- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.8K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#666
Part 83 - Fall for You
Teriknya kota atlas menemani perjalanan gua sepulang sekolah. Jaket hoodie yang gua kenakan menambah gerah pada badan ini.
Agak dilema bagi pelajar STM di sini perihal penggunaan outer. Dimana kalau pake jaket jadi gerah, kalo ngga pake jaket keselamatan jadi terancam.
Gua berani bersaksi, bahwa gerahnya semarang melebihi jakarta.
Saat gua ada proyek perencanaan di daerah cijantung, gua masih betah nongkrong lama-lama di warung makan yang plafond nya pendek pada siang bolong. Sedangkan di Semarang, lu nongkrong di teras McD pun keringetan!
Entahlah, gua juga bingung kenapa Semarang udah kayak simulasi panasnya neraka. Mungkin gara-gara banyak penebangan pohon pedestrian guna pembuatan trotoar. Fyi: pemkot semarang demen banget bikin trotoar. Maka jangan heran kalo semarang sering dapet penghargaan sebagai kota wisata terbersih pada 2020 yang lalu.
"Ra, jalan-jalan dulu ya?" Ajak gua, saat kami sudah berada di atas motor.
Gua sama sekali ngga berharap ada jawaban darinya, jadi langsung saja gua kendarai motor menuju salah satu cafe di daerah tembalang.
Kondisi di sana agak sepi ketika kami berdua tiba. Mungkin karena target pasar cafe ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang aktif nongkrong pada malam hari.
"Greentea latte mbak, pake toping ice cream ya" ucap gua setibanya di kasir
Gua memandang Zahra yang masih bingung memilih menu yang dipajang di atas area kasir.
Jari telunjuknya menekan-nekan dagu seperti gestur orang yang bingung dengan pilihannya.
"Samain deh" ucapnya
Setelah pembayaran, Mbak-mbak kasir memberi gua sebuah kotak kecil sebagai tanda nomor pesanan yang akan gua bawa ke meja.
Zahra asik dengan ponselnya saat kami duduk berdua di sana. Biasanya, di saat-saat seperti ini, Zahra malah yang lebih aktif berbicara daripada gua.
Gua pun bingung gimana mancing supaya Zahra mau ngobrol
"Kenapa pesen minuman aja, pesen makanan gih" ucap gua, Zahra hanya menggeleng.
Sampai minuman kami habis setengah pun, kami berdua masih diem-dieman.
Sesekali Zahra sibuk dengan ponselnya, sambil memainkan sedotan pada minumannya. Gua sedari tadi mencoba mengajak Zahra ngobrol, hanya direspon dengan anggukan ataupun gelengan kepala. Gua hanya bisa menghela nafas panjang
"Jujur, aku udah ngga ada rasa lagi sama Shinta, semenjak deket sama Okta. Prinsipku, kalo ada yang baru, ngapain berharap ke yang lama. Mungkin kamu takut kalo aku balikan sama Shinta. Tapi, aku punya prinsip ngga bakal ngulang game yang udah pernah aku tamatin sih"
Kami bertatap mata sepanjang gua ngoceh. Meskipun ia ngga membalas ucapan gua, ia masih mau mendengar.
"Ngga papa kalo kamu masih marah, ngga apa kalo kamu masih belum mau ngomong, aku bakal tungguin. Tapi jangan berhenti peduli ke aku" lanjut gua, ia menganggukkan kepala.
"Yok pulang, kayak orang gila aku ngomong sendiri" segera gua menarik tangannya keluar dari cafe tersebut.
Saat baru berjalan beberapa langkah dari tempat duduk tadi, gua teringat kata-kata dari Revi "ntar ya, kalo lu jalan ama cewek yang lu taksir, pas jalan kayak gini tuh dirangkul, paling ngga digandeng lah. Jangan jalan sendiri-sendiri kayak lagi ngambekan"
Segera gua melingkarkan lengan ke pinggang Zahra, ia melotot menatap tajam.
Gua mendekatkan mulut ke telinganya, sambil membisikkan "kayaknya aku udah mulai jatuh hati"
Matanya tambah menatap tajam ke gua.
Nggak gua sangkal, perhatian-perhatian dari Zahra berhasil membuat luluh hati gua.
Dia tahu cara mengambil hati gua; action of service. Dia tahu, gua sebagai anak pertama dan sedari kecil hidup dengan eyang membuat gua terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Ngga pernah dimanjakan dengan layanan-layanan layaknya anggota keluarga ke anggota keluarga yang lain. Maka dari itu, kopi dan teh buatan Zahra, gorengan yang ia siapkan di pagi hari, sampai nasi yang ia tuangkan ke piring gua menjadi titik balik semuanya.
Saat perjalanan pulang, gua raih tangan kirinya, lalu gua lingkarkan ke perut gua.
Tangan kanannya merespon dengan cubitan tajam di pinggang gua, tapi dilanjut dengan memeluk erat dari jok belakang.
Satu langkah baik yang memperlihatkan bahwa amarah Zahra sudah agak padam.
Di rumah, gua mencari-cari hal yang mungkin mampu membuat Zahra berbicara ke gua lagi. Keran PDAM di halaman rumah segera gua tutup, yang mungkin bakal membuat geger. Ketika Zahra keluar ke minimarket, gua melonggarkan bolam lampu yang berada di kamarnya. Beberapa perangkat elektronik juga gua cabut kabel powernya.
Rupanya, ide gua tak semulus apa yang direncanakan. Tanpa bertanya ataupun meminta saran, Zahra langsung memanggil petugas PDAM perihal air yang tak mengalir.
Mamah yang tak tau apa-apa pun ikut bingung ketika tiba-tiba ada petugas yang datang.
Sampai tiba waktunya hari sudah menjelang petang, Zahra datang ke kamar gua. Ia tak langsung ngomong, hanya berdiri di depan pintu menatap gua lemas.
"Kenapa?" Tanya gua, masih berbaring di atas tempat tidur.
"Lampu kamarku ngga mau nyala" akhirnya, ia menyerah dan mulai berbicara lagi ke gua.
"Besok manggil tukang listrik, malem ini tidur sini aja" gua mencoba mengisengi nya.
Zahra berjalan gontai ke arah gua, lalu duduk di tepian kasur membelakangi gua.
"Mas, maafin ya aku udah cemburu ga jelas" ucapnya, masih membelakangi gua.
"Yaudah sih. Wajar kalo kamu cemburu, laki-laki ganteng kayak aku banyak yang ngincer soalnya"
Ucapan gua berbuah terbangnya sebuah sisir ke kepala.
"Ngeselin ih, lagi serius juga" ia beranjak dari duduknya sembari pergi keluar dari kamar.
Gua melihat matanya yang berlinang. Tangisannya bukan perihal makna dari ucapan gua, melainkan buah dari keisengan gua.
Sebelum sampai ke tangga, gua tarik tangan Zahra, menahannya agar tidak kabur
"Maaf, becanda ku keterlaluan" air mata yang membasahi pipinya gua usap.
"Ayok, benerin lampu kamarmu" lanjut gua
Zahra berjalan selangkah di depan gua, menuju kamarnya yang kini gelap gulita. Kami berpisah di ujung tangga karena gua harus mengambil tangga lipat yang berada di belakang rumah.
Ia sudah berinisiatif menyalakan senter dari ponselnya. Segera gua menggapai lampu dengan menaiki tangga lipat
"Coba nyalain" pinta gua setelah memutar bohlam agar lebih kencang posisinya.
Sekejap cahaya lampu bersinar setelah saklar lampu dinyalakan.
Gua keluar dari kamar Zahra sambil memanggul tangga lipat, berjalan ke arah belakang rumah guna meletakkannya di tempat sebelumnya.
"Makasih.." kata Zahra, lirih
Agak dilema bagi pelajar STM di sini perihal penggunaan outer. Dimana kalau pake jaket jadi gerah, kalo ngga pake jaket keselamatan jadi terancam.
Gua berani bersaksi, bahwa gerahnya semarang melebihi jakarta.
Saat gua ada proyek perencanaan di daerah cijantung, gua masih betah nongkrong lama-lama di warung makan yang plafond nya pendek pada siang bolong. Sedangkan di Semarang, lu nongkrong di teras McD pun keringetan!
Entahlah, gua juga bingung kenapa Semarang udah kayak simulasi panasnya neraka. Mungkin gara-gara banyak penebangan pohon pedestrian guna pembuatan trotoar. Fyi: pemkot semarang demen banget bikin trotoar. Maka jangan heran kalo semarang sering dapet penghargaan sebagai kota wisata terbersih pada 2020 yang lalu.
"Ra, jalan-jalan dulu ya?" Ajak gua, saat kami sudah berada di atas motor.
Gua sama sekali ngga berharap ada jawaban darinya, jadi langsung saja gua kendarai motor menuju salah satu cafe di daerah tembalang.
Kondisi di sana agak sepi ketika kami berdua tiba. Mungkin karena target pasar cafe ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang aktif nongkrong pada malam hari.
"Greentea latte mbak, pake toping ice cream ya" ucap gua setibanya di kasir
Gua memandang Zahra yang masih bingung memilih menu yang dipajang di atas area kasir.
Jari telunjuknya menekan-nekan dagu seperti gestur orang yang bingung dengan pilihannya.
"Samain deh" ucapnya
Setelah pembayaran, Mbak-mbak kasir memberi gua sebuah kotak kecil sebagai tanda nomor pesanan yang akan gua bawa ke meja.
Zahra asik dengan ponselnya saat kami duduk berdua di sana. Biasanya, di saat-saat seperti ini, Zahra malah yang lebih aktif berbicara daripada gua.
Gua pun bingung gimana mancing supaya Zahra mau ngobrol
"Kenapa pesen minuman aja, pesen makanan gih" ucap gua, Zahra hanya menggeleng.
Sampai minuman kami habis setengah pun, kami berdua masih diem-dieman.
Sesekali Zahra sibuk dengan ponselnya, sambil memainkan sedotan pada minumannya. Gua sedari tadi mencoba mengajak Zahra ngobrol, hanya direspon dengan anggukan ataupun gelengan kepala. Gua hanya bisa menghela nafas panjang
"Jujur, aku udah ngga ada rasa lagi sama Shinta, semenjak deket sama Okta. Prinsipku, kalo ada yang baru, ngapain berharap ke yang lama. Mungkin kamu takut kalo aku balikan sama Shinta. Tapi, aku punya prinsip ngga bakal ngulang game yang udah pernah aku tamatin sih"
Kami bertatap mata sepanjang gua ngoceh. Meskipun ia ngga membalas ucapan gua, ia masih mau mendengar.
"Ngga papa kalo kamu masih marah, ngga apa kalo kamu masih belum mau ngomong, aku bakal tungguin. Tapi jangan berhenti peduli ke aku" lanjut gua, ia menganggukkan kepala.
"Yok pulang, kayak orang gila aku ngomong sendiri" segera gua menarik tangannya keluar dari cafe tersebut.
Saat baru berjalan beberapa langkah dari tempat duduk tadi, gua teringat kata-kata dari Revi "ntar ya, kalo lu jalan ama cewek yang lu taksir, pas jalan kayak gini tuh dirangkul, paling ngga digandeng lah. Jangan jalan sendiri-sendiri kayak lagi ngambekan"
Segera gua melingkarkan lengan ke pinggang Zahra, ia melotot menatap tajam.
Gua mendekatkan mulut ke telinganya, sambil membisikkan "kayaknya aku udah mulai jatuh hati"
Matanya tambah menatap tajam ke gua.
Nggak gua sangkal, perhatian-perhatian dari Zahra berhasil membuat luluh hati gua.
Dia tahu cara mengambil hati gua; action of service. Dia tahu, gua sebagai anak pertama dan sedari kecil hidup dengan eyang membuat gua terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Ngga pernah dimanjakan dengan layanan-layanan layaknya anggota keluarga ke anggota keluarga yang lain. Maka dari itu, kopi dan teh buatan Zahra, gorengan yang ia siapkan di pagi hari, sampai nasi yang ia tuangkan ke piring gua menjadi titik balik semuanya.
Saat perjalanan pulang, gua raih tangan kirinya, lalu gua lingkarkan ke perut gua.
Tangan kanannya merespon dengan cubitan tajam di pinggang gua, tapi dilanjut dengan memeluk erat dari jok belakang.
Satu langkah baik yang memperlihatkan bahwa amarah Zahra sudah agak padam.
Di rumah, gua mencari-cari hal yang mungkin mampu membuat Zahra berbicara ke gua lagi. Keran PDAM di halaman rumah segera gua tutup, yang mungkin bakal membuat geger. Ketika Zahra keluar ke minimarket, gua melonggarkan bolam lampu yang berada di kamarnya. Beberapa perangkat elektronik juga gua cabut kabel powernya.
Rupanya, ide gua tak semulus apa yang direncanakan. Tanpa bertanya ataupun meminta saran, Zahra langsung memanggil petugas PDAM perihal air yang tak mengalir.
Mamah yang tak tau apa-apa pun ikut bingung ketika tiba-tiba ada petugas yang datang.
Sampai tiba waktunya hari sudah menjelang petang, Zahra datang ke kamar gua. Ia tak langsung ngomong, hanya berdiri di depan pintu menatap gua lemas.
"Kenapa?" Tanya gua, masih berbaring di atas tempat tidur.
"Lampu kamarku ngga mau nyala" akhirnya, ia menyerah dan mulai berbicara lagi ke gua.
"Besok manggil tukang listrik, malem ini tidur sini aja" gua mencoba mengisengi nya.
Zahra berjalan gontai ke arah gua, lalu duduk di tepian kasur membelakangi gua.
"Mas, maafin ya aku udah cemburu ga jelas" ucapnya, masih membelakangi gua.
"Yaudah sih. Wajar kalo kamu cemburu, laki-laki ganteng kayak aku banyak yang ngincer soalnya"
Ucapan gua berbuah terbangnya sebuah sisir ke kepala.
"Ngeselin ih, lagi serius juga" ia beranjak dari duduknya sembari pergi keluar dari kamar.
Gua melihat matanya yang berlinang. Tangisannya bukan perihal makna dari ucapan gua, melainkan buah dari keisengan gua.
Sebelum sampai ke tangga, gua tarik tangan Zahra, menahannya agar tidak kabur
"Maaf, becanda ku keterlaluan" air mata yang membasahi pipinya gua usap.
"Ayok, benerin lampu kamarmu" lanjut gua
Zahra berjalan selangkah di depan gua, menuju kamarnya yang kini gelap gulita. Kami berpisah di ujung tangga karena gua harus mengambil tangga lipat yang berada di belakang rumah.
Ia sudah berinisiatif menyalakan senter dari ponselnya. Segera gua menggapai lampu dengan menaiki tangga lipat
"Coba nyalain" pinta gua setelah memutar bohlam agar lebih kencang posisinya.
Sekejap cahaya lampu bersinar setelah saklar lampu dinyalakan.
Gua keluar dari kamar Zahra sambil memanggul tangga lipat, berjalan ke arah belakang rumah guna meletakkannya di tempat sebelumnya.
"Makasih.." kata Zahra, lirih
Quote:
mirzazmee dan 15 lainnya memberi reputasi
16