- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
200.1K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#873
Part 123 - Menjelang Prom
Kadang, ada berbagai macam hal yang sulit buat diungkapin, dan setiap orang pasti punya presepsinya masing-masing terhadap hal tersebut. Ada orang yang ga bisa bilang maaf karena gengsinya yang kegedean, ada juga yang terlalu gampang maafin orang lain. Ada yang bisa dengan mudahnya cerita permasalahan hidup mereka, ada juga yang lebih memilih untuk diem.
Begitu pun dengan gue. Gue adalah orang yang sangat sulit buat cerita ke orang lain tentang apa yang gue rasakan, apa yang gue alami. Selama gue nggak ditanya gue akan lebih memilih untuk diem. Kalau pun gue ditanya kemungkinan gue akan milih-milih kata dengan bijak. Meskipun kadang ini mulut keluarin aja apa yang sehusnya nggak diomongin.
Kebiasaan ini juga yang ngebuat gue dulu sempet berjauhan dengan Putri waktu kelas sebelas, karena gue nggak bisa menceritakan apa yang lagi gue rasakan. Tapi sejak gue jadian sama Putri gue selalu menceritakan apa yang gue rasakan dan apa yang lagi gue alami. Meskipun tetep gue milih-milih kata atau kadang menunda buat ngasih tau.
Tapi sekarang hal itu ada lagi. Ada hal yang berat banget buat gue ceritain ke Putri. Hal tersebut adalah keinginan kuat gue buat kuliah di Bandung. Gue nggak tau Putri bakalan suka atau engga dengan keputusan ini. Masalahnya Putri nggak boleh buat kuliah di luar kota kalau nggak dapet kampus negeri. Gue bisa memaklumi itu, karena dia anak cewek pertama dan satu-satunya di keluarganya.
Beberapa kali gue pernah berkonsultasi sama Putri mengenai kampus swasta cadangan mana yang bakal kita pilih kalau seanainya nggak masuk kampus negeri. Sebenernya nggak harus satu kampus juga, tapi kalau udah beda kota itu udah lain cerita.
Waktu ditanya Putri gue mau milih kampus cadangan mana gue selalu jawab nggak tau dan bilang nanti aja nunggu masa-masa pendaftaran terakhir. Karena gue tau kampus swasta pasti bakalan buka terus meskipun udah mepet banget sama masa orientasi. Tapi selain itu juga, gue sebenernya udah ngeriset sendiri kampus-kampus yang ada di bandung. Sementara itu Putri selalu ngasih opsi-opsi kampus dengan kelebihan dan kekurangannya.
*****
Beberapa hari setelah UN dan coret-coretan, janji nemenin Putri buat nyari gaun buat acara prom night angkatan kita nanti. Siang menjelang sore gue udah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah Putri buat jemput.
Pas nyampe depan rumah Putri gue langsung ngabarin, dan nggak lama setelahnya Putri langsung keluar dengan pakaian yang cukup kasual. Mungkin biar gampang nanti kalau mau nyoba-nyobain. Gue sendiri memakai pakaian yang cukup nyantai juga.
“Kamu tau tempatnya?” Tanya gue ke Putri waktu masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Ada beberapa sih kemaren-kemaren sempet nyari-nyari juga.”
“Nanti kasih tau aja yaa dimananya.”
“Okeee.”
Sambil dengerin musik-musik yang terdengar dari radio gue menelusuru tiap jalan. Sebenernya gue mau nyeterl cd yang beberapa selalu gue tinggalin di mobil, cuman gue ga yakin Putri tau lagunya, wkwkwk.
Tujuan pertama kita adalah ke daerah polim. Jujur aja sebenernya gue ga punya bayangan sama sekali tempat yang akan kita tuju itu kaya gimana. Soalnya seumur-umur gue nggak pernah pergi ke butik atau pun sejenisnya. Gue juga nggak tau Putri dapet informasinya dari mana atau dari siapa. Mungkin dari temen-temennya. Soalnya yang gue tau gaun itu bikin sendiri dan beli bahannya di tanah abang, wkwkwk.
Setelah sampe gue dan Putri langsung turun dan segera masuk ke butik tersebut. Tapi nggak terlalu lama kita berdua keluar lagi karena harganya terlalu mahal. Sayang juga kalau dipake cuman buat sekali pas prom. Tapi udah gue duga sih, soalnya juga tokonya di kawasan kayak polim.
Beberapa tempat kita datengin tapi kayaknya belom ada yang sreg buat Putri. Bahkan Putri belom nyobain sama sekali. Mungkin karena ribet, atau kurang selera. Malah ada satu tempat yang lebih cocok disebut toko gamis yang dipake buat lebaran.
Sampe akhirnya gue dan Putri berada di sebuah toko yang kayaknya emang cocok buat anak muda dan khusus wanita. Harganya nggak terlalu mahal dan desainnya juga nggak terlalu berlebihan kayak toko-toko yang kita datengin sebelumnya.
Waktu lagi ngeliat-liat, Putri berhenti di salah satu manekin yang mengenakan dress berwarna hitap dan keliatannya dia tertarik. Dressnya keliatan sederhada tapi terkasan mewah. Dengan lipatan-lipatan di beberapa bagian. Dressnya juga bukan dress yang merombe-rombe kebawah (gue nggak tau apa sebutannya, wkwkwk), Melainkan dress selutut.
Putri segera menghampiri penjaga toko dan segera nyoba dress tersebut. Agak lama sampe akhirnya Putri keluar dari kamar ganti. Seketika gue terpana dengan sosok Putri yang ada di depan gue. Selama ini gue sama sekali nggak pernah ngeliat Putri memakai gaun atau sejenisnya. Bahkan dengan make up yang sederhada dan tanpa riasan Putri udah terlihat anggun dari balik dress tersebut.
“Gimana Tre?” Tanya Putri sambil berputar pelan.
“Bagus.” Jawab gue singkat. Bukannya nggak mau ngomentarin, tapi gue kehabisan kata-kata.
“Yakin? Bagus doang komentarnya.”
“Cocok Put, sampe nggak bisa ngomong aku, hahaha. AKu juga jas sama kemejanya item-item kok.”
“Samaan dong kita.” Kata Putri sambil tersenyum. Padahal kalau kita lagi jalan juga selalu pake pakaian item-item. Tapi gue jadi nggak sabar gimana kalau kita berdua pake pakaian formal.
Setelah Putri beli gaun yang dia pengen, hari udah berganti jadi malem. Karena kita berdua belom makan jadi kita berdua memutuskan buat pergi ke pim yang searah sama jalan balik kita. Kayak nggak ada bosen-bosennya gue dan Putri jalan ke area 51 dan mesen makanan yang kita inginkan. Gak pake lama karena laper gue dan Putri langsung ngabisin pesenan kita.
Abis itu gue dan Putri memutuskan buat muter-muter dulu di pim, sambil ngeliat-liat kali ada barang atau aksesoris yang cocok buat pakaian kita nanti pas di prom. Gue sempet tergiur ngeliat sepatu pantopel dan kemeja item buat gue pake nanti meskipun gue udah punya, itung-itung buat koleksi. Tapi setelah ngeliat harganya gue mengurungkan niat gue tersebut.
Saat lagi jalan berdua, pikiran gue juga terganggu sama suatu hal. Kapan gue akan ngasih tau Putri kalau gue udah daftar kampus cadangan di Bandung. Gue nggak mau ngerusak momen yang udah kita bangun dari tadi siang. Meskipun sama-sama capek tapi gue ngerasa bahagia udah nemenin dia seharian ini.
Setiap kali kita masuk ke sebuah toko dan Putri menanyakan suatu pendapat terhadap suatu barang, gue cuman berkomentar ‘oh’ atau ‘bagus’, atau jawaban-jawaban normatifnya. Ada juga momen dimana gue udah memutuskan buat ngasih tau Putri tapi gue urungkan lagi maksud gue tersebut.
“Put…” Panggil gue di sela-sela ngeliat barang.
“Kenapa Tre?”
Gue terdiam sesaat, mikirin gimana gue harus membuka kata-katanya. “Gajadi deh, ke sana yuk.” Ucap gue dan buru-buru mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk suatu toko dengan antusias.
Menjelang pukul sembilan kita berdua memutuskan buat balik. Selama di perjalanan pulang gue terus memikirkan gimana caranya gue nyampein tentang hal yang ada di pikiran gue dan berharap semuanya bakal baik-baik aja. Jawabannya gue nggak nemu. Tanpa sadar kita berdua udah sampe di ujuan.
“Put…” Lagi-lagi gue memanggil Putri. Kali ini gue berharap bisa nyampeinnya, kenyataannya kata-kata tersebut nggak keluar dari mulut gue.
“Kenapa Tre?” Tanya Putri kali ini lebih antusian dan memasang muka penasaran.
“Enggak, kamu beneran gapapa pulang lewat jam dua belas nanti di Pro?”
“Nggak papa, kan udah izin. Nggak nginep juga kan?”
“Nggel lah.”
Kemudian dengan wajah penuh pertanyaan Putri pamit. “Yaudah, aku duluan yaaa. Hati-hati Tre.”
“Daaah.”
“Daaah.”
Gue kembali memacu kendaraan gue dengan penuh penyesalan. Sampe kapan gue terus nyembuyiin hal ini dari Putri.
Kadang, ada berbagai macam hal yang sulit buat diungkapin, dan setiap orang pasti punya presepsinya masing-masing terhadap hal tersebut. Ada orang yang ga bisa bilang maaf karena gengsinya yang kegedean, ada juga yang terlalu gampang maafin orang lain. Ada yang bisa dengan mudahnya cerita permasalahan hidup mereka, ada juga yang lebih memilih untuk diem.
Begitu pun dengan gue. Gue adalah orang yang sangat sulit buat cerita ke orang lain tentang apa yang gue rasakan, apa yang gue alami. Selama gue nggak ditanya gue akan lebih memilih untuk diem. Kalau pun gue ditanya kemungkinan gue akan milih-milih kata dengan bijak. Meskipun kadang ini mulut keluarin aja apa yang sehusnya nggak diomongin.
Kebiasaan ini juga yang ngebuat gue dulu sempet berjauhan dengan Putri waktu kelas sebelas, karena gue nggak bisa menceritakan apa yang lagi gue rasakan. Tapi sejak gue jadian sama Putri gue selalu menceritakan apa yang gue rasakan dan apa yang lagi gue alami. Meskipun tetep gue milih-milih kata atau kadang menunda buat ngasih tau.
Tapi sekarang hal itu ada lagi. Ada hal yang berat banget buat gue ceritain ke Putri. Hal tersebut adalah keinginan kuat gue buat kuliah di Bandung. Gue nggak tau Putri bakalan suka atau engga dengan keputusan ini. Masalahnya Putri nggak boleh buat kuliah di luar kota kalau nggak dapet kampus negeri. Gue bisa memaklumi itu, karena dia anak cewek pertama dan satu-satunya di keluarganya.
Beberapa kali gue pernah berkonsultasi sama Putri mengenai kampus swasta cadangan mana yang bakal kita pilih kalau seanainya nggak masuk kampus negeri. Sebenernya nggak harus satu kampus juga, tapi kalau udah beda kota itu udah lain cerita.
Waktu ditanya Putri gue mau milih kampus cadangan mana gue selalu jawab nggak tau dan bilang nanti aja nunggu masa-masa pendaftaran terakhir. Karena gue tau kampus swasta pasti bakalan buka terus meskipun udah mepet banget sama masa orientasi. Tapi selain itu juga, gue sebenernya udah ngeriset sendiri kampus-kampus yang ada di bandung. Sementara itu Putri selalu ngasih opsi-opsi kampus dengan kelebihan dan kekurangannya.
*****
Beberapa hari setelah UN dan coret-coretan, janji nemenin Putri buat nyari gaun buat acara prom night angkatan kita nanti. Siang menjelang sore gue udah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah Putri buat jemput.
Pas nyampe depan rumah Putri gue langsung ngabarin, dan nggak lama setelahnya Putri langsung keluar dengan pakaian yang cukup kasual. Mungkin biar gampang nanti kalau mau nyoba-nyobain. Gue sendiri memakai pakaian yang cukup nyantai juga.
“Kamu tau tempatnya?” Tanya gue ke Putri waktu masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Ada beberapa sih kemaren-kemaren sempet nyari-nyari juga.”
“Nanti kasih tau aja yaa dimananya.”
“Okeee.”
Sambil dengerin musik-musik yang terdengar dari radio gue menelusuru tiap jalan. Sebenernya gue mau nyeterl cd yang beberapa selalu gue tinggalin di mobil, cuman gue ga yakin Putri tau lagunya, wkwkwk.
Tujuan pertama kita adalah ke daerah polim. Jujur aja sebenernya gue ga punya bayangan sama sekali tempat yang akan kita tuju itu kaya gimana. Soalnya seumur-umur gue nggak pernah pergi ke butik atau pun sejenisnya. Gue juga nggak tau Putri dapet informasinya dari mana atau dari siapa. Mungkin dari temen-temennya. Soalnya yang gue tau gaun itu bikin sendiri dan beli bahannya di tanah abang, wkwkwk.
Setelah sampe gue dan Putri langsung turun dan segera masuk ke butik tersebut. Tapi nggak terlalu lama kita berdua keluar lagi karena harganya terlalu mahal. Sayang juga kalau dipake cuman buat sekali pas prom. Tapi udah gue duga sih, soalnya juga tokonya di kawasan kayak polim.
Beberapa tempat kita datengin tapi kayaknya belom ada yang sreg buat Putri. Bahkan Putri belom nyobain sama sekali. Mungkin karena ribet, atau kurang selera. Malah ada satu tempat yang lebih cocok disebut toko gamis yang dipake buat lebaran.
Sampe akhirnya gue dan Putri berada di sebuah toko yang kayaknya emang cocok buat anak muda dan khusus wanita. Harganya nggak terlalu mahal dan desainnya juga nggak terlalu berlebihan kayak toko-toko yang kita datengin sebelumnya.
Waktu lagi ngeliat-liat, Putri berhenti di salah satu manekin yang mengenakan dress berwarna hitap dan keliatannya dia tertarik. Dressnya keliatan sederhada tapi terkasan mewah. Dengan lipatan-lipatan di beberapa bagian. Dressnya juga bukan dress yang merombe-rombe kebawah (gue nggak tau apa sebutannya, wkwkwk), Melainkan dress selutut.
Putri segera menghampiri penjaga toko dan segera nyoba dress tersebut. Agak lama sampe akhirnya Putri keluar dari kamar ganti. Seketika gue terpana dengan sosok Putri yang ada di depan gue. Selama ini gue sama sekali nggak pernah ngeliat Putri memakai gaun atau sejenisnya. Bahkan dengan make up yang sederhada dan tanpa riasan Putri udah terlihat anggun dari balik dress tersebut.
“Gimana Tre?” Tanya Putri sambil berputar pelan.
“Bagus.” Jawab gue singkat. Bukannya nggak mau ngomentarin, tapi gue kehabisan kata-kata.
“Yakin? Bagus doang komentarnya.”
“Cocok Put, sampe nggak bisa ngomong aku, hahaha. AKu juga jas sama kemejanya item-item kok.”
“Samaan dong kita.” Kata Putri sambil tersenyum. Padahal kalau kita lagi jalan juga selalu pake pakaian item-item. Tapi gue jadi nggak sabar gimana kalau kita berdua pake pakaian formal.
Setelah Putri beli gaun yang dia pengen, hari udah berganti jadi malem. Karena kita berdua belom makan jadi kita berdua memutuskan buat pergi ke pim yang searah sama jalan balik kita. Kayak nggak ada bosen-bosennya gue dan Putri jalan ke area 51 dan mesen makanan yang kita inginkan. Gak pake lama karena laper gue dan Putri langsung ngabisin pesenan kita.
Abis itu gue dan Putri memutuskan buat muter-muter dulu di pim, sambil ngeliat-liat kali ada barang atau aksesoris yang cocok buat pakaian kita nanti pas di prom. Gue sempet tergiur ngeliat sepatu pantopel dan kemeja item buat gue pake nanti meskipun gue udah punya, itung-itung buat koleksi. Tapi setelah ngeliat harganya gue mengurungkan niat gue tersebut.
Saat lagi jalan berdua, pikiran gue juga terganggu sama suatu hal. Kapan gue akan ngasih tau Putri kalau gue udah daftar kampus cadangan di Bandung. Gue nggak mau ngerusak momen yang udah kita bangun dari tadi siang. Meskipun sama-sama capek tapi gue ngerasa bahagia udah nemenin dia seharian ini.
Setiap kali kita masuk ke sebuah toko dan Putri menanyakan suatu pendapat terhadap suatu barang, gue cuman berkomentar ‘oh’ atau ‘bagus’, atau jawaban-jawaban normatifnya. Ada juga momen dimana gue udah memutuskan buat ngasih tau Putri tapi gue urungkan lagi maksud gue tersebut.
“Put…” Panggil gue di sela-sela ngeliat barang.
“Kenapa Tre?”
Gue terdiam sesaat, mikirin gimana gue harus membuka kata-katanya. “Gajadi deh, ke sana yuk.” Ucap gue dan buru-buru mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk suatu toko dengan antusias.
Menjelang pukul sembilan kita berdua memutuskan buat balik. Selama di perjalanan pulang gue terus memikirkan gimana caranya gue nyampein tentang hal yang ada di pikiran gue dan berharap semuanya bakal baik-baik aja. Jawabannya gue nggak nemu. Tanpa sadar kita berdua udah sampe di ujuan.
“Put…” Lagi-lagi gue memanggil Putri. Kali ini gue berharap bisa nyampeinnya, kenyataannya kata-kata tersebut nggak keluar dari mulut gue.
“Kenapa Tre?” Tanya Putri kali ini lebih antusian dan memasang muka penasaran.
“Enggak, kamu beneran gapapa pulang lewat jam dua belas nanti di Pro?”
“Nggak papa, kan udah izin. Nggak nginep juga kan?”
“Nggel lah.”
Kemudian dengan wajah penuh pertanyaan Putri pamit. “Yaudah, aku duluan yaaa. Hati-hati Tre.”
“Daaah.”
“Daaah.”
Gue kembali memacu kendaraan gue dengan penuh penyesalan. Sampe kapan gue terus nyembuyiin hal ini dari Putri.
aripinastiko612 dan 14 lainnya memberi reputasi
13