Kaskus

Story

congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.

Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
sargopipAvatar border
efti108Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.3K
793
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.1KAnggota
Tampilkan semua post
congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
#661
Part 82 - Silent Treatment
"Eh, Shinta? Kapan nyampe?" Tanya gua, berbasa-basi

"Kemaren sore nyampe ja. Gimana kabar?"

"Baik, kamu gimana?"

"Ya gini-gini aja lah" ia menjawab dengan kalimat yang bisa gua simpulkan sendiri

"Signature dong, satu" pinta gua, kembali ke tujuan awal gua ke sini, beli rokok!

"Kok ganti? (Ganti merk rokok)" setelah cukup lama tak bertemu, rupanya ia masih ingat dengan merk rokok gua.

"Cari yang agak murah" yang gua iringi dengan tawa kecil

"Mampir dulu ja" ajakny, sembari menunjuk kursi yang berada di teras rumahnya

Tanpa menjawab, gua langsung menuju kursi tersebut.

Terdengar suara Shinta membuka kulkas display minuman sebelum menyusul gua di teras.

Sebuah minuman teh kemasan botol ia sajikan ke gua. Lalu duduk di kursi kosong yang berada di seberang tempat gua. Posisi duduk kami menghadap ke arah yang sama, ke arah jalan, dengan meja bundar kecil yang terbuat dari besi sebagai pembatas antara kami berdua.

"Udah ganti-ganti berapa cewek?" Tanya Shinta, gua menangkap pertanyaan tersebut sebagai sebuah candaan basa-basi.

Gua sedikit terkejut, karena gua pikir obrolan ini bakal ke arah mellow-mellow

"Kamu kali yang udah ngegaet banyak juragan sapi di sana" gua pun membalas gurauannya

Dengan paras cantiknya, gua yakin ngga butuh waktu lama bagi Shinta buat menarik perhatian remaja laki-laki di sana.

Selanjutnya, kami saling melempar canda. Ngga ada hal-hal sedih yang kami berdua bicarakan

Sepertinya ia sudah berdamai dengan kejadian-kejadian setahun yang lalu. Sehingga bertemu gua bukan lagi sesuatu yang mengiris hati.

Begitupun gua, dengan prinsip "Masa lalu itu seperti foto. Bisa dilihat lagi, tapi bukan untuk diulang lagi"

"Sampe kapan di sini?" Tanya gua

"Ntar malem balik di anter bapak, kan besok masih sekolah. Kenapa emang?"

"Engga apa-apa sih, nanya aja. Kirain abis kita udah ngga ada hubungan, ibu mu bakal pindahin kamu lagi ke sini" gua memelankan volume bicara, sembari mengintip ke dalam rumah, berharap ibu nya Shinta ngga mendengar perkataan gua

Ia tertawa melihat gua yang mengintip kondisi di dalam rumah, kemudian ia membalas pernyataan gua "nanggung, mau lulus"

Betul juga apa kata Shinta, mungkin setelah lulus, baru dia akan kembali lagi menetap di Semarang.

Obrolan kami habis sampai di sini, ia mempersilahkan gua meminum minuman botol tadi, sekaligus sebagai pemecah keheningan.

Tiba-tiba terdengar suara sepasang sandal yang bergesekan dengan paving jalanan, suara tersebut semakin mendekat. Gua mengenal betul suara dan ritme langkah kaki tersebut.

Ia terkejut ketika melihat gua dan shinta duduk berdua, sejenak ia mematung di posisi yang sejajar dengan pagar rumah.

"Wah, ada yang lagi nostalgia nih" ucapnya, mencoba bersikap biasa, kemudian berjalan ke arah warung

Gua dan Shinta hanya meresponnya dengan senyuman malu-malu.

Shinta beranjak dari duduknya, berjalan ke arah warung, melayani Zahra yang hendak membeli sesuatu.

Ketika sudah mendapati apa yang dicari, Zahra langsung pergi. Sambil berjalan keluar warung, ia berpamitan dengan mengucap "Maaf ya, ganggu. Silahkan dilanjut"

Ada sinyal cemburu yang gua tangkap dari ucapan Zahra.

Gua pun memutuskan untuk berpamitan pulang "aku tinggal ya, makasih minumannya. Oh iya, nomer ku ngga ganti"

Lalu gua berlari kecil menyusul Zahra yang sudah jalan cukup jauh

"Beli apa?" Tanya gua ke Zahra ketika gua sudah berada di sampingnya

Ia hanya mengangkat sebuah bungkusan penyedap makanan, tanpa mengakatan sepatah kata.

Sebuah o kecil terbentuk dari mulut gua, tanpa keluar suara.

Kami berpisah saat gua masuk rumah Mbak Oliv, sedangkan Zahra balik ke rumah Eyang "aku ke rumah Mbak Oliv dulu"

Zahra terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan gua, bahkan melengos pun engga.

Rupanya, pertemuan antara gua dan Okta membakar api cemburu dari Zahra.

Gua ketuk jendela kamar Mbak Oliv yang langsung menghadap ke halaman, ia pun mengerti apa yang gua maksud, dan segera menyusul ke teras.

Di teras ini, gua merasa lebih nyaman, karena bisa sambil menyalakan rokok. Mamah sama sekali ngga mengizinkan asap rokok berada di dalam ruangan.

Maklum saja, ngga ada penghuni pria di sini. Hanya ada satu asbak yang tersedia di rumah ini. Itupun gua yang membuatnya menggunakan bekas kaleng minuman penyegar. Asbak DIY tersebut selalu gua simpan di bawah kolong meja teras.

"Tadi aku ketemu Shinta" gua mulai bercerita

"..."

"Terus, Zahra dateng mergokin aku lagi ngobrol ama Shinta. Abis itu, dia sekarang yang ngambek ke aku"

"Cemburu mungkin"

"Ngga usah dikasih tau juga aku udah tau kalo Zahra cemburu, mbak"

"Ya terus, masalahnya di mana?"

"Aku sama Shinta cuma ngobrol basa-basi biasa, ngapain dia cemburu. Lagian aku sama Zahra kan ngga pacaran, ngapain dia cemburu"

"..."

"Dia bilang 'aku bakal bikin mas Raja klepek-klepek'" sambil menirukan gaya bicara Zahra malam itu

Mbak Oliv tertawa ketika melihat gua yang menirukan gaya bicara Okta

"Tapi kalo gini caranya, malah males aku jadinya" keluh gua.

Rokok yang masih utuh, gua ambil satu dari bungkusnya, lalu gua bakar.

Mbak Oliv reflek mengambil asbak dari bawah kolong meja, dan meletakkannya di atas meja.

"Kamu sebenernya udah tau kan, mbak?" Gua menatap mbak Oliv tajam

Ia terlihat sayu, tatapannya pasrah. Yang menunjukkan bahwa ngga mengelak pernyataan gua

Mbak Oliv menghela nafas "ngga lama abis Okta balik ke Bandung, Zahra sering ngajak main, ngajak belanja sih tepatnya. Dia minta aku buat milihin baju, dia juga minta style yang sama kayak aku"

Gua memutar badan ke arah mbak Oliv, bersiap mendengar lanjutan ceritanya

"Aku nebak sih dia lagi deket sama cowok. Aku ngga tanya sih, pikirku biar nanti dia yang cerita sendiri. Ngga taunya, cowok yang Zahra suka itu kamu"

"Trus, Zahra bilang apa lagi?" Kembali gua mengorek informasi tentang apa yang belum gua ketahui

"Yaudah, gitu doang. Abis itu cuma aku bantu ngasih info tentang kamu"

--

Kira-kira, pukul 10 malam gua baru pulang ke rumah. Suasana rumah sudah sepi saat gua tiba.

Bergegas gua mandi, karena belum sempat mandi sore. Setelah itu lanjut merapikan buku untuk mata pelajaran esok hari. Tak lupa memasukkan topi karena besok ada upacara bendera.

Di salah satu sisi kamar, gua melihat gitar lama pemberian Mbak Oliv yang masih terbungkus dengan tasnya. Rasanya, sudah lama gua ngga memainkan gitar tersebut.

Perlahan gua menghampirinya, meniup sedikit debu yang menempel di sana.

Senar-senar yang fals karena tidak pernah terjamah mulai gua tuning menggunakan lagunya Creed - One Last Breath.

Belum usai gua metuning gitar, Zahra masuk ke kamar gua membawa segelas teh. Tanpa sepatah kata, ia langsung menuju balkon. Hanya meletakkan teh tadi di balkon, ia keluar lagi dari kamar gua.

Gua bertanya keheranan "teh nya buat aku?" Zahra ngga menoleh sedikitpun.

Dengan gitar yang masih di tangan, gua berjalan ke arah balkon. Memandangi teh yang masih mengepulkan asap panas, seraya berkata dalam hati "dia kan masih ngambek, kok masih mau bikinin gua teh? Jangan-jangan ada racunnya"

Segera gua menghilangkan pikiran negatif, mengingat Zahra pun ngga tega melihat tikus yang mati kena racun hama.

Gua habiskan malam itu dengan beberapa lagu ditemani teh manis yang dibumbui api cemburu.

--

Hari telah berganti, perhatian Zahra sama sekali ngga berubah meski ia ngambek ke gua.

Masih tersaji kopi dan gorengan dari Zahra untuk bekal mengawali hari, masih ada tangan telaten darinya untuk merapikan dasi milik gua.

Hanya satu yang hilang, yaitu ucapan-ucapan dari mulut imutnya. Zahra menerapkan silent treatment seperti halnya yang dilakukan Mamah ketika masih marah ke gua.

Ah shit, kenapa sih orang-orang seneng banget diem-dieman?

Gua dan Bagas berjalan beriringan menuju kelas setelah upacara bendera. Saat tiba dipersimpangan lorong kelas, bagas menarik gua ke arah kantin.

Gua memandangnya dengan tatapan heran. Seakan mengerti dengan maksud gua, ia mengucap singkat "haus"

Kami duduk di bangku panjang yang tertata di kantin sekolah, sembari menikmati aqua gelas untuk membasahi tenggorokan.

"Lu marahan ama Zahra?" Bagas bertanya

Gua mengangguk mengiyakan

"Pantesan diajak omong diem aja" lanjutnya

"Ngambeknya ngeselin, gua didiemin dari semalem"

"Ngga bakal lama itu mah, ntar kalo genteng rumah lu bocor atau keran air di rumah rusak, dia bakalan minta tolong ama lu. Lu kan satu-satunya laki-laki di rumah" Bagas menenggak habis air minumnya, lalu berjalan meninggalkan kantin.

Gua masih mematung di tempat duduk, mucul ide yang mungkin bakal mengakhiri silent treatment Zahra akan berakhir.
delet3
japraha47
mirzazmee
mirzazmee dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.