanya menajam, semakin membuat wakil komandan gemetaran. “ayo turunkan, lalu beritahu semuanya bahwa aku telah kembali….”
Sang wakil mempercayainya, lalu memasukan kembali pistolnya ke kantung yang terbuat dari kulit itu. Mengelap bekas keringatnya, berdiri tegak sambil memberi hormat kemudian keluar dari ruangan. Dengan cepat berita komandan telah sadar dari tidurnya menyebar ke seluruh personil yang ada di tempat ini. Mulai dari prajurit, medis, serta ilmuwan mendatangi kamar komandan. Yang pertama dilakukan oleh orang medis adalah memeriksanya secara manual, bertanya keluhan yang diderita atau ada sakit yang dirasakan atau tidak. Jawabannya tegas semuanya baik-baik saja.
“Percobaan ini berhasil Dr. Geere…,” menatap wajah ilmuwannya itu dengan mantap.
“Maksudnya? Aku bahkan belum melakukan tes lanjutan,” jawabnya.
“Aku merasakan sesuatu yang hebat mengalir dalam tubuhku,” komandan beranjak dari kasurnya, lalu meminta semuanya untuk keluar terlebih dahulu karena ia ingin mengganti pakaiannya agar lebih berwibawa, lalu memerintahkan wakilnya untuk mengumpulkan semua orang di lapangan besar.
Sesuai dengan titah sang komandan, seluruh personil dalam proyek ini berkumpul di sebuah lapangan besar tepat di bawah kaki gunung yang sudah dimodifikasi menjadi laboratorium besar. Sang komandan datang dengan pakaian kebesarannya, dengan berbagai plat yang tertempel di kiri dan kanan seragamnnya, belum lagi bintang-bintang yang menghiasinya, tidak lupa dengan topi militer kebanggaannya. Sang wakil berada disampingnya, sedangkan prajurit lainnya berbaris rapih sedari tadi, diikuti oleh para ilmuwan dan juga staff lain dalam lab rahasia ini. Komandan menekuk wajahnya kebawah, dengan wajah yang muram, kekhawatiran terlihat di wajah para prajurit.
“Ada apa?” bisik para prajurit.
Sang wakil komandan ingin mengeceknya, namun tiba-tiba komandan Gert melempar topinya ke udara seraya berteriak, “AKULAH YANG TERKUAT!!!” melihat semangat komandannya, para prajurit bersorak-sorak. “akan kubuktikan,” tersenyum kecil kewakilnya.
“Jangan-jangan?” sontak komandan terbang melewatinya.
Komandan berlari sangat cepat, lalu terdengar bunyi-bunyian yang sungguh keras, pepohonan mulai runtuh satu-persatu. Entah apa yang diperbuat oleh sang komandan, hanya bunyi riuhnya yang terdengar. Tiba-tiba suasana menjadi hening, para prajurit saling menatap, sedangkan sang wakil sedikit khawatir. Begitupun dengan ilmuwan terutama Dr. Geere, ia mengira kekuatan sekejap yang hadir mungkin saja lenyap karena tubuh komandan Gert belum beradaptasi betul. Hingga akhir semua pikiran itu salah, karena sebuah batang pohon besar meluncur cepat, menubruk dinding di belakang tempat berdiri sang wakil.
“Apa…maksud tujuannya ini?” keringat dingin keluar dari tubuhnya “apa ucapanku sebelumnya terdengar olehnya? Makanya dia sampai mencekikku!” sang wakil mulai gusar, ia takut jika komandan akan melakukan hal yang lebih gila lagi padanya.
Sang komandan kembali, semua bertepuk tangan dan bersorak heboh. Percobaan yang sudah dilakukan berbulan-bulan akhirnya menemui titik keberhasilannya. Yang akan dilakukan oleh para ilmuwan selanjutnya adalah meneliti apakah darah komandan untuk dijadikan sampel bagi prajurit lainnya. Dr. Geere berucap syukur, dan menantikan kembali momen berkumpul bersama keluarga kecilnya.
Pesta diadakan untuk merayakan keberhasilan ini, semuanya dibebas tugaskan dan diminta untuk ikut berpartisipasi. Yang paling senang dengan keadaan ini adalah sang komandan itu sendiri, ia terus menceritakan apa yang dilakukannya di hutan tadi. Bahkan jika bertemu hewan buas, ia akan melawannya, namun sayangnya tidak ada hewan buas yang berani menghampirinya. Di tempat terpisah, Dr. Geere menelepon keluarganya, perbincangan hangat terjadi di sana.
“Pak komandan, aku tahu kekuatanmu meningkat pesat, tapi apakah badanmu itu kebal dengan pistol ini?” tanya prajurit yang sudah mabuk, sontak saja perkataannya ini menimbulkan tawa yang meriah.
“Oi, kau sudah gila! Kau tidak mendengar ceritanya tadi? pepohonan saja bisa dihempaskan dari jarak yang jauh, apalagi hanya menahan sebuah peluru?” ucap prajurit yang tidak terima.
“Ah benar juga, tubuh ini belum diuji…,” sang komandan pun setuju, ia membuka seragamnnya hingga menampilkan tubuhnya yang kekar.
Prajurit yang tadi bertanya pun ditugaskan untuk menembaki tubuhnya, mereka beranjak dari meja, sedangkan prajurit lainnya berkumpul untuk melihat ‘pentas’ ini. Wakil komandan menontonnya dari jauh, dirinya juga penasaran apakah tubuh komandan kebal terhadap peluru atau tidak. Suasana hening, komandan tersenyum lebar, siap dengan situasi yang akan dihadapi.
“Tidak usah takut, aku yang perintahkan,” ucapnya pelan. “BERSIAP!” prajuritnya mengacungkan senjatanya. “TEMBAK!” terdengar suara peluru yang begitu keras.
Suara tembakan yang keras itu terdengar sampai ke tempat Dr. Geere yang sedang melakukan sambungan telepon bersama keluarganya. Tentunya hal ini membuat sang istri cemas karena suara tembakan biasa menunjukan hal yang tidak beres sedang terjadi. Tidak ingin membuat istrinya khawatir lalu pekerjaannya yang sebenarnya terbongkar, Dr. Geere menyudahi sambungan telepon lalu bergegas menuju ke sumber suara.
“Ada apa? apakah ada yang dieksekusi? Tetapi suaranya terdengar sangat jelas,” langkahnya semakin cepat.
Satu dua tembakan yang dilontarkan sama sekali tidak berefek apa-apa pada tubuh komandan. Pelurunya itu seakan terpental dan berserakan di depan kedua kakinya. Prajurit yang menembakinya itu tidak puas, ia berdalih di pertempuran tidak ada yang menggunakan pistol, semuanya menggunakan senapan. Tetapi kepercayaan komandan masih sangat tinggi, ia pun setuju dengan permintaan prajurit untuk menembakinya dengan senapan.
Dr. Geere sampai dikerumunan, ia bertanya kepada salah satu prajurit. “Hei, apa yang komandan lakukan?”
“Oh prof, komandan sedang menguji ketahanan tubuhnya, tembakan pistol tidak mempan. Kini rekanku akan mencoba menggunakan senapan.”
“Begitu kah?” Dr. Geere juga penasaran, karena uji coba yang sebenarnya belum dilakukan. Dan uji coba sederhana ini bisa menjadi acuannya.
Prajurit membawa senapan, dengan arahan komandan, rentetan peluru pun ditembakkan. Suaranya menjadi sangat bising, komandan masih saja santai dengan merentangkan kedua tangannya.
“Aku…sudah menjadi dewa….,” ucap sang komandan lirih.
Karena efek alkohol, prajurit malah menembaki kepala sang komandan, dan pelurunya malah membalik mengenainya. “Ah!” pelipisnya terkena dan mengeluarkan darah.
“Ayolah, kenapa kau sampai ceroboh begitu, lihat kan pelipismu itu terluka….,” ucap sang komandan sambil melihat prajurit yang terluka, “hei, bawa---,” komandan mematung, matanya berubah ketika melihat darah segar itu mengucur dari pelipis prajuritnya. Tubuhnya bergetar hebat, dan tanpa ia sadari, air liurnya tumpah.
69banditos dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas