Galih berdiri mematung di tengah tengah halaman yang tak begitu luas itu. Ia sedikit bimbang akan apa yang harus ia lakukan sekarang. Begitu tiba di rumah itu tadi, Anjar langsung masuk begitu saja kedalam rumah, tanpa mengajaknya. Bahkan sekedar menyuruhnya duduk di lincakyang ada di teraspun tidak. Ah, Anjar, kau benar benar belum berubah, Galih tersenyum, samar.
Senyum yang hanya mampu bertahan sesaat, karena begitu melihat keadaan rumah yang sangat tak layak itu, senyum Galih langsung memudar, dan berganti dengan rasa trenyuh.
Bagaimana tidak! Rumah berlantai tanah dengan dinding gedhek anyaman bambu itu, sama seperti kebanyakan rumah di desa itu, terlihat sangatlah bobrok. Dinding dinding anyaman bambunya telah koyak dan berlubang bekas dimakan rayap. Sebagian ditambal sekenanya dengan sisa sisa kain rombeng, sebagian dibiarkan menganga begitu saja, sehingga kalau ada orang atau binatang binatang liar yang iseng, bisa saja menerobos masuk dengan sangat mudahnya.
Pintu dan jendelanyapun demikian adanya. Keropos disana sini dan bertambal tambal sedemikian rupa. Jelas itu adalah hasil karya tangan terampil Anjar. Salah satu jendela bahkan sudah tak berdaun lagi, hanya dtutup dengan karung goni bekas yang dipakukan secara serampangan pada ambangnya.
Di bagian atap, nampak jelas sorot cahaya dari lampu senthir dari dalam rumah yang menerobos keluar dari lubang lubang yang tercipta oleh genteng yang telah bergeser dari tempatnya. Andai hujan turun, Galih yakin, Anjar pasti akan dibuat sibuk untuk menampung air hujan yang bocor masuk ke rumahnya dengan ember ataupun baskom.
Posisi rumah itu juga sudah tak tegak lagi. Sedikit miring kekiri beberapa derajat, tinggal menunggu waktu saja untuk nanti roboh dan menimpa penghuninya.
Ah, Anjar, bagaimana kau bisa bertahan hidup dengan keadaan yang seperti ini? Andai ada laki laki di rumah ini, tentu keadaannya akan sedikit lain. Andai...
"Hey! Kenapa malah bengong disitu?" suara Anjar yang terdengar bersamaan dengan munculnya kepala anak itu di sela sela pintu membuyarkan lamunan Galih.
"Kau tak menyuruhku masuk," jawab Galih dengan polosnya.
"Lupa!" Anjar membuka pintu semakin lebar. "Masuklah!"
"Disini saja Njar," Galih menuju ke arah lincak yang ada di teras, lalu duduk diatasnya. Terdengar suara berisik berkeriyet saat pantat Galih menimpa permukaan lincak itu, menandakan bahwa tempat duduk dari bambu itu sudah sama reotnya dengan rumah ini. "Lebih enak diluar, hawanya sejuk dan adem!"
"Hmmm, terserah kau lah!" Anjar kembali menghilang kedalam rumah, lalu tak lama kembali keluar dengan menenteng ceret dengan gelas yang dicantelkan pada moncongnya, serta sepiring kaleng jagung rebus, yang kesemuanya lalu diletakkan disamping Galih. Hanya diletakkan begitu saja, tanpa basa basi atau mempersilahkan Galih untuk mencicipinya.
"Jadi..." Anjar ikut duduk diatas lincak reot itu. Galih terjingkat, karena tempat duduk dari bambu itu sedikit bergoyang saat Anjar duduk. Ia takut lincak itu tiba tiba roboh karena tak sanggup menahan beban tubuh mereka berdua.
"Kenapa kau masih disini?" lanjut Anjar dengan wajah menunduk. Dengan kerudung yang sepertinya sengaja dipasang agak kedepan, membuat Galih sedikit kesulitan untuk melihat wajah Anjar. Sepertinya Anjar sengaja, untuk menutupi wajahnya yang kata orang sedikit menyeramkan itu.
"Kenapa?" Galih mengerutkan keningnya. "Bukankah kau tadi yang mengajakku kesini?"
"Bukan itu maksudku!" sentak Anjar. "Tapi kenapa kau masih di desa ini? Bukankah kemarin aku sudah menyuruhmu untuk pergi?"
"Hei! Ini desaku Anjar! Kau tak berhak untuk mengusirku...."
"Bukan mengusir, tapi memperingatkan!" ralat Anjar.
"Memperingatkan?" Galih kembali mengernyitkan dahinya. "Memperingatkan dari apa?"
"Dari hal hal buruk yang akan menimpamu, kalau kau masih tetap bertahan di desa ini!"
"Hal buruk? Hal buruk yang seperti apa maksudmu?"
"Entahlah!"
"Entahlah?"
"Nenekku yang bilang! Dan hampir semua yang dikatakan oleh nenek, biasanya benar!"
"Jadi benar, nenekmu itu bisa meramal?"
"Entahlah!"
"Entahlah?"
"Setauku, nenek memang beberapa kali mengatakan hal hal yang ternyata benar benar terjadi di kemudian hari! Dan kau tau? Jauh sebelum kedatanganmu kembali ke desa ini, nenek sudah bilang bahwa kalian akan kembali. Karena itu, saat kalian datang dan nenek bilang kalau kalian akan celaka jika kalian tetap tinggal di desa ini, aku jadi khawatir, dan mencoba untuk memperingatkanmu!"
"Hmmm, seperti itu ya?" Galih menggumam. "Kukira kemarin kau melakukan itu hanya sekedar untuk menakut nakutiku saja.'
"Menakut nakutimu?! Apa untungnya buatku?"
"Ya siapa tau aja kamu masih benci sama aku!"
"Cih! Aku bukan anak kecil lagi, yang bisa membenci orang hanya karena merasa tersaingi."
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Soal ayahku! Aku tau, kalian, kau dan nenekmu itu, juga sebagian besar warga desa ini, sangat membenci ayahku. Aku minta maaf soal itu. Karena ayahku...."
"Bodoh!" Anjar mendengus. "Bagaimana bisa kau berpikir bahwa aku dan nenekku membenci ayahmu?"
"Lho, bukannya dulu...?"
"Ya. Dulu nenekku memang sempat kesal kepada ayahmu, karena jiwa nenek sedang terguncang akibat kehilangan ayah dan ibuku, juga aku. Tapi perlu kau tau Galih, setelah kematian ayah dan ibumu, nenek mengalami guncangan jiwa yang lebih hebat lagi. Rasa bersalah terhadap kedua orang tuamu, ditambah rasa berduka akibat hilangnya ayah dan ibuku, membuat nenek menjadi..., gila!"
"Gila?"
"Ayolah! Kau pasti sudah tau, bahwa hampir semua warga desa ini menganggap nenekku gila! Rasa bersalah karena merasa bahwa secara tidak langsung neneklah yang menyebabkan kedua orang tuamu dulu mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis, serta penyesalan karena sebelum nenek sempat menebus kesalahannya kalian sudah diboyong pergi ke kota, membuat nenek benar benar terguncang saat itu! Dan sejak saat itulah, nenek sering melakukan hal hal yang..., aneh!"
"Aneh?"
"Kau pasti tau lah! Si Prapto itu, pasti sudah bercerita banyak padamu!"
"Ya. Memang Prapto sudah banyak bercerita. Tapi aku tak sepenuhnya percaya, sebelum kau sendiri yang menceritakannya."
"Ayahmu itu, Pakdhe Marsudi maksudku! Seharusnya aku berterimakasih padanya. Karena berkat ayahmu, kedua orang tuaku mungkin masih bisa selamat sampai sekarang, kalau saja ayahku bukanlah orang yang keras kepala!"
"Maksudmu?" tanya Galih penasaran. Bagian yang ini, sepertinya sangat menarik, dan bisa membuka tabir tentang rahasia kematian orang tuanya.
"Perlu kau tau Galih! Beberapa hari sebelum malam penggerebekan itu, ayahmu sempat menemui ayahku, dan menyuruh ayahku untuk sementara waktu bersembunyi di gunung, karena desa ini akan digerebek. Tapi ayahku yang keras kepala tak mempercayainya. Hingga saat malam naas itu tiba, ayahmupun masih datang sebagai pahlawan. Ia mendahului tentara tentara yang lain mendobrak rumahku, dan menyuruh kami lari ke gunung lewat pintu belakang. Sayangnya, meski ayahmu telah berusaha mati matian untuk menyelamatkan keluargaku, bahkan sampai mempertaruhkan posisinya sebagai anggota tentara, usaha ayahmu sepertinya sia sia. Beberapa orang memergoki kami yang lari ke gunung. Kami dikejar, dan...." Anjar menghentikan sejenak ceritanya. Kedua tangannya sibuk menyeka air mata yang mulai meleleh di kedua sudut matanya. Ya! Anjar menangis. Gadis keras kepala yang selalu terlihat tegar itu menangis!
"Sudahlah!" Galih memberanikan diri mengusap bahu Anjar, berusaha menenangkan gadis itu. "Tak perlu kau ceritakan, kalau itu hanya akan menguak luka lama di hatimu."
"Tidak Galih!" Anjar menahan isaknya. "Kau harus tau semuanya! Aku harus menceritakan semuanya, demi meluruskan kesalahpahaman diantara kita. Mungkin hanya aku seorang yang selamat dari sekian banyak orang yang lari ke gunung waktu itu. Karena itu, aku merasa sangat berkewajiban untuk menceritakan apa yang terjadi di atas gunung waktu itu, agar almarhum Pakdhe Marsudi tidak selamanya dipersalahkan dan bisa beristirahat dengan tenang di alam sana!"
Galih terdiam sesaat. Ia tak menyangka, Anjar ternyata menyimpan rahasia besar selama ini. Rahasia yang hanya akan ia ceritakan kepadanya sebagai anak keturunan Marsudi.
"Saat itu," Anjar melanjutkan ceritannya. "Saat itu suasana sangatlah mencekam! Kami berlari di tengah kegelapan, di medan yang sama sekali tak kami kenal, dengan beberapa orang orang beringas yang mengejar kami bagai orang mengejar hewan buruan. Mereka itu, orang orang yang mengejar kami, bukanlah tentara seperti ayahmu! Maksudku, hanya segelintir dari mereka yang mengenakan seragam dan menyandang bedil. Selebihnya, adalah orang orang biasa yang entah darimana asalnya. Berpakaian serba gelap dengan membawa senjata seadanya. Golok, arit, pedang, pentungan, dan entah apa lagi! Bukan senjata senjata mereka yang membuat kami takut, tapi keberingasan mereka. Mereka berteriak teriak bagai orang kesurupan, 'BUNUH! BUNUH! HABISI SEMUA ORANG ORANG G*ST**U ITU! JANGAN SAMPAI ADA YANG LOLOS!' Kau tau seperti apa ketakutan kami waktu itu Galih? Seperti hewan buruan yang siap dibantai! Kami berlari berserabutan kesegala arah, diantara teriakan teriakan caci maki, letusan senjata, dan peluru yang berdesingan di medan gunung yang masih perawan itu. Satu persatu, kami yang lari mulai tertangkap dan dibantai. Teriakan kesakitan dan jerit kematian, aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Ayahku yang tengah menggendongku, terus berlari ke arah puncak. Ibuku, terpisah entah kemana. Sampai akhirnya, pelarian ayahku terhenti saat seorang laki laki dengan golok terhunus menerjang ayahku dari belakang hingga jatuh bergulingan! Lalu..., lalu...."
Anjar kembali menyeka air matanya yang terus membanjir. Isaknya terdengar jelas kini, membuat Galih menjadi salah tingkah, tak tau apa yang harus ia lakukan.
"Lalu, ayah melemparku jauh ke tengah semak semak. Benar benar dilempar, seperti orang melempar sampah. Dan dari balik semak itulah, masih sempat kudengar ayahku berteriak menyuruhku untuk lari. 'Lari! Lari sejauh mungkin anakku! Selamatkan dirimu! Maafkan ayah yang..., arrgghhh...!!! Maafkan ayah yang tak bisa melindungimu! Arrrggghhh...!'"
"Aku menangis waktu itu Galih! Benar benar menangis tanpa suara. Hanya air mata yang membanjir di wajahku. Dan dari balik derai air mata yang membuat pandanganku mengabur, samar samar bisa kulihat ayahku terus berjibaku dengan laki laki yang secara membabi buta mengayun ayunkan goloknya ke tubuh ayahku yang sudah tergeletak tak berdaya itu. Bau amis darah seketika menyeruak ke indera penciumanku, membuatku sadar bahwa tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan ayahku. Apalagi laki laki itu kini berdiri dan menatap bengis ke arah semak semak tempatku berdiri dengan golok yang telah bersimbah darah terhunus di tangannya. Lari! Hanya itu yang terbersit di pikiranku saat itu. Lari secepat dan sejauh mungkin untuk menyelamatkan diriku, tanpa berpikir lagi kemana aku harus lari di tempat yang gelap dan asing itu, hingga akhirnya, saat orang itu hampir berhasil menangkapku, jurang menganga di hadapanku menyelamatkan hidupku!"
"Jurang?!" desis Galih.
"Ya! Entah apa yang ada dipikiranku waktu itu! Aku lebih memilih untuk melompat kedalam jurang daripada harus tertangkap oleh laki laki yang haus darah itu. Beruntung, mungkin Tuhan belum mengijinkan aku untuk mati malam itu. Tubuhku tersangkut disebuah akar pohon yang menjorok keluar di tebing jurang, hingga tubuh kecilku selamat dari ancaman batu batu padas yang siap menungguku di dasar jurang sana. Di tebing jurang itulah aku mendapatkan luka ini!" Anjar menunjukkan bekas luka dibawah mata kirinya.
"Lalu, bagaimana kau bisa selamat dan kembali ke desa ini?" tanya Galih pelan.
"Cukup panjang perjuangan yang kulalui waktu itu," lanjut Anjar. "Aku bertahan di tebing jurang itu hampir semalaman. Meringkuk sambil memeluk tonjolan akar itu hingga pagi hampir menjelang, menahan rasa sakit dan takut, berusaha untuk tetap sadar dan tak sampai pingsan, hingga saat fajar menyingsing di ufuk timur, dan aku benar benar yakin bahwa orang orang beringas itu telah pergi, aku berusaha merangkak ke atas tebing, berpegangan pada apa saja yang sekiranya bisa menahan tubuhku, dengan sisa sisa tenaga yang kumiliki. Bukan usaha yang mudah, mengingat usiaku yang baru sepuluh tahun. Beberapa kali aku nyaris tergelincir dan jatuh. Hanya keajaibanlah yang membuatku bisa berhasil selamat. Berhari hari, berminggu minggu, bahkan mungkin berbulan bulan, aku terlunta lunta ditengah belantara di puncak gunung sana. Rasa sakit, lelah, takut, haus, dan lapar, membuatku tak yakin aku bisa bertahan. Aku memakan apa saja yang bisa kumakan untuk bisa bertahan hidup. Buah buahan hutan, umbi umbian, bahkan pucuk pucuk dedaunan muda sedikit bisa menyelamatkanku dari kelaparan. Minum hanya bisa menunggu hujan yang turun, karena memang tak ada mata air diatas gunung sana. Kau tau Galih, saat itu aku hampir mati, kalau saja tidak lagi lagi diselamatkan oleh keajaiban. Suatu ketika, saat aku sudah benar benar putus asa, kehabisan tenaga dan harapan, aku terkapar pasrah, menyandar pada batang pohon, siap menunggu ajal yang sepertinya sudah siap untuk menjemputku, disaat itulah samar samar aku seperti mendengar suara suara yang memanggil namaku. Harapanku kembali bangkit. Dengan sisa sisa kesadaranku, aku merangkak, benar benar merangkak karena sudah tak sanggup lagi untuk melangkah, berusaha menuju ke arah asal suara itu. Hingga akhirnya, saat aku tiba di dua buah gundukan makam tua yang ada diatas gunung itu, kulihat nenekku tengah bersimpuh didepan kedua makam tua itu, sambil menangis dan memanggil manggil namaku. Aku yang begitu gembira karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan nenekku, berusaha berteriak untuk memanggilnya. Namun mungkin karena kondisiku yang sudah benar benar payah, aku justru jatuh pingsan dan tak ingat apa apa lagi. Sampai saat aku sadar, aku sudah berada di rumah dan dirawat oleh nenekku."
"Jadi, kau juga tau soal dua makam tak bertuan di atas gunung sana itu?" tanya Galih lagi.
"Ya. Awalnya nenekku yang pertamakali menemukan kedua makam itu. Beberapa hari setelah penggerebekan itu, nenekku berusaha mencariku, juga ayah dan ibuku, ke atas gunung. Berhari hari, berminggu minggu, sampai berbulan bulan, melakukan pencarian tanpa hasil tak lantas membuat nenekku menghentikan pencariannya. Setiap hari, ia naik turun gunung hanya untuk mencari keluarganya, sampai sampai warga desa menganggapnya telah gila akibat kehilangan anak, cucu, dan menantunya. Sampai nenekku menemukan dua makam tua itu, setiap hari nenek menziarahinya, sambil berdoa dan memohon agar bisa dipertemukan kembali dengan anak cucu dan menantunya. Terdengar aneh memang, berdoa dan memohon didepan makam yang bahkan nenek tidak tahu makam siapa itu. Namun doa nenekku sepertinya tak sia sia, terbukti ia akhirnya bisa menemukanmu, meski tidak dengan ayah dan ibuku. Sejak saat itu sampai sekarang, nenek masih sering naik ke puncak sana, sekedar untuk berziarah, dan berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengan ayah dan ibuku."
"Luar biasa!" entah sadar atau tidak, Galih menggenggam tangan Anjar, membuat gadis itu merasa jengah.
"Galih! Apa apaan kamu?!" sentak Anjar sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Galih. Namun Galih justru mempererat pegangan tangannya.
"Anjar! Aku salut padamu! Aku bangga! Sungguh, apa yang barusan kau ceritakan itu telah membuatku sadar! Selama ini, aku merasa menjadi orang yang paling menderita akibat kehilangan kedua orang tuaku! Kau tau? Aku sampai mengalami trauma yang sangat mendalam, karena selalu mengalami mimpi buruk tentang masa laluku! Namun setelah kau menceritakan apa yang telah kau alami di masa lalu itu, aku sadar, bahwa ternyata penderitaan yang kualami, tak ada apa apanya jika dibandingkan dengan penderitaan yang kau alami! Anjar! Maaf, aku..."
"Sudah ah!" Anjar menepis tangan Galih yang masih saja menggenggam tangannya. "Jangan berlebihan begitu!"
"Hehe, maaf! Aku terbawa suasana," ujar Galih sambil melepaskan tangannya. "Eh, tapi, apa kau tak mengkhawatirkan nenekmu itu Njar? Maksudku, beliau sudah semakin sepuh, dan naik turun di gunung yang..."
"Yach, mau gimana lagi! Kau tau sifat nenekku, dia itu, kalau sudah punya kemauan, mustahil untuk dicegah. Sama seperti kamu! Kadang aku berpikir, sifat nenekku itu menurun kepadamu."
"Lho, kok aku sih? Bukannya kamu yang cucunya...."
"Kau pikir kau bukan cucunya?"
"Aku kan cuma cucu jauh!"
"Sama saja!"
"Bedalah! Kau lebih keras kepala dariku! Dan kau perempuan! Jadi kaulah yang mewarisi sifat Mbah Pariyem itu! Bukan aku!"
"Eh, berani kau....!"
"Anjaaaarrr...!!!" suara serak Mbah Pariyem menyela perdebatan kedua kakak beradik sepersepupuan itu.
"Nenekku memanggil! Aku harus masuk! Kau pulanglah!"
"Eh, kau mengusirku?"
"Bukan mengusir! Lagian hari sudah malam! Kau...."
"Aku mau bertemu nenekmu dulu!"
"Tidak untuk sekarang!"
"Kenapa?"
"Kujelaskan juga kau tak akan mengerti!"
"Aku juga cucunya Njar!"
"Kubilang tidak sekarang!"
"Kenapa?"
"Pemuda terakhir yang berani mengunjungiku ke rumah ini, pulang dengan kaki pincang akibat beradu dengan tongkat nenekku! Kau mau bernasib sama dengan pemuda itu?"
"Tapi kan...."
"Kubilang tidak untuk sekarang! Pulanglah!"
"Iya iya, aku pulang!" Galih berdiri dan melangkah ke halaman. Anjarpun juga beranjak untuk masuk. Namun seruan Galih menahan langkah gadis itu. "Njar, terimaksih untuk ceritamu tadi ya. Kita menjadi saudara lagi kini!" ujar Galih tulus.
"Hmmm....!" Anjar hanya mendehem.
"Terimakasih juga untuk suguhannya, meski aku belum sempat mencicipinya."
Anjar mendelik.
"Dan satu lagi Njar, cepat cepatlah kau cari suami, agar ada yang membantumu untuk mengurus rumahmu yang terbengkalai ini!"
"KAU....!!!"
"Hahaha...! Aku pulang Njar! Besok aku main kesini lagi!" Galih berseru sambil berlari menjauh, karena Anjar telah siap melemparkan sendalnya untuk membalas ucapannya tadi.
"Galiihh...! Pertimbangkan kembali peringatanku yang kemarin itu!" Anjar berteriak meski sosok Galih sudah tak terlihat olehnya lagi. Tak ada jawaban.
"Dasar keras kepala!" Anjar mendengus keras, lalu masuk kedalam rumah dan menutup pintu dengan sedikit kasar.
Bersambung