- Beranda
- Stories from the Heart
Kenangan 'Mengerikan' Di Sekolah Menengah Pertama
...
TS
aymawishy
Kenangan 'Mengerikan' Di Sekolah Menengah Pertama
Quote:
Halo semuanya, semoga kalian dalam keadaan sehat dan bahagia ya.
Sebelumnya, aku membuat thread 'cerita fiksi' -jenis novelet- yang berjudul Unpublished Thoughts. Kali ini, aku ingin membuat thread dari 'kisah nyata' yang aku alami selama aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, yang aku beri judul 'Kenangan Mengerikan di Sekolah Menengah Pertama'.
- Prolog
- Primadona Sekolah
- Ayma Dipanggil Ke Ruang BK!
- Jebakan Jahat!
- ???
Perkenalkan, nama aku Ayma Wishy (bukan nama sebenarnya), sebut saja dengan Ayma. Saat itu, pertengahan tahun 2006, aku baru saja lulus dari Sekolah Dasar (SD).
SDku yang saat itu tidak begitu terkenal karena tidak pernah menang dalam lomba akademik, membuat para siswa-siswinya harus berusaha lebih ekstra untuk bisa masuk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) favorit. Apalagi pada saat itu, untuk bisa masuk ke SMP favorit tersebut, harus mengikuti ujian tulis. Aku yang ketika itu bukanlah siswi yang pandai dan menjadi juara di kelas, sungguh hanya bisa berusaha yang terbaik.
Alhamdulillahnya, pada saat pengumuman penerimaan siswa-siswi SMP Favorit tersebut, ada namaku di papan pengumuman. Aku berada di urutan ke 113 dari 286 siswa-siswi yang diterima.
Jujur saat itu aku merasa berada di puncak kebahagiaan, karena dari SDku, hanya sekitar 8 siswa yang diterima, termasuk aku.
Waktu terus berjalan, aku yang masih belum tahu bagaimana suasana dan bagaimana menjadi siswi SMP, hanya bisa berangan-angan. Untung saja, Papaku, Tanteku (Adik Kandung Papa yang ku anggap seperti Mama sendiri, sebab beliau yang selalu menasehatiku setelah Mamaku meninggal di usiaku 10 tahun), dan juga Kakakku, yang tak bosan-bosan memberikan gambaran saat di SMP itu seperti apa.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi siswi SMP. Itu artinya kamu akan memasuki zona pembentukan kepribadian atau karakter kamu.", kata Papaku ketika itu.
"Maksudnya, Pa?", tanyaku kurang paham.
"Di SMP, kamu bebas memilih akan menjadi seperti apa kamu kedepannya. Menjadi baikkah, atau sebaliknya. Dulu pada saat Papa di SMP, saat ada guru baru datang dan sedang menuntun sepeda, pasti murid-muridnya berebut untuk membantu guru tersebut. Juga pada saat ada guru yang sedang membawa buku atau tas saat ke kelas atau saat mau kembali ke ruang guru."
"Hm kenapa gitu, Pa?"
"Itu karena kami sangat menghargai guru-guru kami. Tak hanya itu, senakal-nakalnya kami dulu, kami sangat menjaga sopan santun!"
"Maksudnya nakal tapi menjaga sopan santun?"
"Ya nakalnya ke sesama teman saja, tapi kalau ke guru, kami tetap menjaga sopan santun."
"Hm gitu.."
"Nanti, kamu akan bertemu dengan banyak teman-teman baru."
"Iya, ada 285 teman baru!!", potongku antusias.
"Bertemanlah dengan siapa saja, ikuti yang baik, jangan ikuti yang buruk."
"Bertemanlah dengan siapa saja? Berarti berteman sama anak nakal boleh dong Pa?"
"Boleh dong, tapi jangan diikuti kenakalannya. Tetaplah menjadi diri Ayma sendiri."
"Iya Pa! Kalau Tante, dulu di SMP gimana?", tanyaku pada Tanteku.
"Dulu Tante menjadi primadona di sekolah.", jawab Tanteku.
"Berarti Tante terkenal dong?", tanyaku lagi.
"Iyaa! Tante semasa SMP sangat aktif mengikuti kegiatan sekolah (ekstrakurikuler). Saat upacara, selalu Tante yang menjadi protokol upacara. Pokoknya, setiap ada kegiatan apapun, Tante pasti ikut berpartisipasi."
"Hm gitu.."
"Saat kamu dikenal sebagai murid yang berprestasi, entah di bidang akademik atau non akademik, kamu pasti akan dikenal oleh guru-gurumu dan juga teman-teman dan kakak-kakak kelasmu. Jadi, berprestasilah dalam kegiatan apapun. Ikuti semua kegiatan sekolah, biar kamu tau, bakat dan minat kamu dimana."
"Dulu Kakek Nenek juga ngasih tau Papa dan Tante kaya gini ya?"
"Iya! Dulu Kakek itu disiplin. Setiap anak-anaknya pulang sekolah, pasti disuruh mengulang pelajaran selama 30 menit. Kalau ada PR, harus dikerjakan hari itu juga. Nah saat malam harinya, jadwal kami adalah belajar untuk mata pelajaran keesokan harinya."
"Ohgitu. Terus kalau belajar mata pelajaran untuk keesokan harinya, memang Papa Tante ngerti?"
"Engga ngerti! Makanya, saat guru menerangkan, kami menyimaknya dengan sungguh-sungguh, bahkan mencatat hal-hal penting untuk ditulis di buku catatan. Jika kami tetap tidak mengerti, maka kami akan bertanya.", kata Papa dan Tanteku yang menjawabnya bergantian.
"Papa Tante ga takut dimarahin saat nanya ke Bapak Ibu guru?", tanyaku yang selama di Sekolah Dasar, ga pernah berani bertanya.
"Berani dong, kan nanyanya baik-baik.'Pak/Bu, boleh saya bertanya?' Atau 'Pak/Bu, boleh minta tolong dijelasin lagi karena saya masih kurang paham' sembari mengacungkan tangan"
"Hm gitu. Jadi guru di SMP ga galak ya?"
Papaku ketawa.
"Ga ada guru yang galak. Coba Tante tanya, guru marah biasanya karena apa?"
"Karena kelas rame saat guru sedang mengajar?"
"Nah betul. Itu salah siapa kalau gurunya lagi ngajar tapi murid-muridnya ga dengerin, malah ngobrol sendiri? Lalu kalau gurunya marah, wajar ga kira-kira?"
"Hehehe iya yaa.."
"Selama kamu menyimak guru saat mengajar, mereka ga akan galak sama kamu.", ujar Tanteku.
"Kak, dulu waktu Kakak di SMP gimana?", tanyaku pada Kakakku yang usianya 18 tahun diatasku.
"Hm Kakak dulu ga masuk SMP favorit seperti kamu, Papa, dan Tante. Jadi Kakak harap, kamu bisa menjadi orang yang sangat hebat dari Kakak. Dan inget, jangan pacar-pacaran!"
---
Sebelumnya, aku membuat thread 'cerita fiksi' -jenis novelet- yang berjudul Unpublished Thoughts. Kali ini, aku ingin membuat thread dari 'kisah nyata' yang aku alami selama aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, yang aku beri judul 'Kenangan Mengerikan di Sekolah Menengah Pertama'.
- Prolog
- Primadona Sekolah
- Ayma Dipanggil Ke Ruang BK!
- Jebakan Jahat!
- ???
Perkenalkan, nama aku Ayma Wishy (bukan nama sebenarnya), sebut saja dengan Ayma. Saat itu, pertengahan tahun 2006, aku baru saja lulus dari Sekolah Dasar (SD).
SDku yang saat itu tidak begitu terkenal karena tidak pernah menang dalam lomba akademik, membuat para siswa-siswinya harus berusaha lebih ekstra untuk bisa masuk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) favorit. Apalagi pada saat itu, untuk bisa masuk ke SMP favorit tersebut, harus mengikuti ujian tulis. Aku yang ketika itu bukanlah siswi yang pandai dan menjadi juara di kelas, sungguh hanya bisa berusaha yang terbaik.
Alhamdulillahnya, pada saat pengumuman penerimaan siswa-siswi SMP Favorit tersebut, ada namaku di papan pengumuman. Aku berada di urutan ke 113 dari 286 siswa-siswi yang diterima.
Jujur saat itu aku merasa berada di puncak kebahagiaan, karena dari SDku, hanya sekitar 8 siswa yang diterima, termasuk aku.
Waktu terus berjalan, aku yang masih belum tahu bagaimana suasana dan bagaimana menjadi siswi SMP, hanya bisa berangan-angan. Untung saja, Papaku, Tanteku (Adik Kandung Papa yang ku anggap seperti Mama sendiri, sebab beliau yang selalu menasehatiku setelah Mamaku meninggal di usiaku 10 tahun), dan juga Kakakku, yang tak bosan-bosan memberikan gambaran saat di SMP itu seperti apa.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi siswi SMP. Itu artinya kamu akan memasuki zona pembentukan kepribadian atau karakter kamu.", kata Papaku ketika itu.
"Maksudnya, Pa?", tanyaku kurang paham.
"Di SMP, kamu bebas memilih akan menjadi seperti apa kamu kedepannya. Menjadi baikkah, atau sebaliknya. Dulu pada saat Papa di SMP, saat ada guru baru datang dan sedang menuntun sepeda, pasti murid-muridnya berebut untuk membantu guru tersebut. Juga pada saat ada guru yang sedang membawa buku atau tas saat ke kelas atau saat mau kembali ke ruang guru."
"Hm kenapa gitu, Pa?"
"Itu karena kami sangat menghargai guru-guru kami. Tak hanya itu, senakal-nakalnya kami dulu, kami sangat menjaga sopan santun!"
"Maksudnya nakal tapi menjaga sopan santun?"
"Ya nakalnya ke sesama teman saja, tapi kalau ke guru, kami tetap menjaga sopan santun."
"Hm gitu.."
"Nanti, kamu akan bertemu dengan banyak teman-teman baru."
"Iya, ada 285 teman baru!!", potongku antusias.
"Bertemanlah dengan siapa saja, ikuti yang baik, jangan ikuti yang buruk."
"Bertemanlah dengan siapa saja? Berarti berteman sama anak nakal boleh dong Pa?"
"Boleh dong, tapi jangan diikuti kenakalannya. Tetaplah menjadi diri Ayma sendiri."
"Iya Pa! Kalau Tante, dulu di SMP gimana?", tanyaku pada Tanteku.
"Dulu Tante menjadi primadona di sekolah.", jawab Tanteku.
"Berarti Tante terkenal dong?", tanyaku lagi.
"Iyaa! Tante semasa SMP sangat aktif mengikuti kegiatan sekolah (ekstrakurikuler). Saat upacara, selalu Tante yang menjadi protokol upacara. Pokoknya, setiap ada kegiatan apapun, Tante pasti ikut berpartisipasi."
"Hm gitu.."
"Saat kamu dikenal sebagai murid yang berprestasi, entah di bidang akademik atau non akademik, kamu pasti akan dikenal oleh guru-gurumu dan juga teman-teman dan kakak-kakak kelasmu. Jadi, berprestasilah dalam kegiatan apapun. Ikuti semua kegiatan sekolah, biar kamu tau, bakat dan minat kamu dimana."
"Dulu Kakek Nenek juga ngasih tau Papa dan Tante kaya gini ya?"
"Iya! Dulu Kakek itu disiplin. Setiap anak-anaknya pulang sekolah, pasti disuruh mengulang pelajaran selama 30 menit. Kalau ada PR, harus dikerjakan hari itu juga. Nah saat malam harinya, jadwal kami adalah belajar untuk mata pelajaran keesokan harinya."
"Ohgitu. Terus kalau belajar mata pelajaran untuk keesokan harinya, memang Papa Tante ngerti?"
"Engga ngerti! Makanya, saat guru menerangkan, kami menyimaknya dengan sungguh-sungguh, bahkan mencatat hal-hal penting untuk ditulis di buku catatan. Jika kami tetap tidak mengerti, maka kami akan bertanya.", kata Papa dan Tanteku yang menjawabnya bergantian.
"Papa Tante ga takut dimarahin saat nanya ke Bapak Ibu guru?", tanyaku yang selama di Sekolah Dasar, ga pernah berani bertanya.
"Berani dong, kan nanyanya baik-baik.'Pak/Bu, boleh saya bertanya?' Atau 'Pak/Bu, boleh minta tolong dijelasin lagi karena saya masih kurang paham' sembari mengacungkan tangan"
"Hm gitu. Jadi guru di SMP ga galak ya?"
Papaku ketawa.
"Ga ada guru yang galak. Coba Tante tanya, guru marah biasanya karena apa?"
"Karena kelas rame saat guru sedang mengajar?"
"Nah betul. Itu salah siapa kalau gurunya lagi ngajar tapi murid-muridnya ga dengerin, malah ngobrol sendiri? Lalu kalau gurunya marah, wajar ga kira-kira?"
"Hehehe iya yaa.."
"Selama kamu menyimak guru saat mengajar, mereka ga akan galak sama kamu.", ujar Tanteku.
"Kak, dulu waktu Kakak di SMP gimana?", tanyaku pada Kakakku yang usianya 18 tahun diatasku.
"Hm Kakak dulu ga masuk SMP favorit seperti kamu, Papa, dan Tante. Jadi Kakak harap, kamu bisa menjadi orang yang sangat hebat dari Kakak. Dan inget, jangan pacar-pacaran!"
---
Diubah oleh aymawishy 31-12-2021 21:17
snf0989 dan 18 lainnya memberi reputasi
19
6.7K
Kutip
57
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aymawishy
#19
Jebakan Jahat!
Quote:
Pada keesokan harinya, jujur aku takut untuk pergi ke sekolah. Aku juga khawatir, bagaimana jika nanti kabar tersebut tersebar? Papaku yang mengetahui kondisi bathinku ketika itu, langsung menguatkanku.
"Ayma, kalau kamu takut, itu artinya kamu mengakui apa yang mereka tuduh. Jadi, berperilakulah seperti Ayma yang biasanya. Ga perlu menjelaskan ke mereka yang ga tau seperti apa kamu sesungguhnya, karena mereka pun tak akan percaya apapun yang kamu katakan. Jadi lebih baik tetep fokus untuk menjadi murid yang berprestasi dan berperilaku baik. Ya? Nanti kita ketemu di sekolah ya?"
"Iya, Pa.", ketika itu aku terhipnotis dengan kalimat jika aku takut, artinya aku mengakui segala yang dituduhkan. Akhirnya aku berangkat ke sekolah dengan keberanian dan penuh tekad.
Sesampai di sekolah, saat aku memasuki gerbang sekolah, aku melihat begitu banyak kakak kelas yang mencibirku, memandangku rendah, dan saling berbisik "ih sok suci padahal kerjaannya bikin bok*p!"
Aku yang denger hal seperti itu, hanya bisa senyum meski hatiku sakit. :')
Aku berjalan menuju kelasku, melewati pinggiran lapangan bola sebab ada kakak kelas dan teman seangkatan yang sedang bermain bola sebelum bel masuk berbunyi. Saat itu, ada diantara mereka, yang menendang bola ke arahku dengan sangat kencang, tangan kiriku lumayan terasa sakit dibuatnya. Kemudian ada seorang yang mengambil bola itu, kemudian mendekatiku, dan menatapku sembari mengejekku"hai artis bok*p!". Ketika itu, kami pun menjadi pusat perhatian. Aku yang hanya bisa diam membisu menahan tangis, berusaha menghindarinya dan segera mempercepat langkahku menuju kelasku.
(Sampai sekarang, jika aku mengingatnya, jujur masih ada rasa sakit dan takut. Begitu jahatnya mereka kepadaku dulu ya hehehe)
Setibanya di kelas, teman-teman hanya bisa menatapku. Dan aku membalasnya dengan senyuman, seolah tak terjadi apa-apa terhadapku.
"Ayma, kamu baik-baik aja?", kata Rahman teman baikku di kelas.
"Yah, aku baik-baik aja."
"Aku percaya, apa yang tersebar di luar kelas, itu ga bener. Aku tau kamu seperti apa!", kata Ginung, teman baikku juga yang sekelas denganku. Kini beberapa teman cowoku sedang mengerumuniku dan memberikan aku semangat atas apa yang sedang menimpaku.
"Seandainya aku tau siapa yang menjebakmu, akan aku hajar dia!!", kata Redo.
"Hehehe", aku berusaha tersenyum.
Pagi itu, mereka berusaha untuk menghiburku. Sedangkan ketiga sahabat perempuanku, kelasnya jauh dengan kelasku, sehingga mereka belum sempat menemuiku setelah kejadian itu.
Jam 9 tiba. Aku dan mereka sudah ada di ruang BK bersama para orang tua kami dan juga dengan seorang guru BK. (Kami seperti berada di suatu persidangan huhu.)
Setelah guru BK (sebut saja Pak Tino) memberikan keterangan mengenai permasalahan yang ada kepada para orang tua, Pak Tino pun segera memperlihatkan video yang ada di HP Ardi secara bergantian kepada orang tua kami. Anehnya, orang tua mereka diam saja dan malah memelototi anak-anak mereka. Tapi tidak dengan Papaku.
"Pak Tino, maaf, sebenarnya dari video tersebut, dimana letak kep*rnoannya? Bapak pernah melihat video p*rno kan??
"Tapi, Pak!", jawab Pak Tino.
"Bapak-bapak dan Ibu-Ibu, apa kalian pernah melihat video p*rno?", tanya Papaku lagi dengan santai tapi tegas.
Mereka tak menjawab. Entah karena munafik atau semacamnya, aku tak tahu!!
"Pak Tino, selaku guru di SMP Favorit disini, kenapa bisa mengatakan, video ini adalah video p*rno? Anak saya dan mereka, tidak melakukan perbuatan asusila, Pak! Mereka hanya duduk dan mengobrol. Mungkin ada dua dari mereka yang sempat berpelukan! Tapi apa iya, berpelukan disebut dengan melakukan hal p*rno? Sebenarnya Bapak tahu tidak, video p*rno itu seperti apa?"
"Pak, Bapak perhatikan lagi, Ayma membuka baju dalam video tersebut! Bahkan berciuman dengan Aldo!!"
"Haha Pak, anak saya membuka jaketnya! Bukan membuka bajunya!! Dia tidak berciuman Pak, dia sedang mengobrol!
Coba sekarang saya videoin dari samping Bapak Ibu yang duduk di sofa tengah ini, dan mengobrollah kalian sambil menolehkan kepala kalian kepada orang yang kalian ajak bicara!", Papaku menyuruh para orang tua kakak kelasku dan segera merekam mereka dari samping.
"Lihat Pak! Memang terlihat seolah sedang berciuman kan? Tapi apa iya Bapak Ibu barusan berciuman?", tanya Papaku sembari memperlihatkan hasil video yang direkamnya kepada mereka yang ada di ruang BK.
Pak Tino terdiam! Para orang tua menggeleng.
"Pak, jujur saya merasa curiga disini. Yang berpelukan bukan Ayma. Bahkan, bukan Ayma juga yang merekam dan bukan Ayma pemilik HP Kamera ini. Tapi kenapa, Ayma yang begitu disudutkan sedari tadi? Ada apa ini?"
Tak ada dari mereka yang menjawab.
"Bapak sudah melihat kan video yang saya rekam barusan? Bagaimana menurut Bapak?"
"Ya kan di video mereka ga sedang ngapa-ngapain Pak, setelah itu, tak ada yang tahu mereka berbuat apa!", jawab Pak Tino sembari menahan tawa mes*m ngeselin.
"Pak, tapi yang menjadi masalah adalah anak saya dibilang bikin video p*rno!! Padahal, dalam video tersebut, mereka tak melakukan hal-hal berbau p*rno!! Lalu Bapak bisa berpikiran seperti itu, itu karena mereka yang cerita atau karena Bapak yang sedang menceritakan pengalaman Bapak?", Papaku mulai kesal.
"Hey, kalian! Kalian sudah memberikan keterangan atau ditanya sesuatu oleh para guru BK mengenai ini?",tanya Papaku menoleh kepada kami yang duduk dibelakang mereka.
"Belum Om!", jawab Ardi.
"Nah! Mereka aja ga diberi kesempatan untuk menjelaskan. Lalu kenapa Bapak malah menyudutkan mereka?!! Sekarang, izinkan saya yang bertanya pada mereka ya Pak?", ujar Papaku lagi. Aku yang mendengarnya tak tahan untuk membendung air mataku.
"Siapa yang merekam ini?"
"Saya, Om!", jawab Sisi.
"Pake HP siapa?"
"HP Ani, Om!"
"Lalu kenapa videonya ada di HP Ardi?"
"Untuk kenang-kenangan Om", jawab Ardi.
"Tujuan video ini dibuat, untuk kenang-kenangan?"
"Iya Om, dan video itu sebagai bukti, kalau nantinya Ani selingkuh lagi, saya ga akan mau balikan lagi dengan dia."
"Ardi, kenapa kamu bawa HP kamera ke sekolah? Kamu tau hal itu dilarang?"
"Tau Om."
"Lalu kenapa bawa?"
"Saya disuruh Ani untuk membawa HP ini, Om!"
"Ani, kenapa kamu menyuruh Ardi membawa HP Kamera ke sekolah?"
Ani tak menjawab. Dia sedikit gelisah ketika itu.
"Ani, kenapa kamu menyuruh Ardi membawa HP Kamera ke sekolah?", tanya Papaku mengulang pertanyaan yang sama.
"Karena saya tau kalau hari ini akan ada sidak, Om."
Ruang BK seketika menjadi riuh.
"Tau dari?"
"Pelatih Basket kami, Om!"
"Lalu tujuannya apa?"
"Untuk..", Ani terbata. "Untuk menjebak Ayma, Om."
Ruangan itu menjadi lebih riuh.
"Menjebak? Menjebak apa?"
"Iya, saya melihat video itu berulang, dan melihat Ayma seolah berciuman dengan Aldo bahkan dia membuka jaketnya di video itu. Saya berpikir dengan begitu, dia bisa saya permalukan.", jawab Ani terus terang meski dengan terbata.
"Mereka saat itu berciuman atau tidak?"
"Engga, Om."
"Tujuan kamu begitu apa? Dan kenapa?"
"Karena saya benci dengan Ayma, Om. Dulu saya yang menjadi primadona sekolah, setelah ada dia, seisi sekolah hanya memperhatikannya. Bahkan, orang yang saya sukai, memilih untuk menyukainya!" (Inti pembicaraan Ani ketika itu seperti itu yaa. Aku persingkat saja.)
Aku yang mendengarnya tak percaya. Ada pemikiran sejahat itu pada seorang perempuan yang masih berusia 13an tahun.
"Ohya, di video, kenapa Aldo membukakan jaket Ayma?"
"Karena dia kesusahan saat itu Om. Saya membantu menarik ujung jaket di lengan kirinya.", jawab Aldo.
"Ayma, kenapa kamu membuka jaket kamu?"
"Karena saat itu aku kegerahan Pa, jaket yang aku pake terlalu tebal."
"Dan setelah merekam video itu, apa yang kalian lakukan?"
"Kami masih asik mengobrol Om. Dan di rumah saat itu juga ada Ibu saya.", jawab Sisi.
"Jadi Pak Tino, gimana? Apa Bapak sudah mengetahui semua hal-hal ini?", tanya Papa.
Pak Tino lagi-lagi tak bisa menjawab.
"Jika Bapak tau mengenai ini, tapi Bapak justru menyudutkan anak saya, saya rasa ada yang salah dengan Bapak!"
"Hm saya tak bermaksud, Pak."
"Ckckck! Berita ini sudah menyebar sampai mana?", tanya Papaku makin kesal.
"Seisi sekolah sudah mengetahuinya, Pak.", jawabnya takut-takut.
Papaku menggeleng.
"Berita yang tersebar seperti apa? Ardi membawa HP kamera atau ??", tanya Papaku?
"Ayma membuat video p*rno, Pak."
"Kenapa sampai muncul berita seperti itu? Sapa yang memulainya?" (Jujur hingga kini, ini masih belum terjawab)
"Wah saya ga bisa tinggal diam!! Saya akan proses kejadian ini ke jalur hukum!!", kata Papaku.
"Tolong jangan Pak. Saya minta maaf sebesar-besarnya. Tolong jangan laporkan saya Pak."
"Bapak tidak perlu meminta maaf kepada saya Pak! Yang sakit dan menjadi korban disini adalah anak saya, bukan saya!", kata Papaku dan saat itu segera berdiri dan mendekatiku.
"Ayma, gimana?", tanya Papaku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
"Jangan laporin Pak Tino ya Pa? Kasian. Nanti nama sekolah juga jelek. Padahal ini bukan salah sekolah."
"Tapi kalau dibiarin, akan ada korban lagi yang didzalimin seperti kamu ini."
"Insya Allah engga kog Pa. Pak Tino orang yang baik. Aku gapapa, sungguh. Dengan aku tau yang sebenarnya, uda cukup buat aku. Aku hanya butuh untuk nenangin diri beberapa hari Pa. Hm?"
"Baiklah!", Papaku segera menjauhiku dan duduk lagi di kursinya.
"Begini saja Pak, saya tidak akan memproses kasus ini seperti yang Bapak mau, tapi saya mau mereka semua diskors selama 3 hari! Agar hal-hal semacam ini tidak terulang lagi, mereka harus menerima konsekuensi dari perbuatannya!"
Para orang tua yang lain, tidak setuju dengan permintaan Papa.
"Bagaimana dengan Ayma Pak?", tanya Pak Tino.
"Skors juga. Tapi saya harap, Bapak tidak lagi melakukan hal seperti ini ke murid lainnya. Dan tolong pertanggungjawabkan segala berita yang sudah tersebar mengenai kejadian ini."
---
Aku sedikit tersenyum mengingat Papa malah meminta kami diskors saat itu. Saat aku tanya ke Papa, kenapa Papa begitu? Alasannya karena biar aku bisa menenangkan pikiran selama 3 hari tanpa harus belajar dan tanpa harus datang ke ekstrakurikuler.
"Ayma, kita ga bisa menutup berita yang sudah tersebar. Tapi.. Dari situlah kamu akan tau, mana teman yang baik untukmu mana yang tidak. Mereka yang mempercayaimu, yang mendukungmu, dan yang diam-diam membelamu, itulah teman sejati.
Yaudah sekarang, selamat menenangkan diri ya. Ingat, kamu bukan Ayma yang membuat video p*rno seperti yang mereka katakan, kamu adalah Ayma yang nantinya akan menjadi orang hebat dan akan menertawakan kejadian hari ini. Buktikan ke mereka, bahwa kamu tidak seperti yang mereka katakan dengan tindakan dan perbuatan, bukan sekedar hanya dalam ucapan!", kata Papaku saat aku sudah tiba di rumah.
Tanteku yang mendengar kejadian itu dari Papa, berusaha untuk menghiburku.
"Ayma.. Nanti ke depannya, jika masih ada yang mencacimu, memfitnahmu, balas aja dengan senyum, tapi dalam hati terus beristighfar, ya? Tetep kuat yaa. Tetep semangat!", kata Tanteku yang segera memelukku erat.
"Ayma, kalau kamu takut, itu artinya kamu mengakui apa yang mereka tuduh. Jadi, berperilakulah seperti Ayma yang biasanya. Ga perlu menjelaskan ke mereka yang ga tau seperti apa kamu sesungguhnya, karena mereka pun tak akan percaya apapun yang kamu katakan. Jadi lebih baik tetep fokus untuk menjadi murid yang berprestasi dan berperilaku baik. Ya? Nanti kita ketemu di sekolah ya?"
"Iya, Pa.", ketika itu aku terhipnotis dengan kalimat jika aku takut, artinya aku mengakui segala yang dituduhkan. Akhirnya aku berangkat ke sekolah dengan keberanian dan penuh tekad.
Sesampai di sekolah, saat aku memasuki gerbang sekolah, aku melihat begitu banyak kakak kelas yang mencibirku, memandangku rendah, dan saling berbisik "ih sok suci padahal kerjaannya bikin bok*p!"
Aku yang denger hal seperti itu, hanya bisa senyum meski hatiku sakit. :')
Aku berjalan menuju kelasku, melewati pinggiran lapangan bola sebab ada kakak kelas dan teman seangkatan yang sedang bermain bola sebelum bel masuk berbunyi. Saat itu, ada diantara mereka, yang menendang bola ke arahku dengan sangat kencang, tangan kiriku lumayan terasa sakit dibuatnya. Kemudian ada seorang yang mengambil bola itu, kemudian mendekatiku, dan menatapku sembari mengejekku"hai artis bok*p!". Ketika itu, kami pun menjadi pusat perhatian. Aku yang hanya bisa diam membisu menahan tangis, berusaha menghindarinya dan segera mempercepat langkahku menuju kelasku.
(Sampai sekarang, jika aku mengingatnya, jujur masih ada rasa sakit dan takut. Begitu jahatnya mereka kepadaku dulu ya hehehe)
Setibanya di kelas, teman-teman hanya bisa menatapku. Dan aku membalasnya dengan senyuman, seolah tak terjadi apa-apa terhadapku.
"Ayma, kamu baik-baik aja?", kata Rahman teman baikku di kelas.
"Yah, aku baik-baik aja."
"Aku percaya, apa yang tersebar di luar kelas, itu ga bener. Aku tau kamu seperti apa!", kata Ginung, teman baikku juga yang sekelas denganku. Kini beberapa teman cowoku sedang mengerumuniku dan memberikan aku semangat atas apa yang sedang menimpaku.
"Seandainya aku tau siapa yang menjebakmu, akan aku hajar dia!!", kata Redo.
"Hehehe", aku berusaha tersenyum.
Pagi itu, mereka berusaha untuk menghiburku. Sedangkan ketiga sahabat perempuanku, kelasnya jauh dengan kelasku, sehingga mereka belum sempat menemuiku setelah kejadian itu.
Jam 9 tiba. Aku dan mereka sudah ada di ruang BK bersama para orang tua kami dan juga dengan seorang guru BK. (Kami seperti berada di suatu persidangan huhu.)
Setelah guru BK (sebut saja Pak Tino) memberikan keterangan mengenai permasalahan yang ada kepada para orang tua, Pak Tino pun segera memperlihatkan video yang ada di HP Ardi secara bergantian kepada orang tua kami. Anehnya, orang tua mereka diam saja dan malah memelototi anak-anak mereka. Tapi tidak dengan Papaku.
"Pak Tino, maaf, sebenarnya dari video tersebut, dimana letak kep*rnoannya? Bapak pernah melihat video p*rno kan??
"Tapi, Pak!", jawab Pak Tino.
"Bapak-bapak dan Ibu-Ibu, apa kalian pernah melihat video p*rno?", tanya Papaku lagi dengan santai tapi tegas.
Mereka tak menjawab. Entah karena munafik atau semacamnya, aku tak tahu!!
"Pak Tino, selaku guru di SMP Favorit disini, kenapa bisa mengatakan, video ini adalah video p*rno? Anak saya dan mereka, tidak melakukan perbuatan asusila, Pak! Mereka hanya duduk dan mengobrol. Mungkin ada dua dari mereka yang sempat berpelukan! Tapi apa iya, berpelukan disebut dengan melakukan hal p*rno? Sebenarnya Bapak tahu tidak, video p*rno itu seperti apa?"
"Pak, Bapak perhatikan lagi, Ayma membuka baju dalam video tersebut! Bahkan berciuman dengan Aldo!!"
"Haha Pak, anak saya membuka jaketnya! Bukan membuka bajunya!! Dia tidak berciuman Pak, dia sedang mengobrol!
Coba sekarang saya videoin dari samping Bapak Ibu yang duduk di sofa tengah ini, dan mengobrollah kalian sambil menolehkan kepala kalian kepada orang yang kalian ajak bicara!", Papaku menyuruh para orang tua kakak kelasku dan segera merekam mereka dari samping.
"Lihat Pak! Memang terlihat seolah sedang berciuman kan? Tapi apa iya Bapak Ibu barusan berciuman?", tanya Papaku sembari memperlihatkan hasil video yang direkamnya kepada mereka yang ada di ruang BK.
Pak Tino terdiam! Para orang tua menggeleng.
"Pak, jujur saya merasa curiga disini. Yang berpelukan bukan Ayma. Bahkan, bukan Ayma juga yang merekam dan bukan Ayma pemilik HP Kamera ini. Tapi kenapa, Ayma yang begitu disudutkan sedari tadi? Ada apa ini?"
Tak ada dari mereka yang menjawab.
"Bapak sudah melihat kan video yang saya rekam barusan? Bagaimana menurut Bapak?"
"Ya kan di video mereka ga sedang ngapa-ngapain Pak, setelah itu, tak ada yang tahu mereka berbuat apa!", jawab Pak Tino sembari menahan tawa mes*m ngeselin.
"Pak, tapi yang menjadi masalah adalah anak saya dibilang bikin video p*rno!! Padahal, dalam video tersebut, mereka tak melakukan hal-hal berbau p*rno!! Lalu Bapak bisa berpikiran seperti itu, itu karena mereka yang cerita atau karena Bapak yang sedang menceritakan pengalaman Bapak?", Papaku mulai kesal.
"Hey, kalian! Kalian sudah memberikan keterangan atau ditanya sesuatu oleh para guru BK mengenai ini?",tanya Papaku menoleh kepada kami yang duduk dibelakang mereka.
"Belum Om!", jawab Ardi.
"Nah! Mereka aja ga diberi kesempatan untuk menjelaskan. Lalu kenapa Bapak malah menyudutkan mereka?!! Sekarang, izinkan saya yang bertanya pada mereka ya Pak?", ujar Papaku lagi. Aku yang mendengarnya tak tahan untuk membendung air mataku.
"Siapa yang merekam ini?"
"Saya, Om!", jawab Sisi.
"Pake HP siapa?"
"HP Ani, Om!"
"Lalu kenapa videonya ada di HP Ardi?"
"Untuk kenang-kenangan Om", jawab Ardi.
"Tujuan video ini dibuat, untuk kenang-kenangan?"
"Iya Om, dan video itu sebagai bukti, kalau nantinya Ani selingkuh lagi, saya ga akan mau balikan lagi dengan dia."
"Ardi, kenapa kamu bawa HP kamera ke sekolah? Kamu tau hal itu dilarang?"
"Tau Om."
"Lalu kenapa bawa?"
"Saya disuruh Ani untuk membawa HP ini, Om!"
"Ani, kenapa kamu menyuruh Ardi membawa HP Kamera ke sekolah?"
Ani tak menjawab. Dia sedikit gelisah ketika itu.
"Ani, kenapa kamu menyuruh Ardi membawa HP Kamera ke sekolah?", tanya Papaku mengulang pertanyaan yang sama.
"Karena saya tau kalau hari ini akan ada sidak, Om."
Ruang BK seketika menjadi riuh.
"Tau dari?"
"Pelatih Basket kami, Om!"
"Lalu tujuannya apa?"
"Untuk..", Ani terbata. "Untuk menjebak Ayma, Om."
Ruangan itu menjadi lebih riuh.
"Menjebak? Menjebak apa?"
"Iya, saya melihat video itu berulang, dan melihat Ayma seolah berciuman dengan Aldo bahkan dia membuka jaketnya di video itu. Saya berpikir dengan begitu, dia bisa saya permalukan.", jawab Ani terus terang meski dengan terbata.
"Mereka saat itu berciuman atau tidak?"
"Engga, Om."
"Tujuan kamu begitu apa? Dan kenapa?"
"Karena saya benci dengan Ayma, Om. Dulu saya yang menjadi primadona sekolah, setelah ada dia, seisi sekolah hanya memperhatikannya. Bahkan, orang yang saya sukai, memilih untuk menyukainya!" (Inti pembicaraan Ani ketika itu seperti itu yaa. Aku persingkat saja.)
Aku yang mendengarnya tak percaya. Ada pemikiran sejahat itu pada seorang perempuan yang masih berusia 13an tahun.
"Ohya, di video, kenapa Aldo membukakan jaket Ayma?"
"Karena dia kesusahan saat itu Om. Saya membantu menarik ujung jaket di lengan kirinya.", jawab Aldo.
"Ayma, kenapa kamu membuka jaket kamu?"
"Karena saat itu aku kegerahan Pa, jaket yang aku pake terlalu tebal."
"Dan setelah merekam video itu, apa yang kalian lakukan?"
"Kami masih asik mengobrol Om. Dan di rumah saat itu juga ada Ibu saya.", jawab Sisi.
"Jadi Pak Tino, gimana? Apa Bapak sudah mengetahui semua hal-hal ini?", tanya Papa.
Pak Tino lagi-lagi tak bisa menjawab.
"Jika Bapak tau mengenai ini, tapi Bapak justru menyudutkan anak saya, saya rasa ada yang salah dengan Bapak!"
"Hm saya tak bermaksud, Pak."
"Ckckck! Berita ini sudah menyebar sampai mana?", tanya Papaku makin kesal.
"Seisi sekolah sudah mengetahuinya, Pak.", jawabnya takut-takut.
Papaku menggeleng.
"Berita yang tersebar seperti apa? Ardi membawa HP kamera atau ??", tanya Papaku?
"Ayma membuat video p*rno, Pak."
"Kenapa sampai muncul berita seperti itu? Sapa yang memulainya?" (Jujur hingga kini, ini masih belum terjawab)
"Wah saya ga bisa tinggal diam!! Saya akan proses kejadian ini ke jalur hukum!!", kata Papaku.
"Tolong jangan Pak. Saya minta maaf sebesar-besarnya. Tolong jangan laporkan saya Pak."
"Bapak tidak perlu meminta maaf kepada saya Pak! Yang sakit dan menjadi korban disini adalah anak saya, bukan saya!", kata Papaku dan saat itu segera berdiri dan mendekatiku.
"Ayma, gimana?", tanya Papaku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
"Jangan laporin Pak Tino ya Pa? Kasian. Nanti nama sekolah juga jelek. Padahal ini bukan salah sekolah."
"Tapi kalau dibiarin, akan ada korban lagi yang didzalimin seperti kamu ini."
"Insya Allah engga kog Pa. Pak Tino orang yang baik. Aku gapapa, sungguh. Dengan aku tau yang sebenarnya, uda cukup buat aku. Aku hanya butuh untuk nenangin diri beberapa hari Pa. Hm?"
"Baiklah!", Papaku segera menjauhiku dan duduk lagi di kursinya.
"Begini saja Pak, saya tidak akan memproses kasus ini seperti yang Bapak mau, tapi saya mau mereka semua diskors selama 3 hari! Agar hal-hal semacam ini tidak terulang lagi, mereka harus menerima konsekuensi dari perbuatannya!"
Para orang tua yang lain, tidak setuju dengan permintaan Papa.
"Bagaimana dengan Ayma Pak?", tanya Pak Tino.
"Skors juga. Tapi saya harap, Bapak tidak lagi melakukan hal seperti ini ke murid lainnya. Dan tolong pertanggungjawabkan segala berita yang sudah tersebar mengenai kejadian ini."
---
Aku sedikit tersenyum mengingat Papa malah meminta kami diskors saat itu. Saat aku tanya ke Papa, kenapa Papa begitu? Alasannya karena biar aku bisa menenangkan pikiran selama 3 hari tanpa harus belajar dan tanpa harus datang ke ekstrakurikuler.
"Ayma, kita ga bisa menutup berita yang sudah tersebar. Tapi.. Dari situlah kamu akan tau, mana teman yang baik untukmu mana yang tidak. Mereka yang mempercayaimu, yang mendukungmu, dan yang diam-diam membelamu, itulah teman sejati.
Yaudah sekarang, selamat menenangkan diri ya. Ingat, kamu bukan Ayma yang membuat video p*rno seperti yang mereka katakan, kamu adalah Ayma yang nantinya akan menjadi orang hebat dan akan menertawakan kejadian hari ini. Buktikan ke mereka, bahwa kamu tidak seperti yang mereka katakan dengan tindakan dan perbuatan, bukan sekedar hanya dalam ucapan!", kata Papaku saat aku sudah tiba di rumah.
Tanteku yang mendengar kejadian itu dari Papa, berusaha untuk menghiburku.
"Ayma.. Nanti ke depannya, jika masih ada yang mencacimu, memfitnahmu, balas aja dengan senyum, tapi dalam hati terus beristighfar, ya? Tetep kuat yaa. Tetep semangat!", kata Tanteku yang segera memelukku erat.
(To be continued)
Diubah oleh aymawishy 31-12-2021 16:46
alcipea dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas