Pagi yang cerah. Ada pemandangan yang sedikit berbeda di ujung timur desa Margopuro. Beberapa warga nampak berjalan beriringan menuju hamparan ladang jagung yang luas itu. Ya! Beberapa patok(patok = ukuran luas sawah atau ladang) ladang jagung milik Galih yang digarap oleh beberapa warga akan dipanen secara bersamaan.
Rasa gembira jelas terpancar dari setiap wajah orang orang itu. Panen, itu berarti sebentar lagi mereka akan mendapatkan uang dari hasil jerih payah mereka selama ini. Meski bagi Galih, panen itu tidaklah terlalu menggembirakan. Tanaman tanaman jagung di ladangnya yang ditanam dan dirawat ala kadarnya itu, tentu hasilnya juga kurang maksimal.
Sebagai pemilik ladang, Galih tentu ikut turun tangan mengawasi proses panen itu. Ia juga mengajak Prapto dan beberapa temannya yang biasa berkelana dari desa ke desa untuk buruh macul dengan upah alakadarnya untuk membantunya. Paklik Harno dan Bulik Parnipun juga datang membantu.
Ini pertama kalinya Galih bebaur dengan warga desa semenjak kedatangannya kembali ke desa ini. Rasanya sedikit kaku, mengingat sikap warga yang sedikit dingin terhadapnya. Apalagi rencana Galih untuk mengambil alih ladang itu setelah panen ternyata telah menyebar. Terbukti, saat Galih mendengar sendiri beberapa warga itu sambil bekerja mulai membicarakan soal rencana Galih tersebut. Dengan berbisik bisik tentunya. Dan mereka sepertinya nampak sangat kecewa. Beruntung kemarin Prapto sempat mengingatkan dan memberi saran untuk membatalkan niatnya tersebut. Kalau tidak, entah apa jadinya.
"Ini semua ulah Bayan Mardi dan para begundalnya," jelas Prapto saat Galih merasa heran kenapa rencananya untuk mengambil alih ladang itu bisa menyebar dengan cepat.
Prapto lalu menceritakan apa yang sudah ia lihat dan dengar di poskamling semalam. "Kau harus hati hati terhadap mereka Galih. Bayan Mardi dan antek anteknya itu termasuk orang yang licik, dan sepertinya mereka memiliki rencanya yang tak baik terhadapmu. Aku yakin, orang orang yang menggarap ladangmu itu, mereka juga telah terkena hasutan oleh mereka."
Dugaan Prapto tak sepenuhnya salah. Setelah panen itu selesai, dan Galih mengumpulkan orang orang yang menggarap ladangnya, salah seorang warga memberanikan diri untuk bertanya.
"Mas Galih, maaf, saya mau nanya, apa benar, setelah panen ini Mas Galih sudah tak mengijinkan kami menggarap ladang ini?" tanya warga itu, dengan nada sedikit ragu.
"Emmm, sebenarnya begini bapak bapak," Galih lalu menjelaskan rencananya, sesuai dengan yang disarankan oleh Prapto tempo hari.
"Jadi berita yang mengatakan bahwa Mas Galih mau mengambil alih lahan ini itu tidak benar ya?" tanya warga yang lain dengan nada lega.
"Iya. Maaf bapak bapak, sebelumnya memang saya berencana begitu. Namun atas saran Prapto, akhirnya saya membatalkannya. Tak penting bagi saya ladang ini mau digarap oleh siapa, yang terpenting, saya hanya ingin agar ladang ini bisa digarap dengan lebih baik lagi, agar nantinya bisa menghasilkan panen yang lebih baik juga. Soal hasilnya nanti, masih seperti biasa, kita bagi dua sama rata. Bibit dan segala macamnya, biar nanti saya yang menyiapkan. Dan juga, nanti akan saya ajarkan cara membuat pupuk dan lain sebagainya." jelas Galih.
Wargapun menyambut antusias pemikiran Galih tersebut. Sikap merekapun mulai sedikit terlihat bersahabat. Bahkan salah seorang warga sempat nyeletuk, "coba dari dulu ada yang punya pemikiran seperti itu, mungkin sekarang sudah kaya raya kita, hahaha..."
"Iya. Tak sia sia Mas Galih sekolah di kota," sahut warga yang lain.
"Dan yang lebih hebat lagi, Mas Galih mau membagi ilmunya kepada kita, serta mau memperhatikan kesejahteraan kita. Kurasa, Mas Galih ini lebih cocok jadi Bayan di desa ini, ndak seperti Bayan Mardi itu, yang taunya cuma main judi dan ndak peduli sama kesejahteraan warga!"
"Iya, betul itu! Nanti kita angkat saja Mas Galih jadi Bayan, kalau Bayan Mardi itu sudah habis masa menjabatnya."
"Setujuuuu...!!!"
Galih hanya tersenyum mendengar celotehan warga itu, sementara tanpa ia sadari, apa yang ia bicarakan dengan para warga itu membuat Bayan Mardi dan Sarto si jagoan kampung yang mencuri dengar dari kejauhan menjadi geram.
"Ini sudah kelewatan Pak Bayan! Baru beberapa hari anak itu disini, ia sudah mengancam kedudukan sampeyan sebagai Bayan!" geram Sarto.
"Ya! Ini tidak bisa dibiarkan To! Anak itu harus segera diberi pelajaran!" dengus Bayan Mardi, tak kalah geram.
Kedua orang itu lalu diam diam menyingkir dari tempat mereka menguping. Sementara para warga di ladang Galih kembali mulai sibuk mengurus hasil panen mereka. Tanpa diminta, mereka juga ikut membantu mengangkut hasil panen bagian Galih ke rumahnya.
"Luar biasa. Saranmu yang kemarin itu, benar benar luar biasa Prap! Lihat! Sikap warga terhadapku sepertinya mulai sedikit berubah," ujar galih kepada Prapto.
"Ah, itu soal biasa Galih. Yang luar biasa itu justru kamu, datang datang langsung jadi juragan disini," seloroh Prapto.
"Hahaha...!" kedua sahabat itu tertawa lepas. Bayangan akan usaha mereka yang nantinya akan sukses dan mampu meningkatkan taraf hidup mereka, membuat keduanya lupa bahwa tak semua usaha dan niat baik akan selalu berjalan mulus. Kadang, ada saja masalah yang timbul dan menjadi batu sandungan.
Dan masalah itu mulai muncul, bahkan di hari pertama mereka mulai menggarap ladang itu.
****
Keesokan harinya, Galih dan Prapto, juga para warga yang menggarap ladang milik Galih, mulai sibuk di ladang milik Galih itu. Hal yang pertama Galih lakukan adalah membabat habis rumpun pohon bambu ori yang tumbuh lebat disebelah timur ladang itu, yang menjadi batas antara ladang miliknya dan ladang orang lain.
Sudah menjadi hal yang umum, bahwa hampir semua desa di daerah itu selalu dikelilingi oleh rumpun pohon bambu. Kata orang orang tua dulu, rumpun bambu itu sengaja ditanam mengelilingi desa untuk berjaga jaga kalau suatu saat terjadi angin ribut atau badai. Batang batang pohon bambu yang berifat lentur dan tumbuh rapat itu dipercaya bisa menahan serangangan angin ribut agar tak terlalu merusah desa. Dan yang mereka tanam itu selalu bambu jenis ori, yang memiliki banyak ranting ranting berduri sampai ke bagian pangkalnya.
Namun jika rumpun bambu ori itu tumbuh di lahan pertanian, justru banyak merugikan para petani. Batangnya yang tumbuh rapat dan menjulang tinggi, tentu menghalangi sinar matahari yang sangat dibutuhkan oleh tanaman yang ditanam di lahan itu. Belum lagi akar akarnya yang membuat tanah menjadi kurang subur. Karena itulah Galih bermaksud untuk membabatnya sampai habis. Bukan pekerjaan mudah, karena rumpun bambu itu cukup lebat dan penuh ranting berduri. Butuh waktu beberapa hari, sampai ladang itu benar benar bersih dari tanaman bambu.
Sebuah mobil cikrak yang melintas di jalanan dekat ladang itu berhenti, pengemudinya turun dan menghampiri Galih yang tengah sibuk mengumpulkan batang batang bambu yang telah berhasil mereka tebang.
"Wah, sepertinya kita bakalan dapat rezeki nomplok Lih," ujar Prapto sambil menatap ke arah orang itu.
"Siapa Prap?" tanya Galih heran. Sepertinya ia baru pertama kali ini melihat orang itu.
"Pak Gondo, warga desa sebelah. Dia itu seorang pedagang, tengkulak, makelar, apa saja ia lakukan asal menghasilkan uang. Dan percayalah, kalau ia datang menemuimu, sudah pasti tak jauh jauh dari urusan yang berbau duit!"
Benar saja, setelah berbasa basi sebentar, laki laki bernama Pak Gondo itu mengutarakan niatnya untuk membeli batang batang bambu yang ditebang oleh Galih. Kebetulan, Galih sendiri sempat bingung mau dikemanakan batang batang bambu yang lumayan banyak itu. Maka tanpa pikir panjang lagi, iapun menerima tawaran laki laki itu.
"Jadi, kapan semua bambu ini selesai ditebang?" tanya Pak Gondo sambil mengeluarkan dompetnya.
"Mungkin besok sore sudah selesai Pak, tinggal sedikit lagi ini," jawab Galih.
"Ya sudah, kumpulkan saja dulu, besok sore saya ambil. Dan ini," Pak Gondo menyerahkan beberapa lembar uang kepada Galih. "Ini untuk panjar dulu, sisanya besok saya lunasi sambil mengambil bambu bambu itu."
"Terimakasih banyak Pak," Galih menerima uang itu dan menyimpan dalam kantongnya.
"Oh ya, ini rencananya mau ditanami apa Mas?" tanya Pak Gondo sambil memandangi hamparan ladang yang luas itu.
"Rencananya mau saya tanami ini dan itu pak, tanaman yang lebih menghasilkan, lebih cepat bisa dipanen dan lebih mudah cara merawatnya juga," jawab Galih.
"Wah, bagus itu. Sudah ada calon pembeli kalau panen nanti?"
"Rencananya mau saya jual ke kota Pak. Kebetuan ada budhe saya disana yang menjadi bandar sayur."
"Wah, apa ndak kejauhan itu? Gimana kalau nanti saya saja yang beli, daripada sampeyan harus jauh jauh membawanya ke kota. Kebetulan saya juga sering menyetok sayur mayur ke pasar kota kabupaten sana. Soal harga, nanti bisa kita rundingkan."
"Wah, boleh banget tuh Pak. Kebetulan saya juga belum sempat menghubungi budhe saya di kota."
"Baiklah kalau begitu, nanti kalau sudah siap panen, hubungi saja saya di desa sebelah. Dan, kalau seandainya sampeyan mau menjual atau membeli sesuatu, sampeyan juga bisa hubungi saya. Mungkin saya bisa membantu."
"Iya Pak, terimakasih sebelumnya."
Laki laki itu lalu pamit. Galih tersenyum puas. Sepertinya usahanya telah mendapatkan jalan untuk menuju keberhasilan. Iapun lalu kembali sibuk dengan pekerjannya. Rasa lelah tak ia rasakan lagi, membayangkan hasil yang akan dia dapat saat panen nanti. Hingga saat sore menjelang, dan mereka bersiap untuk pulang, mereka dikejutkan oleh teriakan seorang laki laki yang berlari lari ke arah mereka sambil mengacung acungkan golok yang dibawanya.
"Hey! Siapa yang menyuruh untuk menebang pohon pohon bambu ini hah?!" laki laki itu berteriak marah sambil mendekat ke arah Galih, membuat Galih tanpa sadar mundur beberapa tindak. Golok yang diacung acungkan oleh orang itu, nampak berkilat kilat tajam.
"Kenapa memangnya Pak?" Prapto balik bertanya, dengan nada sedikit menantang. Ia tau, laki laki itu adalah orang yang kemarin memaki maki Galih saat acara panen jagung.
"Kenapa katamu?! Kau jangan ikut campur Prapto! Kau tau kan, rumpun bambu itu tumbuh di perbatasan ladang ini dan ladangku yang disebelah sana! Itu berarti aku juga punya hak atas pohon bambu itu! Dan kalian membabatnya begitu saja tanpa ada persetujuanku? Kau, anak kemarin sore, yang baru datang dari kota, sudah mau cari masalah denganku?! Dasar anak..."
"Jangan ngawur Pak," Prapto menukas cepat ocehan orang itu. "Memang, pohon bambu itu tumbuh di perbatasan ladang ini dan ladang punya sampeyan! Tapi coba sampeyan lihat baik baik. Pohon bambu itu tumbuhnya masih di tanah milik Galih! Ngawur kalau sampeyan merasa ikut punya hak atas pohon pohon bambu itu!"
"Cih! Otakmu rupanya sudah dipengaruhi anak kota ini Prap! Dibayar berapa kamu sampai berani mati matian membelanya? Aku ndak mau tau! Pokoknya aku ndak terima kalau..."
"Sabar Pak," Galih yang sejak tadi diam mencoba menengahi perdebatan sengit itu. "Maaf kalau ternyata saya salah. Dan, karena pohon bambu itu sudah terlanjur saya tebang, ini, ada sedikit uang untuk bapak, anggap saja sebagai..."
"Sombong!" laki laki itu dengan kasar menepis tangan Galih yang mengangsurkan beberapa lembar uang kepadanya. "Dasar orang kota! Apa apa selalu dinilai dengan uang! Apa kau pikir uangmu itu bisa membeli segalanya hah?! Perlu kau ingat! Rumpun bambu yang kau tebang itu, itu tempat angker! Selama ini kami, jangankan menebangnya, untuk sekedar mengambil rantingnya saja kami tak pernah berani! Dan sekarang kau dengan seenaknya membabat sampai habis pohon bambu itu! Ini akan berbuntut panjang! Kalau sampai terjadi apa apa dengan desa ini, kau yang harus bertanggung jawab!"
Laki laki itu kembali mengacungkan goloknya ke arah Galih, lalu pergi dengan masih menggerutu tak jelas. Galih hanya bisa terpaku menatap ke arah orang itu.
"Sudah!" lagi lagi Prapto mencoba menenangkan Galih. "Tak perlu kau pikirkan. Ini pasti cuma akal akalan orang itu untuk menjatuhkanmu. Kau lihat itu?"
Prapto menunjuk ke arah si laki laki yang kini menemui seorang laki laki lain yang sepertinya memang sengaja menunggunya di kejauhan. Mereka nampak berbincang serius sambil berjalan menjauh.
"Itu Sarto, jagoan kampung yang menjadi anteknya Bayan Mardi. Aku yakin ini semua adalah rencana mereka. Jadi, sepertinya kita harus lebih waspada lagi dengan mereka."
*****
Malam hari, saat Galih baru keluar dari Musholla bersama Prapto, terjadi kehebohan di salah satu rumah warga yang letaknya tak jauh dari Musholla. Orang orangpun segera menuju ke rumah itu. Tak terkecuali Galih dan Prapto. Setelah menyuruh Ajeng dan Arum pulang duluan, Galih dan Prapto mengikuti langkah orang orang itu menuju ke rumah yang menjadi sumber keributan.
"Ada apa Kang?" Prapto bertanya kepada salah seorang warga di dekatnya.
"Itu, Kang Marto, katanya kesurupan!" jawab orang itu tanpa menoleh. Ia sibuk melongok longok diantara kepala orang orang yang berdiri di depannya, mencoba melihat apa yang terjadi di dalam rumah itu. Suara geraman dan tawa terkekeh, juga sumpah serapah jelas terdengar dari sana.
"Kesurupan?!" tanya Prapto lagi.
"Iya. Katanya kesurupan dhemit penunggu rumpun bambu yang kemarin ditebang oleh anak kota itu, yang di sebelah timur desa," lagi lagi orang itu menjawab tanpa menoleh. Bahkan sepertinya ia tak menyadari siapa orang yang bertanya kepadanya itu. Perhatiannya terfokus pada si pemilik rumah yang ternyata sedang mengamuk.
"Sebaiknya kita pulang saja!" bisik Prapto pada Galih.
"Kenapa?" tanya Galih heran.
"Yang kesurupan itu, orang yang sama dengan yang kemarin ngajak ribut kamu di ladang! Aku yakin ini pasti..."
"KAAUUUUUU...!!!"
"AWAAASSS...!!!"
Belum sempat Prapto menyelesaikan ucapannya, si pemilik rumah yang kesurupan itu menerobos keluar. Orang orang segera berhamburan menyelamatkan diri, karena Kang Marto yang kesurupan itu berlari sambil mengacung acungkan golok yang dipegangnya.
"Kau manusia biadab! Berani beraninya kau mengobrak abrik istanaku! Kau..., kau akan menerima akibatnya! Kau harus matiiiii...!!!" Kang Marto, laki laki yang kesurupan itu melesat cepat ke arah Galih sambil mengangkat goloknya tinggi tinggi. Galih yang tak menyangka akan mendapat serangan seperti itu, hanya bisa terpaku diam di tempatnya. Beruntung, beberapa warga berhasil meringkus Kang Marto, hingga Galih selamat dari golok yang nampak berkilat kilat tajam.
"Grrrrrhhhhh....!!! Arrggghhh...!!! Bocah itu! Bocah itu yang telah berani mengacak acak istanaku! Dia harus membayar untuk perbuatannya! Dia harus mati! Atau aku akan mengobrak abrik desa ini, dan kalain semua akan kuhabisi...!!!" Kang Marto menggeram geram marah sambil meronta ronta, mencoba membebaskan diri dari cengkeraman para warga.
Sontak, para warga yang lain, begitu mendengar ucapan Kang Marto yang kesurupan itu menatap ke arah Galih, membuat Galih menjadi salah tingkah.
"Oh, jadi itu toh yang bikin Kang Marto kesurupan!" bisik salah satu warga.
"Rumpun bambu itu memang terkenal angker! Gila saja kalau ada orang yang berani nekat menebangnya," gumam warga yang lain.
"Ini ndak bisa dibirkan! Kita semua bisa celaka kalau ..."
"Nah, sudah jelas sekarang!" suara Bayan Mardi yang keras menggelegar membuat orang orang yang bergunjing itu diam serempak. "Ini akibatnya kalau orang bertindak tanpa perhitungan! Kau Galih, baru beberapa hari disini, tapi kau sudah bikin ulah! Jangan karena merasa kau lebih pintar dari kami, lalu kau bisa berbuat seenaknya begitu saja! Sebagai seorang anak yang dilahirkan di desa ini, seharusnya kau lebih bisa menghargai apa yang ada di desa ini, bukan malah merusaknya! Perbuatanmu dengan menebang rumpun pohon bambu angker itu, telah membahayakan keselamatan warga desa. Jadi, sebagai Bayan di desa ini, aku terpaksa harus mengambil tindakan tegas, demi keselamatan wargaku. Maaf, bukannya aku kejam, tapi sebagai Bayan aku harus bisa melindungi wargaku. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku memintamu untuk segera pergi...."
"Siapa yang kau suruh pergi Mardi?!" sebuah suara serak terdengar, menukas ucapan Bayan Mardi. Warga serempak menoleh ke arah asal suara itu, dan segera menyingkir begitu menyadari bahwa si pemilik suara adalah Mbah Pariyem.
"Wedhus! Siapa yang memanggil nenek pikun ini? Bikin kacau saja!" gerutu Bayan Mardi pelan.
"Siapa yang akan kau suruh pergi heh?" Mbah Pariyem mendekat ke arah Bayan Mardi dan menatap laki laki itu lekat lekat. "Anak itu, atau dhemit yang katanya merasuki Marto?!"
"Eh, anu Mbah...," Bayan Mardi menjawab gugup. Dalam hati ia mengutuk orang yang telah lancang memanggil nenek tua itu kesini.
"Anu apa?! Yang tegas kalau ngomong! Jangan plintat plintut kayak orang nahan kentut begitu!" sentak Mbah Pariyem.
"Anu Mbah, ini lho, dhemit yang merasuki Marto, mengancam akan..."
"Kau takut diancam sama dhemit hah?! Bayan macam apa kau ini! Sama dhemit saja takut! Dan kau Marto! Sudahi semua sandiwaramu itu, atau akan kupanggil dhemit yang sesungguhnya untuk mengunyah kepalamu!"
"Eh, apa maksudnya ini?" warga kembali berkasak kusuk, sementara Kang Marto nampak kebingungan, antara menuruti perintah Mbah Pariyem, atau meneruskan sandiwaranya dengan terus berpura pura kesurupan. Jelas, ancaman Mbah Pariyem barusan bukan main main. Mudah saja bagi nenek itu untuk memanggil dhemit dan menyuruhnya untuk mencelakainya. Namun lirikan tajam Bayan Mardi juga tak bisa ia kesampingkan. Kang Marto terjebak diantara dua pilihan yang sama sama sulit.
"Hihihihi...! Kau bingung rupanya! Baiklah Marto! Kalau itu maumu!" Mbah Pariyem mendekat ke arah Kang Marto, lalu memegang ubun ubunnya. "Wahai para dedhemit penghuni alam kegelapan! Aku..."
"Huwaaaaa....!!!" Kang Marto yang merasa terpojok berteriak histeris sambil menjatuhkan golok yang dipegangnya. "Ampun mbah! Jangan memanggil dhemit beneran! Aku ngaku, aku hanya pura pura ksurupan! Ini semua ide Pak Bayan untuk..."
"Cukup!!!" Bayan Mardi membentak kasar.
"Kenapa Mardi? Kau mau kupanggilkan dhemit juga?" Mbah Pariyem terkekeh.
"Wedhus!" Bayan Mardi mendengus, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Suasana menjadi gaduh. Warga yang masih berkerumun mulai bisa menduga duga apa yang terjadi sebenarnya. Dan kegaduhan itu mendadak senyap, manakala Mbah Pariyem menoleh ke arah mereka sambil mendesis tajam.
"Kalian semua juga mau kupanggilkan dhemit?!"
Wargapun sontak bubar, lari terbirit birit menuju ke rumah mereka masing masing, sementara Mbah Pariyem, dengan mata tuanya lalu menatap ke arah Galih dengan sangat tajam
"Dan Kau!" nenek itu menunjuk Galih dengan tongkat bambunya. "Kuharap ini terakhir kali aku melihatmu! Pergi dari desa ini, atau kau dan adikmu itu akan mati!"
Bersambung