Came in from a rainy Thursday
On the avenue Thought I heard you talking softly
I turned on the lights, the TV
And the radio Still I can't escape the ghost of you
What has happened to it all?
Crazy, some'd say
Where is the life that I recognize?
Gone away
But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Passion or coincidence
Once prompted you to say
"Pride will tear us both apart"
Well now pride's gone out the window
Cross the rooftops
Run away
Left me in the vacuum of my heart
What is happening to me?
Crazy, some'd say
Where is my friend when I need you most?
Gone away
But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Papers in the roadside
Tell of suffering and greed
Here today, forgot tomorrow
Ooh, here besides the news
Of holy war and holy need
Ours is just a little sorrowed talk
And I don't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive
Every one Is my world, I will learn to survive
Any one Is my world, I will learn to survive
Any one Is my world
Every one Is my world
Bekerja di dunia teknologi seperti sekarang memiliki banyak plus-minus. Kadang traffic pekerjaan sangat tinggi, sampai-sampai hampir nggak ada waktu buat kami, para IT Support untuk duduk bersantai sambil ngopi dan ngerokok. Namun, ada kalanya saat perangkat-perangkat teknologi tengah ‘bersahabat’ hingga sama sekali nggak bikin masalah. Hal itu bikin kami sesekali jadi pengangguran, yang hanya menghabiskan waktu nonton video tutorial troubleshoot atau main solitaire pada laptop.
Saat weekend, gua sesekali mengunjungi Mas Karlan dan rekan-rekan di proyek. Hanya sekedar ingin tahu kabar mereka, sambil membawakan camilan seadanya.
Untuk urusan bayaran, jelas bekerja di tempat gua saat ini lebih menjanjikan dibandingkan dengan tempat kerja sebelumnya bersama Mas Karlan cs. Namun, seperti yang sudah gua bilang sebelumnya, disini gua nggak mendapatkan ‘kehangatan’ seperti saat bersama Mas Karlan cs.
Mendekati setahun gua bekerja di perusahaan ini, terjadi gelombang perpindahan karyawan besar-besaran. Penyebabnya adalah karena salah satu petinggi di perusahaan tempat gua bekerja, pecah kongsi dengan petinggi lainnya. Beberapa bawahan langsung salah satu petinggi ikut keluar dan kemudian bergabung dengan perusahaan kompetitor. Hal ini lalu berlanjut ke level-level di bawahnya; tak terkecuali divisi gua; IT.
Mas Ricky yang sebelumnya sangat loyal dengan petinggi yang pindah kubu, ikut ‘bedol desa’ dan masuk ke perusahaan kompetitor. Tak hanya Mas Ricky, beberapa staff It Support seperti Heri, Wawan dan beberapa rekan lain pun mengikuti Mas Ricky.
“Udah ayo lo ikut aja cad…” Ajak Heri saat ia hendak mengajukan surat pengunduran diri ke Human Resources.
Gua mulai berpikir keras. Merasa berada di persimpangan.
Jujur, saat ini gua berada di zona nyaman. Pindah kerja, artinya gua harus kembali beradaptasi dari awal. Walaupun di tempat kerja yang baru., tentu saja gua masih akan kembali bertemu dengan Mas Ricky, Heri, dan rekan-rekan yang lain. Tapi, hal itu tentu saja bukan sebuah jaminan. Buat para petinggi, atau mungkin level manajer seperti Mas Ricky bisa dipastikan bakal dapat tempat di kantor baru, namun posisi ‘kacung’ seperti gua dan Heri, belum tentu bisa mendapat tempat yang sama.
Gua menggelengkan kepala; “Gua disini aja, her…”
“Ah payah lo, cupu…” Ujar Heri, kemudian pergi.
Gelombang ‘bedol desa’ ke ‘tetangga sebelah’ nyatanya juga memiliki efek domino yang cukup destruktif. Perusahaan perlahan mulai goyah, karena sepertinya kehilangan kepercayaan karyawan yang tersisa. Sebulan setelah gelombang perpindahan karyawan terjadi, beberapa petinggi perusahaan yang lain mulai cabut satu persatu. Gosip dan kabar burung beraroma ‘busuk’ mulai beredar di seantero kantor; ‘Perusahaan mau bangkrut dan nggak sanggup bayar pesangon’.
Gosip negatif mirip seperti penyakit kusta; menular dengan cepat tanpa tahu kapan dan dimana penyebarannya berhenti. Dan nggak butuh waktu lama, gosip yang beredar semakin meluas dan menyebabkan keresahan pada para karyawan. Satu persatu karyawan yang sebelumnya loyal terhadap perusahaan keluar; Termasuk Sekar.
Untungnya jadi salah satu staff IT Support adalah; kadang kami mendapat bocoran informasi dari beberapa orang penting di perusahaan. Entah melalui obrolan yang tak sengaja kami dengar atau lewat deck presentasi yang tak sengaja kami lihat saat membetulkan proyektor di ruang meeting.
‘Dari total 1.500 karyawan, sekarang hanya tersisa 300-an orang, dan perusahaan akan me-LayOff setengah karyawan yang tersisa. Sisa karyawan akan di akuisisi oleh perusahaan agensi baru dari Singapura. Kira-kira, hal tersebut yang berhasil gua intip saat tengah memasang LED screen di ruang meeting utama di lantai 10.
Dan esoknya hal itu benar-benar terjadi. Beberapa petugas keamanan gedung terlihat berjaga di sekitar lobi lift dan pintu masuk ruang meeting.
Seluruh karyawan dikumpulkan di ruang meeting utama di lantai 10. CEO perusahaan lalu mengumumkan bahwa perusahaan pailit. 250 orang karyawan akan di Lay-Off dengan dibayarkan tunjangannya sesuai masa kerja. Puluhan karyawan yang sebelumnya duduk manis menatap ke layar, mulai berteriak ‘boooo…’, sebagian ada yang terlihat shock dan menangis, sisanya pasrah.
Sementara, gua nggak punya kesempatan untuk shock, sedih, ataupun pasrah. Karena harus segera mendata laptop milik karyawan yang kena layoff.
Tiga hari berikutnya, gua sama sekali nggak pulang bahkan keluar dari kantor. Karena harus mendata 200 unit laptop yang dikembalikan, sementara staff IT yang tersisa, hanya gua dan Wawan.
Tepat di hari ketiga, seorang manajer HR datang dan masuk ke ruang IT yang kini terlihat berantakan. Ia menatap gua dan Wawan yang bekerja hanya dengan menggunakan kaos, karena belum pulang dan nggak punya baju ganti. Jadi, gua dan Wawan memutuskan mencuci kemeja kami di wastafel dan menjemurnya di outdoor AC yang terletak di balkon. Ia terlihat berdiri sambil memegang amplop besar berwarna coklat.
Gua dan Wawan saling senggol. Sebelumnya, sudah ada tebak-tebakan mengenai nasib kami berdua. Apakah akan kena pemecatan juga? kalau iya, apes banget!
“Abian Richard…” Panggil manajer HR, gua maju dan mendekat. Ia lalu menyerahkan amplop coklat besar ke gua. Kemudian memanggil nama Wawan dan melakukan hal yang sama. Setelah menyerahkan amplop tersebut, ia lalu duduk di salah satu kursi kosong yang paling dekat dengan pintu ruangan.
“Itu, Job Offering baru.. Seperti yang kalian udah tau, perusahaan kita pailit. SDM yang tersisa bakal dialihkan ke perusahaan agency, termasuk kalian. Di situ sudah ada jumlah gaji yang bakal kalian terima kalau setuju sama offer-nya…” Ia menjelaskan.
Gua dan Wawan buru-buru membuka amplop dan melihat ke bagian gaji yang ditawarkan. Kemudian kami berdua saling tatap; “Lumayan naek 200rb”. Nggak pake mikir lama, gua dan Wawan buru-buru tanda tangan dan mengembalikan dokumen tersebut ke manajer HR.
—
“Lo tau di lobi bawah ada tempat kopi baru?” Tanya Wawan begitu masuk ke dalam ruangan.
“Tau…” Jawab gua singkat.
“Udah nyobain?” Tanyanya lagi. Yang lalu gua jawab dengan gelengan kepala.
“Yuk, nyobain…” Tambahnya.
“Mahal nggak?” Tanya gua, sementara tatapan masih belum berpaling dari layar laptop.
“Ya kalo dibandingin sama kopi sepeda di belakang; Mahal lah…”
“Nggak ah…” Jawab gua. Enggan menghabiskan uang hanya untuk segelas kopi.
“Gua beliin…” Ucap Wawan, sambil berdiri di belakang dan menepuk pundak gua. Sejak proses akuisisi perusahaan, Wawan yang notabene bekerja lebih lama dari gua lalu diangkat menjadi Supervisor IT, sementara gua menjadi satu-satunya anak buah yang ia miliki.
Kami masih bekerja di gedung yang sama, hanya saja kali ini perusahaan tempat kami bernaung berbeda. Sekarang, perusahaan baru kami hanya menempati satu lantai; yaitu lantai 8, sisa lantai yang ada disewakan atau dijual kepada perusahaan-perusahaan lain.
Perusahaan baru tempat kami bernaung sekarang merupakan sebuah agensi advertising yang sebelumnya hanya sebuah agensi kecil rumahan yang berisi oleh setidaknya 20 orang. Konsep yang diusung perusahaan ini pun terbilang sedikit berbeda dan unik; Yaitu hanya membantu bisnis rumahan dengan budget terbatas atau UMKM.
Mungkin karena perbedaan dan keunikannya tersebut, perusahaan ini mendapat suntikan dana dari venture asal Singapura.
Saat ini, setelah proses akuisisi, total karyawan yang berada dibawah naungan perusahaan ini; 100 orang. Hal ini gua ketahui dari total data pengadaan laptop yang gua terima.
“Ayok…” Gua merespon sambil meraih sweater yang tergantung di sandaran kursi.
“Luar biasa… kalo gratis langkah tegap maju jalan yah…” Ucap Wawan sambil menggelengkan kepalanya.
Wawan berdiri terdiam, menatap ke arah antrian yang mengular hingga keluar dari Coffee Shop yang berada di lobi kantor. Maklum, karena baru saja buka, mereka bikin promo gede-gedean. Gua melirik ke arah Wawan setelah melihat standing banner bertuliskan ‘Promo Beli 1 Gratis 1’. Pantes, dia mau traktir gua.
“Lo yang beli deh, cad…” Ucap Wawan sambil mengeluarkan dompet dari dalam saku belakang celananya.
“Ok, berarti gua bebas milih kopinya…” Respon gua sambil menadahkan tangan.
Wawan dengan cepat kembali memasukan dompet ke dalam saku celananya: “Gua aja dah… Ntar lo milih kopi yang mahal lagi..” Ucapnya khawatir, kemudian bergegas menuju ke antrian.
“Gua nunggu diatas ya?” Tanya gua ke Wawan.
“Enak aja.. Tunggu disini…” Jawab Wawan kesal.
Gua lalu memandang sekeliling, mencari kursi kosong untuk menunggu. Pandangan gua lalu tertuju pada satu kursi kosong yang baru saja ditinggalkan penggunanya. Gua buru-buru menuju ke sana dan langsung duduk.
Sejatinya, meja yang gua tempati saat ini memiliki sepasang kursi. Namun, sepertinya kursi satu lagi digunakan oleh pelanggan yang duduk bergerombol di meja sebelah. Saat tengah menunggu, mata gua tertuju pada sosok perempuan yang berjalan mendekat. Kepalanya tertutup seluruhnya dengan hoodie sweater putih yang ia kenakan, sementara celana denim selutut dan sneakers biru melengkapi penampilannya yang lebih cocok untuk pergi ke mall daripada ke kantor.
“Lo nggak mau ngasih duduk gw?” Tanyanya sambil berdiri tepat di depan gua, sementara kedua tangannya dimasukkan kedalam saku sweater.
Gua mendongak, menatap wajahnya yang familiar.
“Hah?”
“Lo nggak mau ngasih duduk gw?” Ia mengulang pertanyaannya.
Gua lantas berdiri dan mempersilahkan dia untuk menempati kursi yang sebelumnya gua duduki.
Ia duduk, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku sweaternya; “Lo masih nyimpen nomer gw?”
“Masih…” Jawab gua singkat.
“Kenapa nggak pernah nelpon?” Tanyanya, tanpa menatap wajah gua.
“...”
“... Ok, nggak usah dijawab… Lo kerja disini?”
“Iya..” Jawab gua.
“Lo ngapain disini?” Kali ini gantian gua yang bertanya.
“Menurut lo?”
“Nggak mungkin kerja kan?” Ucap gua, meragukan tujuannya kesini setelah melihat outfit yang ia kenakan.
Ia nggak menjawab pertanyaan gua. Lalu mendongak dan menatap gua; lama.
Sosok pria berwajah rupawan, dengan setelan necis ala cowok kantoran metropolis, mendekat dan menghampiri kami. Ia membawa dua gelas besar kopi dalam gelas plastik dengan bentuk cembung pada bagian atasnya.
“Siapa?” Tanya pria itu, sambil menatap gua.
Ia terdiam nggak menjawab. Kemudian berdiri, meraih salah satu kopi dari genggaman pria necis tadi kemudian pergi.
“Res…” Gua memanggil namanya begitu ia sedikit menjauh. Ia menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah gua.
“Ntar gua telpon…” Ucap gua sambil memperagakan bentuk gagang telpon dengan menggunakan ibu jari dan kelingking.
“Nggak usah…” Jawabnya ketus, kemudian pergi.
—
Menjelang istirahat makan siang, gua mengabaikan ajakan Wawan untuk turun kebawah untuk membeli makan. Gua duduk bersandar, sambil menatap ponsel yang layarnya menampilkan nama Resti, sementara jari gua sudah siap menekan tombol panggil.
Namun, keraguan terus menyelimuti hati gua. Buat gua; bertemu atau berhubungan dengannya hanya membangkitkan kenangan tentang masa lalu. Wajahnya, gerak-geriknya, suaranya bahkan gaya bicaranya sangat mirip dengan Larissa.
‘Ah peduli setan!’ ucap gua dalam hati, kemudian menekan tombol panggil pada ponsel.
Nada sambung terdengar cukup lama, hingga akhirnya suaranya memecah keheningan; “Halo… kan udah gw bilang nggak usah nelpon…”
“Tapi, kan lo tadi nanya; Kenapa gua nggak pernah nelpon elo…” Gua merespon.
“Ya kan gw cuma nanya, kenapa lo selama ini nggak pernah nelpon.. Bukan nyuru elo untuk nelpon..” Ucapnya galak.
“Yaudah, sorry…” Gua meminta maaf kemudian mengakhiri panggilan.
Gua menunduk, meletakkan kepala diatas meja. Merasa menyesal setelah akhirnya memutuskan untuk menelponnya. “Hah, tau gitu tadi mending nggak usah nelpon” Gua bicara pada diri sendiri.
Masih dengan perasaan gundah, karena harga diri seperti digadaikan akibat telepon yang di tolak Resti, gua akhirnya memutuskan untuk menyusul Wawan ke bawah; makan siang.
“Dimana?” Tanya gua ke Wawan melalui ponsel.
“Kang nasgor…” Jawabnya singkat.
“Rame nggak?” Tanya gua lagi, memastikan situasi. Kayaknya gua bakalan mencari tempat makan lain, jika tukang nasi goreng tempat Wawan berada ramai.
“Sepi…” Jawabnya.
Gua mengakhiri panggilan dan bergegas menyusulnya. Sambil menyusuri gang kecil di belakang kantor, gua meraih bungkusan rokok dari saku kemeja gua dan mulai menyulut salah satunya. Lokasi tukang nasi goreng yang dimaksud oleh Wawan, berada cukup jauh di ujung gang. Walaupun rasanya enak dan harganya murah, namun karena posisinya yang nggak cukup strategis, membuat tukang nasi goreng ini kerap sepi pelanggan. Ya, buat orang-orang kayak gua yang memang sengaja mencari tempat sepi dan tenang buat menghabiskan waktu istirahat, jelas tempat tersebut merupakan pilihan yang tepat.
Ponsel dalam saku gua berdering. Gua mencoba menutupi ponsel dengan telapak tangan, menghindari pantulan cahaya yang mengaburkan layar. Samar, terlihat nama Resti. Buru-buru gua menjawab panggilannya.
“Halo…” Sapa gua.
“Mau ngomong apa tadi?” Tanyanya, kali ini nada bicaranya lebih lembut dan tenang. Jauh berbeda dengan sebelumnya.
“Mmmm… apa ya? nggak ada sih sebenernya… cuma penasaran aja”
“Penasaran sama apa?”
“Sama elo, sama kabar lo…” Jawab gua.
“Gw baik… Lo gimana?”
“Gua? ya gini-gini aja..”
Kami berdua lalu terdiam. Hingga akhirnya Resti kembali angkat bicara; “Sekar apa kabar?”
“Sekar? kenapa nanya ke gua?”
“Lah, she’s your girlfriend…”
“She was…” Gua menjawab singkat.
“Wait, what? Lo udah putus?” Tanyanya.
“Iya…”
“Well, Sebenernya ada yang mau gw obrolin sih ke elo…” Ucapnya pelan.
“Apa?”
“Nanti aja, kalo kita ketemu…”
“Kenapa nggak sekarang?” Tanya gua penasaran.
“Nggak, gw mau ngeliat ekspresi lo langsung. Gw pengen liat penyesalan lo yang mendalam…” jawabnya
“Kapan mau ketemu?” Tanya gua lagi, semakin penasaran
“Nggak tau, mungkin besok, mungkin lusa, kalo gw lagi ada waktu, dan mood gw lagi baik…”
“Well, okay..” Jawab gua pasrah. Ia sukses besar membuat gua penasaran.
Sisa hari itu, gua nggak enak makan, susah tidur dan bahkan ngerokok pun rasanya getir, Gara-gara kata-katanya tadi; “Gw pengen liat penyesalan lo yang mendalam”. Yang terus menerus mengganggu pikiran gua.
—
Beberapa hari kemudian, masih belum ada kabar dari Resti. Entah berapa kali dalam sehari gua bolak-balik mengecek ponsel gua, hanya untuk melihat adakah pesan masuk atau panggilan tak terjawab darinya.
“Ngapain sih lo dari kemaren gua perhatiin bolak-balik ngecek HP?” Tanya Wawan penasaran.
Sebelumnya, selama hidup, gua belum pernah merasa se-tersiksa ini akibat rasa penasaran.
Baru saja, gua kembali memasukkan ponsel ke salam saku celana, saat ia mulai berdering dan bergetar. Buru-buru, gua meraih ponsel dan menjawabnya, bahkan tak lagi sempat melihat nama penelpon.
“Halo…”
“Ntar lo balik jam berapa?” Tanya Resti dari ujung sana.
“Jam 5-an..” Jawab gua singkat.
“Yaudah gw jemput jam 7…” Ucapnya memberikan informasi singkat kemudian mengakhiri panggilan.
Sometimes Love Just Ain't Enough - Patty Smyth ft. Don Henley
Now, I don't want to lose you
But I don't want to use you
Just to have somebody by my side
And I don't want to hate you
I don't want to take you
But I don't want to be the one to cry
And that don't really matter
To anyone anymore
But like a fool I keep losing my place
And I keep seeing you walk through that door
But there's a danger in loving somebody too much
And it's sad when you know it's your heart you can't trust
There's a reason why people don't stay where they are
Baby, sometimes love just ain't enough
Now, I could never change you
I don't want to blame you
Baby, you don't have to take the fall
Yes, I may have hurt you
But I did not desert you
Maybe I just want to have it all
It makes a sound like thunder
It makes me feel like rain
And like a fool who will never see the truth
I keep thinking something's gonna change
But there's a danger in loving somebody too much
And it's sad when you know it's your heart you can't trust
There's a reason why people don't stay where they are
Baby, sometimes love just ain't enough
And there's no way home
When it's late at night and you're all alone
Are there things that you wanted to say
And do you feel me beside you in your bed
There beside you where I used to lay
And there's a danger in loving somebody too much
And it's sad when you know it's your heart they can't touch
There's a reason why people don't stay who they are
Baby, sometimes love just ain't enough
Baby, sometimes love, it just ain't enough