Kaskus

Story

open.mindedAvatar border
TS
open.minded
ILLUSI
Quote:


Quote:


Quote:
Polling
0 suara
menurut penghuni kos disini.. kalian mau kisah gw kaya gimana? (bisa milih banyak!!)
Diubah oleh open.minded 08-01-2022 18:27
andristyle20Avatar border
vargubo86498Avatar border
nuryadiariAvatar border
nuryadiari dan 210 lainnya memberi reputasi
199
2M
5.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
open.mindedAvatar border
TS
open.minded
#4567
Place Where I Belong
Gw tekankan kedua tangan gw yang masih bergetar karena trauma ke pintu kayu yang besar didepan gw ini. Suara kayu tua berdecit keras seiring dengan terbukanya pintu kayu ini, sinar terang dari dalam ruangan itu pun perlahan menyinari muka gw, menyilaukan pandangan ini. Perlahan-lahan tampak sebuah meja makan yang sangat panjang, dan ketika gw bilang sangat panjang, berarti ini benar benar panjang. Banyak orang yang duduk di meja makan itu, kalau gw taksir ada sekitar 250 orang lebih yang semuanya pria duduk di meja makan ini, dari ujung sana yang gw gak bisa lihat orangnya seperti apa, dan sampai ujung sini, yang letaknya dekat gw, dekat pintu masuk, ada dua orang pria yang mukanya gw kenal, 2 orang pria yang sangat gw rindukan. Ayah gw dan Kakek gw.

Mereka terlihat sedang berbicara dengan orang lain yang duduk disamping dan didepan mereka, sambil memakan makanan yang terhidang di meja makan ini. Terlihat sebuah kursi kosong tersedia di sebalah kanan bokap. Gw berjalan ke arah kursi itu dan mendudukinya. Membuat perhatian Bokap dan Kakek tertuju ke gw, orang baru yang bergabung ke pesta yang kekal ini.

“Adi?” tanya Ayah saat melihat gw yang mengisi kursi kosong ini. Gw menatap Ayah dengan senyuman yang sangat lebar, gw tidak pernah merasa sesenang ini seumur hidup gw.

“Ayah. Akhirnya kita ketemu lagi hehehe.” Ucap gw ke dia.

“Anakmu An?” Tanya kakek gw disebelahnya.

“Ya anakku lah pah! Mana mungkin dia duduk disini kalau bukan keluarga kita? Hahaha.”

Kakek gw pun langsung berdiri dari duduknya. Ia mempunyai tinggi sekitar 180 cm, badannya yang kekar dan besar itu sepertinya tidak cocok dengan tampangnya yang dihiasi oleh rambut dan brewok putih. Ia berjalan ke tempat gw duduk, lalu menatap mata gw tajam. Mata nya yang hitam mengeluarkan karisma dan intimidasi yang sangat kuat, namun itu hanya berlangsung sangat sebentar karena setelah itu, hanya senyumanhangat seorang kakek yang terukir di wajahnya. Ia lalu menyelipkan kedua tangannya di ketiak gw, dan mengangkat gw seperti anak kecil.

“Cucuku!! Terakhir kali aku lihat dia waktu dia baru lahir An! Lihat dia sudah besar!” ucap Kakek sumringah.

“Makanya jangan keluyuran mulu dulu. Sampe ga pernah liat cucu sendiri.” Gerutu ayah gw.

“Adi! Hahahahaha! Adi!! Berapa umurmu?” tanya kakek gw.

“20 tahun kek.” Jawab gw.

“20 tahun?!” kakek gw kaget saat mendengar jawaban gw.
“Muda sekali. Kenapa kamu bisa udah ada disini? Apa keluarga kita dalam bahaya?” tanyanya lagi.

“Ga Kek. Aman kok.” Jawab gw singkat.

“Hahhh. Ini bukan tempat yang pas untuk reunian keluarga kecil kita. Mari kita cari tempat yang lebih privat.” Ujar kakek.
“An..” lanjut kakek gw menyuruh Ayah gw beranjak dari duduknya.

Kami pun berjalan menjauhi meja makan yang sangat panjang itu, dan gw baru sadar, di sekitar gw ini, yang hanya mempunyai interior dan cahaya, hanyalah di sekitar meja makan itu aja, diluar itu? Hanya sebuah kegelapan yang tidak ada isi. Kakek dan Ayah gw berjalan didepan gw, memimpin kemana arah kita berjalan, dan tiba tiba, kita sudah sampai di depan sebuah pintu, pintu yang tidak tersambung kemana-mana, bayangin pintu kemana sajanya doraemon, ya kaya gitu. Ayah membuka pintu itu, pintu yang menuju ke sebuah ruangan dengan nuansa coklat hangat. Man, nih alam orang mati keren juga, pikir gw dalam hati.

Ternyata pintu kemana saja itu menuju ke sebuah ruangan yang bentuknya kaya bar, bukan kaya bar lagi sih, memang bar. Ayah dan kakek gw berjalan menuju ke sebuah sofa bundar yang bentuknya menyerupai ‘U’ dengan sebuah meja di tengahnya. Kakek dan Ayah gw duduk di satu sisi dan gw duduk di sebrang mereka.

“20 tahun. Masih muda banget. Kamu udah nikah Di?” tanya kakek gw membuka pembicaraan.

“Belum Kek.”

“Hmm.. sayang sekali. Berarti keturunan darah kita berakhir, setelah sekian lama. Sayang sekali. Pasti mereka yang disana kebingungan sekarang.” Ucap Kakek gw menggelengkan kepalanya.

“Well. Itu urusan orang yang hidup Pah. Gak usah dipikirin. Yang harus dipikirin tuh, ini Adi, meninggal, tapi belum ngerasain rasanya tubuh wanita. Hehehehehe.” Ucap Ayah gak tau diri.

“Yaya. Kasian sekali cucuku ini. Masa paling indah buat seorang pria itu adalah saat sudah mempunyai istri dan anak.” Ucap kakek gw menatap gw dengan simpati.
“Cita-cita kakek punya satu anak cowok, dan satu anak cewek, sayang sekali yang keluar cowok doang, udah bandel, jelek, dekil, nyusahin lagi.” Lanjut kakek gw.

“Oy!! Maksud lo apa hah pak Tua! Lo gak ngaca siapa yang lebih ganteng disini antara lo sama gw?” teriak Ayah gw menarik kerah kakek gw.

“Heh anak setan. Lo harusnya yang ngaca! Tampang lo tuh masih inferior dari gw, anaklo aja lebih cakep!” balas kakek gw.

“Kalo gw anak setan, berarti lo juga setan, dasar begajulan!” Balas Ayah.

“Hahahahahahahaha.” Tawa gw melihat interaksi mereka.

“Udah-udah. Malu diliat ama anakmu An.” Ucap Kakek gw kayaknya baru sadar kalo sekarang ada gw.

“Jangan kaget Di. Kakekmu ini emang begini, anggep aja temen sendiri, jangan hormat-hormat amat, tar kesenengan dia.” Ayah gw menjelaskan.

“Hahahaha oke yah!! Ngomong-ngomong siapa bilang adi belum ngerasain cewek?” ucap gw sambil tersenyum.

“Hah?”
“Eh?!” suara yang dikeluarkan mereka ketika mendengar apa yang gw katakan.

“Walopun cuma satu, tapi tetap dihitung kan? Hahahaha.”

“Woaaa. Anak ayah akhirnya tertarik sama cewek juga.” Ucap Ayah terkejut.

“Hah? Emang anakmu dulu ghey?” tanya Kakek gak tau diri.

“Adi ini dari dulu apa ya bahasa cocoknya…. pemales.”

“Pemales?”

“Pemales kalo ngurusin hal-hal yang ngerepotin dan ga ada gunanya. Seperti berinteraksi dengan orang, dan juga pacaran.”

“Woaah. Kayak Kakekmu dong Di? Hahahaha bagus bagus, lelaki jantan pasti mirip satu-sama lain.” Ucap Kakek gw gak tau diri lagi.

“Lebih ke laki-laki gak tau diri sih.” Ejek ayah.
“Pasti wanita yang bikin kamu tertarik ini, adalah wanita yang spesial ya Di?” tanya Ayah.

“Spesial banget Yah. Rasanya seperti waktu sama Ayah dulu, gak membosankan.”

“Siapa namanya?” tanya Ayah.

“Valerya Valli.”

“Cantik mana, mamah kamu atau Valerya?” tanya Ayah gw.

“Ya Valli lah. Mamah lewat jauh. Kan udah Adi bilang, adi bakal nyari cewek yang bakal ngalahin mamah! Hahahaha.”

“Asem nih anak. Terus dia bakal sedih dong? Kamu meninnggal seperti ini?” tanya Ayah gw.

“Haaa. Valli udah pergi duluan yah.” Jawab gw menyandarkan badan gw di sofa ini.

“Ini ada hubungannya dengan kenapa kamu bisa kesini?” tanya Ayah gw dengan nada serius kali ini.

“Ada” jawab gw menganggguk.

“Cerita. Kalau bisa cerita seluruh kehidupan kamu sampai kamu bisa kesini.” Perintah Ayah.

“Tapi ceritanya panjang yah.” Ucap gw memperingatkan.

“Kita punya waktu selamanya disini. Kamu lupa kamu udah dimana?”

“Hehe iya.”

Gw pun menceritakan semuanya, cerita hidup gw setelah ayah meninggal. Dimulai dari kedatangan gw ke Jakarta, masa SMA gw, orang-orang di deket gw saat waktu SMA, Keputusan gw untuk ke Russia, kehidupan gw di Russia, dan tentunya, semua tentang Anastasya dan Valli. Saat gw cerita Ayah dan Kakek gw mengutarakan banyak komentar, namun kebanyakan komentar yang dikeluarkan adalah candaan khas mereka. Entah sudah berapa lama waktu gw gunakan untuk bercerita, akhirnya gw sampai di bagian akhir dimana Valli meninggal, dan kenapa gw juga bisa seperti itu. Terlihat ekspresi Ayah yang tambah serius saat mendengar part terakhir ini.

“Kemana Leo? Kalo Cuma seperti itu, Leo bisa bikin badan kamu sehat lagi kaya semula.” Ucap Ayah gw dingin.

“Ayah lupa? Adi masih masa pengasingan, belum dianggep dewasa., jadi gaboleh minta bantuan dr.Leo atau yang lain.”

“Halah itu adalah aturan tidak tertulis biar anak-anak kita mandiri. Kalau udah urusan nyawa gak ada toleransi, harus ditolong! Leo bajingan!” gw bisa merasakan amarah Ayah gw, bikin badan gw merinding.

“Well. Bukan salah dr.Leo juga. Karena Adi sengaja gak ngasih tau dr.Leo” jelas gw.

“Apa?!”

“Adi sengaja. Karena menurut Adi ini momen yang tepat.”

“Momen yang tepat apa maksud kamu?”

“Momen yang Adi tunggu yah. Untuk ketemu Ayah lagi hahahaha.”

“An. Anakmu sedeng juga.” Ucap Kakek gw.

Tiba – tiba ayah berdiri dan menarik kerah kaos gw ini. Membuat badan gw terangkat, seperti anak kecil yang tidak punya tenaga. Tamparan demi tamparan mendarat di pipi gw, kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, kanan, membuat pipi ini terasa pedas, aneh di alam kayak gini gw masih bisa merasakan sakit.

“Kamu pikir hidup itu cuma mainan hah?” tanya Ayah dengan sangat serius.

“Siapa yang bilang hidup Cuma mainan? Adi bilang kan tadi? Ini momen yang tepat, Adi mau ngorbanin nyawa Adi demi nyelametin Valli, tapi sayang gagal, dia jadi ikut mati.”

“Terus apa guna pengorbanan cewekmu itu kalau kamu ikut mati juga?” tanya Ayah.

“Pengorbanan ap-“ kata-kata gw terputus. Mengingat Valli kembali, mengingat kondisi terakhirnya, jarum-jarum yang terlepas dari dadanya, jarum yang ia paksa lepas, yang membuat dia tidak selamat, demi menyelamatkan hidup gw. Dan baru terbesit di otak semu gw ini, kalau itu adalah sebuah pengorbanan yang dibuat Valli, untuk gw.

“Hahh anakku bodoh sekali ckckckck.” Ujar Ayah melepaskan genggamannya.
“Yasudah, yang berlalu gak bisa diperbaiki lagi. Kamu udah sampai sini juga.”

“Ngatain anak bodoh, tapi sendirinya juga bodoh, cih.” Ucap Kakek gw ngeledek.

“Diam kau pak Tua!”

Waktu pun terus berjalan, dan kami terus melanjutkan obrolan kami, membahas semua yang bisa dibahas. Dan tentu saja, bukan keluarga gw namanya kalau berdiskusi tidak diwarnai dengan ejekan, konflik, dan berantem. Gw gak henti-hentinya ketawa bersama Ayah dan Kakek gw ini. Ini adalah surga buat gw.
kkaze22
sormin180
junti27
junti27 dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.